Saraswati, seorang murid cerdas dari keluarga miskin, terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk menjadi seorang sintren, karena gagal menikah dengan Kirman, anak juragan Wargo. Dalam hitungan Saraswati, dengan menjadi sintren dirinya bisa ikut membiayai sekolahnya.
Apa lacur, yang terjadi justru ia menerima cercaan dari lingkungannya. Meski usianya baru 13 tahun, semenjak menjadi sintren. Saraswati semakin menunjukkan pesonanya sebagai pujaan lelaki - baik yang bujangan maupun yang sudah beristri; dari segala lapisan dan golongan - sehingga menjadi pusat hinaan kaum istri. Saraswati juga menyebabkan seorang gurunya, Ibu Kartika, memilih mengakhiri hidupnya karena tak bisa menerima kenyataan mantan kekasihnya menjadi gila lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan pada Saraswati.
Sintren Saraswati benar-benar bak bintang yang sedang bersinar terang. Tetapi, mengapa akhirnya ia hanya bersedia menerima lamaran duda tua-yang tak sempat menyentuhnya karena keburu meninggal? Pun, ketika ia memutuskan menikah lagi, mengapa suami-suami berikunya juga menemui nasib serupa, meninggal dalam hitungan hari setelah masa pernikahan? Apa penyebabnya dan mengapa pula kemarahan kaum istri memuncak hingga berniat membakar rumahnya? Dianing Widya Yudhistira, pengarag yang produkstik mencipta puisi dan cerita pendek, menceritakannya denga gaya bahasa lisan yang sangat memikat.
Berkat buku ini, gw baru tahu ada pertunjukan semacam Sintren ini (kalo dalam bayangan gw setelah membacanya, ibarat perpaduan ledhek dengan kuda lumping--tanpa makan beling). Ritual pertunjukannya juga mistis. Sang Sintren atau penari akan dimasukkan ke dalam sebuah sangkar, setelah sebelumnya diberi sesajen kembang tujuh rupa. Lalu dengan iringan musik, sang Sintren akan keluar dari sangkar tersebut dan mulai menari di atas mangkok yg dibalik. Nah, konon, sang Sintren ketika menari dalam kondisi trance alias jiwa dan raganya terpisah. Perempuan yg jadi Sintren akan memiliki kecantikan dan keelokan tiada tara, namun akan terus perawan meski sudah menikah karena lelaki yg menikahinya akan menemui ajal dalam hitungan hari.
Begitulah gambaran Sintren yg dikisahkan dalam buku ini. Saraswati yg hidup dalam kemiskinan sebenarnya hanya punya satu cita-cita, sekolah yg tinggi agar tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya. Yg paling gw suka di sini adalah kesadaran Mak Saraswati yg awalnya begitu gigih ingin lepas dari kondisi tersebut dengan menghalalkan segala cara, pada akhirnya terbuka matanya bahwa menjadi kaya bukan segala-galanya. Bahwa putrinya semata wayang juga harta yg berharga. Tapi, yg lumayan mengganjal itu kisah cintanya. Gw ngerasa kalo kisah cinta Saraswati dan Sinur kayak nggak pas aja. Di awal cerita mereka masih SD kelas 5 dan udah taksir-taksiran (gw dulu SD kelas 5 mah apa. Yg di otak cuma main sama jajan). Lalu, pas si guru pak Legiman dan bu Kartika konflik itu, Saras masih kelas 6 SD!! Apa mungkin dikondisikan sama kondisi anak-anak jaman sekarang yg (nampaknya) pubernya kecepetan ya?? Agak geli aja bayanginnya.
Tapi, di luar geli-geli di atas, kisah Sintren ini menarik. Meskipun lebih banyak diceritakan tentang kisah di luar dunia pesintrenan itu sendiri, kisah Saraswati dan reaksi orang-orang kampung dimana seorang Sintren tinggal juga patut disimak. Bagaimana suasana mistis yg melingkupi kehidupan kampung tersebut. Sayangnya, makin ke belakang, mba Dianing seperti mempercepat tempo cerita, sehingga endingnya terasa grusa-grusu. Overall, kisah Sintren Saraswati ini layak untuk disimak pecinta budaya lokal.
Saraswati, lahir dalam keluarga miskin. Marto, bapaknya, hanya bisa bekerja serabutan. Terakhir dia bekerja sebagai penarik becak. Sementara Sinur, ibunya, bekerja sebagai buruh ikan asin pada seorang juragan kaya di kota Batang, Pekalongan. Setiap hari Sinur ingin agar putri satu-satunya itu membantunya bekerja. Sementara Saras yang duduk di bangku kelas 5 SD hanya ingin bersekolah. Jika saja bisa, dia ingin bisa bersekolah sampai kuliah.
Suatu hari Saras terpaksa menemani ibunya bekerja menjemur ikan asin. Juragan Wargo pemilik usaha pengeringan ikan tempat Sinur bekerja melihat kecantikan Saras, dan ingin menikahkan Saras dengan anaknya, Kirman. Tentu saja Sinur bahagia mendengar rencana itu. Meski Marto tidak menyetujui keinginan istrinya, ketika Juragan Wargo datang untuk melamar Saras, akhirnya Marto dan Sinur menerima lamaran itu. Sayangnya, ada orang yang tidak suka dengan perjodohan ini. Wartini, yang emaknya meninggal pasca ditabrak oleh Kirman, dengan segala cara membatalkan perjodohan itu. Kirman tak jadi menikahi Saras. Sinur yang kepalang malu dan kecea, akhirnya berhenti bekerja.
Ketika seorang kawan lamanya datang menemui Sinur untuk meminta bantuan dicarikan anak gadis yang akan dijadikan Sintren, tidak ragu-ragu Sinur mengajukan anaknya. Saras yang mengetahui bahwa honor Sintren bisa digunakan untuk membiayai sekolahnya, langsung setuju. Yang penting dia bisa bersekolah. Saras harus melewati ujian untuk menjadi Sintren. Di antara sekian banyak anak gadis yang dipanggil menjadi Sintren, hanya Saras yang lolos. Maka dimulailah perjalanan Saras menjadi seorang Sintren.
Sintren adalah sebuah kesenian rakyat yang dinilai memiliki unsur mistis. Seorang anak gadis perawan, yang selanjutnya disebut sintren, akan dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Seorang pawang mulai membaca mantra diiringi gending. Ketika kurungan dibuka, sintren yang sudah berpakaian lengkap dan berkacamata hitam akan mulai menari. Penonton yang mau menari bersama sintren, harus melemparkan sapu tangan ke sintren. Setelah selesai menari, sintren akan mengedarkan tampah untuk diisi uang oleh penonton. Selanjutnya sintren masuk kembali ke dalam kurungan. Kesenian ini terkenal di pesisir pantai utara pulau Jawa. Tidak sembarangan gadis yang bisa menjadi sintren. Seperti Saras, ada ujian yang harus dilaluinya.
Novel ini mengangkat sisi kehidupan rakyat yang hidup di bawah garis kesejahteraan di pesisir pantai utara. Novel ini memperlihatkan bagaimana kemiskinan membuat seorang ibu merelakan anaknya menjadi seorang Sintren. Meski akhirnya Sinur menyesali perbuatannya, dia tidak bisa memutar kembali keadaan. Apalagi Saras bisa membantu perekonomian keluarga dengan menjadi Sintren. Sayangnya, tidak semua orang menyukai hal itu. Diceritakan banyak pria yang terpesona oleh kecantikan Saras, bahkan ada yang menjadi gila karenanya. Kemudian banyak pula wanita, termasuk para istri, yang mengalami kekecewaan karena lelaki mereka mengejar-ngejar Saras.
Sebelum membaca buku ini, saya belum tahu bahwa ada budaya di Indonesia yang bernama Sintren. Novel ini membuka wawasan saya. Istimewanya, novel ini menceritakan apa yang dialami Saras ketika dia menjadi Sintren, ketika dia berada dalam keadaan tidak sadar. Pembaca bisa mengetahui alam takhayul yang dialami Saras. Gaya bercerita yang mengalir dengan cepat membuat pembaca tidak akan bosan saat membaca novel ini.
Sesungguhnya, prosa seperti ini seharusnya mengambil tempat penting dalam literatur di Indonesia. Tapi sepertinya, novel ini tidak begitu populer ya... Padahal novel seperti inilah yang membuat budaya Sintren tetap hidup, meski suatu saat nanti kita tidak akan menjumpai lagi pertunjukan Sintren di Indonesia.
Kisah perjuangan sebuah keluarga melawan kemiskinan, meskipun harus melewati jalan tidak logis yg hrs mereka lalui. Sintren, seni tari magis yang kerap dilakukan di kota Batang, sekarang salah satu kabupaten di Jawa Tengah.Cukup menarik, dengan cerita-cerita mistis dibalik pertunjukan tari. Benar atau tidaknya, atau hanya cerita konon kabarnya. Namun perjuangan Saraswati, gadis kecil yang ingin terus sekolah setinggi2nya menjadi tidak jelas ujungnya..
Sintren, adalah salah satu kesenian tradisional masyarakat sepanjang pesisir pantura, seperti Cirebon, Indramayu dan Pekalongan. Sintren adalah sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Raden Sulandono. Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam roh. Pertemuan tersebut diatur oleh ibu Sulandoro, Dewi Rantamsari dengan memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Sulandono.
Kisah diatas mendasari timbulnya kesenian sintren. Sesuai tradisi Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending si penari akan dimasuki roh bidadari sehingga si penari akan menari dalam keadaan trance. Sesuai pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka kesenian ini dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak).
Pementasan Sintrén diawali dengan seorang gadis yang menari dengan pakaian seadanya (biasanya berkaus putih) ditemani dua dayang. Lalu nyanyi-nyanyian pun ditembangkan. Seorang dalang kemudian mengikat sintren dengan tali di sekujur tubuhnya sambil membaca mantra khusus. Lalu sintren akan pingsan dan dalam keadaan terikat, ia dimasukkan ke dalam kurungan ayam (yang diselubungi kain diluarnya) diiringi bacaan mantra sang dalang dan tembang-tembang.
Sesaat kemudian kurungan dibuka dan tiba-tiba sintren tersebut sudah memakai pakaian khas penari sintren lengkap dengan memakai kacamata hitam. Dalam keadaan trance Sintren akan terus menari, bahkan ia sanggup menari diatas kurungan ayam yang terbuat dari bambu. Selama menari inilah para penonton diperkenankan menari bersama Sintren dan memberinya uang saweran. Tarian ini berakhir ketika dalang membuat gadis tersebut tak sadarkan diri, dan memasukkannya kembali ke dalam kurungan. Saat dibuka, si gadis sudah kembali berpakaian seperti semula dan dalam kondisi terikat di sekujur tubuhnya persis seperti pada saat awal ia dimasukkan dalam kurungan.
Kesenian Sintren ini kini menjadi sebuah pertunjukan langka bahkan di daerah kelahiran Sintren sendiri., kini Sintren hanya dapat dinikmati setiap tahun sekali pada upacara-upacara besar atau pada hajatan-hajatan orang kaya di kampung. Jarang sekali bahkan hampir tak pernah sintren muncul di layar kaca yang semakin kini semakin dirajai program-program terbarunya nya yang membuat kita lupa akan akar budaya kita. Begitupun dalam ranah pustaka, rasanya hampir tak ada yang membahas secara khusus mengenai kesenian Sintren. Untunglah penulis muda Dianing Widya Yudhistira mengangkat Sintren sebagai judul dan tema sentral dalam novel perdananya ini.
Mau tak mau apa yang dilakukan Dianing ini mengingatkan kita pada penulis senior Ahmad Tohari yang pernah mengangkat salah satu kesenian Jawa dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan hingga kini novel tersebut masih terus dicetak ulang. Walau dari segi cerita dan kedalamannya berbeda namun dua-duanya mengetengahkan cerita fiksi yang dibalut dalam aroma budaya lokal yang tumbuh di masyarakat jawa.
Novel Sintren mengisahkan kisah hidup seorang penari Sintren yang bernama Saraswati. Saraswati adalah gadis desa yang baru berusia 12 tahun, ia gadis yang lugu namun pintar dalam sekolahnya dan memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan sekolahnya hinga SMP. Ibunya seorang buruh nelayan, sedangkan ayahnya seorang tukang becak. Kesulitan hidup membuat ibunya yang nyinyir berusaha mengangkat derajat kehidupan mereka dengan menjodohkan Saraswati dengan Kirman, putra juragan Wargo, majikannya. Awalnya Saraswati menolaknya karena ia masih ingin bersekolah , namun akibat desakan ibunya, Saraswati terpaksa menerima dirinya untuk dijodohkan dengan Kirman.
Namun sesaat menjelang upacara tunangan, tiba-tiba Juragan Wargo membatalkan niatnya secara sepihak. Diam-diam Saraswatipun merasa lega karena dengan demikian ia masih memiliki peluang untuk melanjutkan sekolahnya.
Belum lagi ia bisa bernafas lega, tiba-tiba Larasati yang sedang mencari penari Sintren melihat bahwa Saraswati tampaknya cocok untuk menjadi seorang penari Sintren. Hal itu diutarakannya pada Ibu Saraswati. Tanpa mendiskusikannya dulu dengan suami dan anaknya. Ibunya menyetujuinya dan langsung menerima uang panjar sebagai tanda kesepakatan untuk menyerahkan Saraswati menjadi seorang Sintren. Lagi-lagi Saraswati dan ayahnya tak bsia menolak keinginan ibunya, apalagi Saraswati diiming-imingi sejumlah harapan memperoleh uang banyak yang bisa dipakaianya untuk melanjutkan sekolahnya ke SMP.
Maka setelah melalui prosesi penyeleksian yang dilakukan oleh Mbah Mo selaku dalang sintren, Saraswati dinyatakan lulus sebagai seorang penari Sitnren karena dari beberapa orang yang diuji hanya Saraswati yang lolos dari ujian dan tidak pingsan atau kesurupan ketika dimasukkan dalam sangkar ayam yang telah dimanterai oleh Mbah Mo.
Setelah Saraswati menjadi seorang Sintren, Saraswati berubah dari gadis yang lugu menjadi gadis yang memiliki kharisma seorang penari. Ia kini tak terlihat lagi sebagai seorang anak-anak. Saraswati yang tadinya seorang anak yang lugu dan kurang pecaya diri, kini tampil menjadi gadis yang percaya diri dan berani melawan kesewenang-wenangan yang diperbuat kawan-kawannya. Saraswati juga tampak lebih dewasa, selain itu dari aura tubuhnya memancarkan keelokan dan kemolekan seorang penari Sintren yang menbuat banyak lelaki terpana dan ingin mempersuntingnya.
Saraswati kini menjadi seorang penari Sintren yang terkenal, otomatis ia memperoleh uang yang banyak. Cita-citanya untuk melanjutkan sekolah ke SMP tercapai. Para lelaki berduyun-duyun hendak melamarnya. Namun kesuksesan materi ini harus dibayar dengan sejumlah peristiwa ganjil dan tidak mengenakkan. Pesona Saraswati membuat para lelaki di kampungnya baik yang sudah beristri maupun bujangan berniat melamarnya, tentu saja hal ini menjadi gunjingan tak sedap di kampungnya.
Saraswati akhirnya menerima pinangan seorang laki-laki, sayangnya belum sempat lelaki itu menyentuhnya, suaminya tiba-tiba meninggal dunia. Saraswati akhirnya menjadi janda, namun karena masih banyak yang mau menimangnya iapun segera menikah kembali, namun seperti suaminya yang pertama suami Saraswati yang keduapun meninggal sebelum menyentuhnya. Hal ini terus berulang. Saraswati menikah hingga empat kali namun semua suaminya harus mati mengenaskan sebelum menyentuh dirinya. Saraswati tetaplah seorang gadis.
Ia memang menjadi penari yang sukses dan memikat para penontonnya. Namun ada harga yang harus dibayar. Ia dianggap membawa sial bagi kampungnya karena setiap lelaki yang menikahinya pasti meninggal dunia. Ada apa gerangan dalam diri Saraswati apakah roh gaib yang memilihnya menjadi seorang Sintren tak rela jika Saraswati menikah dan berhenti menjadi seorang penari Sintren ?
Kisah Saraswati mengalir dengan lancar dan menarik dalam novel setebal 296 halaman ini. Dianing menuliskan novelnya dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Tak ada penggunaan metafora yang berbunga-bunga yang kadang membingungkan pembacanya. Dianing menuliskannya dengan, lancar dan enak dibaca. Alurnya linier, tak berkelok-kelok dan langsung pada menuju inti cerita. Walau plot, kisah dan penggunaan kalimat-kalimatnya tampak sederhana, justru disinilah salah satu keistimewaan novel ini.
Bentuk penyajian novel yang sederhana dan lugas ini menjadi pas sekali dengan kesederhaaan kehidupan masyarakat peisisiran yang menjadi setting utama novel ini. Kultur dan kebiasaan masyarakat setempat mewarnai seluruh novel ini. Dengan demikian Dianing membawa pembacanya masuk kedalam realitas keseharian yang terjadi di tengah masyarakat Jawa Tengah lengkap dengan tradisi keseniannya yang paling menarik perhatian.
Dianing juga menjawab apa yang menjadi pertanyaan setiap orang yang pernah melihat tarian sintren, “Apa yang dirasakan seorang sintren ketika ia sedang menari?”. Novel ini mengungkap apa yang dialami, dilihat, dan dirasakan Saraswati ketika ia sedang menari Sintren. Dikisahkan dalam novel ini bahwa jiwa Saraswati terpisah dari raganya. Raganya dipinjam oleh ‘mahluk halus’ yang membantunya menari. Hal ini seolah menegaskan bahwa kesenian Sintren dilakukan tanpa trik-trik khusus yang menipu penontonnya. Sintren seperti halnya kesenian ronggeng, tayub, reog, dan debus tidak semata dikendalikan oleh kekuatan manusia biasa. Ada unsur mistis yang ikut mewarnai kesenian Sintren, dan ini bukan hal yang aneh karena masyrakat Indonesia toh memiliki sejarah animisme yang berkembang jauh sebelum masuknya agama-agama besar di Indonesia.
Satu hal yang tampaknya kurang dalam novel ini adalah Dianing tak menjelaskan dengan rinci bagaimana kesenian Sintren terbentuk, padahal hal ini sangat memungkinkan diungkap melalui dialog sederhana antara Saraswari dengan Larasati atau Mbah Mo yang membimbingnya menjadi seorang penari Sintren. Jika saja hal ini diungkap, pembaca pasti akan memperoleh wawasan baru mengenai latar belakang keseian sintren.
Novel ini juga tak menjelaskan kenapa Saraswati yang sama sekali tak memiliki darah seniman tiba-tiba bisa menjadi penari Sintren yang sukses. Novel ini hanya mengungkap bahwa Sintren yang ada dalam tubuh Saraswati adalah sintren Den Ayune Lanjar, sintren saksti yang memiliki kecantikan luar biasa. Tentunya akan lebih menarik jika diberikan penjelasan apa keistimewaan Saraswati sehingga Den Ayu Lanjar memilih tubuh Saraswati untuk dirasukinya.
Namun bagaimanapun novel yang sebelumnya pernah dimuat bersambung di harian Republika pada tahun 2005 ini patut diapresiasi dengan baik. Ditengah ragamnya tema-tema fiksi lokal yang mengupas habis kehidupan masyarakat urban modern, sejarah sejarah, politik, fantasi, dll , kehadiran novel Sintren yang membawa muatan lokal plus mengangkat ke permukaan tradisi kesenian Sintren yang hampir terkubur ini memberikan pilihan baru yang menyegarkan sekaligus menambah wawasan bagi pembaca buku-buku fiksi tanah air.
Tak heran jika novel ini terpilih dalam long list (10 besar) kategori Prosa Khatulistiwa Literary Award 2007 , ajang lomba bagi dunia literer yang menggelontorkan uang sebesar 100 juta rupiah plus studi ke luar negeri kepada pemenang pertamanya. Mampukan Sintren, novel perdana yang ditulis oleh penulis muda kelahiran Batang- Jawa Tengah ini bersaing dengan sembilan penulis lainnya di bidang prosa seperti Andrea Hirata, Akmal Nasery Basral, Cok Sawitri, Gus TF Sakai, Noorca M Yudisthira, dll ? Saya pribadi mengharapkan Sintren akan masuk dalam short List (5 besar) KLA 2007 untuk kategori Prosa. Dengan demikian novel ini semakin dibaca orang dan salah satu kesenian lokal yang hampir dilupakan orang akan terangkat kembali.
Novel yang menceritakan tarian tradisional Jawa yang seksrsng hampir termakan usia—langka—ini, dibungkus apik dengan roman dan pesan moral yang sangst kuat berkat pengkarakteran tokoh-tokoh yang kuat dan bisa membawa kita masuk ke dalam suasana yang diceritakan.
Lokalitas yang mendominasi sastra dunia turut juga mempengaruhi sastra Indonesia. Pada tahun 1980-an pernah ada upaya menggali sedalam mungkin lokalitas dalam novel-novel Indonesia, keberhasilannya sampai saat ini kita tidak tahu benar, atau mungkin upaya tersebut hanyalah cara untuk mengadopsi budaya barat.
Latar belakang, diksi, konflik dan cara pandang dalam sebuah karya menjadi berubah. Di dalam konteks global dan fenomena urban, karya sastra Indonesia dianggap statis. Bergerak dengan permasalahan yang sama. Fenomena global dan kemajuan teknologi informasi dianggap telah menggeser cara pandang terhadap realitas, padahal karya sastra selalu diyakini mampu melukiskan masyarakat di suatu tempat dan waktu. Banyak novel dan cerpen yang asyik sendiri dengan dunianya tanpa mampu menyentuh pembacanya, penulis membangun dunia narasinya dalam cara pandang masyarakat urban-global dan referensi diambil secara tekstual.
Lokalitas dalam karya sastra dinilai mengalami kemunduran melihat kenyataan bahwa banyak orang yang jarang menemukan karya sastra yang mampu menyentuh warna lokal. Karena itu, lokalitas tidak hanya sekedar menjadi pelengkap, namun mampu membuat pembaca mengenal lokalitas itu dan juga cara berpikir masyarakatnya.
Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira ini saya anggap menghangatkan kembali lokalitas dalam sastra Indonesia, bahkan mampu menjadi nominator dalam ajang Khatulistiwa Literary Award tahun 2007. Novel ini mengingatkan banyak persoalan dari kehidupan masyarakat desa, termasuk kebiasaan dan kekuatan kulturnya yang disebut-sebut sebagai lokalitas.
Awalnya gw pikir akan sama rasanya seperti membaca karya Ahmad Tohari yg bercerita tentang Ronggeng.. ternyata tidak. Ronggeng dan Sintren memang punya konsep yg sama, hanya beda daerah ajah..
Membaca buku ini, sama seperti membaca novel2 biasa yg agak mudah ditebak jalan ceritanya, ga bikin penasaran hingga membuat pembacanya terpacu membalik lembar demi lembar.. nilai plus-nya di mata gw, hanya karena buku ini bercerita tentang suatu budaya yg hidup dan mengakar dlm kehidupan masyarakat tradisional..
ni cerita klo dibayangin serem gilaa... hiii...merinding disko dah.. tp gara2 buku ini aq jd tau kebudayaan indonesia yg bernama "sintren". hehe.. mistiknya kerasa bgt! ^^