Orang-orang menyebutku Mawar, tentu bukan namaku sebenarnya. Tapi, aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali ada yang peduli soal nama asliku.
Usiaku masih remaja waktu pertama kali dikawinkan, melahirkan, lalu masuk ke dunia yang tak pernah kupilih—prostitusi berkedok kawin kontrak. Ya, hidupku bukan tentang mimpi-mimpi indah para remaja, melainkan tentang pilihan, yang bahkan aku sendiri tak pernah memilikinya. Aku pikir aku sudah terbiasa. Sudah cukup kuat. Sampai akhirnya, maut nyaris merenggutku.
Ketika akhirnya aku melawan, aku malah ditangkap. Dianggap pelaku, bukan korban.
Mereka pikir aku akan diam saja?
Ini tentang bertahan hidup di dunia yang tidak memberi ruang bagi perempuan sepertiku. Tentang mencari celah di antara kekerasan, kemunafikan, dan harapan-harapan yang seringnya hanya omong kosong. Kalau dunia sudah kelewat berengsek, perempuan macam aku bukannya cuma punya dua pilihan: menyerah atau melawan habis-habisan.
Dian Purnomo lahir di Salatiga tanggal 19 Juli 1976. Dia menyukai membaca dan menulis sejak bisa membaca, mengasah kemampuan menulis dengan berbalas surat dengan kawan-kawan SD dan SMP-nya. Mantan pekerja radio yang dibesarkan oleh grup Prambors dan FeMale radio ini, telah menulis 12 novel dan antologi cerita pendek. Belajar tentang kriminologi khususnya perlindungan anak dan perempuan, juga keadilan lingkungan, membuatnya banyak merenung kembali tentang karya.
Kerja-kerja penelitian di isu-isu sosial, dari mulai perempuan dan anak yang dipenjarakan di Puska PA dan Kriminologi UI, kekerasan berbasis gender di Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, perlindungan anak dan krisis iklim di Save the Children, migrasi aman, kesehatan seksual reproduksi di OnTrack Media Indonesia membuatnya banyak belajar dan mengubah tema-tema karyanya.
Setelah vakum menulis selama enam tahun, dia akhirnya menemukan warna baru tema-tema karyanya. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam menandai metamorfosanya. Novel yang ditulis setelah mendapatkan grant Residensi Penulis Indonesia 2019 selama enam minggu tinggal di Sumba tentang kawin tangkap ini, menandai perjuangannya dalam bentuk novel.
Novel ini akan diterbitkan dalam bahasa Polandia pada musim gugur 2025.
Membacanya dengan penuh saksama, terasa miris dan sedih dan sedih dan merasa tak berdaya juga untuk membantu orang-orang seperti Mawar ini. Mawar lainnya tentu banyak, yang harus menghadapi kenyataan akan kerasnya hidup.
Membaca kisah Mawar, Bukan Nama Sebenarnya, karya Dian Purnomo, membuat saya teringat pengalaman saya saat melakukan tugas penelitian untuk program 'sustainable partnership' - di kota kecil, Subang, yang jaraknya sepelemparan batu dari Jakarta.
Kota dimana para ibu menjadi TKW dan para bapak sibuk kawin-mawin, kota dimana angka kawin cerai tinggi, kota dimana anak perempuan dibiarkan tubuhnya menjadi obyek seksual di pantai utara Jakarta.
Dian Purnomo mampu membangkitkan kembali kenangan saya tentang anak-anak perempuan yang harus bertahan hidup di dunia yang keras.
Menggunakan point of view Mawar, seorang perempuan remaja, Dian menceritakan kisah Mawar menggunakan bahasa sehari-hari seorang perempuan remaja, jauh dari kesan formal.
Saya seperti berhadapan dengan Mawar yang menceritakan kisahnya tanpa memohon belas kasihan. Kisah yang membuat saya setiap kali berharap berakhir bahagia.
Dian mampu menelanjangi kemunafikan berkedok agama dari sisi perempuan yang termarjinalkan.
.... "Dia pikir aku senang menjadi pelacur? Semua orang yang pernah bekerja di tempat yang sama denganku, tidak satu pun yang senang bekerja mengangkangkan kaki di depan banyak laki-laki seperti kami..."
Kisah Mawar, Bukan Nama Sebenarnya, membuat saya merenung dan sependapat dengan Dian.
"Pekerjaan yang kamu lakukan itu terlalu berat untuk seorang anak sepertimu. Bahkan untuk perempuan dewasa sekali pun. Itu terlalu berat. Kamu luar biasa sudah bertahan sejauh ini."
Ini dia cara menunjukan dampak dari kemiskinan struktural yang sesungguhnya. Mawar adalah satu dari banyaknya korban di bawah umur yang terdampak dari kemiskinan struktural. Menjadi tulang punggung keluarga di umur 17 tahun, membuat Mawar harus menjadi korban eksploitasi dan kekerasan seksual yang mana bukan sepenuhnya keinginannya.
Mengambil latar kawin kontrak yang marak di daerah Puncak, Bogor, membuat cerita di buku ini terasa dekat dengan keseharian. Tulisannya bisa dibilang lebih ringan dibanding buku-buku sebelumnya, tapi tetap menguras emosi 😠
Mawar ada di mana-mana. Nama samaran yang sering digunakan dalam kasus kejahatan terhadap perempuan. Sebut saja Mawar. Mawar bukan nama sebenarnya.
Buku ini ditulis oleh Dian Purnomo, seperti juga buku-bukunya yang terdahulu. Tulisan-tulisan Dian Purnomo kerap kali mengangkat isu-isu perempuan. Buku ini menceritakan kisah hidup Mawar, seorang perempuan yang harus putus sekolah karena memukul siswa lain. Pemukulan itu terjadi sebagai respons atas pelecehan seksual yang dia alami.
Buku ini juga menggambarkan perjalanan hidup Mawar sebagai LC, terapis spa all-in, PSK, hingga istri kontrak dari warga negara asing. Saat menjadi istri dari seorang WNA, Mawar mengalami kekerasan seksual yang terus-menerus. Ia yang seharusnya menjadi korban, justru ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kekerasan terhadap WNA tersebut.
Dari buku ini, saya jadi sadar bahwa kita tidak seharusnya menghakimi pilihan hidup seseorang. Bisa jadi, seseorang menjalani pilihan hidup tertentu karena memang tidak ada pilihan lain.
This book deserves more exposure than it currently has. If you’re interested in stories about women’s empowerment, I highly recommend reading this book.
Dari pertama baca ga berhenti terusin baca, cerita mawar pilu banget tapi nyata, bagaimana penulis menceritakan bagaimana sakit hatinya mawar begitu nyata dan bagaimana fenomena seperti ini saya yakin juga nyata adanya menjadi lebih menyakitkan bahwa di bumi kita berpijak yang sama, masih ada yang merasakan dan harus melalui hal yang begitu menyakitkan
Membaca kisah Mawar, terasa sedih, sesak, pilu, dan perih. Fenomena yang terjadi pada masyarakat dengan ekonomi lemah. Anak dibawah umur yang seharusnya bersekolah dan berkegiatan sesuai usia, namun banyak yang harus melupakan impian mengenyam bangku sekolah dengan menjadi tulang punggung keluarga. Tidak hanya itu, pun menjadi pekerja yang tidak semestinya dia lakukan. Semua karena tuntutan ekonomi, keadaan, dan ketidakmampuan pemerintah melindungi warga negara dengan memberikan hak2 mereka. Mawar ada di sekitar kita. Mawar ada di mana2.
Mawar by Dian Purnomo tells a quiet but powerful story about a woman facing pregnancy from rape and the harsh judgment around her.
The writing is simple and calm, but the issue is heavy. It shows how society is quick to judge and slow to understand. Not loud, not dramatic—just honest, brave, and it lingers in your heart.
punya genre same as “perempuan di titik nol”. i really enjoyed pas baca buku ini.. i started 24 june malem dari jam 11 malem sampe jam 2 trus besok nya aku lanjut lagi, dan slesaii. cerita nya mnurutku ga terlalu berat, dan di kasih bumbu komedi yang bikin aku betah untuk baca. di buku ini memang smua cowo yang “ketemu” sama mawar bastard semua. tapi mawar masih punya banyak teman cowo yang care banget sama dia.. pokonya i really like this book 5/5 ❤️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
isu sosial yang diangkat cukup menarik dan ditulis dengan apik. Sangat enak bacanya. Cover dan ilistrasi juga cantik. Sayang tidak ada terjemahan bahasa sunda. Kualitas cetakannya juga kurang bagus
Membaca buku ini seperti menyelami dunia yang kita tahu ada tapi tidak pernah tahu seperti apa detailnya. Seperti dituliskan di akhir buku, POV perempuan seperti mawar yang tidak banyak mendapatkan pilihan, bahkan tidak diberikan pilihan, memaksanya melalui babak pahit sebagai anak dan perempuan. Pertolongan yang seakan tidak pernah menghampirinya, ketidakhadiran negara, hingga pandangan sesama yang mengerdilkannya, semakin menjemukan pandangan dan mengikis kan keinginannya keluar dari dunia suram.
Dari mawar, kita dapat belajar sisi kehidupan lain yang penuh perjuangan. Memaksa kita membuka mata bahwa di dunia ini tidak semua berjalan mulus sesuai keinginan, tidak semua perempuan mendapatkan haknya, tidak semua anak mendapatkan perlindungan. Mungkin jika kita bertemu sosok seperti mawar, jangan dulu memandang rendah atau berprasangka buruk terhadapnya. Mungkin ia hanya butuh seseorang yang mengerti bahwa jalannya berliku begitu panjang, durinya tumpul tanpa ia sadari, dan ia sedang mencari sosok yang mau menggandeng tangannya menyusuri jalan pulang.
Sebuah kisah yang taakan ada kata tamat Mawar dan kemiskinan, serta pengetahuan yg minim mengharuskannya menjual tubuhnya karena hanya itu kesempatan yg dia punya utk bisa bertahan hidup. Hidup sungguh pelik, tak bisa menggambarkan yg salah dan benar semudah itu 😭😭
Some of the conversation in Sundanese are not annotated. Though most of them, i assume, are just simple phrases, it would still be nice to be able to understand the nuance fully.
It's always eye-opening to read a book with a marginalized community as the main plot. A bit cliche, but this book is a good reminder that structural poverty makes individuals unable to escape unfortunate circumstances no matter how hard they try.
Buku ini habis saya baca sekali duduk. Selalu membuat saya kehabisan kata-kata. Harus menarik napas pelan-pelan sebelum sanggup menuliskan ulasan ini.
Memang tidak seberat ketika membaca kisah Magi Diela, tetapi tetap saja sesak! Haru dan ngilu membayangkan Mawar, yang usiaya belum genap 18 itu harus berjibaku menanggung beban seluruh keluarganya.
Mawar yang tak punya apapun selain keberanian dan kenekatan, harus selalu menjadi korban. Korban kemiskinan, korban fisik, korban sosial, korban sistem, korban patriarki!
Bedanya, mawar sangat kuat! The real badass! Terutama kalau sudah dibantu Zoo! Well semua orang perlu Zoo dan Geng Xue dalam hidupnya!
Mawar, bukan nama sebenarnya. Tapi kisah hidupnya, benar dan nyata adanya.
Jika ingin membayangkan bagaimana bentuk kemiskinan struktural terutama jika terjadi pada perempuan; Mawar, Bukan Nama Sebenarnya, adalah salah satu pintu untuk membuka cakrawala bayangan tersebut. Mirisnya, apa yang terjadi pada Mawar merupakan sesuatu yang dibiarkan terus eksis dalam masyarakat. Novel ini pun tidak pernah secara eksplisit menyebut, apalagi menyinggung, peran pemerintah sebagai pihak yang berkontribusi dalam mengorkestrasi kemiskinan struktural. Secara pribadi, saya tidak mempersoalkan absennya pemerintah dalam narasi ini.Wong di dunia nyata memang negara tidak pernah hadir kok.
Mawar, Bukan Nama Sebenarnya merupakan novel karya Dian Purnomo yang bercerita tentang sosok gadis bernama Mawar yang harus dihadapkan pada petaka kehidupan yang seringkali menjadikan dirinya terjebak dalam kesengsaraan. Mawar harus putus sekolah setelah ia tertangkap CCTV sekolahnya terlibat dalam tawuran. Dimana sebenarnya ia hanya membalas perlakuan salah satu siswa yang telah melecehkan dirinya di angkot. Hal itu berimbas pada paksaan ibunya yang terus mendesak dirinya untuk menerima ajakan menikah dengan seorang laki-laki pilihan ibunya, berujung ia harus merasakan getirnya perceraian diusia yang bahkan belum 17 tahun dalam keadaan mengandung. Nasib seakan belum puas untuk membuat Mawar sengsara, ia harus bekerja sebagai pemandu lagu dan juga terapis disebuah club dan spa meskipun ia dalam keadaan hamil. Ekonomi sulit yang terus melilit, menjadikan ia menerima tawaran kawin kontrak, bukan cuma 1x, tapi 2x hingga ia mendapatkan pelecehan yang hampir menghilangkan nyawanya.
Kisah Mawar merupakan kisah yang penting dan harus diketahui khalayak luas. Bagaimana praktik pernikahan anak, kawin kontrak dan kekerasan seksual adalah momok yang masih banyak terjadi di hingga sekarang. Buat saya, menjadi menjalani kehidupan seperti Mawar memang tidak dapat dibenarkan, atau bahkan akan muncul banyak usul dan saran bagaimana seharusnya Mawar hidup mengikuti norma yang ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Namun percayalah, Mawar hanya salah satu korban dari sistem sosial yang timpang dan ketidak adilan. Mawar tidak memiliki banyak pilihan dan dari sedikitnya pilihan yang ada, Mawar memilih untuk terus bertahan.
Saya menyukai bagaimana penulis sedikit acuh dalam penggunaan diksi yang adiluhung. Buku ini ditulis dengan lugas dan bahasa yang sangat mudah dipahami. Hal tersebut membantu mengurangi adanya salah persepsi.
Buku ini mengangkat isu dan tema yang sensitif, jadi mungkin tidak mengenakan buat beberapa pembaca. Disarankan, bagi pembaca yang khawatir akan ter-trigger sebaiknya disertai dengan pendampingan orang yang ahli dibidangnya.
As expected dari tulisan Dian Purnomo. Secara gamblang menceritakan kisah2 perjuangan perempuan yang terjebak dalam kemiskinan struktural, dunia patriarki, terus terang membaca buku Mawar ini bikin saya hopeless, bertanya2 apa masih ada harapan untuk perempuan2 yang terlupakan di luar sana, perempuan yg seringnya jadi objek, trus dihakimi sama perempuan2 lain juga...