Naik haji lagi?” Mata tua Mak Siti berbinar, sesaat menerawang. “Jadi sudah tiga kali ya, Bu Juragan?”
Mak Siti kaget mendengar majikannya mau naik haji lagi! Sang juragan sudah berkali-kali naik haji sementara Mak Siti sekalipun belum punya kesempatan pergi ke Mekkah karena keterbatasan uang yang dia miliki. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Mak Siti untuk bercita-cita mengunjungi rumah Allah walau ia hanya memiliki uang satu juta rupiah. Mimpinya melambung tinggi bersama mimpi ibunya di kampung dan mimpi umat Muslim lain yang begitu rindu untuk mengunjungi tanah suci.
Kumpulan cerpen Juragan Haji karya Helvy Tiana Rosa ini pernah diterbitkan di tahun 2008 dengan judul Bukavu. Walaupun Helvy dikenal sebagai penulis religi, dalam kumpulan cerpen ini Helvy tidak hanya menyajikan tema-tema Islami. Kumpulan cerpen ini sarat akan tema kemanusiaan, kekerasan dalam rumah tangga, kritik sosial, juga kisah percintaan yang unik.
Helvy Tiana Rosa is widely recognized for her works in Indonesian literary and for her relentless efforts to encourage people, especially the young, poor and women, to write and publish their own works.
She was born in Medan, 2 April 1970 and had a bachelor and master degree of literature from Letters Faculty of University of Indonesia. She wrote more than 50 books, like Juragan Haji (The Juragan Hajj, 2014), Tanah Perempuan (The Woman’s Land, 2009), Segenggam Gumam (A Graps of Murmur, 2003), Mata Ketiga Cinta (The Third Eyes of Love, 2012) and Ketika Mas Gagah Pergi (When Mas Gagah Leaves, 1997). Some of her works were already translated in English, Japanese, Arabic, Swedish, German, French, and so forth. She was frequently invited to speak and read her works both in Indonesia and abroad, like Malaysia, Brunei, Singapore, Thailand, Hong Kong, Japan, Egypt, Turkey, and USA.
In 1990 she established Teater Bening as a director and script writer for the play performances. She was the former editor and the Chief Editor of Annida Magazine and later she involved intensively to help the emergence of writers from different social backgrounds in many cities in Indonesia and abroad through Forum Lingkar Pena (FLP) which was founded by her in 1997. Koran Tempo named her as Lokomotif Penulis Muda, A Locomotive of Young Writers, and The Straits Times named her as a pioneer for contemporary Indonesia Islamic literature (2003).
Helvy received more than 40 awards of national level in the field of writing and community empowerment, like A Literary Figure from Balai Pustaka and Majalah Sastra Horison (2013), A Figure of Books of IBF Award from IKAPI (2006), A Literary Figure of Nusantara Islamic Literary Festival (2016), A Literary Figure of Eramuslim Award (2006), Ummi Award (2004), Nova Award (2004), Kartini Award as one of The Most Inspiring Women in Indonesia (2009), and SheCAN! Award (2008). Her poem Fisabilillah was The Winner of Iqra Poetry Writing Competition of National Level in 1992, with the juries: HB Jassin, Sutardji Calzoum Bachri and Hamid Jabbar. Her short story Jaring-Jaring Merah was appointed as one of the best short stories of Sastra Horison Magazine in one decade between 1990 and 2000. Bukavu (LPPH 2008) was a nomination of Khatulistiwa Literary Award in 2008 and she became The Most Favourite Poet, and her work Mata Ketiga Cinta was chosen as as The Most Favourite Poetry Book of Indonesian’s Readers from Goodread Indonesia in 2012. She was arwaded an honour of Anugerah Karya Satya Lencana from the President of the Republic of Indonesia (2016).
She became a member of Jakarta Arts Council (2003-2006) and as the Founder and the Advisor of Bengkel Sastra Jakarta and also as a Member of The Southeast Asia Board of Literature (2006-2014). Now, she is a vice chair of Islamic Culture and Art Development Commision, The Council of Islamic Scholars of Indonesia, and a Member Social and Art Commision, The Council of Islamic Women Scholars of Indonesia.
Helvy then was listed in 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia (33 People of The Most Influencial Literary Figures in Indonesia) written by Jamal D. Rahman et al (Gramedia, 2014). For nine years, from 2009 to 2017, She was also chosen out of 20 Indonesian people who were listed in 500 People of The Most Influencial Moslem Figures in the World, as research result conducted by Royal Islamic Strategic Studies Centre, in Jordan with several high rank universities in the world.
Recently, she took charge as a producer for two movies based on her novel 'Ketika Mas Gagah Pergi." The first movie was released in 2016 under the same name. The sequel 'Duka Sedalam Cinta' is planned to be released in 2017.
Awalnya saya beli buku ini karena ada embel-embel "Karya Sastra Unggulan" dari Badan Standar Nasional Pendidikan. Penasaran aja sih, emang se keren apa sih buku ini?
Jujur saja, saya sangat suka dengan karya-karya Helvy, sejak cerpen Ketika Mas Gagah Pergi, lalu hayya, dll. Saya selalu suka cara Helvy dalam bercerita, isi ceritanya, dan terlebih saya sangat suka dengan setiap karakternya yang diciptakannya.
Saya bukan ahli sastra, bukan juga paling tau tentang buku, jadi ini adalah kesan yang jujur, polos dan juga apa adanya dari saya.
Cerpen 1. Cut Vi (5/5) Saya suka sekali dengan karakter cut vi, 11/12 dengan saya 😂 cerita yang sebenarnya dalam, tapi dibungkus dengan ringan. Tapi entah kenapa saya merasa ini bukan cerpen pembuka yang kuat untuk buku ini. Bercerita ttg aktivis wanita dan tsunami aceh
Cerpen 2. Pertemuan di Tanah Bening (5/5) Ahh, ini cerpen yang paling menyebalkan untuk saya. Baca saja sendiri.
Cerpen 3. Lelaki Kabut dan Boneka (3/5) Jujur, saya paham makna dan pesan ceritanya, tapi saya bingung dalam setiap perumpamaannya. Setelah ini saya harus membaca analisis orang-orang tentang cerpen ini.
Cerpen 4. Idis (5/5) Cerita yang sangat inspirasional, tentang perjuangan melawan yang salah. Hati kecil saya seperti disentil dengan cerita ini.
Cerpen 5. Ze Akan Mati Ditembak (5/5) Ini latar waktunya saat konflik timor-timur dengan Indonesia, sangat perih, tragis dan menyedihkan untuk dibaca, membayangkan saya berada di sana dan menyaksikan 2 wilayah yang satu rasa harus terpecah menjadi 2
Cerpen 5. Darahitam (5/5) Latar tempatnya seperti di Madura, tragedi mengerikan yang sempat terjadi di Indonesia. Mengenaskan.
Cerpen 6. Juragan Haji (4/5) Cerita yang banyak ditemui di masyarakat, tentang orang kaya yang sudah berkali-kali pergi Haji. Saya kurang suka dengan akhirnya dan sejujurnya, karakter utamanya.
Cerpen 7. Hingga Batu Bicara (100000/10) Saya paling suka cerpen ini, bukan Helvy rasanya kalau tidak mengangkat isu Palestina. Sangat menyentuh hati, entah berapa tissue yang sudah saya habiskan karena menangisi cerita ini.
Cerpen 8. Perempuan Kata-Kata (5/5) Saya rasa di sini Helvy sedang curhat tentang lika-liku penulis 😂
Cerpen 9. Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin (4/5) Lagi-lagi, cerita yang tidak bisa aku pahami, karena ilmu masih sedikit. Jadi mungkin setelah ini akan coba saya cari analisis dari cerpen ini.
Cerpen 10. Peri Biru (5/5) Tentang Peri dan mimpinya. Sedih, haru dan pahit.
Cerpen 11. Lelaki Semesta (100000/10) Cerpen lain yang sangat aku suka di buku ini. Walaupun tragis, tapi ini nyata terjadi :( bukan Helvy namanya kalau dalam cerpennya tidak menyelipkan kritik terhadap pemerintah. Hati saya masih sakit kalau mengingat cerita ini.
Cerpen 12. Lorong Kematian (5/5) Latarnya adalah peristiwa perang Yugoslavia (kalau tidak salah mengira) setelah membacanya say benar-benar langsung mencari tahu lebih banyak tentang perang ini.
Cerpen 13. Titin Gentayangan (1 juta/10) Maaf lebay, tapi ini yang paling saya suka juga karena ini cerita paling "bahagia" dan satu-satunya yang bisa membuat saya tertawa.
Cerpen 14. Pulang (5/5) Judulnya menggambarkan isinya. Tragis.
Cerpen 15. Kivu Bukavu (4/5) Cerpen lain yang membuat saya mengigit jari, tapi saya masih belum bisa melihat dari perspektif mana cerita ini dituliskan.
Cerpen 16. Jaring-Jaring Merah (5/5) Cerpen penutup untuk kisah-kisah yang hampir seluruhnya tragis dan menyedihkan. Cerpen ini adalah cerita yang tepat untuk menutup buku ini, saya sangat bersimpati pada setiap karakter dalam cerita ini.
Sepertinya masuk sebagai karya sastra unggulan karena memang di setiap cerpennya sangat menarik untuk dianalisis dan ditelisik makna dan unsur-unsur ceritanya.
Overall, saya suka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Juragan Haji • Helvy Tiana Rosa • GPU • Cetakan pertama, 2014 • vii+181 hlm.
"Aku bicara, aku menulis. Aku menyampaikan kebenaran di mana aku bisa. Tak harus ditentukan tempatnya," - Hlm. 3
Nama Helvy Tiana Rosa sudah tidak asing di dunia literasi. Sayangnya, nama besarnya baru membuatku berjodoh membaca karyanya kali ini. Buku ini adalah pengalaman pertamaku membaca buah karya Bunda Helvy.
Buku ini memuat tujuh belas cerita pendek karya Bunda Helvy. Aku terkagum-kagum akan kepiawaian penulis menuangkan kisah dengan beraneka tema dan beragam latar. Aku terpana melihat keberaniannya mengusung topik yang begitu sensitif: isu sosial atau politik, serta konflik suku, agama, atau ras.
Buku ini akan mengajak kita menyelami kepedihan yang diakibatkan peperangan atau kekelaman lantaran perpecahan saudara. Kita akan diajak menelusuri tiap nyeri yang terasa akibat bencana alam yang terjadi, sakitnya ditinggal kawin kekasih hati, atau sakitnya memar akibat ayunan tangan suami. Buku ini akan mengajak kita jalan-jalan ke Aceh, Timor Timur, Banjar, Tel Aviv, Bosnia--Serbia, Jakarta, Kairo, Kivu, dan kembali lagi ke Aceh.
Perasaanku diaduk-aduknya sedemikian rupa saat menyelami kisah kesenjangan sosial antara Juragan Haji yang akan mengunjungi rumah Allah untuk kelima kalinya--kali ini juga menyertakan putri semata wayangnya yang berpakaian minim dan jarang salat--dengan asisten rentanya yang mendamba mencium Ka'bah. Aku dibuatnya meradang karena turut merasakan siksa suami, dan berselimutkan ketakutan akan teror tembakan mesiu atau ancaman perkosaan. Oh, Tuhan!
Penulis memang layak mendapatkan begitu banyak penghargaan atas perjalanan berkariernya. Dengan membaca satu buku ini saja aku dapat menilai seberapa dalam penelitiannya hingga mampu menghadirkan latar sempurna, yang dilengkapi dengan kalimat bahasa daerah di beberapa sisi tulisan. Narasi yang dipenuhi metafora menambah pikat serta kesan puitis di tiap cerita. Sungguh buku yang layak untuk direkomendasikan!
"Sungguh, aku telah melihat badut-badut bermunculan tahun ini di sepanjang jalan di kota kami. Seolah mereka adalah pemimpin atau pahlawan yang bisa mengurangi derita dan membuat kami menyunggingkan senyuman." - Hlm. 95
Baru ngeh kalau Juragan Haji ini versi terbarunya dari kumcer Bukavu. Sekilas saya lihat daftar isinya, hampir persis sama. Jadi, kasarnya nih, baca Juragan Haji ini setara baca 2 kumcer sekaligus hehe. Dan, ironisnya saya punya keduanya dan belum dibaca. Jadi ya, dengan baca Juragan Haji ini rasanya Bukavu nggak perlu dibaca lagi apalagi jika hanya ingin ngecek bedanya di mana.
HTR kebanyakan nulis cerpen ini di penghujung tahun 90-an atau 2000-an awal. Makanya temanya masih lekat dengan beberapa konflik di Indonesia yang relevan dengan tahun-tahun segitu. Kayak GAM di Aceh atau pecahnya Bosnia.
Terus terang, beberapa cerpennya terlalu mendayu-dayu sehingga sulit dimengerti. Saya paling suka 3 cerpen sederhana yakni Titin Gentayangan, Peri Biru dan yang jadi gongnya adalah Juragan Haji yang kemudian dipilih menjadi judul kumcer ini.
Cerpen Juragan Haji ini bagus banget. Mengisahkan tokoh pembantu/ART yang tinggal di rumah majikan yang berkali-kali berhaji. Ironisnya, juragan haji ini berhaji hanya untuk gengsi dan bingung cara menghabiskan uangnya yang berlimpah itu.
Hmm, jadi keinget tulisan "Haji Pengabdi Setan" oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA ya kan. Tulisan yang banyak bikin orang-orang naik pitam padahal apa yang ditulis itu sangat relevan dengan kondisi masyarakat belakangan.
Di kumcer ini, ada satu cerpen yang aku skip karena gak suka dengan formatnya yang ditulis bak sambung menyambung dialog. Jadi, secara keseluruhan sih kumcer ini menarik hanya memang, untuk saya yang lebih suka cerpen-cerpen sederhana, saya merasa kumcer Ketika Mas Gagah Pergi masih jadi masterpiecenya seorang Helvy Tiana Rossa.
Kumpulan cerita dengan topik mahaberat..tema tema yang ada di kumcer ini meliputi Tsunami Aceh, KDRT, Perang Banjar, Konflik Israel-Palestina, Tragedi Sampit, Konflik Timor Leste, Konflik Sektarian Maluku 1999, Kemiskinan Struktural, Pembantaian Muslim 1995 (Srebrenica Massacre), Konflik Hutu-Tutsi, Operasi Militer di ACeh yang kesemuanya memiliki adegan adegan yang cukup Trigger Warning.
Apakah saya menikmatinya? Iya..karena gaya penceritaanya yang ringan dan luwes, dan saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghabiskan 1 buku ini karena setiap menyelesaikan 1 judul kumcer saya akan terdiam, berpikir, hati rasanya ditonjok tonjok kemudian merasa kosong dan pilu berhari hari. Banyak informasi yang baru saya ketahui setelah membaca kumcer ini, betapa mengerikan dan buasnya sifat manusia yang tega saling membunuh demi sejengkal tanah maupun karena prasangka.
Cerita "Pertemuan di Taman Hening" benar2 membuat hati saya sakit sesakit2nya..saya bahkan ingin sekali memeluk erat tokoh fiksi yang ada disana
Cerita "Titin Gentayangan" vibe-nya kocak tapi endingnya malah bikin ngeri..dan terdiam pilu
Overall kumcer ini sangat recommended buat kalian yang suka topik serius , buat yang suka fiksi sejarah atau buat yang suka topik tentang humanity
Secara umum bagus, gaya penulisan indah dan mudah dinikmati. Tapi entah mengapa kurang greget? Mungkin karena kebanyakan cerpennya bernafas islami, jadi cenderung ada keengganan untuk mengeksplorasi hal-hal tabu maupun yang bersifat hipokrisi? Tidak semua cerpen seperti ini, tapi jika Anda membaca cerpen dengan tema kemanusiaan, lalu protagonisnya adalah penyintas yang juga sedang berjuang, dengan pendirian yang yakin akan keimanannya, dan tema itu berulang pada cerpen-cerpen selanjutnya... Jadi terasa ada yang kurang. Mungkin juga karena keterbatasan media kali, ya?
Beberapa judul cerpen yang mengesankan saya: - Lelaki Kabut dan Boneka - Perempuan Kata-kata - Lorong Kematian (trigger warning) - Pulang
Buku kumpulan cerpen ini terdiri dari 17 cerita pendek dan bernafaskan islam, sosial dan hak-hak asasi wanita. Referensi yang sangat inspiratif bagi siapapun, terutama wanita. Menurut jurnalis dan sastrawan Ahmadun Y. Herfanda, dalam gaya bertutur, Helvy puitis, imaji-imaji mengalir liar tapi terkendali atau lincah tepatnya, namun tetap mampu membongkar batas-batas makna kata dan realitas yang lazim. Demikian.
Juragan haji mengangkat tema tentang kehidupan sehari-hari hingga kondisi peperangan di Indonesia maupun luar negeri. Buku ini punya tema yang bagus, tapi eksekusi tiap ceritanya jelek. Apa ya….? Kaya engga jelas latarnya, bikin waktu baca bingung. Lalu ada beberapa singkatan yang tidak dijelaskan kepanjangannya. Tidak semua pembaca familiar dengan singkatan di sana dan ada baiknya diberi keterangan.
Cerpen-cerpen yang banyak mengangkat tema sosial serta konflik antar suku, ras, agama, dan golongan. Penulis mengangkat isu di dunia nyata menjadi kisah fiksi yang kelam, getir, dan anyir. Dengan gaya bahasa puitis menambah keindahan sulaman kisah di dalamnya. Empat bintang.
Sebagai orang yang dibesarkan oleh karya-karya Bunda Helvy, saya tak pernah bosan menikmatinya. Seperti seorang anak yang meskipun telah keliling dunia, masakan ibunya tetap yang terbaik… seperti itulah tulisan-tulisan bunda helvy yang menbesarkan saya dari kecil hingga sekarang.
Karya Sastra Helvy Tiana Rosa. .Banyak mengangkat tema sosial. Mulai dari konflik Aceh, Ambon, Sampit, Palestina an lain lain. Sesungghnya gue ga kuat siy baca tulisan menggambarkan kisah konflik . ga kuat membayangkan bagaimana terjadinya konflik. :"/
Di saat seseorang ingin sekali orang lain tahu apa yang ia rasakan, di saat semua orang berlomba-lomba ingin terlihat baik dan tidak mau menerima kekalahan, agaknya Helvy memperlihatkan hal sebaliknya. Dalam buku ini ia membawa tema sosial yang sangat kaya akan sejarah dan kejadian nyata. Semua dibawakannya begitu hidup dan sanggup membangun emosi para pembacanya. Seperti dalam buku-buku sebelumnya, Ia tahu bagaimana mengungkapkan fakta tanpa harus memohon orang lain untuk iba, karena semua cerita mengalir begitu saja. Apa adanya.
Tema2 sosial yang diangkat Helvy ke dalam buku2nya memang selalu dibawakan sangat pekat, informatif, kritis dan penuh imajinasi, sehingga membuat cerita menjadi begitu hidup dan nyata. Buku yang berhasil membawa saya bernostalgia ini adalah salah satunya.
I've amazed by Helvy Tiana Rosa since I've read Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). That book reminds me of many things: family, love, courages, faith and Islam. Now, this book makes me feel the same like some years ago.
“Jod terus berburu. Domba-domba jatuh. Ayam-ayam menggelepar. Rintihan mereka menyayat segala, juga bulan. Tetapi tak sedikitpun menyentuh hati Jod dan anak buahnya” (hal.130).
cerita "juragan haji" kurang greget menurutku. tapi banyak cerpen yang keren. trus banyak yang diambil dari kisah nyata gitu jadi keren banget yaaa... trus kayak cerita nyata tapi dibubuhi fiksi gitu.. pokoknya banyak cerpen yang keren salut banget sama mbak helvy :)
Buku HTR pertama yang kubaca. Dibanding adiknya, Asma Nadia, tulisan HTR serius dan agak berat namun berbobot. Cerita pendek yang menjadi judul buku ini menurutku tidak terlalu mengesankan buatku. Aku malah lebih menyukai judul-judul lain seperti : Lelaki Semesta, Titin Gentanyangan, dan Pulang.
pengobat rindu setelah lama tak baca bukunya ibu Helvy, berisi kumpulan cerita pendek yang semua menarik, tentang konflik yang digambarkan dengan apik. selalu suka dengan penulis satu ini.
Yang gw suka Juragan Haji, Darahitam, sama Lorong Kematian. Yang paling gripping Lorong Kematian, ada ya orang sadis sesadis2nya kayak gitu, gak kebayang...