Buku ini adalah rangkuman perjalanan (bertahan dan berkembang) hidup seseorang yang gak punya silver spoon di tangannya (privilege), yang menjalani tantangan hidup sejak hari pertama lahir ke dunia, sampai perlahan menemukan perspektif baru untuk melihat segala hal yang terjadi di dalam hari-harinya, bahkan merasakan kelegaan dan penerimaan hidup yang kini membawanya lebih melesat sekaligus lebih merunduk .
Di buku ini, gue bakal ngajak kalian ngulik gimana caranya manage hidup, bisnis, dan momentum tanpa kehilangan arah. Jangan bayangin isi buku ini bakal penuh teori complicated, ya. Yang ada, gue banyak bercerita soal pengalaman pribadi yang praktikal, kalian bisa lihat sisi lain dari realita seorang perintis yang realistis, dari belajar menerima keadaan, belajar bangun networking, manfaatin personal branding, sampai gimana cara membangun fondasi hidup dan keuangan yang kokoh. Karena gue percaya, momentum cuma bakal jadi prize buat mereka yang siap.
Buku ini ada buat kalian yang mulai dengan kondisi tidak ideal dan hanya memiliki lutut, kaki sendiri, serta mimpi untuk berdoa dan berjalan, buat yang lagi menanggung banyak hal yang gak seharusnya, dan buat yang lagi mikir "Tuhan, Gue mau ada di keadaan yang lebih baik dari saat ini. Bisa, selalu ada cara untuk melangkah dari nol-nya masing-masing. Buku ini adalah cerita nyata, pelajaran dari perjalanan panjang, pembentukan Tuhan, dan panduan praktis buat siapa pun yang sedang merintis jalan menuju versi terbaik dari dirinya. Gue nggak janji ini akan mudah, tapi gue yakin ini akan membuat lo bisa survive, bahkan thrive.
Bukunya bagus sekali, banyak insighht yang bisa saya ambil dari perjalanan Kak Theo karena buku ii memang berisi perjalanan hidupnya. Honestly, bukunya cukup tipis. Sedih sekali pas baca, tiba-tiba sudah sampai halaman akhir. Beberapa poin yang aku ambil di buku ini ada beberapa hal: 1. Percaya dan fokus pada proses, hasil itu urusan Tuhan. 2. Jadikan kelemahan/kekurangan sebagai oppurtunity (ternyata kekurangan juga bisa jadi privilege, asal cara pandang kita diubah). 3. Bangun dulu kebiasaan yang baik (even dari hal kecil). Kalau di buku ini, lebih ke kebiasaan finansial. Even saat penghasilan kita masih pas-pasan, yang penting habbit keuangan yang baik sudah dibangun dulu. 4, Fokus persiapin diri, bangun fondasi. Jadi saat momentum datang, kita sudah siap. Kalau yang sering kita dengar adalah "Keberuntungan hanya datang apda orang-orang yang siap" atau "Keberuntungan adalah saat sebuah kesempatan bertemu dengan kesiapan".
Dan banyak hal lain yang bagus banget dari buku ini, cocok untuk kamu yang seorang perintis, relate. Aku merekomendasikan ini untuk kamu baca. Tapi, kalau kamu udah terlalu banyak nonton podcastnya Beliau, aku rasa udah banyak poin dari buku ini yang sudah disampaikan di banyak podcast Beliau.
Ada satu analogi di buku ini yang aku suka banget. Pulpen itu nggak dibilang sukses karena paling mahal atau paling keren. Pulpen dibilang sukses kalau bisa dipakai dengan baik. Nulisnya lancar. Dipakai banyak orang. Bahkan direkomendasikan ke orang lain. Artinya dia berfungsi sesuai tujuan dia diciptakan. Dari situ aku kepikiran. Tujuan hidup itu emang bukan cuma jadi kaya. Tapi hidup yang on track sama nilai yang kita pegang. Dan entah kenapa, buku ini kerasa nyambung banget sama Islam dan rukun iman yang baru aku pelajari akhir tahun lalu. Tentang usaha, misalnya. Kita diminta usaha maksimal. Tapi hasilnya diserahin ke Tuhan. Rezeki itu sebenarnya sudah ada. Allah sudah buka. Kita cuma diminta cari jalannya dengan cara yang benar. Soal uang juga. Dia banyak bahas hidup sesuai kemampuan. Bedain mana kebutuhan, mana cuma self reward. Jangan malu hidup sederhana. Jangan malu usaha lebih banyak dan lebih capek dari orang lain. Targetnya bukan kelihatan kaya, tapi surplus dari pendapatan. Bisa napas. Nggak kecekik gaya hidup sendiri. Kalau aku tambahin dari sisi iman. Semua yang ada di bumi dan langit itu milik Allah. Kita cuma dititipin. Jadi ngatur uang dengan waras itu bukan pelit. Itu tanggung jawab. Ada juga soal privilege. Apa pun yang kita punya, selama kita lihat dari sisi positif dan kita pakai buat berkembang, itu privilege. Ini juga ada dalam ajaran Islam banget. Apa pun yang Allah kasih, pasti baik untuk kita. Tinggal mindset kita aja. Tinggal cara kita ngejalaninnya gimana. Terus dia nulis prinsip no regret, no blame. Setiap keputusan, mau kelihatan salah atau benar, itu pelajaran. Bukan buat disesali. Tapi buat tumbuh. Dia juga bilang kita perlu lepasin ikatan emosional sama uang. Jangan bikin kebahagiaan kita tergantung angka. Uang itu alat. Bukan sumber makna. Ini mirip banget sama konsep zuhud. Punya, tapi nggak diperbudak. Bagian relasi yang dia highlight juga kena banget menurutku. Mencintai orang itu bukan tentang apa yang menurut kita bikin mereka bahagia. Tapi apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Bukan seberapa banyak kita memberi, tapi seberapa tepat! Kalau ditarik ke tauhid, semuanya jadi nyambung. Ketika Allah jadi pusat, hal-hal lain jadi proporsional. Harta cuma alat. Usaha jadi ibadah. Hidup nggak lagi soal pembuktian diri. Tapi soal menjalani fungsi, kayak pulpen tadi. Sesuai tujuan penciptaannya.
Banyak lagi sih yang lainnya yang dia tulis. Menurutku cocok banget dibaca untuk generasi Y, generasi Z, untuk yang mau merintis usaha, untuk yang mau bangkit dari keterpurukan. Bahasanya ringan, mudah dipahami, dan terasa dekat ceritanya.
This book feels so personal to me. Theo manages to combine autobiography and self improvement in such a natural way, making it stand out from most self improvement book I've read. Instead of over-promising or exaggerating, he shares financial and life insights in a realistic, and humbly manner.
Another thing I love is its simplicity, it’s short, easy to read, and straight to the point. What makes it even more meaningful is how Theo doesn’t just focus on worldly advice about finance and life, but also brings in spiritual values that align with my own faith. That blend really sets this book apart.
The goal of this book isn’t to turn you into a finance expert, but to give you a framework: where to start, what the reality of business looks like, and what the first steps might be. Of course, if you want to go deeper, you’ll need to complement it with other trusted sources. But in my opinion, this book is more than enough to spark curiosity and motivate you to keep learning about finance and business.
Saya membaca buku ini atas rekomendasi seorang teman. Begitu melihat nama penulisnya, saya langsung teringat pada sosok anak muda yang sering muncul di media sosial, menjadi narasumber berbagai acara dan dikenal luas karena pendekatannya yang realistis dan membumi.
Ternyata benar, isi buku ini tidak muluk-muluk. Tidak menawarkan janji manis atau sukses instan seperti banyak buku pengembangan diri lainnya. Sebaliknya, buku ini terasa seperti nasihat hangat dari seorang sahabat yang tulus: seseorang yang sudah lebih dulu menapaki jalan berliku membangun bisnis dari nol, lalu membagikan kisah dan ilmunya dengan jujur.
Theo mengajak kita memahami pentingnya networking, personal branding, nilai-nilai hidup (values), dan pondasi kuat sebelum berlari kencang. Buku ini sangat cocok untuk siapa pun yang sedang merintis dari bawah, yang ingin membangun sesuatu di atas batu yang kokoh, bukan di atas pasir yang mudah goyah.
Yang membuat saya semakin terkesan, Theo tidak menutup mata bahwa tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ia mengakui bahwa ada yang harus memulai dari satu langkah di belakang, ada yang sepuluh, bahkan ada pula yang seratus langkah tertinggal dari garis start. Tapi justru dari sinilah kejujuran narasi buku ini terasa menguatkan, karena setiap langkah kecil tetap berarti, selama dilakukan dengan strategi dan ketekunan.
Salah satu hal paling menyentuh dari buku ini adalah bagaimana Theo membawa nilai spiritual ke dalam hidup dan bisnisnya. Ia tidak hanya berbicara soal teknik dan strategi, tapi juga menyelipkan makna, kehadiran Tuhan, dan arah hidup yang ia yakini dengan jernih. Dan itu disampaikan tanpa menggurui, tapi menginspirasi.
Dari sisi tampilan, saya juga tak bisa melewatkan pujian. Meskipun sampulnya tampak sederhana dengan dominasi warna putih dan ilustrasi minimalis, ternyata bagian dalamnya sangat memanjakan mata. Kombinasi warna hitam, oranye stabilo, dan abu-abu menciptakan visual yang dinamis dan menyenangkan. Ditambah ilustrasi yang menarik, buku ini jelas dikerjakan dengan totalitas. Terlihat bahwa Theo benar-benar menyeriusi setiap detail, dari isi, nilai, hingga estetika.
Saya berharap akan ada buku lanjutan yang menggali lebih dalam sisi bisnis secara teknis. Tapi untuk langkah pertama ini, From Zero to Survive adalah pijakan yang kuat dan penuh semangat.
English: It’s been a long time since I read an Indonesian finance book. That doesn’t mean it’s bad, but most ideas in Indonesian finance books are adapted from famous US books. For this book, I think I might be biased. That’s because I like Theo Derick. Theo is like an older brother to me who always sees things in the most realistic way. There is no BS in the way he solves problems or views any situation.
What I like is how he shows that surviving in this economy is actually simple: build good habits, have surplus income, don’t follow the Joneses, be someone trustworthy so that opportunities will eventually come to you, and always keep growing as an individual.
Indonesia: Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya membaca buku keuangan dari penulis Indonesia. Bukan berarti buku-buku tersebut buruk, tetapi kebanyakan ide dalam buku keuangan Indonesia biasanya diadaptasi dari buku-buku terkenal asal Amerika Serikat.
Untuk buku yang satu ini, saya merasa mungkin saya sedikit bias. Itu karena saya memang menyukai Bro Theo. Bagi saya, Theo seperti kakak yang selalu melihat sesuatu dengan cara yang paling realistis. Tidak ada omong kosong (Penjual Mimpi) dalam cara dia memecahkan masalah maupun dalam cara dia memandang suatu persoalan.
Yang saya suka adalah cara dia menjelaskan bagaimana cara bertahan di in this economy dengan prinsip yang sederhana: membangun habit, memiliki surplus penghasilan, tidak ikut-ikutan, menjadi pribadi yang dapat dipercaya agar peluang datang dengan sendirinya, dan terus bertumbuh sebagai individu.
Saking seringnya dengar podcast Ko Theo, baca buku ini pun dengan nada bicara Ko Theo. Rasanya cuma beda media saja, vibes nya sama betul, apalagi pas perhatikan struktur kalimat yang sangat mirip dengan lisan (banyak koma dan karena yang bertumpuk). Tapi ga masalah, di tengah lautan buku self help dengan penulisan yang baku, buku ini jadi stand out. Isinya ringan dan cukup mudah dipahami, bagi yang sering mendengar podcastnya pasti sudah familiar dengan beberapa poin yang disampaikan. Karena halamannya yang sedikit (done membaca in one sitting) jadi berasa seperti kumpulan tips dan trik, mungkin ga ada something yang benar-benar new, tapi karena ditulis oleh seseorang yang sudah melalui hal-hal yang diceritakan, rasanya sangat orisinil dan refreshing. Ilmu yang didapat benar-benar dari hikmah menjalani hidup. Satu yang paling disukai dari buku ini adalah terus diingatkan untuk bersyukur dan menjadi berkat buat orang lain. Bagi yang mencari rekomendasi bacaan ringan singkat yang motivasional, this is it for you. Thank you Ko Theo for the wisdom 😇
Saya sudah membaca buku From Zero to Survive dan sangat menikmati isinya. Buku ini memberikan sudut pandang yang realistis tentang proses bertahan dan berkembang dari nol. Banyak insight yang relevan dan terasa dekat dengan kondisi kehidupan nyata. Salah satu kekuatan buku ini adalah cara Theo Derick menyampaikan pesan tanpa terkesan menggurui. Banyak bagian yang terasa relevan dengan kondisi pembaca yang sedang berjuang, baik dalam hal karier, bisnis, maupun kehidupan secara umum. Alih-alih menawarkan jalan pintas, buku ini justru mengajak pembaca untuk realistis, konsisten, dan siap menghadapi proses yang tidak instan.
Secara keseluruhan, From Zero to Survive cocok untuk pembaca yang sedang mencari motivasi yang membumi dan masuk akal. Buku ini bukan tentang mimpi besar semata, tetapi tentang bagaimana tetap bertahan, belajar, dan perlahan berkembang ketika memulai dari nol. Sebuah bacaan yang reflektif dan memberi dorongan mental, terutama bagi mereka yang sedang berada di fase sulit dalam hidupnya.
Banyak hal yang realistis dari buku ini, dimana aku sebenarnya lebih mending belajar daripada "earn money," meskipun aku juga kelas pekerja.
Inilah beberapa hal yang bagus.
1. "Gue percaya kalo lo sukses, orang bakal respect ama lo." Gak perduli seberapa banyak buku, karya atau tulisan yang dibuat, sukses secara finansial adalah cara agar gw bisa hangat dengan orang2 dan bisa memerdekakan diri untuk akses yang lebih baik. Walaupun aku menghindari orang yang hormat cuma sama orang berduit.
2. "Networking intinya adalah ketulusan." Aku muak dengan cara networking yang harus basa basi busuk. Disini aku jadi semakin mantap buat tuluslah networking sebagai bagian yang penting dalam hidup.
FYP dan Reels media sosial Kak Theo gak pernah sejauh ini aku skip. Karena mostly aku merasa relate dengan bekerja, khususnya saat aku membawa mental illness ini yang either jadi berkat atau beban dalam hidup. R
Banyak lagi reviewku sebenarnya, tapi cukup sampai disini dulu karena....
"Tuhan jauh lebih besar dari masalah kita." Yep, aku lagi2 diingatkan untuk ini. Makasih Kak Theo.
Buku yang luar biasa, kenapa luar biasa? Karena setiap membaca buku ini, saya terdorong untuk grow up, pesan pesan yang disampaikan oleh penulis sangat relate dengan kehidupan, penulis juga bercerita tentang bagaimana dia survive sampai di titik sukses. Salah satu pesan yang saya ambil dari buku ini : Penulis memilih untuk tidak memiliki penyesalan, karena bagi penulis, setiap keputusan yang dia ambil, meskipun kadang salah, hal itu adalah pelajaran dan ruang untuk tumbuh. Setelah membaca pesan tersebut, saya mencoba menerapkan hal tersebut dalam hidup saya, karena banyak dari kita kendala dalam hidup ini adalah ketakutan kita akan penyesalan yang membuat kita takut untuk mengambil keputusan dan berakhir di zona aman dan jalan di tempat. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca, perjalanan penulis dari bawah lalu dia survive hingga jadi dia yang sekarang, banyak hal-hal yang bisa kita contoh dari penulis.
Buku yang sungguh tidak muluk-muluk dan 'biasa saja', tapi benar-benar menjabarkan bagaimana cara survive di era sekarang dari seseorang yang memulai dari nol.
Nggak ada cara cepat kaya, jadi milyader dalam sebulan, bisnis langsung cabang banyak... Bukan itu! Tapi basic keuangan, melihat peluang, networking dan memanfaatkan kelebihan diri sendiri.
Kalau kalian agamanya sama sama si penulis pasti menghargai juga ajaran-ajaran yang dia bagikan (ytta).
Haha asli rasanya kayanya dikasih kotbah "Kerjakan aja yang ada di depan mata sebaik mungkin. Saatnya kerja ya kerja. Saatnya istirahat, istirahat total. Bersukacitalah dalam segala hal, ucap syukur untuk baik buruk masalah yang datang."
Begitu. Bagus. Simpel. Tapi percayalah pasti susah banget mepraktekan hal yang simpel itu secara konsisten dalam hidup, seninya disana!
Buku ini adalah panduan praktis bagi orang yang memulai dari nol. Fokusnya bukan tentang "cepat kaya", tapi tentang daya tahan (survival) dan cara naik kelas secara realistis.
3 Poin Utama Mentalitas Realistis: Berhenti mengeluh tentang nasib atau kurangnya modal. Terima realita dan fokus pada apa yang bisa dikendalikan.
Social Capital: Di dunia nyata, siapa yang kamu kenal sama pentingnya dengan apa yang kamu tahu. Bangun relasi yang jujur sebagai aset terkuat.
Tangga Finansial: Sukses bukan soal pamer, tapi soal mencapai keamanan finansial tahap demi tahap agar tidak mudah "tumbang" saat krisis.
Kelebihan & Kekurangan (+) Kelebihan: Bahasanya santai, jujur (apa adanya), dan tidak banyak teori muluk-muluk. Sangat cocok untuk anak muda.
(-) Kekurangan: Lebih banyak berbagi pengalaman pribadi daripada langkah-langkah teknis bisnis yang mendalam.
"Buku From Zero to Here Survive" karya Theo Derick adalah panduan untuk bertahan dan berkembang dalam situasi sulit, baik finansial, emosional, maupun fisik. Buku ini menawarkan strategi praktis dan pola pikir untuk mengatasi tantangan dan membangun kehidupan yang lebih baik dari awal.
Tema utamanya meliputi ketahanan mental, manajemen keuangan, keterampilan bertahan hidup, pengembangan diri, serta jaringan dan dukungan sosial.
Buku From Zero to Here Survive memberikan inspirasi dan panduan bagi siapa saja yang ingin mengubah hidup dan mencapai kesuksesan, bahkan dari titik nol. Buku ini menekankan pentingnya bertindak, belajar, dan tidak menyerah pada impian.
Saya sangat menyukai buku ini karena merasa relate dengan kehidupan saya sendiri. Dimana saya juga hidup tanpa silver spoon atau privilege. Ada kutipan dalam buku ini yang sangat saya sukai, yaitu ada pada halaman 81 sampai halaman 82 menjelasakan bahwa : Setiap orang punya kesempatan untuk sukses. Tapi skala suksesnya itu konteksnya sesuai story kita masing-masing dan tidak bisa ditiru sama orang lain. Buku ini mengajarkan setiap orang punya story masing-masing dan sukses itu terjadi di cerita mereka sendiri. Kalau mau sukses sukses di bidang yang kita minati, fokus dan kerjakan yang terbaik untuk story itu.
Buat yang ngikutin kak Theo dari ig sampe podcast jujur aku seneng banget pas dia mengumumkan buku tulisannya. Aku bela2in ke gramed buat nyari bukunya. Tapi sangat disayangkan bukunya terlalu tipis. Dan yang membuat aku sedikit menghela napas karena isinya mungkin 60-80% sudah pernah Theo bahas di podcast. Tapi dari sini aku justru melihat sisi lain Theo Derick yang gak ingin kulihat. Menjadi sandwich generation itu menyakitkan memang. Dan aku bisa melihat luka masa batin itu dengan gamblang. Semoga Kak Theo bisa lebih berbahagia lagi ya. Kamu keren kok kak. Meski kamu merasa ketakutan, gak cukup, dsb. Kamu harus bangga sama dirimu dan lebih banyak berterima kasih sama diri sendiri ❤
Buku ini banyak memberikan insight bagi saya. Theo Derick banyak memberikan panduan cara bertahan hidup di era modern, sangat bermanfaat bagi orang yang memulai hidupnya dari nol untuk memulai segala sesuatu tanpa privilege. Theo Derick menceritakan pengalaman hidupnya pada buku ini, kita di ajarkan bagaimana cara mengatur keuangan secara praktis, keluar dari masa masa sulit secara finansial, dan membangun kebiasaan uang yang bisa menopang masa depan. Terkadang motivasi saja tidak cukup, yang di butuhkan adalah strategi yang masuk akal. Bagaimana kita bisa melihat peluang, mengeksekusinya, dan bertahan di tengah kerasnya kenyataan hidup.
Buku ini berisikan mengenai pengalaman theo derick sebagai seorang pembisnis. Apa yang saya dapatkan disini? Saya belajar sebagai seoarang yang belum bisa memikirkan sebuah bisnis, saya belajar bagaimana cara membangun sebuah sistem ekonomi yang bagus. Saya juga belajar bagaimana cara tahap saya bisa membedakan mana yang sudah baik bagi status ek0nomi saya dan mana yang harus saya kembangkan. Itu yang penting menurut saya di dalam buku ini. Sisanya hanya sebagai sebuah pembuktian dari apa yang sudah Theo jalani. Satu lagi yang penting percaya bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya. Niceeee
dari judul zero to survive, di dalam buku banyak menceritakan pengalaman hidup pribadi dari penulis untuk bertahan hidup dan mengubah hidup. Yang pastinya salah satunya berhubungan dengan bagaimana mengatur finansial. Kita juga perlu ingat bahwa jangan lupa hargai kita sendiri walaupun terkadang kita merasa terlalu banyak cobaan. Kita perlu mengerti arti dari bahagia untuk kita sendiri dimana disarankan agar bisa terpenuhi 3 kebutuhan utama yaitu psikologis, spiritual dan fisik, walaupun tidak sepenuhnya dibagi rata, tetapi setidaknya bisa merasakan puas setelah mendapatkan 3 kebutuhan tsb.
First of all, this book is extremely short. I initially thought it would offer the same old motivational cliches. However, as soon as I opened and read it, I realized it is a success story of someone who achieved greatness at a young age. The book emphasizes that you only need yourself to survive—focusing on the essentials of survival rather than just 'success.' What I learned is that you must believe in yourself, set your goals as high as possible, and make them a reality. Money isn't everything, but everything becomes easier once you achieve financial freedom
menurut saya cukup relate dengan kehidupan sehari-hari. Isinya tidak menjanjikan kesuksesan yang instan, tapi lebih banyak membahas bagaimana cara bertahan, belajar dari kegagalan, dan pelan-pelan berkembang dari nol.
Cara penyampaiannya juga terasa realistis dan mudah dipahami. Buku ini mengingatkan bahwa dalam hidup tidak selalu berjalan mulus, tapi selama kita tetap berusaha dan punya pola pikir yang kuat, kita tetap bisa maju sedikit demi sedikit. Cocok dibaca untuk yang lagi butuh motivasi tapi dengan cara yang lebih jujur dan tidak terlalu berlebihan.
Bukunya sangat mudah dimengerti karena menggunakan bahasa sehari2, ceritanya sederhana tapi sangat memotivasi, salah satu kutipan yang menarik dari buku ini Kalau mau mulai sesuatu, tidak usa terlalu banyak tau, kalau kamu terlalu ngerti di awal, malah bikin tidak gerak2, terlalu banyak mikir bikin overtingking, gimanapun manusia itu adalah learning machine jadi learning by doinf it's good though, kaya waktu kecil kita merangkak, berjalan dan lari iru kita tanpa sadar melakukan learning by doing.
buku ini menceritakan seoarang manusia yang hidup dari keterbatasan dari segi financial dan keluarga,berjuang dari titik nol sampai menjadi sukses,dan jadi kebanggan untuk keluarga dan diri sendiri,buku ini mempunyai makna yang sangat mendalam ,pesan dari buku ini adalah " JADILAH VERSI TERBAIK DALAM HIDUP MU BAIK DALAM KELUARGA,PEKERJAAN DAN MASYARAKAT,DAN JANGAN BANDINGAN KAN KEHIDUPANMU DENGAN ORANG LAIN"
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku From Zero to Survive membahas perjuangan memulai dari kondisi yang serba terbatas dan bagaimana caranya tetap bertahan. Isinya cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama buat yang sedang membangun usaha, karier, atau mencoba bangkit setelah gagal. Bahasanya ringan dan mudah dipahami, pesan utama dari buku ini adalah tentang penting nya mental yang kuat serta konsistensi. Buku ini sebagai pengingat bahwa proses bertahan adalah bagian penting sebelum mencapai hasil yang lebih baik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini ringkas tapi ngena banget. Bahasanya ringan, realistis, dan jauh dari kesan toxic positivity yang sering bikin aku males nerusin buku lain. Justru di sini terasa jujur, dekat dengan realita, dan bikin aku bisa relate. Saking enaknya, aku khatam sekali duduk dalam kurang dari 30 menit. Simpel, padat, tapi bermakna. Definitely worth reading! ✨
From Zero to Survive is a perfect read for anyone struggling to navigate a life without privilege (Silver Spoon). It offers realistic encouragement and practical tools for building mental strength, helping readers not only survive but also find relief, acceptance, and ultimately, victory in their own lives.
Bukunya sederhana & sesuai dg judulnya. Realistis. For me, it's like a mixed between his testimony about God's work & business insight. Ga ribet. Ga bertele2. Simpel dg bahasa anak muda yg gampang dimengerti.
Cocok banget buat kaum muda yg sedang krisis kedewasaan dalam perjalanan hidup terutama jika ingin memulai bisnis.
I should really thank Ko Theo for writing this book. This book has so many insights, makes me think like "oh, iya juga ya" and helped me to execute thing(s). Once again, thank you Ko Theo for inspiring so many people, including me.
Saya juga jadi rajin nontonin beliau di YouTube. He deserved what he earned until now.
Sebuah buku yang menceritakan tentang seorang perintis (perintis beneran bukan perintis yg punya bokap miliarder) yang memulai semuanya dari kondisi minus. Ngga ada resep spesial dan ngga melebih-lebihkan, tapi pas.
Apa yg ada di buku ini, dekat banget sama kondisi nyata masyarakat. Gapunya capital gede? Cari source income lain. Setelah dpt capital lumayan, baru nyicil nabung duit darurat, baru abis itu mikirin investasi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku yang menggambarkan bagaimana Theo Derick berjuang untuk mencapai tahap financial independence beserta lika-liku yang dihadapinya. Dalam buku ini penulis juga membagikan terkait tips dan informasi seputar bisnis dan keuangan.
Cocok buat yang mau tau rekapan dari mindset ko theo, tapi buat yang sering dengerin podcast/youtubenya, buku ini bakal berasa berulang karena pernah di mention di beberapa video di youtubenya