“Terkadang kita malu memandang wajah kebudayaan kita sendiri. Dalam semangat melawan korupsi, semangat yang masih mengepul dan menjadi harapan terbesar masyarakat, kemunafikan muncul di sana-sini. Pejabat tertinggi kerap melindungi anggotanya yang korup. Ini kebiasaan terkutuk di mata masyarakat, tetapi menjadi tradisi agung di kalangan pejabat. Pejabat korup, yang seharusnya diganti, tak jadi dicopot dari jabatan. Mereka mengira alasan-alasan di balik itu semua masih merupakan rahasia di kalangan birokrat sendiri. Mereka tak menyadari, di Republik yang terluka parah ini tak ada lagi barang yang bernama rahasia,” tulis Mohamad Sobary.
Lewat kumpulan esai ini, Sobary mengajak kita untuk menatap lekat-lekat wajah kebudayaan Indonesia yang compang-camping dan menyedihkan. Namun nun di seberang cakrawala terdapat secercah harapan. Harapan yang dapat membuat kita tersenyum menatap masa depan. Dengan gaya khas yang “nyelekit” tapi “asyik”, Sobary menyeru untuk bangkit. Kebudayaan, Sobary mengingatkan, hidup dan berkembang bukan karena dijaga dan dirawat, melainkan karena diberontak.
Mohamad Sobary (biasa dipanggil Kang Sobary, lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 7 Agustus 1952; umur 57 tahun) adalah budayawan yang sering menulis di beberapa surat kabar Indonesia. Kolomnya sampai sekarang masih muncul di Harian Kompas Minggu di rubrik Asal-Usul. Mantan Pemimpin Umum Kantor Berita Antara ini sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan[1] (Partnership for Governance Reform).Jabatan tersebut berakhir bulan Juli 2009. Kini Sobary sedang memfokuskan diri pada penulisan Novel tentang keluarga Syalendra yang membangun Borobudur. Ditengah kesibukan itu dia juga menyelesaikan segenap kenangan dengan Gus Dur : 1. Jejak Guru Bangsa: Meneladani Kearifan Gus Dur, minggu ketiga Februari 2010 terbit di GRAMEDIA 2. Kenangan lainnya, dialog-dialog dengan Gus Dur yang pernah direkam dan diperjualbelikan, akan diterbitkan kembali dengan judul Gus Dur dan Kang Sobary : KeIndonesiaan dan Kemanusiaan.
Membaca Mohamad Sobary dalam esai-esainya yang terkonstelasi dalam buku Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dinekal, seperti mendengarkan seorang anak kecil yang jujur yang tengah berceracau soal kondisi lingkungan kecilnya. Terbagi menjadi 4 bab, yang masing-masing bab mempunyai kekuatan ceritanya masing-masing namun dalam semangat tema besar yang sama. Yaitu, ketidakpuasan, kemuakkan yang mendalam dan pemberontakannya terhadap birokrasi Indonesia. Serta menjijikannya elit partai dan elit penguasa Indonesia. Melalui judul yang provokatif serta imajinatif, Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dikenal, memancing kita untuk memikirkan ulang konsep manusia modern, sembari membuka diskursus untuk menilik lagi moralitas dengan pendekatan kebudayaan dan tradisi.
"Orang biasa..di mana-mana hidup bergerombol, "geng-gengan", dan punya kelompok atau rombongan. Kelebihan dirinya selalu terletak pada gerombolan...Identitas diri orang perorang diletakkan pada identitas kelompok.."
"Orang-orang istimewa lain lagi gaya hidupnya. Mereka itu seperti makhluk soliter..eagles flies alone.."
"Anak penurut, yang sopan dan memfotokopi cara berfikir gurunya, juga dosennya, dianggap baik. Staf yang TAAT DAN PATUH pada kata atasannya dan menelan segala hal tanpa mengunyah itu tampak terhormat di mata atasan.."
"Banyak anak berbakat -anak istimewa- tak tahan terhadap tata kehidupan semacam itu..Mereka lalu hidup terisolasi..dalam kemandirian..mereka tumbuh membuktikan diri mampu berbuat lebih besar daripada anak-anak baik yang dipangku guru.."
"Mereka itu WONG PINTER TANPA GURU. Mereka tak butuh sekolahan..tak memerlukan guru yang normatif yang haus kepatuhan.."
"Bagi mereka, guru itu orang bijak, pelindung, dan..mengakomodasi..anak-anak yang berbicara dalam bahasa perbedaan."
"Manusia jenis itu hampir tak ada. Maka apa boleh buat, melangkah tanpa guru."
"A.A Navis berkata ALAM TERKEMBANG MENJADI GURU..kita musti ubah secara kreatif: ALAM TERKEMBANG MENJADI BUKU..kita mungkin tak butuh guru..tapi kita tetap butuh buku."
Satu mimpi yang paling mengerikan yaitu mimpi menjadi orang biasa.
membaca ini melelahkan sekali. [saya tidak sanggup membacanya sampai selesai, saya sudah berusaha]
selain karena bahasa dan cara tuturnya, di tengah-tengah pemilu presiden yang memanas, buku ini tidak menawarkan netralitas yang saya cari (masak di TV, koran, dan dimana-mana udah bicara politik, eh beli buku ini bicara itu itu lagi)