Kini Darussalam memiliki kunci kebebasan. Berkat chip yang Rekha berikan, kaum Muslimin memiliki kesempatan untuk menekan NSJ. Namun, Rekha merasa sedih setelah mengetahui dia bukan anak kandung ibunya. Sementara itu, ada kelompok lain yang membenci NSJ, bahkan ingin menghancurkannya. Persiapan mereka sudah matang, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Kaum Muslim mencoba mengajukan sidang untuk menggugat NSJ. Apakah NSJ akan tumbang atau mereka akan melanjutkan hegemoninya?
novel sci-fi Indonesia pertama yang saya baca. and it did totally drives me crazyyy!! I love it sooo much! saya suka banget tokoh Donatello, sampe-sampe memimpikan ada orang yang beneran bernama DOnatello di kehidupan nyata. unsur sci-fi nya ngena banget. salut buat Efi yang 'bisaan' imajinasinya ;) hebat pokoknya, sukaaa! :D
Seperti novel pertamanya (Mumi Legenda NSJ 2122, saya juga harus ngubek-ngubek banyak tempat untuk nyari novel ini waktu novel saya hilang. Malah yang kedua ini susah banget nemunya. Yang lucu sih, waktu saya udah nyaris nyerah, malah nemu di bookfair, ditaruh di depan pula (padahal bookfair sebelum-sebelumnya nggak pernah nemu walau udah nyari ke tumpukan buku-buku lama!).
Novel ini adalah kelanjutan NSJ 2122: Mumi Legenda. Di novel kedua ini, makin banyak karakter bermunculan. Mungkin orang-orang yang susah mengenali karakter bakal kesulitan ngapalinnya, tapi saya pribadi suka banget. Soalnya karakternya unik-unik sih, walau saya nggak hapal semua namanya.
Untuk konflik, pastinya di sini dijelasin lebih dalam. Juga tentang tujuan si kembar. Baca ini betul-betul bikin saya mikir ... mungkin juga suatu hari nanti isi novel ini betul-betul kejadian. Iiih, 'serem' juga.
Anti klimaks nya memang kurang sih.... Tapi cukup oke lah.
Ngomong-ngomong saya masih penasaran sama Mae ><
Ngomong-ngomong lagi, Don di akhir manis banget deh. Si Mr. Perfect ternyataaaa..... Huahahahahaha....
Inget banger pertama baca novel pertamanya pas lagi jaman ujian kelas 1 SMP. Kenapa saya baca pas lagi jaman ujian? Karena novel ini di sekolah saya ada dua orang yg punya, tapi yg ngantri 5 kelas. Nah, pas lg ujian kan orang-orang pada stop baca novel dan belajar, nyelak orang pas lagi ujian itu adalah cara saya baca novel pinjeman (Eragon, Tunnels, Bartimaeus Trilogy) hahahahaha Tapi serius, ini novel dua keren banget sampe semua org rebutan ngantri pinjem. Saya inget banget terpukau sama novel ini sampe2 akhirnya saya beli pas banget The Independent terbit.
Dan kemudian dua novel ini jadi rebutan seangkatan lagi dan akhirnya hancur berkeping2 dan akhirnya hati saya ikutan hancur T_T
November tahun lalu, saya keingetan sama dua novel ini dan akhirnya saya ubek2 semua pasar buku bekas seantero Jawa. Saya tau buku ini ga akan ada di toko buku biasa karena dua buku ini sayangnya cuma terbit sekali T_T Trus karena ga nemu2 akhirnya saya minta tolong Mizan untuk mencari dua buku tersebut. Pucuk dicinta ketemu ulet, Mizan bilang bahwa masih ada sisa beberapa copy yg kotor karena lama di gudang. Akhirnya dua buku ini ada lagi di rak bukuku. Thanks Mizan
Nemu buku ini udah susah ya. Sebenernya waktu itu dapetnya gak pas nyari sih. Di pameran, dan karena terbitnya udah hampir sepuluh tahun lalu, ya diletakkin aja sembarangan. Syukurlah langsung beli, meski waktu itu sebenernya gak terlalu suka yang pertama. Mungkin lain kali bisa dibaca.
Ternyata lebih bagus dibaca sekarang daripada sepuluh tahun lalu. Aku menghabiskan kedua bukunya dalam semalam.
Lagi-lagi bintang 5. Ini seri kedua dari Mumi Legenda (NSJ 2122). Di buku kedua ini, terjawab sudah semua pertanyaan yang masih mengganjal akibar buku satu. Walau ada beberapa dugaan saya yang terbukti benar. Kisahnya tersaji secara apik tanpa lelah membacanya. Walau, mungkin endingnya kurang bombastis. Berarti harus ada series NSJ 2122 selanjutnya nih, penulis. Suka banget sama karakter Don Terence, bahkan pernah bermimpi punya pacar seperti dia. ;)
Saya menunggu cukup lama untuk bisa baca buku ini. Dan kesan saya; 'wah, ceritanya berkembang.' Ada tokoh-tokoh baru, tepatnya: BANYAK tokoh baru. Sejujurnya saya sedikit terganggu dengan footnotes yang nggak ada hubungannya dengan cerita. Lalu klimaksnya... jauh dari yang saya harapkan.
Suka banget dari buku yang pertama, mumi legenda..my first Science Fiction novels..and I love it..Soooo Much ^^ Suka penggambaran masa depan di buku ini, suka konflik-nya, suka semua detailnya..NICE!!
sukaaa sekaliiii, jaman smp-sma nih.... apa lagi tokoh Don dan juga Rekha... sebenernya suka juga sm karakter vladi miyard, sayangnya homo.. punya yg mumi legenda doang, yg independent belum... pingin punyaa...
it was amazing deh.. bikin ri terus mencari novel yg kayak gini lagi.. tp belum ada tandingannya... salut bt efi untuk novelnya..ditunggu karya berikutnya..^_^
Kreatif banget sih Mbak Efi, padahal ini novel lawas. Mencari sumber inspirasi sebelum internet masif kayak sekarang tentunya jadi tantangan sendiri.
Hanya saja, aku lebih suka buku yang pertama to be honest. Mungkin karena banyaknya adegan yang kurang penting, kayak Xen, Adda, Vladi yang cukup banyak disorot. Atau Eve yang menjahit pakaian untuk Don. Atau banyak perbincangan perbincangan lainnya antar tokoh, yang menurutku gak signifikan.
Mungkin ini semua adegan penting sih untuk perkembangan karakter, tapi mungkin akan lebih ciamik jika perkembangan karakter itu dibawah plot utama, yaitu melawan NSJ.
Selain itu, adegan klimaks nya kurang wah. Seperti tidak banyak perlawanan NSJ sebelum ada pengadilan. Dan Miriam yang tidak jadi bangun. Padahal banyak banget potensi dari cerita ini kalau semua plot dan story diusahakan reach their potential. Sehingga emosinya lebih kuat.
Dan ada berbagai hal yang mungkin kesannya kurang penjelasan dan riset? Misalnya bagaimana Muslim bisa menyusupkan senjata memasuki gedung pengadilan. Hanya dituliskan, entah bagaimana senjata itu bisa melewati sensor.
Juga terdapat banyak plot holes sih, di buku 1 dan ini juga. Misalnya kayak Terry pas gak kepikiran ide Mae untuk menayangkan kekejaman NSJ di televisi. Padahal aku pikir, itu bisa dipikirkan dengan common sense. Hanya dibuat seakan akan Terry lupa. Padahal dia pilot dan dia juga cerdas. Begitu pula saat Don lupa kalau wajahnya dengan Terry sama (pas di buku 1), makanya dia bingung kenapa harus bawa Rekha juga sekaligus muminya. Padahal Don itu cerdas banget. Tapi kadang hal hal sederhana dilupakan agar terkesan percakapannya penuh intrik.
Anyway, aku salut banget sama Mbak Efi sama karyanya. Kreatif banget. Dan mungkin aku sendiri gak akan kepikira. Juga beberapa perbandingan jadinya lucu bgt. Kayak misalnya hak asasi beragama dibandingkan dengan permasalahan mental anak anak remaja yang ingin menyatukan cyber dengan mumi. Idenya random tapi brilian untuk menjadi bahan candaan dan cerita. Lagipula kayaknya emang orang orang di masa depan aneh sama ide ide gila mereka. Dan Mbak Efi bisa menuliskan ide ide itu secara mengalir dan enak dibaca. Salut.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Akhirnya bisa nemu closure buat Darussalam Dan NSJ. Karena di buku sebelumnya nggak dijelaskan lebih jauh gimana para pejuang kebebasan beragama ini akhirnya bisa menuntut apa yang jadi hak mereka, di buku ini dikupas habis. Mulai dari kebobrokan NSJ sampai pengekangan yang berkedok kesetaraan ini dibongkar paksa.
Yah, menganggap konflik agama sebagai alat untuk menghapus agama itu sendiri sudah salah kaprah. Mau ditutup atau dilarang seperti apa pun nggak akan mengubah hak manusia untuk memeluk agama sesuai kepercayaan masing-masing.
Aku suka gimana Rekha pelan-pelan mulai mengenal Islam karena ya seumur hidup nggak kenal agama, lalu diterpa keberadaan Darussalam. Dia pun nggak grasa-grusu, meskipun sifatnya tantruman wkwkwk.
Kayaknya udah kubahas di reviu buku pertamanya, ya, ini sci-fi yang simpel dan terkesan ringan, padahal kalau mau dibahas lebih jauh bakal kompleks banget. Alurnya cepat, saking cepatnya, emosi karakter nggak dibiarkan meresap. Kalau dibandingkan dengan buku pertama, rasanya buku kedua memang agak ngebut. Campur aduk banget gimana perasaan karakter. Antara, senang, sedih, bingung, marah, nggak bisa dijeda dulu. Alhasil yang baca bingung harus berhenti sebentar buat bersimpati atau ya udah gas aja sesuai kecepatan alur.
Lalu ada head-hopping. Ini kayaknya risiko semua tulisan yang pakai POV orang ketiga yang semua karakter ikut "ngomong". Memang perpindahan kepalanya nggak terjadi di satu paragraf, tapi tetap saja bakal membingungkan kalau setiap paragraf beda kepala yang menuturkan cerita.
Intinya, aku suka buku ini. Kesannya memang ringan, tapi temanya nggak kosong melompong.