Sebenernya, secara objektif, aku suka sama cerita ini. Tapi, secara subjektif...
Waktu pertama kali buka halaman-halaman awal, aku merasa kembali diingetin sama diksi-diksi Kak Clio yang keren banget. Puitis, semacam ngena di hati walaupun cuma mendeskripsikan jalan yang disirami sinar Matahari. Porsinya pun pas dan nggak terkesan maksa. Kalo aku masih sama kayak empat tahun lalu pas kelas delapan SMP, bisa jadi aku tetep nggak nyambung sama gaya bahasanya. Tapi sekarang, untungnya, nyambung-nyambung aja.
Menurutku, pola ceritanya sama kayak di seri-seri sebelumnya. Ada pelatihan—walaupun yang di sini ritmenya lebih smooth dan nggak terlalu banyak kekerasan (menurutku lho). Fay juga lebih sakit gara-gara ngelibatin perasaan. Dibawa ke sel bawah tanah pun masih dibantuin Reno, Sam, sama Larry. Bagian kesakitan secara fisik kayak nggak separah di buku sebelumnya dan aku agak bernapas lega karena... yah, nasib Fay nggak terlalu menyedihkan. Toh, Fay juga kebanyakan “selamat” dari segala macam mara bahaya karena orangtuanya baru tiada.
Tapi, itulah yang bikin aku nggak bisa bersimpati sama Fay di sini. Sama kayak yang Reno bilang, Fay nggak ada kemajuan sama sekali. Tetep aja kayak dulu. Bahkan, Fay masih nyimpen dendam nggak jelas sama Reno. Padahal di buku kedua, kayaknya dia udah puas marahan sama Reno deh. Sempat baikan juga nggak ya? Hmm, lupa.
Bahkan waktu Fay nggak mau nurut dan akhirnya Reno bertanggung jawab sepenuhnya atas pelanggaran yang dia buat (dia nggak bakal ketahuan seandainya Fay nurut), Fay tetep nggak percaya sama Reno. Masih syukur dia nggak marah sama Kent juga.
Emang, sejak awal ketemu Enrique, aku udah nggak suka sama cowok pendatang baru itu. Terlebih waktu dia resmi jadian sama Fay. Cewek ini jadi susah banget nurutin perintah pamannya. Padahal dia udah disumpah. Dan mau nggak mau, dia harus memprioritaskan kepentingan keluarga dibanding kepentingan pribadi. Nggak cuma sekali kok, Fay dibilangin tentang kewajibannya sebagai McGallaghan. Dia aja yang terlalu cinta sama Enrique sampe semua “peringatan” itu cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Untung aku bukan Philippe Klaan, kalo iya, aku jamin Fay sakit hati banget gara-gara aku bilang kalo agen level lima yang baru direkrut dan belum tau apa-apa lebih mending daripada Fay.
Logika ceritanya jalan sih. Soal hadiah gelang Kent, penelitian Elliot, bahkan detail sekecil kesadaran Enrique tentang kemampuan Fay nari. Ada satu typo, pengkhiatan, di halaman 71 yang aku temuin. Ada lagi typo yang lain di halaman-halaman berikutnya, cuma sedikit, tapi nggak terlalu aku inget. Lagi pula, nggak mengganggu banget kok.
Balik lagi ke Reno, soal... misi Fay waktu di lapangan. Coba kalo cewek itu nurutin perintah dan skenario, semua pasti nggak bakal kacau, Fay pasti nggak bakal kena musibah yang bikin Reno nyelametin dia... lagi. Aku malah kasihan banget sama cowok cakep ini. Bukan cuma karena aku die-hard fans-nya, tapi juga alasan kenapa aku bisa bersimpati sama Reno: tindakan sukarelanya. Reno selalu aja ngasih bantuan sama Fay apa pun yang terjadi, tanpa diminta. Hebatnya, Fay baru sadar kalo Reno bisa dipercaya dan nggak seharusnya dia marah-marah sama Reno setelah tau cowok itu terluka.
Apa emang harus berdarah-darah dulu supaya dapet perhatian Fay? Enrique, sayangnya, enggak tuh. Dia malah enak-enakan hahahihi sama Fay tanpa sadar kalo dia udah bikin Fay kalang kabut. Padahal, Kent sama Reno udah sempet nyebut Enrique brengsek. Awalnya aku pikir itu cuma bentuk kecemburuan biasa, tapi, setelah tahu Reno terlalu pinter untuk ngomong nggak penting, aku ngerasa itu semacam clue kalo tuduhan mereka sama sekali bukan omongan tak berdasar. Aku merasa, karena Reno yang banyak berpikir di sini (bahkan Kent aja nyelametin Fay karena dia dikasih kode dari Reno), Enrique bener-bener nggak cocok buat Fay. (Aku tahu, aku terkesan rasis. Tapi dari awal aku emang nggak suka sama Enrique.) :3
Soal Andrew, aku udah setuju dari dulu kalo dia yang jadi pemimpin di jajaran The Pillars. Dia tegas, cakap, dan punya hati nurani. Makanya, nggak heran kalo Philippe nggak kepilih—tingkah dia lebih berbahaya di pandanganku. Kan nggak mungkin orang dihukum seenaknya sendiri tanpa ada belas kasihan.
Nah, aku setuju aja kalo Reno yang bakal jadi pemimpin selanjutnya. Dia pintar, taktis, dan juga punya hati nurani. Awalnya sempat mikir saingan Reno itu Kent. Tapi, nggak ah. Kent terlalu penyayang. Kalo dia disuruh ngehukum Fay, bisa-bisa tanpa pikir panjang dia lepasin Fay supaya nggak kesakitan, lagi. Ini sih... kebanyakan hati nurani. Wkwkwk. :P
Jadi kesimpulannya, secara subjektif, aku kurang sreg sama segala tindak-tanduk Fay di sini. Entah udah bisa dianggep ada character development-nya atau nggak, yang jelas, pilihan-pilihan Fay justru bikin cewek itu susah sendiri. Coba kalo masalah yang dia dapet murni dari pihak luar, barangkali rasa simpatiku masih ada. Tapi ini kan bukan ceritaku, jadi ya... aku nggak bisa ikut campur. :D
Empat bintang deh. C: