What do you think?
Rate this book


264 pages, Paperback
Published April 30, 2025
“Itu yang terjadi padaku. Aku tahu nilai diriku. Aku tahu banyak laki-laki rela menukar jiwanya untuk memperistriku. Dengan berselingkuh, suamiku tak hanya menyakiti hatiku. Ia juga membuatku meragukan diriku sendiri. Apa yang salah dariku? Apakah aku tidak menjalankan tugasku sebagai istri dengan baik? Apakah aku sudah tak cantik lagi? Apakah aku memang pantas menerima ini?”
"Saya dan kantor ini adalah bukti kalau perempuan bisa melakukan apa saja selama kita punya wewenang atas tubuh, pikiran, dan jiwa kita sendiri. Payudara dan vulva bukan penghalang kita untuk meraih hal yang sama dengan laki-laki. Bahkan melampaui mereka." (halaman 68)
"Aku sendiri. Kau sendiri. Kita sendiri di dunia ini. Satu-satunya sandaran kita adalah Tuhan. Selebihnya adalah makhluk-Nya yang memang tak seharusnya kau cintai melebihi penciptanya." (halaman 202)
"Dengar, perempuan hidup di tengah penghakiman dan norma. Jika ia belum menikah, tetangga sibuk mempertanyakan keberadaan jodohnya. Jika ia sudah menikah, kerabat akan merongrong kehadiran buah hati dalam keluarga. Saat melahirkan, masyarakat sibuk menginterogasi apakah ia melahirkan lewat operasi sesar atau liang vagina. Ketika ia menjadi ibu bekerja, ia harus menanggung celaan tentang pilihannya yang seolah-olah menjadikan anak nomor dua. Begitu juga dengan ibu rumah tangga yang dituding harinya penuh agenda tak berguna."
Kalau kau bertanya alasanku ingin membunuh suamiku, aku akan mengembalikannya kepadamu. Coba kau lihat pernikahanmu. Coba kau tengok sekitarmu. Bukankah ada begitu banyak alasan untuk melenyapkan orang yang sudah dipercaya orangtuamu untuk menjagamu, tetapi malah menyakitimu?