Menjadi frontliner di sebuah bank sangat kaya dengan suka dan duka. Banyak kejadian yang membuat kita menahan senyum, tapi ada kalanya kita dibuat ikut bersimpati. Tulisan ini mengajak kita memahami dunia bank, khususnya dunia teller.
Jadi teringat masa lalu waktu masih jadi frontliner :)
Tapi... sepertinya aku kurang cocok dengan gaya bahasa yang dipakai di buku ini. Perbedaan generasi dan faktor U menyebabkan aku sebaiknya menghibahkan buku ini kepada mereka yang lebih cocok dengan gayanya.
Awalnya saya kira Teller sampai Teler adalah buku humor semacam Stupid Boss atau Relationshitnya Alit. Eh ternyata dari penerbit, buku ini dikategorikan sebagai novel (mengacu pada keterangan di bagian belakang buku). Ya nggak masalah sih sebenarnya #plak.
Saya juga mengira buku ini penuh dengan tingkah nasabah yang katanya bikin penulis teler, tetapi kebanyakan isi buku ini tentang penulis dan kejadian di kantor maupun dengan rekan kerja. Buku ini terdiri dari 17 bab dan hanya beberapa bab yang berkaitan dengan nasabah. Mungkin saja saya yang gagal fokus memahami blurb yang diberikan.
Untuk penulisan saya agak kurang suka dengan cara menulis easy going ala blog seperti ini. Kalau untuk sebuah postingan blog sih mungkin masih menarik atau pada saat membaca umur saya belum setua sekarang mungkin saja saya menyukainya (ini masalah selera saja sih sebenarnya) ah iya, karena ini ditujukan untuk pembaca di Indonesia ada baiknya bahasa-bahasa daerah (baik itu bahasa daerah yang gaul) diberikan keterangan atau dimanilisir saja. Seperti, cengkonek, sundek, greh groh dsbnya. Saya sampai nanya ke teman saya yang berasal dari Jawa apakah tau arti kata tersebut atau pernah mendengarnya dan jawabannya tidak.
Saya juga kurang nyaman dengan penulis yang terlalu banyak memberi humor dengan sisi negatif kalau nggak bisa disebut "cenderung" kasar (agak susah sih menjelaskannya) dan menurut saya jadi nggak lucu. Hal yang bikin senyum adalah ketika penulis dan temannya ketakutan pada bab hotel hantu. Saya jadi ingat dengan buku-buku nya Raditya Dika yang kadar humornya pas tapi tidak menganalogikan orang lain dengan hal-hal yang saya ngerti sih maksudnya agar tulisannya nggak ngebosenin tapi bagi saya pribadi agak gimana bacanya. Sebagai contoh, penulis menggambarkan seorang kakek yang nyebelin dengan mukanya kenceng kayak gardu tegangan listrik atau tulisannya keriting mirip cakaran ayam kena kusta, ah kasihan sekali si ayam ini. Gambaran-gambaran sejenis banyak saya temui di buku dan cukup ganggu. Buku inipun banyak berisi keluhan penulis pada bosnya, tempat kerja maupun rekan kerja. Pada bagian ini saya juga kembali teringat dengan mbak Kerani penulis Stupid Boss tapi dengan pengalaman baca yang berbeda. Saya juga menemukan typo yang lumayan, kalimat yang tidak ada spasi, pengulangan yang sebenarnya tidak penting dan terkadang penulis tidak konsisten.
Buku ini lumayan oke sih menurut saya, tapi (maaf) bukan selera saya. Mungkin saja segmen pembaca buku ini adalah anak muda gaul dan easy going, bukan saya yang rempong ini #ditimpuk. Btw saya suka covernya.
Mulai baca buku ini semalam, 30 menit sebelum tidur. Lanjut baca lagi tadi pagi selama 1 jam di bus sambil berdiri. Lanjut lagi 20 menit pas istirahat kantor. Jadi intinya buku ini selesai dalam waktu singkat.
Buku ini bercerita mengenai kehidupan teller, ngeselinnya sampai nyenenginnya. Dan juga mengenai Bang Ferhat yang juga teman saya di GIB (Gam Inong Blogger) haha. Overall, buku ini cukup kocak, cara penyampaian ceritanya cukup menyenangkan untuk dibaca, dan ngebuat saya bisa ikut ngebayangin bagaimana resah-gelisahnya hidup sebagai teller :)
Rupa-rupa manusia yang dihadapi teler ajaib juga ternyata. Bukunya kocak, tanpa sadar senyum jadi merekah lebar. Cocoklah dibaca untuk sedikit mengusir stress
Jujur saja, aku agak serba salah mereview (baca : mengomentari) buku ini. Pertama, aku berstatus sama seperti penulisnya. Sama-sama mantan teller di perusahaan yang sama! kedua, dengan faktor tersebut, bisa jadi penilaianku terhadap buku ini menjadi sangat sangat subjektif. Mengingat secara garis besar, aku tahu kondisi pekerjaan penulis sebagai teller. Ketiga, nah ini alasannya cukup pribadi. Suatu saat akan aku utarakan. hehe *sok misteri*
Ferhat adalah mantan teller di sebuah bank. Tepatnya yang berlokasi di Aceh. Melalui tulisan ini, Ferhat berusaha memaparkan gimana susahnya, ribetnya dan asyik-gak-asyiknya menjadi seorang teller. Dari nasabah yang nyebelin, bos yang nyebelin, rekan kerja yang nyebelin (terutama tim SQ - Service Quality)? eh kok semua nyebelin? haha, gak ding. Tentu ada sisi-sisi baiknya bekerja menjadi seorang teller.
Misalnya? Kapan lagi coba bisa pegang duit bermilyar-milyar. Iya sih duit orang semua haha. Cuma lumayan, kan? siapa tahu kelak bisa jadi milyarder beneran. Eh soal duit ini, Ferhat juga menyinggung betapa gak asyiknya sortir duit bulukan. Yup, aku pun dulu merasakan hal itu. *pukpuk punggung Ferhat*
Bukunya ditulis dengan ringan kayak snack jajanan warung. Kriuk-kriuk. Bahasa yang digunakan juga jenaka. Bikin senyam-senyum kayak pas gajian :) nah... ada tapinya ini. Saking ringannya, menurutku, banyak sekali hal-hal yang dapat digali dari pekerjaan seorang teller yang tidak ditulis sama Ferhat.
Jujur aja, misal nih ya... misalnya aku pembaca awam yang gak tahu seluk-beluk dunia perTELLERan, aku kurang menangkap gambaran utuh pekerjaan teller itu seperti apa. Bisa dibilang, pemaparan Ferhat mengenai pekerjaannya ini kurang dari 50 persen aja. Yang paling menarik memang ketika berhubungan dengan SQO atau nasabah. *awaass ada MRI! hehe*
Tapi menurutku masih kurang banyak dan kecenderungan untuk menceritakan mengenai 'Ferhat'nya bukan 'Teller'nya lebih mendominasi. Hal ini agak menodai *cuih, ternoda uhuy* judul bukunya yang kece cetar topan badai ini. *kasih jempol* Tapi hal ini balik ke selera pembaca sih ya. Nah tuh kan aku jadi makin dilema nulis ulasannya ini :)
Teller Sampai Teler adalah sajian yang ringan. Enak, gurih tanpa banyak mikir. Namun resikonya, kisah-kisah di dalamnya gampang terlupakan. Buku ini oke buat cemilan, tapi tidak cukup mengenyangkan *dasar mamamholic, bawa-bawa makanan hwhwhw*
"Tapi kan ini buku PeLit (Personal Literatur) yang harusnya memang begitu?" errr... iya sih, tapi kan PeLit juga bisa mengenyangkan. Maksudku, dapat menggambarkan secara lebih luas mengenai pekerjaan yang ditonjolkan melalui buku ini. Aku gak akan protes deh kalo misalnya judul buku ini "Catatan Gokil Ferhat" atau "Suka Duka Ferhat", hanya... karena bawa-bawa Teller, dan ini sesuatu yang baru (pekerjaan teller baru kali ini diangkat jadi buku, sebelumnya ada buku Bankir Sesa(a)t yang memaparkan pekerjaan CSO di BANK YANG SAMA! hadew hahaha), aku... sebagai pembaca memulai membaca buku ini dengan espektasi yang lebih.
bai de wei... akhir kata, balik-balik ke selera pembaca ya :) salahkan saja nih espektasiku yang ketinggian ketika baca buku ini. Bukunya tetap asyik kok dibaca. Oh ya kredit luar biasa aku beri ke perancang kavernya. Jempolaaaaaaaannn abiiiissssssss!!!!! Beli buku ini ya... jangan sampe gak beli. Buktikan bahwa celotehan gak jelasku ini tidak selamanya benar :)
Sekian dulu deh, terima kasih. Maaf kalo ada kata-kata yang tidak berkenan.
Awalnya saya berharap bisa ngakak baca buku ini. Cover buku nya so promising! Judulnya juga kocak, cuma ngeliatin review di belakang buku, saya benar-benar berharap bisa ketawa enjoy baca buku ini. Tapi, yaah sayangnya..Buat saya, bukan humor yg saya tangkap, tp curcolnya penulis yg lebih banyak mengisi buku ini. Jokes nya juga kurang bisa bikin saya ketawa. Atau mungkin selera jokes saya yg murahan, jdnya dikasi jokes seriusan begini malah gak berhasil ngakak? (Jokes kok serius?) but afterall, bagus juga buat nambah info soal cara pandang teller ke customer-nya.. Tuh, teller bank juga manusia keleus.. :)
Penasaran banget sama buku ini udah sejak lama gara2 judulnya unik. Sampe akhirnya kebeli, kelar bacanya malah berhari-hari. Sebenernya kalo dibaca nggak lucu sih tapi lumayan asik ceritanya.
cuma di kover belakang ada tulisan 'ini buku curhatan seru dari mantan teller yang sempat kaya trus kembali jadi rakyat jelata' - masalahnya sampe akhir gue baca gak ada cerita si Ferhat ini nyeritain dia yang akhirnya keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan bank.
Bab Pak Cek Sudan sama Telepon dari Iren paling lumayan menurut gue~
Humornya lucu, tapi di awal-awal sempat bingung, 'ini penulis cowok apa cewek ya?'. Trus banyak juga tanda baca yang bikin bingung, kayak 'mungkin juga, seh, tapi...' kayaknya lebih bagus kalau 'mungkin juga seh, tapi...'