Di pulau kecil nan eksostis, Natuna, Freya memulai kehidupan baru. Di sana takdir mempertemukannya dengan Alvin dan Julian. Perasaaan suka hingga perasaan jatuh cinta pun tak dapat terelakkan. Di saat bunga-bunga cinta baru mekar di hati, tiba-tiba prahara itu datang. Mengembuskan angin duka bernama kehilangan. Sanggupkah ketiganya bertahan menghadapi rasa sakit, sesak, kecewa dan benci yang diakibatkan kehilangan? Akankah ada akhir sempurna yang mereka dapatkan ketika menemukan cinta yang menawarkan kebahagiaan?
Ini kisah mereka. Kisah yang penuh luka, kecewa, sakit, benci, dan juga cinta!
Akhirnya, saya kelar baca novel IFYiN ini. Dan ini adalah kali kedua saya membaca novel karya Kamal Agusta. Setelah sebelumnya, saya berhasil menuntaskan membaca After a long time. Dua novel yang berbeda, dengan cerita yang sangat berbeda pula. Saat membaca openingnya, saya sudah merasa, kalau novel ini sepertinya akan berbeda dengan After a long time. Ya, mungkin karena faktor tokoh yang diusung juga. Dewasa dan juga remaja. Tapi, di sisi lain, saya memang benar-benar merasakan perbedaan itu ketika sudah sampai beberapa halaman pada novel ini. Menurut saya, gaya bercerita Kamal pada novel IFYiN ini, seperti bukan Kamal yang menulis. Tapi itu hanya pendapat pribadi saya saja. Di novel IFYiN ini saya suka ceritanya, tapi kurang suka sama pendeskripsian perasaan pada tokohnya. Buat saya, cara Kamal menuangkan perasaan yang dialami oleh para tokoh, (maaf) agak sedikit berlebihan. Kalimatnya terlalu mendayu-dayu. Seperti saat tokoh Freya menangis, terkadang di sini digambarkan air mata Freya jatuh ke lantai, ada juga yang jatuh ke pasir. Hmm ... saya bacanya agak gimana, gitu :D . Kurang begitu suka. Dan lagi, saya juga masih bingung soal perasaan Alvin pada Freya. Apa dia benar-benar menyukai Freya? Sejak kapan? Soalnya, sejak awal baca cerita ini, dua kakak adik itu tidak pernah akur. Apalagi ternyata Alvin masih menyimpan perasaan sama Lia. Kesannya perasaan Alvin nggak konsisten jadinya. Eh, ada lagi. Ini kenapa dimasukin tokoh antagonis juga? Berasa kayak sinetron. Hehe ...
Udah. Cukup sampai di sini saja saya reviewnya, ya. Berharap ke depannya Kamal bisa menghasilkan karya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
2.5 bintang. :) Ceritanya sederhana dengan konflik khas remaja. Saya yakin, Kamal bisa menulis lebih baik dari ini. Tentu di novel-novel berikutnya.
Pendapat pribadi.
Karakter tokohnya kurang hidup. Saya paling tidak suka Alvin. Dan masih bingung kenapa Freya harus pindah sekolah ke Natuna hanya untuk bertemu sang ayah? Maaf, agak berlebihan ketika bagian-bagian mellow. Bab 1 dan 2, paling kentara. Sehingga tokohnya terlihat sangat rapuh. Berharap setting Natuna lebih dieksplore.
Itu saja, sih. :) hehe *saya sendiri juga harus belajar.
Ketika saya baca prolog dan bab 1. Saya berpikir, 'wah sepertinya bakalan suka sama ceritanya nih.' 'wah kasih bintang tiga nih.' Eh ternyata setelah baca terus ceritanya, semua pikiran itu hilang. Apalagi makin ke pertengahan. Konfliknya itu lhoo, err... Mungkin saya emang udah gak cocok sama bacaan yang seperti ini. Cara penulisan diksinya lumayan, novel ini cocok dibaca anak SMP dan SMA, dijamin mereka bakalan langsung suka.
Ps. Sampe sekarang pun saya masih bertanya-tanya bapaknya Freya sakit kerasnya kenapa? Gak dijelaskan atau disebutkan sama sekali nama penyakitnya. *mikir keras* eh.
Awalnya aku terbius sama cover. Walau yakin ini bukan tipe bacaanku, tapi apa salahnya coba²? Konfliknya lumayan, lah walau ada beberapa hal yang kurang jelas menurutku. Tapi.. mmm ending nya terlalu happy (menurut aku yg lebih suka sad ending, wkwk). semua selesai, semua happy. Kemunculan cewek yg Alvin suka menjelang ending itu yang paling bikin aku "what the...?" 😶
Tapi yaaa cocok lah buat bacaan remaja apalagi yg suka happy and sweet ending
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya memperoleh novel ini secara cuma-cuma dari penulisnya, Mas Agusta K, hadiah event giveaway desain poster buat novel ini. Much obliged, Agusta!
Sebenarnya novel ini sudah mendarat di rumah sekira bulan Oktober 2014. Namun, lantaran posisi saya yang saat itu sedang berada di kampung tempat kuliah, saya tahan rasa penasaran itu hingga awal Februari 2015. Kemarin saya pulang dan menemukan novel ini beserta dua novel lain yang dihadiahkan pada saya sudah terbuka segelnya. Ternyata, novel ini serta dua novel lainnya selesai digilir saudara-saudara saya yang kebetulan pulang ke rumah. Oh, poor they are.
Mas Agusta ini sudah minta saya buat kasih review dari dulu. Sementara saya cuma bisa bilang maaf dan sungkan karena dia harus nunggu. I am sorry for that.
Pertama lihat kaver, OKE! Saya suka desain dengan beberapa bagiannya yang timbul. Berikutnya, di halaman paling awal ada beberapa baris pesan yang ditulis tangan oleh penulis, buat saya tentunya, ditutup dengan tanda tangan di bawah. Nah, tanpa repot ketemu sang penulis pun saya bisa dapat tanda tangannya, hehee.
Novel ini bercerita tentang percintaan remaja (teen), kehilangan, dan penyesalan. Tokoh yang bermain, Freya, Julian, dan Alvin. Berbicara tentang karakter tokoh, buat saya hanya Alvin yang menonjol. Alvin menempati peran paling ideal. Sementara Freya belum kelihatan cantik, malah cengeng, dan agak bodoh. Dalam novel diceritakan banyak sekali adegan si Freya ini yang menangis. Padahal saya pikir Freya adalah cewek yang kuat. Dia juga plin-plan. Reaksinya gampang berubah-ubah. Ketika marah, terlihat sangat marah. Namun mudah sekali diredam oleh yang lain. Dari sini saya menyimpulkan bahwa Freya seperti gadis yang mudah sekali ditipu, padahal dia dari Jakarta (selama ini saya pikir cewek Jakarta lebih jago soal ini. hehee). Kemudian si Julian, yang dari blurb novel ini saya temukan namanya sebagai Julian Prananta, alih-alih dibahas banyak tentang karakternya, Julian justru hanya tampak seperti pemeran figuran. Itu sebabnya saya kurang setuju jika dia diposisikan seolah dia tokoh utama. Tokoh utama selalu menang, bukan? Sementara di sini dia kelihatan selalu menang, dan dia pula yang paling tidak merasakan guncangan emosi. Kehidupannya, bagi saya, amat datar dan lurus-lurus saja.
Buku ini memang semestinya dibaca oleh remaja, bukan orang seumuran saya (tuwenti wan yers old). Sebab cerita-cerita di dalamnya bagi saya masih ringan. Kalau boleh sombong, saya beberapa kali benar dalam menebak alur cerita. Selain itu, saya menyayangkan Mas Agusta dalam menempatkan kata sambung 'dengan' yang semestinya ditempati oleh pada, terhadap, atau dari (untuk kalimat tertentu). Halaman 89 paragraf 5 ada yang belum selesai kalimatnya. Halaman 163, pada kalimat terakhir sepertinya janggal.
Saya mnemukan beberapa hal manis yang justru bukan keluar dari mulut Freya, tapi dari Alvin dan Lia. Saya akhirnya membuat kesimpulan sendiri bahwa tokoh utama di sini adalah si Alvin, karena ia berada pada peran yang sangat pas, sementara yang lain kadang kurang pas, atau kadang aneh (bagi saya pribadi).
Terakhir, saya cuma berharap Mas Agusta lebih memperbanyak narasi tentang pergolakan emosi dalam karya-karyanya yang lain, sehingga saya tahu bagaimana perasaan sang tokoh dengan lebih detail. Ambil contoh, novel teenlit punya Orizuka, itu bagus karena detail dengan pikiran-pikiran tokoh dan meminimalkan aktivitas.
That's all I can say. Thaks a bunch, Agusta for the book! Enggak sabar nunggu anaknya yang lain. :)
Nah, kata-kata di buku ini baru gampang banget untuk dibayangin. Mengalir banget dan gak ribet. Entah karena memang kata-katanya yang sederhana dan to the point, atau memang imajinasiku yang bagus, hehe. Whatever. What matters is I really enjoy and comfortable reading this book.
Tapi memang kalo dari segi jalan cerita dan tokoh-tokohnya gak ada yang begitu istimewa. There are thousands of stories like this. Anyhow, I just enjoy it. And I like Alvin eventually, dibanding sama karekter-karakter lainnya. Aku juga suka banget sama judulnya. So catchy. Nama Natuna itu bagus banget. Nama pulau atau gunung atau tempat yang disebut di sini juga bagus-bagus. Jadi pengen pergi ke sana juga.
Yang aku nggak suka adalah nama Freya dan Julian dan Lia. Kalo Freya,karena rasanya udah sering denger nama itu (gak juga deng). Kalo Julian, gak enak kalo lagi nyapa jadinya "Jul". Jelek. Kalo Lia, terlalu biasa. Kenapa gak dipanggil Amel aja. Kan nama aslinya Amelia. Apa penulis takut mengingatkan pembaca pada Amel Carla? Hihihi, jadi melantur ke mana-mana, nih.