Aku ragu-ragu untuk mereview buku ini atau tidak, karena nanti bawaannya akan curhat.
Tapi akhirnya kuputuskan untuk menulis, setelah kejadian tadi sore.
Baiklah review ini akan kuawali dengan cerita, bahkan mungkin hampir seisi review ini adalah cerita.
Saat mengepak barang-barangku di tas menjelang jam pulang kantor sore ini, aku mengambil buku ini lalu mempromosikan pada ibu-ibu yang duduk di meja depanku. Ini bukanlah ibu yang sama dengan ibu yang pernah berkata sinis dulu padaku.
"Bu, buku ini bagus lho," ujarku, "tentang kisah korupsi di Maroko yang mirip banget dengan di Indonesia."
Si ibu kaget melihat judul bukunya: KORUPSI. Tidak dibukanya, hanya dilihat sampulnya, depan-belakang. Aku berlanjut berucap, " Yang menulis seorang Maroko yang terinspirasi untuk menulis kisah korupsi yang terjadi di negaranya, setelah dia membaca buku dengan tema serupa karangan Pramudya Ananta Toer. Keren kan PAT."
Bapak-bapak di seberang mejaku langsung berkomentar, "PAT itu kan pengarang komunis."
"Iya itu, tapi ya dasarnya sastrawan, karena karyanya yg komunis itu dia dipenjarakan, tapi masih menulis buku di penjara juga," sahut Bapak lainnya.
Degggg. hatiku langsung berdesir. Wah-wah, ini diceritain tentang buku korupsi, malah membahas pengarang Indonesia, sekaligus menghakimi kalau dia itu komunis. Memang mereka kenal sama PAT apa ? Trus apa mereka pernah membaca karya-karyanya ? Tapi itu pikirku dalam hati, tak usahlah aku bahas isu ini di depan mereka, toh ini pengalihan isu.
"Jadi, inti ceritanya, di novel ini tokoh ini mengambil gratifikasi..bla..bla..bla..lalu dijadikan kambing hitam bla..bla..bla.. Mirip banget dengan kejadian-kejadian di Indonesia," ujarku serya mengingat beberapa curhat dari teman atau kenalan yang pernah menjadi PNS di "orde lama."
"Nah, ternyata seorang istri itu bisa membuat suaminya korupsi ya, kayak di buku ini," lanjutku.
"Iya, betul itu, sebagian besar seperti itu," sahut sang ibu dengan lemah lembut. Si ibu ini memang terkenal lemah lembut dan santun.
"Tokohnya kasihan banget deh Bu, udah pengin menikahi seorang yang sangat dia kagumi dengan gratifikasi yang dia ambil, eh ternyata wanita itu mencintai kejujurannya, bukan kekayaannya. Trus dia jatuh pula di kantornya, jadi sudah jatuh tertimpa tangga," lanjutku.
Obrolan terhenti di situ karena jam pulang kantor, semua sibuk mengemasi barang-barangnya dan pulang.
Itu semua kisah nyata.
Ini pemahamanku ya, kalau ada seorang yang pernah menerima gratifikasi, pasti malas untuk membicarakan gratifikasi.
Kalau ada seorang yang pernah korupsi, pasti tak mau ikut dituding korupsi, paling-paling ikut menuding yang korupsinya jauh lebih besar nilai nominalnya.
Kalau ada yang pernah menerima penghasilan fiktif (dari apa yang sesungguhnya tidak dia kerjakan), pasti akan melonjak protes kala penghasilannya itu berkurang dengan alasan pelaksanaan sesuai ketentuan atau dibilang ikut menerima bagian dari korupsi.
Apalagi tentang suap, tambah merasa bersalah kali ya, kecuali kalau sudah nggak punya hati.
Di duniaku, tak mudah berdiri mempertahankan suatu prinsip.
Ada yang menatap dengan sinis atau menganggap remeh dengan kata-kata seperti ini:
"Jangan sok suci nggak mau terima lembur fiktif. Kamu sekarang mungkin nggak butuh duit, tapi tunggu nanti kalo udah punya anak dan kebutuhan macam2, paling2 ya sama kayak kami2 ini atau malah lebih parah."
Ada juga yang 'menasehati' dengan berbagai macam alasan agar aku ikut menerima sesuatu yang seharusnya tidak kuterima dengan berbagai analogi yang nggak nyambung.
Ada yang merasa kalau mengambil penghasilan fiktif itu tidak masalah karena sudah dianggarkan; ataupun mencari-cari kegiatan agar bisa dijadikan alasan untuk lembur dan mendapatkan imbalan uangnya.
Aku bersyukur saat awal menjadi abdi negara ditempatkan di sebuah kantor yang pemimpinnya jujur dan mengajari kami yang muda-muda untuk nggak ikut-ikutan 'yang senior' serta mempertahankan integritas, keteladanan hidup sederhana pun ia berikan.
Saat kulihat lembaran-lembaran daftar hadir lembur fiktif di sebuah kantor 6 tahun silam, aku bertanya pada senior yang dapat kupercaya dan mendapatkan suatu pelajaran yang sangat berharga. Aku bisa menolak lembur fiktif, dengan menyatakan seperti itu dari mula, mesti konsisten dan tidak berubah-ubah.
Bukan tanpa godaan. Kadang ada yang muncul dalam bentuk seperti ini. Aku membantu atasanku untuk mengajar atau mengisi acara di instansi lain. Saat aku diberikan amplop honor, aku bisa menolak, karena aku tidak masuk surat tugas, hanya membantu. Sesungguhnya yang tidak masuk surat tugas, berarti tidak dianggarkan untuk menerima honor. Aku rela, karena kapasitasku adalah membantu atasanku.
Pernah sekali aku salah menerima honor tanpa bertanya. Ternyata aku tidak mendapatkan surat tugas. Malamnya aku telepon panitia, dan esoknya pagi-pagi sekali aku kembalikan honor itu ke panitia, dengan penjelasan seperti tersebut di atas, serta meminta selembar kuitansi yang telah kutandatangani, yang ternyata "KOSONG!!"
Bayangkan, kuitansi yang kosong kok bisa kutandatangani begitu saja ? Kalau nanti diisinya dengan pembelian alat tulis kantor dll demi cairnya dana, berarti aku ikut menjadi sarana korupsi dong ?
Huh, hampir saja. Dan kuitansi kosong itu masih kusimpan sampai sekarang sebagai bukti, kalau-kalau ada yang mempermasalahkan penolakanku di kemudian hari.
Beberapa bulan berselang aku malah mendapat kabar dari panitia acara tersebut yang menghubungiku untuk meminta bahan yang diajarkan waktu itu, karena filenya hilang. Konon Bapak Ketua Panitia yang dulu menerima pengembalian honor dariku itu sedang di rumah sakit karena kecelakaan. Wah, kaget! Tak tahu lah ya, tak ada hubungannya mungkin, tapi sedih mendengarnya.
Nah, cukup sampai di sini cerita (curhatnya).
Aku menyukai novel ini karena kisahnya yang amat sangat mungkin terjadi, alias mendekati realita, bahkan dengan fenomena di Indonesia, bukan tak mungkin itu terjadi di banyak orang dengan 1-2 penyesuaian.
Aku suka dengan pergolakan isi hati Murad saat dia mau menerima atau menolak segepok uang dalam amplop, serta bagaimana rasa bersalah itu membelenggunya.
Mengapa hanya 3 bintang ? Karena endingnya kurang menggigit menurutku, terlalu tergesa-gesa untuk diakhiri. Mungkin juga karena aku sebenarnya lebih ingin endingnya itu Murad kembali ke jalan yang benar dan perjuangannya kembali di jalan itu.
Yang jelas novel ini menjadi semacam pengingat bagiku. Ingat Murad, ingat pergumulan batinnya, jangan berani coba-coba. Jangan mendasarkan prinsip itu pada sebuah idealisme atau karena ingin merebut hati seseorang, namun harus dengan dasar yang lebih kuat, apalagi kalau dasarnya bukan karena cinta pada Tuhan ? Kiranya Tuhan menolong saya.