Eeuwige liefde is liefde die niet meer terugkomt.
Cinta yang abadi adalah yang tak kembali.
Pertama membaca sinopsis novel ini, saya benar-benar tertarik. Tokoh lelakinya ini dambaan saya banget. Hahaha. Dan waktu mendengarkan soundtrack Elipsis yang dibuatkan sama Bang Ari Keling, terus mulai membuka halaman demi halaman Elipsis, saya malah merasa kalau Atran ini seperti saya. :(
Lelaki yang senang bicara dengan pohon, batu, angin, awan, hujan. Lelaki yang senang menyepi dan menangkap isyarat alam. Saya kadang merasa, saya adalah orang yang menyerupai Atran, hanya bedanya, saya perempuan. Hahaha. ---maaf mbak Annes, ini efek galau, jadi curhat---
Saya paling suka novel-novel dengan penokohan seperti ini, sebab tokoh-tokoh yang digambarkan itu benar ada tetapi bukan tokoh dengan sifat yang pasaran. Bukan tokoh-tokoh ala kota metropolitan yang monoton kalau dideskripsikan. Tokoh Atran sudah demikian mencuri hati. Aaaaaa~~~
Rentang waktu yang diceritakan di sini lebih terpaku pada kehidupan Atran dan Kalea semasa remaja. Bagaimana mereka bertemu, dan mulai bercengkrama. Pertemuan yang diolah sama Mbak Annesya tidak klise, dan begitu khas remaja. Kalau ingat pertemuan mereka, malah ingat beberapa drama Korea dan anime yang pernah ada adegan semacam itu. Mungkin memang terinspirasi dari sana?
Genre paranormal romance-nya juga terasa, meski nggak begitu kentara. Tapi, saya senang bacanya, meskipun di sisi lain saya sedih. Apalagi pas bagian akhir novel. :( *ups nggak mau lanjut komentar takutnya spoiler* Hahaha.
Cover yang dibuat sama POP KPG juga keren, benar-benar menggambarkan betapa gelapnya hidup si Atran. Hiks, sabar ya Tran. *eh
Intinya, packaging sampai isi novel ini pas-pas-pas-pas kena hatikuuuu. Haha!