The six principles of marketing to the middle class muslim #1. The principle of customer (Customers become more religious begin to search for spiritual value). #2. The principle of competition (Competition is about building brand persona). #3. The principle of positioning (Be an indusive brand, be an universal icon). #4. The principle of differentiation (Build authenticity through commitment and passion). #5. The principle of value (offer unique universal value, balance your product and spiritual benefits). #6. The principle of engagement (Connect your customer to each other, build a community of messengers). (
Di awal buku ini, hasil penelitian yang dilakukan Gallup menarik perhatian saya. Hasil risetnya menunjukkan, pada umumnya ketika suatu negara mengalami peningkatan pendapatan per kapita, maka masyarakat di dalamnya akan semakin sekuler. Namun, Indonesia merupakan paradox. Mengapa? Penelitiannya menunjukkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia malah diikuti dengan peningkatan sisi religiusnya. Konsumen muslim Indonesia menarik, karena; semakin makmur, semakin knowledgeable, semakin technology-savvy, mereka justru semakin religius.
Secara umum, buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama mengisi hampir 80% buku. Bagian ini menggambarkan trend perubahan dan perilaku konsumen muslim di Indonesia, seperti; revolusi hijab, umrah setahun sekali, awareness terhadap makanan dan kosmetik halal, lembaga keuangan syariah, budaya islam pop melalui film dan sinetron islami, hotel syariah, islamic parenting yang mempengaruhi pola pendidikan anak dan ketersediaan sekolah islami, zakat-sedekah, dan mesjid-mushola yang semakin modern tampilannya.
Adapun bagian kedua menjelaskan strategi dan taktik pemasaran bagi kaum menengah muslim. Di awal, penulis membagi empat sosok konsumen muslim melalui matriks 2x2. Sosok pertama, Apathist: "Emang Gue Pikirin?" Sosok ini digambarkan sebagai tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan sering kali tingkat kesejahteraan ekonomi yang masih rendah. Konsumen ini juga memiliki kepatuhan yang rendah dalam menjalankan nilai-nilai islam. Sosok kedua, Rationalist: "Gue Dapat Apa?" Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, open-minded dan wawasan global, tetapi memiliki tingkat kepatuhan pada nilai-nilai islam yang lebih rendah. Mereka sangat kritis dalam memilih produk, tapi cenderung mengesampingkan aspek-aspek ketaatan terhadap nilai-nilai islam dalam keputusan membeli produk.
Sosok ketiga, Conformist: "Pokoknya Harus Islam" Sosoknya digambarkan sebagai tipe konsumen yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai islam secara normatif. Cenderung kurang membuka diri terhadap nilai-nilai di luar Islam dan untuk mempermudah pengambilan keputusan, mereka akan memilih produk-produk yang berlabel islam atau di endorsed oleh otoritas islam atau tokoh islam panutan. Sosok terakhir, Universalist: "Islami itu Lebih Penting" Sosok konsumen muslim ini di satu sisi memiliki pengetahuan yang luas, pola pikir global, dan melek teknologi; namun di sisi lain secara teguh menjalankan nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan trend masyarakat menengah muslim di bagian pertama dan karakter 4 sosok muslim, penulis kemudian memberikan strategi untuk membangun personifikasi produk agar diterima masyarakat menengah muslim secara lebih luas. Buku yang merupakan hasil penelitian dari Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS), lembaga think tank yang didirikan oleh Inventure bersama Majalah SWA ini menurut saya sangat menarik untuk dibaca. Penjelasannya runtut, jelas serta disertai kasus-kasus riil untuk tiap babnya. Strategi yang diajukan oleh penulis pun berdasarkan keberhasilan beberapa produk mengisi ceruk pasar kaum menengah muslim (Wardah dan produk Dian Pelangi).
Jawabannya cukup menarik, karena ternyata konsumen Muslim di Indonesia menempati posisi 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Angka yang berhasil didapat oleh Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS) ini menggambarkan bagaimana pasar Muslim di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat berpotensi besar untuk dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut. Maka dari itu, Yuswohady, yang juga pendiri dari CMCS beserta tim riset, membuat buku berjudul "Marketing to the Middle Class Muslim" ini.
Penjelasan mengenai segmentasi kelas menengah Muslimnya cukup menarik, Yuswohady dan tim menjelaskan mengenai perubahan dan juga pola konsumsi dan preferensi dari golongan kelas menengah Muslim dengan bahasa yang cukup simpel dan mudah dimengerti. Yuswohady dan tim membagi preferensi tingkat golongan menengah Muslim menjadi empat bagian yaitu:
- Apathist, mereka yang tidak begitu peduli dengan nilai-nilai keislaman (spiritual benefit) sekaligus juga tidak begitu mempedulikan functional & emotional benefit. Kebanyakan lebih berorientasi kepada harga.
- Rationalist, golongan ini mempertimbangkan aspek functional & emotional benefit dari suatu produk, tetapi tidak begitu peduli dengan spiritual benefit yang ada.
- Conformist, golongan ini menggambarkan kalangan umat Muslim yang sifatnya tradisionalis dan cenderung tertutup. Dalam artian, mereka sangat peduli dengan nilai-nilai keislaman/spiritual benefit yang ada dari suatu produk/jasa, tetapi tidak begitu peduli dengan aspek functional & emotional yang ada.
- Universalist, golongan ini merupakan golongan kelas menengah Muslim yang terbuka dan toleran, dalam artian mereka peduli dengan aspek functional & emotional dari suatu produk/jasa, akan tetapi mereka juga peduli dengan spiritual benefit yang ada.
Tidak cuma itu, tetapi buku ini (kebanyakan) juga membahas mengenai fenomena-fenomena industri bisnis yang menggunakan labelling Islam atau Syariah sebagai faktor penarik, seperti penggunaan kosmetik halal, revolusi hijab, label halal, hotel syariah, umroh, pendidikan anak, hingga bagaimana labelling Islam dapat sangat menarik perhatian para konsumen kelas menengah bila diaplikasikan dengan unsur-unsur budaya seperti seni film hingga literatur.
Dari buku ini kita juga dapat mempelajari bagaimana kecenderungan perkembangan kelas menengah di Indonesia cukup unik apabila dibandingkan dengan perkembangan di negara lainnya. Apabila perkembangan kelas menengah di beberapa negara berimbang terbalik dengan tingkat kepercayaan terhadap Tuhan, maka di Indonesia, trend yang berlaku adalah semakin kaya dan sejahtera seseorang, justru tingkat kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan pun semakin kuat. Inilah yang menyebabkan produk-produk yang berlabel Islam menjadi tumbuh dan berkembang dengan pesat.
Buku ini menyajikan pemaparan mengenai suatu fenomena menarik dari umat muslim di Indonesia (yang mencapai kira-kira 87% dari populasi negeri). Seiring meningkatnya perekonomian, kesejahteraan, penetrasi internet dan teknologi, serta pengetahuan keislaman yang kian marak tersebar, hal-hal tersebut ternyata mempengaruhi terbentuknya karakter yang khas dari konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Karakter khas tersebut dikelompokkan dan dalam empat kategorisasi yang masing-masing memiliki nilai, pandangan, preferensi, harapan, maupun kekhawatiran tertentu terhadap ragam produk dengan functional benefit, emotional benefit, serta spiritual benefit-nya. Kategorisasi konsumen kelas menengah muslim tadi antara lain disebut dengan apatis, rasionalis, komformis, dan universalis. Bagaimana cara mendekati masing-masing tipe middle class muslim consumer tadi kemudian dibahas melalui pemaparan dan contoh-contoh yang telah dilakukan di dunia bisnis.
Alasan? Oke isi menurut saya sangat bagus, bisa dibilang pengamatan terhadap kebiasaan hidup kelas menengah muslim Indonesia mulai dari gaya hijab hingga produk yang digunakan cukup akurat dalam ukuran makro dan mudah dipahami untuk semua kalangan...
Hanya saja yang membuat nilai buku ini berkurang ialah kurangnya "originalitas" atau ide baru dari buku ini... Judulnya yang "marketing to the... " mengisyaratkan buku ini berisikan prinsip2 marketing. Padahal prinsip marketing hanya dibahas di sebagian kecil bagian buku dan dengan kalimat yang diulang-ulang dan tidak mendalam..
So worth to buy bagi yang ingin memahami perilaku masyarakat Indonesia secara umum... Tapi untuk pelaku usaha yang serius ingin meriset metode marketingnya, banyak buku marketing yang jauh lebih jelas dan mendalam...
Bertumbuhnya ekonomi meningkatkan jumlah kelas menengah (middle class). Indonesia dengan mayoritas berpenduduk muslim menunjukkan sebuah anomalinya.Makin makmur penduduknya ternyata tingkat religiusnya makin tinggi.Golongan ini melihat suatu produk tdk hanya sekadar dari fungsi dan emosional tapi juga nilai spiritual. Buku ini mengungkap brand2 yang sukses menggarap pasar muslim
+Bukunya dikemas dengan bahasa yang simpel dan mudah dipahami. Dalam pemaparannya kami dapat mengetahui ternyata terdapat bayak sekali pasar muslim yang potensial. Kompor Gas!
Framework yang diberikan menarik banget! Sayang contoh kasus-kasus yang dipaparkan sangat datar dan monoton. Analisa kasusnya juga rasanya kurang tajam.