Kotak musik tua itu terbuka. Berbarengan dengan boneka kecil yang keluar, terdengar sebuah lagu mengalun. Iramanya lirih, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik. Boneka gadis kecil dengan muka sedikit rusak karena terbakar itu menggerakkan kepalanya, lalu tiba-tiba matanya memelotot ke arah Manda.
Manda terbangun dalam keadaan jantung berdegup kencang dan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Dilihatnya sekeliling kamar; pecahan kaca dari pigura foto berserakan dengan dinding kamar penuh…, darah!
Peristiwa itu awal dari teror di hidup Manda… dan hidupnya akan berubah selamanya.
Dapet buku ini karena ikut blogtour, juga dengan tiga buku seri takut lainnya.
Cerita diawali dengan Hannah yang lari karena dikejar sesuatu yang kemudian disusul kebakaran rumah sehingga menewaskan dua teman kembarnya beserta keluarga (1994). kemudian, dilanjutkan di tahun 2013 yaitu mengisahkan cucunya Hannah. Adalah Manda yang memperoleh kotak musik peninggalan neneknya yang meninggal. Awalnya Manda merasa bahagia, akan tetapi semenjak saat itu pula kejadian-kejadian aneh mulai terjadi. Kotak musik ini ternyata berhubungan dengan kejadian 73 tahun yang lalu, sekaligus sebagai tanda berlanjutnya kutukan. sebagai cucu dari Hannah,dan orang yang telah membuka kotak musik, Manda pun dihantui oleh si kembar Arina dan Airin yang menuntut balas pada Hannah.
Aku cukup suka dengan novel yang tipis ini, yaitu hanya berisi 142 halaman. dengan halaman yang sedikit itulah alur pada novel ini berjalan dengan cukup cepat. sehingga sudah sepatutnya diimbangi dengan percakapan-percakapan yang renyah dan sangat mengalir. novel ini juga menjelaskan tentang nasib orang yang mempunyai darah campuran indonesia-belanda pada masa pra-kemerdakaan, cukup untuk menambah informasi pada zaman itu. cukup menarik.
Yang menjadi nilai kurang terletak pada deskripsi setting dan suasana yang kurang mencekam. padahal sebagai novel horror, sudah sepatutnya sangat penting dalam mengedepankan suasana yang benar-benar mengerikan sehingga mampu menciptakan rasa takut pada pembaca. menurutku novel ini tidak seram, aku tidak merasa takut saat membacanya. malahan, aku merasa sedih saat ibu Manda menangisi Manda yang tengah sekarat. kalo bicara typo, kalo tidak salah aku hanya menemukan satu typo di novel ini. selain itu juga adanya ketidak-konsistenan pemanggilan nama orang. dalam novel ini aku menemukan Manda menyebut ibu dengan sebutan 'Ma', padahal yang lebih banyak disebut adalah 'Ibu'.
Novel ini sangat cocok dibaca secara ringan di waktu senggang, karena mampu dibaca dengan sekali duduk. Bisikan Kotak Musik adalah novel ketiga yang sudah aku baca dari seri Takut, setelah yang pertama Apartemen berhantu, dan yang kedua Kamera Pengisap Jiwa. Dari ketiga novel itu, aku lebih lebih suka dengan Apartemen Berhantu.
Judul: Bisikan Kotak Musik Penulis: A.H. Igama Penerbit: Bukuné Halaman: 144 halaman Terbitan: Agustus 2014
KREEEKKK!
Kotak musik tua itu terbuka. Berbarengan dengan boneka kecil yang keluar, terdengar sebuah lagu mengalun. Iramanya lirih, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik. Boneka gadis kecil dengan muka sedikit rusak karena terbakar itu menggerakkan kepalanya, lalu tiba-tiba matanya memelotot ke arah Manda.
Manda terbangun dalam keadaan jantung berdegup kencang dan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Dilihatnya sekeliling kamar; pecahan kaca dari pigura foto berserakan dengan dinding kamar penuh…, darah!
Peristiwa itu awal dari teror di hidup Manda… dan hidupnya akan berubah selamanya.
Review
It has its moments and missed opportunities. Full review to come.
Novel horror ini nggak serem2 amat, jauh dari ekspektasi. Harusnya sebagai novel horror, narasinya bisa lebih greget lagi, tapi ini terlalu ringan kayak novel teenlit.
Yang agak bingung...
pertama : Manda masuk rumah yang ada di depan rumahnya. Terus kepergok tukang kebun dan Manda kaget diceritain 5 tahun lalu ada sekeluarga jadi korban kebakaran hebat di rumah itu. Padahal harusnya Manda tahu, soalnya Manda tinggal persis di depan rumah yang kebakaran itu udah dari kecil.
Kedua : Gilang, adiknya, secara tiba-tiba ternyata punya kemampuan bisa menembus ke mimpi orang lain dan mencoba menyelamatkan Manda. Tanpa sebelumnya disinggung soal ini. Kesannya seperti buru-buru pengen cerita ini cepat selesai.
Biasanya suka sama novel horror dari Bukune, tapi yang ini bener-bener di bawah ekspektasi. Sori.