What do you think?


Nocturnal Journal
Nocturno
Butiran gula larut dalam kopi hitam
Taburan bintang larut dalam kelam malam
Pahit manis kenangan teraduk
Kuhirup semalam suntuk
…
Seperti “Puisi”, salah satu judul yang ia tulis dalam buku ini, Sam Haidy seolah sedang membuat kredo kepenyairan buat dirinya sendiri. Sam menulis puisi dengan pilihan citraan dan metafora yang sederhana. Alih-alih membuat puisi-puisinya lemah, kesederhanaan itu cenderung membuat puisi-puisi dalam buku ini berhasil dan kuat, “merasa dan mengiris”.
—Irwan Bajang, Penyair, Penulis Kepulangan Kelima.
Butiran gula larut dalam kopi hitam
Taburan bintang larut dalam kelam malam
Pahit manis kenangan teraduk
Kuhirup semalam suntuk
…
Seperti “Puisi”, salah satu judul yang ia tulis dalam buku ini, Sam Haidy seolah sedang membuat kredo kepenyairan buat dirinya sendiri. Sam menulis puisi dengan pilihan citraan dan metafora yang sederhana. Alih-alih membuat puisi-puisinya lemah, kesederhanaan itu cenderung membuat puisi-puisi dalam buku ini berhasil dan kuat, “merasa dan mengiris”.
—Irwan Bajang, Penyair, Penulis Kepulangan Kelima.
- GenresPoetry
58 pages, Paperback
First published September 1, 2014
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 1 of 1 review
January 15, 2015
Pendek, sederhana, dan manis.
Ini bait favorit saya:
O, Tsunami
Airmu bermuara di mata kami!
(Indonesia Menangis, hal 40)
Terus menulis buku puisi lagi ya, Sam ^^
Ini bait favorit saya:
O, Tsunami
Airmu bermuara di mata kami!
(Indonesia Menangis, hal 40)
Terus menulis buku puisi lagi ya, Sam ^^
Displaying 1 - 1 of 1 review


