Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci. Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung, Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit. Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangainya pun kasar. Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu. Sesuatu yang diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.
Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah, mimpi buruk Alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.
Monster itu telah bangkit.
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.
Karena saya yang nulis, saya ga bakal kasih rating. Jadi, ijinkan saya untuk berterima kasih kepada semuanya yang sudah membeli, membaca, buku novel ini. Kalian luar biasa. Do not let anyone makes you think otherwise.
Too many random things happened. Enggak persis demikian sih. Agak susah ngejelasinnya. Tapi itu kesan akhirku terhadap buku ini.
Sebagai seorang lurker di forum Kastil Fantasi Goodreads, aku pernah tahu nama pengarang sebelumnya. Lalu sejauh yang aku pernah lihat dari karya-karyanya, beliau seorang penulis yang kapabel. Karena itu, sewaktu di tengah kesibukanku, aku melihat buku ini dipajang di rak salah satu minimarket saat aku sedang belanja, dan berhubung aku sedang ada duit lebih (dan perlu nuntasin tantangan membaca GR), aku merasakan dorongan yang kuat buat beli ini.
Aku membacanya di suatu akhir pekan pas aku lagi agak senggang.
Walau buku ini enggak mengecewakanku dan enggak benar-benar bisa kubilang 'jelek', ceritanya memang agak membingungkan dan membuat heran tentang beberapa hal.
Spora mengetengahkan seorang remaja bernama Alif sebagai tokoh utama. Ceritanya, dia seorang anak SMA yang pernah mengalami suatu insiden tertentu di masa lalu. Lalu singkatnya, pas suatu pagi dia tiba di sekolah, dia mendapati ada jenazah tanpa kepala terbujur kaku di tengah lapangan. Ceritanya pada dasarnya tentang bagaimana si Alif, yang pernah mengalami sesuatu di masa lalu ini, kemudian menghadapi konflik batin(?) yang kemudian berpengaruh terhadap pikiran dan persepsinya terhadap dunia.
Gampangnya, dia mulai mengalami serangkaian gejala yang sepertinya menunjukkan kalau dia akan menjadi gila.
Tapi the thing is, kenyataannya itu semua terjadi enggak cuma di dalam pikirannya dia.
Seperti yang judulnya indikasikan, Spora sebagai novel horor melibatkan suatu teror biologis. Tapi ceritanya enggak terlalu masuk ranah sains fiksi. Mungkin kenanya lebih ke tema psikologis kali ya? Dengan banyaknya delusi dan konflik pribadi yang Alif alami.
Tipikal untuk buku-buku terbitan Moka, Spora mempunyai semua elemen cerita yang bisa membuatnya menarik. Tapi separuh karena durasi dan separuh lagi karena masih kurang di 'penggodokan' naskah, ceritanya belum berakhir sebaik potensinya. Seperti yang sudah kubilang, ada sejumlah aspek penulisan yang janggal di cerita ini, walau kau tetap masih bisa menikmatinya kalau kau memilih untuk tak terlalu mempermasalahkannya.
Untuk hal-hal bagusnya dulu: alur ceritanya seriusan menarik, dan ada twist di bagian akhir yang lumayan kusuka. Aku bilang 'lumayan' karena pada saat yang sama, twist tersebut membuat ceritanya agak ngegantung atau terkesan kalau harusnya masih ada kelanjutannya. Kayak ini cuma bagian kecil dari ceritanya gitu. Tapi perkembangan ceritanya termasuk lumayan, dengan tensi yang secara perlahan beranjak naik.
Cuma itu dia. Ada sejumlah hal yang agak janggal pada penulisannya.
Di prolog, misalnya. Ada bagian di mana si guru yang menyuruh ketua ekskul KIR untuk menghitung ulang jumlah anggota rombongan. Tapi yang aneh adalah gimana adegan ini terjadi di dalam bis, di malam hari, pada saat bis sudah hampir (tapi belum) sampai ke tujuan. Jadi aku mengernyit dan mikir, adegan ini maksudnya apa?
Ada lumayan banyak unsur cerita yang bikin mengernyit seperti itu. Seperti keenggakonsistenan soal kelas sepuluh atau kelas satu SMA (aku bahkan sempat mikir yang kalau ada dua latar sekolah yang berbeda), atau soal isu sakitnya seorang kerabat yang kelihatannya cuma dibuat jadi sampingan. Nama kerabat bersangkutan disinggung. Tapi dirinya tak muncul dalam cerita. Aku jadi enggak bisa enggak mikir kerabat tersebut cocoknya menjadi tokoh utama dalam cerita sekuelnya.
Sebagian pemaparan enggak jelas ini kelihatannya memang disengaja. Seolah kita sebagai pembaca dituntut untuk menyusun sendiri kepingan-kepingan fakta ini. Seperti soal apa yang pernah terjadi di masa lalu Alif, atau hubungannya dengan sahabat dekatnya, Rina, yang di awal cerita tak diungkap secara blak-blakan. Jadi tahu-tahu mereka digambarkan memiliki hubungan akrab gitu, tapi enggak (langsung) disinggung keduanya dekat karena apa.
Tapi tetap jadinya ada sejumlah bagian cerita lainnya lagi yang disampaikan kayak gini dan berakhir agak aneh. Salah satu yang mencolok adalah saat Rina memaparkan penemuan pentingnya terhadap Alif, dan Alif kemudian tiba-tiba menyinggung soal ucapan 'monster' yang dilihatnya dalam mimpi.
Kalau dibayangin, ucapan Alif itu menurutku normalnya akan terdengar sebagai reaksi yang benar-benar janggal. Seperti seharusnya membuat Rina bertanya-tanya apa Alif benar-benar menyimak penjelasannya atau tidak. Tapi kemudian Rina malah mencuekkan hal itu dengan melanjutkan penjelasannya ke Alif soal temuannya.
Aku sempat mengira pengarang memaksudkan agar Rina hanya mendengar reaksi ini secara sepintas. Jadi kayak, itu hal penting, tapi enggak disadarinya. Tapi nyatanya, Rina malah menyinggung soal 'monster' ini dalam percakapannya dengan Alif beberapa adegan kemudian. Jadi dia mendengarnya, dan menyadarinya, dan itu malah membuat segalanya jadi aneh.
Dengan kata lain, yea, karakterisasinya bermasalah.
Si pengarang masih kurang bisa menyelami pribadi para tokohnya. Ini berujung pada sejumlah perkembangan situasi yang terkesan tak lazim serta pemilihan kata-kata dialog yang agak canggung. Lalu ini sayang banget karena sisa hal yang dipunyai cerita ini memang terbilang menarik, dan kekurangan tersebut benar-benar mengacaukan suspension of disbelief karena pikiran pembaca jadi terlanjur disela dengan "Hah?"
Kalau diumpamakan dengan film, Spora seperti jenis B movie yang memiliki sejumlah adegan menarik, tapi berakhir sebagai film yang enggak jelas ingin penontonnya merasakan apa, dengan cerita yang kurang jelas pemaparannya, yang ujung-ujungnya membuatnya kurang begitu mengesankan. Tapi seperti B movie bagus manapun, ada banyak hal menarik di balik segala keterbatasannya, yang andai bisa sedikit lebih baik aja, bisa membuat kita entah gimana agak suka.
Kes kematian di sekolah Alif semakin meruncing, sejak pertemuan mayat Pak Sujarwo dengan kepala pecah dan hancur. Ironinya, setiap penemuan mayat, orangnya adalah sama - Alif. Ini menyebabakan polis mengesyakinya. Namuan, apakah sebenarnya yang berlaku?
Sebuah kisah trhiller kes pembunuhan yang disebabkan oleh spesis jamur/kulat yang menyerang manusia (macam pernah tengok filem tema sebegini, tapi lupa tajuk). Yang misterinya, hanyua Alif seakan imun dengan spora yang disebarkan jamur tersebut, walaupun dia acapkali berhampiran dengan mayat yang mengandungi spora itu.
Tidak terlalu berbelit (mungkin sedikit sukar memahami beberapa perkataan Indonesia dalam ni) tapi masih boleh di hadam. Saya kira, naskhah ini agak ringkas dan santai, tidak bermain plot yang berjela, cuma sedikit misteri denganasal usul jamur. Cerita diselang-selikan dengan kisah sang kurcaci, sedikit sebanyak memberi kelainan dalam naskhah ini.
Walaupun bagi saya tidak begitu thriller, tapi adalah sebuah kisah yang agar segar kerana jarang diketengahkan oleh penulis Malaysia. Ye lah, kalau thriller Malaysia ni semua pakat nak bunuh orang, potong sana sini, seksa orang tu dah cukup thriller.
Kalau nama kita muncul di halaman "Ucapan Terima Kasih", sudah seyogyanya kita mendukung dengan membeli dan membaca bukunya, kan? xD
Nah, Spora adalah karya yang penulisannya rapi dan "benar", seperti yang saya tahu dan percayai memang pasti mampu dilakukan oleh penulisnya, Ahmad Alkadri, yang sering berpartisipasi dalam lomba menulis cerbul di grup Kastil Fantasi. #shamelesspromotion ^^
Mengenai bagus atau tidak isinya, saya rasa itu masalah selera pembaca. Saya sendiri sih sebenarnya bukan fans berat horor, jadi gak terlalu ingin menilai. >.< Tapiii, cover-nya bagus, btw, dan rasanya semua orang bisa setuju mengenai hal ini! :P
Yang jelas, penulisan horor dengan pendekatan sumber teror yang berbeda ini pastinya memperkaya dunia penerbitan horor lokal, dan ini perlu diapresiasi. Kalaupun ada yang saya sayangkan dari novel ini adalah mengenai scope ceritanya yang lumayan sempit (hanya berkisar di satu sekolah dan wilayah sekitarnya), sehingga pembaca mungkin hanya akan mengganggap novel ini sebagai bacaan ringan dan karya sepintas lalu (bukan berarti dianggap begitu lalu buruk, btw).
Well, semoga ke depannya ada karya-karya lain dari Ahmad yang bisa kita nikmati dan dengan kualitas yang semakin berkembang, pastinya! Yosh! :D
Judul: Spora Penulis: Ahmad Alkadri Penerbit: Moka Media Halaman: 238 halaman Terbitan: Oktober 2014
Blurb
Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak itulah, mimpi buruk Alif dimulai. Satu per satu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.
Monster itu telah bangkit.
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.
Review
Saya sudah cukup lama menantikan novel ini. Yah, sejak penulisnya minta pembaca untuk vote satu dari 3 bakal kover buku ini. Waktu itu saya memilih kover yang ini karena memang sangat catchy. Untungnya banyak orang lain yang sependapat, karena akhirnya model inilah yang dicetak.
Saking nunggunya, saya sampai memutuskan untuk beli buku ini di Gramedia, ketimbang nunggu dia muncul di toko buku yang menawarkan diskon, tempat saya biasa beli buku :v.
Awalnya saya mengira ini novel tentang zombie outbreak. Soalnya di grup "Kastil Fantasi", di utas "Spora" ini, penulisnya memberi tautan tentang sejenis jamur yang bisa membuat semut menjadi zombie. Tapi, ternyata saya salah. Ini bukan novel tentang zombie, saudara-saudara.
Novel ini relatif lamban buat saya. Butuh 3/4 buku hingga saya bisa betul-betul merasa horor, serta terpacu adrenalinnya. Dari awal hingga ke poin itu lebih banyak bicara soal keseharian Alif, serta penemuan korban-korban awal.
Karakternya tidak ada yang betul-betul saya suka. Karakter utamanya, Alif, tampak dibuat agak berjarak dengan pembaca. Soal masa lalu Alif ini juga kurang digali. Hingga akhir novel, hubungan Alif dan ayahnya kurang tergali. Cuma sepintas-sepintas doang.
Mungkin cuma Rina yang agak dekat di hati yah.
Secara keseluruhan, novel ini kurang memenuhi harapan awal saya, yah. Penulisannya baik dan alurnya juga cukup rapi. Saya suka pake banget sama kover dan ilustrasi di dalamnya.
Hanya saja ceritanya kurang "ketat" untuk sebuah novel horor yang ditulis kurang dari 240 halaman. Tapi secara keseluruhan, novel Spora ini memberi warna tersendiri untuk bacaan horor di Indonesia. Well, setidaknya untuk novel horor Indonesia yang sudah saya baca.
Spora bercerita tentang teror di sebuah sekolah yang disebabkan oleh sebuah jamur jahat yang sengaja diimpor dari hutan tropis di Brazil. Kematian demi kematian dimulai begitu tim KIR sekolah pulang dari sebuah konferensi ilmiah di Brazil dan beberapa oknum membawa spora jamur dari negara itu ke Indonesia. Tanpa sengaja, seorang anak KIR menemukan spora jamur itu dan membukanya hingga tersebar dan menginfeksi seluruh sekolah.
Alif, seorang anggota OSIS sekolah yang selalu berangkat sekolah paling pagi menemukan sesosok mayat di lapangan basket dengan kondisi yang mengerikan, kepala pecah berkeping-keping. Kematian demi kematian mengikuti setelah itu, dan sialnya selalu Alif yang menemukan untuk pertama kalinya, hingga polisi sempat mencurigai Alif terlibat dalam rangkaian kematian mengerikan itu. Bagaimana nasib Alif dan seisi sekolah selanjutnya? Silakan baca sendiri novel dengan cover memukau ini.
Oke, sebelum saya mulai spoiler, sebaiknya saya mulai saya racauan tidak jelas yang dengan pongahnya saya juduli review ini. Saya tidak pernah punya gaya atau patokan tertentu untuk mengulas sebuah buku, tapi untuk novel ini saya ingin memecahnya menjadi beberapa bagian hehehe~
1. Sampul
Harus saya akui, satu dari sekian hal yang paling menarik dari novel ini adalah sampulnya. Dengan perpaduan warna favorit saya, ilustrasi ciamik, dan font judul yang pas sekali, sampul novel ini langsung menarik perhatian saya ketika pertama kali ditampilin bersama dua kandidat sampul spora yang lain. Saya kasih satu bintang khusus untuk sampulnya.
2. Ide
Ide cerita termasuk unik dan segar. Sejak SMP saya memang suka dengan mata pelajaran Biologi, sampai sekarang pun bidang yang saya tekuni masih tidak terlalu jauh dengan biologi, terutama biologi tumbuhan. Jadi, saya benar-benar mengacungi jempol untuk ide dasarnya. Saya suka. Sayangnya, ide ini kurang tergarap dengan bagus, juga tidak didukung oleh tokoh-tokoh yang pas.
Misalnya, mungkin si jamur akan lebih terekplorasi jika tokoh utama di novel ini bukan anak OSIS. Saya cenderung lebih suka jika tokoh utama 'Spora' adalah salah satu (atau beberapa) anak KIR yang akan menyelidiki tentang jamur ini lebih dalam (secara ilmiah) untuk membantu menyelesaikan masalah. Atau jika memang mau tetap anak OSIS, setidaknya libatkan anak KIR dalam penyelesaian masalah.
Selain itu, yang saya kurang suka adalah ide alih kendali total oleh si jamur. Setelah baca 'Spora', saya sempat googling untuk cari jamur jenis yang disebutkan dalam buku, jamur familia Cordyceps. Jamur ini hidup secara parasit (numpang hidup dan makan) pada tubuh inangnya, dan beberapa spesies jamur dari familia ini mampu membuat tubuh inangnya menjadi ‘zombie’. Tapi, dalam novel ini, manusia yang terinfeksi jamur sampai terambil alih semua sistem sarafnya sehingga jamur itu mampu berbicara dan berpikir seperti manusia. Bahkan mampu menjelaskan panjang lebar pada Alif tentang oknum-oknum yang terlibat dalam pengimporan diri sang jamur dari hutan di Brazil.
Saya (secara pribadi) lebih suka jika manusia yang terinfeksi hanya akan menjadi ‘zombie’ yang tidak semanusiawi dalam novel ini. Saya rasa hal itu akan terasa lebih horror sesuai ‘label’ novel ini.
3. Alur cerita
a. Alur cerita agak lambat. Saya sempat khawatir begitu membaca bab-bab awal selepas prolog, apalagi mengingat tebal novel ini yang kurang dari 250 halaman. Satu bagian awal (yang terdiri dari 5 bab) hanya menceritakan kejadian di sekolah dari Alif menemukan korban pertama sampai Alif pulang ke rumah. Kekhawatiran saya adalah, kalau ceritanya berjalan lambat seperti ini (dengan jumlah halaman yang sedikit) penyelesaian masalahnya akan disederhanakan. Dan, kekhawatiran saya terbukti. Alif lumayan mudah menemukan petunjuk demi petunjuk dalam menuntaskan masalahnya. Untungnya, penulis meramu penemuan-penemuan itu bukan dalam kebetulan-kebetulan yang mengada-ada. Meski sederhana, saya tetap menikmatinya. satu lagi, karena kelambanan ceritanya, banyak pertanyaan yang tak terjawab tuntas. Misalnya tentang ayah Alif, tentang para oknum yang sampai akhir buku masih seperti misteri, dan motivasi para pelakunya masih tidak jelas sampai lembar terakhir.
b. Prolognya agak kepanjangan. Ada beberapa hal tidak penting yang seharusnya bisa dipadatkan dalam prolog, sehingga halaman-halaman yang dipakai bisa dimaksimalkan dalam ‘isi’ novelnya.
c. Epilognya, mengejutkan dalam artian ‘lho kok dia’ bukan ‘wow ternyata dia’. Saya akan terkejut versi dua jika si tokoh dalam epilog terlibat cukup sering dalam cerita, nyatanya dia cuma muncul sekilas-sekilas, bukan dalam bagian-bagian penting pula. Jadi, saat penulis menunjukkan bahwa dialah dalang semuanya, saya cuma bisa terkejut versi satu.
4. Penulisan Rada kaku pada beberapa dialognya. Penulis seperti bingung mau pakai gaya buku-buku remaja Indonesia (yang pakai kamu dan nggak) atau seperti buku-buku terjemahan (yang pakai kau dan tak). Kebingungan ini terlihat pada dialog antara Alif dan Rina yang tadinya pakai 'kau' tiba-tiba berubah jadi 'kamu' tanpa penjelasan kenapa harus berubah. Padahal Alif dan Rina adalah teman akrab. Harusnya cara ngomong mereka tidak sebaku itu, kan? Selain masalah 'kamu' dan 'kau', ada juga ketidakkonsistenan yang lain, seperti panggilan Mama yang tiba-tiba berubah Bu, panggilan Alif yang tiba-tiba berubah jadi Dek. Juga ada beberapa typo dan kalimat tak lengkap, tapi itu tidak terlalu masalah bagi saya.
5. Lain-lain
Sifat Alif agak aneh, kadang bikin gatel pengen noyor saking anehnya, misalnya saat dia tiba-tiba menyalahkan diri sendiri di depan Rina hanya karena dia kaget dan tidak langsung menelepon polisi begitu menemukan korban pertama, padahal korban jelas-jelas sudah mati. Dia malah pakai ngomong: “Seandainya aku cepat-cepat menghubungi polisi, mungkin dia…” (Saya lupa kalimat pastinya, tapi intinya seperti itu).
Lain lagi saat Alif nekat meniti tangga darurat mengikuti bercak-bercak darah. Bukannya menghubungi polisi yang berkeliaran di lantai bawah, dia malah nekat pergi. Padahal, beberapa jam sebelumnya, dia sedang marah ke Rina karena dia menyampaikan kalau ayah Rina mulai curiga. Tidak mau dicurigai tapi nekat seperti itu *toyor Alif*.
Sekian ulasan dari saya, 2.5 bintang untuk ceritanya dan 1 bintang khusus untuk kavernya, jadi 3.5 bintang dari saya. Saya kasih 4 bintang di goodreads.com, karena goodread tidak terima yang setengah-setengah hehehe~
[NO SPOILER] Aku suka idenya. Kak Alkadri, please, I want more, I need more!! 😂😂
📖 Mystery, horror, science fiction 📖 Teen, setting kota Bogor, di SMA 📖 PoV 3 📖 Ada kaitan antara dongeng klasik dengan cerita kontemporer di masa ini, tapi bukan retelling 📖 Ada kaitan antara kematian janggal yang berantai, penyebab kematian, dan rentetan hal aneh
Aku menikmati ceritanya, beneran penasaran dengan konfliknya. Ini maunya apa? Itu apaaa? Apa hubungan ini dan itu? Kenapa judulnya Spora? Dan itu membuatku terus baca, baca, dan tanpa sadar selesai sekali duduk. Wah. Jarang-jarang loh aku baca buku sekali duduk.
Lalu, kenapa aku cuma kasih bintang 3? Dear Kak Alkadri, aku butuh lebih. Dan itu bukan basa-basi. Aku menemukan beberapa plot holes dan ide cemerlang yang kurang digali. Ibarat makanan, Spora itu kayak steak enak, tapi sayang kurang matang, kurang empuk (dan aku jadi laper)
Andai cerita ini bisa direvisi, ditambal sana-sini, di-lebih-matangkan, aku yakin ini bakal lebih seru. Cerita ini berpotensi, yaps, dan aku suka potensinya itu.
Horornya kurang bikin takut, misterinya lumayan. Bagian menuju ending itu berhasil bikin aku kaget (PLUS NGUMPAT 😂). Dan aku suka ide science fiction-nya walaupun ya, itu dia, kurang diolah.
Eh satu lagi. Aku suka sama cover dan ilustrasi di dalam novenya!
Di bagian prolog Spora, saya masih merasa nyaman membacanya. Tapi setelah memasuki bagian Alif, saya merasa cukup bingung dan mengernyit untuk memahami percakapan yang ada.
Mulai dari panggilan Rina ke Alif (atau sebaliknya), yang terkadang menggunakan “kamu” dan “kau” yang berubah-ubah. Lalu, penggunaan panggilan Mama dan Ibu/Ibunda. Menurutku itu agak aneh ^^v
Ada juga kalimat yang sedikit rancu menurut saya. Seperti “Wah, Mau Ada Apa di sekolah pagi-pagi begini, Dek? Ini hari Minggu lho.”
“Mau Ada Apa” ???
Lalu, ada pula hal ganjil dalam novel Spora ini. Yaitu pas bagian Alif ditugaskan untuk mengumpulkan kotak sumbangan yang sudah setahun tidak terpakai. Wah, yang satu sekolahan sama Alif kebal penyakit banget. Padahal disekolahku saja, kotak sumbangan begituan, pasti setiap minggu diedarkan ke kelas-kelas. Entah itu memang karena ada yang sakit atau untuk pengajian hari jumat.
Tapi, terlepas dari hal diatas. Aku salut dengan sang penulis. Pendeskripsian suasana ataupun tempatnya detail banget. Terlebih lagi dengan ide ceritanya, menarik !. Fenomena spora yang bisa membuat semut menjadi zombie itu sendiri, aku udah pernah nonton di TV sih. Sedikit menakutkan memang. Karena semut yang tak sengaja terkena spora tersebut , setelah mati pun tetap akan mengeluarkan spora itu kembali melalui tubuhnya.
Eh, hampir lupa. Koq aku ngerasa endingnya agak ngegantung yaa ? Kira-kira ada seri keduanya ?
Gw ngga terlalu sering ngebaca novel, cuma novel-novel tertentu yang biasanya emang lagi hype dan sebagian besar novel luar. Jadi mohon maaf review dan rating ke SPORA kurang objektif. Plus (versi gw): 1. Ide ceritanya seger! 2. cover super keren 3. drama antara alif-rina-fio somehow interesting!
Minus (versi gw): 1. dengan materi jamur spora yg unik, cerita yang disampaikan terlalu ringan. (gw selesai ngebaca dalam 3-4 jam), cara Alif ngebongkar kasus ini terlalu singkat dan mudah gitu kesannya. 2. errrrr sketch was made in order to help the reader imagining the story, wasn't it? compared to the glorious cover, the sketch inside doesn't help a lot. 3. kalo digambarkan pake kurva, ceritanya exponensial tapi landai gitu, jadi datar dan agak lama di awal, pas cerita udah sekitar 75%an baru seru banget dan tiba2 selesai deh. menyisakan banyak pertanyaan di otak pembaca yang tidak terlalu cerdas macem gw.....
anyway, ini pertama kalinya gw baca novel yang authornya gw kenal orangnya (juga dengan penggunaan nama2 yg familiar di dalamnya) so i'm kind of really excited and that 5 stars is obviously worth to give! keren lu dri!
Spora adalah novel keempat yang aku sunting. Dari mata Alkadri, mungkin spora adalah ide ketiga yang ia sampaikan kepadaku. Sebelumnya ada dua ide yang menurutku masih perlu dipertajam. Setelah naskah ini masuk, aku memberikannya Aku suka dengan idenya, sebuah spora jamur yang dibawa dari Brazil oleh rombongan KIR, kemudian menempel sejumlah orang, menguasai mereka seperti zombie. Ditambah lagi masa lalu Alif (tokoh utamanya) yang suram.
Buatku Spora menawarkan horor yang tidak biasa. Bukan hantu, melainkan monster. Dan dia bukan monster biasa, melainkan mimpi buruk yang lahir dari sifat manusia. Dipadu dengan dongeng kurcaci dari Irlandia tentang harta karun di ujung pelangi, aku berharap cerita ini dapat memperkaya bacaan horor Indonesia.
Bahwa hal yang paling mengerikan justru lahir dari hal yang tidak kita ketahui.
Yaa... ane dah baca sampe selesai. karna gk terlalu tebel, krg dr 4 jam-an udah selesai.
Yang pertama, ane beli krn cover dan judulnya menarik perhatian, dan akhirnya beli.
Kedua, jalan cerita cukup sedih. Alif melihat tman2nya mati, terutama si Fiona sm Rina tuh. Nyesekkk bgttt T^T. Tapi tetep bagus.
Ketiga, di novel ini juga ad ilustrasinya jg. Tp ad ilustrasi yg kyknya, agak salah. Di saat pak Kevin brbh jd monster, di hal. selanjutnya ad ilustrasi. Tp kurang sesuai dg gambaran penulis.
Terakhir, penulisannya gk terlalu ribet buat pembaca yg agak2 males sm ceritanya gak terlalu panjang. Itu nilai tbahan aja.
Saya pemaaf lho. Saya memaafkan kata-kata yang banyak terlintas. Saya memaafkan ilustrasi di dalamnya yang menurut saya merusak suasana. Saya memaafkan lubang-lubang dari diri tokoh utamanya. Tapi saya nggak bisa memaafkan penulis yang salah mengartikan bergeming menjadi tidak bergeming. Dyaar! Sekian.
Membaca sekilas judul dan blurb Spora, emang mau ga mau ngingetin sama game The Last of Us, mengingat "musuh"nya adalah jamur yang bisa menjadi parasit dalam tubuh manusia dan membunuhnya setelah fase inkubasi. Sayangnya, buku ini emang kerasa banget kalau debutnya Alkadri (yang gue kenal dari komunitas Blogger Buku Indonesia). Bagi gue, idenya walau tidak baru tapi sebenarnya menarik, walau gue kurang paham kenapa settingnya harus di SMA. Mungkin emang bukunya ditargetkan untuk pembaca remaja? Kalau iya, mungkin kalau yang ga masalahan teknis dalam menulis, buku ini lumayan sebenarnya. Sayangnya, kelemahan buku ini emang lebih ke segi penulisan utamanya dialog dan juga eksekusinya.
Gue udah baca beberapa judul penulis lokal di tahun 2023 dan lebih banyak dari tahun - tahun sebelumnya, jadi gue tahu gimana kalau penulis ga bisa menulis dialog yang renyah dan alami. Dialog di buku Spora ini nanggung dan inkonsistensinya tinggi. Kadang pakai bahasa baku, kadang gaul. Lucunya si tokoh utama, yaitu Alif, gonta ganti bahasa baku dan gaul saat ngobrol sama teman dekatnya yaitu Rina. Jadi gue mau ga mau selalu mengernyit waktu bacanya dan mengoreksi dialog mereka supaya terasa kalau ini emang BENERAN anak SMA yang ngomong dalam percakapan sehari - hari. Ditambah dengan penulisan yang ga konsisten untuk istilah tingkatan kelas dalam SMA, seperti pakai kelas sepuluh, sebelas, tapi next time pakai kelas 3 SMA membuat gue semakin bingung jadi ini maksudnya gimana. Gue curiga kalau ini naskah lama yang terus coba dipoles dan berusaha disamakan dengan kondisi saat novel ini diterbitkan (tahun 2014) karena jaman gue SMA dulu (tahun 2002-an), gue emang masih pakai istilah kelas 1-3. Oh, jangan lupakan juga kesalahan fatal yang terlewat sama editornya, istilah "tidak bergeming". Seriously, ini tim editornya kemana? Ngantuk kah?
Spora ini tebalnya 200-an halaman lebih tapi ditulis dengan spasi 1,5 yang kalau dimampatkan sebenarnya mungkin tebalnya ga bakal sampe 200an. Walau fontnya yang cukup besar sebenarnya ramah untuk mata dan kenyamanan membaca. Ada beberapa ilustrasi isi di dalam buku yang menurut gue cukup menambah point plus pada cerita. Nah, kalau dari segita cerita, pacenya sendiri di awal agak lambat untuk kemudian memuncak dekat akhir. Sayangnya, tidak ada penjelasan yang lebih tentang si "jamur". Jamur ini apakah punya efek halusinasi untuk penderitanya atau memang punya kekuatan supranatural yang lebih sampai bisa "berkomunikasi" ? Endingnya pun sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan terkait konspirasi di balik merebaknya jamur di sekolah Alif yang akhirnya dibiarkan menuju open ending. Karakterisasinya? Hambar. Ga ada yang lovable, ga ada juga yang bikin gue pengen simpatik walau Alif digambarkan sebagai anak dengan masa lalu yang cukup kelam. Interaksinya baik dengan si teman dekat, Rina, maupun gebetannya, Fiona terasa biasa saja.
Walau dengan banyak kekurangan, gue acungin untuk deskripsi dan penceritaannya sebenarnya agak lumayan jika mau mengesampingkan penulisan dialognya yang canggung. Potensinya juga lumayan, jadi kalau bukunya agak tebalan sedikit (dengan catatan ga dicetak dengan spasi 1,5 s/d 2 sampe jarang2) mungkin beberapa hal akan jelas. Spora emang horror yang bisa dibaca dalam sekali duduk, tapi sayang tidak memberikan rasa puas setelah membacanya.
🤯🤯🤯🪸🪸🪸 Pada suatu pagi, Alif yang terbiasa tiba di sekolah pagi-pagi sekali menemukan sosok tubuh dengan kepala yang telah hancur berkeping-keping dan tentu saja sosok tubuh itu sudah tidak bernyawa lagi. Setelah dilakukan investigasi, kuat dugaan sosok tubuh itu tewas tertembak shotgun.
Beberapa hari sejak kejadian itu, entah mengapa Alif kembali menemukan dua mayat dengan keadaan yang sama seperti yang ditemukan sebelumnya pada saat ia dan Fiona akan mencari kotak penggalangan dana. Alif pun mulai merasakan sesuatu yang salah terkait dengan investigasi polisi. Siapakah pelaku pembunuhan sebenarnya? 🤯🤯🤯
Novel ini ide ceritanya sangat menarik, yaitu tentang jamur yang bisa memberikan efek parah kepada kepala manusia, semacam virus yang sangat mematikan.
Sosok Sasa yang dituliskan pada prolog sebagai anak KIR yang baru datang dari Brazil juga semakin membuat diriku penasaran untuk menyelesaikannya, karena di sinopsis yang dituliskan Alif bukan Sasa. Adanya dongeng yang dimuat dalam novel tentang seorang Leprechaun yang menyiapkan monster sebagai kutukan karena keserakahan manusia juga membuatku faham mengapa novel ini dimasukan ke genre novel horor bukan thriller.
Alur dan endingnya sangat tidak terduga. Meski banyak kekurangan yang ditemui, seperti tokoh utama Alif yang kurang kuat karakternya, masa lalu Alif yang sangat tidak detail, typo dan penggunaan kata yang tidak konsisten, ditambah ending yang jauh sekali dari harapan karena kurang masuk akal bagiku , namun aku cukup menikmati saat membacanya karena sensasi menyeramkan tidak kurasakan, justru yang ada hanya rasa penasaran. Eh tapi sebenarnya ini lebih bisa kuterima sih ketimbang harus dikaitkan dengan makhluk ghaib seperti yang biasa ada pada genre horor Indonesian. 😁
Ketika membaca judulnya, Spora, dan melihat covernya langsung terbayang jamur-jamur dengan sporanya beterbangan ke segala arah. Dan menurutku covernya benar-benar menggambarkan isi novelnya. Ceritanya sangat unik dan menarik, meski awalnya aku kira akan ada hantu yang muncul, karena di cover tertulis jelas novel horor (padahal horor itu belum pasti tentang hantu kan ya?) mungkin lebih cocok genrenya ditulis misteri-horor atau misteri-thriller. Aku cukup suka dengan buku ini, ceritanya mengalir, latar juga jelas. Tapi aku rasa kekurangan di novel ini adalah penokohannya yang kurang jelas, dan ada beberapa percakapan yang bikin ganjil, contohhnya seperti kadang-kadang tokoh Alif menggunakan kata ganti 'kau', lalu berubah jadi 'kamu'. Tapi terlepas dari semua itu, penulis mampu membuat aku selalu terbayang kejadian yang ada di buku ini setiap kali masuk ke kamar mandi sekolah :O
Jujur, tidak se-horror yang saya bayangkan, tidak sampai membuat saya takut pergi ke toilet sendirian ;). Tapi untuk karya pertama si penulis, saya apresiasi semangatnya untuk menyuguhkan sebuah cerita berbau horor sci-fi. Entah sih sci-finya dimana, karena tidak dijelaskan asal mula Spora ini bisa menjadi monster itu darimana. Apakah karena ada uji lab terlarang yang gagal sehingga Spora ini malah merusak dan mematikan. Entah, seperti ada yang masih kurang dan belum diselesaikan. Kritiknya, banyak dialog-dialog yang tidak perlu, dan sepanjang 100 hal pertama sepertinya tidak men-support isi cerita, dan juga ending yang seperti dipaksakan. Saya seperti sedang menonton film ultraman namun dalam bentuk buku. Tapi, terus semangat untuk penulisnya.