Taufan Samudera seorang remaja yang tumbuh di Surabaya selepas Orde Baru tumbang. Setelah berkenalan dengan sastra—terutama karya Marquez dan Murakami, ia seolah menemukan suatu kubangan yang mengasyikkan. Dan di dalam kepalanya mulai tumbuh penangkaran aneka hewan: rajawali, harimau, dan lumba-lumba.
Pertemuannya dengan pelaut poliglot, gadis eksentrik di toko buku, dan siswi manis kawan sekelasnya membawa Taufan pada petualangan janggal sekaligus menggetarkan. Kenangan masa silam, detik yang baru saja terlewat, dan masa depan yang misterius menjadi gelanggang sabung bagi hewan-hewan dalam penangkaran di kepalanya.
Jagat Rajawali menghadirkan kisah akil balig yang penuh tanda tanya dan petualangan.
"Kamu punya banyak teman?" "Banyak itu berapa ukurannya?" (hal.33)
Semula saya berpikir dan berekspektasi tokoh remaja di buku ini akan "melakukan hal besar" seperti dalam kebanyakan novel sastra yang fokusnya selalu pada hal-hal besar. Justru ketiadaan itu membuat novel ini istimewa. Ya kisah Toples a.k.a Taufan Samudera, Rena, Tiwi, dan Tobil sebagaimana anak remaja belasan tahun pada umumnya. Ini yang menarik. Namun, paling wow adalah bagaimana Toples dan Rena berteman dan dipertemukan. Di perpustakaan, membicarakan karya sastra, dan afirmasi bahwa mereka adalah dua manusia remaja yang diajuhi. Toples sebab keanehan yang membaca dan menulis cerpen. Rena sebab payudaranya cukup besar dan lebih besar untuk perempuan seusianya.
Novel remaja tanpa petualangan adalah nihil. Yessssss. Mereka bertualang. Ketemu rumah panggung yang penuh legenda mistis dan hantu. Juga bagaimana percintaan polos mereka. Meski tebal ternyata bisa saya habiskan dengan sekali duduk.
Sepertinya harus mencari buku Eka Darmoko yang lain, Revolusi Nuklir. Gaya Eko Darmoko ketika menulis asyik sekali.
Sebuah novel soal remaja yang tidak melulu soal cinta atau pengejaran impian besar, tapi sirkel pertemanan antara Toples, Tiwi, Rena, dan Tobil, yang energik dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang tampak sederhana, tapi di sanalah letak kepantasan cerita ini layak dibaca....
“Jagat Rajawali”, novel yang bakal menyedot pembaca untuk bernostalgia pada pengalaman masa remajanya.
Buku ini menangkap dengan baik esensi dunia remaja yang tidak melulu berkutat pada nilai akademis atau mengejar impian atau fase peralihan anatomis-biologis dan psikologis, melainkan juga masa-masa eksploratif.
Rudi cukup mampu membangkitkan perasaan nano-nano akan kepolosan, cinta-cintaan, persahabatan, petualangan, rasa penasaran, hingga percakapan-percakapan ala remaja sambil menampilkan sejumlah referensi bacaan sastra dan budaya pop saat itu.
Tokoh-tokohnya pun apik memberikan gambaran mentah tentang konsep diri remaja di tengah dunia yang terus bergerak, seperti memilih teman berdasarkan kesamaan selera, berinteraksi dengan orang dewasa/teman sebaya yang membantunya memperoleh pemahaman baru, meskipun mereka tidak selalu tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Lebih jauh, ketika remaja belajar merespon dunia sekitar, proses tersebut dihadirkan melalui imaji dalam pikirannya. Seperti judulnya, lumba-lumba, rajawali, dan harimau menjadi teman imajiner yang alih-alih untuk mengompensasi kesepian, para binatang tersebut tercipta untuk menemani remaja memahami situasi serta mendorong ide yang memantik kreativitas lebih tinggi.
Kali pertama baca karyanya Eko Darmoko dan gak tau kenapa tertarik dengan Jagat Rajawali ini. Setelah baca, emang menarik. Cerita anak SMP-SMA yang berkenalan dengan karya-karya Gabo, Haruki Murakami dan Pram.
Menariknya ada banyak isu yang ada dalam cerita Toples, Tobil dan Rena ini. Tentang bagaimana anak-anak berkenalan dengan cerita sastra luar dan dalam negeri di tahun awal reformasi di Indonesia.
Jagat Rajawali karya Eko Darmoko merupakan novel yang bercerita tentang Taufan Samudera (Toples) seorang remaja SMP yang mendewasa dengan rasa penasaran yang membawanya ke banyak pengalaman menarik (meskipun beberapa diantaranya tentang duka). Bersama teman-temannya dan juga kekasih hatinya, ia mengeksplorasi dunia remajanya yang penuh imajinasi. Dari hal-hal receh, personal dan lokalitas.
Saya menyukai bagaimana novel ini ditulis dengan gaya penceritaan yang tidak rumit, sehingga mudah diikuti alur ceritanya. Selain itu, saya juga mengapresiasi penulis dalam merepresentasikan para karakter dalam novel ini, ditulis dengan bagaimana remaja seharusnya. Penuh dengan banyak kecerobohan, ceplas-ceplos, sedikit nakal dan energi yang selalu berlimpah.
Cerita dalam novel ini mungkin tidak mengangkat tema yang besar, namun bagi saya justru hal yang terlihat sepele penting untuk disampaikan karena semesta remaja yang penuh dengan keajaiban menarik untuk di eksplorasi.