Santoso Djaksa sama seperti kita, rakyat kecil Indonesia yang tidak berdaya. Namun ia bersumpah, sekejam apa pun ketidakadilan di negeri ini, keimanannya tidak akan goyah, walau pejabat koruptor seperti sang ayah bersemayam dalam keluarganya.
Dalam perjuangannya, San bertemu Soeryo Diningrat, seorang pengusaha tembakau ternama yang mengulurkan bantuan beasiswa karena kagum akan kepintarannya.
Mulanya San tidak peduli dengan nasib suara Indonesia yang dibungkam. Tetapi kepedulian itu muncul ketika keluarga Soeryo diincar oleh pemerintah karena terduga menjadi bagian dari komunis. Termasuk cinta pertamanya, putri bungsu sang oligarki yang tak tahu apa pun mengenai dosa ayahnya.
Penulis : Brain Washer Pages : 320 hlm Penerbit : Dreamerbooks Cetakan Pertama, Mei 2025
⚠Untuk 𝙏𝙧𝙞𝙜𝙜𝙚𝙧 𝙒𝙖𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜, bisa baca 𝙘𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨 yg ada di dalam buku
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼 𝗕𝗹𝘂𝗿𝗯 Santoso Djaksa sama seperti kita, rakyat kecil Indonesia yang tidak berdaya. Namun ia bersumpah, sekejam apapun ketidakadilan di negeri ini, keimanannya tidak akan goyah, walau pejabat koruptor seperti sang ayah bersemayam dalam keluarganya. Dalam perjuangannya, San bertemu Soeryo Diningrat, seorang pengusaha tembakau ternama yang mengulurkan bantuan beasiswa karena kagum akan kepintarannya. Mulanya San tidak peduli dengan nasib suara Indonesia yang dibungkam. Tetapi kepedulian itu muncul ketika keluarga Soeryo diincar oleh pemerintah karena diduga menjadi bagian dari komunis, termasuk cinta pertamanya, Wening—putri bungsu sang oligarki yang tak tahu apapun mengenai dosa ayahnya. 🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Pertama, aku suka Cover buku ini, ilustrasinya Bagus, Judul serta blurb novelnya juga menarik minat untuk membaca novel ini.
Font size yg agak kecil ternyata tidak mengurangi minatku membaca buku ini, karena rupanya, bagiku buku ini sangat Page Turning. Narasinya Ringan, mudah dipahami. Memiliki Alur gabung, tidak ada plot hole, serta penggambaran Latar yang baik. Terutama Latar Suasana di buku ini mampu digambarkan dengan jelas.
Tokoh-tokohnya memiliki Karakter yang kuat, characters development-nya juga jelas. Secara pribadi, aku merasa terhubung dengan tokoh yang ada di buku ini. Santoso tergambar sebagai pemuda yang ambis dalam berkuliah, berusaha sebaik mungkin untuk tidak terseret dalam hal yang bisa memicu beasiswanya dicabut, namun ketika masalah datang, bagaimana tindakan yang dilakukan San sendiri terlihat manusiawi. Ia tak sepenuhnya benar, justru ada perilakunya yang sudah terperosok dalam jurang, ini menguatkan Kesan bahwa Santoso tetaplah manusia biasa. Ada Ayah San, jangan ditanya betapa geramnya aku dg sosok bapak itu😫 Ada Johan, Tokoh yang awalnya Misterius, dan seiring perkembangan cerita, aku menikmati interaksi antar tokoh yang ada. Terasa sangat seru😆Lalu Ada Wening, Character Development Wening ini sangat dinantikan 😌 bagaimana jungkir baliknya kehidupan gadis itu ketika dunia yang ia tempati berubah total dalam sekejap mata. Ada beberapa tokoh lain yang juga muncul dalam cerita ini, menarik perhatian saat dialog mereka muncul, kalian bisa membacanya secara lengkap di buku ini ya.
Isu-isu yang terdapat dalam novel ini rasanya relevan dengan keadaan di negeri ini. Terutama lingkungan sosial yang tergambar diawal cerita. Gambaran mengenai KDRT, Kondisi ketika orang mencoba melaporkan tindakan tersebut pada aparat keamanan dan bagaimana respon mereka, rasanya sangat realistis. bagaimana laporan mengenai KDRT seolah hal yang biasa, seolah itu adalah hal yang tak perlu dipermasalahkan. Untuk itu, Pentingnya Meningkatkan Kesadaran mengenai KDRT, dampaknya bagi korban, bagi anak² yang melihat kejadian tsb. baru awal chapter saja sudah ada beberapa pelajaran moral yang bisa kita peroleh. Kemudian Bagaimana Pentingnya Pendidikan, apakah pendidikan merata bagi seluruh penduduk. Ini mengingatkanku thd UUD 1945 Pasal 31 Mengenai Pendidikan. Bagaimana Hak setiap warga negara untuk mendapat pendidikan dasar, serta Peran Pemerintah yang seharusnya membantu rakyat mendapatkan hak tsb. Namun nyatanya, lihat saja saat ini, di lingkungan sekitar kita. Tak semua masyarakat mendapatkan hak tersebut, masih banyak anak-anak yang tidak sekolah karena terkendala banyak hal. Nyatanya,tak semua orang tua memiliki pandangan terbuka mengenai pendidikan, justru tak segelintir masyarakat yang beranggapan tak guna sekolah tinggi -tinggi, kemudian adanya kendala biaya, maupun akses pendidikan di lingkungan mereka menjadi salah satu problem yang sudah jelas ada di negeri ini.
dalam cerita di buku ini, salah satu sarana bagi rakyat yang tak mampu secara ekonomi untuk mengenyam pendidikan adalah dengan memperoleh beasiswa. yang mana, tak segampang itu didapat, harus memenuhi persyaratan tertentu. Sekalipun sudah melampirkan berbagai berkas persyaratan, belum tentu di acc mendapatkan beasiswa. Beasiswa itu sendiri ada banyak macamnya. Nah, dibuku ini, Tokoh Santoso memperoleh beasiswa dari salah seorang Pengusaha yang terkesan dengannya ketika mereka berbincang saat San bekerja sebagai tukang semir sepatu.
Kemudian ada Aksi protes Mahasiswa. Ini juga relevan Kebebasan Individu dalam berpendapat. Nyatanya, tak selalu semulus itu. Pembungkaman suara, Pembantaian justru menjadi salah satu tindakan orang yang merasa terancam terhadap vokalnya aksi tersebut. Salah satu scene dibuku ini menyentil isu Komunis. Pentingnya untuk memahami arti Komunis, lantas bolehkah menghentikan orang-orang yang dilabeli penganut Komunis tersebut dengan cara menghilangkan nyawa? Banyak isu-isu sosial, politik yang disentil dari kisah yang ada di buku ini. Meskipun tidak dibahas secara mendalam, aku memahami topik yang diangkat dalam konflik ceritanya.
Ada beberapa scene yang menyayat hati, terutama interaksi San dg Ibunya. Ada juga interaksi yang terasa lucu. terutama Tokoh Johan. Johan yang terkadang blak²an, Sarkas justru menimbulkan efek tawa ketika membacanya.
Aku juga suka bagaimana romansa tipis yang ada dalam cerita ini, interaksi antara San dan Wening, bagaimana San yang kerap berusaha menjaga perlakuannya meski ia tahu dirinya bukanlah orang yang 'benar-benar baik dan bersih', aku ingin mengapresiasi penulis untuk hal ini, terimakasih sudah menciptakan cerita yang epik, terimakasih sudah membuat interaksi San-Wening yang menjadi favorit-ku. karena bagaimana batasan thd interaksi tersebut sangatlah Bagusssss💕
Next, ada beberapa typo dalam buku ini, tidak banyak. Namun ada salah satu yg kentara di hlm 204, pada paragraf ke-4, disitu dikatakan bahwa yang tengah membentak itu adalah Santo, sementara di paragraf selanjutnya disebut Johan. Agak rancu🤏karena sebenarnya itu Santoso, bukan Johan. Semoga di buku selanjutnya Penulis serta tim Penyunting semakin semangat dalam menyiapkan buku cetak arsip kedua ya 🙇♀️🔥
Last, setelah membaca bocoran Arsip Kedua yang sangat menarik itu, aku sangat menantikan buku keduanya segera naik cetak.
Awalnya, aku tertarik beli buku ini karena cover-nya yang estetik banget—beneran eye-catching dan bikin penasaran.
Setelah baca blurb-nya, aku merasa ini cerita yang punya potensi besar. Di bab-bab awal, aku cukup menikmati gaya penulisannya yang satir dan tajam, meski sempat agak bingung dengan alur yang terasa luas dan agak acak. Tapi makin dibaca, makin terasa nyambung—ceritanya pelan-pelan mulai membentuk pola dan bikin aku betah.
Yang paling menyenangkan, aku merasa seperti lagi ngobrol sama sahabat sendiri. Banyak banget pemikiran penulis yang resonate sama aku, sampai rasanya kayak, “Eh, kok bisa sih kita sepemikiran?” Dan ya, dengan sepenuh hati aku teriak: SANTOSO DJAKSA ITU GANTENG BANGET COYYYY. A walking green flag, no debat.
Aku nggak sabar nunggu buku kedua! Kita butuh banget kelanjutan kisah San dan Wening—secepatnya, kalau bisa.
Terima kasih buat penulis yang udah berani menyuarakan keresahan dan harapan kita lewat cerita ini. Hidup sastra Indonesia!
Premisnya seru. Karakternya Santoso menurutku karismatik banget tapi dia naif juga realistis. Somehow, aku bisa relate banget sama jalan pikir dia yang terkadang terkesan pesimistik dan oportunistik. Mungkin sebagian orang kurang suka sama sikan San tapi di aku cocok banget. Kayak udha ketemu sama soulmate sendiri hahahaha.
Untuk konfliknya sendiri sebenarnya setelah pelarian Santoso, Johan, sama Arumi agak melambat dan agak bosenin. kayak udah tegang dan seru pasca kejadian keluarga Soerya tapi setelah itu nggak ada konflik yang nyusul, jadi kesannya agak flat.
terus mungkin yang kurang bagiku cuma di bagian alasan pemilihan Rusianya kurang diperjelas, sama setau aku rusia masih pakai bahasa rusia sedangkan San dkk kayak mudah sekali berkomunikasi dengan ornag-orang di sana. Terus pacing kabur keluar negerinya cepet banget jadi kurang terasa bagian dia kabur dari kejaran pemerintah.
Oh sama, aku berharap lebih banyak penjelasan, kayaknya kalau bagian keluarga Djaksa lebih dieksploitasi lagi ceritanya bisa semakin kaya. Soalnya menurutku cerita hidup mereka lebih unik untuk dikulik.
Selebihnya aku suka semua karakternya. Aku suka bagaimana penulis bisa nempatin karakter nggak cuma hitam dan putih seperti Polisi Wijaya. ini realistis banget.
Pokoknya ceritanya seru dan aku harap di buku keduanya penjelasannya bisa lebih mendetail biar semakin terasa perjuangan dan vibes mencekamnya.
pertama kali baca versi wattpad sudah dibikin jatuh cinta sama ceritanya terus waktu beli versi cetak nya makin di bikin jatuh cintaa sama tulisannya 🫶🏻 topik yang di bahas agak berani, tapi bisa di bikin se-cantik ini huhuh ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️