What do you think?
Rate this book


405 pages, Paperback
First published September 25, 2014
Setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Begitu pula dengan usia manusia, usia hidup dan mati manusia pun telah digariskan oleh takdir. Akan tetapi bisa juga semua kembali kepada tekad dan niat yang dimiliki manusia itu. Nasib seorang manusia bisa berubah katika ia mau bertarung dengan dirinya sendiri. Namun, semua akan berbeda ketika manusia itu sendiri ingin menyerah menjalani hidupnya.
"Pada dasarnya dia bukan orang jahat."
"Iya. Karena tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia begitu buruk."
"Ketika mengkhianati orang yang mencintaimu, kau juga harus tahu kalau kau meninggalkan luka yang sangat dalam."
"Min-Hyuk adalah manusia yang tinggal di bumi dan dirinya adalah seorang dewi yang tinggal di langit. Mereka tinggal di dunia yang berbeda. Tidak hanya itu, cara mereka hidup pun berbeda. Takdir mereka berbeda."
"--- Yang pasti, aku sama sekali tidak takut menghadapi apa pun. Aku sudah pernah merasakan mati, dan aku hidup lagi."
"Entahlah. Sekarang? Apakah aku benar-benar tidak punya perasaan apa-apa kepada pria itu? Cinta. Ji-Wan tidak bisa bicara cinta karena situasinya adalah... ia seorang dewi yang hanya menjadi penduduk sementara di tubuh manusia ini. Kapan pun ia bisa saja harus pergi dan kembali ke tempatnya berasal."
"Bagaimana aku harus mengungkapkan apa yang kurasakan? Apa yang harus kulakukan untuk memperlihatkan isi hatiku? Hubungan mereka tidak akan bisa terus berlangsung di dunia manusia ini. Walaupun menyadari kenyataan itu, mempertahankan Min-Hyuk di sampingnya adalah sebuah keegoisan. Sebuah kesalahan."
Cinta? Aku...terhadap wanita ini? Tidak. Aku tidak ingin lagi merasakan cinta. Tetapi aku juga tidak ingin melepaskan wanita ini.
-Kang Min-Hyuk-
Cinta? Kepada pria ini? Tidak bisa. Untuk yang satu ini...tidak bisa. Tetapi kalau tidak denganku, kepada siapa lagi pria ini akan berpaling?
-Yoon Ji-Wan-
Selamat datang di dunia atas langit tempat dewa, dewi, dan kaisar langit berada. Konon dahulu kala ada sepasang kakak beradik manusia yang lari dari kejaran harimau. Ketika harimau itu siap menerkam, mereka berdoa pada Tuhan agar menyelamtkannya. Maka dengan KuasaNya Tuhan mengirimkan tali bagi kedua kakak beradik itu. Seutas tali yang membawa mereka menuju langit menjadi matahari dan bulan. Dan tinggalah Dal-Hee (si Bulan) dan Hae-Seong (si Matahari), kakak beradik tersebut di langit. Sayangnya, kehidupan langit belum menyimpan kalimat "happily ever after" untuk mereka. Nun jauh di atas langit sana, terjadi kegemparan dengan kedatangan dua anak manusia. Dal-Hee, si adik yang sering kali membuat onar mempercayai bahwa para dewa dan dewi mengucilkan mereka,
Baik itu di langit, di bumi, atau di bawah bumi, pasti ada kelas sosial yang berlaku. Jadi tentu saja, bagi dewa-dewi yang sudah menghabiskan waktu untuk belajar banyak tentang banyak hal, kedatangan dua anak manusia diantara mereka menjadi satu hal yang mengejutkan.
Dal-Hee, si Bulan, merupakan kandidat untuk menjadi dewi. Untuk menjadi seorang dewa-dewi seseorang harus mengalami tujuh reinkarnasi sempurna untuk menghilangkan darah manusia mereka. Sayangnya, ia amat berbeda 180 derajat dengan sang kakak yang cenderung dapat beradaptasi dan hanya cukup melewati satu tahap reinkarnasi. Seringkali Dal-Hee membuat onar. Ada-ada saja alasan Dal-Hee untuk mengacaukan tahap reinkarnasinya. Satu peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh dewa-dewi, mereka tidak boleh mengikat perasaan dengan manusia. Dal-Hee juga kurang menyukai manusia yang cenderung tidak peduli terhadap sesamanya. Dan satu hal ini juga yang kemudian dilanggar Dal-Hee dengan menolong Ji-Wan.
Wanita itu, Yoon Ji-Wan, hidup lagi! Dia tidak meninggal. Kang Min Hyuk benar-benar dibuat kaget dengan Ji-Wan yang hidup kembali setelah dinyatakan dokter meninggal,
"Kau tidak meninggal?"
"Memangnya aku terlihat seperti orang meninggal"
Hiduplah dengan bahagia! Beruntunglah karena bisa saling berbagi cinta dengan manusia lain. Jangan sia-siakan apa yang sudah kalian miliki. (P.395)