This book has an isbn 9786029402452 that was also used for a different book Masa Gelap Pancasila
Siapakah Sukarno? Nasionalis? Islamis? Atau marxis? Sukarno sendiri mengakui bahwa Marx, Engels dan Lenin adalah tiga tokoh yang berpengaruh besar dalam pemikirannya. Lebih jauh ia menjadi anak sungai besar yang mengalirkan paham yang kemudian sohor disebut kiri dalam arus sejarah Indonesia. Sukarno memandang pemikiran kiri adalah api pembakar Revolusi Indonesia. Namun, apakah benar paham ini yang menjadi penyebab Revolusi Indonesia? Apakah Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri? Sejauh mana paham kiri ini mendapat halangan dan tantangan serta peran seperti apakah yang dimainkan Sukarno dalam menembus itu semua?
Buku ini menjawab pertanyaan itu dengan menyusuri kedatangan marxisme-leninisme di Indonesia dan pengaruhnya pada Sukarno, serta lebih jauh mengurai penyebarannya ke tokoh-tokoh kiri Indonesia lainnya yang ada pada awal sampai pertengahan abad ke-20. Termasuk menyingkap bagaimana pemikiran kiri Indonesia yang memainkan peran sejarah itu dihabisi melalui pembunuhan massal yang kejam pada akhir 1965. Bukan hanya partai dengan tokoh-tokohnya, tetapi juga petani dan nelayan, sehingga pemikiran kiri mengalami suatu proyek pemusnahan dan dikenang sebagai hantu yang mengerikan.
Dari buku ini setidaknya saya memperoleh dua topik wawasan: pemikiran Soekarno tentang sosialisme dan sejarah terbentuknya PKI.
Tampak bahwa Soekarno adalah seseorang yang berdedikasi pada visinya untuk mempersatukan seluruh masyarakat yang berada di bawah penjajahan kolonial Belanda. Buku ini menjelaskan bagaimana Marxisme memengaruhi pemikiran Soekarno--walaupun pada akhirnya Soekarno lebih berminat untuk mencari something in common antara nasionalisme, Islam, dan komunisme demi mewujudkan cita-cita persatuan yang ia damba-dambakan. Ia kukuh mempertahankan dedikasinya ini, memengaruhi kebijakannya sebagai presiden bahkan di masa-masa ketegangan antara Angkatan Darat dengan PKI. Demi konsistensi mewujudkan Nasakom, ia tidak mau melepaskan PKI dan membela keberadaan PKI beberapa kali di jajaran pemerintahannya.
Sementara itu, masuknya paham komunisme teryata berasal dari partai Belanda ISDV pada awal abad 20. Awalnya ISDV tidak memperoleh kepopuleran di masyarakat Hindia Belanda karena pahamnya yang dibawa oleh bangsa asing. Situasi ini membuat ISDV harus melakukan strategi lain, yaitu dengan masuk ke Sarekat Islam dan memengaruhi anggota-anggotanya. ISDV memperoleh banyak pendukung dari SI, hingga banyak pula dari mereka yang berkeanggotaan ganda. Kemudian berlakulah perintah pemulangan orang-orang Belanda, termasuk anggota-anggota ISDV, kembali ke negeri mereka. Dan dari sinilah kelompok komunisme Indonesia mulai beraksi secara mandiri tanpa campur tangan langsung dari bangsa asing.
Kelompok yang selanjutnya disebut dengan PKI ini mengalami tiga kali kegagalan, yaitu tahun 1926/1927, 1948, dan 1965. Para penganut Marxisme umumnya terbelah antara melakukan tindakan revolusioner (aksi pemogokan, pemberontakan, agitasi, dll) atau mengambil jalan diplomatis lewat parlemen. Kegagalan pertama disebabkan oleh belum matangnya para kader dan struktur komando PKI untuk memobilisasi massa. Kegagalan kedua lebih merupakan ketidakberdayaan PKI menghadapi angkatan bersenjata Indonesia saat terjadi pemberontakan di Solo dan Madiun.
Kebangkitan PKI yang ketiga melalui jalan parlementer sebenarnya sudah cukup bagus. Di bawah kepemimpinan DN Aidit yang memilih jalan tengah, PKI memperoleh cukup banyak dukungan dari rakyat. Manuver PKI untuk mendukung kebijakan Soekarno juga cukup bisa mengamankan posisi mereka di jajaran pemerintahan. Namun apa daya, kelompok sangat kiri dalam PKI yang menghendaki aksi revolusioner membuat resah Angkatan Darat dan parpol lain. PKI bagai makan buah simalakama--bertahan di pemerintahan berarti cita-cita revolusi belum tentu terwujud, keluar darinya harus berhadapan dengan ancaman kekuatan AD. Hingga akhirnya tiba sekuen sejarah terbunuhnya lima jenderal tertinggi dan satu letnan AD, yang dimanfaatkan Soeharto untuk mengambil tampuk kepemimpinan dari Soekarno dan menumpas habis PKI sepanjang masa pemerintahannya.
Demikianlah informasi kasar yang bisa saya sarikan dari buku. Tentu dengan membaca langsung bukunya akan diperoleh informasi yang akurat. Saya juga jadi tahu jika dulu partai-partai komunisme di seluruh dunia itu terstruktur sekali, sampai ada pusatnya di Moskow yang bernama Comintern. Jadi ingat video lagu The Internationale yang punya beragam versi dari masing-masing negara. Ada juga blog penulis yang memuat salah satu esai dalam buku ini di sini.
(+) Sukarno Marxisme dan Leninisme-nya Peter Kasenda sangat menggugah! Bukunya yang disusun dengan rapih dan sistematis, mulai dari bab 1 - bab 6 kita seperti ditemani dengan Peter untuk mengenali Sukarno lebih dalam. Buku ini pun menawarkan hal yang mudah terlebih dahulu untuk memahami yang sulit kemudian. Dasar - dasar yang diberikan untuk bisa mengerti tentang buku ini terdapat dalam Bab 1 - bab 3, dengan kata lain, orang yang awam pun dalam hal Ideologi yang berbau kiri dan sukarno akan bisa memahami buku ini dengan baik. Jadi, buku baik buat yang awam dan lebih baik lagi bagi yang mempunyai dasar tentang Ideologi Kiri dan Sukarno.
(-) Buku ini pada akhirnya kurang memperdalam pada kasus siapakah Sukarno sebenarnya, ada dua bab yang dipakai untuk menjelaskan PKI (pemberontakan dan tragedi '65) walaupun tidak sesuai, tetapi bab ini tetap menjadi bab yang menarik untuk dibaca, sangat informatif, dan sangat meng-agitasi!
Buku ini memaparkan pembacaan ulang sejarah pemikiran bung karno dalam perjuangan kemerdekaan dan revolusi Indonesia yang sedikit banyaknya dipengaruhi oleh arus pemikiran Marxisme-Leninisme dengan adanya modifikasi. Pemikiran tersebut terwujudkan dalam konsep ideologi Marhaenisme.
Ide dan gagasan pemikiran sosialisme bung karno yang berwujud Marhaenisme tentu tidak terlepas dari pengaruh pemikiran Marxisme & Leninisme. Namun, ideologi Marhaenisme bung karno tidak identik dengan proletar dalam Marxisme - Karl Marx. Marhaen tidak hanya buruh, tetapi mencakup luas seluruh rakyat kecil yang tertindas oleh kapitalisme seperti nelayan, petani, buruh, pedagang kecil dan seluruh kaum miskin. Marhaenisme dikonsepkan sebagai ideologi untuk menentang kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme.
Selain itu, pembaca juga diajak memahami bagaimana gagasan kiri berkembang di Indonesia pada periode sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk berhubungan dengan partai sosialis dan juga partai komunis. Perkembangannya, peran perjuangan, pemberontakan dan kehancuran. Pemikiran kiri pernah menjadi bagian kekuatan besar dalam sejarah Indonesia, sebelum pada akhirnya hancur pada periode 1965. Ide bung karno untuk menyatukan nasionalisme, agama dan komunisme gagal membangun kestabilan politik pemerintahan, puncaknya pada periode 1965 dengan berakhirnya komunisme.
Tentunya kita tidak dapat menampik pengaruh pemikiran Marx dalam buah pikir Soekarno. Marxisme ditempatkannya sebagai pisau analisis untuk membedah permasalahan-permasalahan sosial Hindia-Belanda kala itu. Soekarno paham betul bahwa industrialisasi belum berjalan di Hindia Belanda kala itu (dimana industrialisasi merupakan konteks analisis Marx dalam kritiknya terhadap Kapitalisme, seperti Inggris pada Abad ke-18 saat itu), namun kemelaratan telah merajalela saat itu, yang disebabkan oleh Kolonialisme Belanda. Dari keadaan tersebut, dia berusaha melahirkan gagasan sesuai dengan konteks Hindia Belanda saat itu. Gagasannya saat ini dikenal sebagai Marhaenisme, yang kerap disebut sebagai Sosialisme ala Indonesia.
Marhaenisme memfokuskan analisanya pada kemelaratan orang-orang yang dimelaratkan oleh sistem. Orang-orang yang dimelaratkan ini terkadang memiliki faktor produksi, berbeda dengan proletariat yang tidak memiliki faktor produksi, namun kondisinya sama-sama tidak sejahtera. Sehingga Soekarno pun lebih memfokuskan ajarannya kepada kemelaratan orang-orang 'kecil' secara keseluruhan, Marhaenisme adalah advokasinya bagi kemelaratan orang-orang 'kecil'.
Pergumulan pemikiran Soekarno pada masa mudanya pun menentukan bagaimana ia mencita-citakan Indonesia saat Ia memimpin bangsa ini. Nasakom sebagai upaya sintesis dari berbagai ideologi yang ada di Indonesia dapat dijadikan contoh bagaimana Soekarno sangat mencita-citakan revolusi Indonesia berjalan kearah ko-eksistensi ideologi yang sulit dipersatukan tersebut.
Tentunya pembaca dapat lebih mengetahui lebih lanjut dengan membaca buku ini secara langsung. Secara umum, buku ini cukup baik dalam melaksanakan tugasnya, yaitu menjelaskan bagaimana pertautan antara pemikiran Soekarno dengan pemikiran Marxisme-Leninisme, dan sejarah arus pemikiran Kiri di Indonesia. Kekurangan dari buku ini adala beberapa bagian ada yang terkesan repetitif, dan alur sejarahnya pun disampaikan dengan tidak runut/maju-mundur.
buku ini dengan rinci dan detail bagaimana sejarah perkembangan pemikiran kiri di indonesia dan bagaimana para aktor politik Indonesia mengimplementasikan pemikiran kiri ini dalam rana politik Indonesia hingga pada kehancuran nya saat orde baru memimpin
Buku ini dengan apik menjelaskan bagaimana latarbelakang intelektual Sukarno dalam menentukan kebijakan-kebijakan nya? Buku ini juga menjawab Sukarno itu Kiri atau Kanan dan menjelaskan apakah ia itu pengagum Marxisme atau Leninisme.