Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sweet Home

Rate this book
Bagi Emily Cox, naik ke grade 11 sama dengan gejolak emosi yang tiada habisnya.

Matthew Cooper, pacar sekaligus temannya sejak kecil, memutuskan hubungan mereka. Sementara Marion-Mary-Scott, sahabat dan tetangga sebelah rumahnya, terpaksa pindah dari Sweet Home ke kota lain setelah ibunya menikah lagi.

Saat Emily menyangka kehidupannya tidak bisa lebih buruk dari itu, puluhan pesawat kertas berisi curahan hati rahasia yang ia terbangkan ke teras rumah sebelah, yang semestinya ditujukan kepada Mary, hilang tiba-tiba!

Lalu muncullah Tyler Adams, tetangga baru yang dengan seenaknya selalu merecokinya dan membuat hari-harinya semakin menyebalkan.

Apa sih sebenarnya tujuan cowok itu?

360 pages, Paperback

First published October 1, 2014

6 people are currently reading
67 people want to read

About the author

Adeliany Azfar

16 books70 followers
Bagiku, menulis adalah kehidupan yang merengkuh segala beban dan menyelesaikan segala persoalan...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (18%)
4 stars
28 (32%)
3 stars
35 (41%)
2 stars
4 (4%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for ijul (yuliyono).
811 reviews970 followers
Read
October 10, 2014
Edited by me.
Tanpa bintang agar tidak bias.

My comment:
Sedikit cerita tentang novel Sweet Home karya Adeliany Azfar yang akan segera dirilis oleh Penerbit Haru, yang merupakan salah satu naskah pilihan dalam lomba menulis 100 Days of Romance. Kali pertama membaca sekilas naskahnya sebelum dibedah secara mendalam saya sudah tertarik dengan ide curhat-via-pesawat-kertas yang melandasi kisah romance di novel ini. Sampai di bagian eksplisit itu saya langsung teringat masa-masa sekolah dulu, ketika alat komunikasi portabel semacam handphone belum sedemikian populer, kertas sobekan buku tulis menjadi media komunikasi antarteman paling lazim. Bahkan, ehem, antarkekasih. Tak terhitung berapa banyak gumpalan kertas terbang ke segala sudut kelas jika sedang iseng ingin ngobrol di tengah kelas yang membosankan. Hahaha, dasar bengal! Dari sini, saya sudah merasai aura romantisme yang berpotensi menjadi pondasi manis untuk rajutan satu kisah cinta yang menggetarkan.

Menghidupkan tokoh remaja, pada usia sekolah menengah, dengan setting suatu kota kecil di Oregon, Sweet Home mengalir perlahan namun membawa percikan-percikan yang mampu membuat saya terlarut ke dalam kelas-kelas yang penuh warna. Tak hanya itu, letupan-letupan khas dunia remaja juga berhasil menerbitkan selarik senyum di ujung bibir, bahkan tawa di beberapa kesempatan. Oh iya, meski ber-setting luar negeri, tetap ada nuansa Indonesia-nya, kok, pada tokoh utama novel ini.

Buat saya pribadi, menyunting Sweet Home akan selalu menjadi satu pengalaman menarik yang dapat saya kenang terus dan terus. Selain terlarut-larut dalam nostalgia masa sekolah, selama prosesnya saya belajar banyak hal, baik dari dunia pembacaan maupun dunia penyuntingan naskah. Ketelitian, kejelian, dan pengetahuan kekinian menjadi bekal penting dalam menyunting naskah. Agar novel ini autentik dan tak bolong dari segi fakta –karena pada kenyataannya setting yang digunakan adalah kota yang benar-benar ada di Amerika Serikat sana—maka segala pernik tentang kota tersebut benar-benar harus dituliskan sebagaimana aslinya. Pergantian musim, fasilitas kota, jarak antarkota, bentuk rumah, sistem pendidikan, dan-sebagainya-dan-sebagainya menuntut pengetahuan kekinian yang tak boleh keliru.

Saya, Adel (pengarang), dan Tim Haru (first readers) menapaki jalan yang sama secara bersama-sama meski terkadang masing-masing menemukan lubang-lubang kecil ataupun besar yang berbeda-beda di ruas jalan itu. Saya sebagai penyunting naskah ini sungguh beruntung bisa bekerja dalam nuansa persabahatan yang saling mengingatkan jika ada yang salah –lubang logika, terutama—pada naskah ini. *group hugs*

Pada akhirnya, kisah Sweet Home adalah tentang cinta segitiga yang tak sekadar menyoal siapa suka siapa, atau siapa akhirnya jadian dengan siapa, namun juga menghadirkan hangatnya hubungan antarteman, antartetangga, dan… mantan!

Selamat untuk Adel atas terpilihnya naskah Sweet Home dalam lomba hingga akhirnya bisa terlahir –meskipun mungkin melalui operasi caesar, hehehe—dan menjadi anggota keluarga Penerbit Haru. Semoga pembaca setia Haru juga bisa menikmati suguhan kisah manis berbumbu romantisme racikan Adel ini. Oiya, saya merasa terlalu jemawa jika memberi rating pada novel ini, jadi saya hanya ingin sampaikan kepada pembaca yang sedang mencari bacaan remaja ringan namun manis, silakan comot Sweet Home karya Adeliany Azfar ini. Semoga curhatan-curhatan romantis melalui lipatan-lipatan pesawat kertas yang diterbangkan dari teras rumah sebelah bisa menyentuh sisi lembutmu. Selamat membaca, ya.

Yang mau ikutan kuis, hari ini terakhir:
http://www.fiksimetropop.com/2014/10/...
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
July 27, 2015
Adeliany Azfar
Sweet Home
Penerbit Haru
6.1

Well, ada apa dengan novel young adult lokal berlatar luar negeri yang karakter utamanya masih memiliki kaitannya dengan Indonesia? Seperti, Ocean Breeze, yang karakter utamanya benar-benar memiliki cita rasa yang sangat lokal. There's nothing wrong about that, though. Instead, I will be such a sanctimonious little prick if I keep complaining about that kind of character when I still make the same exact character myself. Namun, harus saya akui, saya lumayan senang dengan perkembangan novel young adult yang mengambil latar di luar negeri seperti ini. Pertama, karena saya sendiri suka membuat cerita yang serupa so I need some kind of defense to defend myself. Kedua, karena konflik remaja di luar negeri seharusnya, well, lebih ekstrem daripada konflik yang terjadi di (buku) remaja lokal. With that being said, Sweet Home has set my expectation bar really high.

Membaca Sweet Home ini terasa seperti menikmati kue chocolate lava. Sang patisserie sudah menyiapkan bahan-bahan premium, mengikuti langkah demi langkah pada resep dengan teliti, membuat adonan yang sempurna, dan memanggangnya dengan suhu yang tepat. Ketika matang, kue chocolate lava yang dibuat sudah terasa enak, tetapi ternyata tidak ada cokelat yang meleleh di dalamnya. Sweet Home terasa seperti itu. Sang penulis sudah menyiapkan bahan-bahan premium, seperti latar cerita yang luar biasa mengagumkan, karakter-karakter yang menyenangkan (meskipun beberapa masih terasa stereotipikal. Yes, Andrea, I'm looking at you, build-up yang sangat bagus, serta konsep cerita yang sangat menarik. Namun, saya merasa Sweet Home ini hampa. Dengan build up dan bahan-bahan yang premium ini, saya merasa sayang sekali kalau Sweet Home ini hanya dihabiskan untuk konflik remaja sinetroniyah. Saya sesungguhnya mengharapkan ada subplot atau subkonflik yang membuat buku ini terasa lebih berisi. Lagi pula, masih ada banyak potensi yang bisa digunakan. Karakter Aaron, kakak Tyler, misalnya, cukup mendapat porsi yang banyak di awal cerita, tetapi dia malah invisible di akhir cerita, padahal dia bisa dijadikan subkonflik. Ternyata Aaron gay, misalnya, dan Sweet Home juga menceritakan perjuangannya untuk come out sehingga ini jadi cerita drama keluarga yang manis. Afterall, judul buku ini Sweet Home. Subplot yang ditanamkan di sini sebenarnya bisa digunakan juga, tetapi sayang kurang dieksekusi dengan baik.

Meski demikian, saya sangat kagum dengan latar yang digunakan. I'm sorry if I sound so pretentious, but it's really hard to impress me. Pemilihan latar Sweet Home dan festival Jamboree Oregon benar-benar mengunci mulut saya yang biasanya rewel sekali soal latar luar negeri. Riset yang dilakukan sudah sangat baik meskipun penulisan di beberapa bagian--terutama bagian awal--masih terasa sedikit kaku. Tapi tetap saja saya kagum. Selain itu, kekuatan utama buku ini ada di karakternya yang unik dan menyenangkan. Karakter favorit saya ayah Emily. Wkwk. Meski Emily sendiri juga anaknya doyan drama, tetapi menyenangkan sekali menyelami pikirannya. Tyler juga mendobrak pakem hero cool tsundere. Tyler, meskipun sedikit tsundere, terasa sangat segar.

Well, Sweet Home memiliki potensial yang sangat besar dan sayang sekali hanya dihabiskan untuk konflik percintaan remaja. Tetapi karena ini digunakan untuk kompetisi menulis 1000 Hari Cinta (koreksi saya kalau saya salah), saya bisa memaklumi kalau konfliknya lebih fokus ke percintaan.

Since I am being a jerk, nope, there's no trig in Sweet Home High School. Of course, there is Geometry 1--which also studies trig--but that's not the name of the course. Some little complaints here and there, but nope, I'm not going that path. Still, making a story--based on a real place--as real as possible is a tough job, so kudos to Adeliany and the editor.

<3
Profile Image for Heybooklover.
14 reviews
August 19, 2018
Novel ini berlatar belakang kehidupan diluar negeri dan bercerita tentang kehidupan anak junior high school. Emily terpaksa kehilangan sahabatnya marry, karena marry pindah ke kota lain. Disaat bersamaan emily juga diputuskan oleh pacarnya Matt, yang sejak kecil sudah menjadi sahabatnya. Emily membutuhkan teman curhat tapi sekarang dia hanya sendiri. Emily melakukan kebiasaannya menulis curahan hatinya di pesawat kertas dan diterbangkan ke teras rumah sebelah, yang dulunya adalah rumah marry. Tapi semenjak marry pindah rumah itu sudah ditempati oleh orang lain. Dan, terlambat! Surat-surat berisi curhatanya sudah dibaca oleh tetangga sebelahnya yang mengaku alien,damn! Emilly berusahan mengambil paksa, dari tyler si tetangga barunya itu. Belum lagi mat yang ternyata masih cemburu dengan tyler karena melihat emily dan tyler ke sekolah jalan bersama.

Novel ini dipenuhi cerita cinta monyet ala emily yang seru untuk dibaca. Dan diakhir novel ada diary tyler yang romantis!
Bagaimana booklovers tertarik membaca ?
Profile Image for Audrey Christina.
45 reviews4 followers
January 7, 2023
🌟 FINAL RATING 1.75 🌟

Menurutku buku ini cukup membosankan. 😅

Ide ceritanya bagus, berkomunikasi menggunakan pesawat kertas dengan tetangga sebelah disaat sudah ada teknologi berupa SMS.

Tapi ya sudah, diluar pesawat kertas itu menurutku gaada yang menarik. Ceritanya bertele-tele, dan selama 3/4 buku tokoh utamanya gaada character development.

Tapi novel ini sangat ringan, jadi cocoklah kalau mau dijadiin selingan habis baca buku yang berat.
224 reviews
October 25, 2014
Pertemuan pertama Emily dan Tyler sungguh mendebarkan. Ia sedang mengendap-endap ke bekas kamar Mary, sahabatnya yang sudah pindah. Kamar itu sudah menjadi milik orang lain, tetangga barunya.

Ketika ia sedang mencari kertas pesawat di beranda kamarnya, saat itulah Tyler datang.

"Asal kau tahu saja, aku ini alien yang datang dari planet yang jauh sekali dari bumi."

"Tidak mungkin!" bantahku.

Ia tidak bereaksi dan tetap menatapku tenang. Aku terus mengamatinya lekat-lekat.

"Tidak ada orang lain yang tahu rahasia ini. Kau satu-satunya. Aku ini alien," ulangnya dengan nada datar.

Bisa bayangkan betapa shocknya Emily? Tetangga barunya ternyata alien!

Membaca novel Sweet Home ini serasa baca buku terjemahan dari penulis luar aja. Bukan hanya karena gaya bahasa, tapi setting latar, pilihan karakter dan budayanya pun budaya Amerika. Saya salut dengan riset mendalam tim penulis (kenapa saya bilang tim? Karena saya yakin editor dan proofread turut berperan memberi masukan soal riset detail deskripsi) karena yang saya dapatkan adalah novel komplit.

Komplit dalam arti kedalaman dan pengembangan karakternya oke, semua karakter juga dibahas dalam peran dan mendapat porsi yang pas. Nggak ada yang cuma sekedar jadi figuran atau numpang lewat. Lalu alur dan plot nggak diragukan lagi, sudah pasti bagus. Dan topik yang diangkat, mulai dari tema cinta remaja, persahabatan, dan keluarga juga dapat bagian sendiri-sendiri dalam porsi seimbang.

Dan saya salut bagaimana Adeliany Azfar mengemas dan menuturkannya dalam 350 halaman dengan sangat baik. Suasana country, perubahan musim, nuansa kekeluargaan, persahabatan antara Emily dan Mary, lalu dengan Tyler. Hubungannya yang rumit dengan Matt, sahabat sekaligus mantan pacarnya. Wow, saya seakan-akan berada disana bersama mereka, ikut menyaksikan semua hal itu.

Secara keseluruhan, ini adalah novel teenlit/young adult yang dipersiapkan secara matang. Bukan sekedar novel young adult tentang cinta monyet yang abal-abal. Nggak heran novel Sweet Home ini menjadi pemenang Kompetisi Menulis Penerbit Haru: 100 Days of Romance 2013.

Omong-omong soal 100 Days of Romance 2013, saya juga sudah baca dan mereview novel pemenang lainnya, People Like Us karya Yosephine Monica. Tentu saja kualitasnya pun tidak kalah oke dengan novel Sweet Home ini meskipun tema yang diangkat berbeda. Wow, saya salut deh sama penulis-penulis baru yang punya talenta luar biasa.

Satu hal saja hal yang kurang sreg di hati saya. Baik untuk novel Sweet Home dan People Like Us, yaitu semuanya berkiblat ke budaya Barat. Dengan kualitas penulisan seperti ini, sangat disayangkan kenapa penulis harus mengambil karakter barat, setting amerika, dan budaya mereka? Jujur, sepanjang membaca novel ini saya terus berandai-andai, ah ini kalau settingnya di Indonesia, misal Kalimantan (jarang kan ada yang ambil setting Kalimantan?), rumah Emily di kota besarnya, Samarinda misalnya.

Untuk pemerannya pun tidak bernama Emily, tapi Emi (biar terasa lokalnya). Terus si Matt, jadi Ahmad (oke, bukannya norak atau mendiskriminasikan nama Ahmad, tapi saya nyari padanan nama yang berima). Sedangkan nama Tyler jadi, Tyo. Lalu hobi Emi soal gitar itu bisa tetap gitar, karena gitar telah menjadi alat musik universal. Soal skateboard itu bisa diganti olahraga yang familiar saja, misal sepak bola atau bola voli atau bulu tangkis. Kemudian, ayah Em yang mantan penyanyi country terkenal bisa dimodifikasi menjadi mantan penyanyi keroncong paling terkenal di zamannya.

Setelah baca pengandaian saya diatas pasti banyak yang sewot, "Ah, cuma tukang review aja nyolot amat sih, yang nulis siapa yang bawel siapa?" tapi hey, sebelum saya menjadi tukang review, terlebih dahulu saya adalah seorang tukang baca. Dan apalah arti seorang penulis tanpa orang yang jadi pembaca karyanya? Lagi pula, saya bawel begini juga karena saya suka banget novel ini.

Bayangkan sodara-sodara, betapa novel tersebut akan lebih mudah dicerna dan terasa seperti dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Apalagi Indonesia punya keragaman budaya yang tiada duanya. Kenapa kita nggak maksimalkan potensi yang ada sebelum beralih ke budaya luar? Bayangkan betapa novel ini akan memberikan efek yang lebih besar bagi dunia kepenulisan teenlit dan sastra Indonesia.

Bukannya saya nggak puas atau gimana, tapi saking sukanya saya sama kisah sederhana yang ditulis dengan apik, saya jadi makin punya ekspektasi lebih terhadap novel ini. Apalagi saya sudah jarang sekali bisa menemukan novel young adult karya penulis lokal yang berkualitas. Rata-rata yang mainstream dan begitu-begitu saja. Harapan saya, penulis yang memiliki kualitas seperti Adeliany Azfar dan Yosephine Monica penulis novel People Like Us, bisa lebih mengeksplore budaya lokal sehingga banyak pembaca yang dapat menikmati dan mengapresiasi Indonesia.

Anyway, saya sangat menikmati kisah persahabatan Emily dengan Tyler, saya suka bagaimana cara Tyler mengatasi rasa sukanya ketika Emily masih belum bisa move on dari Matt, dan bagaimana Emily membantu Tyler untuk mengatasi masalah krisis kepercayaan terhadap orang tuanya. Ayo pecinta teenlit atau mungkin yang masih ABG, saya rekomendasikan buku ini untuk kalian baca :D


Baca review lainnya di blog buku saya: http://www.okydanbuku.com/2014/10/swe...
Profile Image for Indah Indah.
4 reviews
April 3, 2021
Ceritanya bagus dan mengalir. Latarnya juga dijelasin begitu detail. Beberapa adegan kusukai dan membuatku tersenyum sambil membayangkan kejadiannya. Ceritanya simple dan cukup romantis, tapi entah mengapa feel roman antara Ty dan Emily kurang terasa bagiku. Aku tak bisa merasakan hatiku menjadi hangat walau aku menyukai kebersamaan mereka. Selain poin itu semuanya bagus
Profile Image for Intan Pratiwi.
43 reviews
May 29, 2022
Suka banget sama ceritanya, walaupun novel ini udah lumayan lama dan teenlit dan saya emak emak, hehehe. Jujur tyler adams tuh tipeku banget orangnya baik, iseng, jahil walaupun begitu dia blak blakan persis dan mirip dengan suamiku karakter nya 😁😆😆.
Profile Image for Mas Alif.
175 reviews3 followers
May 19, 2024
Jelek banget. Bukan genre saya sama sekali.
Profile Image for Inge.
150 reviews3 followers
October 8, 2014
Cerita tentang kehidupan Emily setelah 'ditinggalkan' oleh sahabatnya yang tak berselang lama setelah jalinan kasihnya dengan 'teman masa kecil'nya kandas. Emily yang merasa sendiri, tak lagi bersemangat untuk menjalani hari-harinya. Ia belum sepenuhnya dapat melupakan mantan kekasihnya, walau ia sudah tidak lagi melakukan hal-hal yang dulu sering ia lakukan bersama mantannya.

Namun, kemudian hadir Tyler, yang awalnya 'mengganggu' kenyamanan Emily. Tingkah polah Tyler yang terkadang bisa dikatakan membuat ulah membuatnya dijauhi oleh teman-teman di sekolahnya, begitu juga yang dilakukan oleh Emily. Namun ternyata ada cerita tersendiri dibalik kelakuan 'ajaib' Tyler.

Perkenalan Emily & Tyler bisa dikatakan berawal dari tindakan ceroboh Emily, namun akhirnya walau awalnya Emily menjauhi Tyler mereka menjadi dekat. Namun kedekatan mereka ternyata mengundang kecemburuan Matthew, mantan Emily. Matthew sendiri ternyata sama dengan Emily, ia juga tidak bisa melupakan Emily begitu saja. Hingga akhirnya ia mulai lagi mendekati Emily.

***

Cerita dalam buku ini bisa dibilang sangat ringan. Sempat seperti bisa menebak akan bagaimana cerita dibuku ini bergulir, namun ada beberapa kejutan yang diberikan oleh penulisnya.

Selain kisah romance-nya yang bisa dikatakan konfliknya masih cenderung biasa, yang paling saya suka dari buku ini adalah cerita tentang keluarga yang dihadirkan. Kisah tentang Ayah & Ibu Emily yang berpisah, tetapi mereka masih begitu menjaga hubungan baik. Walau salah satu dari mereka sudah menikah kembali, namun hubungan 'keluarga' seakan tak pernah putus.

Orang-orang bilang hidupku menyedihkan karena kedua orang tuaku bercerai dan terpaksa hidup berdua dengan Gran. Namun tanpa mereka tahu, hidupku jauh lebih bahagia dengan hidup terpisah dari Mom dan Dad. Kini mereka lebih akur ketika tidak lagi terikat hubungan pernikahan, dan kami pun masih bisa menyayangi seperti saat ini. (Hal. 50)

Awalnya saya sempat heran, mengapa penulis menggunakan setting luar negeri. Saya hanya menduga bagian cerita keluarga ini bisa menjadi salah satu alasannya. #soktau# Karena memang untuk kondisi jika menggunakan setting dalam negeri masalah perpisahan yang sering saya baca adalah berujung konflik, atau masih terkesan bahwa berpisah *bercerai* adalah sesuatu kesalahan besar. Bukan berarti saya membenarkan semua perceraian yang terjadi, hanya saja terkadang masih ada penyangkalan jika perpisahan itu bisa membuat yang menjalaninya lebih bahagia. :D

Ah, kok jadi ngelantur ya. #maafkan#

Saya suka dengan karakter Tyler, terlebih kisah lain yang dijelaskan Aaron, kakaknya, tentang tingkah aneh Tyler. Seorang anak yang tidak ingin dibanding-bandingkan terlebih dengan kakaknya sendiri. Seorang anak yang mencari perhatian dengan caranya sendiri.

"Jadi itu alasanmu selalu membuat onar di sekolah? Kurasa kau terlalu terobsesi untuk bertemu dengan ayahmu untuk diinterogasi." (Hal. 130)

Awalnya memang terkesan jail dan tipe pembuat onar, namun ternyata ia juga memiliki keinginan untuk dipandang tak lagi sebelah mata. Khususnya oleh keluarganya. Cara Tyler untuk bisa dekat dengan orang yang dicintainya cukup unik, antara gemas juga pengen jitak saat bacanya.

"Katanya, ia ingin kau bahagia dengan Matt." (Hal. 256)

Tentang Matthew, entah kenapa karakternya terkesan jahat. Mulai dari tindakannya memanas-manasi Emily sampai dengan apa yang ia lakukan di pesta Andrea.

Dan untuk Andrea sendiri benar-benar standar cewek 'jahat' di sekolah. :D Mulai bagaimana ia berpura-pura sakit untuk mendapat perhatian Matt, sampai apa yang dia lakukan di pestanya. Entah kenapa kok rasa-rasanya Matt lebih cocok dengan Andrea. Hehehe.

Buku ini bisa dibilang alurnya lumayan cepat, dan cerita mengalir. Namun entah seperti kurang menemukan greget dari konflik yang diciptakan. Lebih banyak mudah tertebak bagaimana kisah Matt - Emily - Tyler ini. Tapi walau mungkin ada bagian-bagian tertentu yang mudah tertebak namun buku ini cukup membuat penasaran.

Satu lagi, dari apa yang dilakukan Tyler dengan sifat membangkangnya, saya rasa baik untuk lebih digali. Terkesan hanya karena ia terlalu dibandingkan dengan kakaknya. Kedekatan keluarga hanya ditunjukkan dalam keluarga Emily, sedang dari keluarga Tyler entah kenapa hanya terlihat konfliknya saja, walau mungkin penggambaran bagaimana Aaron yang begitu mengerti Tyler, tapi tetap berasa kurang.

Yang menarik adalah tulisan semacam catatan harian dari sisi Tyler, tak banyak tapi buat saya itu so sweeeeeeet. :')

3,5 untuk kisah Tyler - Emily - Matthew - Andrea.
Profile Image for Rizcha Mawadah.
50 reviews1 follower
March 3, 2016
Judul: Sweet Home
Penulis: Adeliany Azfar
Penyunting: Yuli Yono
Design Cover: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Penerbit Haru
ISBN: 978-602-7742-41-3
Tahun terbit: Oktober 2014 – Cetakan Pertama
Jumlah halaman: 360 halaman
Harga: Rp. 54.000,- (Tapi aku dapet buku ini dengan potongan Rp. 16.200,- ^^)

Merupakan Pemenang 100 Days of Romance Penerbit Haru’s Writing Competition.

Sinopsis:
Bagi Emily Cox, naik ke grade 11 sama dengan gejolak emosi yang tiada habisnya.

Matthew Cooper, pacar sekaligus temannya sejak kecil, memutuskan hubungan mereka. Sementara Marion – Mary – Scott, sahabat dan tetangga sebelah rumahnya, terpaksa pindah dari Sweet Home ke kota lain setelah ibunya menikah lagi.

Saat Emily menyangka kehidupannya tidak bisa lebih buruk dari itu, puluhan pesawat kertas berisi curahan hati rahasia yang ia terbangkan ke teras rumah sebelah, yang semestinya ditujukan kepada Mary, hilang tiba-tiba!

Lalu muncullah Tyler Adams, tetangga baru yang dengan seenaknya selalu merecockinya dan membuat hari-harinya semakin menyebalkan.

Apa sih sebenarnya tujuan cowok itu?

Review:
image

Suka sekali dengan covernya yang unik. Dan terima kasih untuk pesawat kertasnya yang bikin aku pengen bikin juga. Suka iseng dan kurang kerjaan emang. ^^ Di bagian depan itu rumah Emily kan? Di bagian belakang itu rumah Mary atau Ty? Covernya sempurna buat aku yang butuh gambaran untuk sebuah tempat. Suka suka suka. ^^
image

Emily kehilangan sahabatnya Mary, yang harus pindah dari Sweet Home sekaligus Matt, kekasihnya di saat yang hampir bersamaan. Isi awal buku ini sebagian besar berisi suasana hati Em yang pedih dan pilu. Membuat gemas saja. Tapi waktu ingat kalau Em masih remaja, wajar saja itu terjadi. Mary dan Matt selalu ada untuknya. Mary sekarang tak lagi jadi tetangga samping rumahnya dan hubungannya dengan Matt tak lagi sebaik dulu.

Di tengah rasa kesalnya akan Matt yang berubah juga kepergian Mary, ia membuat pesawat kertas yang berisi curahan hatinya kemudian melemparnya ke teras kamar rumah sebelah yang ada di depan kamar rumahnya. Kebiasaan yang dulu ia lakukan dengan Mary. Ia sedih karena ia tak akan mendapatkan balasan akan pesawat-pesawat kertas itu. Lelah karena kesedihannya, ia tertidur. Ketika bangun keesokan harinya, ia tak menemukan pesawat kertas itu di mana pun.

Saat mencari pesawat-pesawat kertas berisi curahan hati miliknya di teras kamar rumah sebelah, ia bertemu dengan cowok aneh yang mengaku dari luar angkasa. Cowok itu rupanya akan menempati kamar yang dulunya adalah kamar Mary dan ia merupakan anak kedua dari keluarga yang akan menjadi tetangga barunya. Ia bernama Tyler Adams, atau biasa dipanggil Ty. Cowok itu juga akan sekolah di tempat yang sama dengan Em. Jadi, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Mulai dari berangkat sekolah dan pulang sekolah.

Ty suka sekali menjahili Em, entah apa tujuannya. Tapi dari situ mereka jadi cukup dekat untuk belajar bersama. Bahkan Ty meminta Em untuk mengajarkannya bermain gitar. Karena itu di covernya ada gitar kan di teras kamar Em? Hehehehe.

Kisah di dalam buku ini dibumbui dengan cantik khas anak SMA. Sangat remaja dan membuatku teringat dengan masa sekolah. Bahkan cinta di dalamnya juga jenis cinta para remaja yang hangat dan menyenangkan. Masalah yang ada di dalamnya juga khas masalah yang ada di SMA. Benar-benar membuatku bernostalgia.

Satu-satunya hal yang aku tidak suka hanya ketika Em sedih dan terlalu mengeluh. Yah, mungkin karena ini diceritakan dari sudut pandang Em. Hanya saja, karena semua terasa nyata bagiku, aku merasa sangat tidak nyaman ketika Em bersedih. Tapi, ketika dia bahagia, ceria dan tersenyum, aku merasa bahagia. Moment ia bersama Ty yang banyak kekonyolan karena Ty cowok yang suka iseng, sering membuatku tersenyum sendiri.

5 of 5 star for this book

PS: Aku penasaran. People Like Us dan Sweet Home ini kan sama-sama merupakan Pemenang 100 Days of Romance Penerbit Haru’s Writing Competition. Aku kira waktu baca People Like Us karena Yosephine Monica masih SMA jadi kisahnya kisah anak SMA. Tapi waktu baca Sweet Home aku pikir ini karena tema. Keduanya sama-sama mengangkat kisah anak SMA di luar negeri kan? Dan keduanya sama-sama romantis dan manis untuk kisah remaja SMA dengan caranya masing-masing. Aku suka keduanya. ^^
Profile Image for Siti Robiah A'dawiyah.
174 reviews23 followers
October 15, 2014
Bagian menarik dari novel remaja adalah kenangan. Saat membaca novel ini pembaca akan dibawa berkeliling dengan nostalgia masa muda. Ya, tingkat SMP atau SMA. Masa remaja yang penuh dengan emosi meluap tentang kisah cinta, pertemanan, dan persahabatan. Begitu pula dengan rasa yang diperoleh saat membaca novel Sweet Home. Melalui Emily, Matt, dan Ty, pembaca akan diajak mengenang hari-hari sebagai remaja. Tema sederhana tapi memunculkan kisah manis. Penulis membawa alur yang mengalir dan tidak tergesa-gesa. Hanya saja, saya merasa novel ini mungkin akan dibuat sekuel. Mungkin penulis menyiapkan sekuel, ya?. Karena jujur saja, saya belum puas dengan akhirnya. Masih penuh pertanyaan tantang bagaimana kisah Em-Ty selanjutnya? Bagaimana dengan Matt? Bagaimana dengan Mary? Kok, dia gak berkunjung ke Sweet Home padahal dekat sekali dengan Em? Apa kabar dari SBC? Tody? Andrea?. Yah, seperti itu, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Saya berharap mungkin penulis mau menulis sekuel^^.
Karakter favorit? Saya menyukai ayah Em, Zach, yang mengemong dan asyik. Sepertinya menyenangkan punya ayah yang bisa punya hobi sama dengan kita. Zach sebagai penyanyi country dapat bermain gitar dan Emily juga dapat bermain gitar. Sehingga keduanya kompak bisa bermain gitar. Belum lagi, Zach sangat terbuka menerima curhatan dari Em. Zach sukses membuat saya jatuh hati. Dialog yang dimunculkan penulis tidak berat untuk ukuran remaja. Sederhana. Dengan setting yang di luar Indonesia, tepatnya di Sweet Home, cocok saja untuk kisah ini. Beberapa adegan favorit adalah saat Tyler ngelindur di pagar rumah Emily sambil mnedengarkan Emily bermain gitar, saat Tyler sedikit-demi sedikit mengembalikan pesawat kertas milik Em, saat ulang tahun ibu Ty, dan saat Andrea berbohong tentang dirinya yang terkena sikut Emily (kebayang aja si Andrea yang tipikal gadis manja merengek ^^ oops, sorry Andrea).
Sweet Home merupakan bacaan ringan dan meninggalkan kesan manis bagi saya ^^
Another Review
Profile Image for Sista Sulistiyawati.
4 reviews
February 12, 2015
Naik satu tingkatan ke grade sebelas adalah neraka bagi seorang Emily. Emily dan Mary yang biasanya bisa setiap saat bertemu (karena mereka bertetangga, dan satu sekolah) kini harus saling berjauhan. Perpisahan dengan Mary membuat Emily kehilangan semangat hidup. Terlebih lagi Emily juga baru saja diputuskan kekasihnya yang bernama Matt. Kehilangan dua sosok yang sangat istimewa di hati Emily membuatnya malas keluar rumah dan lebih sering mengurung diri di kamar.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Penderitaan Emily belum berakhir di situ. Emily harus bertemu dengan tetangga baru yang menyebalkan bernama Tyler. Apa maksud sikap Tyler yang menyebalkan ini? Kuatkah Emily menjalani hari-harinya di grade sebelas ini?


Kelebihan:
1. Alur
Alurnya menarik dan membuat penasaran, karena berpusat pada Emily dan menceritakan keseharian gadis itu.
2. Penggambaran watak tokoh.
Penulis menggambarkan watak tokoh-tokohnya dengan baik. Penulis tidak menceritakan langsung watak dari masing-masing tokohnya, tapi penulis menggambarkan watak masing-masing tokohnya melalui dialog antartokoh serta perilaku dan tindakan yang dilakukan oleh tokoh. Hal itu bisa memancing rasa penasaran pembaca terhadap kelanjutan ceritanya.
3. Gaya Bahasa
Novel setebal 356 halaman ini dikemas dengan penggunaan bahasa nonformal (tidak resmi) sehingga bisa lebih komunikatif dan lebih luwes. Selain itu novel karya Adeliany Azfar ini menggunakan diksi yang menarik karena penulis menyertakan beberapa kata-kata asing. Dengan demikian novel ini tidak monoton (lebih bervariasi) dan membuat pembaca tidak jenuh ketika membacanya.


Kekurangan:
1. Konflik.
Konflik yang tersaji terlalu ringan sehingga kurang menimbulkan gereget pada pembaca. Andai saja penulis menambahkan konflik-konflik yang lebih berat lagi, pasti klimaksnya bisa lebih memancing gereget/emosi pembaca. Misalnya, suatu kejadian/ penghalang yang besar bagi hubungan Emily dan Tyler. Misalnya Emily dan Tyler terpisah karena jarak dalam jangka waktu yang lama.

Profile Image for Zelie.
Author 2 books13 followers
October 15, 2014
Bikin gemes sampai memaksa saya lanjut baca terus walau sudah ngantuk.

Saya rasa sinopsis buku tersebut sudah cukup mencerminkan isi cerita, jadi saya tidak akan membahas lebih lanjut lagi.

Selama membaca cerita ini, secara otomatis saya membayangkan adegan dalam serial TV remaja a la Hollywood. Cewek populer yang menyebalkan, mantan yang gak bisa move-on, cowok cupu yang berusaha menjadi sahabat kita, dan seterusnya. Serasa sedang membaca novel terjemahan, adaptasi dari film.

Juga, terus terang saja... saya merasa masa remaja saya sudah terlalu lama berlalu saat membaca buku ini. *sigh

Saya gak suka dengan Tyler, yang sebenarnya adalah salah satu tokoh utama. Saya merasa dia menjengkelkan, terutama saat dia menyinggung soal hubungan Emily dengan Matthew di depan Gran. Terus, menurut saya sih, adalah aneh Gran masih gak paham juga. Itu terlalu explicit sih, cara Tyler menyinggungnya.

Saya malah tim pendukung Matthew dan merasa surat di akhir novel ini menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada menjelaskan yang sudah lewat.

Selalu dan selalu deh, saya masalah sama surat ._.

Sayang juga, ada beberapa hal yang sebenarnya bisa digali lagi oleh penulis tapi diceritakan seperlunya. Contohnya, saya tidak terlalu merasakan kedekatan Emily dengan Mary.

Tapi tetap saja, seperti yang sudah saya sebutkan, terlepas dengan ketidaknyamanan yang saya rasakan di atas, saya berhasil menyelesaikan buku ini dalam waktu 3 jam. Penulis berhasil membuat saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya dan tidak merasa bosan.

Kejengkelan saya dengan sang tokoh malah menunjukkan kalau penulis berhasil memberi karakter dalam tokoh.


Semoga saja ada produser yang tertarik menjadikan novel ini film atau FTV. Daripada bosen dengan setting Jogja atau Bali XD
Profile Image for Rie_dominique.
664 reviews66 followers
November 13, 2014
Hal yang pertama menarik perhatian saya pada buku ini adalah covernya. Sangat manis dan sesuai dengan deskripsi yang ada didalam buku. Memang kalau mengenai cover buku, keahlian Penerbit Haru sudah tidak diragukan lagi. Semua cover bukunya memikat, sehingga mengundang selera untuk membuka dompet untuk membeli :)

Isi cerita juga khas dengan segala permasalahan remaja. Sahabat yang pergi jauh, kekasih yang hilang, munculnya seorang teman yang memberi angin baru dalam kehidupan galau tokoh kita, Emily.

Cerita ditulis dengan manis tanpa drama yang terlalu berlebihan. Walaupun ada juga beberapa hal yang rasanya kurang mengena bagi saya. Seperti sifat Tyler yang menurut saya terlalu kekanak-kanakkan. Rasanya sifat Tyler lebih terasa seperti murid SD daripada murid high school. Dan juga sifat ingin tahu dan suka ikut campurnya itu kadang-kadang bikin bete juga bacanya.

Persahabatan Mary dan Emily yang walaupun sudah terpisah jarak masih tetap terjalin. Segala sesuatu percakapan antara Mary dan Emily dibuat seperti sebuah chat/sms. Unik memang, tetapi kadang pengen juga membaca percakapan real antara Mary dan Emily. Membaca deskripsi gerak tubuh mereka saat sedang mengobrol. Dan karena chat mereka cukup pendek, hubungan persahabatan antara Mary dan Emily yang seharusnya sangat kental ini agak kurang terasa.

Secara keseluruhan novel ini cukup enak dibaca dengan konflik remaja yang ringan dan tidak berbelit-belit atau keterlaluan lebay-nya.


Full review bisa lihat disini

Profile Image for ima.
102 reviews3 followers
March 18, 2015
Well, walau sudah tahu bagaimana akhirnya tapi tidak ada salahnya untuk membaca kisah Emily dan Tyler ini.

Manis. Itu kesanku terhadap Ty ini. Laki-laki itu memang menyebalkan tetapi ada alasan dibalik sikapnya itu. Dan demi membuktikan kepada keluarganya, Ty rela belajar bermain gitar bersama Em untuk dipersembahkan kepada mamanya. Manis kan sikapnya? Haha.

Emily Cox. Di awal cerita dia benar-benar terlihat lemah. Dia sama sekali menghindar Matt, apapun yang berhubungan dengan cowok itu. Ya, iya sih, itu salah satu cara untuk move on, tapi jangan menyiksa diri juga sih. Dan, aku paling kesel deh ketika mereka balikan. Oh, Em, kau mau saja sih jatuh di lubang yang sama dua kali? Tapi dengan mengalirnya cerita, kepribadian Em sedikit mulai sedikit berubah, terutama sikapnya terhadap Matt.

Matthew Cooper. Dia cowok gentleman sekali. Berani minta maaf dengan apa yang sudah diperbuatnya. Tapi, sungguh deh. Saat pestanya Andrea, posisi Emily kan pacarnya, kenapa dia sebegitu marahnya sih? Seharusnya dia merangkul Emily dong! Yah, aku cukup emosi saat baca adegan itu. Benar-benar deh si Matt ini. Minta dihajar banget, untungnya di akhir cerita sikapnya berubah.

Tapi, karena aku sudah dapat menebak akhirnya hanya dari sinopsisnya, dan ceritanya terlalu panjang dan bertele-tele (aku baru selesai baca setelah lima hari, omong-omong) aku hanya beri tiga bintang. Kesan yang manis dengan Ty. Kavernya yang menentramkan hati. Juara kompetisi menulis.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
October 25, 2014
"Mendadak, semuanya menjadi jelas untukku. Ini adalah tahun terburuk yang akan kujalani. Aku tak tahu apa bisa melaluinya atau tidak. Tanpa Matt. Tanpa Mary. Ditambah lagi, entah mengapa, aku memiliki firasat kalau cowok kekanakan bernama Tyler alias Ty alias Mr. Alien ini akan merecoki hidupku."

Kehidupan Emily Cox berubah suram semenjak sahabat sekaligus tetangganya, Mary, harus pindah ke kota lain; dan ia baru saja putus dari pacar sekaligus teman masa kecilnya, Matt. Mengingat kebiasaannya menulis surat dalam pesawat kertas dan menerbangkannya ke teras kamar Mary, Emily menulis semua keluh kesahnya dan menerbangkan sejumlah pesawat ke kamar yang sudah kosong itu. Tidak Emily ketahui sebelumnya bahwa keluarga Adams akan menjadi tetangganya yang baru. Saat Emily hendak memungut semua pesawat kertasnya, ia malah bertemu dengan lelaki iseng yang mengaku sebagai seorang alien. Mr. Alien itu kemudian ia kenal sebagai salah satu anak keluarga Adams, lelaki bernama Tyler yang akan mengusik kehidupan Emily....

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2014/1...
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
October 11, 2014
Masa remaja memang menyimpan dilemanya sendiri.
Ini yang ditampilkan dalam kehidupan Emily Cox.
Kehidupannya yang berubah saat naik ke grade 11 membuatnya merasa kesepian.
Sahabatnya, Mary, yang pindah ke kota lain. Kekasihnya, Matt, yang memutuskan hubungan karena merasa bahwa Em kurang feminim membuat hati Em remuk. Kekesalannya bertambah saat mendapati bahwa seorang anak lelaki menyebalkan menjadi tetangganya menggantikan Mary.
Tetangganya itu, Tyler, kemudian terus merecoki kehidupannya. Tyler juga menjadi orang paling menyebalkan di sekolah dengan berbagai kejahilannya.
Namun lambat laun Em pun merasa nyaman dan merasa bahwa Tyler malah menjadi pelindungnya yang paling setia

Ah, dilema masa remaja yang indah.
Dan tokoh nakal seperti Tyler jauh lebih mudah dicintai daripada cowok populer namun tukang ngatur seperti Matt.
Selain itu, tokoh Em termasuk tipe remaja yang kuat dan nggak melulu galau mellow.

Meski orang tuanya bercerai, namun itu tidak membuat ia meratapi nasibnya bahkan saat diputuskan oleh Matt.

Hm..pokoknya buku ini remaja banget tapi nggak cengeng (^_^)
Profile Image for Naomi Chen.
228 reviews14 followers
October 21, 2014
It supposed to be 3.5 stars, not only 3 stars.

Quite ordinary. Triangular love, but the writer can expressed her style in a chic way. Cliche story, but she made quite complicated. Honestly it has 'guessable ending', but yeah, I like happy ending.

But what I called 'cute coincidence' is, why both the male main character in this book and 'People Like Us' is middle child? And both of them has older brother (and hold at least 'little' envy feeling to them) and little sister? And why both has Western Setting? Hahaha

This book has more light style, light ending, light case. I always love 'romantic' and 'creative' part such as paper-jet-message, or somewhat called simplicity in romance. From friends, became a boy/girlfriend. This book tell us many things about that matter.

Well done, writer. Congratulations for winning the competition too~!
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
November 18, 2014
Habis dalam beberapa jam :)
Gaya Azfar sedikit mirip Colasanti.
Masuk ke dalam kehidupan sehari2 dan mengalir.
I particularly like the female lead here :)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.