Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sagra

Rate this book
Apakah hidup akan menyisakan sepotong kecil, seukuran kuku kelingking, sedikit saja, keinginanku yang bisa kutanam dan kusimpan sendiri? Hyang Widhi, apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak, sehingga Kau pun tak mengizinkanku memiliki impian? Apakah Kau laki-laki? Sehingga tak pernah Kau pahami keinginan dan bahasa perempuan sepertiku?

182 pages, Paperback

First published January 1, 2001

51 people are currently reading
402 people want to read

About the author

Oka Rusmini

28 books140 followers
Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story.
Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014).
Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015).
In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Literary Works for her novel Tarian Bumi. In 2012, she received the Literary Appreciation Award from the Agency of Language Development and Cultivation, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, and the South East Asian Write Award, Bangkok, Thailand, for her novel Tempurung. Her book of poems Saiban (2014) won the national literary award, “Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014”.
She was invited to national and international events, such as Literary Festival Winternachten in Den Haag, Amsterdam, Netherland (2003), Singapore Writer Festival (2011), and OZ Festival, Adelaide, Australia (2013). She was also invited as guest writer in Hamburg University Germany (2003).

Oka Rusmini can be contacted at
Twitter: @okarus
Email : tarianbumi@yahoo.com.
Facebook Page: oka rusmini

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
94 (19%)
4 stars
213 (43%)
3 stars
149 (30%)
2 stars
24 (4%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 91 reviews
Profile Image for Sri Noviana Zai.
115 reviews7 followers
January 9, 2022
Selesai baca Tarian Bumi, aku lanjut baca Sagra. Begitu baca sinopsis di belakang bukunya aku kaget, wah ngeri kali praduganya terhadap Tuhan. Buku ini kumpulan cerita pendek, bukan novel. Kumpulan cerita-cerita pendek tentang perempuan dan tubuhnya, perempuan dan segala impiannya, perempuan dan masalah patriarki, perempuan dan segala adatnya di Bali

Benar-benar ya seorang Oka Rusmini sangat berani mengkritisi budayanya sendiri melalui cerpen, novel, dan puisi

Judulnya Sagra, Sagra ini salah satu judul cerpen yang ada di dalam buku dan salah satu tokoh perempuan yang memiliki kerumitan silsilah keturunan

Kurangnya dari buku ini adalah kerap ada satu dua tokoh yang namanya sama dengan cerita lain, juga namanya sama dengan tokoh yang ada di novel Tarian Bumi. Pertanyaanku adalah apakah nama yang sama ini adalah satu tokoh? Sedangkan cerita dan silsilah keluarganya sangat berbeda. Mungkin ada maksud dari itu, tapi baiknya penulis memberi nama yang berbeda-beda di setiap cerita

Aku paling suka kisah Putu Menolong Tuhan. Plot twistnya dapat bangeeetttt, dan pertanyaan-pertanyaan kritis dari Putu juga membuatku ikut berpikir jauh

Saranku juga kepada penulis, jika suatu saat nanti buku ini akan dicetak ulang dengan cover lama ataupun baru, mohon cantumkan "Trigger Warning" di cover, ini penting
Profile Image for Bunga ✿.
186 reviews10 followers
January 25, 2023
Kumpulan cerita tentang kehidupan masyarakat Bali dengan karakter yang beraneka ragam kepribadiannya. Agak bingung di beberapa cerita, tapi beberapa cerita lainnya memiliki akhir cerita yang membuat pembaca tercengang. Suka glosariumnya yang lengkap dan membantu memahami cerita di buku ini
Profile Image for Nara.
23 reviews3 followers
October 27, 2013
Saya pertama kali berkenalan dengan Oka Rusmini melalui novel Tarian Bumi. Kenapa saya menyukai novel itu?? Sederhana saja : karena temanya tentang Bali. Lebih spesifik lagi : tentang kasta dan belitan patriarki yang berkelindan di daerah kelahiran saya itu. Sejak itu saya menandai Oka Rusmini sebagai salah satu penulis yg harus saya ikuti karyanya.

Kumcer Sagra saya dapatkan di tempat yang sama sekali tak terduga : sebuah toko barang bekas!!
Awalnya saya hanya ingin mencari barang-barang bekas berharga miring macam sepatu atau rak buku. Ternyata, toko ini juga menjual buku-buku bekas. Bahkan koleksinya pun terhitung lumayan, buktinya saya menemukan buku ini dan buku klasik"I Swasta Setahun di Bedahulu" karya AA Panji Tisna. Saya mendapatkan buku ini dengan harga yang terhitung murah, hanya sekitar 25 ribu. Padahal buku ini terhitung langka (saat ini buku Sagra dicetak ulang oleh Gramedia, sedangkan saya mendapatkan edisi pertamanya yg diterbitkan oleh Indonesia Tera!!).
Menarik lepas buku ini dari tumpukan buku berdebu saja sudah merupakan keberuntungan, apalagi ditambah dengan harganya yang miring!! Syukur!!


Dalam kumpulan cerpen ini, tema yang diambil oleh penulis masih sama. Hanya saja, karena mediumnya cerpen, Oka Rusmini bisa memilih banyak setting waktu dan tempat yang berbeda-beda untuk 'menggelar' imajinasinya. Kasta, represi perempuan oleh adat dan gejala patriarki masih menjadi kajian utama.
Keluarga dan desa adat pun masih menjadi latar belakang yang dominan seperti karya-karya Oka Rusmini lainnya. Berdasarkan pengalaman pribadi saya di Bali, keluarga sebagai unit sosial terkecil dan terdekat bagi manusia memang menjadi 'hulu' dimana segala kekerasan potensial dimulai. Kekerasan yang menimpa tokoh-tokoh di kumcer ini (yang hampir semuanya adalah perempuan)
lahir dari banyak dimensi, entah itu kecemburuan, gengsi, nafsu, hasrat dan lain sebagainya. Uniknya, seluruh penyebab itu mendapatkan justifikasi dari satu hierarki tertinggi : adat!!

Beberapa cerpen yang menarik bagi saya adalah cerpen Putu Menolong Tuhan (yang pernah menjadi cerpen terbaik Femina)dan Pemahat Abad (Cerpen terbaik majalah Horison 1990-2000). Saya memilih kedua cerpen itu tidak hanya karena embel-embel yang mereka raih, namun keduanya secara estetis memang menarik. Putu Menolong Tuhan adalah cerpen terbaik di buku ini menurut saya. Berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya dimana Oka Rusmini menonjolkan keindahan kata, eksplorasi bentuk dan lompatan imajinasi (seperti di cerpen Pemahat Abad atau Pesta Tubuh yang 'mengerikan'itu), Putu Menolong Tuhan justru menonjol karena kesederhanaannya. Cerita sederhana tentang kebencian seorang cucu kepada neneknya karena sang nenek memperlakukan ibunya dengan semaunya hanya karena si ibu berkasta lebih tinggi, lebih menjurus ke arah refleksi kehidupan sehari-hari. Tetapi, tindakan si cucu dalam menunjukkan rasa protes kepada si nenek di akhir cerita merupakan sebuah kejutan tersendiri. Edan.
Esensi Nobelia adalah cerpen yang sangat hangat, tentang seorang anak bernama Nobelia yang menjadi tumpuan harapan dan kasih sayang dari dua orang tua yag 'dikucilkan' keluarga karena menikah dalam kondisi berbeda agama (mungkinkah ini curhatan sang penulis??). Cerpen ini memiliki nuansa kehangatan yang sangat pekat. Kita dapat melihat bagaimana proses jatuh-bangunnya sebuah keluarga muda yang tidak direstui keluarga dan harus bergelut dengan kondisi ekonomi yang buruk. Di saat-saat mereka goyah, kelucuan dan kejenakaan Nobelia menjadi katarsis yang membasuh keraguan dan menjauhkan kedua orang tuanya dari keterpurukan. Sungguh subtil.

Yah, apabila sidang pembaca mendapatkan kesempatan memperoleh kumcer ini, saya sarankan untuk memulainya dari Esensi Nobelia (cerpen ini adalah cerpen pembuka di buku ini) atau Putu Menolong Tuhan...


Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
October 28, 2023
Kombinasi dari tulisan yang lirih dan sensual. Kemudian dengan berani mengupas hal-hal yang tabu dengan kritik sosial yang bernas. Mengupas atu persatu: seksualitas, sistem kasta, kritik peranan gender di latar belakang Bali yang asri.

Pembacaan kali kedua memberikan pengalaman baru yang lebih terasa.
Profile Image for Hayatun Nafysa.
60 reviews14 followers
June 28, 2017
Saya lebih menyukai "Tarian Bumi", tapi gaya bercerita Oka Rusmini masih tetap gripping seperti biasa. Ada beberapa elemen yang cukup brutal dan disturbing, serta beberapa trigger warning untuk perkosaan, kekerasan, dan lain-lain. Buku ini memang bukan untuk penikmat romansa ringan karena plot dari tiap-tiap cerpen cenderung berat, dan cukup mengusik pikiran dengan topik perbedaan kasta bali, feminisme, trauma, dan eksplorasi seksualitas perempuan.

Beberapa cerpen yang saya suka adalah Api Sita, Sagra, Ketika Perkawinan Harus Dimulai, dan Cenana. Jika harus memilih satu cerpen yang terbaik, saya akan menominasi Sagra dan Ketika Perkawinan Harus Dimulai, karena keduanya sangat berkesan bagi saya, terlebih Ketika Perkawinan Harus Dimulai dimana saya bisa relate on a spiritual level dengan tokoh Bulan. Saya cukup suka dengan Pemahat Abad dan Putu Menolong Tuhan. Esensi Nobelia juga merupakan cerita yang sangat cocok dijadikan cerpen pembuka karena ending -nya cukup mind blowing.

3 out of 5 stars.
Profile Image for Maulid.
80 reviews1 follower
March 18, 2022
Baik sejauh ini aku sudah membaca Tarian Bumi - Kenanga - Sagra. Buku yang mulanya aku kira ketiga tokohnya saling terhubung, tapi ternyata bukan. Alasan aku mengira ketiga buku ini terhubung adalah nama tokohnya yang sebelumnya muncul di novel Tarian Bumi.

Topik yang diangkat masih sama dengan dua novel sebelumnya yang sudah aku baca dan sebutkan di atas. Sagra sendiri merupakan kumpulan cerpen. Berangkat membaca buku ini aku sedikit kurang nyaman (?) dan kurang paham dengan isi cerita Kakus, tapi di cerita-cerita selanjutnya aku bisa menikmati. Di sini Bu Oka benar-benar tampil berani dan blak-blakan dalam isi ceritanya juga bikin aku kehabisan napas selama membaca. Hanya saja catatan untuk penulis (dan mungkin penerbit) bisa mencantumkan TW.

Bagian yang aku suka: Sepotong Kaki, Api Sita, dan Putu Menolong Tuhan (aduhhh dua cerita justru mengandung tw)

Mungkin setelah ini aku bakal baca Tempurung juga hihihi
Profile Image for Widodo Aji.
21 reviews2 followers
November 7, 2019
Kumpulan Cerpen “Sagra” yang secara garis besar menggambarkan kehidupan masyarakat Bali, merupakan sebuah karya sastra yang beraliran Feminisme-Marxisme. Aliran Feminisme merupakan sebuah aliran dimana timbul sebuah keinginan untuk menyetarakan derajat antara perempuan dan laki-laki secara penuh. Hal tersebut terbukti melalui cerpen-cerpen yang dituliskan oleh Oka Rusmini dalam buku “Sagra” ini, dimana ia menceritakan dimana tokoh-tokoh perempuan dalam buku tersebut berani mengungkapkan hal yang tabu secara lugas, layaknya seorang pria. Selain itu dalam buku “Sagra” ini juga, Oka Rusmini seakan menyampaikan pesan tersirat, dimana ia sangat mengutuk akan adanya sistem kasta di masyarakat Bali, yang pastinya sangat merugikan pihak perempuan. Hal itu terbuti kuat dari isi cerita-cerita pendek yang dikarang oleh Oka Rusmini, seakan-akan pihak perempuan dieksploitasi. Sebab, seorang laki-laki akan dengan mudah meninggalkan perempuan apabila hal yang diinginkannya sudah didapatkan. Sementara, Marxisme ialah suatu paham yang mengedepankan sistem sosial-ekonomi-politik. Sama seperti dalam cerpen-cerpen dalam buku “Sagra”, ketiga sistem tersebutlah yang menjadi inti masalah dalam novel-novel tersebut. Seperti, pembahasan kasta, pembahasan pemimpin daerah, dan juga kekayaan yang menentukan kehidupan.
Selain dari segi aliran, buku “Sagra” juga dapat dikaitkan dengan kesenian dan kebudayaan asli masyarakat Bali. Kebudayaan tersebut dapat dilihat melalui kondisi sosial masyarakat Bali sendiri, seperti adanya stratifikasi (penggolongan kasta), persembahan sesajen, dan lainnya. Lapisan masyarakat pada awalnya didasarkan pada perbedaan gender, perbedaan dalam jabatan, dan juga kekayaan. Selanjutnya, masyarakat Bali pun memiliki kelompok masyarakat yang berbeda atau biasa disebut stratifikasi sosial, dengan penggolongan kasta Brahmana (tinggi) dan Sudra (rendah). Pengadaan kasta itu sangat tercermin secara jelas dalam cerpen “Sagra”, mulai dari cerpen “Cenana”, “Sagra”, “Pemahat Abad” yang menceritakan tentang kentalnya sebuah adat kekastaan.
Setiap kasta memiliki tradisi dan kebudayaannya masing-masing. Contohnya saja, dalam kasta Brahmana atau bangsawan, harus tinggal di griya (rumah bagi seorang Brahmana). Sesuai yang tertera dalam cerpen “Sagra”, Ida Ayu Pidada yang seorang Brahmana ia tinggal di sebuah griya. Seorang Brahmana harus menghindari perkawinan dengan kasta Sudra, sebab hal tersebut akan memberikan kesialan yang menimpa keluarga dan dapat mencelakai orang lain juga, apabila terjadi pernikahan beda kasta. Kebudayaan tersebut juga tercermin pada cerpen “Sagra”, dimana Ida Ayu Pidada, Luh Sewir, Made Jegog dan suami Pidada. Mereka melanggar adat dimana mereka saling melanggar adat, tetapi mereka saling menutupi kesalahan satu sama lain. Hingga akhirnya hal tersebut berdampak pada Sagra yang seharusnya mendapat gelar seorang Ida Ayu, tetapi Sagra malah harus menjadi seorang Sudra. Selain itu, budaya lainnya adalah Sudra yang masuk ke dalam Brahmana harus bertutur kata halus, dan juga harus mengganti namanya menjadi “Jero”, bukan Ida Ayu. Budaya itu juga tercermin dalam cerpen “Sepotong Kaki”, dimana ibu dari Centaga yang yang seorang Sudra dan bernama asli Ni Luh Rubag, menjadi Jero Pudak setelah dinikahi oleh Brahmana.
Keberuntungan wanita Bali akan menguntungkan pihak laki-laki. Begitu menikah, mereka perempuan malah menafkahi suaminya, dan suaminya sibuk berselingkuh dengan wanita lain. Hal tersebut tertera dalam cerpen “Cenana”, dimana Dawer ayah dari Cenana, hidupnya bergantung pada istri-istrinya. Sebab ia hanya bermain perempuan, dan mencari kepuasan saja. Sistem kasta pada masyarakat Bali, merugikan wanita. Sebab, laki-laki yang akan membawa pengaruh. Selain itu, lelaki Sudra hanya bisa memendam hasrat untuk mencintai kasta Brahmana, seperti yang terjadi dalam cerpen “Pemahat Abad”, dimana Gubreg mencintai seorang Brahmana bernama Centaga. Namun, Gubreg hanya bisa menahan hasratnya, hingga ia mengalami impoten. Setelah itu adalah kebudayaan pada jaman Jepang dan Belanda, dimana banyak wanita dijadikan gundik atau objek melampiaskan hasrat. Layaknya yang dikisahan dalam “Pesta Tubuh”, Ida Ayu Telaga diculik dan di perlakukan sebagai objek pelampiasan seksual tentara penjajah.
Kemudian yang terakhir ialah analisis yang berdasarkan dan berkaitan dengan karakteristik karya sastra di periode penerbitan “Sagra”. Kumpulan cerpen “Sagra” ini terbit pada tahun 2001. Maka buku tersebut termasuk kedalam periode milenial atau 2000-an. Adapun karakteristik karya sastra di era tersebut, antara lain:
A. Bebas memainkan kata-kata dan makna,
B. Mengangkat tema dewasa (vulgar). Hal tersebut tercermin dalam buku tersebut, dimana pengungkapan mengenai sebuah kegiatan seksual yang dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia sendiri, dijelaskan dan digambarkan secara lugas.
C. Bersifat kontemporer. Sifat kontemporer ini terdapat dalam kumpulan cerpen “Sagra” tersebut, dimana cerita yang dibuat memang cerminan dari kehidupan nyata masyarakat Bali.
D. Tema yang diangkat rata-rata menyangkut sosial, politik, dan seluruh aspek kehidupan (seperti kasta, adat istiadat, dan lainnya).
E. Memiliki ciri-ciri bahasa yakni bahasa sehari-hari. Dalam buku “Sagra” bahasanya sangat mudah dimengerti, sebab bahasa yang dipakai adalah bahasa keseharian manusia, sehingga pembaca tidak akan sulit berfikir dua kali dalam membaca.
F. Memakai alur berbelit-belit, Memang dalam buku tersebut nyaris semuanya memiliki jalan cerita yang maju-mundur-maju lagi. Mulai dari cerpen “Esensi Nobelia”, “Kakus”, “Api Sita”, “Ketika Perkawinan Harus Dimulai”, dan lainnya.
Secara keseluruhan, menurut saya buku ini bagus. Namun, ada beberapa perihal dalam isi cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen "Sagra" terserbut yang membuat saya kurang dapat memahami maksud daripada penulis, sehingga membuat sebuah kejanggalan dalam otak saya.
Profile Image for Ann.
87 reviews17 followers
April 13, 2020
Satu lagi karya Oka Rusmini yang saya baca setelah Tarian Bumi. Berbeda dengan Tarian Bumi yg sifatnya novel dengan satu cerita besar, Sagra adalah kumpulan cerita pendek yang dibukukan. Temanya sama: kerasnya kehidupan perempuan Bali dan konflik batinnya, serta patriarki dalam adat Bali. Tema yang tajam dan layak untuk diangkat. Gaya penulisan Oka Rusmini dan kemampuannya bercerita pun juga tajam dan apik. Ada 3 kisah berturut-turut yg begitu tajamnya bagi saya, rasanya cukup menyentuh batin: Api Sita, Sagra, dan Ketika Perkawinan Harus Dimulai.

Secara personal Sagra terasa jenuh karena banyaknya cerita dengan nuansa itu lagi itu lagi. Beberapa kali dibuat bosan dan harus ambil jeda untuk menyelesaikan buku ini. Belum lagi kompleksnya hubungan kekeluargaan yang diceritakan, saya jadi harus pasang fokus ekstra.
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
April 13, 2022
Kumpulan cerpen yang diceritakan dengan budaya bali di buku ini sangat saya suka. Walau beberapa cerita cukup sulit saya pahami maksudnya bagaimana.

Cerita-cerita tentang perempuan dengan beragam latar belakang. Tentang perempuan yang dilihat dari sudut pandang budaya. Dan beberapa adat dan budaya yang diceritakan di buku ini, cara memperlakukan manusia, perempuan, sanggup membuat saya mengerutkan dahi.
Profile Image for Zalila Isa.
Author 14 books54 followers
December 18, 2019
Mengakui tidak banyak membaca karya-karya sebegini - klasik, kebangsawanan, patriarki, tentang perempuan dan lelaki, tentang keinginan dan pertanggungjawaban berlatarbelakangkan budaya dan kepercayaan di Bali. Setiap cerpen mengandungi kesan yang berbeza. Membawa diri kepada hakikat kewujudan manusia dan cabaran dugaan di dunia yang pelbagai keinginan. Mahu baca banyak lagi karya Oka Rusmini.
Profile Image for Galih Pangestu Jati.
Author 2 books5 followers
February 18, 2022
Tarian Bumi dan Tempurung sejauh ini masih jadi karya Oka Rusmini yang mengesankan bagi saya.
10 reviews
Want to read
December 5, 2019
Kumpulan cerpen Sagra merupakan kumpulan cerpen yang semua ceritanya bertempat di Bali, dimana dalam setiap kisahnya kebanyakan menceritakan tentang perempuan. Cerpen – cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen Sagra ini berjumlah 12 judul cerpen yang antara lain cerpen berjudul “Esensi Nobelia” yang bercerita tentang keluhan seorang istri penyair yang menganggap bahwa suaminya tidak dapat menghidupinya dengan anaknya yang bernama Nobelia dengan hanya menjadi seorang penyair. Kemudian cerpen berjudul “kakus” yang bercerita tentang seorang wanita yang tidak tahan dengan kehidupan suami dan anaknya yang tidak melihat kenyataan namun selalu berkhayal dengan huruf – huruf.
Serta ada pula cerpen berjudul “Putu Menolong Tuhan” yang bercerita tentang ketidakpahaman seorang bocah mengenai maksud kata – kata menolong Tuhan. Sehingga dia mendorong neneknya ke dalam sumur, karena neneknya sering berbuat jahat kepada ibunya. Ia beranggapan bahwa ia sedang menolong Tuhan. Dan banyak lagi cerita yang lain. Sementara itu ada pula cerpen yang mengulas pada masa penjajahan, yaitu pada cerpen yang berjudul “Pesta Tubuh” dan “Api Sita”. Di kedua cerpen tersebut mengisahkan tentang perempuan – perempuan Indonesia yang dipaksa untuk melayani tubuh para penjajah. Tak jarang dari mereka yang masih berumur belasan tahun. Cerpen Sagra ini termasuk dalam cerpen dewasa, karena selain kisahnya yang bercerita mengenai kehidupan orang – orang dewasa, dalam kumpulan cerpen ini juga menggunakan kata – kata yang mengandung unsur kedewasaan. Misalnya pada cerpen berjudul “ Pesta Tubuh “, dalam cerita tersebut menyebutkan kata – kata seperti berikut itulah yang terjadi setiap malam. Kami anak – anak perempuan di bawah lima belas tahun, dihabisi di tempat tidur,. Harus melayani sepuluh sampai lima belas laki – laki, bahkan kadang lebih setiap hari. Tubuh – tubuh kecil kami ditelanjangi, diikat, dihirup, digigiti, ditusuk berkali – kali. Laki – laki kuning langsat itu menyantap tubuh kami dengan rakusnya. Bahkan setiap cairan di tubuh kami diteguknya.
Sagra merupakan salah satu judul dari cerpen yang ada dalam buku kumpulan cerpen tersebut. Sagra dijadikan sebagai judul buku karena ceritanya yang menarik dan mengandung pesan kepada setiap pembacanya. Cerpen yang berjudul Sagra ini memiliki alur maju mundur. Sagra menceritakan tentang kisah percintaan yang terjadi dalam perbedaan kasta di Bali. Karena perbedaan kasta tersebut, maka terjadi kemelut dalam dua keluarga, yaitu keluarga kasta sudra dan kasta brahmana. Dikisahkan bahwa Sagra adalah nama dari salah satu tokoh dalam cerita tersebut. Dalam cerita awal dikisahkan bahwa terdapat bocah kecil keturunan brahmana yang meninggal dalam sebuah bak mandi, ia adalah anak kedua dari Cemeti, yaitu anak dari Pidada, keluarga keturunan brahmana. Setelah kematian dari anaknya, kemudian Cemeti bunuh diri dengan meminum racun. Sementara anak pertama dari Cemeti adalah Yoga, anak laki – laki berusia tiga tahun yang cemburu dengan kelahiran adiknya. Dan tokoh Sagra adalah orang sudra yang menjadi pengasuh anak dalam keluarga brahmana [ keluarga Pidada ] tersebut. Diceritakan bahwa Sagra merupakan anak dari Sewir yang merupakan teman dari Pidada. Ayah Sagra yaitu Jegog, telah meninggal dunia ketika Sagra masih dalam kandungan. Ia ditemukan tewas di kali Badung. Sementara itu, setelah kematian Jegog, selang beberapa tahun. Suami dari Pidada juga meninggal di kali Badung. Tidak hanya mereka berdua, orang tua dari Jegog pada masa lalu juga ditemukan meninggal di kali Badung. Warga desa menduga semua kejadian itu terjadi karena kutukan. Jadi warga selalu mengadakan upacara pembersihan di kali Badung dengan semua biaya ditanggung oleh Pidada. Sebab Pidada merupakan keluarga brahmana yang paling kaya di desa tersebut. Ketika Sagra diminta ibunya untuk pertama kalinya menjadi pelayan di keluarga brahmana atau dalam cerpen tersebut disebut dengan griya [ rumah keluarga brahmana ], Sagra sempat menolaknya. Karena menurutnya hidup sederhana dengan ibunya dengan hanya menanam tanaman di ladang peninggalan almarhum ayahnya sudah cukup baginya, daripada harus tinggal di rumah besar namun menjadi seorang pelayan. Namun ia pun menuruti keinginan ibunya tersebut. Ia menjadi pelayan di rumah Pidada. Meski Pidada terlihat seperti orang yang tidak bersahabat, namun di griya, Sagra merasa cukup bahagia. Karena ia merasa seperti dalam rumahnya sendiri. Entah perasaan apa yang Sagra rasakan, padahal dirinya adalah seorang sudra. Beberapa bulan kemudian dari Sagra menjadi pelayan di keluarga brahmana, ibunya, Sewir meninggal dunia. Segala upacara kematian untuk Sewir, atau upacara ngaben ditanggung oleh Pidada.
Meski di dalam cerita Sagra tidak mengetahui fakta yang sebenarnya. Namun penulis mengajak pembaca untuk mengetahui fakta yang ada dalam cerita Sagra tersebut. sebenarnya ayah dari Sagra adalah seorang pria keturunan brahmana, yang tak lain adalah suami dari Pidada. Dan ayah dari Cemeti adalah Jegog, yang merupakan suami dari Sewir. Karena perbedaan kasta. Maka Jegog tidak dapat menikah dengan Pidada. Begitu pula dengan Sewir yang tidak dapat menikah dengan pria keturunan brahmana tersebut. Rahasia di antara keempatnya tertutup rapat sampai kematian menjemput Jegog, suami Pidada dan Sewir. Dan tinggallah Pidada yang menyembunyikan segala rahasia tersebut.
Dan cerita tambahan dalam cerpen ini adalah kematian dari anak kedua Cemeti. Meski secara tersirat, namun diungkapkan bahwa Yoga yang telah mendorong adiknya hingga masuk dalam bak mandi dan meninggal. Pidada paham bahwa segala kematian yang ada di kali badung, kematian cucunya di bak mandi dan kematian anaknya Cemeti merupakan kutukan bagi dosa mereka berempat.
Pesan yang terkandung dalam cerpen ini adalah, bahwa segala macam dosa yang telah dilakukan, pasti ada balasannya. Cerpen tidak hanya menyuguhkan tentang kumpulan kisah – kisah dari masyarakat Bali, namun juga memberikan pengetahuan tentang bahasa – bahasa yang ada di Bali. Seperti berikut ini :
Ø Aji untuk sebutan ayah atau bapak
Ø Meme untuk sebutan ibu
Ø Griya untuk sebutan rumah yang ditinggali keluarga brahmana
Ø Ida ayu untuk sebutan perempuan yang berkasta brahmana
Ø Jero adalah gelar bagi wanita sudra yang menikahi pria brahmana
Ø Tugus untuk panggilan bagi anak laki – laki kasta brahmana oleh orang yang lebih rendah kastanya. Dan lain sebagainya

Cerpen ini bercerita mengenai kehidupan sehari – hari yang hidup dalam jaman dulu. Itu dapat dilihat dari masih adanya sistem kasta di Bali dalam cerita yang ada di kumpulan cerpen tersebut. Sekarang, sistem kasta di Bali sudah jarang untuk dipergunakan. Karena bertentangan dengan hak asasi manusia.
Bahasa yang digunakan pada kumpulan cerpen ini merupakan bahasa yang agak sulit dipahami karena kebanyakan menggunakan bahasa perumpamaan atau istilah, seperti pada kutipan beberapa kalimat berikut ini Sita sangat menyukai permainan itu. Baginya, berada di antara para perempuan muda itu membuatnya bersemangat. Dan yang terpenting, dia mulai memahami arti satu demi satu potongan tubuh barunya. Sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya. Bongkahan bunga kecil yang di selakangannya selalu lapar pada malam hari. Bunga itu akan merekah, mengalirkan air berwarna putih setiap tangannya menggosoknya. Kenikmatan yang luar biasa memandikan syaraf otaknya. Dari kutipan tersebut terdapat kalimat sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya, pada kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa gunung kecil di dadanya adalah perumpamaan dari payudara dan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya adalah puting dari payudara. Selain itu terdapat pula kalimat bongkahan bunga di selakangannya selalu lapar pada malam hari, pada kalimat tersebut, mengisyaratkan bahwa bongkahan bunga adalah alat kelamin dari wanita.
Alur cerita yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini kebanyakan menggunakan alur maju mundur, dengan pola yang sedikit rumit. Selain alur, Sudut pandang yang digunakan pada beberapa cerpen terkadang berubah. Dalam satu cerpen dapat menggunakan dua sudut pandang. Tokoh – tokoh yang digambarkan pun kebanyakan memiliki watak yang rumit atau terkadang aneh. Seperti yang terdapat pada cerpen berjudul “Esensi Nobelia” pada tokoh Nobelia, semenjak keinginannya tidak dapat dituruti oleh orang tuanya karena mereka tidak memiliki uang. Nobelia menjadi tidak mau makan ataupun sembahyang. Karena ia telah mengesensikan kegiatan tersebut dalam otaknya.
Profile Image for Putu Mahatma.
25 reviews
March 11, 2023
Buku Kumpulan Cerita pendek ini saya baca ketika tahun 2020. Cerpen-cerpennya memiliki warna yang sama: perempuan. Perempuan sebagai anak, ibu, dan istri. Betapa isu yang diangkat adalah sejarah. Buku ini direkomendasikan bagi yang ingin membaca fiksi sejarah dengan bumbu romansa magis khas Bali ala Oka Rusmini.
30 reviews1 follower
November 5, 2019
Dari sudut pandang pembaca, hassil karya dari Oka Rusmini ini menghadirkan rasa yang berbeda dari karya sastra yang lainnya. Karena pada karya ini Oka berani mengungkapkan realita yang ada pada kehidupan Bali yang terdahulu. Cerita yang tuliskan seakan-akan membewa pembaca pada kehidupan ddi Bali secara langsung.
Melalui tutur kata yang bermakna konotasi membuat para pembaca harus memikirkan secara pasti dan tepat apa yang sedang dimaksud oleh para tokoh. Mulai dari alur, plot lalu sudut pandang yang digunakan mampu membawa pembaca merasakan secara langsung bagaimana jalannya cerita itu. Serta koda disetiap cerita tidak secara langsung disampaikan oleh pengarang, tetapi pembaca sendiri yang harus menyelesaikan dengan imajinasi yang mereka mainkan. Meskipun pengarang tidak menyelesaikan dengan pasti koda dari setiap ceritanya, hal itu tidak mengurangi esensi makna yang terdapat pada cerita.
Karya Oka yang satu ini selain menceritakan tentang kehidupan Bali pada masa lalu, juga menceritakan tentang kebudayaan Bali secara tidak langsung. Beberapa cerota mengambil latar tempat yang hampir sama yaitu di pancuran tempat mandi para kaum sudra. Beberapa cerita di buku ini mengungkapkan secara gamblang tentang bagaimana cara beribadah agam ayng kebanyakan dianut oleh masyarakat Bali.
Sastrawan yang satu ini lebih berani dalam mengekspresikan diri melalui tulisannya. Oka mampu membuat pembaca terpancing gairahnya saat membaca beberapa adegan yang dia tuliskan di ceritanya. Banyak adegan yang kurang pantas dijabarkan secara t langsung namun Oka tetap bisa membuat pembaca menebak bagaimana jalan pikirannya. Serta Oka mampu mengarahkan minat membaca para pembaca agar tidak hanya menyelesaikan setengah bacaan melainkan menyelesaikan satu buku secara utuh.
Karya sastra yang satu ini temasuk kedalam periode 2000-an yang mana pada tahun ini banyak inovasi hasil dari kreatifitas sastrawan muda. Akan tetapi Oka Rusmini tetap memiliki karakter karya sastra pada periode 2000-an namun dikemas dalam unsur kebudayaan yang sangat kental. Sehingga, cukup sulit untuk mengidentifikasi karya sastra ini menjadi karya yang ada pada periode 2000-an.
Dari segi bahasa sudah cukup mudah dipahami, walaupun dalam karya yang satu ini mencantumkan beberapa bahasa dari Bali. Bahasa yang cukup mudah dipahami dan disatukan dengan bahasa Bali merupakan salah satu inovasi yang ada, meskipun pada periode sebelumnya sudah ada sastrawan yang bernama I Gusti Nyoman Pandji Tisna yang mempunyai karya sastra dalam bahasa Bali. Akan tetapi Panji Tisna merupakan sastrawan yang ada pada periode Pujangga Baru. Perbedaan antara keduannya adalah pada karya yang mengambil tema yang berbeda. Untuk karya Oka Rusmini lebih cenderung pada pernikahan yang berbeda kasta dan selalu menyulitkan kaum sudra, karya yang dimaksud adalah Sagra : Kumpulan Cerpen. Untuk Pandji Tisna sama mengangkat tema pernikahan tapi belum sampai pada tahap menikah karena ada konflik yang terjadi sehingga mengharuskan pernikahan itu dibatalkan, karya yang dimaksud adalah Sukreni Gadis Bali.
Meskipun diantara Pandji Tisna dan Oka Rusmini sama-sama menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa kedua dalam pembuatan karya sastra, akan tetapi kadar banyak bahasa Bali yang digunakan berbeda. Jika pada karya Sukreni Gadis Bali menggunakan Bahasa Bali dengan hampir menyeluruh dan menjadikan Bahasa Bali sebagai bahasa yang utama dijadikan sebuah karya. Sedangkan di karya Oka Rusmini hanya sedikit yang menggunakan Bahasa Bali, hanya beberapa kosakata dan saapan saja yang menggunakan Bahasa Bali. Hal tersebut dikarenakan periode Oka Rusmini merupakan periode diamana penggunaan Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang popular digunakan kaum muda dan tua. Lalu perbedaan karakteristik dari periode menjadi salah satu pembeda yang cukup Nampak dari kedua karya yang sama-sama mengangkat tema Bali.
Oka Rusmini juga tidak terlalu menampakkan karakteristik dari periode 2000-an, mungkin karena pada periode sebelumnya Oka juga mengeluarkan karya sastra yang berjudul “Monolog Pohon” sebuah essai dan “Di Depan Meja Rias” sebuah cerpen. Sagra merupakan kumpulan cerpen yang diangkat dengan satu tema yang sama, yaitu perkawinan berbeda kasta dan juga cerita tentang rendahnya derajat wanita pada masa itu. Dilihat dari tema yang diangkat memang sesuai dengan karakteristik untuk periode 2000-an, tetapi memiliki unsur periode 90-an, seperti adanya sedikit singgungan mengenai kemiskinan, cerita yang ada mengandung unsur sindiran terhadap realita.
Novel-novel yang ada pada periode 2000-an memiliki karakteristik bebas mengangkat segala aspek kehidupan, adanya perluasan wawasan estetik yang meluas, ada pembaharuan dari model sastra lisan, dan genre yang muncul adalah sandiwara. Secara keseluruhan kumpulan cerpen ini bisa dikatakan memiliki unsur karakter dari periode 2000-an akan tetapi memiliki unsur juga dari periode 90-an. Dapat dikatakan memiliki 2 unsur dari 2 periode yang berdekatan, mungkin saja karya ini merupakan karya yang lahir pada perlaihan dari periode 90-an dan periode 2000-an. Namun bisa saja ini merupakan karya yang lahir dari tahun 2000-an yang memiliki unsur 90-an dikarenakan pada periode sebelumnya sastrawan yang melahirkan karya sastra ini merupakan sastrawan yang produktif sehingga secara tidak sengaja membawa karakteristik periode sebelumnya kedalam karya yang seharusnya berbeda karakter. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi dari keduanya, jika dilihat dari sudut pandang 90-an, karya ini bisa saja dikatakan sebagai karya sastra dari periode 90-an, karena memiliki karakteristik yang cukup sesuai dengan tahun 90-an. Jika dilihat dari sudut pandang 2000-an bisa saja karya ini disebut dari periode 2000-an karena lahir pada tahun 2001.
Yang jelas karya ini merupakan karya yang memiliki nuansa yang berbeda dengan karya sastra yang lahir diperiode yang sama dengannya. Karena mengangkat tema yang bisa saja membuat kontroversial dari berbagai kalangan kasta yang bermukim di Bali. Karya ini merupakan bacaan yang ringan dan mudah dipahami, sesuai dengan bahasa yang berlaku pada periode dilahirkannnya karya ini. Akan tetpai ini merupakan karya sastra yang memang dikhususkan untuk orang dewasa, tidak dianjurkan dibaca oleh anak yang berusia dini ataupun remaja. Unsur yang didalamnya akan membuat guncangan psikis bagi anak kecil untuk membaca karya yag satu ini. Banyak adegan yang dijabarkan secara langsung, beberapa adegan yang kurang sesuai dengan anak dibawah usia dewasa. Ini menjadikan karya sastra untuk orang dewasa.

Profile Image for Alvi Tita Wijaya.
35 reviews
November 26, 2019
Novel ini berisikan kumpulan cerpen yang latar setingnya di Bali. Terdapat sebelas cerpen yang tokoh utamanya merupakan seorang perempuan. Pada cepen pertama yang berjudul “Esensi Nobelia” menceritakan tenang sepasang suami istri yang merupakan seorang sastrawan. Mereka hidup dengan sangat sederhana hanya mengandalkan upah dari membuat puisi. Di sini istrinya merasa suaminya tidak bisa menghidupi keluarga ini lagi. Selanjutnya ada cerpen “Kakus” yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang sedikit aneh karena khayalannya yang terlalu tinggi hingga semuanya terlihat seperti kata-kata. Selanjutya ada cerpen “Harga Seorang Perempuan” disini menonjolkan tentang gengsi perempuan terhadap perempuan lainnya. Mereka terlibat dalam suatu pertemanan yang tidak sehat, di mana setiap apa yang mereka pakai apa yang mereka bawa selalu saja dikritiki. Dalam cerpen ini seorang perempuan berlomba-lomba untuk berdandan sedemikian rupa demi martabat seorang suami, di cerpen ini seorang perempuan dipaksa untuk menjadi orang lain dan bukan menjadi dirinya sendiri.
Lalu cerpen “Sepotong Kaki” cerita ini menceritakan mengenai seorang penari Bali yang kakinya begitu cantik hingga para lelaki memujanya. Namun pada kenyataannya ia adalah seorang yang memiliki kaki yang kurang sempurna. Pada akhirnya perempuan tadi meminta pada Hyang Taksu sebuah kekuatan agar bisa menari. Selanjutnya cerpen “Pesta Tubuh” cerpen ini menceritakan tentang keadaan perempuan ketika terjadi penjajahan oleh Jepang. Saat itu, perempuan dijadikan budak seks oleh tentara Jepang. Di dalam cerpen tersebut menceritakan seorang yang memiliki darah bangsawan namun tertangkap dan menjadi budak seks juga. Para tawanan ini dikumpulkan dalam sebuah gubuk. Ketika malam mereka diharuskan melayani para tentara hingga tubuh mereka sakit semua. Mereka masih berumur belasan tahun, di mana mereka seharusnya mendapat kasih sayang dari kedua orang tua namun karena keadaan mereka diharuskan untuk menjadi budak seks.
Selanjutnya cerpen “Api Sita” dalam cerpen ini menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan dalam peperangan. Bukan dengan mengangkat senjata namun dengan cara melayani para tentara Jepang demi mendapatkan informasi persenjataan Jepang. Perempuan ini merupakan ibu dari gadis Bali bernama Sita. Sita merupakan gadi yang polos dan cantik. Ia memiliki pujaan hati bernama Sawer. Sawer ini merupakan salah satu anggota perang ibunya.
Pada suatu hari ibu Sita tertangkap, ia dibunuh beserta dengan kampung halamannya. Lalu Sawer menghasut Sita agar ia mau menggantikan posisi ibunya dan berjanji suatu saat ia akan datang mengambilnya. Lama kelamaan Sita merasa jengah karena Sawer tak kunjung menjemputnya hingga ia mendengan Sawer akan menikah. Sita yang merasa dikhianati akhirnya mengundang Sawer untuk datang ke tempatnya. Di situ Sita membunuh Sawer dan dirinya sendiri menggunakan samurai.
Selanjutnya ada cerpen yang juga dijadikan sebagai judul novel ini “Sagra” cerpen ini menceritakan tentang perempuan Bali bernama Sagra. Ia bekerja pada seorang perempuan tua kaya bernama Pidada untuk menjaga cucunya yang bernama Yoga. Keluarga ini selalu mendapat kesialan dengan kematian-kematian beruntun. Mulai dari suami pidada, ibunya, menantunya hingga cucu perempuannya. Lalu cerpen “Ketika Perkawinan Harus Dimulai” bercerita mengenai kebingungan seorang perempuan yang ingin hidup sendiri namun lingkungan sekitarnya memaksa untuk menikah. Lalu “Pemahat Abad” berbeda dengan cerpen lainnya dalam cerpen ini tokoh utamanya merupakan seorang lelaki buta namun sangat pandai dalam memahat. Suatu hari ia ingin menikahi seorang perempuan bernama Luh Srenggi. Orang terdekat yang ia beritahu merasa kaget karena Luh Srenggi memiliki fisik yang sangat buruk. Namun pemahat buta ini sangat mencintainya dan ingin menikah dengannya.
Lalu cerpen “Putu Menolong Tuhan” adalah sebuah cerita yang memiliki plot twist pada akhir cerpennya. Diceritakan seorang perempuan keturunan Brahmana menikahi lelaki biasa. Mereka saling mencintai namun keluarga dari pihak lelaki tidak menerima perempuan Brahmana ini. Hingga suatu saat putra mereka berkata bahwa ia merasa kasihan pada Hyang Widhi karena ia harus menyayangi orang baik dan membenci orang jahat. Lalu anak tadi berkata pada ibunya jika ia ingin membantu Hyang Widhi, tanpa mengetahui maksud aslinya ibu dari anak tadi mengiyakan. Lalu suatu hari ibu mertua perempuan tadi menghilang dan ternyata mati membusuk di dalam sumur yang ternyata anaknya lah yang mendorong neneknya untuk membantu Hyang Widhi menyingkirkan orang jahat. Lalu yang terakhir cerpen berjudul “Cenana” yang menceritakan tentang seorang gadis bernama Cenana. Dia seorang sudra yang hidupnya berantakan. Ayahnya yang berkali-kali membawa perempuan tanpa menafkahi ibu dan dirinya membuatnya takut jatuh cinta pada lelaki. Namun pada suatu saat datang seorang lelaki muda bernama Puja. Puja jatuh cinta pada Cenana dan ia ingin menjadikannya istri. Akhirnya Cenana menikah dengan Puja dan mengandung anaknya. Dari proses hamil hingga melahirkan, Cenana selalu mensugesti dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta pada Puja. Padahal Puja begitu mencintai dirinya.
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai curahan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk imajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran atau perasaanya.
penulis memilih pendekatan ekspresif karena oka rusmini menceritakan mengenai presepsinya terhadap apa yang terjadi pada perempuan-perempuan di luar sana. Pembaca akan merasakan bagaimana Oka mengajak pembaca untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh dalam novelnya. Oka memiliki latar belakang keturunan Bali, maka dalam novelnya hampir seluruh kejadian terjadi di Bali. Ia juga dapat menceritakan dengan lugas mengenai hal-hal yang terjadi dalam kebudayaan Bali. Oka juga berani untuk memaparkan mengenai keburukan atau aib yang terjadi di kalangan Brahmana. Dalam salah satu cerpennya ia juga menyuarakan mengenai perempuan yang seharusnya bebas untuk menentukan piihannya bukannya diatur-atur oleh orang sekitar. Hal ini sangat berhubungan dengan kehidupan wanita sekarang. Menurut saya, Oka berhasil menyuarakan perasaaan dan pikirannya dalam novel ini.
25 reviews1 follower
November 6, 2019
Kumpulan cerpen yang diberi judul Sagra ini adalah kumpulan cerpen yang terbit sekitar tahun 2002 dengan terdiri dari sembilan judul cerpen yaitu “Esensi Nobelia” yang menceritakan seorang anak yang dilahirkan dari seorang ayah dan seorang Ibu yang bekerja sebagai penulis dan mengandalkan tulisannya untuk menafkahi keluargaya. Karena itu, anaknya juga diberi nama yang unik karena mereka pecinta sastra. Anaknya juga tumbuh menjadi anak yang jarang mau makan karena akibat pengaruh dari ayahnya yang menceritakan bahwa apabila perut lapar tinggal membayangkan makanan dan kenyang pun hilang sehingga anak itu jika diberi makanan hanya akan melihat saja karena sudah memakan esensi dari makanan tersebut. Judul cerpen yang kedua dalam buku Sagra yaitu “Kakus”, yang ketiga berjudul “Harga Sepotong Kaki’, yang keempat berjudul Pesta Tubuh”.
Dalam cerpen “Pesta Tubuh”, Oka memberikan gambaran tentang perempuan yang tubuhnya tak lain hanyalah untuk menyenangkan laki-laki yang menginginkannya dan perempuan begitu tak ada artinya. Judul cerpen yang kelima yaitu “Api Sita “ kemudian “Sagra”, “Ketika perkawinan harus dimulai”, “Pemahat Abad” yang bercerita tentang lelaki buta yang kaya raya juga seorang pemahat yang ukirannya diakui oleh bangsa barat karena bagus. Seorang laki-laki itu ingin menikah juga seperti lelaki pada umumnya meskipun ia tak dapat melihat perempuan cantik seperti apa namun ternyata dia mengawini pembantunya yang seorang perempuan tidak cantik rupanya. Walaupun ia dijodohkan oleh kakaknya dengan seorang gadis nakal adik dari kakak iparnya sendiri. Karena ia memilih pembantunya berdasarkan hatinya yang bersih dan cantiknya tak terukur oleh rupa seperti gadis yang dijodohkannya yang hanya ingin menguasai hartanya dan cantiknya diobral murah pada lelaki.Judul cerpen berikutnya yaitu “Putu Menolong Tuhan” dan “Cenana”
Oka Rusmini lahir di Jakarta pada 11 Juli 1967. anak dari pasangan Ida Ayu Made Werdhi dan Ida Bagus Made Gede. Ayah Oka Rusmini tentara yang sering bertugas ke luar daerah. Oka Rusmini menikah dengan penyair Arief B. Prasetya, mereka memiliki anak bernama Pasha Renaisan.
Pendidikan SD dan SMP Oka Rusmini berada di daerah Cijantung, Jakarta. Setelah menginjak usia SMA, ia memutuskan pindah ke Bali untuk menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Saat ini Oka Rusmini tinggal di Denpasar, Bali. Sejak tahun 1992, ia bekerja di harian Bali Post.
Ia adalah seorang penulis kritis tentang budayanya sendiri dan karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerpen. Ia juga pernah menjadi seorang wartawan di Bali Post karena itu pada buku Sagra, ia bisa menuliskan kondisi dan keadaan Bali karena terinspirasi dalam pengalamannya sendiri yang pernah disana.
Sagra sendiri merupakan sebuah judul cerpen di salah satu dari buku itu sendiri yang dikemas dengan menarik oleh Oka Rusmini. Karya-karyanya sangatlah kaya akan tema adat dan kebiasaan masyarakat pada jaman itu terutama persoalan adat dan kasta yang dianut masyarakat di Bali. Oka Rusmini juga termasuk penulis yang mampu membawa pembacanya kepada masalah tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan terutama di lingkungan rumah kaum Brahmana. Ia juga mengupas habis persoalan seks dan erotika yang berkaitan pada masa itu juga bahwa kaum perempuan pribumi selalu jadi mangsa yang empuk bagi laki-laki dan selalu direndahkan.
Era reformasi juga telah memberikan angin segar bagi keberanian kaum perempuan untuk menyuarakan pemikiran mereka. Pada itu lahir banyak penulis perempuan yang membawa warna khas karya sastra perempuan. Kehadiran mereka telah memberi warna pemikiran sosial politik dan kebudayaan di Indonesia sehingga dalam Sagra, Oka Rusmini bebas menceritakan tentang keadaan perempuan dan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan masa silam kaum perempuan.
Oka rusmini juga memusatkan ceritanya pada bidang stratifikasi sosial yang terjadi di Bali, perekonomian, pendidikan dan perempuan. Stratifikasi pada masyarakat Bali berdasarkat kasta dalam dirinya seperti adanya kasta Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Ia juga menggambarkan secara rinci bagaimana larangan dan aturan yang harus dipatuhi setiap kasta ke dalam ceritanya.
Bahasa yang digunakan dalam novel sagra yaitu bahasa Indonesia dan terdapat juga bahasa daerah yang digunakan untuk lebih menggambarkan bahasa yang digunakan pada daerah itu. Gaya bahasa yang dipakai juga gaya bahasa puitis dan simbolik. Alur yang digunakan alur campuran Novel ini memiliki alur yang bersifat kronologis dan sebab-akibat. Kronologis dapat dilihat dari urutan waktu penceritaan dari awal Telaga mengisahkan dirinya bersama Luh Sari, mengingatkan ia dengan keluarganya Luh Sekar, Ida Ayu Sagra Pidada, Ida Bagus Ngurah Pidada, dan Ida Bagus Tugur. Permasalahn tersebut berawal dari obsesi Luh Sekar untuk mendapatkan kebangsawanan, berubahnya kehidupan Luh Sekar, lalu Telaga teringat akan masa ia bertemu dengan Wayan hingga ia menikah selanjutnya kehudapan Telaga setelah pernikahan itu berlangsung dan berakhir pelepasan atribut kebangsawanannya. Sebab-akibat dapat dilihat pada kehidupan telaga yang menderita tetapi ia masih bisa melanjutkan hidupnya karena Luh Sari, anaknya. Hal itu membuat Telaga teringat masa lalu sebagai penari oleg; keluarga brahmana; masa awal kegadisannya; pertemanannya dengan Wayan; lelaki sudra; pernikahannya dengan Wyan dan hal itulah yang membuat Telaga mengubah statusnya menjadi perempuan Sudra.
Rasa feminimisme juga dikemas dengan bahasa yang tajam dan dalam dan tanpa rasa takut dan malu, Oka berhasil membuka pemikiran pembaca betapa kejamnya dunia pada zaman dahulu dengan penindasan yang terjadi pada kaum perempuan yang dianggap kaum lemah.
Pembaca dapat memaknai bahwa kumpulan cerpen yang ditulis oleh Oka Rusmini mengutamakan nilai-nilai tradisi yang memberatkan kaum perempuan dan diskriminasi adat. Dalam meneladani buku Sagra karya Oka Rusmini, pembaca dapat menerapkan dalam kehidupannya untuk bersikap optimis dan bahwa perbedaan gender tidak menjadi masalah dalam pekerjaaan sehingga perempuan tidak minder dan tak takut lagi. Selalu melawan ketidakadilan dan menjadi seorang yang adil. Tidak memandang cantik dari fisik namun juga dari hati, karena fisik tak menjanjikkan kecantikan yang sebenarnya.
Profile Image for aisel.
10 reviews
February 24, 2023
rate: 3.8/5

isinya kumpulan cerpen berlatarbelakang bali dan segala budanya. tulisannya cantik banget dan sebenernya maksud dari kata-katanya understandable ya tapi ada beberapa ceritanya yang sulit dimengerti maksudnya apa gitu buat aku tapi yang lain ceritanya bagus bagus banget. namanya juga bagus-bagus banget tapi ada satu atau dua tokoh yanga namanya tuh sama satu sama lain jadinya diawal bingung ini tuh masih orang yang sama apa ga. ceritanya absurd in a good way ya. transisi di dalem ceritanya juga smooth.

fav: harga seorang perempuan & cenana
Profile Image for M Adi.
174 reviews17 followers
August 22, 2021
Bagi yang menyukai cerita dengan gaya konfrontasional terhadap ide dan realita, kumpulan cerpen ini adalah salah satunya. Pengalaman dirangkai dan diceritakan dengan lugas beserta pemaknaan yang dibenturkan. Menghadirkan ketegangan dan agitasi untuk rasa protes. Semoga kita tidak terjebak dalam narasi arus utama. Semoga kesadaran menghindarkan dari objektifikasi. Semoga ada jawaban bagi yang menemukan pertanyaan.
23 reviews
November 6, 2019
Cerpen ini bercerita mengenai kehidupan sehari – hari yang hidup dalam jaman dulu. Itu dapat dilihat dari masih adanya sistem kasta di Bali dalam cerita yang ada di kumpulan cerpen tersebut. Sistem kasta di Bali sekarang sudah jarang untuk dipergunakan. Karena bertentangan dengan hak asasi manusia, pada dasarnya semua manusia sama, mempunyai hak yang sama, dan tidak peduli tentang status, genre, perekonomian dll. Oka Rusmini dikenal sebagai penulis perempuan yang kritis terhadap budayanya sendiri. Buku Sagra adalah kumpulan cerpen yang sarat dengan rasa feminisme yang dimilikinya.
Oka di besarkan dengan kultur Bali yang kuat dan tumbuh dalam lingkungan kehidupan griya yang dituntut berperilaku lebih tertib, sopan dan beradab, serta harus pandai membuat perlengkapan upacara Agama Hindu dan sebagainya. Hal itu dikarenakan ia masih keturunan Brahmana. Kakek dari pihak ibunya adalah seorang lurah pada jaman Belanda yang mahir membaca kitab-kitab kuno dan memiliki ilmu gaib. Kakek dari pihak ayahnya adalah pembuat pratima (arca-arca sakral). Nenek dari pihak ayahnya sangat hafal dengan sejarah griya yang juga suka bercerita tentang seluk beluk ilmu hitam.
Oka mengarang dengan metafora-metafora yang beraroma erotika tersebut bukanlah sesuatu yang membangkitkan syahwat kaum lelaki, melainkan lebih pada persoalan kehancuran tubuh perempuan, ketertindasan, kepedihan tak terperikan, sakit hati dan dendam kesumat. Sosok dan karya-karyanya fenomenal dan seringkali kontroversial karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana. Oka juga dengan lugas mendobrak tabu, mendedahkan persoalan seks dan erotika secara gamblang. Oka mengemas tulisannya menjadi tulisan yang bernas, tidak pernah tanggung untuk berkata-kata, jika banyak orang masih malu untuk mengekpresikan tubuh perempuan yang terluka akibat persetubuhan, tapi tidak bagi Oka, dia gamblang dan tanpa rasa takut juga malu.
Bahasa yang digunakan pada kumpulan cerpen ini merupakan bahasa yang agak sulit dipahami karena kebanyakan menggunakan bahasa perumpamaan atau istilah, seperti pada kutipan beberapa kalimat berikut ini Sita sangat menyukai permainan itu. Baginya, berada di antara para perempuan muda itu membuatnya bersemangat. Dan yang terpenting, dia mulai memahami arti satu demi satu potongan tubuh barunya. Sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya. Bongkahan bunga kecil yang di selakangannya selalu lapar pada malam hari. Bunga itu akan merekah, mengalirkan air berwarna putih setiap tangannya menggosoknya. Kenikmatan yang luar biasa memandikan syaraf otaknya. Dari kutipan tersebut terdapat kalimat sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya, pada kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa gunung kecil di dadanya adalah perumpamaan dari payudara dan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya adalah puting dari payudara. Selain itu terdapat pula kalimat bongkahan bunga di selakangannya selalu lapar pada malam hari, pada kalimat tersebut, mengisyaratkan bahwa bongkahan bunga adalah alat kelamin dari wanita.
Alur cerita yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini kebanyakan menggunakan alur maju mundur, dengan pola yang sedikit rumit. Selain alur, Sudut pandang yang digunakan pada beberapa cerpen terkadang berubah. Dalam satu cerpen dapat menggunakan dua sudut pandang. Tokoh – tokoh yang digambarkan pun kebanyakan memiliki watak yang rumit atau terkadang aneh. Seperti yang terdapat pada cerpen berjudul “Esensi Nobelia” pada tokoh Nobelia, semenjak keinginannya tidak dapat dituruti oleh orang tuanya karena mereka tidak memiliki uang. Nobelia menjadi tidak mau makan ataupun sembahyang. Karena ia telah mengesensikan kegiatan tersebut dalam otaknya.
Tema dalam kumpulan cerpen sagra ini tidak mudah ditebak sehingga membuat pembaca penasaran, dan cukup menarik. Setiap cerita itu dikemas begitu kreatif dan mencengangkan. Seperti dalam cerpen Pemahat abad yang menunjukan nilai dari kata "cantik" yang sesungguhnya serta pengorbanan besar demi kemerdekaan dalam cerpen "Api Sita". Dengan cerita yang cukup mudah dipahami, kumpulan cerpen ini menggugah pembaca untuk terus penasaran ketika membalik-balik setiap halamannya. Kumpulan cerpen ini menghadirkan begitu banyak istilah-istilah Bali yang mungkin tidak pernah diketahui oleh orang non-Bali (bahkan sampai beberapa umpatan dalam bahasa Bali-pun ada). Namun sagra di kategorikan sebagai kumpulan cerpen dewasa. Tidak cocok untuk dibaca anak usia dibawah 17 tahun.
Selain itu tema yang diusung Oka pada buku ini menunjukkan karakteristik pada periode 2000-an, karya ini sudah diwarnai corak baru yaitu berbentuk cerita pendek. Dan dengan tema yang bebas menyangkut seluruh aspek kehidupan, tidak terpaut pada tema tertentu, dibandingkan dengan periode balai pustaka erat kaitannya dengan kawin paksa. Tidak ada aturan mendasar untuk membuat suatu karya, namun tema lebih mengarah pada gender, seks dan feminisme.
19 reviews1 follower
November 6, 2019
Kumpulan cerpen karya Oka Rusmini ini bercerita dengan latar belakang Pulau Bali sebagai latar tempatnya, khususnya di Kota Denpasar. Stratifikasi sosial disini juga sangat kentara, yaitu dibuktikan dengan adanya kalangan Sudra dan Brahmana. Sebutan Sudra ditujukan kepada masyarakat golongan kelas rendah, sedangkan Brahmana sebutan bagi masyarakat yang berada dalam kelas tinggi. Golongan Brahmana merupakan seseorang yang berasal adri keturunan bangsawan. Ada peraturan jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dari golongan Sudra, laki-laki tersebut akan menjadi seorang Sudra juga. Namun, jika seorang perempuan golongan sudra menikah dengan laki-laki Brahmana, maka perempuan tersebut akan bergelar sebagai bangsawan. Akan tetapi, jika seorang wanita telah menjadi Brahmana, tidak disematkan kepadanya nama Ida Ayu, namun perempuan tersebut akan bergelar menjadi Jero.
Maka dari itu, orang-orang dari golongan Brahmana sebaik mungkin menghindari pernikahan dengan golongan Sudra, karena hal tersebut akan berdampak pada dirinya, yaitu orang tersebut akan kehilangan gelarnya sebagai Ida Ayu jika dia perempuan, dan Ida Bagus jika ia laki-laki. Selain itu, masyarakat di Bali percaya jika pernikahan antara golongan Sudra dan golongan Brahmana terjadi, akan menimbulkan kesialan bagi pihak keluarga. Dalam peraturan tidak tertulis juga disebutkan jika perempuan yang menjadi “Jero” harus tetap bersikap halus kepada seseorang yang berasal dari kalangan Brahmana asli.
Oka Rusmini merupakan seorang penulis yang lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Beliau menulis puisi, novel, dan cerpen. Beliau juga pernah menjadi seorang wartawan di Bali Post. Karya-karyanya sangat fenomenal dan seringkali kontroversional karena mengangkat cerita tentang persoalan-persoalan adat istiadat dan tradisi Bali yang kolot yang merugikan kaum perempuan. Oka juga lugas mendobrak tabu, mendedahkan persoalan seks dan erotika secara gamblang. Diantara karya-karyanya adalah Monolog Pohon (puisi, 1997), Tarian Bumi (novel,2000), Sagra (Cerpen, 2001) dan masih banyak lagi.
Sesuai dengan latar belakang pengarang sendiri, yaitu Oka Rusmini, novel sagra ini menceritakan tentang adat istiadat Bali yang pada saat itu seperti merendahkan kaum perempuan. Selain itu, karena Oka Rusmini pernah tinggal di Bali, beliau juga mengetahui bagaimana kebiasaan masyarakat Bali sendiri.
Dalam novel ini, terdapat penggunaan Bahasa Bali dalam setiap cerpen. Seperti kata Meme yang berarti ibu, dan Tiang yang berarti aku. Kata-kata seperti inilah yang membuat para pembaca menjadi banyak pengetahuan tentang budaya yang ada di Bali. Karena banyak diselipkannya Bahasa Bali, maka Oka Rusmini membuatkan Glosarium yang terdapat di bagian belakang setelah cerpen. Hal ini memudahkan para pembaca untuk mengerti maksud suatu kata yang terdapat dalam cerpen tersebut yang mungkin saja masih asing bagi si pembaca.
Tema yang diangkat adalah sosial, politik, dan seluruh aspek kehidupan. Hal ini tercermin dari salah satu cerpen yang berjudul “Harga Seorang Perempuan”. Disini diceritakan ada seorang perempuan yang merupakan istri dari pejabat politik. Ia dikisahkan tidak ingin kalah pesonanya dengan para istri pejabat lain karena akan merasa minder jika penampilannya tidak mencerminkan jika ia adalah istri pejabat. Dari cerpen ini dapat dilihat jika gender juga mempengaruhi gaya penceritaan pada suatu karya.
Profile Image for wrtnbytata.
205 reviews3 followers
April 24, 2023
“Kenapa aku tidak bisa menentukan hidupku sendiri? Siapa hidup itu? Apa haknya merampas apa yang kuinginkan?

Sagra - Oka Rusmini
⭐⭐⭐⭐
Genre: Adult Fiction, Anthology
[read from ipusnas]

Sebuah kompilasi cerita pendek yang mengisahkan manis dan pahitnya hidup seorang perempuan. Lewat 11 cerita dalam buku ini kita akan dibawa masuk melihat warna-warni kehidupan perempuan dalam berbagai tahapan kehidupan, dimulai dari saat kecil, menjadi remaja dan memasuki usia dewasa dimana perempuan diharapkan sudah dalam tahap menjalani kehidupan rumah tangga. Kemudian, satu pertanyaan akan muncul: “Apakah harga kebebasan sangatlah mahal untuk seorang perempuan?”

Dengan latar belakang Pulau Bali, Oka Rusmini kembali mengangkat isu perempuan yang terjadi karena kesenjangan akibat stratifikasi sosial dan juga isu rumah tangga dari kemiskinan & perselingkuhan yang kemudian diperlihatkan efeknya terhadap keturunan keluarga tersebut. Seperti buku “Tarian Bumi” yang sebelumnya sudah kubaca, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Bali digambarkan se-realistis mungkin, di akhir buku juga terdapat Glosarium yang mempermudah pembaca untuk lebih mengerti istilah lokal yang disebutkan dalam buku.

“Inikah pengorbanan itu? Apakah aku harus hidup untuk orang-orang?”

Dari semua cerita, these both left a very big impression: “Harga Seorang Perempuan” dan “Cenana”; kedua cerita ini menggambarkan hidup seorang perempuan yang harus selalu mengikuti standar yang telah masyarakat tentukan agar mereka dapat diterima dan dicap berharga. Melalui kedua cerita ini, kita dapat melihat sisi perempuan yang berusaha memaksakan dirinya agar dapat diterima masyarakat, namun ia sendiri merasakan bagaimana kekangan yang membuat hidupnya penuh sandiwara kebohongan dan semakin jauh dari kebebasan. Kita akan dibawa dalam proses realisasi bahwa kita bisa memilih sendiri bagaimana kita menjalani hidup dan hak seseorang untuk bermimpi berdasarkan keinginannya sendiri.

“Harga saya beda, tetapi di dunia saya tidak ada kebohongan. Saya bahagia jadi diri saya sendiri.”

“Namaku Cenana. Lahir sebagai perempuan! Aku tidak mau hidup mempermainkan aku secara mudah. Inilah kisahku.”

If you are a mystery-thriller fans, di dalam buku ini juga terdapat cerpen yang memperlihatkan sisi gelap dari kepolosan seorang anak, seperti dalam “Esensi Nobelia”, “Sagra”, dan “Putu Menolong Tuhan” dimana kita disajikan cerita berbalut misteri dengan anak-anak sebagai porosnya
.
Honorable mention to “Ketika Perkawinan Harus Dimulai”, sebuah cerpen yang memperlihatkan tekanan masyarakat terhadap seorang perempuan, dimana seorang perempuan diharapkan untuk mengikuti tahapan hidup ideal–yup, the one stage when everyone expected you to be married as you get older, and one thought came to my mind: ‘does a woman become worthy to them only after she marries a guy and has a child?’
.
Beberapa cerita menggunakan diksi yang terlalu puitis sehingga terkesan terlalu berlebihan–hence the four stars. But, overall, it’s a great book to read for my fellow women who suffer from social pressure!
Profile Image for putreads_.
46 reviews3 followers
February 2, 2025
Sejujurnya saya bingung mau kasih bintang berapa 🙃 entah penilaian sempurna atau lebih kurang sedikit.

Perjalanan dalam membaca buku ini buat saya menakjubkan, baru kali ini membaca sekumpulan cerpen berisi tentang ke perempuanan yang dikuliti habis-habisan, saya kagum dengan cara kepenulisan Oka Rusmini dalam menuliskan kecantikan dan indahnya sebagai perempuan namun dalam menulis penderitaan ditulis dengan cara yang sangat halussssssssssss sekali, di sayang, di puk-puk, di elus-elus, dicium dan ditimang tapi tetap terasa menyedihkan. Saya perempuan dan saya ngeri merasakan tokoh-tokoh perempuan dari sebagian cerpen di sini 🥰

Saya juga suka penggambaran kejantanan laki-laki dan keperempuanan dalam buku ini. Terkadang terasa menggebu-gebu namun ada kalanya saya juga penasaran dengan kehalusan duniawi itu (oke ketahuan yang membaca masih belum menikah haha) tapi yang jelas cerpen-cerpen di sini semuanya menakjubkan, walau part agak membosankan buat saya tropenya yang sama. Kumpulan cerpen kisah cinta antara golongan brahmana dan sudra, kasarnya pangeran dengan pembantu atau seorang putri dengan pengawalnya lalu bumbu sifat tokoh laki-laki yang tukang mabuk lah, penjudi atau main perempuan sampai saya itu mikir kenapa tokoh laki-laki kebanyakan dalam buku ini bangsat semua ya.

Hanya beberapa tokoh laki-laki saja yang menurut saya "Yaaa lumayanlah...lumayan baik" Saya pikir Oka Rusmini dalam buku ini ingin menyampaikan kepada perempuan di luar sana (termasuk saya), bahwa sebagai perempuan harus berhati-hati dalam menjaga "keperempuanannya" Tuhan memberikan kelebihan pada tubuh perempuan yang tidak dimiliki laki-laki, menjadi perempuan adalah sebuah anugerah, saya sendiri sebagai perempuan bangga menjadi perempuan karena dunia perempuan cantik dan indah, penuh perhiasan, baju lucu menggemaskan, make up berwarna-warni. Tapi tetap saja ada kekurangan dan keribetan di dalamnya, belum lagi tuntutan2 sosial yang membuat perempuan harus begini dan begitu.

Hmm🤔🤔 namun buku-buku seperti ini buat saya di zaman sekarang, sudah terlalu banyak bahkan sekarang lagi ramai dengan perang gender, perang antara tuntutan laki-laki dan perempuan di mata sosial, memang alangkah bagusnya perempuan mulai melek dengan ketidakadilan yang ia rasakan tapi di beberapa situasi saya juga geram dengan perempuan yang "merendahkan laki-laki" (DALAM POIN INI SAYA HANYA BERCERITA, kalau membicarakan soal buku, laki-laki dalam buku ini emang kebanyakan tolol )

Tapiiii saya rasa buku ini pantas untuk mendapatkan bintang sempurna, karena saya takjub dengan orientasi dan resolusi cerita yang selalu membuat saya sebagai pembaca penasaran. Cerpen favorit yang berhasil membuat saya 😦😲🤔😳😨😰😱 ialah cerpen "Pemahat Abad"
Profile Image for Elvin.
20 reviews3 followers
November 30, 2019
Cerpen ini bercerita mengenai kehidupan sehari – hari yang hidup dalam jaman dulu. Itu dapat dilihat dari masih adanya sistem kasta di Bali dalam cerita yang ada di kumpulan cerpen tersebut. Sekarang, sistem kasta di Bali sudah jarang untuk dipergunakan. Karena bertentangan dengan hak asasi manusia.
Bahasa yang digunakan pada kumpulan cerpen ini merupakan yang agak sulit dipahami karena kebanyakan menggunakan bahasa perumpamaan atau istilah, seperti pada kutipan beberapa kalimat berikut ini Sita sangat menyukai permainan itu. Baginya, beaada di antara para perempuan muda itu membuatnya bersemangat. Dan yang terpenting, dia mulai memahami arti satu demi satu potongan tubuh barunya. Sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya. Bongkahan bunga kecil yang di selakangannya selalu lapar pada malam hari. Bunga itu akan merekah, mengalirkan air berwarna putih setiap tangannya menggosoknya. Kenikmatan yang luar biasa memandikan syaraf otaknya. Dari kutipan tersebut terdapat kalimat sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya, pada kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa gunung kecil di dadanya adalah perumpamaan dari payudara dan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya adalah puting dari payudara. Selain itu terdapat pula kalimat bongkahan bunga di selakangannya selalu lapar pada malam hari, pada kalimat tersebut, mengisyaratkan bahwa bongkahan bunga adalah alat kelamin dari wanita.
Alur cerita yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini kebanyakan menggunakan alur maju mundur, dengan pola yang sedikit rumit. Selain alur, Sudut pandang yang digunakan pada beberapa cerpen terkadang berubah. Dalam satu cerpen dapat menggunakan dua sudut pandang. Tokoh – tokoh yang digambarkan pun kebanyakan memiliki watak yang rumit atau terkadang aneh. Seperti yang terdapat pada cerpen berjudul “Esensi Nobelia” pada tokoh Nobelia, semenjak keinginannya tidak dapat dituruti oleh orang tuanya karena mereka tidak memiliki uang. Nobelia menjadi tidak mau makan ataupun sembahyang. Karena ia telah mengesensikan kegiatan tersebut dalam otaknya.

Pendekatan yang bisa digunakan adalah sosiologi karena cerpen tersebut Sagra menceritakan tentang kisah percintaan yang terjadi dalam perbedaan kasta di Bali. Karena perbedaan kasta tersebut, maka terjadi kemelut dalam dua keluarga, yaitu keluarga kasta sudra dan kasta brahmana.

Pesan yang terkandung dalam cerpen ini adalah, bahwa segala macam dosa yang telah dilakukan, pasti ada balasannya. Cerpen tidak hanya menyuguhkan tentang kumpulan kisah – kisah dari masyarakat Bali, namun juga memberikan pengetahuan tentang bahasa – bahasa yang ada di Bali
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
314 reviews7 followers
September 18, 2022
Sagra • Oka Rusmini • Grasindo • 2017 • 219 hlm.

Nama Oka Rusmini dengan segala prestasi yang diraihnya sudah tidak asing di telingaku. Namun, baru kali ini aku berkesempatan membaca karyanya.

Buku ini merupakan sebuah kumpulan cerpen yang ke semuanya berlatar Bali. Aku sudah tertampar sejak cerita pertama: Esensi Nobelia. Kondisi yang dialami oleh penulis dalam cerita ini menggambarkan secuplik kehidupanku--dan mungkin juga penulis lain, terutama yang belum ternama. Aku sungguh paham bahwasanya penghasilan sebagai penulis sulit untuk diharapkan sebagai satu-satunya pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sehingga aku cukup mengerti kegundahan tokohnya yang berperan sebagai istri sekaligus ibu. Di satu sisi ia ingin mendukung proses kreatif sang suami, tetapi di sisi lain ada kebahagiaan dan pertumbuhan anak yang harus diperjuangkannya.

Kesemua cerita dalam buku ini mengangkat isu yang dihadapi para perempuan--terutama perempuan Bali--baik itu pergulatan batin atau penyiksaan fisik. Mulai dari pergulatan batin seorang istri penulis, cinta yang terhalang perbedaan kasta, desakan masyarakat akan sebuah pernikahan terhadap perempuan berusia matang, hingga pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak perihal ketuhanan. Mulai dari ketidakberdayaan perempuan untuk melindungi dirinya sendiri hingga ketidakmampuan perempuan untuk menyuarakan pendapatnya.

Buku ini mengangkat isu beragam: isu kesehatan mental, pelecehan seksual, patriarki, hingga isu sosial dan keagamaan. Hal yang menarik dari buku ini adalah aku menemukan serakan metafora di tiap ceritanya. Sungguh berlimpah! Hal lain yang menambah daya pikat buku ini tentulah kepiawaian penulis menarasikan latar dan budaya Bali yang kental, serta penderitaan para tokoh yang diusung oleh penulis. Saking apiknya penulis menceritakan kisah, aku bergidik tiap kali menemukan rasa sakit yang didera si tokoh. Seolah pembaca mendapatkan gambaran soal kehidupan masyarakat Bali, beserta budayanya, lewat buku ini. Meskipun begitu, aku meyakini apa yang dialami para tokoh dalam cerita buku ini tidak hanya dialami oleh perempuan-perempuan Pulau Dewata, tetapi juga bisa terjadi di bumi belahan mana pun. Bisa jadi, isu yang diangkatnya justru dekat sekali dengan diri kita.

Kurasa tidak semua metafora atau simbol yang digunakan penulydalam buku ini bisa kucerna dengan baik. Meskipun demikian, hal ini tidak menyurutkan minatku untuk membaca karyanya yang lain.

--
Profile Image for Nila Mahardika.
20 reviews
November 5, 2019
Kumpulan cerpen “Sagra” menggambarkan sisi gelap kehidupan perempuan sebagai korban sistem-sistem kelas sosial. Hal ini menguatkan latar belakang cerita-cerita ini yang mengambil Bali sebagai latar tempatnya, selain itu penamaan tokoh dalam cerita ini pun benar-benar menggambarkan budaya dan kehidupan bali.
Kasta merupakan nilai dan adat yang menentukan tertib sosial, tetapi sebaliknya menciptakan peminggiran perempuan. Bagaimana tidak? Seperti yang digambarkan dalam cerpen “Sepotong Kaki” dan “Sagra”. Bagaimana nasib seorang perempuan ditentukan oleh dari golongan mereka berasal. Jika dari brahmana, dihormatilah ia. Jika dari sudra, maka jangan harap mendapatkan harga yang layak. Hal ini juga kental dalam cerpen yang berjudul “Harga Seorang Perempuan” yang menceritakan tentang kehidupan istri seorang pembesar yang hidup dalam kebohongan dan kemunafikan.
Meski hampir seluruh dari cerita dalam buku ini tentang kehidupan perempuan dalam sistem kasta. Namun, pada dua cerpen pembuka sangat tidak ada hubungannya dengan hal tersebut. Meski tetap menggunakan perempuan sebagai tokoh utama, kedua cerita yang berjudul “Esensi Nobelia” dan “Kaskus” lebih kental oleh pengetahuan Filsafat dibandingkan tentang perempuan dan Feminisme seperti cerita-cerita selanjutnya. Kita simak cerpen pertama yang berjudul “Esensi Nobelia”. Secara keseluruhan cerpen ini mengisahkan kehidupan keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri dan satu orang anak. Konflik dalam cerpen ini memuncak oleh persoalan filsafat. Jadi, saat itu si anak (Nobelia Prameswari) tidak mau makan secara fisik, tetapi dia lebih memilih memakan esensi dari makanan itu. Dalam cerpen ini diceritakan bahwa si ayah (Rifaset) sering mendongeng kepada anaknya tentang metafisika, energi, dan kekekalan. Tentang tokoh-tokoh seperti Nietzsche atau Goethe. Soal-soal tersebut masih terasa dalam cerpen kedua yang dimuat dalam buku ini, yaitu Kakus. Istilah-istilah seperti konsep, teori, dan rasio banyak bertebaran di dalam cerpen ini. Meskipun dari kedua cerita tersebut terdapat hal yang menarik, yaitu lagi-lagi Oka menulis tentang sepasang suami dan istri yang memiliki seorang anak. Namun kembali kepada pembahasan awal, bahwa saya hanya akan mengupas sedikit tentang perempuan dan sistem kasta dalam cerita-cerita yang ditulis oleh Oka.
Profile Image for Dian Nur Adha.
9 reviews
November 7, 2019
Cerpen ini bercerita mengenai kehidupan sehari – hari yang hidup dalam jaman dulu. Itu dapat dilihat dari masih adanya sistem kasta di Bali dalam cerita yang ada di kumpulan cerpen tersebut. Sekarang, sistem kasta di Bali sudah jarang untuk dipergunakan. Karena bertentangan dengan hak asasi manusia.
Bahasa yang digunakan pada kumpulan cerpen ini merupakan bahasa yang agak sulit dipahami karena kebanyakan menggunakan bahasa perumpamaan atau istilah, seperti pada kutipan beberapa kalimat berikut ini Sita sangat menyukai permainan itu. Baginya, berada di antara para perempuan muda itu membuatnya bersemangat. Dan yang terpenting, dia mulai memahami arti satu demi satu potongan tubuh barunya. Sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya. Bongkahan bunga kecil yang di selakangannya selalu lapar pada malam hari. Bunga itu akan merekah, mengalirkan air berwarna putih setiap tangannya menggosoknya. Kenikmatan yang luar biasa memandikan syaraf otaknya. Dari kutipan tersebut terdapat kalimat sebuah gunung kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya, pada kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa gunung kecil di dadanya adalah perumpamaan dari payudara dan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya adalah puting dari payudara. Selain itu terdapat pula kalimat bongkahan bunga di selakangannya selalu lapar pada malam hari, pada kalimat tersebut, mengisyaratkan bahwa bongkahan bunga adalah alat kelamin dari wanita.
Alur cerita yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini kebanyakan menggunakan alur maju mundur, dengan pola yang sedikit rumit. Selain alur, Sudut pandang yang digunakan pada beberapa cerpen terkadang berubah. Dalam satu cerpen dapat menggunakan dua sudut pandang. Tokoh – tokoh yang digambarkan pun kebanyakan memiliki watak yang rumit atau terkadang aneh. Seperti yang terdapat pada cerpen berjudul “Esensi Nobelia” pada tokoh Nobelia, semenjak keinginannya tidak dapat dituruti oleh orang tuanya karena mereka tidak memiliki uang. Nobelia menjadi tidak mau makan ataupun sembahyang. Karena ia telah mengesensikan kegiatan tersebut dalam otaknya.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
297 reviews6 followers
August 6, 2022
Kembali membaca karya Oka Rusmini dan kali ini sy membaca Sagra; sekumpulan cerpen yang hampir keseluruhan ceritanya mengisahkan tentang ragam pergolakan, pertanyaan dan juga hak perempuan atas kepemilikan tubuh dengan mendobrak keajegan yang dilabeliasi, dinormalkan dan ditundukkan paksa atas nama dogma strata, adat dan agama. Menjadi lebih menarik lagi karena dikemas dengan perpaduan unsur adat Bali yang begitu kental ( sesuatu yang khas dari penulis).

Setiap cerita dari Cerpen di buku ini bernafaskan tentang tuntuan atas pertanyaan-pertanyaan yang merujuk pada seharusnya perempuan mempunyai hak yang sama dimata sesama manusia. Potret-potret ngilu dari para tokoh perempuan Bali digambarkan dengan begitu gamblang dengan berbagai perjuangan dan penderitaanya masing-masing. Menggugat pakem adat yang turun temurun dianggap membelenggu dan mencuri secara paksa kebebasan yang seharusnya dimiliki oleh setiap makhluk hidup di dunia.

Meskipun banyak memotret tentang luka dan derita tubuh-tubuh perempuan, tidak lantas menjadikan cerita dalam buku ini tabu dan fulgar. Penulis dengan bijak menggunakan istilah dan kata ganti untuk setiap adegan dan potret intim dari kisah para tokoh perempuan disetiap cerita yang ada.

Hal lain yang sy suka dari buku ini adalah selain dapat ditilik dari sudut pandang perempuan yang penuh dengan duka dan luka, pada saat yang bersamaan juga bisa dimaknai sebagai bentuk perjuangan serta perlawanan perempuan untuk dipandang setara, setidaknya dilingkungan terkecilnya (keluarga).
Profile Image for Aguspratama.
33 reviews1 follower
May 11, 2021
'Men are predator and women are the prey."

Almost all stories tell us how women live in the life of chain which is called "caste". I just kinda didn't connect with title like" Esensi Nobelia" and "Kakus". It feels too hyperbolic for me. That's one of the reason why i give it 4 stars, though " putu menolong Tuhan" and "SAGRA" blows my mind away at the ending . The other reason is, as a man, i feel the pov was too harsh. But, i can't refute the POV, cause the book was written by the eye of women. Maybe, that's how the reality in their eyes. The book is very recommended, especialy for someone who wanna dip in the feeling of living as balinese women in the caste system.


'Pria adalah predator dan wanita adalah mangsa. "

Hampir semua cerita menceritakan kepada kita bagaimana perempuan hidup dalam rantai yang disebut dengan "kasta". Saya hanya agak tidak terhubung dengan judul seperti "Esensi Nobelia" dan "Kakus". Rasanya terlalu hiperbolik bagiku. Itulah salah satu alasan mengapa saya memberikannya 4 bintang, meskipun "putu menolong Tuhan" dan "SAGRA" membuat saya terpana di bagian akhir. Alasan lainnya adalah, sebagai seorang pria, saya merasa povnya terlalu keras. Tapi, saya tidak bisa membantah POV, karena buku itu ditulis oleh mata perempuan. Mungkin, begitulah realitas di mata mereka. Buku ini sangat direkomendasikan, terutama bagi seseorang yang ingin merasakan hidup sebagai perempuan Bali dalam sistem kasta.

Profile Image for Sheeta.
218 reviews17 followers
August 12, 2023
Buku ini adalah kumpulan cerita yang semuanya berlatar belakang di Bali dan memakai adat serta budaya Bali. Semua cerita dalam buku ini memiliki tokoh utama perempuan. Pada setiap cerita, memiliki ciri khas yang sama, yaitu bahwa menjadi perempuan begitu banyak tekanan, beban, dan kepiluan. Akan tetapi, menjadi perempuan juga sesuatu yang ajaib. Mereka bisa melakukan apa saja, bahkan hal-hal yang laki-laki tak bisa lakukan.

Cerita-ceritanya juga menggambarkan bagaimana posisi perempuan selalu menjadi nomor dua dalam kehidupan masyarakat, terutama masyarakat Bali yang terdapat kasta. Melalui buku ini kita diajak untuk melihat kehidupan masyarakat Bali pada masa lampau—terutama pada masa penjajahan Belanda dan kependudukan Jepang.

Salah satu cerita yang paling miris dan membuatku ngilu adalah cerita seorang anak berusia masih 12 tahun yang menjadi budak seks bagi tentara Jepang pada masa kependudukan di Hindia-Belanda pada saat itu. Cerita yang singkat namun menggambarkan banyak peristiwa yang dialami anak-anak disana, termasuk si tokoh utama yang dianggap paling ceria namun menjadi orang pertama yang dibuang oleh orang-orang dewasa yang tidak berperikemanusiaan.

Menurutku buku ini worth to read banget, tapi memang triggeringnya agak lumayan parah ya.
Displaying 1 - 30 of 91 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.