Buku ini menceritakan tentang dua tokoh bernama Raras dan Galih dengan problema mengenai kehidupan cinta mereka masing-masing. Galih yang ditinggal mati oleh kekasih Rusia-nya, Krasnaya. Dan, Raras yang ditinggal mati oleh wanita yang ia cintai, Violet. Keduanya lantas bertemu sebagai dosen dan mahasiswa di sebuah universitas di Jogjakarta. Galih lantas jatuh cinta dengan Raras, mereka hampir memiliki bayi, tetapi ternyata Raras masih mencintai Violet.
Dua tokoh ini menjadi Point of View di cerita ini, sehingga ‘rasa’ yang ditimbulkan ketika membaca kisah keduanya juga lebih mengena. Meskipun pada awalnya saya agak kurang ‘sreg’ karena setting yang digunakan, entah itu waktu dan tempat, sering berubah-ubah. Dari Jerman ke Jogja, ke Jakarta. Dan, di tahun yang berbeda pula. Namun, kesabaran untuk menemukan inti dari Tabula Rasa ternyata tidak sia-sia. Novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca.
Saya justru tidak terlalu menggaris bawahi kisah cinta dua tokoh yang menjadi penggerak cerita di Tabula Rasa ini. Melainkan proses pencarian jati diri Raras yang saya suka. Ratih Kumala mengangkat tokoh bernama Raras Dhamar Wulan yang ketika masa kecilnya sempat dilecehkan oleh seorang orang kepercayaan sang ayah yang biasa dia sebut ‘Kakak’. Bahkan, saudara kembarnya sampai meninggal karena dilecehkan oleh orang yang sama. Sebuah sindiran keras kepada kaum-kaum yang masih percaya bahwa wanita dilecehkan karena pakaian. Saat itu Raras dan Rimbang, kembarannya, baru berusia lima tahun. Seperti tengah menggambarkan stereotip mengenai pakaian wanita dan pelecehan seksual. Keduanya tidak berkaitan. Pelecehan terjadi karena niat si pelaku, bukan karena dipancing oleh korban. Lalu, setelah itu, Raras menjadi trauma dengan pria dan orientasi seksualnya berubah. Ia adalah lesbian yang tentu saja dipandang tidak lazim di Indonesia, apalagi Raras adalah seorang Jawa tulen.
Bagaimana penggambaran Raras yang kemudian memilih untuk tetap mempertahankan kata hatinya, menjadi seorang lesbian dan meninggalkan Galih, menurut saya cukup adil. Pendapat mengenai ‘manusia normal’ pada dasarnya tidak memiliki andil apapun untuk kehidupan seseorang. Keteguhan Raras untuk memilih ‘hidupnya’ membuat saya kagum.
Sedangkan Galih, ia juga sebenarnya agak kurang pas bila menjadikan Raras hanya sebagai ‘pengobat’ di kala Krasnaya sedang tidak teringat. Karena, diceritakan bahwa Galih masih terus merindukan sosok Krasnaya. Hal itu, tentu tidak akan adil bila Galih-Raras tetap berhubungan. Galih yang tidak akan sepenuhnya mencintai Raras karena masih mencintai Krasnaya. Dan, Raras yang tidak akan sepenuhnya mencintai Galih karena ia memang tidak memiliki perasaan yang lebih.