Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tabula Rasa

Rate this book
Tabula Rasa adalah kisah serangkaian cinta kasih yang kompleks dan mengharukan. Karena segala sesuatu yang kompleks harus diuraikan sedemikian rupa untuk menjadi sederhana, maka plot Tabula Rasa pada hakikatnya merupakan serangkaian perjuangan pengarangnya untuk mencari jawaban terhadap sebuah pertanyaan yang hakiki, yaitu apa sebenarnya makna cinta kasih itu. Cinta kasih, ternyata, ti dak mungkin lepas dari persoalan tempat dan waktu; makin kompleks realitas kehidupan, makin kompleks pula cinta kasih, dan kalau perkembangan zaman menuntut kehidupan orang-orang modern menjadi kosong dan ti dak bermakna, maka cinta kasih manusia modern pun menjadi kosong dan ti dak bermakna. Budi Darma, cerpenis, novelis, dan pengamat sastra Dalam perjalanan novel Indonesia, Tabula Rasa telah menempatkan dirinya sebagai novel yang paling kaya dengan gaya penceritaan. Pencerita-aku-diaengkau-seenaknya gonta-ganti menyesuaikan diri dengan tuntutan cerita. Akibatnya, kita seperti diajak menyaksikan serangkaian fragmen yang bergerak cepat ke sana begitu fi lmis. Sebuah teknik bercerita yang berhasil memancarkan sihir. Menjerat kita pada pesona yang seperti ti ada habisnya. Secara temati k, Tabula Rasa mengangkat problem kehidupan manusia pascamodern. Ia ti dak hanya memorakporandakan batas-batas ideologi, kultur, dan ras-suku bangsa, tetapi juga keberbedaan gender. Atas nama cinta, segala batasan itu digugurhancurkan. Tabula Rasa, sungguh luar biasa. Dan kita, pembaca, bersiaplah memasuki dunia yang luar biasa itu. Maman S. Mahayana, pengamat, dan kriti kus sastra Membaca novel ini, saya seperti berada di sebuah rumah makan dengan daft ar menu yang asing. Rasa lapar saya diganti kan dengan rasa penasaran. Dan setelah menyantap makanan, saya merasa kenyang, tapi saya ingin mencoba menu lainnya yang belum saya pesan. Puthut EA, penulis

252 pages, Paperback

First published January 1, 2004

35 people are currently reading
408 people want to read

About the author

Ratih Kumala

18 books211 followers
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –Cigarette Girl (GPU, 2015), bahasa Jerman – Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke Bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir.

Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
70 (10%)
4 stars
156 (24%)
3 stars
304 (47%)
2 stars
99 (15%)
1 star
15 (2%)
Displaying 1 - 30 of 132 reviews
Profile Image for George Sicillia.
1 review1 follower
December 28, 2016
Sampul bukunya menarik. Matryoshka gadis Rusia yang cantik di bagian depan, dan matryoshka gadis Jawa yang juga menawan di bagian belakang. Status sebagai pemenang Sayembara Novel DKJ juga membuat buku ini tampak meyakinkan. Langsung suka! Tetapi semuanya itu hanya kesan pertama saja, yang tak berlanjut ...

Di awal, mungkin agak penasaran, karena penulis menghadirkan latar Rusia di masa pergantian pemerintahan Gorbachev ke Yeltsin serta menyerempet sedikit tentang KGB, CIA, dan ideologi komunis beserta kabut peristiwa 1965-1966 di Indonesia. Tapi cuma menyerempet saja sedikit tanpa mengulas lebih jauh ataupun memunculkannya kemudian. Latar tempat kemudian berpindah ke Yogyakarta setelah reformasi, niatnya memunculkan sisi klasik Yogyakarta, tetapi lagi-lagi gagal. Lalu karakter utama pria dalam kisah ini jadi ngga penting-penting amat lagi kisahnya.

Kemudian dimunculkan si karakter utama perempuan. Ada beberapa bagian dalam kisah si tokoh ini yang memberi kesan ingin meniru gaya tutur Ayu Utami di bukunya yang berjudul Larung. Tapi sekali lagi, serba tanggung dan tidak jelas arahnya. Seperti ingin memberi alasan bahwa kecenderungan menyukai sesama perempuan si tokoh adalah karena pengalaman kekerasan seksual pada masa kecil tapi seperti dipaksakan. Hubungan si tokoh dengan Vi juga absurd sekali, seolah mereka pasangan, tapi bukan. Latar dunia rehabilitasi pecandu narkoba pun dimunculkan beserta pacar baru Vi yang hetero. Tapi kisahnya pun hanya sekelebat. Cuma prosesi kremasi saja yang diceritakan secara menarik di sini.

Kita lalu diberitahu bahwa tokoh utama laki-laki dan perempuannya bertemu dan ada sesuatu antara mereka. Belum jelas bagaimana masa lalu dan masa depan mereka bertaut, lalu terkuak bahwa si tokoh perempuan tak pernah 'coming out' ketika dia ujuq-ujuq menemui teman curhatnya, pasangan gay di Kanada yang tak pernah ditemui sebelumnya selain melalui dunia maya. Urusan ini belum beres, sudah sampai di ujung cerita dimana si tokoh perempuan keguguran dan mereka ketemu lagi di Kanada cuma buat ngasih tahu kalau dia memilih tidak jadi biseksual karena lebih berisiko kena HIV. Oh come on. Di paling ujungnya lagi, si tokoh perempuan menyimpulkan dirinya sebagai tabula rasa. Oh come on, koq jadi sok innocent gitu ya? Tahu ngga sih tabula rasa itu apa?

Intinya, cerita ini mau menggambarkan latar yang kaya. Ambil sedikit di sini, sedikit di sana, sedikit di sini dan di sana lagi, tapi semuanya itu tak bias membentuk suatu mosaik yang indah. Serba tanggung dalam menampilkan suasana ataupun karakter tokoh. Padahal harusnya ia seperti matryoshka, setiap kita buka, kita akan menemukan hal baru lagi dan lagi, dan untuk setiap hal baru itu kita dibuat terpesona. Sayangnya tidak demikian.

IG: george_sicillia
Profile Image for Nisa diani.
20 reviews4 followers
May 11, 2010
By statement: Ratih Kumala.
Language: Indonesian
Pagination: vii, 185 p. ;
ISBN 10: 9797327140
LCCN: 2004427677
LC: MLCSE 2004/00936 (P)

Saat saya membaca sebuah novel percintaan - seperti yang diungkapkan oleh salah satu endorsernya - biasanya menjadi suatu hal yang mengasyikkan, dan memang demikianlah adanya. Kemudian, ketika saya menggambarkan isi novel ini dengan menggabungkan efek label Pemenang Ketiga Sayembara Novel DKJ 2003 di sampul depan, tiga orang endorser kelas TOP – dalam artian top, tiga orang erdorser *2) tersebut adalah penulis dan pembangun menara sastra Indonesia, menurut saya tentunya- di bagian belakang, menjadi sebuah jaminan yang “mahal” bahwa ada sajian yang menarik dari novel ini.

Namun menjadi ironi ketika saya menemukan buku ini di tumpukan buku “sale” dengan harga bandrol sepuluh ribu rupiah, di sebuah pameran buku di wilayah Surabaya, saat Surabaya sedang merayakan bulan-bulan HUT eksistensinya sebagai Kota Niaga. Mengapa novel “bermutu” ini ada di keranjang sana, diantara deretan buku yang tidak “popular” dan tidak mempunyai “daya jual” di mata publik Surabaya? Padahal, menurut saya label-label tersebut adalah suatu jaminan. Ah… kemudian saya agak tersenyum kecut tapi lega, minat baca masyarakat Surabaya tidak se-memprihatinkan yang saya kira. Ketika saya cari-cari, buku ini tinggal satu di keranjang tersebut. Kecewa sebenarnya, karena biasanya saya akan membeli lebih untuk saya bingkiskan kepada orang lain.

Ya, kemudian pembicaraan saya berikutnya adalah, marilah mengesampingkan terlebih dahulu problematika market, idealisme dan momentum dalam sebuah penerbitan dan penjualan buku, dan saya malah lebih asyik membicarakan apa di dalam novel yang dibungkus cover putih dengan lukisan semi-absurd, tanpa judul dan tanpa tercantum siapa desainernya dan diberi tajuk “TABULA RASA” ini.

Saya ingat, saya mulai akrab dengan istilah Tabula Rasa ketika saya sedang menempuh pendidikan sarjana saya. Istilah ini seperti sebuah istilah ajaib semacam “Alohamora” dalam mantra “Harry Potter” sebagai pembuka kunci sebuah pintu. Dan saya tahu pintu itu adalah pintu dunia psikologis pembaca. Tabula Rasa adalah juga kata pertama yang didengung-dengungkan dalam diktat disiplin ilmu saya. Simak saja berikut :

Teori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles yang secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau menjadikan berwarna lain adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan dan treatmen dari orang-orang yang berpengaruhlah yang membentuknya melalui proses belajar dan pembiasaan-pembiasaan. Tak ada daya bagi manusia untuk menjadikan hidupnya. Satu-satunya yang menentukan adalah lingkungan. *3)


Apakah itu yang dimaksud oleh penulis? Maka ketika saya membaca, saya ketemukan apakah makna Tabula Rasa menurut penulis, lewat sebuah kutipan salah satu tokoh sentralnya – Raras - sebagai bentuk pasivitas manusia dalam lingkungannya, layaknya bayi, seperti penggalan berikut.

Vi, aku kini tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris yang terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku. *4)


Raras, perempuan dengan naluri homoseksual perdominan, gamang dengan pilihan akhir hidupnya.

Kalau memang kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah dulu malaikat salah taruh jiwa laki-laki ke tubuh perempuan dan jiwa perempuan ke tubuh laki-laki? …. Aku tidak pernah minta dilahirkan untuk menjadi homoseksual, semua orang juga maunya lahir normal. Maka kuanggap biseksual adalah solusinya, tapi kemudian Argus menasehati agar aku memilih menjadi homoseksual atau heteroseks saja sebab ancaman bahaya untuk kesehatanku jadi lebih besar jika aku menjadi biseksual. *5)

Raras dihadapkan oleh penulis sebagai tokoh yang tidak bisa membuat pillihan hidup, ia seakan-akan telah diberi pilihan dan pilihan itulah yang harus dijalaninya.

Apakah seperti demikian maksud "Tabula Rasa" yang ingin dipresentasikan dalam novel tersebut? Yang saya ingat, ketika pembaca membuka dan mulai membaca, tak pernah ada tabula rasa dalam setiap individu.

Apabila demikian apakah manusia hanya boneka “suatu takdir”, “rencana hidup”, “Tuhan” atau lingkungan sebagai representasi dasar dari pemaknaan Tabula Rasa tersendiri?

Saya ingat, ketika saya mulai membaca, saya mempunyai berjuta-juta rasa tersendiri, patah hati, kecamuk menghidupi diri, masalah pribadi dan berjuta polemik dan permasalahan yang tentu saja BERBEDA dan UNIK dari orang lain. Apabila setiap orang – sebagai satuan unit lingkungan- seperti kertas kosong, tentu tidak ada yang UNIK dari kita bukan? Atau mungkin memang, Raras sebagai tokoh sentral Tabula Rasa merupakan sebuah tokoh sentral dinamika kepasifan manusia atas lingkungannya.

Saya pikir, Tabula Rasa lebih dari sekadar sebuah jalinan cerita reka ulang adegan yang serampangan, karena didalamnya banyak kandungan dinamika psikologis manusia yang dieksplorasi dengan cerdas dan perenungan.





Daftar Rujukan :

*1) Judul novel yang ditulis oleh Ratih Kumala, terbitan PT. Grasindo, tahun 2004.

*2) Tiga endorser tersebut adalah Budi Darma beliau adalah cerpenis, novelis dan pengamat sastra, Maman S. Mahayana, pengamat dan kritikus sastra dan Puthut EA, penulis.

*3) Diambil dari http://74.125.153.132/search?q=cache:...

*4) Tabula Rasa. hal. 183

*5) Ibid. hal. 158-159
Profile Image for Alodia H..
40 reviews9 followers
January 1, 2015
I love Eka Kurniawan's work and I have to admit that the first time I took this book I kind of expected that Ratih Kumala would give me the same unique experience of reading. Well, apparently I don't feel much satisfied after finishing this one. I find Tabula Rasa rather boring.

The story is well-written actually, even though there are many parts that could've been much deeper. For me, the major weakness in this book is it is difficult to get to the characters' situation and emotional state; what they feel are rather distant and explained in a too matter-of-fact way.
Profile Image for David Dewata.
338 reviews3 followers
September 25, 2016
Membaca buku ini seperti saat saya "window shopping" dan melihat barang cakep yang ingin saya beli, tapi nggak kesampaian karena nggak sanggup beli hahahaha.... Selain itu, membaca kisah yang ada disini seperti melihat kilatan banyak hal yang berlalu cepat di depan mata --sebelum saya sempat menelaahnya. Sehingga sulit menangkap inti kisah ini. Bagian awal bersetting di Moskow itu cukup memikat, namun terlalu singkat tanpa saya sempat menelaahnya. Saya tidak keberatan dengan banyaknya loncatan timeline di kisah ini, namun lompatan terlalu cepat. Sehingga apa yang telah terjadi tidak terlalu berkesan. Still, saya salut atas usaha penulis untuk mengcover soooo many grounds. Saya harap ini tidak merepresentasikan karya-karya dia lainnya (well, saya masih ada satu buku dia lagi yang harus saya baca hahahaha).

Oh, and she needs to get a better editor. Tidak hanya salah ketik disana sini, juga penulisan bahasa Inggris yang kurang tepat dan penulisan tahun TAP MPRS yang tidak tepat (satu halaman tahun 1996, halaman lain tahun 1966).
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
July 19, 2020
Setelah membaca beberapa puluh halaman, saya langsung penasaran dengan kisah Galih dan Krasnaya, terlebih karena penulis menyinggung gejolak politik di Rusia. Hmm... bakal dibawa ke mana nih cerita, pikir saya.

Namun, kuncup rasa penasaran saya lambat laun layu bahkan sebelum sempat mekar. Buat saya, bumbunya terlalu banyak hingga rasanya jadi... entahlah, terlalu rumit? Terlalu banyak keping cerita yang perlu saya susun sampai saya lelah duluan.

Oh ya, kenapa dah SMS April Mop-nya bertanggal 1 Maret?

2,5 bintang, karena perasaan saya datar saja seusai membaca buku ini, tapi saya tidak menyesal kok sudah meluangkan waktu menyelesaikannya.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
March 22, 2017
Gaya bercerita Ratih Kumala dengan pergantian PoV seenak jidatnya dengan plot cerita yang melompat-lomapat pantas diapresiasi. Wajar, Dewan Kesenian Jakarta mengganjarnya sebagai pemenang sayebara novel 2003. Walaupun premis utama cerita tidak menawarkan sesuatu yang baru, namun kompleksitas hubungan Galih dan Raras cukup menarik untuk terus diikuti sampai akhir.
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
February 1, 2012
This. Is. What. I. Want. To. Read!

Novel 185 ini mestinya bisa saya selesaikan hanya dalam sehari. Tapi aftertaste yang ditimbulkan saat dan setelah saya membaca baris demi bari susunan kalimatnya, membuat saya bertahan untuk membacanya lebih lama. Saat membaca novel Ratih Kumala ini, saya berubah jadi seperti ibu, yang selalu ngeman makanan favoritnya: muffin coklat. Saya 'mencuil' novel ini sedikit demi sedikit, menikmati tiap tetes rasa yang dihadirkan hingga halaman terakhir.

Judul yang diambil dari pandangan filosofi epistemologi yang berarti keadaan seorang manusia yang lahir tanpa mental bawaan, atau seperti arti harfiahnya - kertas kosong, saya rasa pas dengan isi cerita dan plot.

Tabula Rasa menceritakan dua tokoh Galih dan Raras. Masing-masing membawa kenangan cinta dan kehilangan mereka, hingga kerinduan menuntun mereka pada sebuah pertemuan. Bagai dua ombak yang beradu di laut kehidupan, keduanya pecah dan menuntun masing-masing pada pengenalan diri. Pada cinta, rasa, dan kesejatian mereka.

The aftertaste...
Kerinduan akhirnya saya terbalas, bahkan sebelum saya menyadari betapa saya memiliki rindu semacam ini. Kerinduan pada sastra yang lembut dan gemulai, tapi juga tajam menyayat rasa. Namun karena ini adalah karya Ratih Kumala yang saya baca, saya masih belum berani mengomentari bagaimana kepenulisannya.

Harus saya katakan, kalau saya ini tipe peragu. Bahkan pada cap 'bestseller' atau juara ini-itu, saya masih akan berpikir lama, sebelum membeli sebuah buku. Tapi saya senang, saya memutuskan untuk membeli buku yang keberadaannya saya ketahui dari Dosen Pembimbing saya. Kredit kepada beliau yang telah membuka cakrawala saya mengenai sastra Indonesia lebih lebar.

Mengenai novel ini sendiri, pada beberapa halaman pertama saya serasa membaca sastra luar, khususnya Jepang. Terutama bagaimana Ratih Kumala memaparkan kerinduan Galih pada menaranya, pada kenangan yang kemudian dibawanya ke dalam alam nyata dalam sosok Raras. Tapi ini mungkin disebabkan saya banyak membaca karya penulis Jepang.

Tapi di sisi lain, gaya bahasa serta plot penyajian Tabula Rasa mungkin membuat beberapa orang merasa bingung. Saran saya, jangan berhenti membacanya, it's worth it.

Ah, novel ini mengingatkan saya pada Infinitum. Keduanya memiliki topik yang hampir sama: cinta dan kehilangan. Namun, bila saya boleh membandingkan, eksekusi Kumala dalam menyajikan Tabula Rasa lebih nikmat untuk dibaca. Novel ini mewakili apa yang menjadi harapan saya ketika membawa Infinitum pulang.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
April 1, 2019
Jadi begini, karya2 Ratih Kumala yg telah kubaca sebelumnya adalah karya yang sudah "jadi", seperti Kronik Betawi yang riuh tapi real atau Gadis Kretek yang feminis tapi nostalgik. Ada kesederhanaan tema dalam keduanya, namun tergarap dengan sangat apik. Maka rada gak pas rasanya membaca novel Tabula Rasa ini. Rasa Ratih Kumalanya ada, tapi masih terasa kasar, kurang finesse, dan mau baaanyak hal dijejalkan dalam satu wadah pendek tak sampai 200 halaman ini, namun lalu semuanya jadi mengkal dan tak tandas. Bayangkan, ada kondisi politik Rusia saat pergantian kekuasaan, ada kasus narkoba, rehab dan OD-nya si pemakai, ada kondisi sosial budaya kaum LGBT, yang bukan hanya L tapi dalam 30an halaman terakhir disesaki juga dengan happy Gs, lalu juga ada isu feminisme menyeruak dengan slogan "konco wingking"-nya. Dan terakhir, ada masalah pilihan tentang kodrat wanita. Fiuuuuh... aku capek hanya dengan menuliskan daftar itu.

Namun demikian, aku cukup suka novel ini. Kekhasan RK ada di setiap poin, tema yang menantang dan opini yang tak selalu populer, meski belum terasah halus. Satu-satunya penyesalanku adalah seharusnya aku membaca ini jauh lebih awal (ini terbit pertama 2003 lo), sebelum karya-karyanya yang lebih matang.
Profile Image for Zulfasari.
50 reviews6 followers
September 5, 2017
Mungkin saya jahat, tapi saya bingung di mana sebenarnya fokus cerita ini. Ketika saya mau menelusuri lebih jauh tentang Galih, saya ternyata digiring ke kisah Raras. Jujur saya senang dengan kisah yang di dalamnya terdapat berbagai sudut pandang, berganti secara cepat, tapi pembaca tahu bahwa ada benang merah di antara semuanya. Lain ceritanya ketika kisah rasanya belum tuntas. Belum selesai menikmati satu menu, tiba-tiba ada yang mengganti makanan saya. Hasilnya, semua jadi setengah-setengah.
Profile Image for Nike Andaru.
1,619 reviews110 followers
January 8, 2019
9 - 2018

Hmm... Walau buku ini menang dalam sayembara novel tahun 2003, saya merasa kurang menyukai buku ini. Entahlah, saya gak bisa menikmati benar cerita cinta Galih - Krasnaya - Raras. Isu LGBT di dalamnya juga sebenarnya menarik, tapi hanya sampai di sana saja. Pergolakan rasa cinta Galih pada Krasnaya begitu juga dengan Raras dan Violet. Kayak cerita yang dipaksa disambungkan sih.
Profile Image for miaaa.
482 reviews420 followers
December 10, 2017
It was an amazing read, rich language and a joy to experience. Until somehow two characters, Argus and Zack, showed up abruptly and ruined this perfect plot I've had built in my head. It all went wrong from there.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
April 21, 2011
saya paling suka puisi Raras di akhir cerita:

adakah larva lain di sini?
temani aku, sebab sebenarnya aku takut sendiri...
Profile Image for Nindya Chitra.
Author 1 book20 followers
April 11, 2019
3.5
Sebenernya ceritanya biasa. Tapi karena ada latar belakang sejarah, cara penyajian yang apik dan banyak bumbu pemikiran, ceritanya jadi nggak membosankan. Tapi aku kurang suka penyelesaian dari sisi Raras. Padahal yg memulai cerita ini Galih. Soal sudut pandang yg seenak udel itu, di bagian-bagian tengah kurang nyambung di aku. Tapi menjelang akhir sampai penutupan sudah kembali nyaman. Secara keseluruhan cukup menikmati.
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
March 20, 2021
Ternyata ini novel romansa yang mengangkat isu-isu yang lumayan sensitif di kalangan masyarakat umum.

Saya nggak akan komentar banyak mengenai premis ceritanya, karena nggak ada masalah buat saya terkait hal itu.

Yang saya sesalin adalah, tiap scene itu kayak berasa ada yang kurang. It could've been dig deeper. Saya nggak tahu kenapa Galih bisa secinta itu sama Krasnaya (please dont mention: love-is-love thing. Iya gue tau cinta bisa ngalir gitu aja, tapi kan ada pemicunya, how love grows itu kan ada tahapannya). Jadi, let say, chemistry nya terkesan dangkal.

Alur yang benar-benar dibuat maju mundur.
Lalu, point of view yang bergonta-ganti (kadang bisa 1 atau 2 paragraf saja, lalu linimasa sekaligus PoV sudah berganti), cukup bikin pusing.

Dan sungguh, cerita ini sudah bagus, yang patut disayangkan adalah kenapa harus muncul karakter baru di akhir cerita yang digunakan penulis untuk media "escaping way" nya-Raras.

Meski saya memahami tujuan dimunculkannya 2 karakter tambahan di ujung cerita (untuk memperkuat sense of problem LGBT dari cerita ini), tapi tetap aja saya sayangkan.
Juga karakter Gale (lelaki yang bertemu dengan Violet di panti rehab), yang saya pikir tadinya akan jadi twisted ingredients di akhir cerita, ternyata berlalu begitu saja.

Akhir kata, apakah saya 'kapok' membaca tulisan Ratih Kumala? Jawabannya: tentu tidak. Secara keseluruhan, saya menikmati jalan cerita dan konflik yang Ratih tawarkan dalam buku ini. Membaca buku-buku Ratih yang lain akan tetap saya lakukan.
Profile Image for Amalia Chairida.
43 reviews1 follower
March 7, 2021
Saya agak kesulitan memahami rangkaian kata saat awal membaca buku ini. Ahlasil buku ini jadi cukup membosankan untuk saya.

Di awal cerita saya menikmati kisah Galih dengan Krasnaya tapi, saya merasa bonding antar tokoh kurang kuat. Love line kedua tokoh ini (Galih dan Keasnaya) kurang mendalam jadi menurut saya sikap Galih yang ga bisa move on sampai bertahun2 kurang masuk akal.
Lalu saya bingung kenapa Krasnaya harus terbunuh karena dekat dengan Galih, menurut saya ga make sense aja hanya karena alasan keluarga Galih adalah duta besar Indonesia kemudian karena ketidakstabilan politik di Rusia. Saya ga bisa nemu benang merahnya.



Lanjut ke tokoh utama wanita, Raras.
Isu kekerasan seksual di masa kecil yang diungkit nyelekit banget. Pasti trauma kepanjangan itu menjadi salah satu alasan Raras yang sekarang terbentuk. Tapi bukan berarti itu harus dijadikan pembenaran.

Part yang saya suka adalah ketika penulis menjabarkan pusat rehabilitasi (terapi air). Berkesan karena berasa semangat untuk sembuhnya. Tapi sayang, Violet memilih utk sakit kembali.

Jujur aja keputusan Raras di akhir cerita mengganggu saya dan menurut saya, dia berakhir dengan menyalahkan keadaan. Keadaan yg buat dia seperti sekarang. Sebuah pelarian bukan penyelesaian masalah.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
June 25, 2016
Gw bukan penggemar roman (makanya jarang baca Harlequin, Chicklit atau Metropop). Buku ini bisa dibilang bergenre roman, tapi ada tambahan isu politik, komunisme, kekerasan seksual pada anak, narkotika hingga homoseksual di dalamnya. Tentu saja hanya tempelan, namun Ratih Kumala meramu dengan sedemikian apik, sehingga berkat isu-isu tersebut cerita ini dapat mengalir indah.

Kekurangannya hanya plot maju mundurnya yg kadang bikin bingung karena ada beberapa yg nggak ada keterangan waktunya. Namun, jika pembaca jeli, plotnya cukup rapi kok.

Terima kasih iJak atas peminjaman bukunya
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
February 10, 2017
Ketika misteri kematian dikuak, kodrat tak lagi jadi pakem diri apalagi sosial, ada yang memberontak, ada pula yang menjadi garda penepis kebebasan. Merdeka bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Kematian bukan pula akhir, melainkan satu pintu yang mengarah pada destinasi yang dipilihkan oleh Yang Maha. Sementara di bumi, nasib dirombak sedemikian rupa. Dari lembaran kosong penuh teka-teki, berubah menjadi kepastian berbentuk jawaban. Seperti tabularasa, siap dihujam garis nasib dan pemahaman. Adalah putih bersih, menjadi keruh sewarna hidup. Semua tergantung pilihan. Meski terlahir dari kekacauan.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
December 11, 2017
Oleh2 semarang saat bertugas disana.
Baru dibaca setelah 7 tahun kemudian.

Mungkin bagi ku yang terasa kurang adalah kedalaman hubungan yang dibangun antara Galih dan Krasnaya maupun Galih dan Raras, bahkan antara Raras dan Violet. Kepedihan akibat perpisahan dan kehilangan yang mereka rasakan dilukiskan dengan baik dan mendalam. Namun alur yang mendorong pembaca ikut merasakan apa yang dirasakan para tokoh belum terasa sampai.
Profile Image for Fhia.
495 reviews18 followers
December 13, 2021
Duh, ga dapet aja feel nya. Dan aku terganggu dengan terjemahan di setiap bahasa inggrisnya.
Profile Image for Fairynee.
81 reviews
February 3, 2018
Buku ini sebenarnya tipis, hanya 184 halaman. Tapi, jujur saja, saya lelah membacanya. Saya lelah dengan karakter-karakternya, saya lelah dengan perpindahan pov yang seenaknya, saya lelah dengan kengototan penulis untuk memberi tahu segala hal pada pembaca sampai saya berkali kali ngedumel; saya ga bodoh bodoh amat, mbak penulis... Pokoknya saya lelah
Profile Image for Mandewi.
570 reviews10 followers
November 28, 2015
Kalau saya baca buku ini tahun 2004, ketika buku ini pertama kali rilis, barangkali akan saya beri minimal tiga bintang.
Profile Image for Rizkana.
235 reviews29 followers
March 21, 2025
"Pernah melihat seseorang lebih dari satu kali? Kita ingat betul saat dulu bertemu dia, tetapi dia tidak sadar bahwa kita dulu pernah melihatnya. Seperti itulah dia."


Tanggung dan terasa diburu-buru.
Tidak ada blurp di sampul belakang. Jadi, saya mengambil buku ini murni percaya pada judulnya saja.

Dari segi plot, ketika membaca bagian awal, saya kira ini tentang Galih. Lalu cerita bergeser ke Raras. Mungkinkah ini tentang Galih dan Raras? Rupanya, eksekusi terakhir justru fokus pada Raras. Galih justru terkesan seperti pelengkap, meski mungkin maksudnya sebagai faktor kunci keputusan terakhir Raras. Saya pikir, Galih berhak juga dapat penutup dari penulis mengingat porsi ceritanya tidak sedikit di dalam buku ini. Gale saja, yang bukan karakter utama, dapat penutup.

"Kamu memang seperti menara. Orang-orang akan berkumpul padamu tanpa kamu berbuat apa-apa. Orang-orang akan selalu tertarik untuk melihatmu karena kamu akan selalu terlihat di mana pun kau berada."


Dari segi gaya cerita, ada banyak monolog yang saya baca sambil lalu. Entah mengapa, pilihan diksinya, alih-alih puitis atau menarik, malah terasa sulit dicerna untuk saya. Banyak yang saya baca, tetapi tidak berbekas apa-apa. Bisa sambil lalu.

Dari segi latar, untuk saya, tidak ada yang menonjol. Rusia, Yogyakarta, dan Kanada. Cerita Galih saat berlatar Rusia mungkin cukup kokoh, tidak hanya membicarakan tempat-tempat ramai turis, penulis juga berusaha memasukkan bahasa Rusia dalam dialognya. Biar begitu, saya tidak merasa latar benar-benar hidup. Pergolakan Uni Soviet dan ideologi komunis pada 1990-an sempat disinggung sebagai latar waktu, bahkan jadi pemicu besar perubahan nasib karakter, tetapi tidak terasa mendalam.

"Setelah slogan-slogan ini dipropagandakan, digaraplah desa-desa untuk membasmi 'Tujuh Setan Desa,'; tuan tanah, lintah darat, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pengirim zakat."


Dari segi karakter, hm... susah untuk menyukai karakter Raras. Sikapnya kepada Vi masih bisa saya pahami, tekanan budaya dan sosial itu berat, wajar jika ia berpikir ribuan kali. Masalahnya, apa yang ia lakukan dengan dan kepada Galih, buat saya, menyebalkan. Mungkin ia masih bingung dengan situasinya, tetapi kenapa langsung mau sampai jauh kalau masih bingung?
Karakter Galih, sejujurnya untuk saya, tidak ada kesan apa-apa untuknya. Ia tidak menonjol. Kisah cintanya yang tragis pun tidak menonjol. Sebagai salah satu karakter utama, ia bisa dilupakan begitu saja.

Dari segi dampat personal ke diri saya, hmm... tidak ada, sih. Yah, setidaknya buku ini bisa ditamatkan dalam satu hari. Itu saja. Yah, ada juga satu kutipan yang menarik hati dan di luar konteks cerita ini.

"Kenapa negaraku jadi begini? tanya Anatoli, tidak pada Galih, tapi lebih pada diri sendiri."


Sama. Saya juga makin sering bertanya-tanya seperti ini, "Kenapa Indonesiaku jadi begini?"

Ok, terakhir. Kutipan ini mungkin dibutuhkan saat penyesalah sudah bisa diikhlaskan.

"Metanoia is a change of mind. The ancient Greek calls it as 'metanoia.' You have forgiven yourself. You scream, you angry, and you're swearing, then let go. You have faced your biggest fear. You are opening yourself and accept the facts. It will make you stronger."
Profile Image for tuesdayat7am.
27 reviews1 follower
April 6, 2021
Buku ini menceritakan tentang dua tokoh bernama Raras dan Galih dengan problema mengenai kehidupan cinta mereka masing-masing. Galih yang ditinggal mati oleh kekasih Rusia-nya, Krasnaya. Dan, Raras yang ditinggal mati oleh wanita yang ia cintai, Violet. Keduanya lantas bertemu sebagai dosen dan mahasiswa di sebuah universitas di Jogjakarta. Galih lantas jatuh cinta dengan Raras, mereka hampir memiliki bayi, tetapi ternyata Raras masih mencintai Violet.

Dua tokoh ini menjadi Point of View di cerita ini, sehingga ‘rasa’ yang ditimbulkan ketika membaca kisah keduanya juga lebih mengena. Meskipun pada awalnya saya agak kurang ‘sreg’ karena setting yang digunakan, entah itu waktu dan tempat, sering berubah-ubah. Dari Jerman ke Jogja, ke Jakarta. Dan, di tahun yang berbeda pula. Namun, kesabaran untuk menemukan inti dari Tabula Rasa ternyata tidak sia-sia. Novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca.

Saya justru tidak terlalu menggaris bawahi kisah cinta dua tokoh yang menjadi penggerak cerita di Tabula Rasa ini. Melainkan proses pencarian jati diri Raras yang saya suka. Ratih Kumala mengangkat tokoh bernama Raras Dhamar Wulan yang ketika masa kecilnya sempat dilecehkan oleh seorang orang kepercayaan sang ayah yang biasa dia sebut ‘Kakak’. Bahkan, saudara kembarnya sampai meninggal karena dilecehkan oleh orang yang sama. Sebuah sindiran keras kepada kaum-kaum yang masih percaya bahwa wanita dilecehkan karena pakaian. Saat itu Raras dan Rimbang, kembarannya, baru berusia lima tahun. Seperti tengah menggambarkan stereotip mengenai pakaian wanita dan pelecehan seksual. Keduanya tidak berkaitan. Pelecehan terjadi karena niat si pelaku, bukan karena dipancing oleh korban. Lalu, setelah itu, Raras menjadi trauma dengan pria dan orientasi seksualnya berubah. Ia adalah lesbian yang tentu saja dipandang tidak lazim di Indonesia, apalagi Raras adalah seorang Jawa tulen.

Bagaimana penggambaran Raras yang kemudian memilih untuk tetap mempertahankan kata hatinya, menjadi seorang lesbian dan meninggalkan Galih, menurut saya cukup adil. Pendapat mengenai ‘manusia normal’ pada dasarnya tidak memiliki andil apapun untuk kehidupan seseorang. Keteguhan Raras untuk memilih ‘hidupnya’ membuat saya kagum.

Sedangkan Galih, ia juga sebenarnya agak kurang pas bila menjadikan Raras hanya sebagai ‘pengobat’ di kala Krasnaya sedang tidak teringat. Karena, diceritakan bahwa Galih masih terus merindukan sosok Krasnaya. Hal itu, tentu tidak akan adil bila Galih-Raras tetap berhubungan. Galih yang tidak akan sepenuhnya mencintai Raras karena masih mencintai Krasnaya. Dan, Raras yang tidak akan sepenuhnya mencintai Galih karena ia memang tidak memiliki perasaan yang lebih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for risal.
29 reviews7 followers
October 6, 2025
Seperti novel eksperimental. Sudut pandang penceritanya berubah-ubah. Bentuknya pun berubah-ubah, kadang puisi, kadang narasi. Membacanya cukup membutuhkan usaha, sebab tampaknya si penulis memprioritaskan diksi ketimbang kejelasan isi.

Latar belakang sejarah di Rusia terasa hanya tempelan, mengingatkan pada pengalaman membaca Laut Bercerita. Apalagi karena inti cerita sama-sama romansa. Namun sayang, dibandingkan dengan kisah romansa di novel Koloni (karena membacanya tepat setelah menamatkan Koloni), bahkan kematian seekor semut macam Sunar lebih meninggalkan kesan ketimbang kematian Krasnaya dan Violet. Krasnaya karena hanya sekilas saja diceritakan kisah cintanya dengan Galih, sedang Violet karena latar percintaannya dengan Raras tak begitu terjelaskan.

Maafkan bila aku tidak adil. Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku, tapi mungkin kamu telah membuka dirimu hampir seluruhnya untukku. (hal. 127)

..., sinar kita sama-sama redup, tapi punya saya lebih pekat mungkin karena baru saja menyemburat. ... Tapi, bukankah keduanya sama-sama pernah sekarat? (hal. 183)

Ya, inti ceritanya sebenarnya bagaimana dua manusia yang belum selesai dengan masa lalunya sama-sama mencoba membuka hati lagi. Sialnya, yang satu terlampau cepat saat yang lain belum benar-benar siap. Ditambah lagi yang belum siap juga tidak serupa gairah seksualnya (meski part di mana lebih baik tidak menjadi biseksual karena lebih berpotensi HIV itu menyebalkan sangat).

Akhir kata, sesungguhya saya ingin menikmati betul tulisan Ratih Kumala. Seperti saya menikmati tulisan suaminya. Namun, sejauh ini saya belum menemukan percikannya.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
287 reviews6 followers
August 27, 2022
Novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala mengisahkan bab romansa yang kelam dari seorang laki-laki bernama Galih yang harus kehilangan kekasihnya tersebab diusik politik antar negara yang tak pernah ia sangka dapat merusak mimpi-mimpinya bersama sang kekasih. Dan ada juga kisah romansa yang pilu dari Raras seorang mahasiswi yang terpaksa membungkam perasaan terhadap Vi, karibnya yang teramat ia cintai tersebab ia berada diambang bimbang atas kebenaran perasaanya tersebut, selain itu ada orang-orang terdekat yang harus Raras jaga perasaaanya. Selang beberapa tahun Tuhan mempertemukan Galih dan Raras pada garis waktu yang bersinggungan. Galih yang merasa sepenuhnya telah pulih, memberanikan diri untuk membersamai Raras. Tetapi, bagaimana dengan Raras sendiri yang sebelumnya sebegitu mendalamnya mencintai Violet?

Membaca Tabula Rasa, rasanya seperti sedang menjahit potongan perca. Satu persatu, perlahan dan kemudian akan menjadi kesatuan pada akhirnya. Sy suka cara penulis menceritakan fase dari kehidupan si tokoh dengan tidak terlalu berlebihan, dimunculkan hanya yang sifatnya esensi dan secukupnya. Terlebih penuturan cerita yang dibuat terpisah diawal dan perlahan berkaitan pada bab berikutnya menurut sy cukup apik untuk bisa menjelaskan porsi dari setiap karakter dengan cukup rinci. Hal lain yang sy sukai yaitu penulis mengangkat isu sosial yang khususnya di Indonesia masih tergolong tabu, tetapi penulis dengan piawai mengemasnya menjadi cerita yang luwes dan mudah dinikmati.

Meski begitu, ada hal yang menurut sy agak sedikit mengganggu, tapi masih bisa ditoleransi adalah terjemahan dari percakapan tokoh yang dibuat disampingnya persis. Mungkin dimaksudkan untuk membantu pembaca yang belum paham atau belum terbiasa dengan bacaan teks Bahasa Inggris.Tapi untuk beberapa alasan, agak cukup mendistraksi. Pada akhirnya hal tsb akan kembali kepada setiap pembaca, karena pendapat ini sifatnya personal.
Profile Image for Boyke Rahardian.
340 reviews23 followers
October 31, 2023
Singkatnya: nggak bagus. Pertama karena struktur penceritaan yang melelahkan. Ini terutama karena penggunaan flashback yang berlebihan, dalam 1 bab ada yang sampai flashback ke 3 masa berbeda dan mengenai latar belakang tokoh yang berbeda-beda pula. Untuk apa? Menggunakan teknik bercerita non-linier memang bisa membuat tempo menjadi lebih menarik, namun bila berlebihan jadinya malah bikin alurnya terantuk-antuk. Setelah ini Ratih Kumala menulis 'Gadis Kretek' yang juga banyak menggunakan flashback. Namun di sana penggunaannya efektif, mengupas satu persatu latar belakang satu tokoh yang berujung pada terkuaknya misteri di akhir cerita.

Kedua, kenapa juga setiap percakapan yang menggunakan bahasa Inggris sampai perlu diterjemahkan secara detail. Ini cuma percakapan-percakapan kecil padahal. Curiganya sih ini usul editor. Ya baiknya sekalian gunakan saja bahasa Indonesia tapi jelasin kalau percakapan tersebut dalam bahasa Inggris. Oh ya, ada juga beberapa kesalahan dalam bahasa Inggris yang dipakai, seharusnya editor lebih teliti di sini ('you're positif', 'I don't want you two make me worried')

Ketiga tema yang terlalu convoluted, rumit berlebihan. Terlalu banyak ide yang diusung tapi nggak diselesaikan lebih jauh, jadi bikin mikir: buku ini mengenai apa sebenernya? Sampulnya boneka matryoshka, lalu mulai membahas KGB, Perestroika dan komunisme, termasuk G30s, lalu pacar yang dibunuh polisi rahasia—terlalu dramatis tapi ya sudahlah, itu pilihan kreatif. Tapi semua ya cuma gitu aja, berlalu sebagai latar belakang yang jadinya nggak penting. Lalu di paruh kedua ada tema kecanduan narkoba, lesbianisme, kehamilan yang nggak diinginkan, cinta yang nggak berbalas...dan mungkin ada satu-dua lagi yang terlewat. Sekali lagi: apa yang mau diceritakan buku ini karena semua hal tadi cuma jadi kepingan-kepingan lepas yang tak utuh disambung.

Ngerti sih, ini karya awal Ratih Kumala. Setelahnya karya-karyanya berkembang jauh lebih bagus. Tapi cukup membingungkan kenapa buku ini sampai menang sayembara novel DKI 2003? Nggak ada alternatif lain saat itu?
Profile Image for Nura.
1,055 reviews30 followers
July 19, 2020
karena udah baca Kronik Betawi dan Kronik Betawi duluan, jadi punya ekspektasi yang tinggi terhadap buku ini. Tapi sayangnya menurut gw banyak banget yang bikin malahan gw jadi julit. (bawaan itu mah!) Dari point of view yang berubah antara orang pertama, orang kedua, bahkan orang ketiga. Gambar di cover juga bikin gw berharap akan banyak menemukan cerita tentang Moskwa atau Soviet lah setidaknya. Ditambah ada unsur KGB pula. tapi sekali lagi gw harus kecewa. Tanpa harus jadi pegawai KGB, kayaknya Krasnaya dan otec-nya tetap aja bisa dieksekusi.

Entah kenapa di paruh kedua, terjadi pergeseran penokohan, dari Galih jadi Raras sentris yang padanya merujuk tabula rasa. Galih cuma sekadar passing through. Kebetulan lewat di hidup Raras. Belum lagi penjelasan ga penting yang terlalu klinis, semacam kejawen dan homophobia. Something I can do without. Dan banyak yang redundant pula, puisi-puisi yang ditulis ulang secara lengkap. Kayak cuma menuhin halaman aja. Satu lagi yg ganggu (selain typo) banyak bahasa Inggris yang ga perlu, yang bisa digantikan bahasa Indonesia, semacam hide and seek, langsung aja sebut petak umpat.

overall, gw sih tetap bakal rekomendasikan buku ini buat dibaca. apalagi kalau baru mau memulai baca karya Ratih Kumala. 200 halaman buku ini bisa kok diselesaikan dalam sehari. (Padahal ngebut karena takut kena penalti) Stok bukunya juga banyak di iPusnas.

#Courtesy of iPusnas
Profile Image for Aksa.
41 reviews2 followers
January 10, 2019
Novel Tabula Rasa karangan @gadiskretek terbitan @bukugpu .
Novel ini berhasil membuka tahun 2019 bagi saya dengan cara yang menarik. Latar cerita yang begitu beragam seolah mengajak saya menikmati awal tahun dengan berkeliling ke setiap tempat yang dibicarakan. Seperti yang sering kali saya katakan, "Membaca buku adalah jalan-jalan ke berbagai tempat dengan ongkos termurah."
.
Saya juga sepakat dengan pandangan yang di sampaikan di sampul belakang buku. Alur tokoh yang disajikan penulis suka seenaknya saja. Tapi, bagi saya itu salah satu bagian menarik. Seolah diajak menerka. Ini siapa yang sedang bercerita.
.
Novel ini pun memiliki kandungan isi yang banyak dan beragam. Hal ini tentunya menarik perhatian untuk menyeriusi setiap sisinya. Psikologi, sejarah, bahkan kerumitan kisah cinta yang terjadi di sana - yang tentunya menjadi sajian utama. Sejarah, adalah bagian lain yang menarik perhatian saya. Bagaimana sebenarnya suasana politik antara kedua negara sesuai dengan latar waktu di dalam cerita. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka di dunia nyata.
.
Cerita yang baik untuk dibaca. Khasanah kisah bangsa kita, bahkan keadaan dunia seiring bertambahnya masa. Ada banyak hal yang harus kita jadikan asupan setiap harinya.
.
Lalu, bagaimana buku ini menurut kamu?

#pengenceritaaja #bookstagram #bacaituseru #KumpulanPuisi #sajakliar #ceritahariini #negeribuku #literasi #ayomembaca
Profile Image for ayanapunya.
337 reviews13 followers
April 12, 2020
Saat kuliah di Rusia, Galih bertemu dengan seorang gadis Rusia bernama Krasnaya dan jatuh cinta padanya. Sayangny kisah cinta itu berakhir tragis karena Krasnaya dibunuh dan Galih pun kehilangan menaranya.

Sekian tahun berselang, Galih yang sudah menjadi dosen di Yogyakarta bertemu dengan Raras. Raras mengingatkan Galih akan Krasnaya dan berharap bisa menjalani kisah cinta dengan mahasiswanya itu. Sayangnya Raras juga memiliki kisah cintanya sendiri. Violet, nama cinta itu, yang sampai hari kematiannya tak bisa Raras ungkapkan perasaannya karena mereka berdua sama-sama wanita.

Raras mencoba menerima perasaan Galih, namun ia tak bisa menipu diri. Dia tak ingin terperangkap dalam hubungan yang palsu karena kenyataannya dia memiliki orientasi seksual yang berbeda. Entahlah apakah keputusannya akan tetap sama jika janin yang sempat ia kandung tidak keburu keguguran.

Novel ini merupakan salah satu novel pemenang DKJ. Dari segi sinopsis cerita sih novel ini masuk genre romance, namun Ratih Kumala menuliskannya dengan gaya yang berbeda. Ada juga sedikit unsur sejarah dan politik dalam novel ini namun tak mengambil banyak porsi dan hanya sebagai tempelan. Novel ini juga memiliki alur yang melompat-lompat dan tak banyak konflik maupun klimaks yang bisa membuat pembaca terbawa emosinya.
Displaying 1 - 30 of 132 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.