Vania: “Percayalah, kalau diizinkan memilih, aku ingin menghabiskan sepanjang hariku di sofa, menonton dvd komedi keluarga Modern Family sambil menikmati sundae dan bercengkerama dengan Cherish. Sayangnya...”
Ivan: “Ini bukan tentang gue mengerti atau tidak soal pekerjaannya, tapi tentang bagaimana seorang suami menjadi sandaran bagi istrinya yang butuh pendengar. Gue ingin bisa diandalkan olehnya.”
Apa yang terbayang saat mendengar fenomena Alpha Wife dan Beta Husband? Tentang bagaimana pernikahan diusahakan ketika terjadi pertukaran peran antara suami dan istri. Tentang dominasi istri—dari segi finansial dan pengambilan keputusan—dan peran baru laki-laki sebagai stay-at-home husband.
Selamat datang di kehidupan Ivan dan Vania. Pasangan muda dengan satu anak perempuan berusia lima tahun, yang dipenuhi beragam dinamika pernikahan kaum urban di era modern: gaya hidup, stigma sosial, kodrat, idealisme, skala prioritas, inferioritas, pelarian... Sampai akhirnya keduanya yang semula mempermasalahkan perbedaan, yang awalnya diyakini menyatukan mereka, mulai saling menyalahkan.
Mungkin ini akan menjadi salah satu review saya yang terpanjang. Pemilihan nama yang kurang baik sebenarnya, agak menyulitkan pembaca apalagi kalau bertuliskan "Van, bla.. bla.. blaaa" sebagai pembaca harus ekstra perhatian apakah VAN ini untuk vania atau ivan. intinya buku ini memberikan hikmah kepada pembacanya "keraguan adalah awal kehancuran" dan "jika orangtuamu meragukannya, coba dengarkan mereka. mereka mungkin sok tahu, tapi mereka tidak mungkin menjerumuskanmu"
buku ini ditulis dengan dua sudut pandang didalamnya (vania dan ivan), karakter vania yang superior woman sangat mencolok walaupun mempunyai sisi maklum akan kekurangan suaminya (yang kayanya hampir nggak ada wanita seperti ini) untuk penggambaran karakter, cara berpikir, dan alasan-alasan atas maklumnya dia dengan keadaan suaminya cukup dan pas tidak dibuat-buat dan rasional.
karakter ivan yang kurang sreg dengan saya, termasuk pria yang hanya ada 1 dari 1 juta pria diluar sana. agak kurang realistis mengenai ego dan pride yang seakan-akan hilang dimakan yang namanya CINTA. terlihat penggambaran vania dan ivan yang seakan-akan bertukar alami (pria memakai perasaan dan wanita mementingkan logika) aneh bukan? walau tidak dipungkiri hal ini mungkin dapat terjadi, hanya saja penggambaran ivan yang terlalu inferior yang membuat saya seakan-akan cerita ini kurang realistis, mungkin jika ivan menonjolkan sifat laki-laki yang sebenarnya saat terjadi permasalahan di pernikahannya akan terlihat lebih realistis.
kedatangan cita membuat saya greget, tapi kehilangan scene dia lebih greget lagi. penulis kurang memberikan gambaran yang jelas akan keluarnya cita dari hidup ivan terlalu menggantung, seakan-akan hanya bumbu yang tidak ditakar dengan pas, melengkapi tapi tidak memberikan rasa yang pas.
penggambaran konflik yang diberikan cukup logis dan bisa diterima, walau dieksekusi kurang apik, kembali lagi ke semua hal yang selalu dialami oleh semua penulis yaitu ketergesa-gesaan dalam menyelesaikan akhir dari cerita. membuat perceraian antara vania dan ivan selesai begitu saja tanpa cerita yang lebih detail dan mengena.
penambahan scene kika yang ragu akan menikah kurang sesuai, dikarenakan cerita belum mencapai klimaks tapi tiba-tiba disuguhkan anti-klimaks.
untuk epilog, entah apa maksud dari tambahan cerita tentang cita, awalnya saya kira memang seperti itulah pola cita mencari keuntungan dalam hidup, mendekati orangtua para muridnya, tetapi saya malah tidak mendapatkan apa-apa.
hara, tidak secepat dan segila itu untuk menjalin hubungan baru.
overall disamping kekurangan dan lain-lain, buku ini cukup membuat saya betah membacanya dan tersampaikan dengan jelas maksud didalamnya. best part : saat percakapan dengan mama vania. ditunggu buku selanjutnya!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Alpha Wife, Beta Husband Topik yang cukup sensitif dan dikemas dengan apik juga realistis. Gemes sama Vania maupun Ivan. Sayang banget sama Cherish😍 Suka dengan pola menulis yang bergantian antara satu tokoh dengan tokoh lain. Jadi semua perasaan dan pemikiran tokoh tersampaikan dengan baik.
Jadi, ini review saya. Bintang yang saya kasih purely karena sikap dan keputusan yang diambil dua tokoh utamanya. Bukan karena gaya penulisan dari penulisnya, soalnya menurut saya penulis bertutur dengan luwes di novel ini. Ehem, mungkin direview kali ini saya terpaksa memasukkan sisi sentimentil karena posisi Vania yang mungkin mirip dengan saya. Bukan, bukan saya yang alpha wife. Tapi dulu saya pernah ada di posisi Vania; saya kerja kantoran, dan suami kerja dari rumah. Tema ini juga yang bikin saya tertarik baca Love Bites. Awalnya saya semanget bacanya, sampai nemu di bagian Pak Ferdinan (saya tulis komen saya di progress baca sebelumnya), ceritanya mulai nggak masuk akal. Atau, kelakuan Ferdinan yang kurang masuk akal? Come on. Di mana manner seorang big boss yang mengusir suami karyawannya hanya karena, seriously, pakaian?? Padahal kayaknya Ivan nggak ngegembel banget buat ikut dinner. Itu bagian yang bikin saya nge-pause baca. Sampai kemudian saya lanjut baca deh, pengen tau nasib Vania dan Ivan gimana. Makin belakang, saya makin gemes aja ama sikap Vania yang sorry to say, sounds so egois. Penghasilan dia lebih besar dari Ivan? Oke, fine, tapi bukannya dia sendiri ngaku masih cinta sama Ivan--dan dulu dia keukeuh menerima Ivan apa adanya? Terus, dia keukeuh juga dia yang benar, Ivan yang salah, padahal dia juga abai sama tugasnya sebagai ibu dan istri? Yang bikin saya gemes banget juga kok ya bisa milih pisah apartemen padahal Ivan kerjaannya mobile, bisa di mana aja? Soal Cherish, kan bisa dicari jalan keluar buat nemu TK yang deket apartemen baru Vania? Bisa ngasih penjelasan sama Cherish—dan nggak usah ikut kemauan Vania buat milih TK yang mahal. Bisa kan, bisa kan?? Terus mereka memutuskan untuk *sensor*, nggak berjuang keras dulu apa ya, buat apa yang udah mereka punya? Dan lagi yang bikin saya gemes (lagi dan lagi), mereka masih saling cinta loh. Pengen bareng Cherish. Ivan juga usaha buat menafkahi keluarga—dan Vania tau itu, oh come on! Ya, Ivan emang bego karena ngikutin Ogie. Tapi heyyy, dunia nggak rubuh karena Ivan ditipu bukan? Nah ini poin buat Ivan juga yang bikin dia immature—nggak belajar dari pengalaman. Belum lagi perkara dia hobi ngobrol ama Bu Cita (soal Bu Cita ini nggak saya bahas deh, dia kan emang berperan sebagai *sensor lagi* dalam hubungan Ivan dan Vania). Tadi saya bilang, saya baca ini karena ada faktor yang mirip-mirip dengan yang saya alami, terus sayanya jadi mikir: “Duh, nggak gitu juga kali, Vania! Lo juga Ivan, mesti ya, kayak gitu?” Satu, saya kerja kayak Vania. Tanggung jawab saya menuntut untuk mengambil keputusan-keputusan yang nguras otak. Dengan kehectican yang kurang lebih kayak Vania juga—walau saya nggak dikasih fasilitas apartemen mahal dan belum bisa beli CRV pake duit sendiri, buahahaaaa! Dua, suami saya pernah kerja dari rumah, dan dia berpenghasilan. Bekerja. Menafkahi (ini yang perlu digarisbawahi). Saya juga tau gimana kalau lagi mellow, pengen jadi ibu rumah tangga di rumah aja, suami yang kerja di luar rumah. Saya nemenin anak, main tiap hari. Tapi saya juga tau, emangnya kerjaan itu cuma kerjaan kantor? Lain cerita kalau suami nggak kerja. Lah, ini suami kerja kok! Terus, itu milih pisah rumah padahal masih bisa BANGET diusahaian buat tinggal bareng. Dan, what... mereka nggak ‘berhubungan’ selama lebih dari enam bulan, padahal Vania sendiri bilang tiap akhir pekan mereka masih bareng (sebelum ada ribut-ribut)...? Kesimpulannya adalah... Ivan nggak dewasa, dan Vania LEBIH nggak dewasa padahal katanya dia perempuan mandiri dan sebangsanya. Karakternya jadi kayak nggak konsisten gitu. Kan, saya gemesss! Terus, apalagi, ya? Duh, rasanya udah lama nggak ngereview panjang lebar begini. Hahahaha. Tapi bagus juga sih, Love Bites ini jadinya nggak akan gampang saya lupain jalan ceritanya karena udah bikin saya bawel macam begini. Sekali lagi, saya ngasih dua bintang karena Ivan dan Vania—yang ya ampun, nggak bisa saya pahami jalan pikirannya! Buat penulisnya, keep up a good work. Gaya nulisnya enak untuk diikuti ;)
Ini bukan pertama kalinya aku membaca tema “Alpha Wife, Beta Husband”, dan penulis mampu membuatku larut dengan kisah keluarga Ivan dan Vania ini. Kehidupan pernikahan mereka yang sudah beranjak 6 tahun yang tinggal menunggu “bom waktu” untuk dipertanyakan.
“Percayalah, kalau diizinkan memilih, aku ingin menghabiskan sepanjang hariku di sofa, menonton dvd komedi keluarga Modern Family sambil menikmati sundae dan bercengkerama dengan Cherish. Sayangnya...”
Ini tentang Vania yang bertindak sebagai wanita karier yang punya karir yang gemilang dan menjanjikan. Apalagi sejak naik jabatan dan mendapatkan fasilitas mewah lainnya, Vania pun harus pisah rumah dengan Ivan, suaminya dan Cherish. Sedangkan Ivan, dari segi pekerjaan lebih fleksibel, Ivan seorang penulis yang punya waktu lebih banyak dirumah dan bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan Cherish.
Awalnya memang Ivan dan Vania menikmati peran mereka masing-masing. Semua terasa baik-baik saja. Mereka saling menerima keadaan kalau Ivan dirumah dan Vania yang bekerja dikantor. Tapi kesibukan Vania yang luar biasa menyita waktu, dan kurangnya kebersamaan mereka mulai memicu pertengkaran demi pertengkaran. Pernikahan mereka pun teruji, mampukah mereka bertahan atas dasar cinta dan Cherish. Apalagi ketika mereka mulai saling mempertanyakan arti kebahagiaan dan cinta diantara mereka.
Ah, membaca novel ini mengingatkanku bahwa keluarga tetap yang utama. Aku bisa larut dengan ceritanya. Sederhana tapi memikat. Gaya menulis yang begitu mengalir, konflik yang begitu terasa nyata membuatku betah membaca novel ini cukup sekali duduk saja. Perasaanku naik turun saat membaca novel ini, hingga saat menutup novel ini aku bisa bernafas lega walau memang aku berharap ending yang sedikit berbeda, tapi mungkin ini memang yang “terbaik” bagi semuanya.
"People change. Sometime a little tiny thing we call love can't deal with it. We need to deal with it"
The Good: - Bahasanya asik. Nggak bertele-tele, nggak mendayu-dayu, nggak mengada-ada. Ada 'feel' fresh juga membaca gaya bertutur penulis, misalnya cara mengungkapkan sesuatu. Jadi excited bacanya, walaupun buat saya excitement ini terbangunnya pelan-pelan, jadi nggak keliatan langsung di awal-awal. Not necessarily a bad thing. - Bahasa Inggrisnya nggak maksa. Jadi nggak norak. - Konfliknya real, terbangun pelan-pelan dan kena banget sama kehidupan suami-istri modern. - Konfliknya klasik, tapi moral of the story-nya nggak pasaran. Menurut saya ini lebih cocok buat jadi bacaan masyarakat sekarang. Makanya saya ngerti juga kalau ending buku ini mungkin nggak bisa diterima banyak orang. Saya sih termasuk yang nemuin closure di endingnya.
The Critic: - Each chapter feels too short. Kayak harusnya bisa lagi diceritain lebih jauh, lebih dalam, lebih lama. - Ada beberapa hal yang buat saya nggak masuk akal, kayak modusnya Cita yang terkesan nggak terdeteksi oleh Ivan hingga muncul 'insiden pagi hari'. Kemudian adegan waktu Vania sengaja nggak menjawab telpon Ivan malam-malam beberapa kali yang berujung pada ketidaktahuan Vania tentang mertuanya meninggal (kenapa nggak SMS untuk kabar sepenting itu?) Terus ketika Ivan dan Cita jalan ke parkiran barengan, tetiba Ivan berdarah padahal kejadian lukanya udah dari di toko buku. Little things that just didn't add up. - Di bab-bab awal, both Ivan dan Vania sama-sama menggunakan gaya bicara 'Hallloooooo...?", mungkin penulis sendiri suka ngomong kayak gitu? - Di kesimpulan, nasibnya Ivan nggak terceritakan. Kentang bok. - Ada typo satu biji, but again bukunya lagi ilang dari pandangan nih. To be continue kalau udah ketemu kikikikik. - Tokoh-tokohnya did not engage saya yang baca. Justru Kika yang lebih banyak bikin penasaran karena ngomongnya suka ngawur, dan kalau lagi ngobrol dengan Kika, karakter Vania mendadak jadi lebih menarik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Untuk bacaan yang bisa dihabiskan sekali duduk, buku ini cukup layak dapat pujian. Mengangkat tema rumah tangga yang bisa membuat kita berkaca pada kondisi yang sering terjadi pada pasangan menikah di kota besar. Ya sejujurnya memang menikah itu tidak cukup hanya cinta. Aku setuju kalau tanpa kompromi, tidak akan ada yang namanya rumah tangga yang sukses. Buku ini bisa membuat kita banyak belajar dan mewaspadai tanda-tanda kalau sebuah rumah tangga tengah berjalan ke arah kehancuran, juga sekaligus belajar menerima bahwa realita tidaklah semanis dalam dongeng. Layak dicoba deh menurutku pokoknya.
Rating asli 3.5 Bakalan aku kasih 4 kalo ga pake epilog 😂 Cukup bikin merenung karena sifat gue agak mirip sama Vania nih, jadi serem juga mau miluh pasangan Btw...itu Vania ketemu Mbak Ina yg kedua kali di mana sih? Katanya pas narasi awal dia balik ke kantor? Tapi pas mereka beneran udah ketemu dan narasi selanjutnya malah bilang di Building masalahnya udah oke, tapi penyelesaiannya kurang suka :( Bukan ending tokohnya ya, tapi penulisannya huhuhuhu Gue udah puas banget pas di bab akhir, tapi pas nyampe epilog, malah jadi "duhhh kok gini sih?" Maapin, tapi overall suka banget sama penulisannya dan aku berniat baca karya Mbak Edith selanjutnya kok ;)
Yang mungkin ditakutkan, ada di buku ini. Yang mungkin dikhawatirkan, ada di buku ini. Beberapa pemikiranpun nampaknya juga ada di dalam buku ini. Alasannya memilih hal itu pun, mungkin sama dengan yang ada di buku ini.
Ini buku mbak Edith PS pertama yang saya baca. Menurut info dari Saudari Tiwi sih memang bagus buku-buku dia. Selanjutnya, Disonansi akan masuk ke to-be-read bookshelf. Sekian dan terimakasih.👌
Ketertarikan awal memilih buku ini adalah karena tema yang diangkat. Tentang perempuan yang kerja kantoran dan suami yang bekerja dari rumah (penulis). Cerita nya seru. Sampai konfliknya muncul juga masih seru. Ending nya pun benar-benar sesuai dengan kehidupan nyata. Hanya saja, aku masih mempertanyakan bagaimana keadaan Ivan setelah itu.
Well the story goes like ordinary story which you almost can predict in a serial drama. However, the way the writer writes the story is cool. I enjoy it a lot & finish the book less than 2 hours.
Review: Novel ini mengisahkan tentang sepasang suami istri, Ivan dan Ivana ~ beserta buah hati mereka Cherish, yang berusia 5 tahun. Ivana, sang istri alpha, yang artinya memberi kontribusi paling besar pada perekonomian keluarga menjadi tema yang diusung penulis kali ini, fenomena seperti ini memang sudah banyak terjadi di kota metropolitan macam Jakarta, dimana sang istri lebih berhasil secara finansial (pekerjaan) dibandingkan suami mereka.
Seperti itu jugalah yang dialami Ivana, seorang manajer di perusahaan besar dengan karir yang sedang naik daun dan Ivan, seorang penulis yang sedang mandek (almost jobless) atau kehilangan motifasi menulis semenjak anak mereka, Cherish, lahir. Cerita berjalan tenang di bagian awal, begitu juga kehidupan rumah tangga Ivana dan Ivan, hingga segala sesuatunya mulai berubah ketika Ivana mendapatkan promosi jabatan yang membuat dia harus berpisah dari suami dan anaknya. Ivana memilih untuk tidak tinggal serumah dengan dua orang yang paling dicintainya. Itu hanya permulaan. Permulaan atas perbedaan-perbedaan yang indah menjadi tidak lagi indah, tapi malah menyakitkan, keduanya.
My thought: Saya memutuskan membeli novel ini setelah membaca sinopsisnya, iya memang covernya sangat menarik, tapi saya nggak mungkin membeli buku hanya dari cover kan? (meski harganya murah) tema cerita yang selalu berhasil menarik perhatianku adalah tentang alpha wife, dan ini adalah novel kedua yang saya baca tentang alpha wife (sebelumnya novel alpha wife karangan ollie).
Menurut saya, menjadi alpha wife sebenarnya karena dua hal, pertama, keadaan, kedua pilihan individu tersebut. Meski beberapa orang "kuno" menganggap hal tersebut kurang pantas karena kodrat wanita adalah melayani bukan sebaliknya, but hey, our world changing, dulu tak ada internet sekarang ada, bahkan uang 1 rupiah jaman kakek saya dulu sudah tidak bisa digunakan di jaman sekarang, artinya dunia berubah, lingkungan berubah, begitu juga peran istri.
Tapi berubah itukan tidak bisa semena-mena juga, ada aturan yang tetap harus dianut. Karena klo kita keluar dari aturan sama saja kita siap untuk kena penalti. Novel ini memberi contoh yang bagus sekali dan juga membuka pandangan kita tentang menjadi alpha wife, tentang makna pernikahan, juga bagaimana seharusnya menjaga buah hati (anak) agar tidak terluka oleh sikap kedua orang tuanya.
Ada bagian dimana saya berurai air mata (iya saya memang cengeng) adalah ketika Ivana dan Ivan saling mempertanyakan hubungan mereka, saling mempertanyakan tujuan pernikahan mereka, this is so sad, though they have been married for six years, man!
Ini bukan novel favorit saya, tapi saya suka karena membaca Love Bites, banyak mengingatkan saya tentang betapa bahagianya memiliki pasangan, suami yang selalu ada ketika kita pulang kerumah setelah lelah seharian kerja, ada anak yang selalu menanti kita dengan senyum manis bak malaikat (padahal belum pernah juga saya ketemu malaikat, apalagi di senyumin #plak) - yah, intinya saya jadi banyak mikir setelah membaca novel ini. Bahwa, keluarga adalah harta yang sangat berharga.
That's why, saya kesel banget sama endingnya dan beberapa tokoh yang menurut saya gak perlu muncul karena peran mereka yang nggak penting banget, sampai sekarang saya heran kenapa Hara itu harus muncul lagi di epilog, dan Cita, oh my god ~ bahkan saya dipusingkan dengan peran-peran dia di sepanjang cerita ini. Mungkin penulis perlu memperdalam lagi untuk peran masing-masing karakter terutama Cita dan Hara, klo tidak ada dua tokoh tersebut saya mungkin suka novel ini, tapi karena kedua tokoh ini ada, saya jadi berpikir bahwa novel ini diselesaikan agak tergesa-gesa ~ anyway, tokoh idola saya tetap Ivan, Ivana dan Cherish, selain dari mereka bertiga, no comment.
Lepas dari itu semua, saya rekomendasikan novel ini untuk yang merasa perlu tendangan halus karena masih meragukan kelebihan dan kekurangan pasangannya, juga makna pernikahan..
"Tuhan menciptakan masalah bebarengan dengan menciptakan solusi" (Pg.81)
"People change. Sometime a little tiny thing we call love can't deal with it. We need to deal with it" (pg. 171)
"... Dan kami bisa menjadi suami-istri sampai tahun keenam ini, itu kehendak Tuhan. Dan gue yakin Tuhan nggak pernah iseng" (pg. 191)
Ceritanya singkat dan padat. Tentang Vania dan Ivan. Keduanya sudah menjalani pernikahan selama 6 tahun, dan dianugerahi seorang putri bernama Cherish. Vania bekerja sebagai seorang manajer di ssebuah perusahaan, dan memiliki penghasilan jauh lebih tinggi daripada Ivan yang berprofesi sebagai penulis lepas. Jam kerja Vania yang nine to five pun membuat Ivan lah yang lebih dominan mengurus si kecil Cherish.
Awalnya semua terasa baik2 saja. Hingga ketika Vania naik pangkat, dan memutuskan untk menempati apartement yg diberikan kantor, dan membuatnya hidup terpisah dengan Ivan dan Cherish. Kesibukan Vania, dan ego Ivan yang mulai terusik karena istrinya yang mulai 'perhitungan' membuat banyak masalah muncul. Ditambah lagi kehadiran Cita, guru TK Cherish, malah semakin membuat semua runyam. Apakah Ivan dan Vania berhasil melalui cobaan di pernikahan mereka? Silahkan baca novel ini :))
Cerita di novel ini ngalir kaya air sungai di pegunungan. Penuturannya yang lugas dan padat, sehinggga tidak butuh waktu yg lama utk menamatkan novel ini. Gaya penulisannya yang lincah pun bikin ceritanya asyik pas dibaca. Konflik dan solusi yang dipaparkan pun realistis dan nggk ribet. Jadi nggak perlu mikir yang mendalam pas baca.
Penulis juga pinter ambil moment2 yang 'pas' untuk membuat tokoh2nya bergalau ria. Misal, saat tiba2 Ivan nggk bisa menjemput Cherish tanpa pemberitahuan, yang membuat Vania kesal. Lalu saat Vania mereject telepon Ivan, karena kesal dengan suaminya, padahal Ivan ingin mengabarkan bahwa ibunya sedang sakit. Dan juga kemunculan Cita di apartemen Vania dan Ivan di waktu yg sangat tidak tepat. Dan jujur, saat Cita muncul, rasanya pengen nendang Cita ke permukaan paling dasar bumi. Nyebelin juga itu cewek satu. Hahaha. Well, dari novel ini kita bisa tau, kalau tiap orang itu pasti berubah. Dan cinta nggak selalu bisa menahan perubahan itu. Yang bisa kita lakukan adalah berkompromi dengan perubahan yang terjadi :).
Bagian yg agak sedikit kusayangkan adalah ending cerita. Karena aku memang pecinta happy ending garis keras, yang tokoh utamanya harus bersatu. Hehehe. Bukan berarti ending cerita di novel ini menyedihkan, tapi mengutip perkataan temanku yang sudah duluan membaca novel ini (a.k.a mbak Rani), bahwa ending ceritanya sangat realistis dengan argumen2 yang realistis pula sehingga aku masih bisa menerima keputusan penulis dengan ending yang dipilihnya :)).
berawal dari ketidak sengajaan gue yang sedang stuck sama PAPER TOWN-nya JG yang 'ko lama-lama flat ya??' gue menemukan novel ini ditumpukan atas yang 'dibiarkan'.
Dari premise sama idea udah menarik sich, Alfa Wife and Beta Husb? hmmm.. kayanya banyak deh sekarang yang begitu, coba lo tengok disekitar lo terutama mereka yang memutuskan lebih memilih untuk jadi TKW dari pada kerja dinegeri sendiri? yang sering gue baca, mereka memilih karena faktor ekonomi. nah dampaknya lakinya cuman pake sarung ngemong anak, terima setoran istri ditiap bulannya. kebayang gimana nasib anak kalo sampai salah manggil : papa jadi mama, mama jadi papa. ck ! nah, novel ini diawal menyuguhkan konflik yang cukup bikin penasaran, apalagi POVnya dibagi jadi dua : Ivan sang suami dan Ivana sang istri, bukan tanpa alasan penulis bikin nama kedua tokoh mirip soalnya dari sinilah cerita Cinta mereka dimulai. Oke gue suka sama alurnya, penokohannya, perbedaan gaya tulis antara dua orang itu, dan .. paling penting itu pembahasan soal film 'About Time' saudara - saudara. haha... itu adalah film paling fav gue sepanjang gue idup, karena nonton diacara screeningnya Dan.... *sisanya cukup gue dan tuhan yang tau* ahay deuh.
Sebenernya agak bingung mau ngasih 4 atau 3 yang akhirnya gue turunin jadi 3. kenapa? gue suka sama gaya bahasa penulisnya, sedikit gurauan apalagi pas bagian Kikan. yang jadi masalah adalah gue gak suka sama endingnyaaaaaaa... ahhhhhh... kenapa harus begini.hih. gue gak suka sama Ivana diakhir cerita yang gak ada perubahan sama sekali atau Ivan yang terlalu lembek walau diawal gue udah suka, kan kasian Cherish. apalagi bagian Epilog yang aduh apaan deh ini cerita si Cita *gue jadi inget Cita Citata penyanyi dangdut*, itu apa emang dia ditempatkan menjadi sosok penggoda bapak-bapak beristri dan beranak yang jadi muridnya? Ivana yang ko jadi unfaithful dengan punya perasaan ser-seran sama Hara. kalo boleh ngasih idea si biarlah meraka dengan jalannya masing-masing ini gak merubah perasaan mereka, semacam break gt cuman diakhir cerita dari 'break' itu mereka ngerasa jatuh cinta lagi. semacam perbaikan diri gitu.
Saat membaca sinopsis novel ini tentang seorang istri yang adalah wanita karir yang "bertugas" mencari nafkah, dan seorang suami yang adalah pria rumahan yang "hanya" bekerja sebagai penulis, saya tertarik untuk membacanya.
Vania adalah seorang manajer di kantornya. Kesibukannya yang membuatnya pulang malam membuatnya jarang berkumpul bersama keluarga. Tapi Vania sangat mencintai pekerjaannya, meski kalau bisa memilih dia ingin tinggal di rumah saja. Hanya saja, rekening di bank tidak mungkin terisi sendiri, bukan?
Sementara Ivan, dia hanya seorang penulis. Penghasilannya tidak seberapa dibandingkan Vania. Apartemen dan mobil semua dibeli pakai uangnya Vania. Enam tahun Ivan masih bisa bertahan atas nama cintanya pada Vania dan juga pada Cherish, anak mereka. Namun hati kecil Ivan masih berharap Vania bisa mengandalkan dirinya sebagai suami.
Ada dua gambaran wanita yang berperan sebagai istri dengan jalan hidup berbeda di dalam novel ini. Yang pertama adalah Vania. Dia memilih realistis dengan bekerja sampai bokongnya tepos (istilah Vania) supaya keluarganya bisa merasakan hidup yang nyaman. Yang dia lupakan adalah bahwa harta bukan satu-satunya jaminan kelangsungan rumah tangga. Orang kedua adalah Ina, kakaknya Ivan yang memilih meninggalkan mimpi-mimpi besarnya di biro hukum demi menjadi seorang ibu rumah tangga melayani suaminya yang adalah seorang jenderal. Sayangnya pernikahannya juga hancur, karena suami merasa bosan dengan istrinya yang mulai membiarkan meja riasnya berdebu.
Dan kami bisa menjadi suami-istri sampai tahun keenam ini, itu kehendak Tuhan. Dan gue yakin Tuhan nggak pernah iseng (hal. 191)
Novel ini membuat saya merenungkan kembali tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang istri, ibu dan juga karyawati. Kalau boleh memilih saya mau ada di pihak Ivan. Toh Ivan juga tidak menuntut istrinya berhenti bekerja. Dia hanya ingin istrinya mengubah pola pandangnya agar tidak selalu berkiblat pada dirinya sendiri. Tapi endingnya ternyata tidak seperti yang saya harapkan.
....dan kenapa juga si Cita muncul kembali di epilog??
Untunglah mati listrik di rumah gue nggak lama. Karena gue emang udah ga sabar pengen melahap kisah Ivan Vania dalam sekali baca.
Ugh, penulis seperti Edith Ps ini harus dibanyakin. Yah, at least, gue suka gaya nulisnya (dan tema bukunya juga). Lancar. Meskipun ini novel pertamanya (eh iya kan?ini debut kan), tapi aura 'debut' nya nggak begitu kentara.
Beralih ke isi buku. I totally love the whole. Yah, temanya lucu. Covernya juga 'sok dewasa' banget hahaha but funny beside. Walaupun plothole agak bertebaran, seperti kenapa nggak dijelaskan hal yang membuat Vania yang notabenenya too high.level mau nikah sama Ivan yang tergolong biasa banget (selain 'ketidakberdayaan' Ivan yang bisa diexplore oleh Vania, ya). Terus sampai di akhir cerita, imajinasi gagal membayangkan rupa fisiknya Ivan. Cuma disebutkan dia dadanya bidang. Pret, that's not enough, honey. Semoga aja Ivan ini ganteng ya (kalau engga, mana mungkin si Vania sudi).
Gue agak menyayangkan kebodohan Ivan yang mau mau aja involved dg Cita sehingga mengakibatkan kesalahpahaman bininya. Padahal asli deh, tanpa adegan-adegannya dg Cita ditambah kebodohannya yang bisabisanya dibegoin kawan, Ivan ini masih lumayan loveable kok. Apalagi di akhir-akhir buku dia nulis lirik IYECB-The Script, lagu kebangsaan gw sepanjang masa :). Yah, 'kepasrahan' doi sih kayaknya masih bs termaafkan ya, tapi kalo ampe curhat curhat plus ngasi konci apart ke wanita lain? Hihhh, big no!
Vania? Wajar sih dia rada arogan. Secara, dia supplier utama. Hahaha.
Kalo ditanya scene favorit: adegan plus conversation Ivan-Vania di mobil saat Ivan 'diusir' si Ferdinan tubang a.k.a tua bangka (Ups, Ivan affects me).
Kesel dengan kemunculan ekspatriat Jepang si Hara Hara Huru Hara itu. Juga dengan si guru TK genit, Cita. U both r just too irritating.
Terus ending. Uuuggggghhh! Kesel! Auk dah gelep. Happy ending aja kenapa si? Emang udah segitu parahnya tuh marriage life ampe nggak bisa dipertahanin lagi?
Sekalipun saya menyukai novel Metropop yang merupakan lini dari Gramedia, saya masih harus berhati-hati memilih novel yang saya comot. Beberapa pengalaman sudah membaca Mteropop ini, bisa dibilang saya masih beruntung menemukan novel dengan cerita yang menarik. Termasuk saat saya memutuskan membeli Love Bites ketika itu saya juga menginginkan novel Metropop yang lain.
Saya tertarik memilih novel ini karena pengantar novel di sampul belakangnya yang menarik. “Pertukaran peran” antara suami dan istri dalam rumah tangga menjadi sorotan utama. Konflik seperti ini belum pernah saya temui di beberapa novel yang sudah saya baca. Sehingga novel ini menjadi hal baru buat saya.
Sepanjang mengikuti cerita Love Bites ini, saya kadang dibuat jengkel oleh perangai Vania yang bossy banget dan kepatuhan yang ditunjukan Ivan. Tapi sikap dan karakter mereka justru terasa sangat nyata. Berimbang dengan perasaan mereka yang manusiawi ketika kondisi mengharuskan mereka untuk berpikir pakai hati.
Paling gemes ketika Ivan menjual mobil untuk membuka usaha tapi dia merahasiakan dari istrinya, Vania. Menilik tindakannya, saya juga tidak setuju dengan tindakan Ivan. Vania itu istrinya. Mereka tidak sedang pacaran dan bisnis (pekerjaan) bukan hal remeh temeh yang patut dijadikan kejutan. Bisnis (pekerjaan) adalah hal vital yang masuk salah satu topik diskusi antara pasangan suami istri. Dan tindakan Ivan ini menurut saya lebay.
Terlepas dari kelebayan Ivan, saya sangat bersyukur sudah membaca novel ini. Banyak sekali pelajaran dalam rumah tangga yang saya dapat dan beruntung pembaca diingatkan akan beberapa hal yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan dalam kehidupan berrumah tangga. Keseluruhan, novel ini penting dibaca untuk yang mau dan sudah berrumah tangga.
love the 'not a happy ending' end for this story.. ayolah, gak semua hal di muka bumi berakhir baik dan membahagiakan kan. 2 karakter utamanya sama sekali gak bs dikotakkan jd antagonis atau protagonis. selayaknya semua manusia di muka bumi yg pny kebaikan dan keburukan. the alpha wife, yang walaupun di momen2 tertentu egois, dan dengan sengaja memposisikan dirinya dominan di dalam keluarga ( secara dia sadar hampir semua aset materi keluarga 'sumbangan' dia ), bagi gw ttp terlihat sbg wanita yg mature, independen, ga memusingkan hal kecil, melakukan apapun demi anaknya ( sperti hampir semua ibu di dunia, gw rasa), dan pd hakikatnya gak mempermasalahkan ketiadaan peran suaminya dlm finansial keluarga. the beta husband, yang juga di momen2 tertentu bersikap bodoh (gampang tertipu ajakan bisnis, nyaris kepeleset sm cewe lain, dan gak membuka diri sm dunia luar -->> penulis koq kuper??? ) dan emg agak males (hehehe) alias cenderung less motivated, bagi gw ttp terlihat sbg suami yg nrimo, dan ikhlas menjalankan perannya dengan baik ( bikinin sarapan, antar jemput anak, belanja keperluan keluarga) sampe2 anaknya(yg usia 5 thn ) bs sedih kl ayahnya sedih. the best part buat gw, pas suaminya bilang setiap istrinya plg kerja, dia selalu pengen memeluk istrinya semalaman, krn dia tau istrinya kerja keras buat mereka sekeluarga. best part yg lain, pas istrinya bilang dia mengapresiasi tinggi suaminya yg telaten mengurus anak, menyiapkan sarapan, dan 'mengurus rumah' untuk mereka sekeluarga. peran dan sifat apapun yg ada dlm pasanganmu, adalah tugas kita untuk mencari sisi terbaik dan mengapresiasinya ;)
Dari awal membaca emosi sudah keaduk-aduk. Bukan karena alur cerita, tapi lebih ke karakternya. Vania dengan sifat dominannya yang lupa dengan hakikat sebagai istri dan seorang ibu, yang bekerja sampai larut demi mencukupi materi untuk sang anak, tapi dia lupa kalau dia juga seorang istri yang sudah menjadi hak-nya untuk melayani suami. Sementara Ivan dengan sifatnya yang terlalu manut, yang bahkan tidak bisa lagi mengungkapkan pendapat. Jujur saja, tokoh Vania bukan contoh yang baik untuk para alpha-wife diluar sana. Bahkan terkesan play victim. Sama-sama salah sih sebenarnya, tapi entah kenapa aku malah merasa titik permasalahan pernikahan mereka ada pada sifat Vania.
Dari segi penulisan, aku suka karena diceritakan dengan 2 PoV. Tapi di PoV Ivan aku memang merasa terlalu 'lembek' sih sebagai suami, walau pun karakternya memang lebih banyak mengalah. Masih ada typo, tapi masih bisa dimaafkan karena tidak sampai mengganggu. Dan endingnya itu.....hmmmm padahal aku berharap beda. Overall okelah ceritanya. Cocok bagi semua kalangan pembaca karena bisa menjadi pembelajaran juga baik bagi yang sudah menikah ataupun belum.
Temanya nggak pasaran dan cukup menarik untuk dibaca. Gimana nggak? Istri dan suami bertukar peran dalam rumah tangga mereka. Pertama - pertama, hubungan ini terasa awkward sekali bahkan untuk pembaca sekalipun. Vania seorang workaholic, dan Ivan suaminya adalah seorang penulis yang notabene hanya tinggal dirumah, lebih banyak pusing memikirkan tema dan isi naskahnya daripada kerja kantoran. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Cherish. Dan pekerjaan - pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Vania malah dilakukan oleh Ivan. Yup, Alfa Wife, Beta Husband. Bisakah hubungan ini langgeng? In my humble opinion, sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa dijalani.
Sy belajar banyak dari mbak edith soal tulisan yang asyik ini, dia tak basa basi menceritakan sesuatu dan itulah hebatnya. kalo bisa bilang bukunya seperti memaparkan realita, jauh dari sinetron apalagi drama. konflik yang diangkat juga bikin kagum, Mbak edith PS mengangkat masalah sosial umumnya kehidupan keluarga yang memang sudah mengakar dijaman serba modern ini, alpha wife dan betha husband, pertukaran kewajiban kalo bisa saya bilang. Dengan tidak meninggalkan unsur Indonesianya. kisah ini memang jarang menjadi pembahasan umum masyarakat, tapi nyatanya memang sudah mengakat dewasa ini. ah pokoknya suka, cocok buat yang mau nikah.
Novel ini bercerita tentang istri yang menjadi tulang punggung keluarga dan suami yang menjadi bapak rumah tangga. Dimana di Indonesia hal ini masih dipandang masyarakat aneh. Dan kehidupan mereka pun diceritakan dengan konflik konflik yang muncul. Hingga akhirnya mereka harus berpikir ulang apakah yang mereka lakukan selama ini benar.
Cuma bisa kasi bintang 3. Masih gak terima kenapa endingnya gitu bangett. Dan masih bingung dengan epilognya. Apa hubungan hara sama cita dengan kehidupan lanjutan ivan sama vania. Mbak edith, gak berniat buat seri duanya kah? :D Nyesek aja, karena dua-duanya salah sihh...
Memilih buku ini untuk dibeli didorong oleh tema-nya yang menarik. Sekaligus penasaran juga, jaman sekarang, tukar peran antar suami-isteri realistis ga.
Ternyata, mau jaman dulu- apa jaman sekarang, memang cari suami harus yang lebih dari segi financial.
Sebenarnya awalnya berharap ada secercah happy ending untuk cerita ini.... Tapi ternyata..
Ya sudahlah. Mari kita cari laki-laki yang mapan :p
Any how... Agak merasa salah baca buku kayak gini. Yang ada tambah takut ngeliat pernikahan bukannya tampah pengen :p
This entire review has been hidden because of spoilers.
Fenomena alfa wife dan beta husband menarik sekali krn akhir2 ini memang sering terjd begini. Bagaimana istri jungkir balik di kantor dan suami mempersiapkan kebutuhan rumah tangga walopun pd akhirnya ego kelelakian ivan keluar dan ingin buka bisni tp ujung2 nya ngg berjalan juga, menarik karena banyak hal diceritakan dng versi lbh ringan Endingnya mengalir bgt saja dan tidak dipaksakan jd enak utk diikuti
okay, buku ini saya selesaikan hanya sekitar 4 jam dan im gonna say "AUTHOR KAMU JAHAT" :"(
dengan 2 sudut pandang saya jadi bisa merasakan karakter masing masing dan saya pun cukup dibawa hanyut kedalam cerita ini. saya suka dengan kesederhanaan dalam artian tidak melebih lebihkan cerita hanya untuk menggaet pembaca. cerita ini penuh dengan realita yang ada di sekitar kita. saya pun enjoy enjoy aja baca nya
Buku ini bagus sih.. kalau ada yg mau nikah bisa jadi pelajaran untuk belajar realita pernikahan. jadi bisa tu belajar cara berkomunikasi dengan baik dan benar sama calon.
kalau yg udah nikah, bisa jadi pelajaran juga atau malah memotivasi untuk cerai sekalian? hehehehhe..
tapi dari buku ini yg aku ambil adalah "better give it a try.."
Actually it's 2,5. Cukup suka dengan penuturan ceritanya meskipun masih terasa aneh di beberapa bagian.
I just don't like the ending. Tumben-tumbenannya saya kepengen ending klise di mana everything's fixed, everything is really gonna be fine. Dibilang bukan happy ending sih engga juga ya, but I just really wish that this alpha wife-beta husband thing can work in real life.
Temanya boleh berat , tapi karena gaya nulisnya yang asyik, jadi bacanya enak dan ringan. Galau2nya Ivan dan Ivana dapat banget. Walaupun ada beberapa bagian yang terasa sangat terburu2 buat saya,, itu tdk mempengaruhi sama sekali. Endingnya sekali lagi mengajak kita buat berfikir realistis, dan itu nilai plus yang saya suka dari novel ini. Aduh..pokoknya suka banget deh ama novel ini <3