Sejak dilahirkan, manusia diberikan “kendaraan” yang kita sebut “Self”. Hanya dengan self driving, manusia bisa mengembangkan semua potensinya dan mencapai sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Sedangkan mentalitas passenger yang ditanam sejak kecil, dan dibiarkan para eksekutif, hanya akan menghasilkan keluhan dan keterbelengguan.
Rhenald Kasali telah mengabdikan sebagian hidupnya untuk memimpin transformasi mindset. Buku ini adalah hasil kajian seorang pendidik yang pernah empat kali terlibat dalam panitia seleksi calon pimpinan KPK, calon CEO, dan pimpinan dalam jabatan publik.
Tergoda juga untuk membeli dan membaca buku ini yang lagi-lagi dipicu oleh book hangover setelah menyelesaikan Passion 2 Performance. Alasan lainnya ya karena sedang butuh bacaan untuk memotivasi diri agar mau memperluas comfort zone dan melihat hidup ini sebagai an endless learning zone.
Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian Buku ini tidak menggunakan kata-kata yang sulit. Awalnya aku kira buku ini ditujukan kepada pembaca yang sudah berada pada tataran profesional entah itu manager atau bahkan pimpinan yang paling atas sekalipun. Namun, dugaanku tersebut tidak terbukti. Dari awal, dari bab 1 saja, bahasanya bisa dimengerti dengan mudah oleh pembaca awam.
Begitu pula dengan cara penyampaiannya. Tanpa perlu menggunakan bahasa yang kasar, penulis bisa membuat pembaca tersadar, minimal mengkoreksi diri. Basa-basi tidak tampak dalam buku ini karena penulis langsung dapat mengutarakan maksud inti. Karena tidak bertele-tele itulah, aku menjadi ingin membaca dan segera menyelesaikan buku ini. Seakan-akan aku tengah menilai diriku sendiri menggunakan "indikator" pemaparan yang disebutkan dalam buku.
Isi Buku Kalau sudah langganan dengan artikel penulis di media massa (baik itu cetak maupun elektronik), aku rasa pembaca tidak terlalu bingung apa yang dimaksud dnegan "Self Driving" itu. Namun, bagi pembaca pemula, semenjak awal bab, penulis memberikan "definisi" dengan singkat dan mudah ditangkap tentang judul buku tersebut.
Mengutip salah satu pernyataan dalam serial Drama Jepang, bahwa manusia selama ini hanya menggunakan 10% dari kemampuan seutuhnya dan sisanya masih "tertidur". Buku ini seakan meminta kita, manusia, untuk membangunkan potensi 90% yang lama tidak digunakan itu. Dibuka dengan penjelasan-penjelasan mengapa kita harus memaksimalkan potensi dengan menjadi "Self Driver" dan kemudian barulah penulis menjelaskan satu per satu langkah yang bisa dipelajari dan dilatih oleh pembaca untuk menjadi "Self Driver".
Meskipun tertulis "Self" bukan berarti manusia harus menjadi sosok yang egois. Seorang "Self Driver" yang baik ialah mereka yang juga bisa mengajak orang lain menjadi "Self Driver" berikutanya. Buku ini juga memotivasi pembacanya bahwa sekalipun kita bukanlah pemangku wewenang, kita juga bisa menjadi "Self Driver", dimulai dari melakukan perubahan terhadap kebiasaan diri (misalnya: menjadi semakin disipilin).
Ada banyak sekali hal-hal yang biasanya kita abaikan ternyata jika dicermati dan diubah menjadi hal yang positif akan merubah tatanan sistem ke arah yang lebih baik dan tentu saja menjadi lebih efisien. Coba saja bayangkan apabila baik itu tim kerja maupun pimpinan tidak mau melakukan perubahan padahal mereka tahu bahwa kinerja selama ini bukanlah yang efektif dan efisien, tentu saja pekerjaannya akan menjadi lambat, produktivitas juga tidak mengalami peningkatan.
Bagaimana dengan yang masih mahasiswa sepertiku? Sama seperti pada paragraf sebelumnya, bahwa ada banyak hal yang dapat diambil. Misalnya untuk menjadi individu yang manja namn juga bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambilnya. Bukan berarti sibuk mencari tambahan uang saku lantas meninggalkan pendidikan yang tengah dijalani. Malah karena mahasiswa itulah, dalam buku ini penulis menyarankan agar kita membuka wawasan dan networking dengan beragam cara.
Yang pasti, untuk menjadi "Self Driver" adalah mengubah pola pikir dari yang semula merasa sudah berada pada titik aman dan nyaman, menjadi bahwa kecerdasan manusia akan menurun jika jarang digunakan. Oleh karena itu, berulang kali dalam buku, penulis mengingatkan seorang "Self Driver" pasti harus tahan banting, benar-benar mau berpindah-pindah zona nyaman dan tidak pernah berhenti belajar.
Yang aku sayangkan adalah ada beberapa bagian semacam instruksi untuk berlatih mengubah pola pikir yang membutuhkan tenaga lebih dari 1 orang (alias berkelompok). Aku melewati bagian-bagian itu karena menurutku seharusnya hal seperti ini diberikan kepada peserta pelatihan.
---
Secara keseluruhan buku ini aku rekomendasikan kepada semua kalangan, entah itu siswa/mahasiswa, para orang tua, pegawai, hingga pimpinan sekalipun. Bahwa menjadi "Self Driver" dimulai dari diri sendiri bisa sangat berimbas baik pada kemajuan bangsa Indonesia :)
Buku yang bagus untuk standar buku Indonesia. Tapi saya rasa kurang berdaging untuk buku yang ditulis seorang guru besar. Di beberapa bagian, buku ini juga terasa seperti bagian dari marketing Rumah Perubahan. Seolah-olah konten dari pelatihan hanya bisa diakses dari Rumah Perubahan. Lebih menyebalkan dari konten promosional di buku "This is Marketing" oleh Seth Godin--yang masih menawarkan materi fundamental sebelum merefer ke situs miliknya sendiri.
Mungkin saya sensitif karena buku ini masuk dalam kategori manajemen. Nyatanya referensi yang dipakai lebih banyak artikel pribadi (editorial, opini, anekdotal) dan buku-buku self-help populer dibanding penelitian. Jadi, kok rasanya tips yang diberikan kurang kredibel. Menurut saya buku ini lebih cocok masuk kategori pengembangan diri atau self-help. Karena konten yang paling berat ya konten motivasional, bukan manajerial.
Tapi, sepertinya memang sengaja. Toh Prof. Rhenald Kasali kenal benar orang Indonesia. Kalau dibuat berdaging, nanti orang malas baca. Mungkin memang dibuat sebagai buku pengenalan untuk memicu orang berpikir.
Saya paling suka insight tentang cara bekerja pemerintahan dan organisasi di Indonesia. Terlihat memang penulis adalah orang dalam. Kritiknya juga memicu berpikir tanpa terlalu menyinggung, khas pengajar tulen yang sudah terbiasa berurusan dengan birokrasi.
Kalau tertarik mencari yang lebih berdaging, saya merekomendasikan buku-buku berikut:
Bab 2: Manusia Berpikir 1. Blink by Malcolm Gladwell 2. Thinking Fast and Slow by Daniel Kahneman
Bab 4: Passengers 1. Inner Bonding: Becoming a Loving Adult to Your Inner Child by Margaret Paul 2. The Whole Brain Child: 12 Revolutionary Strategies to Nurture Your Child's Developing Mind by Daniel Spiegel & Tina Bryson
Bab 5: Drivers 1. Influence: Science and Practice by Robert Cialdini 2. Radical Candor: How to Get What You Want by Saying What You Mean by Kim Scott 3. Problem Solving 101: A Simple Book for Smart People by Ken Watanabe
Bab 6: Self Discipline 1. Atomic Habits by James Clear (my fav!! highly research-backed) 2. Make Your Bed by William McRaven (ini mirip dg self-driving isinya konten motivasional berdasarkan pengalaman penulis)
Bab 7 (Risiko) dan Bab 8 (Play to Win) sepertinya memang bukan tipe yang bisa diteliti secara khusus tapi ya mari kita ambil referensi penulis: 1. 7 Habits of Highly Effective People by Stephen Covey 2. Outliers by Malcolm Gladwell
Bab 9: The Power of Simplicity 1. Problem Solving 101: A Simple Book for Smart People by Ken Watanabe
Bab 10: Creative Thinking Semua buku yang mampu menambah perspektif dan membuat manusia berpikir jauh dari kehidupannya sendiri :D
Bab 11: Critical Thinking Idem, asal bisa buat mikir keras, itu buku bagus! Untuk yang kontemporer saya suka tulisan Emha Ainun Nadjib dan Eka Kurniawan. Fiksinya Pramoedya Ananta Toer. Versi internasional ada banyak sekali, ayo baca kawan!
Bab 12: Growth Mindset 1. Mindset by Carol Dweck 2. Grit by Angela Duckworth 3. Atomic Habits by James Clear (iya saya suka bgt)
All in all, sangat senang membaca buku ini ketika sedang sangat tertekan. Banyak teori penulis yang sudah sesuai dengan mindset dan cara hidup saya (siapa lagi yang mau afirmasi hobi bolang dan stranded di kota dan negara orang?). Jadi, memang sangat memotivasi karena seperti diberi afirmasi oleh dosen sendiri :D
Ingin rasanya memberi bintang 4, tapi sayang juga kalau tidak dibandingkan dengan buku serupa di pasar internasional. Recommended read! Terutama yang tidak terbiasa baca buku non-fiksi.
Saya baru sekarang baca buku karya bapak Rhenald Kasali. Dan harus saya akui, bukunya beliau ini memang bisa membangkitkan semangat. Ada satu sih yang agak menganggu, penempatan boks2nya agak kurang proporsional menurut saya. Tapi bagus dan cocok kok buat menambah ilmu.
Beberapa kali dalam buku ini Bapak Rhenald menekankan pentingnya pendidikan yang membangun pemikiran. Dan memang demikian. Dalam ceritanya yang disampaikan baik dalam bentuk boks (yang beberapa diantaranya merupakan hasil karya tulis beliau yang pernah dipublikasikan di beberapa media massa), beliau memasukkan contoh-contoh nyata yang kadang bisa mengernyitkan dahi sekaligus juga membuat kita berimajinasi.
Jadi apa sih Driver itu?
Driver, seperti yang diilustrasikan dalam buku ini adalah penggerak. Mereka mempunyai visi yang besar, dan tahu cara mewujudkannya. Meskipun jalan yang mereka tempuh tidak semulus yang dikira. Dan setiap orang haruslah menjadi seorang Driver untuk mempertanggung jawabkan apa yang disebut oleh Pak Rhenald sebagai mandataris kehidupan.
Menurut Pak Rhenald, pendidikan resmi saat ini (sayangnya) tidak membentuk anak-anak untuk menjadi driver, tetapi seorang passenger. Ini bisa dilihat dari bagaimana mental mereka yang ingin bekerja ringan tapi mendapat gaji besar, misalnya. atau bagaimana institusi kampus kita justru hadir untuk mencetak tenaga kerja, bukan menciptakan seorang pemikir (!!). Lalu di beberapa bagian, Pak Rhenald juga mengkritisi bobot pendidikan kita yang dianggap terlalu memperhatikan kuantitas keilmuan, bukan kualitas.
Pak Rhenald juga mengkritisi beberapa tindakan orang tua yang over protective terhadap anaknya, yang justru malah membuat si anak menjadi tidak mandiri dan hanya bisa menjadi passenger. (pelajaran untuk kita ya ketika nanti jadi orang tua, aamiin)
Sedikit berbagi isi yang saya dapatkan, apa saja sih sebenarnya prinsip seorang Driver?
Prinsip seorang Driver, menurut Pak Rhenald ada empat: - Inisiatif - Melayani - Navigasi - Tanggung Jawab
Inisiatif, berarti bekerja tanpa ada yg menyuruh. Berani mengambil langkah berisiko, responsif, dan cepat membaca gejala.
Melayani, berarti orang yang berpikir tentang orang lain, mampu mendengar, mau memahami, peduli, berempati.
Navigasi, berarti memiliki keterampilan membawa gerbong ke tujuan, tahu arah, mampu mengarahkan, memberi semangat, dan menyatukan tindakan. Memelihara “kendaraan” untuk mencapai tujuan.
lalu Tanggung Jawab, berarti tidak menyalahkan orang lain, tidak berbelit-belit atau menutupi kesalahan sendiri.
Sebenarnya masih banyak yang didapatkan dari buku ini. Btw saya jadi inget lirik lagunya Brand New Heavies yang berjudul You Are the Universe,
Bukan bacaan ringan yang dibaca sambil lalu, tetapi harus diselingi dengan berpikir matang-matang. Awalnya aku kira hanya akan membahas tentang mentalitas driver dan passenger, ternyatanya cakupannya luas hingga membahas critical and creative thinking, growth mindset dan lainnya. Cukup untuk mengubah sudut pandangku selama ini. Aku rasa, semua orang harus membacanya, tidak peduli tua ataupun muda, profesional atau amatir, berpengalaman atau tidak. Dan memang benar adanya, perubahan tidak akan dimulai kalau dirimu sendiri tidak memulainya dari sekarang juga.
Judul Buku:Self driving Penulis:Rhenald Kasali,pH.D Jumlah Halaman:270 halaman,terbagi 13 BAB.
BAB I Buku ini mengajarkan kita untuk menjadi manusia seperti apa.Dalam buku ini ada 2 pilihan yang mau kita pilih yaitu: Menjadi driver atau passenger. Salah satu contoh dalam buku ini adalah Ryan tumima yang menggegerkan kita ketika awal Agustus (2014) meminta Mahkamah konstitusi menguji materi pasal 344 KUHP terhadap UUD 1945.Ia meminta agar dilegalkan untuk melakukan bunuh diri.Ia ingin mengembalikan mental kehidupan nya. Karena Ryan mengalami depresi, karena lebih dari satu Tahun menganggur,dia pun menjadi putus asa, padahal ia mempunyai gelar S2 dari jurusan ilmu administrasi FISiP UI. Dari kasus Ryan ini kita dapat pelajaran tentang antara tahu dan bisa., karena tahu itu belum tentu bisa,dan bisa itu belum tentu tahu. Banyak orang berpikir, label - label itu akan bekerja untuk saya, padahal pendidikan yang benar mengajarkan "jangan jual label - label itu" melainkan " jual lah apa yang engkau miliki", yaitu: Dirimu sendiri.kata label diatas maksudnya adalah: sekolah mu, gelar apa yang kamu miliki, kebanyakan orang di dunia ini selalu menganggap dengan gelar - gelar yang dia miliki akan menjadi jaminan dia sukses/berhasil, tetapi dia tidak tahu apakah dirinya memiliki kemampuan sampai dimana. Contoh yang kedua bisa kita lihat dari seorang presiden Theodore Roosevelt atau TR,dia adalah presiden Amerika serikat yang ke-4, dimana sejak kecil sudah memiliki penyakit yang membuat dia berbeda dengan teman - teman nya, Namun karena kegigihan sang ayah yang selalu mendukung dan membantu dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuat TR lebih semangat lagi dalam menjalani kehidupan nya dan terus berlatih untuk perkembangan fisik nya. Dari 2 contoh di atas kita pasti memilih seorang TR yang patut kita tiru dalam kehidupan sehari-hari.Sesuatu yang ada pada dirimu itulah kendaraan mu,ia telah menjelma menjadi kekuatan mencipta, berkarya, berprestasi atau berkreasi.Dan untuk itu anda memerlukan kendaraan dan pengemudi nya.Kendaraan itu milik anda, demikian juga pengemudi nya.Seorang driver tidak cukup hanya bermodalkan tekad dan semangat,ia butuh refrensi dari pengetahuan akademis.
BAB II : Manusia berpikir Dari sejumlah orang yang menekuni profesi tertentu hanya kurang dari 2% yang benar - benar serius dan mengembangkan dirinya, yang lain terperangkap dalam mentalitas penumpang yang memilih menunggu. Dari 100% pengajar di perguruan tinggi negeri, ternyata hanya 2% diantara mereka yang meraih gelar S3 dan dari ratusan doktor atau Ph.D, ternyata hanya sekitar 2% yang aktif melakukan publikasi dan menjadi guru besar.Lalu, lebih dari seratus guru besar yang ada hanya 2% yang menjalankan apa yang mereka tulis dan menghasilkan impact dalam masyarakat. Menjadi driver bukanlah sekedar menyetir dan memiliki SIM.Banyak manajer memegang legelitas untuk memimpin tetapi tidak banyak berbuat dalam posisi nya itu.Sementara dilingkaran penting pengambilan keputusan pemerintahan kita juga banyak menemui orang-orang yang hanya " menjalankan perintah orang lain"(atasan,relasi, partai politik,dsd). Driver yang baik akan tumbuh subur dalam sebuah driving society.Kita memerlukan sistem politik dan leadership yang mendukung tumbuh dan berkembang nya kekuatan rakyat, pegawai, pengusaha, pejabat, atau bahkan mahasiswa sebagai "driver" yang memajukan bangsa.
BAB III : Mengapa kaum muda memilih Universitas. Tahukah anda,dari 7,7juta penduduk Indonesia, yang menganggur hampir 500.000 orang, diantaranya adalah Sarjana, kalau setiap tahun ada 200.000 orang sarjana yang dihasilkan dinegeri ini,maka ini berarti 3 generasi sarjana pada saat yang bersamaan dianggap dunia kerja sebagai tidak layak bekerja. Karena pendidikan kita terlalu bersifat kognitif maka lembaga - lembaga yang merekrut pegawai perlu melatih ulang karyawan - karyawan nya.Tentu saja anda bisa mengatakan seperti ini: mengapa tidak di-refrom saja persekolahan kita? Jawaban nya adalah perubahan dikementrian pendidikan sangat panjang.Itu disebabkan karena banyak belenggu yang mengikat sistem pendidikan kita. 1.orang - orang yang menangani kebijakan pendidikan lebih banyak berkarakter Passenger, sehingga sulit diharapkan mengerakkan perubahan. 2.pendidikan nasional Indonesia dibentuk berdasarkan undang-undang Sisdiknas yang secara implisit menyebutkan subjek apa saja yang harus diberikan kepada peserta didik.Dan bila diperinci, maka beban yang harus ditampung anak didik atau calon pegawai Indonesia itu sangat berat. Lantas, bagaimana menata ulang pilihan mereka? penataan harus dimulai dari framework from passenger to be drivers,maka pelatihan harus dilakukan pada entry level dan diperkuat pada midlevel.
BAB IV: 2 jenis penumpang (Bad and good passenger) Di BAB ini, mereka menceritakan banyak menemukan begitu banyak orang yang bermasalah.Mereka menemukan banyak passenger yang "tersakiti" dan " sakit" yang ternyata lebih mudah berpindah kuadran untuk menjadi "driver". Dengan memahami masalah yang dihadapi dan sharing dalam kelompok,para peserta menjadi tertantang untuk saling membantu dan saling menguatkan.Mereka menjadi bisa mengerti mengapa sehari - hari rekan - rekan kerjanya begitu pendiam, banyak murung, kurang inisiatif, banyak mengeluh,dsb. Yang jelas,tak ada orang yang sempurna, yang ada adalah orang yang menutup - nutupi kekurangan nya.Orang seperti ini akan banyak memberi alasan terhadap alasan terhadap hal-hal yang tidak dikerjakan nya dan lebih suka mencari pembenaran ketimbang kebenaran.Dan ia akan menjadi beban bagi organisasi.Kepemimpinan nya tidak optimal. Saya kasihan melihat anak - anak kita yang sesungguhnya bisa menjadi lebih hebat, tetapi kurang dipercaya orang tua.Berikan kepercayaan, tantangan,dan dukungan,maka mereka dapat menjadi lebih hebat lagi, jangan kekang,hambat, atau jadikan mereka passengers.
BAB V :2 jenis pengemudi ( Bad and good drivers) Adae bad and good passengers, ada pula bad and good drivers, setiap bibit akan menentukan pokoknya.Tanpa terapi,bad passenger hanya akan berubah menjadi bad drivers.Oleh karena itu adalah kewajiban para pemimpin dan pendidik mempersiapkan perubahan positif dan benih - benih loser yang melekat pada kader - kader dibawah nya. 1.Bad drivers: supir ugal-ugalan. Benar, Bad drivers dapat diumpamakan sebagai supir ugal-ugalan, supir tembake yang tidak terlatih.Pada setiap self yang memiliki inteligensi yang tinggi, dibutuhkan pengemudi berkualitas tinggi pula. Orang - orang yang terlatih akan tahu menempatkan diri, kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan.Ia harus tahu kapan harus bergerak maju kapan harus mundur.
2.Good drivers Banyak contoh sebagai good drivers dibuat dibuku ini, seperti: presiden Amerika serikat yang ke - 4( Theodore Roosevelt), presiden Ir.soekarno, presiden K.H.Abdurahman Wahid, Jusuf Kalla,dsb. Ditangan mereka, batu berubah jadi emas, perusahaan yang terpuruk tumbuh positif , aset - aset perusahaan berkembang pesat, kepercayaan tumbuh baik, pelayanan meningkatkan,dan reputasinya diakui dimana - mana.Ditangan mereka, pemerintah daerah maju pesat, kesejahteraan rakyat nya tumbuh, mereka menggusur tetapi tidak meminggirkan kaum miskin.Memimpin dengan Wales asih. Good drivers adalah seorang inisiator,tokoh perubahan dan mampu menjadi role model bagi banyak orang.
BAB VI : Self discipline (Disiplin diri) Tak ada yang mampu mengalahkan manusia yang disiplin.Bahkan senjata yang lebih modern dan pasukan yang lebih banyak sekali pun tak akan bisa mengalahkan samurai.Kalimat itu diucapkan Nathan komandan pelatih yang didatangkan investor pembangunan jalan rel kereta api di Jepang dalam era restorasi Meiji. Itulah model seorang drivers, disiplin dan kehormatan diri.Meski disiplin dilatih dengan melakukan sesuatu yang penting secara rutin untuk membentuk kebiasaan, disiplin bukanlah sekedar sesuatu yang rutin.Disiplin adalah sebuah komitmen, meski sesuatu berubah kalau kita berkomitmen, maka kita selalu siap menghadapi dan memenuhi nya. 3 jenis disiplin: 1.forced discipline: Disiplin ini digerakkan dari luar oleh lembaga tempat anda bekerja, orang tua, guru, trainer, atau coach anda. 2.Self discipline: Disiplin ini berasal dari dalam diri masing-masing yang dibentuk secara bertahap dan melawan ketidak nyamanan diri. 3.Indisiplin: ini adalah perilaku yang tidak berdisiplin. Orang - orang yang berdisiplin dan berhasil menjadi driver biasanya memiliki kecendrungan berikut, mereka bahkan tidak menyadari telah memiliki respon otomatis yang tampak dalam air muka, gerakan tubuh dan langkah kaki mereka. Banyak latihan yang bisa anda bangun untuk mendapatkan self discipline.Beberapa hal berikut ini adalah hal-hal yang bisa anda kembangkan untuk menjadi seorang drivers. 1.Tetapkan sasaran 2.Pelajarin aturan - aturan nya 3.Buang perilaku buruk 4. jadilah manusia bertanggung jawab 5. Manajemen "deadline" 6. Jadikanlah gaya hidup 7. Manajemen 3D: do it,delegate itor dump it. Seorang driver adalah manusia yang berdisiplin, dan manusia yang memiliki self discipline tidak melulu harus diperintah orang lain untuk melakukan inisiatif-inisiatif positif.
BAB VII: Ambillah resiko Seorang driver sudah pasti mengekspos diri pada resiko.Anda tak mungkin menjadi driver tanpa memikul beban resiko sama sekali.Dengan demikian, anda mungkin saja berhadapan dengan masalah atau kesalahan-kesalahan. Tak ada orang yang belajar mengemudikan kendaraan dengan selalu mulus tanpa masalah sama sekali.Benturan - benturan kecil adalah biasa dan bila ia ceroboh,nyawanya dapat hilang. Sebaliknya, Bili anda bertemu dengan orang yang tak pernah melakukan kesalahan sama sekali, barang kali ia hanyalah orang yang tak pernah berbuat apa-apa. Sehingga ia pun tak punya kerja apa-apa, tak ada warisan kar ya berarti, dan tak memiliki keteguhan hati. Jadi pengambilan resiko berbeda dengan berjudi (gambling). Dalam berjudi, seseorang sekedar mengadu nasib yang hasilnya 100% sangat acak (random). Dalam gambling anda bermain game tanpa keahlian khusus dan berharap akan terjadi keajaiban. Bila pengambilan risiko memungkinkan orang yang bekerja keras berhasil, maka dalam berjudi anda hanya mengandalkan keberuntungan tanpa kerja keras. Berikut adalah tips untuk melatih pengambilan risiko. 1. Jangan Membuang waktu 2. Latih Persepsi anda 3. Menumbuhkan persepsi 4. Berinnvestasi lah 5. Belajar 6. Ukur Kemampuan Seorang driver mengambil resiko yang terukur, melakukannya setahap demi setahap sambil menguji kebenaran serta meningkatkan keterampilan, keahlian dan reputasi.Dengan mengekspos diri pada bahaya yang terukur, seorang driver menumbuhkan kemahiran dan melatih persepsinya. Resiko dan kegagalan, salah satu ilmu yang berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir ini adalah manajemen risiko (Risk management). Namun dalam perjalanannya, management resiko lebih banyak dipakai di sektor keuangan, khususnya sektor perbankan. Ada 7 hal yang membuat seseorang gagal yaitu: 1. Kurang gigih 2. Kurang tekun 3. Rasionalisasi 4. Tidak belajar dari kesalahan 5. Tidak berdisiplin 6. Kurang pede 7. Perilaku fatalistik.
BAB VIII: play to win Jika bermain tidak untuk menang, janganlah ikut bermain.Kalimat ini adalah peringatan kepada setiap orang yang ingin bermain yang bisa membuat hati penasaran tentang hal yang akan dilakukan, suatu kalimat yang sangat baik tentunya bukan? Sebagian passengers adalah orang yang terperangkap bukan dalam skema play to win, melainkan play do not lose (bermain sekedar tidak untuk kalah). Sedangkan orang-orang yang menjalankan prinsip-prinsip play to win adalah orang-orang yang memegang prinsip-prinsip seorang driver. Jika anda ingin menjadi seorang pemenang, latihlah diri Anda, khusus bagi anda yang berkehendak menjadi manusia unggul, bertransformasi dari passenger menjadi driver. 1. Positive self esteen 2. Siap menerima kekalahan 3. Latin Optimisme 4. Kalahkan rasa takut 5. Bangun Standar yang tinggi 6. Latih Kesabaran 7. Melatih banyak akal Bagi Winner, pada setiap dinding selalu ada pintunya. Tugasnya adalah mencari dan menemukan pintu-pintu itu. Sedangkan loser selalu berpikir pada setiap pintu yang ia buka selalu akan ditemui dinding - dinding tembok.
BAB IX : The power of simplicity Perusahaan yang maju adalah perusahaan yang mampu membuat sistem yang simple, dan manusia yang berhasil bertransformasi menjadi driver adalah mereka yang mampu berpikir simple atau menyederhanakan persoalan. Namun demikian, mengubah suatu sistem dan cara berpikir yang sudah establish dari yang complicated ke yang lebih simpel ternyata tidak mudah. Ada banyak rintangan yang harus di atasi. 1. Simpel dianggap bodoh 2. Kecenderungan jalan pintas 3. Membuat simpel makan waktu 4. Ringkas dan hemat biaya Untuk bertransformasi menjadi driver, diperlukan serangkaian latihan agar mampu menjadi manusia yang gesit, simpel, tidak boros, namun juga tidak bodoh, tidak seadanya atau mengesankan jalan pintas. 1. Berlatih editing 2. Bersahabat 3. Predictable 4. Reduksi 5. Tata dan klasifikasi 6. Berikan petunjuk (navigasi) 7. Sederhanakan barang-barang bawaan 8. Sederhanakan gelar-gelar anda 9.Latihan bersyukur Orang-orang yang miskin adalah orang-orang yang bekerja dengan tangannya sendiri, sedangkan orang-orang kaya bekerja dengan tangan orang lain.
BAB X : Creative thinking Banyak orang berpikir dirinya telah menjadi manusia yang kritis dengan banyak pergi sekolah, memiliki banyak gelar, mengikuti berbagai ujian, mendapatkan sertifikasi sertifikasi teknis, dan terus belajar sampai akhir hayatnya.Namun satu hal yang sering tidak diperhatikan masyarakat kita yaitu belajar cara berpikir kalau keterampilan ini didapat, harusnya kita bisa menjadi manusia yang kreatif dan dinamis. Berpikir kreatif dan berpikir kritis bukanlah sekedar pengetahuan yang dapat anda peroleh dari bacaan. Iya juga bukan bawaan lahir (bakat). Ini adalah sebuah keterampilan yang harus dilatih terus-menerus, dijalankan dengan tekun, dengan membuka diri, keluar dari sangkar emas dan abaikan dari segala atribut yang sudah anda miliki. Demikianlah dengan kreativitas dan berpikir kritis keduanya harus dilatih, karena hanya dengan dilatih maka anda akan berubah. Anda menjadi lebih kreatif karena bergerak.
BAB XI : Critical Thinking Sebuah bangsa yang besar tak akan pernah menghasilkan karya-karya besar bila tidak kritis terhadap informasi-informasi yang mereka terima. Bangsa yang tidak terbiasa berpikir kritis akan mudah terbawa arus, mudah percaya pada tahayul terserah emosi, terlibat dalam penyebaran rumor atau gosip yang belum tentu benar, mempunyai tendensi prasangka yang buruk dan bias, terlalu muda dimanipulasi dan dogmatik. Orang-orang yang mampu berpikir kritis akan mengevaluasi setiap informasi yang masuk dengan bertanya, apakah suatu pertanyaan itu benar dan dapat diterapkan? Banyak latihan yang dapat diberikan untuk melatih daya kritis seseorang. Membaca sebuah perdebatan yang ramai diberitakan oleh media massa, mengkritisi sebuah buku, dan latihan menggali pertanyaan. Melatih diri menjadi manusia yang kritis harus diimbangi dengan keterampilan assertiveness agar tidak menjadi manusia kritis namun sinis dan berwawasan sempit. Mampu membedakan antara fakta dan opini, mengajukan pertanyaan, melihat observasi mendalam, membongkar asumsi-asumsi, ngambil keputusan berdasarkan logika dan bukti-bukti yang solid.
BAB XII: Growth mindset Anda mungkin pernah bertanya, ke mana teman-teman yang dulu menjadi juara kelas? Ke manakah mereka yang dulu sering menjadi kebanggaan guru? Orang-orang yang berhasil di tengah masyarakat ternyata bukanlah orang-orang yang melewati sekolahnya dengan mudah. Orang-orang yang sukses dengan mudah di sekolah umumnya terperangkap dalam kondisi fixed mindset. Mereka percaya telah memiliki tiket resmi untuk memimpin. Akibatnya mereka akan takut melakukan kesalahan. Mereka khawatir kalau mencoba hal-hal yang baru dan melakukan kesalahan maka citranya sebagai orang cerdas luntur. Setiap proses perubahan belum akan berhasil sebelum manusia berhasil memperbaharui cara berpikirnya.Dan memperbarui cara berpikir memerlukan alat dan kesediaan. Banyak orang yang berjanji akan berubah, tetapi masalah mereka tidak memiliki alat yang memadai. Jadi mengubah manusia harus dimulai dari kesadaran orang tua, para CEO, para senior, pejabat-pejabat tinggi, para guru dan tokoh-tokoh masyarakat dengan menghentikan cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan lama. Kebiasaan - kebiasaan lama yang dimaksud adalah cara-cara jalan pintas, naik pangkat sesuai "urut kacang", berdasarkan senioritas, cara-cara yang mengambil hak orang lain. Sebaliknya, tanamkan agar mereka mencintai hidup yang penuh perjuangan, kesulitan, keterbatasan. Demikian juga jauhi cara-cara yang terlalu membanggakan anak pintar, penerima beasiswa, juara, dan seterusnya. Cara-cara seperti ini akan membuat anak-anak menjadi rapuh dan menurunkan motivasi mereka untuk "bertarung"dalam kehidupan. Anda bisa melatih diri Anda dengan cara sebagai berikut: 1. Expose diri pada tantangan-tantangan baru 2. Mintalah kritik dan masukan dari orang-orang kritis 3. Biasakanlah menghadapi hal-hal yang sulit yang mungkin tidak mau dikerjakan orang lain 4. Datangilah orang-orang yang sukses dan bergurulah pada mereka.
BAB XIII:Epilog Munculnya eksekutif eksekutif andal tentu tidak lepas dari peran keluarga, emirsyah Satar, Ignatius Jonan, Joko Widodo, Dahlan Iskan, RJ Lino, sehat sutardja, dan banyak eksekutif top Indonesia lainnya tentu tidak muncul begitu saja. Mereka tidak jadi hebat hanya semata-mata karena training training yang mereka dapatkan dari pendidikan formal di dalam perusahaan atau almamater mereka masing-masing. Sama seperti Seno Ami, Theodore Roosevelt, dan Barack Obama. Mentalitas passengers pada dasarnya terbentuk karena kurang terlatih nya life skills seseorang sehingga individu itu menjadi tidak cekatan dan terbelenggu. Umumnya punya ilmu, tetapi maaf "malas" menggunakan ilmu-ilmu yang mereka miliki untuk berpikir, menganalisis, mencari penyebab dan memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi. Lebih jauh lagi, kalau tidak kita bentuk, maka mereka akan lebih banyak mengeluh karena semakin hari semakin terlihat tidak berkarya, lalu terancam berbagai sanksi. Mulailah mereka merasa diperlakukan kurang adil karena gaji teman-temannya lebih mudah naik lebih cepat, posisi para driver melonjak tinggi-sementara mereka tetap di bawah. Setiap passengers bisa memilih menjadi bad or good, atau sekalian menjadi bad driver. Dan perusahaan pun atau institusi pun punya pilihan: memasukkan mereka ke dalam "lemari es" atau melakukan transformasi. Jadi, membentuk karakter dimulai dari usia dini, termasuk di dalamnya adalah kemahiran mengendalikan perhatian sehingga mampu fokus dan respect terhadap orang lain yang sedang bersama mereka. Maka itu, melatih anak-anak fokus adalah melatih diri mereka agar terbiasa hidup dalam aturan yang disepakati, ya itu fokus pada kesepakatan, mengabaikan hal-hal yang tidak penting, dan tidak pulang sebelum selesai. Jika anda ingin menaklukkan rasa takut, jangan berpangku tangan di dalam rumah dan diam di depannya, pergilah keluar, temui banyak orang dan buatlah diri anda sibuk.
Mau menjadi Driver atau Passenger?? Itu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang direntangkan dalam sebuah kehidupan, seorang passenger (penumpang) dalam sebuah kendaraan tentu adalah pihak yang cukup tenang menikmati perjalanannya,menerima bagaimana sang driver membawa kendaraan dan tidak terlalu memperhatikan keadaan serta rambu-rambu lalu lintas di jalan. Berbeda dengan sang driver (pengendara) dia pasti harus tahu jalan menuju lokasi yang dituju, memperhatikan rambu-rambu lalu lintas dan hati-hati dalam membawa kendaraannya.. . Tapi ini bukan soal sang penumpang dan pengendara dalam arti sebenarnya, dalam situasi kehidupan yang terjadi sehari-hari tentu ditemukan banyak pribadi yang terlalu pasif seperti dalam menerima perintah atau mengambil keputusan, seorang karakter passenger pasti selalu banyak meng-iya-kan dan tidak berpikir apakah hal itu baik atau buruk.. seorang passenger lebih merasa aman dalam jalurnya menerima dan tidak mengkritisi bahkan bergerak lamban dalam mengerjakan atau memutuskan sesuatu,, . Di buku ini Rhenald Kasali memberikan penjelasan dan pengarahan bagaimana seseorang diharuskan menjadi driver dan mengubah hidupnya menjadi lebih baik..dalam sebuah Negara akan terbentuk Negara yang maju bila banyak karakter driver di dalamnya.. Tidak mudah termakan hoax, tidak menjadi fanatik terhadap suatu golongan,berpikir terbuka,menerima kritik untuk mengevaluasi diri,berpikir kreatif,berani mengambil pilihan,tidak egois dan berjiwa besar. . Banyak bab-bab yang tidak bisa saya jelaskan satu persatu selain tidak muat dalam postingan IG ini, dalam membaca buku nonfiksi sendiri saya cukup lamban dan untuk benar-benar menguasai materi di dalamnya butuh 2x membacanya,, Jadi bagaimana? Apakah saya merekomendasikan buku ini? Tentu saja! Siapa yang mau mengubah cara pikir dan karakter ambilah buku ini dan baca perlahan lalu rasakan hasilnya..
Buku Self Driving ini sangat cocok untuk dijadikan pedoman self help kita terutama dalam bidang kepemimpinan diri sendiri. Kita akan memilih sebagai driver atau hanya sekedat passenger? Itu adalah pilihan kita masing masing.
Cakupan buku ini cukup luas dan penjabaran tiap bab sangat detail. Dilengkapi dengan artikel artikel pendukung, menjadikan buku ini sangat recommended untuk dibaca. Bukan hanya dibaca, tapi juga untuk direalisasikan dalam kehidupan nyata.
Membaca buku ini seakan akan menampar diri sendiri, "ah, ternyata aku seperti ini ya!"
Judul: Self Driving, menjadi driver atau passenger? Penulis: Rhenald Kasali Penerbit: Mizan Dimensi: xiv + 270 hlm, cetakan kedelapan Mei 2015 ISBN: 978 979 433 851 3
Kembali, membaca karya penulis membuat saya selalu berkaca dan berefleksi tentang hidup. Apakah saya seorang driver ataukah passenger? Di buku ini, pembaca diajak berpikir ulang tentang hidupnya. Menyadari dirinya termasuk bagian dari perubahan yang baik--bahkan seorang yang memelopori perubahan, yang disebut driver--atau hanya sekadar menjalani hidup apa adanya--seperti passenger, yang bahkan terkadang menumpang hidup pada perusahaan, organisasi, dan lainnya.
Menurut buku ini, manusia diberikan "kendaraan" yang disebut "self". Untuk mengembangkan potensinya dan mencapai sesuatu yang tak pernah terbayangkan, maka haruslah memiliki "self driving". Seorang driver harus selalu tanggap, tak boleh sedetik pun mengantuk, apalagi tertidur. Ia harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Berbeda dengan passenger yang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tak perlu tahu arah jalan, bahkan tak perlu merawat kendaraan sama sekali.
Biasanya penulis selalu membagi isi buku menjadi 10 bab. Namun berbeda di buku ini, penulis membaginya ke dalam 13 bab yaitu: Ini soal mandataris kehidupan, manusia berpikir, mengapa kaum muda memilih universitas?, dua jenis penumpang: bad and good passengers, dua jenis pengemudi: bad and good drivers, self discipline, ambillah risiko, play to win, the power of simplicity, creative thinking, critical thinking, growth mindset, dan epilog.
Pengayaan melalui artikel dan tulisan penulis di beberapa media, gambar, skema, bahkan penjelasan mengenai instruksi sebuah games di bab creative thinking membantu memahami lebih jelas apa yang keliru. Ya, saya menemukan banyak improvement dari gaya bahasa penulis yang lebih ringan, pembagian bab yang lebih ringkas, info yang begitu kaya, bahkan menyediakan contoh tools dan gambar mengenai sebuah games.
Saya mengapresiasi buku ini 5 dari 5 bintang.
"Tahukah Anda, orang-orang yang pergi membawa topeng setiap hari agar selalu terlihat sempurna, sesungguhnya mengalami keletihan yang luar biasa?" (Hlm. 79)
"Banyak orang berpikir dirinya telah menjadi manusia kritis dengan banyak pergi ke sekolah, memiliki banyak gelar, mengikuti berbagai ujian, mendapatkan sertifikasi-sertifikasi teknis, dan terus belajar sampai akhir hayatnya. Namun satu hal yang sering tidak diperhatikan masyarakat kita, yaitu BELAJAR CARA BERPIKIR. Kalau keterampilan ini didapat, harusnya kita bisa menjadi manusia kreatif dan dinamis." (Hlm. 190)
"Orangtua (dan atasan) hendaknya jangan mengambil hak kaum muda dalam menghadapi tantangan, mengalami kesalahan dan penderitaan. Bahkan orangtua harus membiarkan kaum muda menerima dan menghadapi tantangan. Misalnya dengan tetap memberi dukungan, katakanlah 'Ini sulit, tapi menyenangkan bukan?' atau setidaknya katakanlah 'Yang terlalu fampang itu tidak fun!'" (Hlm. 239)
"Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan." (Hlm. 257)
Rhenald Kasali membagi 2 tipe manusia dalam mengarungi kehidupan: tipe driver yang memimpin dan tidak pernah tertidur atau lengah hingga sampai di tujuan, dan tipe passenger yang berada dalam zona nyaman dengan tidak mau tahu keadaan sekitar atau permasalahan yang terjadi yang penting sampai ditujuan dengan selamat. Menurut Kasali, hanya tipe driver yang akan survive di masa depan.
Mungkin banyak dari kita sendiri yang sering bilang, "lihat saja nanti," atau "ikutin arus yang mengalir," atau ungkapan penuh kepasrahan lainnya. Well, kini semua terserah Anda saja, mau menjadi driver yang harus serba fokus, memegang beban tanggung jawab, atau menjadi passenger yang tinggal terima jadi saja.
Dalam buku juga dijelaskan, sifat apa saja yang dimiliki oleh good driver, bad driver, good passenger dan bad passenger. Karena yang namanya otak dan kemampuan manusia dapat berubah, jadi jangan khawatir. Seorang bad passenger bisa saja berubah menjadi good driver.
Rhenald Kasali menulis buku ini selama ia berada dalam perjalanan ke Eropa, dan ajaibnya ditulis secara manual dengan bolpoin dan notes biasa. Tapi jangan dikira itu saja, ia sangat memanfaatkan gadget yang ia miliki dan terus berhubungn dengan para asistennya di tanah air. Walhasil, ketika ia kembali ke Indonesia, ia hanya perlu melakukan beberapa suntingan, penambahan artikel-artikel yang sebelumnya pernah dimuat di koran, dan langkah-langkah pendukung lainnya. Luar biasa.
Kalau ditanya "Menjadi driver atau passenger?", saya harus menjawab "Menjadi driver". Buku ini mengajarkan kita untuk menjadi seorang driver yang handal, yang mutlak harus tahu jalan, yang berani mencoba mengeksplor jalan baru, yang harus siap siaga dan tidak boleh tertidur, yang harus bertanggung jawab terhadap passenger yang dibawanya.
Prinsip seorang driver adalah: Inisiatif. Bekerja tanpa ada yang menyuruh. Berani mengambil langkah berisiko, responsif, dan cepat membaca gejala. Melayani. Orang yang berpikir tentang orang lain, mampu mendengar, mau memahami, peduli, berempati. Navigasi. Memiliki keterampilan membawa gerbong ke tujuan, tahu arah, mampu mengarahkan, memberi semangat, dana menyatukan tindakan. Memelihara "kendaraan" untuk mencapai tujuan. Tanggung jawab. Tidak menyalahkan orang lain, tidak berbelit-belit atau menutupi kesalahan diri sendiri.
Dimulai dari menjadi driver untuk diri sendiri dahulu kemudian menjadi driver untuk orang banyak.
Buku yang bagus, bikin saya berpikir dan introspeksi. Nampar di sana-sini, terutama bab terakhir soal Fixed Mindset dan The Caged Life. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini untuk mengubah diri menjadi driver jika selama ini mentalitas masih passenger. Bahasanya juga enak dibaca. Kolom-kolom cerita tentang tokoh-tokoh inspiratif sangat menginspirasi dan membuka wawasan. Yang saya sayangkan cuma satu: kolom-kolom itu (plus kolom-kolom artikel Pak Rhenald Kasali) di buku ini banyak yang ditempatkan di bawah isi bab/subbab sehingga fokus membaca jadi agak terpecah--belum selesai membaca isi bab/subbab (bahkan ada yang masih di tengah kalimat) sudah disodorkan boks. Kalaupun menyelesaikan bab/subbab dulu, nantinya harus mundur ke halaman sebelumnya untuk membaca isi boks. Enaknya sih boks itu diletakkan di halaman tersendiri ketika isi bab/subbab sudah selesai.
Pada awalnya saya direkomendasikan oleh kepala sekolah karena beliau sedang kebetulan membaca buku ini. Beliau bercerita sedikit tentang buku ini. Beliau mengatakan bahwa kita seharusnya mempunyai karakter seorang driver agar kita bisa menentukan arah dan tujuan kita sendiri. Pada waktu itu, saya hanya meng'iya'kan saja.
Setelah masuk di dunia perkuliahan dan melewati sebuah toko buku, buku ini terpajang di lemari best seller. Tanpa berpikir panjang, akhirnya saya langsung menuju kasir.
Banyak pesan-pesan yang terkandung yang memicu semangat dari diri saya. Dari definisi driver dan passenger, bagaimana cara menjadi driver dan passenger dan masih banyak lagi.
Menurut saya buku ini sangat recommended untuk anak muda baca.
Inspiring book! This book will tells us how can... from passengers to be drivers. Cocok dibaca sama mahasiswa nih, fresh graduate juga. Recommended! :) Sebenarnya pertamanya gak tahu ini buku apa. Beli juga karena kena inhal buku gegara gak dateng pembekalan praktikum datamining. Mau dikumpul, kok rasanya sayang gitu harganya gak murah, tapi belum nyicip baca isinya. Setelah baca, gak heran deh kenapa ini buku cetakan baru udah masuk rak buku laris di Togam*s.
Baca buku ini tu kadang merasa tertampar2... Heran dengan diri sendiri... Heran kok aq mau ya diperlakukan seperti itu dgn orang lain, kok aq mengalami hal seperti ini dalam hidupku? Most of all, buku ini benar2 membuatku punya perspektif baru tentang hidup dan lingkungan seharusnya aq tinggal begitu jga dengan orang2 nya... Bahasanya simpel dan mudah dimengerti jadi enak dibaca anak muda...
Penegasan informasi yang berulang-ulang serta layout dan format penulisan membuat saya tidak bisa menyelesaikan buku ini. Saya yakin maksud yang ingin disampaikan baik namun cara penyampaiannya tidak dieksekusi dengan baik.
Hampir tiap halaman ada artikel yang pernah diterbitkan Rhenald Kasali di media massa. Artikel-artikel ini lebih menarik dibaca dari pada isi bukunya sendiri.
Sebuah perubahan besar dimulai dari perubahan mindset, sikap, dan karakter. Sayangnya, sistem pendidikan yang ada di Indonesia lebih mementingkan sisi kognitif dibandingkan dengan sikap dan karakter. Hasil dari sistem pendidikan ini adalah manusia yang bermental passenger, yang hanya menjadi pengikut, bukan penggerak. Orang yang bermental passenger cenderung pasif dan tidak memiliki inisiatif, bahkan kadang menjadi beban bagi orang lain. Untuk mewujudkan sebuah perubahan besar di masyarakat, perlu diawali dari perubahan mental orang - orang di dalamnya, dari passenger menjadi driver. Driver adalah orang - orang yang tidak hanya memiliki kompetensi yang mumpuni tetapi juga gesit, aktif, dan selalu berani mengambil inisiatif. Manusia Indonesia hanya diajarkan untuk sekedar “tahu”, bukan “bisa”, tidak mau berpikir dan hanya mahir dalam memindahkan informasi dari buku ke dalam otaknya.
Ada beberapa tahap awal untuk mengubah mental passenger ini menjadi driver. Tahap awalnya adalah sebagai berikut ; Hilangkan ketergantungan, Belajar hal - hal baru, dan Keluar dari zona nyaman
Disiplin diri ini dapat dilatih dengan cara-cara sebagai berikut : menentukan sasaran yang ingin dicapai serta mempelajari aturan-aturan menjadi manusia yang bertanggung jawab mengatur tenggat waktu pekerjaan menjadikan disiplin sebagai gaya hidup dan menggunakan manajemen 3D ( Do it, Delegate it or Dump it )
Untuk bertransformasi menjadi seorang driver dalam menyederhanakan sesuatu, Anda dapat melakukan latihan-latihan seperti berikut : berlatih editing berlatih untuk menjadi orang yang lebih bersahabat berlatih menjadi pemimpin berlatih menggunakan ilmu dan pengetahuan
KESIMPULAN ; Sistem pendidikan yang ada di indonesia cenderung membentuk manusia yang bermental passenger ( penumpang ) bukan driver ( pengendara ) Menyembuhkan luka batin adalah langkah pertama yang harus di lakukan untuk mengubah seseorang yang bermental bad passenger menjadi seorang good passenger Disiplin diri serta berani mengambil resiko adalah sikap dasar yang harus dimiliki oleh seorang driver Seorang driver akan melakukan sesuatu secara total karena seorang driver memiliki mental “play to win” bukan “play not to lose”
Buku yang menarik. mengajarkan kita untuk menjadi seorang driver tak hanya menjadi passanger, karya bapak Rhenald Kasali, bukunya banyak membahas mengenai tokoh-tokoh utama seperti presiden pertama indonesia soekarno dll, bukunya sangat menekankan kita agar jangan berada di zona nyaman dan mengajarkan kita bagaimana keluar dari perangkap "Pessenger". Kita tidak boleh terlena dan tertinggal, Rhenald Kasali mengajak kita melakuakn banyak perubahan mindset, prilaku, tata kelola, kebijakan, cara kerja dan budaya.
Ada 4 langkah awal yang dapat dilakukan untuk menjadi seorang driver yaitu: 1. Mandat dipegang orang tua Point ini cukup sensitive, pada point ini orang tua memiliki mandate sebagai pendidik anak. Namun terdapat orang tua yang memberikan batasan berlebih dan tidak memberikan peluang bagi anak untuk membuat keputusan shingga membuat seorang anak memiliki mental ketergantungan kepada orang tua yang pada akhirnya membuat anak memiliki mental seorang passenger.
2. Melepaskan ketergantungan Langkah kedua yang dapat kita lakukan untuk menjadi seorang driver adalah dengan mulailah menjadi pribadi yang inisiatif dan tidak memiliki ketergantungan kepada orang lain. Hidup mandiri dan menghadapi tantangan serta menyelasaikannya dengan baik, karena dalam setiap tantangan yang kita lalui akan memberikan pembelajaran yang berharga.
3. Belajar Hidup dalam Dunia Baru Langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mampu beradaptasi dengan dunia-dunia baru. Saat ini dunia begitu dinamis dan berkembang begitu cepat. Ketidakmampuan beradaptasi akan membuat kita tertinggal, apalagi kukuh dengan kebudayaan-kebudayaan lama yang sudah tidak relevan. Maka untuk mejadi seorang driver harus memiliki kemampuan beradaptasi dan terbuka dengan perkembangan zaman.
4. Keluar dari Comfort Zone Langkah keempat yang dapat kita lakukan adalah keluar dari zona nyaman atau Comfort Zone. Jika ingin melangkah menjadi seorang driver keluarlah dari zona nyaman. Cobalah untuk memilih jalan baru, meninggalkan jalan-jalan lama yang tidak membuat kita berkembang. Kesulitan untuk keluar dari comfort zone itu adalah kesulitan membuang kebiasan-kebiasaan lama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Albert Einstein, beliau mengatakan bahwa, “persolan perubahan yang dihadapi manusia bukanlah mengadopsi hal-hal baru, melainkan sulitnya membuang kebiasaan-kebiasaan lama.”
"Jika anda ingin menaklukan rasa takut, jangan berpangku tangan didalam rumah dan diam didepannya pergilah keluar, temui banyak orang dan buatlah diri anda sibuk"
In the next few years, believe it or not, we will play a big role in bringing Indonesia to compete. Unfortunately, many of us are still shackled by the pleasures of parental wealth, lifestyle haha hihi with friends and even shackled by ourselves.
Reynald Khasali's book entitled Self Driving: Driver or Passenger is here to help provide perspectives and open insights that each of us has potential that can be explored. However, Indonesian children are "Rajawali who already believe that he is only a pigeon". In his book, Rhenald Kasali introduced the concept of self-driving. A great nation is a driver nation. He divided Indonesian society into two parts, namely drivers and passengers. A driver who has to drive to reach his destination and forces him to know the direction of the road so he doesn't get lost. While passengers are just people who sit idly by and wait without any need to know the direction of the road. The terms driver and passenger are analogous in organizational life, that there are people who have the mentality of drivers and passengers. People with a passenger mentality are those who give up easily, are instantaneous, shackled to routine, when faced with problems they cannot think creatively and quickly in finding alternatives, and complain easily. Meanwhile, people with mental drivers behave the opposite.
Being a driver is not just being able to drive and have a SIM, but also having to be able to do a lot for the organization. Those of us who are in an organization, don't just get jackets/prestige, but we have to be able to drive the environment with open and critical thinking.
This book is equipped with graphic or table illustrations to make it easier for the reader to understand the discussion the author wants to explain and there are persuasive arguments that make the reader intrigued to carry it out.
Interesting quote from this book "Chicken stay, eagle flies"
Every step we take will teach something that makes us forget about the threats and risks that exist.
Self driving mendorong kita untuk memiliki sudut pandang sebagai seorang driver dalam menjalani kehidupan kita sendiri, bukan hanya passenger sebagai kiasan atas sikap yang peragu, takut mencoba, enggan berupaya lebih keras, terjebak dengan suasana yang aman dan melenakan, tetapi tidak membuat kita berkembang.
Seorang driver sepatutnya seorang yang berani mengambil risiko (tentu dengan mengenali kadar risikonya terlebih dahulu), siap menerima kekalahan dan kegagalan, karena dalam setiap keberanian mencoba sesuatu kita akan selalu mendapat sesuatu yang baik untuk diri kita sendiri, entah itu keberhasilan yang mendorong untuk melangkah lebih jauh atau pelajaran dan hikmah atas kegagalan kita mencapai tujuan kita sendiri.
Selanjutnya karakter disiplin yang juga amat perlu untuk dimiliki. Sebab tidak ada keberhasilan tanpa disiplin yang sungguh. Cita-cita tanpa kerja keras, tanpa disiplin atas aturan serta langkah-langkah dan tindakan nyata -meskipun ia kecil- adalah omong kosong.
Akan tetapi, tak boleh juga diabaikan bahwa seorang driver juga mesti memiliki sikap yang baik kepada orang lain. Manusia adalah makhluk sosial, dunia bukan tempat untuk terus menerus berkompetisi siapa yang lebih baik dan terbaik, lebih dari itu orang lain adalah kesempatan kita untuk bekerja bersama. Maka dari itu, sikap asertif -tegas namun penuh kehati-hatian dan mampu melihat situasi- adalah bagian dari hidup menjadi manusia yang bersosial.
Terakhir, self driving juga mengingatkan kita untuk berpikir kreatif, kritis dan berkemauan untuk memiliki pola pikir yang berkembang. Tak merasa cukup dengan prestasi atau pencapaian di masa lalu, melainkan membaca situasi hari ini, dan menganalisa keadaan di masa yang akan datang.
Setelah saya membaca buku ini, saya jadi menyadari bahwa inovasi itu ada dua jenis: yang renovatif seperti yang dilakukan Henry Ford, yaitu cuma bikin produk yang sudah ada jadi lebih baik, dan yang revolusioner seperti Steve Jobs yang berani menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, yang bahkan konsumen pun belum tahu kalau mereka membutuhkannya.
Pelajaran terpenting dari buku ini adalah kalau kita ingin jadi orang kreatif, lingkungan kita juga harus mendukung. Tidak cukup hanya bermodal niat, kita butuh iklim kreatif di tempat kita bekerja. Penulis buku ini menekankan delapan hal penting yang wajib ada:
Pertama, manajemen harus mengizinkan kita mengambil risiko dan jangan cepat menghukum kalau kita gagal. Kedua, kita harus punya akses ke sumber daya yang ada tanpa dibatasi birokrasi, supaya bisa bebas bereksperimen. Ketiga, harus ada sistem balas jasa yang menghargai karya-karya luar biasa, bukan cuma gaji yang biasa-biasa saja. Keempat, informasi harus mengalir bebas agar terjadi "perkawinan" ide-ide dari berbagai latar belakang. Kelima, organisasi harus terbuka pada ide-ide baru dan memberi kesempatan untuk mewujudkannya. Keenam, dukungan dari para pemimpin senior itu sangat krusial. Ketujuh, kita harus punya rasa ingin tahu yang besar dan berani bertanya kritis. Terakhir, kita harus mampu menghubungkan titik ke titik, dari orang ke orang dan dari satu informasi ke informasi lain, untuk menemukan pola-pola baru yang bermakna.
Secara keseluruhan, buku ini mengubah cara pandang saya tentang kreativitas. Ini bukan cuma soal kemampuan individu, tapi juga soal bagaimana lingkungan bisa membentuk kita jadi lebih berani dan inovatif.
Buku ini mengajarkan bagaimana kita sebagai personal bisa menjadi "driver" untuk diri kita sendiri dan berimpact pada kegiatan, komunitas dan institusi yang kita jalani. Dalam buku ini juga ada tips dan masukan bagaimana kita membentuk generasi kita untuk menjadi seorang "driver" bukan menjadi "passanger". Di buku ini juga terdapat beberapa cerita dari tokoh tokoh indonesia dan dunia yang dianggap merupakan seorang "driver" yang hebat baik untuk dirinya sendiri, orang lain, komunitas dan negara. Salah satu cerita tokoh yang menginspirasi saya adalah cerita atlet olahraga luge, dimana atlet olahraga luge biasa berasal orang orang yang dinegaranya bersalju, namun Ruben berasal dari Buenos Aires Argentina yang mana negara tersebut merupakan negara subtropis dan tidak bersalju, namun Ruben menyadari bahwasanya dia memiliki sesuatu kekuatan yang jarang dimiliki orang lain yaitu dia tahan menghadapi segala tekanan, pantang menyerah, persisten dan konsisten. Dia memulai latihan luge pada usia 21 tahun dimana untuk usia tersebut sudah cukup terlambat menjadi atlet khususnya luge yang mana biasanya calon atlet luge berlatih sejak usia 10 tahunan dan olahraga luge merupakan olahraga yang sangat berisiko sehingga banyak calon atlet yang tidak mampu. Namun dengan tekad dan upaya yang dimilikinya Ruben Gonzales berhasil memenangkan olimpiade musim dingin pertamanya di Calgary pada tahun 1988 dan juga menjadi pemenang dalam tiga olimpiade berikutnya yaitu Albertiville 1992, Salt Lake City 2002 dan Torino Winter Olimpics 2006
Buku ini seperti buku bunga rampai. Akan ada banyak kumpulan tulisan penulis yang dimuat di berbagai surat kabar. Buku yang mengajak kita untuk memperbarui cara berfikir, melatih diri sendiri, agar kita bisa mengendalikan kendaraan yang disebut sebagai “self”. Mental yang berubah akan memberi kita kesadaran baru. Dan kesadaran ini dibentuk oleh pengalaman dan pendidi
Buku yang ditulis untuk mengingatkan saja. Bahwa ada juga mereka yang menjadi “Driver” bukanlah semata karena kepiawaian menjalankan peran. Melainkan mereka benar-benar sedang sakit. Bisa jadi sakit karena dendam, sebuah janji yang tak dipenuhi, harapan yang pupus, kerinduan yang tak tersampaikan, tekanan yang tak terlupakan, dan seterusnya.
Ini sebuah warning bagus untuk para Driver. Karena harapannya adalah menjadi seorang Driver yang bisa memelopori kemajuan, bukan menjadi pemecah belah yang menyuarakan kesakitan dan penderitaan.
Buku ini sangat bergizi tinggi. Memberi contoh pada generasi muda untuk tidak hidup seenaknya, dan membatasi dalam melakukan apa saja, serta harus bertanggung jawab dalam melakukan sesuatu. Hal ini perlu dilatih. Agar kelak para generasi muda menjadi pribadi yang unggul, bukan pribadi yang pelupa, yang ignorant dan suka meremehkan.
Buku "Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger?" karya Rhenald Kasali ini benar-benar membuatku mikir tentang bagaimana kita menjalani hidup dan karier. Rhenald, sebagai seorang ekonom dan penulis ternama, menyajikan perspektif yang menarik tentang bagaimana kita bisa mengambil kendali atas hidup kita sendiri, bukan hanya menjadi penumpang pasif dalam kereta kehidupan. Buku ini banyak membahas tentang pentingnya mengambil inisiatif dan menjadi "driver" dalam hidup, bukan hanya sekadar mengikuti arus. Rhenald memberikan contoh-contoh konkret dari berbagai bidang, mulai dari bisnis hingga pendidikan, untuk menunjukkan bagaimana mengambil kontrol atas keputusan dan tindakan kita bisa membawa dampak besar. Yang menarik, Rhenald tidak hanya bicara teori, tapi juga memberikan tips praktis yang bisa diterapkan sehari-hari. Misalnya, bagaimana kita bisa mengembangkan kemampuan adaptasi dan inovasi untuk tetap relevan di era yang terus berubah. Gaya penulisannya juga enak dibaca, tidak terlalu berat atau akademis, tapi tetap berbobot. Cocok banget buat siapa saja yang ingin meningkatkan diri dan mencari inspirasi untuk mengambil langkah lebih maju dalam hidup dan karier.
Menurut saya, buku Self Driving karya Rhenald Kasali ini punya pesan utama yang tersampaikan— khususnya kepada saya: bahwa kita harus punya mental seorang “pengemudi” dalam kehidupan terutama dalam mencapai karier sendiri, bukan hanya sebagai “penumpang” yang tinggal menunggu arahan orang lain. Sebagai seseorang yang bekerja di perusahaan dengan bidang IT— kita tahu, bahwa dunia ini berubah cepat sekali dan sangat penuh dengan ketidakpastian—konsep ini terasa sangat relevan. Bapak Rhenald Kasali juga menyadarkan para pembaca buku ini untuk berani keluar dari zona nyaman, menyesuaikan diri dengan perubahan digital, dan mengembangkan pola berpikir mandiri sehingga tidak lagi digilas oleh otomatisasi dan disrupsi teknologi.
Yang paling menarik untuk saya adalah bagaimana buku ini menjelaskan perubahan mental dari "driven" ke "self-driving" melalui cerita nyata, refleksi pribadi, dan contoh perusahaan yang sukses berubah. Buku ini bukan saja sebagai motivasi, tapi juga bermanfaat—membantu saya memahami bahwa ketidakbergantungan berpikir, kemampuan mengubah, serta keberanian menetapkan keputusan menjadi titik balik untuk terus berkembang dalam tengah-tengah perubahan.
Bisa dibilang, buku ini adalah buku sakti. Sejak membaca halaman depan, kalimat-kalimatnya memberikan banyak pesan, tanpa terkesan menggurui sama sekali. "Inilah hidupmu. Sesuatu yang ada pada dirimu itukah kendaraanmu. Ia telah menjelma menjadi kekuatan mencipta, berkarya, berprestasi, atau berkreasi. "
Buku ini membentuk pola pikir penting sebagai driver yang handal. Driver adalah sikap hidup yang membedakan dirinya dengan passanger. Di mana driver adalah pribadi yang sangat merdeka, mengemudikan kendaraan menuju titik tertentu. Mutlak harus tahu jalan. Jarang mengantuk apalagi tidur. Harus mampu merawat kendaraan. Mengekspos diri pada bahaya. Sangat berbeda bukan dengan passenger yang tinggal duduk manis?
Success story pada setiap halaman menjadi penyemangat diri. Buku ini memberikan pesan agar bisa keluar dari zona nyaman. Terbang bebas, keluarlah dari sangkar emas. Jadilah rajawali. Jadilah pemenang. Bagaimana cara menjadi pemenang? Adalah sebuah kebiasaan. Berlatihlah.
Untuk seseorang yang selama ini sudah merasa puas menjadi biasa-biasa saja, ketika membaca buku ini saya mendapatkan banyak sentilan-sentilan. Dari pertanyaan mendasar "Sebenarnya saya ini pengemudi yang menentukan arah atau hanya penumpang yang duduk diam menanti tiba di tempat tujuan?" Lalu meningkat menjadi, "Kalau saya menjadi pengemudi, saya menjadi pengemudi yang ugal-ugalan tidak tau arah atau sudah bisa mengambil banyak inisiatif dan solusi ya?"
Buku ini menggelitik saya yang selama ini diam menikmati arus dan mendorong saya untuk bergerak menjadi pengemudi. Disertai dengan artikel-artikel yang telah dipublikasikan di beberapa media membuat saya mendapatkan gambaran langkah awal apa yang sekiranya dapat dilakukan untuk berubah menjadi pengemudi yang hebat.
Buku ini merupakan buku terbaik yang pernah saya baca karena mengupas tuntas seluk beluk sebuah kehidupan yaitu memberikan pedoman ke mana seharusnya arah kehidupan kita sendiri akan berjalan. Semuanya ditentukan oleh diri kita sendiri dengan membangun cara berpikir kita secara bertahap. Apabila ingin menjadi lebih baik dan dewasa maka segala sesuatu harus dimulai dari hal-hal kecil, kemudian dilakukan secara konsisten, selalu berpikir kritis & kreatif sehingga apabila diri kita sudah berkembang ke arah yang benar maka kita bisa mengajak teman, keluarga, sahabat, relasi, kolega untuk maju secara bersamaan demi mewujudkan sebuah bangsa yang auto driving bukan hanya sebagai bangsa passenger