Jump to ratings and reviews
Rate this book

Catatan Orang Gila

Rate this book
“Barangkali kau benar karena ulah lelaki, kebanyakan pasien di sini adalah perempuan,” kataku dengan murung.

“Kenyataannya memang demikian, urusan cinta, soal rumah tangga, kekejaman bapak pada anak perempuannya, dan seterusnya dan seterusnya,” lanjutmu enteng.


***

Buku ini berkisah tentang Tarmi, pasien rumah sakit jiwa yang tak pernah berhenti bicara, ngomong seperti tak mengenal capek, ngedumel tak karuan, lalu tertawa terbahak-bahak. Tentang Maya, yang suka menangis sampai sembab, kelopak matanya sampai bengkak, bantalnya pun basah kemudian menerawang memandang keluar jendela. Tentang Yu Lastri perempuan berusia 40 tahun yang selalu mengeluh pegal-pegal, ngilu pinggang dan nyeri kaki. Juga tentang Astrid, Helen, Redi, dan orang-orang yang dianggap gila, atau sengaja dibuat gila. Di balik kegilaan mereka tersimpan berbagai cerita seperti kisah 30 September 1965, kerusuhan Mei 1998, penggusuran rumah, dan patah hati karena cinta. Di balik kegilaan mereka ada sejarah hidup yang penuh makna.

192 pages, Paperback

First published October 1, 2014

43 people are currently reading
740 people want to read

About the author

Han Gagas

9 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
39 (28%)
4 stars
40 (29%)
3 stars
39 (28%)
2 stars
12 (8%)
1 star
6 (4%)
Displaying 1 - 27 of 27 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
October 24, 2014
Senang membacanya, suasana kegilaan dengana aneka sebab mulai dari peristiwa 1965, mei 98, autisme, kekerasan seksual, penggusuran lahan, penertiban PKL, alih fungsi hutan, bahkan putus cinta.

Cara menulis Mas Han Gagas sangat perlahan tidak ingin tergesa-gesa dan membelokkan si sebuah tikungan yang mengejutkan pembaca. Coba baca Perjalanan Sepasang Burung Gereja dan Antara Rumah dan Kebun yang sangat perlahan dan hati-hati. (Meski sedikit bosan di awal pada dua cerpen ini).
Profile Image for Galuh.
1 review
January 30, 2016
Film pendek yang mengangkat cerita dalam buku ini:
https://www.youtube.com/watch?v=Vco76.... Film yang menyentuh:)

Apresiasi Catatan Orang Gila yang dikopi dari blog penulisnya:

“Han Gagas mengembalikan fungsi sastra yang menyuarakan humanisme dan antitesis atas maraknya cerpen-cerpen Indonesia dewasa ini yang lebih mirip curahan hati penulis, narsistik, dan gejolak asmara belaka.”
- Teguh Afandi, Harian Singgalang


“Menurutku, ini salah satu buku yang bagus dan recommended untuk dibaca. Tema yang diambil tidak umum. Bayangkan, tentang orang gila!
Do you always wonder what's in crazies' minds? This might answer some of your questions. This book reminds us, that crazy people are human too. They have their pasts, their stories that are hidden because they are not able to speak what's on their minds. They have feelings, too.
Cerita-cerita di dalamnya ada yang bikin kamu tersenyum geli, sedih, bahkan ikut bersimpati dengan karakter yang ada di dalamnya. Pokoknya, buku ini harus kamu masukkan dalam daftar bacaanmu tahun ini!”
- Elga Novriska, Goodreads


“Tokoh dalam Catatan Orang Gila merindukan dirinya sebagai nabi baru untuk menyebarkan ajarannya pada manusia.”
- Harian JogloSemar


“Novela ini menarik karena mampu membuat kita sadar bahwa kegilaan bukanlah hal yang aneh dan asing. Tokoh-tokoh yang dianggap gila yang dikisahkan Han Gagas adalah tokoh yang mengalami trauma dan siksa psikologis.”
- Arif Yudistira, Harian Solopos


“Terma realisme magis dalam karya Han Gagas merujuk ke narasi teks deskripsif yang nyata dan realistis tapi dengan logika yang magis non-riil atau surealis penuh keajaiban hantu atau alam jin siluman -dibedakan dengan keunikan teknologik dan alien yang bersipat sci-fic.”
- Beni Setia, Harian Suara Karya


“Tak sekedar ‘penampilannya yang atraktif dan indah’, melainkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di “belakang panggung”—dan karya Han Gagas ini jauh lebih menantang.”
- Raudal Tanjung Banua, Harian Riau Pos


Cara Han Gagas menampilkan kepiluan bukanlah lipstik. Caranya melukiskan kegetiran bukanlah amatiran. Dalam Catatan Orang Gila, Han Gagas tak hanya mampu menempatkan dirinya sebagai subjek, tapi juga objek kegilaan itu sendiri. Kepiluan dan kegetiran ia balut dalam plot yang utuh. Benar-benar seperti yang dikatakannya dalam halaman dedikasi: Dunia waras orang-orang gila dan dunia gila orang-orang waras.
- Stebby Julionatan, Harian Tribun Jogja

Setiap orang yang berkunjung ke perpustakaan di rumah, selalu saya sarankan membaca buku Catatan Orang Gila karya Han Gagas.
- Ahmad Tohari, sastrawan, penulis Ronggeng Dukuh Paruk


Tulisan Han Gagas juga mengangkat tujuan para petualang. Petualang Eropa melakukan penjelajahan dengan tujuan mencari sumber kekayaan alam. Tujuan lebih humanis ditunjukkan Battuta dan Cheng Ho, yakni beribadah, menambah ilmu, dan mengenalkan negeri asalnya.
-Koran Tempo


Buku Han Gagas ini memuat kisah-kisah penjelajahan yang sangat luar biasa. Di buku inilah kita temukan hikmah hidup yang lebih dalam, memetik pelajaran berharga dari semangat juang, kebaikan, persaingan, keserakahan, kekejaman, kepahitan, hingga rasa putus asa.
-D’Sari Magazine


Dunia Luar Story by Han Gagas Short Movie adalah sebuah film pendek karya Lentera Production yang mengangkat cerita dalam buku Catatan Orang Gila dengan sutradara Debi Sinta Dewi dan editor Lukman Pangestu. Interpretasi teksnya cerdas berdasar suara pilu korban politik. Sebuah bentuk apresiasi yang istimewa. Saksikan film pendek yang sangat menyentuh hati ini.
https://www.youtube.com/watch?v=Vco76...


Pencapaian yang bagus dari buku Catatan Orang Gila ini terdapat dalam novela Catatan tentang Hantu dan Kisah dari Bangsal. Han Gagas menawarkan tuturan berlapis: dialog, catatan harian orang lain, dan gambar-gambar yang dimaksudkan dibuat oleh pasien rumah sakit jiwa. Penguatan variasi-variasi komponen cerita tersebut sedikit banyak mampu meyakinkan pembaca. Terasa benar ada riset yang mendahului dan lebih baik hasilnya ketimbang karya-karyanya yang lain.
- Eko Triono, Koran Merapi


Tidak ada orang yang terlahir gila. Orang dengan gangguan jiwa bisa menimpa siapa saja tanpa mengenal profesi, status, lingkungan, dan kekayaan. Orang waras banyak yang jadi gila. Apa yang tidak mungkin di dunia ini? Suara-suara tak nyata yang diyakini orang-orang tertentu. Kasus yang sulit diterima karena kita langsung menganggap “gila” dan tidak masuk akal. Alasan dan akibatnya yang bikin menjadi logis. Pelajari saja tokoh-tokoh dalam Catatan Orang Gila karya Han Gagas.
-Sari Novita, ruang baca TEMPO.CO (indonesiana)


Han Gagas secara terhormat mencoba menjadi wakil suara atas orang gila. Karyanya menunjukkan perlawanan atas ideologi, atas sejarah, atas kemelaratan.
-kompasiana


Menurut saya seh buku ini bila dibaca dengan pelan dan "lambat" cerpen-cerpennya terasa jernih, hening, di beberapa bagian mengusik pikiran, dan perasaan... di cerpen-cerpen lain menawarkan kekerasan, dan penindasan, sehingga membuat sedih, pedih... satu novel pendeknya memang terasa seperti gabungan cerpen walau disatukan oleh kesamaan nasib menjadi pasien rumah sakit jiwa. Bagiku, semua enak dibaca dan dinikmati kecuali mungkin satu cerpennya "Dialog Si Gembel dan Pohon Mangga" yang tampak mengada-ngada, walau memang satir sekali.
Profile Image for Ririn.
734 reviews4 followers
December 23, 2014
Jangan salah, buku ini tidak murni bercerita tentang orang-orang gila saja. Lebih tepatnya ini adalah kumpulan cerpen karya Han Gagas. Beberapa cerpen pernah dimuat di surat kabar dan tabloid mulai dari tahun 2010-2014. Ada satu cerpen serta satu novela yang benar-benar baru yang bertemakan 'orang gila' yang mungkin ditulis semata-mata untuk mengesahkan buku ini sebagai kumcer catatan orang gila. Di satu pihak saya merasa tertipu, tetapi ya begitulah dunia dagang XD

Cerpen pertama memang berjudul 'Si Gila' mungkin supaya kesannya nggak jual judul menyesatkan. Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Horison 2013. Subjudul 'kisah dari bangsal rumah sakit jiwa' mengacu pada novela yang khusus dibuat untuk buku ini, 'Catatan tentang Hantu dan Kisah dari Bangsal'. Sedangkan judul buku 'Catatan Orang Gila' adalah judul cerpen penutup kumcer ini.

Banyak cerpen dalam buku ini mengungkit tentang korban kerusuhan 98 dan juga korban politik geger 65. Kisah-kisah dalam kumcer ini bervariasi, mulai dari tragedi, komedi, slice of life. Mulai dari kisah anak peminta-minta sampai tukang asah golok. Cerpen favorit saya adalah 'Percakapan dengan Televisi' yang lucu sekaligus menyentil. Jujur saya juga kadang frustasi kalau nonton TV zaman sekarang isinya kok hampir semuanya sampah :P

Aku tak percaya televisiku bisa ngambek. Aku yakin kau juga tak percaya. Setiap kali tayangan teve selalu membicarakan melulu orang yang sama, semisal artis sensasional atau kasus hukum koruptor dengan istri-istri mudanya, teveku langsung mual-mual, batuk. Awalnya layar teve yang cerah dan bagus itu perlahan-lahan memburam, warnanya memudar lalu seperti ada suara aneh yang keluar -- seperti suara batuk dan kemudian muncul bintik-bintik yang makin lama makin banyak seperti ribuan semut di dalamnya.

Selain cerpen tersebut tidak ada lagi yang benar-benar menarik perhatian saya. Bahkan novela tentang bangsal orang gila yang notabene seharusnya menjadi daya tarik utama kumcer ini menurut saya malah punya bagian terlemah dari segi cerita. Jalinan ceritanya kurang mengalir dan kesannya tempelan saja. Ah, entahlah...
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
December 19, 2014
Memang catatan tentang kisah hidup orang-orang gila. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan menulis kisah-kisah seperti ini. Memberi pengalaman membaca yang berbeda sehingga saya terinpirasi. Kapan-kapan mau coba menulis dari sudut pandang orang gila :)
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
December 10, 2014
Aku tertarik dengan noveletnya.

Nanti tulisanku ada di catatanpringadi.com ya mas Han
Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
February 23, 2015
Cukup bagus, temanya tidak biasa. Tapi judul & sinopsis membuat ekspektasi saya terlalu tinggi terhadap buku ini.
Profile Image for Veronica.
50 reviews
February 23, 2015
PoV nya unik juga
Ada banyak macam cerita dengan sebagian bersetting di jawa
Okelah untuk pengisi waktu senggang
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
August 21, 2016
2.5/5

Cuma dua cerpen yang lumayan saya suka: Si Gila dan Topeng Satpol PP. Sisanya, hmm...
Profile Image for Mawar  Nugraheni.
1 review
January 30, 2016
Menakar Kegilaan dalam Catatan Orang Gila
(Tulisan Pendek Pengantar Diskusi di Solo)

Buku Catatan Orang Gila, Kisah dari Bangsal Rumah Sakit Jiwa karya Han Gagas terdiri dari 16 cerpen dan 1 novela. Judul buku ini sangat informatif karena hanya dengan melihat kavernya, (calon) pembaca sudah dapat menerka isi buku. Jika berpegang pada judul buku tersebut maka kegilaan ditandai dengan dua frasa penting yaitu orang gila dan rumah sakit jiwa. Dalam KBBI, gila diperikan sebagai 1) sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal, 2) tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal), 3) terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif); ungkapan kagum (hebat), 4) terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang), 5) tidak masuk akal. Dari kelima definisi tersebut, definisi nomor satu paling sesuai dengan konteks judul buku. Orang gila adalah orang yang sakit ingatan atau sakit jiwa. Definisi ini masih gamang sehingga perlu dikuatkan dengan keterangan dari lembaga yang kompeten, yakni rumah sakit jiwa. Sementara dalam KBBI, rumah sakit jiwa diperikan sebagai rumah sakit yang khusus merawat orang yang sakit jiwa. Kedua frasa kunci tersebut akan digunakan sebagai pijakan awal untuk mendiskusikan buku Catatan Orang Gila.
Setelah merampungkan buku ini, ternyata hanya ada tiga cerita tentang orang gila dan rumah sakit jiwa yakni Si Gila, Catatan tentang Hantu dan Kisah dari Bangsal, dan Catatan Orang Gila (mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik ketiga cerita tersebut bisa didiskusikan lebih lanjut). Keempat belas cerita lainnya bebas dari unsur orang gila dan rumah sakit jiwa. Akan tetapi, apakah lantas ketiga cerita itu dapat mewakili atau merepresentasikan keempat belas cerita lainnya sehingga layak dijadikan judul buku beserta tagline yang (harusnya dalam buku ini) menjadi benang merah bagi keseluruhan isi buku? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak.
Tapi saya akan menjawab ya, karena jawaban tidak akan menutup diskusi lebih lanjut. Keempat belas cerita lainnya dalam buku ini memuat ‘kegilaan versi lain’ atau bisa menggunakan definisi nomor 2 dalam KBBI. Kegilaan dalam keempat belas cerita tersebut berbentuk ketimpangan, ketidakadilan, tindak diskriminatif, kesewenang-wenangan yang merupakan varian dari tindakan yang ‘bukan-bukan atau tidak masuk akal’. Cerita-cerita yang ‘tidak masuk akal’ itu dinarasikan secara waras oleh Han Gagas. Dengan mengambil sudut pandang korban, Han Gagas mengajak pembaca untuk menjadi penyaksi dan penyicip ‘kegilaan’ tokoh-tokohnya. Pada sudut pandang akulirik, Han Gagas mentransformasikan pembaca sebagai korban, penderita, atau ‘si gila’. Pilihan strategi bercerita semacam ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Ada konsekuensi-konsekuensi yang menyertainya. Cerita yang berhasil akan terasa seperti memoar pendek yang menyentuh, sedangkan cerita yang gagal hanya akan berhenti sebatas keluh kesah.
Tema paling dominan pada keempat belas cerpen ini adalah tragedi sejarah 30 September 1965. Tema tersebut hadir sebagai pokok yang kuat atau sekadar latar tambahan pada cerpen Redi Kelud, Bangunan Itu Menelan Ibu dan Bulanku, Susuk Kekebalan (cerita yang paling saya sukai di buku ini), dan Dua Kisah antara Mawar dan Cinta. Tragedi sejarah tersebut tampaknya terus berdenyut dalam diri pengarangnya. Tema tersebut dire-kreasi pengarang menjadi turunan-turunan cerita yang berlarat. Trauma sejarah itu mewujud kesedihan yang seakan abadi karena dapat diwariskan melalui kenangan dan ingatan. Cerita-cerita lainnya memuat ‘kegilaan’ yang bervariasi dan bersifat relatif. Perjalanan Sepasang Burung Gereja berkisah tentang kerusakan alam, Sketsa Abadi tentang kegamangan seorang pelacur, Antara Rumah dan Kebun tentang aborsi, Ibu Itu Kembali Menabur Bunga tentang kerusuhan Mei 1998, Topeng Satpol PP tentang penggusuran, Pembunuhan Wirobogel tentang kengawuran penegakan hukum, Percakapan dengan Televisi tentang kemuakan terhadap acara-acara televisi, Dialog Si Gembel dan Pohon Mangga tentang problematika kemiskinan dan kejiwaan, Tuhan Melimpahi Kejeniusan pada Iblis tentang kriminalitas dan eksploitasi pada anak, dan Percakapan dengan Dinding tentang kekerasan terhadap anak.
Dari keempat belas cerpen yang tidak secara terang-terangan menyebut ‘orang gila’ atau ‘rumah sakit jiwa dan segala atributnya’ tersebut, kegilaan dapat dimaknai sebagai ketidaknormalan atau penyimpangan laku hidup yang disebabkan mampetnya akal sehat dan hati nurani. ‘Kegilaan’ dalam keempat belas cerpen tersebut berasal dari tindak gegabah manusia. ‘Kegilaan-kegilaan’ itu mengemuka sebagai kesadaran maupun ketidaksadaran tokoh-tokohnya. ‘Kegilaan-kegilaan’ tersebut adalah imbas dari sebuah tindakan. Karena hanya imbas maka sesungguhnyalah hal itu bisa dicegah. Berdasarkan asumsi tersebut, maka buku ini bisa menjadi semacam pengingat bagi pembaca, bahwa proses berpikir dan berasa secara optimal mutlak diperlukan sebelum bertindak. ‘Gila’ atau ‘kegilaan’ itu bisa dicegah.
Secara isi, cerita-cerita dalam buku ini tidak bahagia. Tak ada akhir bahagia atau happy ending. Tokoh-tokoh yang diciptakan Han Gagas adalah tokoh-tokoh yang menderita. Tokoh-tokoh tersebut terperangkap dan celakanya mereka seakan tak punya kemampuan untuk melepaskan diri dari deritanya. Fragmen hidup tokoh-tokoh itu berjarak dari solusi sehingga derita seakan menjadi harga mati. Eksploitasi kemalangan mereka sebatas menerbitkan rasa kasihan di hati pembaca. Sementara kutipan bijak utama buku ini berbunyi kebahagiaan adalah hak kita semua. Maka dari kedua premis tersebut dapat dilacak motivasi penciptaan karya sastra pengarangnya. Han Gagas menggunakan cerita-ceritanya sebagai cermin buruk bagi pembaca. Sebagai cermin, tentu buku ini hanya bersifat merefleksikan. Bisikan-bisikan untuk bertindak hadir sendiri dalam kesadaran pembaca.
Cerita-ceritanya yang berakar dari realitas menunjukkan sisi lain hidup yang rusak dan remuk yang tersamarkan oleh kehidupan yang (tampaknya) baik-baik saja. Tuntutan lanjutan dari aneka pegeksplorasian ‘kegilaan’ ini adalah ajakan atau anjuran untuk bersikap lebih bijak dan berlaku lebih baik terhadap sesama. Sudah menjadi kewajiban makhluk yang lebih bahagia untuk membahagiakan makhluk lain yang kurang bahagia.

Gunawan Tri Atmodjo
Pembaca buku

Profile Image for Kejora.
19 reviews
April 23, 2025
Kumpulan cerita pendek dan cerita titular ada di paling akhir, tipikal untuk buku seperti ini, tapi something i really appreciated adalah kesatuan tema general—manusia dan hal-hal yang mereka lakukan dari skala "menarik" sampai "kurang ajar." Kadang orang-orang yang disebut gila malah yang masih memiliki kemanusiaan, karena jujur, tidak perlu jadi orang gila untuk melakukan hal-hal gila. Bisa dilihat dari banyaknya manusia di buku ini yang seharusnya mendekam di RSJ (atau penjara lebih baik) malah berseliweran diantara kehidupan "normal" masyarakat.

Very enjoyable, i had my favorites, the titular one wasn't that strong that warranted me going through 150-ish pages for it, unfortunately.
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books461 followers
February 28, 2015
Catatan Orang Gila


Akhir-akhir ini saya sering membaca soal kisah-kisah orang Gila atau pengidap skizofrenia. Ya walaupun gila dan skizofrenia bukan hal yang sama sih. Lagipula, apa itu gila? Gila hadir sebagai kondisi yang berlawanan dengan normal. Nah, apa itu normal? Menurutku normal hanyalah seperangkat kebiasaan, atau sesuatu yang dilakukan oleh orang banyak, sehingga jika satu orang tidak melakukannya, dia terlihat aneh. Mungkin memang ada gila karena reasonnya, yaitu orang-orang yang tidak bisa berpikir dengan logis. jadi kata-katanya, apabila dia menuturkan sebuah cerita, nggrambyang tak jelas. Tak bisa dirunutkan dari mana ke mana, lantas kenapa itu bisa begitu, kemudian tahu-tahu begini. Tapi, kadang sesuatu memang terjadi di luar logika. Logika manusia. Lagipula, banyak orang yang mengaku waras tapi melakukan hal serupa. Termasuk aku, kadang-kadang. Jika kita bertemu orang-orang gila di jalan, mungkin mereka melakukan hal-hal aneh, seperti bicara sendiri, tertawa sendiri, apalah. Tapi terkadang saya juga bicara sendiri dan tertawa sendiri. Bicara sendiri, karena saya sedang tanya jawab dengan diri saya sendiri tentang sebuah persoalan, yang mungkin jika saya bicarakan dengan orang lain tidak akan bagus hasilnya. tertawa sendiri, jika saya mengingat atau membayangkan sebuah kejadian lucu. Anggap saja saya sedang membuat joke kepada diri saya sendiri.

Intinya adalah: Gila itu apa?

Mungkin setelah ini seseorang akan bertanya: jadi inti review ini apa?


Jangan tanya. Sebab saya hanya menuliskan apa yang kupikirkan setelah membaca buku ini.

Tapi jika dipaksa, baiklah.

Catatan Orang Gila, jika mengikuti judul, dan definisi 'gila' menurut kesepakatan bersama, seharusnya adalah diari orang gila. Orang tak waras. Tapi di novel ini hanya sebagian kecil saja yang bercerita tentang orang gila. Ada tujuh belas novel, saya tidak bisa menarik satu garis merah yang menghubungkan cerpen-cerpen di sini. Ada cerpen yang bercerita tentang dilema Satpol PP, ada cerpen yang bercerita tentang pelacur yang tidur dengan anaknya sendiri, ada tentang kesedihan seorang Ibu yang kehilangan putrinya akibat kerusuhan 98, de el el. Tapi saya positive thinking saja. Karena gila sendiri, menurut saya, definisinya tak jelas, maka saya percaya setiap orang punya sisi gilanya masing-masing. Dengan demikian, problem kumcer ini yang saya sebutkan tadi terselesaikan.

Well done.
5 reviews1 follower
January 28, 2015
Menurutku, ini salah satu buku yang bagus dan recommended untuk dibaca. Tema yang diambil tidak terlalu umum. Bayangkan, tentang orang gila!
Do you always wonder what's in crazies' minds? This might answer some of your questions. This book reminds us, that crazy people are human too. They have their pasts, their stories that are hidden because they are not able to speak what's on their minds. They have feelings, too.
Cerita-cerita yang di dalamnya ini ada yang bikin kamu tersenyum geli, sedih, bahkan ikut bersimpati dengan karakter yang ada di dalamnya. Pokoknya, buku ini harus kamu masukkan dalam daftar bacaanmu tahun ini!
Profile Image for Meilati.
19 reviews3 followers
September 30, 2015
Pertama kali beli karena tertarik sama judulnya, berharap ketemu sudut pandang baru dari sebuah buku, dan terimakasih kepada Pak Han Gagas yang memberikan sudut pandang baru, sudut pandang orang yang biasa orang sebut "Gila". Bahasanya ngalir, jadi kalau bener-bener fokus bisa baca sambil ketawa atau beneran ngerasa simpati sama tokoh-tokohnya. Walaupun beberapa hal ada yang ngga bisa kebayang sama saya yang kurang pengalaman. Overall, bagus buat yang sedang bosan dengan cerita-cerita cinta biasa yang banyak beredar sekarang ini.
32 reviews3 followers
December 26, 2015
Telat ngelarinnya padahal tinggal kisah dikit aja masalahnya pinjem orang sampe skrg belum dikembalikan hehe. Buku bercampur haru, emosi & dibikin penasaran sama cover judulnya makanya pinjem hehe.
Profile Image for Astala.
100 reviews
December 18, 2024
Catatan Orang Gila - Kisah dari Bangsal Rumah Sakit
by Han Gagas

⭐4
Kumcer dengan tema yang unik. Terdapat 17 judul cerita yang mengajak pembaca mendalami 'kegilaan' melalui berbagai sudut pandang. Ada yang secara gamblang mengambil pov dari orang gila, ada pula cerita yang nuansa gilanya digambarkan melalui lingkungan kehidupan yang semakin kesini semakin gila.

Membaca ke-17 cerita dalam buku ini seolah diajak mendalami bahwa kegilaan itu hadir atas dampak dari ketidakadilan, ketimpangan, tindak gegabah, dan gagalnya hubungan baik sosial masyarakat maupun perlindungan pemerintah terhadap hak masyarakat. Penggambaran (alasan) penderitaan tiap² tokohnya pun sebenarnya sangat dekat dengan permasalahan yang terjadi di kehidupan masyarakat sehari². Kegagalan manusia dalam menangani nafsu dan egonya, menurutku dituliskan dengan baik oleh Han Gagas disini.

Kegilaan-kegilaan yang dihadirkan Han Gagas disini juga disebabkan oleh hal² yang bervariatif, seperti peristiwa reformasi, geger politik 1965, gangguan mental, kekerasan seksual, penggusuran lahal dan penertiban PKL, pewarisan trauma orang tua, dll.

Menarik.
Profile Image for Rapael Sianturi.
8 reviews
June 12, 2022
Buku ini adalah kompilasi cerpen dan Novel Han Gagas yang sudah pernah dimuat dalam berbagai media.

Cerita-cerita yang diangkat merupakan berbagai kritik yang merasa dirinya lebih waras daripada yang lain.

Dan selama membaca buku ini saya bertanya-tanya, "apakah saya benar-benar waras?" karena sungguh, orang yang dianggap gila dalam buku ini justru terlihat lebih waras daripada orang yang menganggapnya gila. Gimana, paham kan maksud saya?

Buku ini menarik dan saya rekomendasikan untuk orang-orang yang mau berpikir keras saat membaca. Pasalnya cerita-cerita ini memang butuh perenungan mendalam tentang kemanusiaan dan mungkin tentang moralitas yang sebagian orang merasa paham, namun nyatanya dalam aplikasinya memakai standar ganda yang saling berlawanan.
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
June 4, 2020
“Terkadang, dunia orang gila bisa jadi dunia yang waras. Atau, memang dunia ini sudah gila ya?”

Pertama kali hal yang terlintas saat membaca buku ini adalah hal itu. Saya belum pernah merasa begitu 'terbawa' apalagi ketika selesai membaca buku ini, saya merasa bahwa saya (bisa saja) menjadi orang waras atau malah orang gila. Saya heran, buku ini termasuk 'underrated' padahal isinya bagus. Apalagi, untuk tahu bahwa kadang, bisa jadi stigma yang kita berikan untuk orang-orang yang kita anggap gila, justru salah sama sekali.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
October 16, 2025
Saat Kelana Book Club, sebuah reading community yang aku rutin ikuti mengadakan diskusi dengan tema khusus mental health, aku mantab memilih buku yang udah terlalu lama tertumpuk di rak TBR ini.

Dengan sub judul "Kisah dari Bangsal Rumah Sakit Jiwa" aku mikirnya ini adalah kisah penghuni RSJ yang diceritakan ulang oleh Han Gagas selaku penulis. Gayanya agak fiksi gitu, dan sebagian besar udah tayang pula di majalah.

Tapi susah banget untuk aku masuk ke apa yang diceritakan. Hingga kemarin saat diskusi, aku kewalahan untuk menceritakan buku ini ke teman-teman satu kelompok. Ya anggap saya otakku gak nyampe saat bacanya. Tapi di sisi lain, dari belasan cerita (pendek), andai difokuskan ke 5 cerita terbaik saja namun dibuat lebih rinci, mungkin akan lebih menarik. Piuh.

Skor 4/10
Profile Image for Agnes Dominique Pasalbessy.
5 reviews
September 8, 2021
Buku yang berisi beberapa cerpen dan satu novela. Untuk cerita aku suka semuanya kecuali cerita terakhir, entah kenapa aku gak ngeh sama ceritanya. Mungkin karena aku baca di saat otak gak bisa fokus sama bacaan hehe.
Displaying 1 - 27 of 27 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.