Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seribu Wajah Ayah

Rate this book
Malam ini, kamu dipaksa untuk menengok ke belakang sampai lehermu pegal. Kamu dipaksa untuk berkejar-kejaran dengan waktu untuk kembali memunguti potongan masa lalu. Beragam ekspresi wajah ayahmu seketika hadir membayang: bahagia, sedih, bangga, marah, murung, kecewa, dan aneka ekspresi lain yang kamu terlalu lugu untuk mendefinisikannya. Meskipun begitu, kamu yakin betul, masih banyak wajah yang ia sembunyikan di hadapanmu. Juga, yang tak benar-benar kamu perhatikan karena kamu terlalu asyik dan sibuk dengan duniamu. Ada sesal di sana, tentang ketulusan yang kamu campakkan. Tentang rindu yang dibawa pergi. Tentang budi yang tak sempat—dan memang tak akan pernah—terbalas. Seribu wajah ayah sekalipun yang kamu kenang dan ratapi malam ini, tak ‘kan pernah mengembalikannya.

Unknown Binding

First published January 1, 2014

292 people are currently reading
2054 people want to read

About the author

Azhar Nurun Ala

13 books163 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
639 (36%)
4 stars
661 (37%)
3 stars
332 (19%)
2 stars
79 (4%)
1 star
29 (1%)
Displaying 1 - 30 of 433 reviews
Profile Image for niskalabhitara.
75 reviews12 followers
August 6, 2022
Ha! Akhirnya aku menemukan buku dengan rating tinggi dan 95% ulasan bagus (yang terbaca olehku), juga buku yang antriannya ramai di ipusnas, tapi tidak sesuai ekspektasiku.

Membaca buku ini mengingatkanku sama kondisi ketika aku terpaksa ada di suatu acara, bertemu salah satu sanak saudara jauh yang tiba-tiba, tanpa basa basi dan permisi, menceritakan kisah seseorang dengan segala kesedihan dan penyesalannya. Sayang ceritanya nggak membuatku merasakan koneksi, hanya sedikit rasa empati untuk merespons cerita dengan, "oh, kasihan ya...". Alias aku tidak cukup peduli.

Sumpah. Katanya buku ini diceritakan dengan PoV tokoh utama alias si anak laki-laki, tapi aku merasa diceramahi oleh tokoh antah berantah serba tahu yang mendiktekan ceritanya, disertai banyak kutipan dan perumpaan yang kadang nggak berkaitan dan dipaksakan. Ugh, selain ngerasa diceramahi, aku nggak bisa relate sama ceritanya. Ini review dari aku yang nggak punya kedekatan emosional personal dengan orangtua, jadi aku menilai murni dari cerita yang disampaikan penulis. dan ya, cerita ini gagal membuatku merasa bersimpati atau ikut menyelami gelombang penyesalan si tokoh.

Kalau mau dibandingkan, Unspoken Words karya Alicia Lidwina lebih baik dari segi penceritaan (sama-sama tentang penyesalan anak ke orangtuanya yang sudah meninggal—bedanya di Unspoken Words tentang ibu). aku bisa merasakan emosi, konflik batin, dan pergulatan si tokoh. Ceritanya bisa membuatku nangis tersedu-sedu bahkan meskipun secara personal aku nggak punya pengalaman serupa dengan orangtuaku.

Buku ini nggak tebal, tapi aku baca cepat banget bukan karena ceritanya mengalir atau halamannya sedikit. Melainkan karena di setiap paragraf yang isinya menggurui dan mendikte, selalu kubaca 1 kalimat di awal saja karena aku nggak tahan baca keseluruhan paragraf yang isinya preachy. Itu berarti aku skip setidaknya 40% dari isi buku. Hahahaha.

It wasn't that terrible that I wish everyone don't touch it at all. It just too preachy and doesn't feel like fiction book, and I don't understand why people love it so much.
Profile Image for abel..
61 reviews4 followers
January 15, 2024
2/5 ‼️🌟
imo alurnya lambat, terlalu bertele tele, tulisnya terkesan jadi buku islami seperti kajian dakwah, bukannya gk suka ya tapi kek INI BUKAN MOMENTNYA 😭😭 bnyk narasi yg ga penting, dan keluar dari alur ceritanya. it's like reading a non-fiction book, bnyk kutipan2 orang besar disetiap halaman ini ( It's seriously disturbing, sampe bingung ini sebenernya buku apaan ).

soo i think this book is just not rlly my cup of tea cuz i got bored and didn't make an impression on me while reading this. tapi, terlepas dari semua review ku inti ceritanya emg mengharukan. semua bab menceritakan 10 foto dari album yang di tinggal sang ayah, jadi otomatis setiap bab punya ceritanya masing masing, dan buku ini pakai POV orang ke 2 sebagai tokoh utamanya yg dimana buku ini gk punya nama tokoh tapi pakai "kamu" sebagai tokohnya dan bikin buku ini punya narasi yang panjang karna penulis membuat pembaca seolah jadi tokoh si "anak" dalam buku ini.

would I say this book is worth reading? yes. just because it's not my cup of tea, doesn't mean I don't recommend this book for others to read, I WILL recommend it karna buku ini ngajarin untuk jangan pernh lupa dengan kodratmu sebagai seorang anak, mengingatkan bahwa kamu masih punya orang tua yang menunggu mu pulang. dont let the reason "to have a good life in the future" make you miss many moments of life with ur parents.
Profile Image for R..
56 reviews12 followers
January 22, 2021
There’s something i couldn’t describe regarding the warmth, melancholy, even the sadness embraced every single words. By reading them, my heart softly could also feel the sincerity of love given by parents, especially dad in this case. I couldn’t simply enjoy this book by not remembering my own parents, their strenght for raising me and my two younger siblings, their love that never goes out, their honesty and sincerity. It’s platonic, agreed. Buku ini khususnya mengisahkan tentang seorang ayah yang berkorban banyak serta ikhlas dalam membesarkan anaknya, even though sometimes... an ambition, hope, goals could be far away from our reach yet time to us for leaving or sacrificing our family moment.

And, i couldn’t help but cried.

We’re sometimes busy doing our things and forgot mayhaps our parents are struggling not to miss their loving children in their old times. Saya tidak bisa tidak ingat orang tua, ha ha ha, also it could be one of the purpose for the author to write this book, aye, mayhaps? Saya bisa menangkap ketulusan karakter ayah through this entire story.

Three stars just because i know you may want to deliver some great words even seemed to be the religious one, i got it, i could interpret and learn those words, but idk why some paragraphs somehow seemed out of context so i couldn’t enjoy them well, i feel such a disconnection between the wise words you wanted to share and the story itself... sometime, not all of them. Yet, i feel so much grateful by reading this book, i feel so much thankful to remind that my family is still complete.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
September 23, 2021
Kamu yakin betul, masih banyak wajah yang ia sembunyikan dihadapanmu. Juga, yang tak benar-benar kammu perhatikan karena kamu terlalu asyik dan sibuk dengan duniamu.


Buku ini sedihhh banget, cara penulisannya yang unik menggunakan sudut pandang orang kedua membuat aku sebagai pembaca semakin merasa bagaimana perihnya pengalaman membuka setiap halaman di dalam buku ini, seolah-olah akulah pemeran utamanya.

Setiap chapter di ceritakan berdasarkan foto yg berada di dalam album foto milik Ayah, membawa pembaca kembali ke masa-lalu mengenang kejadian yang melatarbelakangi foto tersebut. Membaca buku ini sekarang sangat membantu ku untuk dapat lebih banyak bersyukur, menghargai orang-orang terdekat yang masih Tuhan berikan dalam hidup kita, terutama orang tua. Ini seakan menjadi wake up call bagiku untuk tetap terus mengasihi kedua orang tua ku, membahagiakan mereka selama masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk hidup. Karna pada akhirnya, harta, jabatan, kekayaan, pendidikan dapat terus di cari, tapi hidup dan waktu tidak akan pernah terulang
Profile Image for teresa .
54 reviews42 followers
January 14, 2024
pov nya unik sih, seolah-olah kita adalah bagian dalam cerita, ceritanya sederhana tentang keluarga kecil yang terdiri dari ayah yang membesarkan anaknya seorang diri sampai anak tersebut sukses, hal yang paling menyentuh adalah ketika ayahnya selalu menunggu anaknya sampai akhir, menyadarkan saya akan suatu hal.

Ketika anaknya dewasa, selesai kuliah S1 ayahnya kurang setuju untuk berpisah dengan anaknya lagi melanjutkan S2 keluar negeri setelah lama merantau dan bahkan sekarang ingin berpisah lagi, anak ini menganggap bapaknya jadi egois padahal seharusnya dia sadar bahwa selama ini bapaknya rela mengenyampingkan kebutuhan dan ego nya bahkan sejak ia lahir sampai sekarang, hal ini membuat saya semakin tersadar. Buku ini tidak seperti buku fiksi, karena banyak unsur non-fiksinya jadi berasa dinasihatin.
Profile Image for bookswormie.
135 reviews7 followers
November 25, 2023
Aku bingung kenapa buku ini punya rating yang 'setinggi' itu dengan antrian ipusnas yang sebanyak itu. Jujur, ekspektasi ku kan jadi terlalu tinggi.

Yah, ini semua emang soal selera. Buatku pribadi, it's not my cup of tea. Aku gak enjoy selama membacanya, padahal cuma sekitar 100-150 halaman doang.

Aku gak suka dengan POV 3 nya yang menceritakan terlalu banyak, juga membuat pembaca seolah-olah mengalami semua kejadian yg ada di buku, padahal aku gak relate sama sekali dengan semua itu. Aku bukan anak yang besar tanpa figur ibu. Jadi aku sendiri agak sulit untuk berempati dengan karakter utamanya dimana aku sendiri yg merasa menjadi main character nya.

Dan terlalu banyak unsur agamis (read: islam) yg somehow terasa menggurui di dalam buku ini. What if I'm not a Moslem?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Kursi Seimbang.
175 reviews22 followers
August 11, 2021
Aku ingat, ada orang yang pernah merekomendasikan Seribu Wajah Ayah. Mumpung lagi subscribe Gramdig, akhirnya kubaca. Dan supaya jelas, buku ini singkat, padat, dan jelas.

Rentetan peristiwa yang aku alami hari ini membuat buku ini menjadi lebih bermakna saat aku baca. Kehilangan, kesepian, kepergian orang yang tersayang, sosok orang tua, seorang anak, hingga penyesalan yang sudah tak tertolong. Lalu yang dianggap paling menakutkan: kematian.

Buku ini dilengkapi dengan hal-hal penting yang perlu diingat selama kita menjalani kehidupan. Semuanya dituturkan dengan analogi yang indah. Favoritku adalah pernyataan bahwa hidup menyerupai sebuah pensil. Untuk penjelasan lebih lanjut, aku merekomendasikan kepada kalian untuk membaca bukunya secara langsung guna mendapat pengalaman terbaik (daripada kujelaskan di sini, kemungkinan dapat mengurangi keindahannya).

Sudut pandang orang kedua yang digunakan di Seribu Wajah Ayah juga membuat aku sebagai pembaca merasa rentetan hal yang terjadi di buku ini adalah kisah hidupku. Mengenaskan.

Aku merekomendasikan buku ini kepada semua orang.

Seribu wajah ayah sekalipun yang kamu kenang dan ratapi malam ini, tak 'kan pernah mengembalikannya.


Jangan sampai aku (juga kamu) terlarut dalam penyesalan yang membunuh.
Profile Image for Fadia Chairana.
7 reviews
January 18, 2025
Buku nonfiksi berkedok fiksi. Terkesan guilt-tripping, seolah menjatuhkan kesalahan hanya ke tokoh utamanya saja (si anak) padahal ayahnya juga tidak mengkomunikasikan masalahnya. Sudah gitu, cara penulisan dengan kata 'kamu' merujuk ke pembaca seolah memposisikan pembaca sebagai 'si anak durhaka' versi penulis. Padahal pembaca adalah entitas yang bisa berpikir sendiri, tapi seolah di lembar-lembar berikutnya dipojokkan terus menerus sebagai antagonis. Oh iya, sekedar fun fact buku ini sarat dengan pesan islami ya. Saya pribadi adalah bagian dari umat muslim namun sangat menyayangkan akan luputnya penyampaian hal ini di blurb-nya. Alangkah baiknya jika dicantumkan, mengingat tidak semua pembaca merupakan umat muslim.
Profile Image for Isfina Hanni.
18 reviews1 follower
March 10, 2021
Buku yang sangat luar biasa. Di akhir cerita dibuat menderita dengan tangis yang sudah basah. Ayah memang selalu jadi cinta pertama bagi anak perempuannya. Banyak hal yang selalu dipendam demi melihat anaknya tak menderita atas keluhannya, termasuk penyakitnya. Karena buku ini sangat relate dengan kehidupanku yang sebenarnya. Jadi ngerasa banyak salah atas semua yang telah diperbuat semasa beliau hidup. Buku ini benar-benar mengajarkan arti menyayangi, mengasihi, peduli sebelum orang terkasih akhirnya tiada.
Profile Image for ⭑.
187 reviews7 followers
December 10, 2023
Menurut saya, tulisannya sangat bagus dan banyak puisi yang disematkan di dalamnya. Hanya saja.. terlalu bertele-tele. Banyak hal yang tidak perlu ditambahkan atau dideskripsikan malahan hal tersebut mendominasi isi bab yang sebenarnya, tidak perlu ditambahkan pun tidak akan mengurangi esensi cerita. Sosok figur “Ayah” ini tidak tergambarkan secara detail. Membaca buku ini pun serasa membaca buku islami (seperti ikut kajian dan dakwah).
Profile Image for shaf.
126 reviews
April 22, 2022
2.5 (read on ipusnas)

Dibanding fiksi, rasanya lebih seperti kutipan2 non fiksi yang disusupkan ke dalam fiksi. Menyentuh memang, tapi lebih banyak miskoneksi dan terkesan menggurui menurutku.
Tapi gambar terakhir, foto sang ayah dan sebuah cermin, wah.. luar biasa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Henny Alifah.
Author 1 book12 followers
December 28, 2020
sejujurnya, serasa seperti digurui tapi, ya, okelah
Profile Image for Nur Rokhmani.
256 reviews6 followers
December 24, 2021
Seribu Wajah Ayah
132 halaman
@azharnurunala

Buku Pertama yang Berhasil Menggugah Jiwa

🦋 Ini adalah buku pertama beliau yang kubaca. Dan ... sudah berhasil membuat hatiku tergugah, aku jatuh cinta.

Gaya menulis beliau dengan menggunakan sudut pandnag kedua, membuat aku seolah menjadi tokoh yang mengenang sepuluh foto dalam album biru itu.

Meski kuakui pengalamanku bersama papa tak seperti tokoh 'kamu' bersama ayahnya di dalam buku ini. Namun, gaya bercerita itu memaksa aku sendiri mengingat-ingat semua kenangan bersama Papa. Sejak kecil, dengan sepeda motor tua merah yang tak kuat menanjak di jalan, misalnya, sampai ketika aku dewasa, melihat Papa terharu saat pertama kali melihatku wisuda sarjana.

🍁Buku ini, membuat kita membuka memori yang kadang tertutup oleh keengganan. Atau dalam versi lain memori yang tertutup oleh kebaikan tak bertepi ibu kita—yang selalu menjadi segalanya. Membuat kita, berkali-kali mulai merekonstruksi kembali peran ayah, papa, bapak, abi, atau panggilan lainnya untuk beliau.

Daaan, yang membuat aku tak berhenti menangis dalam 3x60 menit membacanya adalah, tentang kesadaran bahwa hidup kita memang selalu ada batasnya. Seperti ujung pensil yang bisa saja habis dan tak bisa lagi dipakai untuk menulis. Kehidupan yang harus menjadi berarti, entah untuk kita atau orang disekeliling kita. Menyadarkan sekali lagi, bahwa ketika kita menjadi anak-anak salih/a, kita adalah perpanjangan umur orang tua kita, yang doanya akan menyusul ke dalam kubur-kubur mereka. Bahwa ketika kita mati lebih dulu, dalam keadaan paling baik sebagai manusia, kita bisa saja diberi ridho oleh Allah untuk menjemput mereka kelak untuk bersama-sama masuk surgaNya.

Pertanyaannya: Sudah layakkah kita?

🌙Ayah, bisa jadi menjadi orang paling gengsi menyatakan rasa cintanya pada kita. Bisa jadi orang paling enggan mengabari kesusahannya agar tak jadi beban pikiran kita. Bisa jadi orang paling enggan terlihat menangis meski hatinya teriris. Bisa jadi orang yang paling keras mendidik, tetapi paling lembut hatinya dan tersakiti saat kita kecewa.

Mereka, kadang hanya ingin kita Pulang. Bersama mereka saat mereka merasa telah sampai di ujung usia, di ujung hidupnya.
Profile Image for rahyani.
191 reviews7 followers
July 26, 2023
Menceritakan tentang kerinduan yg mendalam dari ayah ke anaknya & anak ke ayahnya. Keduanya saling merindukan tapi dipendam dalam hati masing-masing sampe semuanya terlambat.

Sang anak, ayahnya merupakan pusat dunianya...apa-apa ayahnya tetapi semakin dewasa dan mulai sibuk dgn kesibukan dunia perkuliahan & dunianya sendiri ayahnya bukan lagi menjadi pusat dunianya.

Sang ayah, si anak merupakan mataharinya - hidup berdua dari bayi hingga dewasa merasa anaknya semakin dewasa semakin menjauh darinya. Ia berdalih tdk ingin membuat anaknya cemas.

Yak kesalahpahaman hingga sampai semuanya menjadi terlambat, sang ayah sakit & meninggal dunia tanpa si anak tau ayahnya menderita penyakit serius. Pdhl menurut si anak, dia bukannya tdk peduli atau tdk merindukan ayahnya, tp setiap ditanya ayahnya baik-baik saja dan keliatan baik-baik saja. Menurutnya, menggapai cita-cita setinggi mungkin dan membahagiakan ayahnya merupakan tanda cinta dr anak ke ayah.

Mereka berdua video call dan telepon setiap hari, tapi rasa rindu tdk pernah disampaikan antar keduanya. Hingga penyesalan sang anak ketika ayahnya meninggal karena menahan rasa rindu ke anaknya.

Buku singkat, padat, full mewek pas baca. Dan yg paling kuingat adalah perumpamaan pensil seperti manusia; (1) pensil bs menggambar apa saja, tp selalu ada tangan yg membimbing ke arah yg dikehendaki sang pemilik - manusia diberi kesempatan utk memilih, mau seperti apa hidup kita & konsekuensinya (2) pensil butuh diraut agar selalu tajam - manusia perlua mengasah perasaannya agar tajam & menjadikan kita org sabar & bijak (3) pensil butuh penghapus utk menghilangkan gbr atau tulisan - kita harus siap menerima kritik dr org lain utk memperbaiki diri & meninggalkan sebanyak mungkin bekas agar banyak memberi manfaat bagi org lain (hal 37-39).

Bagus bukunya, campuran novel, religius & self improvement.
Profile Image for Fhia.
497 reviews18 followers
July 11, 2022
Awalnya agak bingung, eh ternyata pakai POV orang kedua (akunya sih yang telat sadar). Merupakan buku rebutan di iPusnas. Sepertinya karena judulnya menarik dan rating di goodreads cukup tinggi (4,22).
Bercerita tentang seorang anak laki-laki yang sejak dilahirkan hanya dibesarkan oleh sang ayah. Si anak laki-laki yang merupakan tokoh utama, menemukan album foto yang tidak pernah dilihat sebelumnya, seketika merasa rindu sekaligus sesal karena pertemuan terakhir dengan sang ayah tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
Substansi ceritanya cukup menyentuh.
Sayangnya, buku ini cukup membingungkan buatku.
Rasa-rasanya, di buku dijelaskan si tokoh utama membuka album foto tsb ketika dia sudah menjadi seorang ayah. Namun, di akhir cerita seolah digambarkan bahwa kejadian tersebut terjadi tidak lama setelah sang ayah meninggal dunia, dimana tokoh utama langsung pulang ke rumah ketika sedang melanjutkan studi ke luar negri.
Selain itu, penuturan cerita cenderung tidak fokus. Setiap kejadian dihubungkan dengan kata-kata mutiara dan nasihat yang penjelasannya cukup panjang. Bahkan lebih panjang nasihatnya ketimbang isi ceritanya. Alurnya jadi kemana-mana.
Profile Image for Septiani Ewiantika.
56 reviews5 followers
August 3, 2020
Buku yang tidak terlalu tipis pun tidak terlalu tebal. Selesai membaca nya hanya dengan beberapa jam. Di dalamnya banyak terdapat kata-kata yang tergolong “self reminder” tentang kesuksesan, tujuan hidup, kesepian, juga kebersamaan.
Sama seperti judulnya, Seribu Wajah Ayah menceritakan kisah orang tua tunggal (Ayah) yang ditinggal istri dan harus menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk anaknya.
Membalik halaman demi halaman, ku semakin menyadari kalau membesarkan anak sangatlah tidak mudah. Banyak dialog-dialog antara sang Ayah dan Anak yang menghangatkan sekaligus membuat haru.
Bacaan awal bulan yang menarik!
4.5 ⭐️
Profile Image for fu.
9 reviews
February 12, 2022
3.5/5 Tiap lembarnya ditulis dengan bahasa yang padat dan jelas tapi tetap syarat akan melankolis. Dari sini saya punya sedikit gambaran bagaimana rasanya punya ayah yang lembut, pun saya belajar memaknai wajah keras ayah.
Profile Image for Dhik.
97 reviews18 followers
Read
June 27, 2023
132 halaman yang amat sangat berat. Baca ini membuat saya merenung berat tentang banyak hal.

Seribu Wajah Ayah cocok dibaca sebagai pengingat dan sebagai marka jalan untuk "berhenti sejenak" di dalam gegap gempita kehidupan

Memutuskan untuk tidak memberi rating karena perasaan yang tercampur aduk berkat buku ini. Agaknya sulit untuk mengkategorikan buku ini apakah cocok dengan selera atau tidak.

Yang jelas, bukunya sedih.
Profile Image for Wanderbook.
126 reviews41 followers
September 16, 2021
Blurb: Buku ini berkisah tentang seorang anak yg pulang ke rumah setelah Ayahnya meninggal, kemudian ia throwback ke masa-masa sejak lahir hinggal saat ini melalui sebuah album dengan 10 foto berisi kenangan penting di dalamnya.
--

Sebagai seorang anak yg udah ditinggal bapak lebih dulu menghadap Tuhan, berada diposisi yg sama dengan tokoh 'aku' di buku ini yg juga ga ada disamping Ayahnya ketika berpulang, bab-bab awal benar-benar mengurad emosiku. Aku sampai ikut meneteskan air mata.
--

Aku cukup menikmati membaca buku ini tapi juga agak kurang nyaman dengan kutipan-kutipan dari penulis, tokoh, nabi atau sahabat nabi, bahkan quran yg ada di buku ini. Jadinya menurutku agak ngagokin menikmati cerita yg udah dibangun dengan oke sama penulis. Padahal bisa banget diisi dengan pendalaman kejadian-kejadian yg bikin saya sebagai pembaca makin-makin merasakan penyesalan tokoh utama karena agak terlambat memahami ayahnya.

Konflik dibuku ini juga dibangun dengan agak terburu-buru di akhir, kalau dari tengah alur konflik ini dibangun, mungkin aku bisa cukup memahami 'perang dingin' yg terjadi antara anak & ayahnya ini. Tapi karena terkesan buru-buru, aku jadi merasa 'yg penting ada moment benturan' yg bikin tokoh utama & ayah gak saling bicara.

Oiya, aku suka sekali tokoh aku yg dibuat tanpa nama dan tanpa gender, jadinya berasa tokoh utamanya adalah aku sendiri. Ini beneran! Sebelum masuk baca konfliknya, aku bahkan membayangkan tokoh utamanya pas SD rambutnya dikucir dua. Tapi membaca 'petuah' sejak sang anak mulai jatuh cinta, cara anak & ayah ini berseteru juga, langsung bikin aku mikir, aduh ini mah konflik ayah & (biasanya) anak lelakinya hihi. (ini generalisasi tapi ya menurutku begitu).
--

⭐⭐⭐
Cukup ok untuk dibaca. Ringan, gak terlalu tebal dan bikin hati hangat 🤗
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alley.
51 reviews5 followers
June 17, 2020
Judul dan blurb buku ini menarik bagiku, dengan premis yang unik membuatku penasaran seperti apa gerangan kisah yang hadir di dalamnya. Sempat mengira ini adalah kumpulan cerpen, namun saat membacanya baru kusadari ternyata bukannya cerpen melainkan novel.

Gaya penceritaannya unik, dengan menjadikan pembaca sebagai tokoh cerita itu sendiri. Tokoh itupun tidak memiliki nama dan bahkan tidak dijelaskan secara gamblang apakah tokoh si anak itu perempuan atau laki-laki. Selain itu, buku ini berisi narasi yang padat dan jarang ditemui adanya percakapan antar tokoh.

Dengan daya tarik yang unik sehingga dapat memikatku untuk tergerak membacanya, sayangnya buku ini cukup membingungkan bagiku. Bukan, bukan bingung dengan alur cerita atapun esensi cerita itu sendiri. Namun cara penulis mengemas cerita itu yang membuatku sering kali mengerutkan dahi ketika membacanya. Penulis banyak mengutip perkataan berbagai tokoh besar bahkan sabda Rasul. Aku tidak akan heran apabila yang dikutip hanya sebagian kecil dari buku, tetapi setiap bagian dari isi buku ini dipenuhi dengan selipan dari kutipan seperti itu.

Aku sempat merasa seperti tengah membaca buku non fiksi, dengan berbagai ceramah dan nasihat maupun kutipan yang dapat ditemui di hampir seluruh isi buku sehingga rasanya seperti tulisannya malah jadi melebar ke mana mana. Mungkin penulis ingin menjelaskan situasi dan perasaan yang dialami tokoh, hanya saja terasa aneh bagiku untuk terlalu banyak membaca kutipan.

Meski begitu, walau sederhana namun secara keseluruhan kisah ini menyentuh hatiku. Aku dapat ikut merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Kesedihan hingga penyesalan, dan sebenarnya ada hal yang rasanya belum terjawab namun sayangnya tidak kutemukan juga jawabannya hingga akhir.
Profile Image for Hisyam.
125 reviews14 followers
December 7, 2021
Jika ada satu buku yang selalu bikin nangis, buku ini ada diurutan pertamanya.

Diksinya indah, pesan yang disampaikan mendalam. Bikin merenung dan menyadari hal hal kecil dalam hidup kita.

Ceritanya tentang seorang anak lelaki yang membuka album kehidupannya bersama sang Ayah. 10 lembar foto yang menjadi bab dalam bukunya. Lembaran foto itu berkisah mengenai kehidupan si anak lelaki tersebut.

Jadi kita diajak mengikuti perjalanan hidupnya bersama Si Ayah. POV yang digunakan pake sudut pandang orang kedua, jadinya berasa diceritain.

Suka banget gimana caranya penulis menyisipkan untaian makna islami dalam setiap rangkaian ceritanya.
Bukunya tipis, ga lebih dari 150 halaman. Meskipun tipis, tapi kata katanya bikin pengen berhenti dulu bacanya karena mengandung banyak sekali bawang:”)

Love this book!
Profile Image for mira.
27 reviews3 followers
January 7, 2022
actual rating 3.75 ⭐ surprisingly ga nangis tapi emg bikin sedih kepikiran bgt aja (ada beberapa hal yang bikin aku kurang sreg pas baca ini tapi actual message nya bagus banget banyak yang bisa dipetik dari buku ini, cuma emang kurang kena aja di aku 😅)
Profile Image for Fita Riyana.
33 reviews3 followers
December 31, 2021
144 halaman berasa 1440 halaman, bacanya sambil nangis. setiap paragraf nya memiliki arti yang dalam
Profile Image for Utha.
824 reviews402 followers
June 9, 2023
Penilaian akhir: 1,5 bintang
Entah.
Profile Image for It's Finn Fiction.
24 reviews1 follower
June 27, 2025
Seperti sosok 'kamu' di buku ini, ibuku juga sudah tiada sejak aku masih kecil, masih SD. Jadi, sudah pasti buku ini berhasil mengungkapkan apa-apa yang aku rasakan. Ayahku juga seorang guru, tetapi hidup kami lebih baik, meskipun rasa kehilangan dan rindu itu tetap ada. Yang beruntung, Ayahku masih ada dan buku ini membuatku tersadar dan banyak sekali belajar. Buku ini benar-benar membuatku banyak belajar. Seperti sosok Ayah di buku ini, ayahku pun membebaskanku dalam beraktivitas, hanya saja dia tetap menahanku untuk tidak jauh darinya. Aku bersyukur aku menurutinya dan berjanji akan selalu berada di dekatnya. Supaya besok-besok, aku tidak mau mengalami penyesalan yang sama seperti sosok 'kamu' di buku ini. Aku tidak mau ayahku 'sendirian', aku ingin selalu bersama ayahku meskipun aku juga sama seperti sosok 'kamu', ingin menggapai mimpi di luar sana, bepergian dengan bebas seperti orang-orang kebanyakan, tetapi buku ini benar-benar mengubah cara pandangku. Suatu hari nanti mungkin aku akan pergi, tapi aku akan lebih sering kembali dan bersama ayahku.

Selain mengubah cara pandangku terhadap arti sebuah kebersamaan, buku ini juga banyak mengajarkan arti hidup, cinta, kesetiaan dan ketulusan seorang ayah pada anaknya melalui nasihat-nasihat dan pesan-pesan mengingatkan, karena sejatinya manusia itu makhluk pelupa dan buku ini sering mengingatkan kita untuk menjadi manusia yang seharusnya, dengan bait-bait puisi, dengan sajak-sajak karya para penulis besar dan yang paling penting adalah dengan arti dari ayat-ayat Allah SWT.

Aku menyukai perumpaan pensil dengan kehidupan manusia. Aku juga menyukai cara buku ini menceritakan sebuah kisah yang lebih terasa seperti seorang ayah yang tengah menasehati anak-anaknya dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, seolah aku dalam dekapan hangat ayahku.

Aku baca buku ini di iPusnas, tapi aku sangat ingin memiliki buku ini berada di jajaran buku di rak bukuku.

Sungguh sebuah buku yang aku harap dibaca oleh setiap anak sebelum melangkahkan kaki dan mengambil keputusan dalam hidupnya.
Profile Image for Ika Merdekawati.
77 reviews3 followers
June 23, 2020
"Ada senyum mekar dibawah matanya yang begitu lelah."

Kamu tahu nggak, bagaimana rasanya menangis di waktu malam tanpa mengeluarkan suara sampai kepala sakit?
Kalau kamu pernah merasakannya, maka seperti itu juga kondisi saya saat ini, tentunya setelah membaca buku ini.

Saya pikir, buku yang tidak cukup 200 halaman ini, tidak memberikan efek apa-apa. Tapi, baru baca di halaman pertama, nggak usah ditanya, nangisnya saling kejar-kejaran bersama dengan otak.

Sambil baca buku ini, saya yakin, saya TIDAK MENYESAL untuk kembali pulang ke rumah setelah lulus kuliah. Saya malah ingin berterima kasih kepada sahabat saya yang waktu itu menasihati saya untuk tidak dulu lanjut kuliah di luar kota.

Saya juga mau terima kasih ke penulis buku ini, karena sudah membuat saya cepat sadar. Bahkan buku ini sudah masuk list baca sejak bulan lalu, tapi rasa malas memang masih menyelimuti. Mau berterima kasih juga sama penerbitnya, tekah memilih naskah ini lalu diterbitkan. Karena semua isinya, benar-benar memberikan pelajaran untuk semua anak di muka bumi ini.

Sepertinya saya tidak perlu menilai apa-apa, hanya saja, saya ingin semua anak membaca buku ini. Mau itu berbentuk fisik atau digital, agar tidak ada penyesalan di akhir hidupnya.

"Pulang. Pulanglah ke rumah. Karena sebaik-baiknya tempat ternyaman adalah pulang ke rumah." 😭
Profile Image for Laura Yuwi.
212 reviews15 followers
March 19, 2022
"..........., surga juga ada di telapak kaki ayah. Bahwa di setiap langkah yang ia ambil untuk terus menyambung napas & menumbuhkanmu, ada surga." (Hal. 2)

Buku ini bikin terharu sih, bikin sedih & emosional banget. Menceritakan ttg seorang anak laki² yg cuma tinggal ber-2 sm ayahnya krn ibunya meninggal saat melahirkan & membuat ayahnya membesarkan anaknya sendiri. Buku ini menunjukkan TRUE LOVE seorang ayah kpd anaknya. Perjuangan ayah di cerita ini besar bangettttt! Sosok ayah yg tegar & bijak. Apapun yg terjadi, seorang ayah pasti akan melindungi & menyenangkan anaknya.
Dan beliau memutuskan utk tidak mau menikah lagi setelah kematian istrinya. Berperan sebagai ayah sekaligus ibu.

Gua paling suka baca ttg perumpamaan pensil di hlm 37-39. SANGAT MENGINSPIRASI!!
Tapi sebenernya terlalu banyak quote yg gua suka & sangat menginspirasi & meng-encourage di buku ini:
"There is no such thing as a free lunch. Ada harga yg harus dibayar utk kebahagiaan yg abadi. Piala hanya diberikan kepada sang juara yg telah berjuang & berkorban, bukan orang yg hanya menatap dari luar arena sambil berharap memenangkan pertandingan." (hal. 45)

Intinya buku ini BAGUS & HIGHLY RECOMMENDED!

Campuran novel + buku religius + self improvement
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ilminafiaa.
95 reviews19 followers
April 23, 2024
Bagus banget!! Buku ini menceritakan tentang seorang ayah yang mengenang almarhum ayah nya melalui album foto. Sejak memulai kehidupan hingga memiliki kehidupan sendiri (berkeluarga) dan membesarkan seorang anak. Setiap cerita diceratkan dengan detail dan porsi nya pas sehingga kita bisa merasakan momen yang diceritakan, selain itu juga karena menggunakan sudut pandang kita sebagai pembaca jadinya seolah-olah kita masuk dalam cerita itu, seperti membaca buku diary pribadi. Sayangnya, di cerita akhir sudah bisa ditebak bahwa si anak akan kehilangan ayah nya tanpa bisa melihat jenazah ayah nya. Apalagi sedari awal penulis sudah menggiring ke arah sana. Jadi klimaks nya kurang greget.

Isi nya pun bukan cuma alur-alur cerita tetapi juga penuh dengan nasehat dan makna kehidupan, jadi ada banget daging nya! Berasa dinaseatin ayah sendiri hehe
Hubungan anak dan ayah disini pun tidak klise seperti hubungan ayah sabar dan anak durhaka, tapi disini lebih ke ayah dengan ego nya serta anak dan ego nya masing-masing. Realistis dan relate dengan kehidupan pribadi kita. Penyusunan kalimat nya pun ringkas dan tidak terlalu bertele-tele.
Highly highly recommended so you must read it at least once in a life!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
January 16, 2024
“Kita bisa melakukan berbagai hal yang menyenangkan di dunia, tapi sesekali kita perlu juga menderita. Sesekali kita perlu berhenti untuk mengasah hati, demi terawatnya ketajaman perasaan. Sesekali kita perlu merasakan sakit dan sedih, yang sebenarnya jika dilalui dengan sabar, akan menjandikan kita orang yang lebih bijak.”

Pas awal baca aku kayak ngerasa kurang cocok sama cara penulisan ceritanya. Menggunakan sudut pandang orang kedua yang lebih di dominasi dengan narasi. Jujur saja, buatku pribadi ini menyebalkan. Sebab aku lebih suka cerita yang lebih banyak dialog daripada narasi—atau yang dialog dan narasinya seimbang.

Butuh waktu lama buatku untuk menamatkan buku tipis ini. Tapi aku nggak menyerah buat namatin. Aku tetep baca sampai habis tanpa ku skip. Dan semakin jauh aku membaca, akhirnya aku bisa masuk dalam cerita yang disajikan penulis.

Buku ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang mengenang kisah hidupnya dengan sang ayah, setelah kepergian ayahnya. Kisahnya cukup pilu, dan berhasil membuatku menangis. Betapa aku bisa merasakan kerinduan dan penyesalan yang dirasakan sang anak.

Aku kasih 3.8/5 🌟 untuk buku ini.
Banyak nasihat yang bisa diambil melalui cerita dalam buku ini.
Profile Image for srvnwords.
17 reviews
November 17, 2021
well written, this one makes me crying at almost every chapter of it.

Buku ini menceritakan tentang anak yang sedang menempuh pendidikan S2 di luar negri dan pulang ke rumah setelah ayahnya meninggal, lalu ia masuk ke dalam kamar ayahnya untuk mengenang semasa hidupnya ditemani satu album foto yang berisikan 10 lembar perjalanan hidup yang telah berhasil mereka lalui tanpa seorang ibu.

Di buku ini konfliknya agak terburu buru, jadi baru konflik muncul tapi cerita ini sudah menuju akhir. Seharusnya bisa digali lebih dalam apa alasan yang sebenarnya terjadi ketika 'perang dingin' itu agar penyesalannya bisa lebih ngena di pembaca.

Buku yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis, bisa jadi buku baca sekali duduk.


Kamu yakin betul, masih banyak wajah yang ia sembunyikan di hadapanmu. Juga, yang tak benar benar kamu perhatikan karena kamu terlalu asyik dan sibuk dengan duniamu


Seribu wajah ayah sekalipun yang kamu kenang dan ratapi malam ini, tak 'kan pernah mengembalikannya.
Displaying 1 - 30 of 433 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.