Kaidah Emas, “lakukan pada orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan”, adalah landasan moral yang mudah sekali diterima oleh semua orang di mana pun. Maka, moral, yakni soal benar/salah, sesungguhnya mudah dipahami secara intuitif. Tapi, mengapa moral menjadi isu paling krusial di tengah masyakarat kita?
Lihat fakta: Indonesia konon salah satu negara paling religius tapi masuk peringkat (ter)tinggi korupsi di dunia. Ratusan ribu orang setiap tahun mampu berhaji dan umrah, tapi problem kemiskinan begitu mengerikan. Betapa sulitnya mengajarkan kebersihan dan ketertiban di ruang publik, semisal membuang sampah sembarangan dan saling serobot di jalan raya. Mengapa orang kita lebih mudah tertib di Singapura daripada di negeri sendiri? Mengapa justru di negeri yang masyarakatnya mementingkan agama moralitas seperti terabaikan?
Buku ini membuka mata kita bahwa isu moral tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Di situ ada faktor kesadaran pribadi, sistem hukum, konvensi sosial, adat dan kebiasaan, sistem pendidikan, dan sistem sosial, serta sistem keyakinan. Dari mana kita mengurainya?
Fahruddin Faiz adalah doktor ilmu filsafat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia kini selain sebagai dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), juga menjabat sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Ushuluddin (teologi Islam).
Sudah sejak 2013, tiap malam Rabu di setiap pekannya, Pak Faiz, panggilan akrabnya, menjadi pengisi materi dan pemantik diskusi kajian filsafat di Masjid Jendral Sudirman.
Fahruddin Faiz lahir di Mojokerto pada 16 Agustus 1975. Dia meraih S-1 dari Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1998), S-2 dari Jurusan Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001), dan S-3 dari Jurusan Studi Islam UIN Sunan Kalijaga (2014).
Selain menjadi dosen dan wakil dekan di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penerima Short-Course on Research-Management, NTU Singapura (2006) dan Short-Course on Islamic-Philosophy, ICIS (International center for Islamic Studies), Qom, Iran (2007) ini juga merupakan seorang penulis yang cukup aktif.
Beberapa karyanya antara lain: Menjadi Manusia, Menjadi Hamba; Menghilang, Menemukan Diri Sejati; Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks-Konteks dan Kontekstualisasi; Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural; Transfigurasi Manusia (Terjemahan); Perempuan dalam Agama-Agama Dunia (Terjemahan); Filosofi Cinta Kahlil Gibran; Bertuhan Ala Filosof (Terjemahan); Aku Bertanya Maka Aku Ada; Handbook of Broken Heart; Risalah Patah Hati; Filosof Juga Manusia; Sebelum Filsafat; Memaknai Kembali Sunan Kalijaga; Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran; dan beberapa judul buku lain. Dia juga masih aktif memberikan ceramah keagamaan, khususnya bertema filsafat ke sepenjuru Nusantara.
“Apakah kalian akan meninggalkan dunia yang bisa kami tinggali?”
Salah satu bagian paling menggugah adalah pembahasan tentang etika masa depan: bagaimana moral bukan soal balas jasa, melainkan soal kasih pada generasi yang bahkan belum lahir.
Di tengah dunia yang penuh egoisme, Filsafat Moral mengajak kita untuk berhenti sejenak, menengok jauh ke depan, dan bertanya:
“Apakah tindakan kita hari ini akan memelihara atau menghancurkan kehidupan anak cucu kita kelak?”
Dalam etika masa depan, ada tiga komponen penting:
Ketakutan – takut bahwa anak cucu kita akan hidup di dunia yang rusak karena keputusan kita hari ini.
Perasaan – kemampuan untuk merasakan penderitaan mereka, meski mereka belum lahir.
Bukan timbal balik – karena apa yang kita lakukan untuk masa depan tidak akan kembali kepada kita, setidaknya tidak semasa kita hidup.
Kita hidup di tengah peradaban yang terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri, terlalu silau oleh kekuasaan, terlalu lapar oleh kepentingan jangka pendek. Kita memilih pemimpin yang lahir dari rakyat yang sama—rakyat yang tidak pernah diajarkan untuk berpikir jauh ke depan.
Mereka tidak takut akan masa depan. Mereka tidak merasa apa-apa. Dan mereka hanya peduli jika bisa mendapatkan balasan instan.
🕊 Untuk anak cucu kita kelak. Semoga mereka tidak mewarisi dunia yang hancur karena kita terlalu sibuk menikmati kehancurannya.
Buku ini memaparkan dengan baik moral dari segi psikologis, filsafat, nusantara, dan keagamaan. Pembahasannya kekinian, serius tapi masih diselingi guyon tipis-tipis. Salut sekali dengan Ustadz Faiz, beliau mampu menulis dengan cara yang sederhana tapi mengena. Caranya memperkenalkan begitu banyak tokoh-tokoh penting di dunia bisa dibilang luwes, dan sebagai seseorang yang menyukai psikologi dan sufisme, saya sangat senang ketika melihat begitu banyak “relatability”.
Semakin berilmu, semakin sadar bahwa kompas moralisme kita juga ikut meluas. Jangkauan dan kiblatnya menyebar kemana-mana, keinginan untuk lebih tau juga membesar, seakan menunjukkan betapa bukan apa-apanya kita di hadapan ilmu pengetahuan dan alam semesta. Di sanalah kita membutuhkan kerendahan hati sebagai manusia, untuk terus belajar tanpa membatasi ilmu pengetahuan. Seperti yang sempat dibahas di dalam buku ini juga, bahwa setelah akal kita masih ada satu level lagi di atasnya yaitu hati.
Hati membutuhkan kejelasan, keyakinan, dan pengertian, dan dari sana lah kita bisa merasakan cinta; terhadap diri sendiri, sesama manusia, juga kepada Tuhan sang pencipta.
Buku dengan judul yang berat tetapi isinya sangat mudah dipahami karena sudah menjadi ciri khas Pak Faiz dalam memaparkan contoh yang relevan dengan kehidupan saat ini.
Salah satu hal yang menarik bagi saya, nilai-nilai moral yang terkadang bersifat kontekstual, terkadang di bagian inilah banyak terjadi perpecahan, menjadi salah satu alasan kenapa manusia harus saling mengenal.
Salah satu buku yang saya selesaikan membaca kurang dari 1 minggu. Menurut saya penulis mengemas rangkuman apa itu definisi moral dari tokoh-tokoh yang luar biasa seperti Lawrence Kohlberg, Hans Jonas, Al Ghazali dan Pakubuwana IV. Kesimpulan apa itu moral dari tokoh-tokoh dalam buku ini cukup mudah difahami. Nyawa etika bukan pada akal melainkan pada hati nurani.