Aku ingin bercerita kepadamu dalam suara paling jernih yang bisa ditangkap telinga dan disimak kepalamu. Hujan tumbuh di sekeliling rumahku. Rintiknya berwarna merah, ungu, biru atau apa pun yang bisa kau bayangkan ada dalam lukisan seorang anak kecil. Jangan menyela atau bertanya. Sebab kisah ini beginilah adanya. Pohon-pohon akasia yang meneduhkan jalanan juga pagar rumahku berubah warna. Warnanya serupa sore kesukaanmu. Sedikit jingga dan banyak merah.
Dari jendela bergorden tipis, kaki-kaki hujan sesekali menyentuh kaca bening, di mana aku berdiri di sebaliknya. Telah pergi kemarau berumur panjang itu. Akan tiba mekar bunga-bunga di kamar tidur itu. Mulailah menghitung domba-domba, satu untuk setiap harapanmu. Lalu bunga-bunga yang namanya tidak kukenal bermunculan di ruang tamu, dapur, meja makan dan tempat tidur. Kemudian seribu kupu-kupu menjadikan rumahku taman bermain. Kau mungkin akan mengingat ini, dongeng sebelum tidur yang tak punya judul.
Kumpulan puisi ini ibarat sepiring nasi campur. Banyak rasa dan tema yang dituangkan oleh kak Ama membuatku tercebur ke dalam permainan katanya yang begitu magis. Senang sekali rasanya bisa membaca karya terbaru Kak Ama yang satu ini dan merasa terhormat juga pernah menjadi pendengar langsung dari salah satu puisinya Kak Ama sebelum terbit.
Btw, ada banyak sekali aspek yang disorot oleh Kak Ama dalam puisinya tentang kesepian, kekaguman, duka dan kehidupan, pokoknya isi puisinya paket komplit banget walau ada beberapa puisi yang membuatku blunder.
Tak bisa aku pungkiri bahwa Kak Ama adalah seorang pengamat yang baik. Pengen banget peluk Kak Ama atas puisinya ini karena di satu sisi puisinya kak Ama adalah obat penyembuh yang mengajak diriku untuk berdamai dengan diri sendiri.
Membaca buku kumpulan puisi ini karena termasuk ke dalam nominasi daftar panjang kategori kumpulan puisi untuk Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Dan wow … sungguh membuatku terkesima dengan konsepnya.
Buku ini memiliki tiga bagian yang dinamai dengan “jendela”. Selayaknya rumah yang memiliki jendela sebagai wahana untuk melihat sesuatu di luar rumah atau dari sudut pandang jendela kepada “rumah”.
1. Jendela Olfaktorium Karena penasaran, aku mencari tahu makna olfaktorium dan itu ternyata terkait dengan indra penciuman atau perparfuman. Pantas saja di bagian ini nama Jati, Raras, dan Suma di novel Aroma Karsa disebut.
2. Jendela Ruang Belakang Untuk kanak-kanak dalam dirimu. Puisi di bagian ini cukup unik karena seakan mengingatkan kita pada masa kecil: Cara Lain Menggambar Jerapah, Sebuah Lukisan Lumba-Lumba, Persiapan Masuk Sekolah, Hal-Hal yang Hilang Ketika Memiliki KTP, dst.
Beberapa kali membaca kumpulan puisi dan aku merasa puisi-puisi dalam buku ini sangat amat unik. Bahkan beberapa berbentuk tutorial dan tips and trick. Penasaran? Coba baca deh.
3. Jendela Kaca Patri Tentang lagu, perjalanan, dan manusia. Di bagian ini lebih mind blowing lagi. Ada puisi untuk Sylvia Plath, ada yang terinspirasi dari film, ada untuk Putu Wijaya dalam puisi Di Teater Taman Ismail Marzuki, serta untuk Sapardi Djoko Damono untuk puisi Tidak Ada Hujan Bulan Ini, dan lainnya.
Akhir kata, aku jadi meyakini mengapa buku kumpulan puisi ini masuk nominasi daftar panjang Kusala. Penulisan puisi yang “berbeda”, unik, namun tetap puitis sebagaimana puisi.
🌹 4 bintang untuk diam menetas menjadi tangis, kata tergeletak menjelma sajak, di halaman 76.
Ama Gaspar adalah racun puisi saya. Setelah menceburkan saya ke dalam Keterampilan Membaca Laut, di atas langit Sulawesi saya menyelesaikan Pagar Rumahku Berubah Warna sembari menahan air agar tidak tumpah dari mata. Kumpulan puisi ini relate banget dalam banyak aspek di kehidupan saya, makanya mewek bacanya. Sangat dalam dan menyentuh satu titik yang biasanya tidak saya izinkan siapapun berada di sana.
The most unanticipated puisi di buku ini buat saya adalah Bertemu Ibu, Refrain, dan Ia Mengganti Nama.