Menuai Badai adalah kisah tentang seorang yang diseret masa lalu, tentang tubuh sebagai arsip, seragam sebagai simbol kekuasaan, tentang sejarah yang bengkok dan yang tak pernah benar-benar berhasil diluruskan
Putu Juli Sastrawan adalah penulis dan peneliti yang memiliki ketertarikan pada memori kolektif, bentuk pengetahuan alternatif, serta narasi sejarah dalam sastra dan seni. Pada 2024, ia menjalani residensi menulis di Kyoto dan menjadi peneliti tamu di Pusat Kajian Asia Tenggara, Universitas Kyoto.
september 2023 adalah pertama kali saya ke bali. di bawah terik siang saya sedang jalan kaki di jalan bypass ngurah rai lalu tibatiba ada seorang lakilaki menepi dengan motornya dan menawarkan tumpangan lalu saya iyakan kemudian saya diantar di tujuan saya yaitu tempat oleholeh pie susu. di novel ini, si tokoh kandar sepanjang perjalanan berkalikali ditawarkan tumpangan. bali yang digambarkan di novel tercermin dengan pengalaman saya di 2023.
Buku ini mah tipis, tapi gaakan bisa ku selesaikan sekali duduk. Duhhh mixed feeling bgt sih ini jujur 😭😭 . Aku ada perasaan marah, kecewa tapi sedih bgtttt 😭😭 hampir netes tadi air mata ((gjdi karena tiba2 sadar aku kan lagi d luar, nanti dilihatin gak seeehhh kalau nangis)) . Buku ini merupakan pov dari si pelaku pembunuhan d '65 dari Bali, enggak kok aku gak membenarkan perilakunya tapi kok aku kasihan juga. Arghhhh 😭🤣 . Salah satu buku yg layak d baca sekali seumur hidup sih ini...
Awalnya ini hisfic yang nagih karena dibuka tanpa babibu dengan horor. Kemudian, potongan-potongan berita yang mengisi halaman demi halaman buku ini juga mulanya menambah kemenarikan buku ini karena pembaca diposisikan untuk mencari tahu tragedi atau pelaku pembantaian tersebut. Tapi formula ini agaknya membuat plotnya "lebih berat" digerakkan semata oleh data mulai di bagian pertengahan, kepiawaian sebelumnya dari penulis dalam membangun cerita seakan menguap. Dan sayangnya hingga akhir, penyajian dialog antar keluarga korban juga rasanya seperti tidak terhubung secara emosional, semacam obrolan sehari-hari di latar belakang. Pun saya agak menyesalkan karena protagonis rasanya "habis" begitu saja di penghujung buku.
Menuai Badai mengisahkan tentang tokoh Kandar yang terseret pada bayang-bayang peristiwa pembunuhan massal G30S/Gestapu/Gestok di masa lalu. Jika novel sejarah peristiwa '65 lain menceritakannya dari sudut pandang korban, keluarga korban, maupun orang-orang yang terdampak oleh peristiwa tersebut, maka novel ini menceritakan dari sudut pandang Kandar sebagai tukang jagal yang setelah sekian puluh tahun peristiwa tersebut berlalu masih terus-menerus diteror oleh hantu para korbannya yang dahulu pernah ia eksekusi hingga menjadikannya sebagai orang yang dianggap sakit jiwa. Rasa bersalahnya atas perlakuannya di masa lalu membawanya pada ketakutan dan keputusasaan yang makin menjadi-jadi hingga baret merah dan pakaian lorengnya tidak lagi mempan untuk menangkal teror-teror yang terus menggema dalam pendengaran dan penglihatannya. Novel ini akan membawa kita pada perjalanan Kandar dalam usahanya untuk menebus dosanya, berharap ia akan dimaafkan oleh arwah-arwah yang menghantuinya maupun oleh masyarakat yang terluka akibat peristiwa '65, sembari melihat kilas balik ingatannya di masa lalu yang datang silih berganti.
Warga desa menganggap Kandar, si tokoh utama, sebagai orang gila. Sementara kita yang menyimak dari sisi narasi Kandar, juga baret beserta seragam loreng lusuhnya, akan menemui beban sejarah yang telanjur dan tak pernah selesai. Seragam itu bukan hanya miliknya di masa lalu, ia juga jaring kenangan yang membelit pikirannya, yang mengaburkan batas antara ingatan dan kenyataan.
Sejak awal kita diajak jadi saksi untuk seorang manusia yang dihantui oleh dosanya sendiri, hari demi hari, tanpa henti. Kandar bukan hanya korban sejarah; ia juga pelaku, dan itu yang membuat novel ini begitu getir. Ia tak bisa melupakan, tak bisa memaafkan dirinya sendiri, dan masyarakat pun seolah tak memberi ruang untuk penyembuhannya. Yang paling mengerikan adalah: rasa bersalah itu hidup terus di tubuhnya, menempel di baret dan celana loreng yang tak pernah ia tanggalkan, seolah ia rela dihukum seumur hidup oleh bayangan yang tak pernah benar-benar pergi. Membaca kisahnya seperti menatap wajah sendiri di cermin retak: terdistorsi dan tak bisa dihindari.
Buku ini menguak tentang penyesalan seorang “PENJAGGAL” yang mana ia diambang pilihan antara membunuh ataupun dibunuh. Tentu dengan keputusan yang dipilih, datang dengan konsekuensi yang meng(hantui) sepanjang hidup si tokoh utama. Luka batin pelaku terpapar cukup baik dan aku bisa nyemplung dg berbagai perasaan yg campur aduk oleh pembawaan cerita oleh penulis. 🔪
Jujur ketika baca beberapa halaman awal, loh ini mirip sekali vibes nya dg film dokumenter “JAGAL” oleh Joshua Oppenheimer. Dan ternyata aku suka dg novel fiksi ini, ya walaupun kenyataannya buku ini lebih nyata dari kisah fiksi itu sendiri. Aku juga senang ketika penulis mencantumkan beberapa arsip2 asli dokumen koran2 pada era kelam masa itu. 😞🗞️
Buku tipis tapi ternyata menambahkan sedikit puzzles benang merah sejarah ‘65 di Bali🧩🏝️
"Saling gelahang. Saling membantu. Jangan meninggalkan keluarga."
Putu Juli mampu menyajikan sejarah kelam yang bahkan sampai detik ini banyak orang tidak ketahui, bahkan orang Bali itu sendiri. Bagaimana sejarah ini dirancang untuk ditutupi rapat-rapat. Tidak bisa disalahkan bagaimana orang Bali sangat takut membicarakan politik. Masyarakat Bali memiliki trauma kolektif mengenai pembantaian dan pembunuhan masal pada tahun 1965, dan diperkirakan ada 80.000 orang yang dibunuh. Ini bukan hanya angka, tapi mereka adalah ayah, kakek, dari seseorang. Mereka adalah bagian keluarga dan trauma ini diwariskan turun - temurun. Negara seharusnya hadir untuk memulihkan hak-hak korban yang terlanggar, Negara tidak seharusnya diam.
"Memaafkan adalah proses yang rumit dan pribadi, dan tidak semua orang bisa atau mau memaafkan . . ."- Menuai Badai halaman 148.
-- Membaca buku ini tanpa membaca review atau ulasan siapapun terlebih dahulu, blurb di belakang buku juga tidak menggambarkan secara spesifik buku ini tentang apa, jadi agak tidak menyangka ternyata bukunya tentang sejarah kelam tahun 1965 dari kacamata algojo pembunuhan massal di Bali.
Saya membaca bukunya sekali duduk, selain karena format bukunya yang kecil, isinya juga 158 halaman saja, tapi ceritanya membekas dan membuat bulu kuduk berdiri. Saya juga cukup emosional membaca halaman-halaman usai Kandar dijemput Koh An di puskesmas. Menangis agak lama sebelum akhirnya melanjutkan baca lagi.
Menuai Badai sangat berkesan karena belum lama ini saya membaca buku Metode Jakarta, yang di tiap Babnya seringkali menyelipkan kisah korban '65, membaca buku ini memberi perspektif yang baru, buku ini memberikan serpihan penyesalan pelaku, penyesalan dan rasa sedih dari keluarga korban, juga ketakutan akan trauma kedua yang dikhawatirkan akan muncul justru melalui permintaan maaf. Saya tidak bisa menemukan padanan kata yang pas dalam Bahasa Indonesia untuk mendeskripsikan bukunya dalam dua kata, namun dalam bahasa Inggris saya merasa buku ini: Beautifully Haunting. Karena ditulis dengan indah dan apik, tapi isinya membuat ngilu dan nyeri hati dan pikiran.
Pada akhirnya yang terbayang dari buku ini adalah pesan yang dikatakan Koh An di halaman 74, "Hanya mereka yang berani bertahan dan belajar yang akan tumbuh lebih kuat. Belajarkah dari masalah-masalah besar kemarin, kelak esok kita bisa lebih tegar".
Salah satu yang saya hargai dan sukai dari novel ini adalah referensinya terhadap potongan berita untuk memperkaya latar cerita. Saya suka karena dengan begitu penulis mencoba mengawinkan apa yang fiksi dan nonfiksi, sebab memang di dunia sehari-hari yang kita hidupi pun dua kutub ini memang kabur.
Lewat pendekatan seperti ini, penulis seperti punya dua kepribadian: dengan potongan berita ia sedang memberitahuku fakta yang terjadi yang kita sama-sama tahu peristiwa mana yang ia rujuk; melalui dunia para tokoh ia bertutur, mengandaikan, mengimajinasikan dunia alternatif yang barangkali saja ada. Dan aku, pembaca, ada di tengah-tengahnya. Namun, justru itu yang membuatku bertanya-tanya soal apa yang harus kulakukan jika, andai saja, di belahan bumi ini benar ada pelaku pembunuhan yang merasa bersalah?
Satu poin lain yang bikin saya bertanya-tanya selama membaca buku ini adalah mengapa penjabaran peristiwa pembunuhan massal itu sendiri justru tidak datang dari tokoh utama (yg konon menyesal)? Atau jika ada mengapa porsinya sedikit? Saya tak banyak membaca tentang pengakuannya, dan lebih banyak membacaa penyesalannya saja.
Mengapa pula, itu justru datang dari keluarga korban, berita, atau tokoh pendukung lainnya? Bukankah kita sedang membahas cerita soal penyesalan tokoh utama dan permohonannya untuk menebus kesalahan itu? Mengapa tidak banyak cerita soal siapa yang menyuruhnya? Apa yang ia alami, rasakan, dan lihat saat peristiwa itu? Jika ia baru terhantui atas keputusan itu berpuluh tahun kemudian, apa yg terjadi sesaat setelah ia membunuhnya? Ia sadar bahwa membunuh itu buruk dan lalu menyesali hingga terus terhantui atas keputusan itu. Tapi, seperti apa awalnya?
Terbatasnya sudut pandang dari sisi ini tidak cukup membuat saya memahami apa yang disesali tokoh utama ini persisnya? Dengan demikian, saya pikir, itu yg bikin saya enggan terseret pada pertanyaan yg sempat muncul di awal membaca novel ini. Kenapa saya harus memikirkan pelaku, bila ia saja tidak tahu apa yang ia sesali dan yg harus ia tebus?
what if I tell you, ini adalah kisah sejawat Anwar Congo, yang perlahan hancur oleh pilihannya sendiri pada 65’?
Kandar namanya, jagal 65’ yang pagi, siang, sore, malam selalu dibayangi darah, wajah hancur lebur hingga kepala yang terpenggal.
kayanya ini bacaan pertamaku soal 65’ yang diambil dari pov pelaku genosida deh. karena sejauh ini bacaan soal 65’ yg kubaca berputar pada pov korban. (iya aku bilang genosida — kamu akan tahu kenapa kalo udah baca bukunya Jess Melvin, Berkas Genosida Indonesia).
Menuai Badai mengajakku untuk “masuk” memahami pikiran pelaku — bahwa sebetulnya pelaku juga adalah korban keadaan. enggak, aku gak membenarkan apa yang mereka lakukan di masa silam, tp sama halnya seperti The Act of Killing, bacaan ini membantuku memahami lebih jauh betapa peliknya badai politik yang menghadapankanmu pada pilihan “dibunuh atau membunuh”
buku ini emang merupakan novel. tapi bukan novel yang terbilang nggak santai buatku. kenapa? karena ada beberapa bab di bacaan ini yang aku kudu berhenti sebentar, soalnya suasana ceritanya mulai kerasa berat dan horror ..
penulisannya tajam dan tanpa basa-basi dalam novel ini bikin perasaan takut, marah, sedih, iba kebawa sampe mimpi (ril kejadian di aku🙏🏻).
penulis sukses banget deh bikin tension horror di siang bolong sampe tengah malem yang dia tanya “di mana kepalaku!” sambil bisik bahkan teriak. wuh aku bener-bener bisa ngebayangin itu kalo di medium film!🥲
kalau kamu suka The Act of Killing dan The Look of Silence-nya Joshua Oppenheimer atau sekadar suka novel sejarah tp juga suka horror?!! kamu bisa coba baca Menuai Badai, tapi hati-hati didatangi si pencari kepala yang satu itu hiiih👻
Jika biasanya fokus sudut pandang cerita berlatar masa geger politik 65 diberikan pada korban, di novel ini ada pada tukang jagalnya.
Rasa bersalah menghantui dan membuat tokoh laki-laki tua ini didiskripsikan seperti orang hilang akal. Tingkahnya yang aneh, seperti selalu ketakutan, mimpi buruk, berhalusinasi, dll. Bagi orang lain, itu karena dia terbebani secara psikologis akibat terus memikirkan kejadian di masa lalu. Bagi si tokoh, semua adegan yang dialaminya adalah nyata.
Dengan rangkaian kalimat serupa penyampaian dalam rasa sastra Indonesia, pembaca dibuat tertarik untuk terus mengikuti alur cerita hingga akhir. Penulis berusaha menggali pergulatan batin yang dihadapi si tokoh, sekaligus menjadikannya sudut kritik atas situasi kebijakan saat itu yang dipandang sangat sembrono dalam menyelesaikan persoalan. Pendekatan militeristik pada saudara sebangsa telah menjadi noda darah yang tak bisa dihapuskan hingga saat ini. Penyesalan yang meliputi seluruh jiwa raga si tokoh, hingga memunculkan niat kuat untuk meminta maaf, agaknya menjadi sesuatu yang bisa dipandang sebagai sindiran pada pelaku sebagai pribadi dan negara sebagai institusi yang tidak menempuh cara yang sama.
Meski tidak dalam, novel tipis ini sedikitnya membuka tabir sejarah yang jarang dibahas. Untuk generasi muda khususnya, salah satu perlunya membaca sastra adalah untuk ini : agar memiliki lebih banyak sudut pandang sejarah. Dan buku ini, menjadi salah satu alternatifnya.
Novel 158 halaman ini kutuntaskan dalam sekali duduk. Ia singkat tapi begitu membekas. Juli dengan sangat baik bisa membawaku menyelami dan merasakan penyesalan Kandar yang begitu dalam. Dengan alur yang bagiku cukup sederhana dan tidak merepotkan, aku bisa memahami kegilaan Kandar sembari ia menyusun puing-puing maafnya, pada Jimakir, Pantari, ayahnya, dan orang-orang yang ia jadikan korban.
Apresiasiku yang begitu tinggi pula untuk Juli, sebab ia mampu menarasikan konteks budaya Bali secara tepat, dengan sederhana. Aku bahkan menangis pada satu adegan yang menggambarkan ritual pemandian jenazah. Betapa luhurnya falsafah-falsafah Bali ini jika baik kita menghayatinya. Sementara pembantaian 1965-66 yang dilakukan oleh orang-orang Bali itu sendiri, justru memperlihatkan yang sebaliknya.
Aku merasa segala hal jadi begitu cepat menjelang cerita berakhir, jika membandingkan dengan paruh pertama yang begitu lambat. Tapi mungkin, ia adalah sebagaimana sebuah penyesalan. Begitu pelan kita menyadarinya, untuk kemudian buru-buru kita hendak menyelesaikannya. Terlebih ketika semua pil pahit balasannya sudah kita telan bulat-bulat.
Menuai Badai karya Putu Juli Sastrawan merupakan novel berlatar belakang sejarah (khususnya tentang 1965). Menceritakan seorang pria bernama Kandar, yang semasa tuanya hidup dalam ketakutan karena perbuatan kejinya di tahun 1965. Ia menjadi salah satu eksekutor (penjagal) dari kejadian berdarah di tahun tersebut. Kandar seringkali dibayang-bayangi dan dihantui oleh korban yang ia eksekusi dulu. Ia pun mencoba mencari cara bagaimana untuk dapat meminta maaf pada keluarga korban yang masih hidup. Maaf bisa saja didapat, tapi lupa belum tentu.
Novel ini dibubuhi beberapa potongan koran yang relate dengan kejadian, membuat cerita yang ada semakin menarik. Namun saya menyayangkan terkait bagaimana relasi para tokoh terbentuk, ada beberapa kebetulan yang terlalu mudah. Saya mengindikasi karena latar belakang tokoh-tokoh pendukung tidak di eksplor, sehingga kebetulan yang terjadi terasa janggal. Hal yang lain, buat saya novel ini rasanya terlalu tipis apalagi jika yang dibahas adalah tentang sejarah.
Familiar dengan kata Gestok? Atau Gerwani? Saya iya, nenek selalu cerita. Dan selalu mengingatkan “jangan tertawa keras-keras! Nanti kamu dikira Gerwani!
Sedalam itu traumanya pada G30SPKI… tetua Bali menyebutnya Gestok. Ketika pembantaian di Bali memiliki % paling tinggi seantero Nusantara karena kedekatan Bali dengan Bung Karno. Sayangnya, negara tidak transparan. Tidak pernah dicatatkan dan dituliskan dengan fakta sebenarnya.
Tapi Juli mengisahkan dengan sentuhan fiksi dan deskripsi yang gamblang. Bukan tentang para korban yang entah berapa jumlah pastinya, tapi tentang sang jagal! Yang mengayun klewang memenggal kepala siapa saja yang dianggap dekat dengan PKI.
Tentang rasa bersalah. Tentang pencarian pengampunan. Sebenarnya juga tentang ketidakberdayaan menghadapi penguasa. Ketika pilihannya membunuh atau dibunuh!
Untuk yang ingin memulai dan tertarik tahu tentang 1965, buku ini bisa menjadi pembuka pintu.
Baru buka halaman pertama aja lngsung disuguhkan dengan kalimat “Bahwa sebenar-benarnya hidup yang baik adalah hidup yang mementingkan diri sendiri,menyelamatkan hidup kita sendiri dan mendahulukan diri kita sendiri”. Paragraf awal sepenuhnya membahas tentang kepentingan diri sendiri. Awalnya aku kira cerita ini akan fokus pada perjuangan untuk hidup demi diri sendiri. Ternyata, justru itulah awal mula penyesalan tokoh utama di buku ini.
Kandar, tokoh utama, adalah seorang jagal pada masa peperangan. Jika biasanya novel mengisahkan sudut pandang korban atau keluarga korban, novel ini mengambil pendekatan berbeda: sudut pandang pelaku yang membunuh para korbannya.
Di mata orang lain, pelaku pembunuhan pada masa perang mungkin terlihat sangat kejam, tetapi di balik kekejaman itu, mereka ternyata bisa menyimpan trauma mendalam—seperti yang dialami Kandar.…
Hidup penuh dengan rasa penyesalan atas dosa-dosa yang telah ia perbuat serta teror dari hantu para korbannya..
Rasanya ceritanya hanya terbagi menjadi dua suasana: 1) Kandar di tengah kegilaannya, 2) penuturan sejarah Peristiwa 1965. Di suasana pertama, pembaca dibawa ikut menyelam dan tenggelam dalam berkelak-keloknya jalur palung dalam otak Kandar, bagian yang bisa cukup aku nikmati. Sedangkan suasana kedua sepertinya menurutku masih terlihat agak dipaksakan. Beberapa tokoh rasanya dibuat seolah "tiba-tiba" bercerita panjang lebar tentang masa lalu mereka, dan penuturan itu terjadi hanya pada satu waktu, hingga dirasa kurang "menyatu" dengan jalannya cerita. Seolah kita disuapi porsi makanan besar dengan sendok raksasa alih-alih diminta mencicipinya sedikit demi sedikit agar kenikmatan rasanya lebih kentara. Tapi secara keseluruhan, novel ini berhasil menyuguhkan sudut pandang baru dari satu bagian sejarah kelam di negara kita.
Buku setipis 166 halaman ini memuat tema yang berat, yakni tragedi 1965 di Bali. Dikisahkan dari sudut pandang mantan eksekutor yang hampir gila karena dihantui para korban dan perasaan bersalah, pria tua bernama Kandar pun bersepeda menuju sebuah pantai. Di pantai tersebut dulu dia menghabisi nyawa beberapa orang tanpa ampun. Kini dia ingin menebus kesalahan itu, tapi apakah mungkin? Bahkan, apakah dia pantas dimaafkan?
Pembantaian 1965 telah melukai banyak pihak, baik korban maupun pelaku.
Pesan penting ini disampaikan dgn menarik di awal namun di beberapa titik terasa pengulangan pengulangan, seolah tdk ada cara lain bagi penulis untuk mengungkapkan perasaan si tokoh. Di beberapa bagian, fakta juga disampaikan dengan terlalu rigid, kadang dialog menceritakan banyak hal sekaligus seperti halnya berita sehingga kedalaman emosinya kurang.
Wow. Dibuat merenung setelah selesai baca buku ini.
Alur cerita semi-fiksi tentang pembunuhan massal tahun 1965 ini dibangun pelan-pelan, dibuat marah dan jijik di awal oleh pemeran utamanya (Kandar), disuguhkan konteks dari tokoh-tokoh sampingan dan arsip surat kabar Suara Indonesia, sampai akhirnya hati pembaca disentuh oleh apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Kandar.
Yang paling aku suka adalah penulisannya yang sinister saat menggambarkan mimpi-mimpi Kandar, dan deskripsi-deskripsi mengenai duka yang dialami oleh tokoh-tokoh yang menjadi keluarga korban pembunuhan 1965 dan juga yang dialami oleh Kandar.
kandar, tukang jagal di tahun 65, dihantui korban-korbannya. novel 150-an halaman ini kebanyakan menarasikan halusinasi kandar yang dibayangi hal-hal menyeramkan. mungkin karena itu, fragmennya terasa terpecah-pecah, terkadang juga bolak-balik.
di umurnya yang sudah tua dengan beban dosa yang berat, kandar ini masih banyak nyeletuk ngawur. di awal-awal, penulis menunjukkan obsesi kandar pada seragam dan topi tentaranya. hidup susah dan banyak dosa, kandar sangat sungkan menerima bantuan, tapi selama perjalanannya banyak orang baik yang mau bantu dia.
lekra dan gerwani dalam buku ini digambarkan dengan sangat humanis. bukunya nggak menghakimi. tenang dan lambat. bikin lama merenung.
Bagaimana cara Kak Juli menjelaskan emosi dari karakter utama (Kandar) itu menurut aku tajam banget. Dari cara karakter utamanya menggambarkan dirinya, menggambarkan adiknya, menggambarkan halusinasinya, tuh, detail & bikin berasa aku sebagai pembaca menyelam ke dalam benak si karakter utama. Sayangnya nggak ada cerita yang lebih spesifik antara Kandar & Pantari, padahal Pantari kerap kali muncul cuma endingnya langsung menutup bahwa Pantari-lah yang paling getol jasadnya minta dipindahkan.
Biasanya buku hisfic itu mengambil Pov dari korban tetapi buku ini dari Pov pelaku. Sesuatu yg “gong”! Buku yg tipis tapi Aku lama bangettt bacanya. Perasaan aku pas baca tuh exhausted. Capek banget gitu, tapi semakin ke belakang jadi semakin bagus ceritanya.
Menjadi seorang eksekutor yang mengambil kehidupan seseorang ternyata tidak semudah apa yang kita bayangkan. Rasa penyesalan dan bersalah akan terus menghantui seseorang yang memiliki peran tersebut.
Setelah membaca buku Gerwani, Kisah Tapol Wanita di Plantungan, kemudian Riwayat Terkubur - John Roosa, Pembantaian PKI di Jawa dan Bali, 1965-1966 - Robert Crib, Buku Harian Keluarga Kiri - Dhianita Kusuma Pertiwi serta buku Melawan Lupa - Narasi Komunitas Taman 65 Bali, ada satu pertanyaan yang selalu menghantui saya, 'Bagaimana dengan pelaku yang harus membunuh mereka yang tidak tahu-menahu? Apakah mereka menyesal? atau mereka seperti di film Jagal?
Sayangnya, selain film Jagal, nyaris atau bisa dikatakan tidak ada, buku fiksi maupun non-fiksi yang menceritakan tentang hal ini, hingga saya membaca karya fiksi Menuai Badai oleh Putu Juli Sastrawan.
Juli Sastrawan sejak halaman pertama sudah membuat saya terhenyak dan merenung, ".. Apabila selama hidup kita menjumpai dua pilihan: membunuh atau dibunuh, pilihlah untuk membunuh..."
Kalimat yang kemudian saya sadari sebagai sebuah jalan untuk membawa diri saya masuk ke dalam pergulatan batin si pelaku.
Luka Batin yang diberikan dan diperintahkan oleh negara untuk dinikmati rakyatnya, tanpa peduli bagaimana mereka harus menapaki kehidupannya.
Namun, berbeda dengan kisah-kisah lainnya, penulis dalam novelnya Menuai Badai, mengajak saya untuk bisa 'melihat' penderitaan korban dan keluarganya, dari sisi yang sama dengan penderitaan pelaku dan keluarganya.
Ketika saya menutup buku ini, ada kalimat lain yang membuat saya kembali merenung bahwa "Memaafkan adalah proses yang rumit dan pribadi, dan tidak semua orang bisa atau mau memaafkan, terutama untuk kejahatan yang sangat serius. Ada juga yang mungkin memilih untuk memaafkan sebagai bagian dari proses penyembuhan mereka. Ini tidak berarti mereka melupakan atau menyetujui apa yang telah terjadi, tapi bisa jadi cara untuk melepaskan beban emosional dan melanjutkan hidup."
Salut dengan penulisnya yang mampu menggambarkan luka batin pelaku pembantaian masal. Bagi saya, novel ini jauh lebih menarik dari film Jagal karya Oppenheimer.
Biasanya buku-buku tentang tragedi 1965 bercerita dari sudut pandang korban, tapi buku ini bercerita dari sudut pandang algojo. Kandar, terpaksa memilih jalan yg salah krn saat itu hanya diberi pilihan mau jadi korban atau algojo. Dia dihantui rasa bersalah bertahun-tahun sampai mencari lokasi kuburan massal krn salah satu korbannya yg kepalanya terpisah dr badan tidak dikuburkan di satu tempat.
Tiap baca buku ttg 1965, terlihat kalau nyawa manusia gak ada harganya. Bnyk yg kehidupannya berakhir cm krn alasan sepele, misal seniman yg manggung di acara Lekra tanpa tau pasti organisasi apa itu.
Ukuran buku ini 11,5 x 19 cm. Menurutku kurang lebar jd megangnya gak nyaman. Kurang lebar sih. Aku jarang komplain ttg buku tp ukuran buku ini bener2 gak nyaman buatku. Kalau isi buku sih oke2 aja.