Apakah takdir yang mempertemukan kami kembali? Pemuda itu sangat menarik bagiku. Berbeda sekali dengan pemuda-pemuda yang pernah menjadi kekasihku sebelumnya. Bercanda mereka sangat kelewat batas, dan sering membuatku sakit hati. Sedangkan pemuda itu, bercandanya sangat unik. Bahkan melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang Denmark pada umumnya. Pasti bahagia menjadi kekasihnya. Sayang, dia masih setia dengan kekasihnya. Padahal mereka sudah lama sekali tidak bertemu! Ah! Aku ingin, sangat ingin menjadi kekasih pemuda itu. Bagaimanapun caranya….
Namaku Astilbe Valdemar. Inilah kisahku bersama seorang pemuda bermata toska.
“Hidup ini seperti naik ferris wheel. Kadang kita berada di bawah, kadang juga di tengah-tengah, bahkan di atas. Di atas kita merasakan angin, di bawah kita digilas kerikil.” – halaman 121.
Namun, kutipan tersebut tidak berlaku bagi Astilbe Valdemar, seorang gadis yang terkesan sangat lemas, lesu, dan rapuh, yang mana selalu melakukan segala sesuatunya dengan sangat pelan –entah itu berbicara, berjalan, dan lain sebagainya, hingga ia pun dijuluki sebagai si mayat hidup. Menurutnya ia tak pernah merasakan di puncak tertinggi itu. Sebaliknya, ia selalu merasa di bawah. Selalu tergilas oleh kerikil.
Singkatnya, novel yang diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga ini, berkisah tentang seorang gadis yang dipanggil Astilbe bersama dengan seorang pemuda bermata toska. Seorang pemuda yang baginya sangat berbeda dibanding dengan pemuda lain yang pernah ia kenal sebelumnya. Jika pemuda lain biasanya bercanda sampai melewati batas hingga membuatnya sakit hati, berbeda dengan yang satu ini, yang mana menurutnya sangat unik.
Kisah yang mengambil latar tempat di Denmark ini bermula pada suatu saat di mana Astilbe pertama kali bertemu dengan sang pemuda tersebut pada saat acara makan malam di rumahnya. Sejak waktu itu, ia selalu membayangkan, alangkah bahagianya apabila ia menjadi kekasih sang pemuda. Namun sialnya, ternyata sang pemuda masih setia dengan kekasihnya, si Miyana Bowl atau yang sering disebutnya dengan panggilan Lille Blomst –yang mana sudah sebelas tahun ditinggalkannya.
Akan tetapi, Astilbe tetap bersikeras untuk menjadi kekasih pemuda itu. Ia tak mau tahu, bagaimanapun caranya pemuda bermata toska itu haruslah menjadi kekasihnya. Hingga pada suatu ketika, datanglah “kesempatan” itu. Kesempatan untuk merebut hati sang pemuda. Dengan berbekal suatu “kebohongan” yang semakin lama semakin membesar, akhirnya ia mendapatkan sang pemuda yang ia impikan. Tapi, itu semua tidak berjalan lama.
Seperti sebuah peribahasa, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, begitupun dengan kebohongan besar yang telah dilakukan oleh Astilbe. Sedikit demi sedikit semuanya mulai terbuka. Sedikit demi sedikit semuanya semakin terlihat jelas. Hingga pada akhirnya Astilbe benar-benar menyadari, bahwa apa yang telah ia lakukan selama ini salah. Tak seharusnya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Untuk soal latar sendiri, menurut saya tidak ada masalah. Meski memang agak sulit bagi saya –pada beberapa bagian, untuk membayangkan bagaimana latar yang telah dideskripsikan. Akan tetapi, sejauh ini untuk latarnya sendiri tidak saya jumpai adanya kesan “tempelan”. Penyebab sulitnya saya membayangkan beberapa bagian tersebut mungkin dikarenakan selama ini saya sendiri kurang menaruh “perhatian” yang lebih terhadap budaya dan hal-hal lainnya tentang negara-negara di Eropa, terutama Denmark.
Sedangkan, untuk alur cerita sendiri, mulai dari prolog, lalu masuk ke tahap konflik sampai ke puncaknya, hingga kemudian pada bagian epilog, menurut saya proporsinya terbilang pas. Terlepas bahwa sebetulnya, bagi saya konfliknya kurang sedikit “menendang”. Tapi, menurut saya eksekusinya cukup baik, kok. Dan lagi, terdapat sedikit twist pula yang membuat cerita ini menjadi tidak datar.
Kemudian untuk segi teknisnya sendiri, saya suka dengan gambar pada sampulnya. Warnanya juga saya suka. Sederhana, tetapi tetap tidak meninggalkan kesan manis. Sudah begitu, tak menunjukan kesan “penuh” pula, sehingga masih terdapat cukup ruang yang disisakan bagi pembaca untuk bernafas. Akan tetapi, saya kurang suka untuk gambar desain halaman dalam. Buat saya itu terlalu kaku. Dan justru terlihat seperti garis tepi yang seolah malah memberikan “sekat” yang mana kurang enak untuk dilihat.
Ah, ya dan satu lagi. Bagi saya bagian blurb-nya terlalu biasa. Untuk saya pribadi, blurb-nya kurang menarik minat. Tapi, kembali lagi, untung saja cover-nya cukup menarik. Saya pikir peran sampul halaman di sini sangat membantu. Jadi, selamat membaca!
Jika dilihat dari blurb bukunya pasti langsung terbesit.. "Hmmm bukunya beda". Kalau sekarang masih banyak novel yang mengulas tetang kekayaan Indonesia, tapi novel Astilbe mengambil setting tentang Denmark. Sebenarnya bukan pertama ini baca novel dengan settingan luar negeri, tapi yang paling banyak mengambil setting di negera yang memang identik dengan keromantisan, kalau Denmark? Hmmmm... setelah aku baca novel ini, hmmm apa ya, hanya menonjol dalam sisi kebiasaan yang berbeda antara Denmark dan Indonesia, tapi untuk setting negera Denmark agar lebih menguatkan kesan romantis, menurutkan masih belum sedahsyat London, Paris, Jepang, Korea yang lebih dominan kalau untuk urusan romantis. Tapi cukup terkesan dengan Negara Denmark di novel ini, banyak bunga, gedung yang unik, kebiasaan yang bertolak belakang seperti di Indonesia.
"Kau bodoh! Membonceng seseorang itu ilegal!" sahutku sambil terkekeh. - halaman 223. Ternyata, di Denmark kalau boncengan itu ileggal!
alurnya memang mudah ditebak, tapi aku suka dengan perumpamaan yang digunakan di dalam novel ini. banyak menjelaskan tentang arti kehidupan dan sukses bikin senyum.