Hamengku Buwono IX, the late Sultan of Yogyakarta Special Province, is revered by Indonesians as one of the great founders of the modern Indonesian state. He leaves a positive but in some ways ambiguous legacy in political terms. His most conspicuous achievement was the survival of hereditary Yogyakartan kingship, and he provided rare stability and continuity in Indonesia's highly fractured modern history. Under the New Order, Hamengku Buwono also helped to launch the Indonesian economy on a much stronger growth path. Although remembered as the epitome of "political decency", he faded from power and influence as Vice President in the 1970s, and the repressive and anti-democratic features of Suharto's New Order seemed to contradict much of what Hamengku Buwono originally stood for. This biography seeks to explain his political standpoint, motivations, and achievements, and set his career in the context of his times.
Mengulas Wakil Presiden ke-2 Indonesia dengan bagus, meskipun penulis bukan orang Indonesia. Namun, penerjemahannya masih kaku, tampak seperti terjemahan mesin, membuat pembaca harus mencerna lagi kalimatnya.
This is obviously written by an academic and is accordingly a bit dry in tone. But I wanted to read something about the history of Java/Yogyakarta ahead of a trip there and it did the job of giving a quick overview of the main events of the 20th century.
Empat bintang yang berkurang satu karena terjemahannya yang membuat lelah hayati. Kalimat-kalimatnya kurang efektif sehingga materi yang tidak mudah dicerna semakin membuat pusing hehe. Mengenai isi bukunya sendiri, bagus. Penulis bahkan membahas terlebih dahulu mengenai macam-macam jenis biografi dan peran biografi untuk menyusun kepingan-kepingan sejarah. Yang diambil penulis sendiri lebih ke biografi politik. Walaupun penulis juga kadang menuliskan soal sifat-sifat HB IX (juga sedikit info tentang Bu Nurma). Soal kehidupan personal hanya dibahas sedikit di masa kecil hingga muda. Itu pun lebih untuk menekankan bagaimana pendidikan barat membentuk HB IX.
HB IX, berkat didikan Belanda sejak dini, umur empat tahun udah tinggal bersama keluarga Belanda (oh ampuuun) tumbuh menjadi pribadi yang kurang mistik bahkan dibanding raja Jawa yang lain: Sukarno, dan Suharto. HB IX mengadakan pembaruan-pembaruan di wilayah kerajaannya, lalu berperan saat revolusi kemerdekaan sehingga memperluas pengaruhnya ke lingkup nasional. Berperan sama kuat baik pada masa orde lama maupun di orde baru. Namun akhirnya HB IX dilemahkan menjadi seorang wakil presiden. Kewenangannya tidak jelas, bahkan keputusan-keputusan penting pun tidak diobrolkan dengannya T_T. HB IX tahu bagaimana dan kapan dia mundur namun tetap menjaga keberlangsungan dinastinya.
Jika kekuasaannya memudar, maka kesetiaan rakyat kepadanya tak pernah pudar. Reputasinya tetap terjaga sampai ujung. Tidak seperti dua raja lainnya.
Jangan salah kaprah memahami buku ini sebagai biografi pribadi SSKS Hamengku Buwono IX. Jika sebelumnya teman-teman pernah melihat judul "Takhta Untuk Rakyat", itulah buku otobiografi yang pernah diterbitkan untuk menggambarkan sosok HB IX. Namun jangan berkecil hati, buku yang ditulis oleh sejarawan asal negeri kanguru tersebut mengambil sisi penting HB IX sebagai seorang pemimpin politik: mulai dari Sultan, Gubernur/Kepala Daerah Istimewa, Menteri, hingga Wakil Presiden.
Memang sudah banyak buku yang menyinggung peran sentral Sri Sultan pada masa revolusi kemerdekaan, khususnya bagaimana kemurahan hatinya sebagai penguasa monarki di Yogyakarta - bersamaan dengan Pakualam VIII - menjadikan Yogya sebagai ibukota Republik. Butuh pertimbangan yang matang, dan koordinasi sesama penguasa monarki untuk kemudian menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan RI. Posisi tawar ini bukannya lantas menjadikan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa mendadak "jumawa." Namun justru RI yang kemudian belakangan berhutang banyak. Sisa hartanya sejumlah 6,5 gulden untuk membebaskan Sukarno, Hatta, Syahrir, dan tokoh-tokoh lainnya dari pengasingan di Bangka.
Kemerdekaan kita mahal, dan hal ini yang kemudian ditangkap oleh tokoh yang (konon) terkenal akan firasat dan kepekaan yang kuat. Sejak awal HB IX tidak mengambil sikap kompromistis dengan Belanda. Sejak pelantikannya sebagai sultan ke-9 di Yogyakarta dan pewaris takhta dari ayahnya, HB VIII yang meninggal, Sinuhun mengambil langkah yang justru membuat Belanda mengabulkan permintaannya. Misalkan pembiayaan kegiatan kraton yang dibebankan pada pemerintahan kolonial, berhasil membuat Sultan menambah pundi-pundi kesultanan yang nantinya akan sangat banyak membantu perjuangan revolusi kemerdekaan. Bahkan untuk membiayai kehidupan istri-istri pejabat tinggi Republik yang terpaksa ditinggalkan oleh suaminya dalam pengasingan.
Posisinya di kabinet-kabinet mulai dari Presiden Sukarno hingga Suharto, memberikan imaji yang kuat karakternya sebagai pemimpin. Kendati dianggap "pendiam", namun sejumlah kebijakan strategis telah dijalankannya. Mulai dari posisi menteri negara ex-officio yang mengurus keperluan daerah istimewa, menteri pertahanan, dan bahkan Kepala BPK. Mengalami surutnya kekuatan pada era Demokrasi Terpimpin, Sultan merasa tidak lebih didengarkan. Namun tidak lama kemudian, karena Sultan menjadi bagian dari triumvirat Suharto-Adam Malik-Sultan yang menjadi inisiator orde baru. Kendati pernah menjabat sebagai orang nomor dua di Republik ini, HB IX tidak pernah merasakan pendapatnya didengar oleh Suharto, dan menjadikannya mundur sebagai Wapres dan memilih untuk membesarkan DIY.
Monfries memaparkan tulisannya secara detail dalam buku ini, meskipun perlu waktu ekstra untuk memahami benar apa konteks kalimat-kamimat yang dituangkan. Secara terjemahan yang digunakan dalam buku ini tidak terlalu baik. Sejumlah istilah yang dituangkan seperti "party" tidak selalu diartikan secara harfiah sebagai "partai", bisa jadi rombongan karena konteks yang dibahas pada masa itu Sultan bertandang ke luar negeri untuk mencari dana bantuan dari IMF dan negara-negara besar. Dan kesalahan-kesalahan gramatikal lainnya. Namun sebenarnya tidak begitu berpengaruh pada sajian khas dari buku ini yang masih mempertahankan gaya penulisan asli Monfries pada versi Bahasa Inggrisnya.
Ini ialah buku biografi seorang tokoh politik yang memiliki peran penting di Indonesia. Sejak akhir pendudukan Belanda, Jepang, hingga masa Orde Baru di Indonesia. Buku ini ditulis dengan pendekatan biografi oleh John Monfries pada 2015 dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia pada 2018.
Sri Sultan Hamengkubuwana IX, seorang sultan dari Keraton Yogyakarta. Ia lahir saat Indonesia masih dikuasai oleh Belanda. Sebagai keturunan bangsawan tentu saja memiliki hak keistimewaan. Ia sempat mengenyam pendidikan di Belanda.
Saat belajar di negeri oranye, seorang sultan yang memiliki nama kecil Dorojatun, ia menghindari membahas perpolitikan dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Seakan ada jarak antara mahsiswa bangsawan dengan mahasiswa nasionalis.
Namun, belum sempat diselesaikannya belajar di Belanda, ia diminta pulang oleh ayahnya, HB VIII. Ini disebut sebagai cara mendidik anak-anaknya dalam berbudaya ala Eropa dan akademik. Setidaknya anak-anaknya memiliki bekal untuk menegosiasikan kepentingan Kesultanan Yogyakarta dengan Belanda.
Saat menduduki tahtanya, berbagai hasil negosiasi dan kecakapan berdialognya dengan bangsa asing maupun tokoh nasionalis Indonesia menguntungkan, mulai dari pembangunan Selokan Mataram, pemindahan Ibu Kota Indonesia ke Yogyakarta, dan berbagai kebijakan lainnya. Ini dilakukan bukan hanya sekadar sebagai seorang sultan tetapi juga sebagai menteri.
Dalam bagian penutup terdapat kalimat yang menarik.
“Seorang raja jawa menggunakan kekuasaannya hanya dengan menjadi dan bukan dengan melakukannya. Ia mungkin juga terlihat seperti jenis pemimpin politik yang mendelegasikan tanggung jawab kepada para menteri yang ia ketahui kompeten dan kemudian meninggalkan mereka dengan tugas-tugas mereka.”
Sri Sultan Hamengkubuwana IX wafat pada 1988. Peliputan pers amat besar dan mewartakan menyanjungnya. Monfries menyebutkan pemberitaan itu juga sebagai kritik terhadap yang masih hidup terutama para pejabat di masa itu agar menjunjung kesopanan, kerendahan hati, dan dekat dengan rakyat. Tak menutup kemungkinan ini juga meninggalkan pengingat di hari ini dan esok.
Lumayan bagus sebenernya, apalagi penulis ngedepanin pendekatan psikologis terutama dalam Pengambilan keputusan HB IX secara politis yang jadi salah satu jawa berpengaruh. Cuma entah ada sedikit kesalahan dan mungkin jadi tanda tanya seperti kelahiran soeharto 1924 (bukannya 1921?) Dan sumber sumber sejarah yg mungkin baru saya ketahui. Isinya oke banget apalagi analisanya atas keputusan politik HB IX, cuma terjemahannya kaku dan agak sulit dicerna.