Puisi Indonesia modern telah sekian lama terpisah dari budaya lisan, dan sekaligus terpisah dan bahasa ibu. Puisi Indonesia sudah terbiasa didefinisikan sebagai puisi berbasis bahasa Indonesia, dan karena itu terasing dari bagaimana bahasa sebenarnya hidup dalam masyarakat penuturnya. Eksperimen seperti yang dilakukan Hamzah Muhammad merupakan agenda hari esok sastra Indonesia, walau belum pasti bisa menjawab soal keterasingan sastra Indonesia di tengah masyarakat yang sesungguhnya masih hidup dan ditopang budaya lisan. Membaca sebagai tindakan untuk menerima bahasa tulisan, merupakan masalah rumit yang hingga kini belum terpecahkan oleh sistem pendidikan yang kita jalankan
Mungkin banyak yang sudah dijelaskan oleh Afrizal Malna di epilog (Epilog? Di buku puisi? Oleh Afrizal Malna?), tetapi pendapat saya adalah: Seberapa Indie merupakan buku puisi yang membuka mata akan berbagai kemungkinan lain dalam berpuisi.
Bukan, bukan (hanya) karena buku puisi ternyata juga bisa setebal ini dan akhirnya sepadan dengan harganya, tetapi karena dalam Seberapa Indie, Hamzah Muhammad menyajikan puisi dalam bentuk yang mendobrak.
Dobrakan-dobrakan itu mengambil wujud sebagai paragraf panjang, yang disisipi tanda baca yang tak lari jauh-jauh dari titik dan koma, serta dalam penggunaan kata ganti orang pertama "gue" alih-alih "aku".
Paragraf-paragraf panjang itu agaknya muncul sebab Hamzah acapkali menulis berdasarkan pengalaman—seperti yang ia sarankan sendiri dalam salah satu puisinya—sehingga wujud yang lantas tampak adalah narasi.
Toh kalaupun bentuk itu—bersamaan dengan penggunaan "gue"—dinilai terlalu mengganggu hingga kumpulan puisi ini tidak layak disebut sebagai puisi, Hamzah juga rasanya tidak akan peduli, sebagaimana yang ia sampaikan dalam salah satu puisinya yang lain.
Selesai baca buku Seberapa Indie karya Hamzah Muhammad. Buku kumpulan puisi yang seru, jenaka, haru. Intinya curahan hati dan pikiran hamzah tentang sastra, budaya pop, keluarga, sahabat, sampe isu sosial. Gaya nulis puisi Hamzah di buku ini unik, blak-blakan, rusuh, mendobrak puisi pada umumnya.
Gue betah baca puisi-puisi di buku ini karena beberapa relate ke kehidupan yang hosh hosh ini. Puisi favorit gue banyak banget. Puisi “Ibarat Kankernya Agnes” dan “Puisi untuk Adrian” ini sedih. Terus gue suka “Pengennya Sinefil Malah Depresi”,” Penyair Ngumpul”, “Rawamangun Cinta Pertama Gue” dan tentunya “Kertas Bungkus Gorengan” bahas penyanyi yang lirik lagunya plagiat itu oops. Terus ada puisi “Esai Favorit Gue Seumur Hidup” lucu banget, dijamin kalo baca ini bakal terpingkal-pingkal. Oh iya ada epilog menarik dari Afrizal Malna, bahas topik dan bahasa yang dipakai Hamzah di buku ini
Buku puisi Bang Hamzah kedua yang saya baca. Cukup kaget karena format-format penulisan puisi ini tidak terbelenggu baris dan bait seperti puisi umumnya. Malah, terkesan seperti dengerin orang curhat yang ngomongin tentang temen-temennya atau pengalamannya dalam hidup.
Tapi baca puisi ini rasanya jadi deket banget sama penulisnya. Kejujuran jelas terasa di sini, dan Bang Hamzah menyampaikannya secara jelas tanpa terselubung apa-apa. Baca ini aku jadi pede dan merasa bisa menulis puisiku sendiri juga hehe, karena kalo kata Bang Hamzah, menulis itu membebaskan