Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pecah & Lupa

Rate this book
FINALIS HADIAH PUISI T. ALIAS TAIB II 2025

Setiap hari kita bangun seperti titisan air. Jatuh untuk menambah lekuk di lantai; kemudian kering dan cepat dilupakan. Tetapi setiap kali hilang, kita sentiasa menemukan sesuatu. Setiap kali pecah, kita berubah menjadi yang baru.

Hidup kadangkala bagai ritual untuk menjadi semua dan tidak menjadi apa-apa. Diri terlalu penuh dengan kekosongan dan menjadi kosong apabila terlalu penuh. Pecah & Lupa adalah ruminasi tentang kitaran batin manusia yang mencipta soalan demi soalan tentang kehidupan - tetapi menolak kesemua jawapan.

60 pages, Paperback

Published January 1, 2025

3 people want to read

About the author

Abdullah Hussaini

23 books80 followers
Abdullah Hussaini ialah seorang penulis dan penterjemah. Dia menulis novel, cerpen, sajak, esei, ulasan dan menterjemah.

Abdullah Hussaini is a published writer and translator. He writes novels, short stories, poems, essays, reviews, and translations.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (20%)
4 stars
1 (20%)
3 stars
3 (60%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Abdullah Hussaini.
Author 23 books80 followers
Read
May 20, 2025
Ketika COVID-19 dan PKP melingkari negara, saya menulis banyak puisi. Ada yang dihantar ke media dan ada yang disimpan. Sebahagian lagi ditulis pada tahun lalu. Kesemua puisi itu dikumpul, disusun dan dihantar ke sayembara puisi Hadiah Puisi T Alias 2 dan berhasil menjadi finalis.
Profile Image for Aliff Awan.
Author 6 books19 followers
May 27, 2025
Saya masih tak berapa masuk tulisan Abdullah, ia sering suram dan innalillah nak mati.

Tapi, sekurang-kurangnya ia boleh dibaca dan suka bagaimana dia seorang penulis sajak yang diskriptif jadi setiap gambaran turut terpapar di kepala bila tiap kali baca.

Yang saya tahu, Abdullah seorang pembaca tegar sebab ideanya disusun kemas kemudian diterjemahkan dalam puisi dengan sangat teratur.
Profile Image for Regina Ibrahim.
Author 22 books112 followers
June 22, 2025
Provokasi bukanlah Abdullah Hussaini

“Lidahmu akan terkulum mati dihukum tuhan puisi…”

Himpunan yang terpilih menjadi finalis Hadiah Puisi T.Alias Taib II, dengan saiz yang tepat sangatlah sedap dibaca. Dibaca bukanlah sepintas, diulangi jika perlu. Dollah punya banyak keluh kesah, pertanyaan dan pernyataan. Meraup metafora metafora mudah yang ada di sekelilingnya termasuk pengalaman perasaan peribadi dalam garapan.

Separuh dari himpunan puisi beliau dihasilkan sewaktu wabak C-19 melanda dunia, jadi bertanyalah kita apa agaknya laluan tersebut? Apakah segala doa, takzim terbina, keinsofan di suasana telah Pecah dan Lupa?
Tertanyalah kita pecah di mana? Lupa kenapa dan bagaimana?
Siapa aku di oktober lalu, tiba tiba terbangun hari ini dan tidak ingat akan segalanya.
Apakah doa pecah di langit dan jatuh ke dasar hijau hutan.

Seluruh himpunan yang membawa tanya tidak diserikan oleh tanda soal (?). Abdullah tidak lokek mendedikasi beberapa barisan kata untuk teman, datuk yang pergi dan isterinya yang tercinta, ia masih mampu dinikmati secara umum.

Berputar dari sajak pertama sehingga akhir, ia masih bergolak tentang kisaran batin manusiawi, tanpa mengira apakah kamu manusia jiwang atau puitis. Dalam gaya certot sudahlah pasti, bagai difiksyenkan suasana: mulutnya terkunci tanpa setitik suara duduk di meja kosong dalah mengumpul resah. Melalui gaya bercerita lansung juga ada: hidup kita hanya di bilik ini keluar masuk demi ucapkan rahsia-rahsia dari mulut almari.Pokoknya Abdullah telah membariskan kata kata indah menanti intepretasi pembaca (penikmat puisi)

“Setiap manusia hanya percaya pengalamannya,”
“Saya percaya kepada puisi dan buat anda yang percaya, itu sudah cukup. Wallahualam” – Abdullah Hussaini
Profile Image for Meor Izzat.
2 reviews
July 5, 2025
sajak-sajak abdullah diserikan pemerian latar alam yang vivid; (mungkin kerana abdullah giat menulis dalam dan memang bermula dari genre penulisan lain; novel & cerpen). tetapi ada beberapa sajak yang seolah berpada dengan dan habis setakat pemerian tanpa digali lebih dalam lagi punca pengalamannya.

suku awal Pecah & Lupa bermula kuat, namun bakinya semakin longgar dan jalinan dari satu judul ke judul juga sedikit kabur. seolah ia ditulis dalam fragmen-fragmen kemudian dipadan dan dicantumkan menjadi sebuah sajak.

entah kenapa, saya rasa sajak-sajak abdullah lebih enak dinikmati oleh seorang yang juga menulis sajak berbanding seorang yang hanya pembaca.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.