Katri ditembak tatkala tengah hamil anak pertama, tiga hari setelah suaminya raib menghilang. Usia kandungannya tujuh bulan saat peluru dimuntahkan dari jarak amat dekat agar hidupnya benar-benar tamat. Ajaibnya, Katri masih hidup.
Keindahan masa remajanya lenyap dalam sekejap. Kegiatan kesenian yang disenanginya ternyata ancaman bagi sekelompok orang yang ingin ia ditangkap.
Sejak saat itu, rentetan kemalangan datang susul-menyusul. Ia dibawa dari satu kamp ke kamp lain, dari satu penjara ke penjara lain. Bagi Katri, hidup tak memberikan pilihan selain bertahan.
Jadi manusia harus terampil menderita, terlebih lagi perempuan. - p. 117
Hidup Katri tidaklah mudah. Hampir 80% cerita di buku ini mengisahkan bagaimana penderitaan, keteguhan, kekuatan, dan ketabahan Katri sebagai (eks) tahanan politik di tahun 1965. Di usia yang masih sangat muda, belum 18 tahun, Katri harus mendapati luka tembak di pipinya yang menembus ke luar melewati pipi yang sebelahnya di saat tengah hamil besar. Dari sana Katri ditahan atas kesalahan yang tak pernah dia lakukan. Dari satu penjara ke penjara lainnya. Dari satu luka ke luka lainnya.
4.5⭐️
Ada 3 kali ku menangis di buku ini:
1. Ketika di penjara, Katri menuliskan di secarik kertas: Aku pasti selamat. Usiaku bakal lewat 70 tahun dan sehat...
2. Ketika Katri kembali ke rumahnya. Benar-benar kembali. Ia berkumpul kembali dengan orang tua dan anak-anaknya, serta kakaknya yang tinggal satu.
3. Ketika 40 tahun kemudian pasca hari "itu", Katri membuka kertas yang dia tulis ketika di penjara. Ia membukanya bersama anak-anaknya. ...Anakku sehat. Hidupku tak sia-sia.
Setelah membaca catatan penulis, aku kagum kepada penulisnya yang riset mendalam bahkan bertemu "Katri" yang sesungguhnya. Seorang saksi mata tentang betapa kejamnya tahun itu dan pasca peristiwa tersebut. Bagaimana eks tapol bisa melanjutkan hidupnya tanpa trauma, tanpa stigma dari masyarakat. Katri jelas bukan satu-satunya. Masih banyak Katri-Katri lainnya yang mungkin saja tidak selamat, mungkin saja hilang, atau mungkin saja bertahan seperti Katri ini.
"Kamu adalah syahdu dan aku adalah deru." - p. 148
Adalah kalimat paling romantis [tragis] yang pernah aku baca. Katri dan segala hidupnya di dalam buku ini.
Sebagai novel debut penulis, menurutku ini sudah sangat rapi dengan storyline yang jelas dan tersusun. Ceritanya tidak bertele-tele, disajikan lugas. Aku cukup menikmati membaca buku [meski agak sedikit aku baca cepat di adegan kekerasan dan penyiksaannya karena begitu jelas dideskripsikan].
Ps. Sebenarnya ku agak takut kalau baca hisfic 1965 karena biasanya tidak berakhir bahagia [maaf hati ini mungil, jadi tidak kuasa menahan akhir yang sedih]. Tapi, untuk yang satu ini ... [tidak mencoba untuk spoiler].
Pss. Kenapa ya kalau hisfic latar 1965 [mostly] ada trope cheating-nya? Hm.
Maraknya karya fiksi sastra Indonesia dengan tema besar 1965 atau 1998 belakangan ini sedikit membuat saya sedikit skeptis ketika membaca Novel Katri karya Adeste Adipriyanti ini. Saya pun membatin, glorifikasi dan sudut pandang apa lagi yang akan muncul pada cerita bertemakan 1965 ini? Syukurlah, karena kekhawatiran saya terbantahkan. Novel ini saya rasa hanya mau menceritakan kejujuran lewat kisah seorang tokoh bernama Katri.
Sebelum membaca novel ini saya sempat mendengar kabar bahwasanya novel ini terinspirasi dari kisah nyata seorang korban ketidak adilan 1965 bernama Katri. Saya tidak tahu sejauh mana cerita ini di-fiksikan. Sempat terbesit, apakah ini merupakan memoar dari Ibu Katri? Karena gambaran dari kejadian-kejadian yang dituliskan begitu detil dan mengalir.
Bagi saya, sosok Katri merupakan simbol perlawanan dan harapan yang terus ia jaga supaya tetap menyala dan tidak padam. Ia memilih untuk tidak menjadi orang yang kalah. Disaat pilihan hidupnya tidak banyak, ia tetap percaya bahwa ia bisa selamat dan berumur panjang. Berkali jatuh, berulangkali dipecundangi sistem kekuasaan yang jauh dari kata adil, ia memilih bertahan.
Saya menyukai bagaimana penulis berdedikasi menyampaikan kisah Katri dengan telaten dan tidak melebar kemana-mana. Fokus utama tetap pada sosok Katri yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Gaya bahasa yang digunakan penulis juga tidak berbelit-belit, mudah dipahami. Namun bagaimanapun, saya cukup menyayangkan beberapa bagian penggambaran kejadian-kejadian yang krusial dan erat dengan kisah tokoh utama tidak dituliskan secara detil. Tidak ada keterburu-buruan, namun bisa jadi karena ada yang dijaga supaya kisah ini tetap pada koridornya, yaitu fiksi.
Katri lahir di desa Trunuh, Klaten. Dia bungsu dari enam bersaudara. Lima kakaknya semuanya laki-laki, sehingga wajarlah Katri menjadi kesayangan keluarga. Suwasno, kakaknya yang paling tua aktif dalam organisasi kepemudaaan Pemoeda Rakjat. Dia punya mimpi besar, petani di kampungnya harus sejahtera. Karena itu dia membuka kelas baca tulis untuk tetangganya. Katri ikut membantu kakaknya. Suatu waktu Katri ditawari oleh Wasno untuk ikut Paduan Suara Lembah Merapi. Paduan suara ini dipimpin oleh seorang pemuda kaya bernama Agus, yang kelak menjadi suami Katri.
Awalnya pernikahan antara Katri dan Agus ditentang keluarga Katri. Pasalnya Agus sudah memiliki istri. Namun karena Katri telah berbadan dua, akhirnya mereka dinikahkan secara Islam mengikuti agama Agus. Kedua orang tua Katri menganut kepercayaan Kejawen, sedangkan kakak-kakaknya Katolik. Setelah menikah, Katri tidak lagi melanjutkan sekolahnya yang kala itu masih SMA. Sayangnya, sekitar lima bulan setelah menikah, di bulan Oktober 1965 kondisi di Klaten memanas. kantor partai tempat suaminya bernaung dibakar. Satu per satu kakaknya menghilang, disusul suaminya yang ikut menyingkir dijemput keluarganya. Tinggallah Karti bersama kakak keduanya Hartono yang tidak tergabung organisasi apapun bersama kedua orang tuanya. Malangnya, rumah Katri juga didatangi tentara. Katri yang sedang hamil 7 bulan, ditembak kepalanya. Beruntung dia tidak mati, peluru membus pipinya dan meremukkan rahangnya. Namun lidahnya masih utuh sehingga dia masih bisa berbicara meski dalam kesakitan.
Maka dimulailah perjalanan panjang Katri. Keluar dari RS Panti Rapih selepas perawatan lukanya dan kelahiran anaknya, Katri dijemput oleh tentara. Dia mengalami penyiksaan interogasi yang panjang, berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya. Entah mengapa Katri dinilai sebagai orang penting. Sempat di tahun 1968 dia dibebaskan, namun kemudian terciduk kembali setelah diam-diam dia menemui kakaknya, Wasno. Selain penjara, Katri juga pernah menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa. Katri pun sempat hamil karena dijadikan pelampiasan nafsu penjaga penjara di Jakarta. Selepas penahanannya yang panjang, hidup Katri sebagai eks tapol pun tidak bisa dibilang mudah. Namun Katri menjalaninya dengan setia, tanpa dendam, dan hanya berharap akan masa depan.
Di tengah pemberitaan pencatatan ulang sejarah yang akan dilakukan oleh pemerintah, novel Katri ini mengajak pembaca untuk tidak melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Katri adalah saksi hidup seorang eks tapol yang mengalami hal di luar batas kemanusiaan. Novel semi-biografi ini bisa dikatakan menjadi memoar untuk mengenang para korban pembantaian "orang-orang kiri" tahun 1965 di Klaten. Ada banyak orang yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan karena dianggap terlibat dengan PKI. Katri adalah salah satu diantaranya. Meski pada dasarnya dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh suami dan kakak-kakaknya, tapi dia menanggung semuanya karena suami dan kakak-kakaknya melarikan diri. Sungguh membaca kisah Katri akan menitikkan air mata.
Novel ini butuh waktu 11 tahun untuk dituliskan, namun kisah Katri akan hidup selamanya.
Tepat seminggu yang lalu, seorang teman dekatku di komunitas buku menyodorkan buku ini sembari berkata: "Kamu harus baca buku ini deh!" Kebetulan kami sama-sama sedang membaca buku bertemakan peristiwa 1965. Akhirnya buku ini aku pinjam tanpa tahu apa isinya. Katri. Jelas nama orang. Tidak tahu sama sekali soal ceritanya, bahkan aku tidak sempat membaca blurb di sampul belakang.
Aku baru mulai membuka buku ini sekitar tiga hari lalu. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan buku ini. Dari sinilah aku tahu bahwa buku ini mengisahkan tentang pengalaman seorang perempuan bernama Katri ketika menjadi tapol di tahun 1965. Sedari awal, aku berpikir apakah buku ini disusun dari kisah nyata? Ketika sampai di halaman-halaman terakhir, dugaanku benar. Perasaan iba, marah, dan sakit hati lagi-lagi bercampur aduk saat menyadari bahwa ini hanyalah sedikit cerita dari ribuan tapol perempuan lain yang tidak sempat diceritakan.
Buku ini membuatku terenyuh dan lagi-lagi, menyesalkan yang teramat sangat akan kekejian aparat pada siapa pun yang berbau komunis di tahun-tahun menjelang jatuhnya Orde Lama. Cerita Katri adalah bukti nyata dari betapa tanpa ampun-nya pembersihan siapa pun yang berafiliasi dengan komunis. Tidak peduli apa pun hubungannya, apa perannya, atau keterlibatannya —tangkap, lalu habisi sekalian atau jebloskan dan siksa di penjara. Katri yang bukan siapa-siapa pun harus mengalami itu. Keluarganya kocar-kacir, ia disiksa dari penjara ke penjara, sebelum akhirnya bebas dengan label mantan tapol. Apakah mantan tapol bisa diterima kembali di lingkungan masyarakat? Apakah mantan tapol bisa hidup normal seperti ketika sebelum dibawa aparat?
Membaca "Katri" rasanya jauh lebih sedih karena fakta bahwa ceritanya dibangun berdasarkan kisah nyata. Aku harap buku ini bisa lebih banyak dibaca oleh orang agar mereka tahu realita dari perempuan penyintas tragedi 1965.
Plot twistnya novel ini diangkat dari KISAH NYATA.. Kisah seorang perempuan asal Trunuh,Klaten yang menjalani hidup dari penjara ke penjara.. Ini mengingatkan aku dengan buku Tan Malaka yang berjudul “Dari Penjara ke Penjara”. Awalnya aku agak sebel sama tokoh Katri ini, yang nekat menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah beristri. Tapi disamping rasa sebel sama Katri dengan keputusannya menjatuhkan hati ke Pak Agus, Katri ini memiliki hidup yang bener-bener bikin pembaca ikut merasakan ngilu di setiap siksaan yang ia dapatkan di setiap penjara.. Cerita Katri ini mungkin satu dari sekian banyaknya perempuan yang jadi korban di tragedi 1965.. Mungkin agak aneh ya tapi ini nyata, aku nangis dan kosong banget rasanya ketika sampai di bagian Catatan Penulis (di akhir buku), yang ternyata kisah novel ini NYATA.. Gak bisa kubayangkan gimana Katri menjalani setiap detik kehidupannya tanpa dendam dan terus bertahan.. Terimakasih Katri telah bertahan dan menceritakan seluruh kisah hidup yang mungkin tidak ingin lagi rasanya diingat lagi, tapi dengan besar hatinya kamu menceritakannya ke Penulis hingga sampai ke kami para pembaca..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Indonesia, 1965. It was indeed one of the darkest history of this country. Nothing other than sorrows, fears and pains. It felt like there's no hope. No more strength to carry on.
But Katri is a proof that hope and strength are something from within. As long as we can find the way toward it, nothing can break us.
I still can't imagine though, how come a person, a human being keep being strong after what she endured. This book reminded me a lot about a book called "The Choice" by Edith Eger. About a woman who fight for her life by holding on to what she believes.
The ending of this book literally gives me chills.
Like, it all came at once into my mind. Katri's struggle, fight, all those nightmares, ended with something very sweet and basically a life she deserved..i was scared, sad, triggered, hurt but also smiled by the happiness and warmth. All came at once it gave me the chills.
Such a brilliant and inspiring story! Katri is the strongest and toughest woman I have ever known. If I were her, I would not survive. Telling a story of the most tragic story in 1965 is always such bravery. Turtore after turtore, abuse and more abuse - all the things we will not have a heart to imagine and expect. Ditetapkan sebgai penjahat tanpa peradilan, dipenjara belasan tahun atas pilihan politik yang notanebennya menjadi hak dasar manusia. Dicap sebagai PKI dan komunis hanya karena menjadi istri kedua seorang pemimpin oraganisasi PKI. Tidak punya kesempatan untuk mmbela diri dan menuntut keadilan atau pemulihan nama baik. Setelah bebas, tetap mendapat stigma negatif dari masyarakat. Berjuang sekuat tenaga untuk bisa kembali diterima dan bermanfaat bagi masyarakat. Hebatnya tak skalipun Katri menyalahkan Tuhan YME dan menaruh dendam pada tetangga dan masyarakat. Yang dia inginkan hanya hidup damai dan bahagia dengan keluarga kecilnya.
Di tempat yang buruk layaknya neraka, kita bisa menemukan surga kecil. Oasis yang bisa menabahkan hati, harapan bahwa semua pasti akan berlalu. Di tengah karut-marut kehidupan tapol milik Katri, dia berhasil menemukan surga kecil itu. Surga berupa iringan cinta tulus dari keluarganya, kasih sayang sesama rekan tapolnya, kelembutan hati penjanga lapas di Bulu, macam-macam saja. Walaupun neraka tetap saja neraka, tapi surga kecil ini bisa menjelma sebagai pelipur lara. Novel ini tak hanya berisi tangisan saja, tapi juga ada tawa, senyum hangat, dan ending bahagia.
Di balik tragedi 65, ada banyak sekali kisah-kisah yang tidak terceritakan. Ini buku pertama yang kubaca yang menceritakan mengenai sudut pandang pasca tragedi 65. Nyatanya, cerita ini berdasarkan oleh kisah nyata, yang berarti apa yang dialami oleh Katri benarlah terjadi. Segala hal yang tidak manusiawi telah dialami oleh Katri, meskipun detailnya selalu dikaburkan dalam buku sejarah. Cerita yang dihadirkan secara sederhana ini telah membuka sebuah sudut pandang baru bagiku. Karena, nyatanya, semua orang memang hanya ingin untuk tetap hidup.
Page 231 "Hari - hari kedepan mungkin tetap tidak akan mudah, tapi kalau dijalani bersama seharusnya lebih ringan."
Buku pertama yang ku baca di tahun 2026, sebelumnya sempat skeptis ceritanya akan mirip dengan "Entrok" ternyata aku salah. Meskipun sama - sama berlatar 1965 dan tokoh utamanya seorang wanita, tapi "Katri" dan "Entrok" punya kisah dan perjuangan yang berbeda, yang sama adalah bagaimana ketidakadilan dan bengisnya tentara di era 65.
Untuk aku yg memiliki hati lemah ini butuh waktu berhari2 utk menyelesaikan Katri. Di beberapa bab aku perlu berhenti lalu melanjutkannya beberapa hari kemudian. Bukan krn buku ini membosankan, tapi krn beberapa bagian terlalu sesak bahkan hanya utk dibaca saja, nggak kebayang gimana rasanya penulis waktu nulisnya. Setiap kejadian ditulis dengan rapih dan mudah dibayangkan. Very well written.
Sebagai buku debut, Adeste berhasil meracik tema yg penting dg gaya berbahasa yg menarik, sehingga pembaca seperti saya tidak bisa melepaskan buku ini sebelum tuntas. Ceritanya berdasar kisah nyata, yg membuat saya semakin merasa "wajib" membacanya. Kisah tahanan '65 yg menurut saya sangat kuat, bikin merinding sekaligus salut setinggi-tingginya pada Katri.
This book shows us the dark history of this nation. But the ending, ms. Katri helps us to calm us and forgive the oppressors. Making us not feel stressed and enraged
This entire review has been hidden because of spoilers.