Katri ditembak tatkala tengah hamil anak pertama, tiga hari setelah suaminya raib menghilang. Usia kandungannya tujuh bulan saat peluru dimuntahkan dari jarak amat dekat agar hidupnya benar-benar tamat. Ajaibnya, Katri masih hidup.
Keindahan masa remajanya lenyap dalam sekejap. Kegiatan kesenian yang disenanginya ternyata ancaman bagi sekelompok orang yang ingin ia ditangkap.
Sejak saat itu, rentetan kemalangan datang susul-menyusul. Ia dibawa dari satu kamp ke kamp lain, dari satu penjara ke penjara lain. Bagi Katri, hidup tak memberikan pilihan selain bertahan.
Entah dikategorikan sebagai fiksi atau memoar, buku ini dituliskan secara matang dan terperinci berdasarkan kisah nyata dari masa lalu getir Bu Katri sebagai penyintas tragedi 1965.
Katri hanyalah anak bungsu perempuan satu-satunya yang hidup dengan penuh cinta dan kasih sayang dari orangtua dan lima kakak laki-lakinya yang tinggal di desa Trunuh, Klaten.
Ketika jatuh cinta telah membutakan segalanya, Katri mengandung anak dari pria yang sudah memiliki istri, yakni Agus. Meskipun demikian, mereka tetap menikah dan hidup bersama walau hanya sebentar.
Saat menjalani kehamilan tujuh bulan, Agus melarikan diri karena kantor partainya dibakar. Tentara memasuki rumah Katri secara paksa dan sebagian kakak-kakak Katri pergi melarikan diri.
Katri yang berusaha untuk memberontak, tiba-tiba mendapatkan tembakan pistol mengenai pipinya. Katri terluka dan selamat dari maut pertama.
Katri dibawa ke penjara, mengalami penyiksaan, interogasi yang tak ada ujungnya. Katri dianggap oleh para tapol lain sebagai orang penting—hal itulah yang membuat penyiksaan semakin bertambah—para tapol hanya bisa berkata demikian agar bisa menyelematkan diri mereka sendiri. Katri tetap tabah hingga dia melahirkan anak pertamanya yang dinamakan Yudi. Anak itu dititipkan ke orangtua Katri untuk dijaga sampai Katri kembali.
Setelah mengalami penyiksaan yang panjang, Katri dibebaskan pada tahun 1968. Tapi, nahanya dia terciduk lagi oleh aparat karena menemui kakaknya yang selama ini menghilang. Penyiksaan yang Katri hadapi tidak seburuk yang pertama. Kali ini dia diberi kesempatan menjadi saksi pengadilan atas nasib dua orang teman kakaknya yang menjadi tentara AL. Katri selalu dipindahkan dari penjara Seskoal Jakarta Utara hingga Selatan. Di penjara itu dia menunjukkan kepiawaiannya dalam menggunakan make-up. Kemudian Katri dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa dan bertemu dengan seseorang yang bernama Hendro. Pertemuan mereka singkat, namun sangat membekas dan menghangatkan.
Ketika berpisah, di sinilah keterpurukan Katri dimulai lagi. Dia ditahan dan diperkosa oleh aparat dan mengandung bayi yang tak diinginkan. Selama di penjara, Katri mengandung dan melahirkan anak keduanya yang dia beri nama Agus, sama dengan nama suaminya yang hilang.
Katri adalah sosok wanita tangguh. Meskipun tidak melanjutkan masa SMA-nya, kehidupan telah memberikannya banyak pelajaran berharga. Ketika sebagian manusia punya banyak harapan, Katri hanya ingin selamat.
Aku pasti selamat. Usiaku bakal lewat 70 tahun dan sehat. Anakku sehat.
Ilustrasinya bagus untuk menggambarkan perjalanan hidup Katri.
Jadi manusia harus terampil menderita, terlebih lagi perempuan. - p. 117
Hidup Katri tidaklah mudah. Hampir 80% cerita di buku ini mengisahkan bagaimana penderitaan, keteguhan, kekuatan, dan ketabahan Katri sebagai (eks) tahanan politik di tahun 1965. Di usia yang masih sangat muda, belum 18 tahun, Katri harus mendapati luka tembak di pipinya yang menembus ke luar melewati pipi yang sebelahnya di saat tengah hamil besar. Dari sana Katri ditahan atas kesalahan yang tak pernah dia lakukan. Dari satu penjara ke penjara lainnya. Dari satu luka ke luka lainnya.
4.5⭐️
Ada 3 kali ku menangis di buku ini:
1. Ketika di penjara, Katri menuliskan di secarik kertas: Aku pasti selamat. Usiaku bakal lewat 70 tahun dan sehat...
2. Ketika Katri kembali ke rumahnya. Benar-benar kembali. Ia berkumpul kembali dengan orang tua dan anak-anaknya, serta kakaknya yang tinggal satu.
3. Ketika 40 tahun kemudian pasca hari "itu", Katri membuka kertas yang dia tulis ketika di penjara. Ia membukanya bersama anak-anaknya. ...Anakku sehat. Hidupku tak sia-sia.
Setelah membaca catatan penulis, aku kagum kepada penulisnya yang riset mendalam bahkan bertemu "Katri" yang sesungguhnya. Seorang saksi mata tentang betapa kejamnya tahun itu dan pasca peristiwa tersebut. Bagaimana eks tapol bisa melanjutkan hidupnya tanpa trauma, tanpa stigma dari masyarakat. Katri jelas bukan satu-satunya. Masih banyak Katri-Katri lainnya yang mungkin saja tidak selamat, mungkin saja hilang, atau mungkin saja bertahan seperti Katri ini.
"Kamu adalah syahdu dan aku adalah deru." - p. 148
Adalah kalimat paling romantis [tragis] yang pernah aku baca. Katri dan segala hidupnya di dalam buku ini.
Sebagai novel debut penulis, menurutku ini sudah sangat rapi dengan storyline yang jelas dan tersusun. Ceritanya tidak bertele-tele, disajikan lugas. Aku cukup menikmati membaca buku [meski agak sedikit aku baca cepat di adegan kekerasan dan penyiksaannya karena begitu jelas dideskripsikan].
Ps. Sebenarnya ku agak takut kalau baca hisfic 1965 karena biasanya tidak berakhir bahagia [maaf hati ini mungil, jadi tidak kuasa menahan akhir yang sedih]. Tapi, untuk yang satu ini ... [tidak mencoba untuk spoiler].
Pss. Kenapa ya kalau hisfic latar 1965 [mostly] ada trope cheating-nya? Hm.
Maraknya karya fiksi sastra Indonesia dengan tema besar 1965 atau 1998 belakangan ini sedikit membuat saya sedikit skeptis ketika membaca Novel Katri karya Adeste Adipriyanti ini. Saya pun membatin, glorifikasi dan sudut pandang apa lagi yang akan muncul pada cerita bertemakan 1965 ini? Syukurlah, karena kekhawatiran saya terbantahkan. Novel ini saya rasa hanya mau menceritakan kejujuran lewat kisah seorang tokoh bernama Katri.
Sebelum membaca novel ini saya sempat mendengar kabar bahwasanya novel ini terinspirasi dari kisah nyata seorang korban ketidak adilan 1965 bernama Katri. Saya tidak tahu sejauh mana cerita ini di-fiksikan. Sempat terbesit, apakah ini merupakan memoar dari Ibu Katri? Karena gambaran dari kejadian-kejadian yang dituliskan begitu detil dan mengalir.
Bagi saya, sosok Katri merupakan simbol perlawanan dan harapan yang terus ia jaga supaya tetap menyala dan tidak padam. Ia memilih untuk tidak menjadi orang yang kalah. Disaat pilihan hidupnya tidak banyak, ia tetap percaya bahwa ia bisa selamat dan berumur panjang. Berkali jatuh, berulangkali dipecundangi sistem kekuasaan yang jauh dari kata adil, ia memilih bertahan.
Saya menyukai bagaimana penulis berdedikasi menyampaikan kisah Katri dengan telaten dan tidak melebar kemana-mana. Fokus utama tetap pada sosok Katri yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Gaya bahasa yang digunakan penulis juga tidak berbelit-belit, mudah dipahami. Namun bagaimanapun, saya cukup menyayangkan beberapa bagian penggambaran kejadian-kejadian yang krusial dan erat dengan kisah tokoh utama tidak dituliskan secara detil. Tidak ada keterburu-buruan, namun bisa jadi karena ada yang dijaga supaya kisah ini tetap pada koridornya, yaitu fiksi.
aku baca buku ini tanpa tau ini berasal dari kisah nyata. saat mengetahuinya aku merasa sesak karena membayangkan semua itu betulan kejadian kepada bu katri.
buku ini mengisahkan tentang katri yang dipenjara saat umurnya belum 20 tahun. saat itu katri sedang mengandung. ia ditembak, peluru mengenai pipinya. ia berlari dan berlari mengira dirinya akan mati, namun dia selamat.
bahkan setelah kabur, katri justru masuk penjara. katri pun sering berpindah pindah penjara dan mendapat siksaan yang bertubi tubi. saat bagian ini dideskripsikan aku ingat aku merasakan kengerian dan harus berhenti membaca sejenak.
aku pun sebagai pembaca ikut merasa bahwa hanya harapanlah yang membuat katri tetap hidup. ketika di akhir cerita katri mencari dan melihat lagi sepucuk kalimat yang dia tulis, di situ aku terenyuh 🥹
mau cerita sedikit waktu itu aku pernah liat rekomendasi buku fiksi sejarah, tapi gak aku simpan. suatu hari aku tuh pengen banget baca buku itu, dan yang aku inget cuman judulnya itu berawalan huruf k, makanya pas nemu buku ini aku seneng banget.
karena iya!! betul!! buku inilah yang aku cari cari 🥹 berhubung aku sangat amat tertarik sama fiksi sejarah, bukan sejarah yang diajarkan di masa sekolah dulu. bukan sejarah di mana kita hanya menghafal tanggal dan tempat.
Baru di dua bab terakhir saya menyadari, mengapa juri merekomendasikan novel ini… Buku ini salah satu yang direkomendasikan juri pada karya seni prosa pilihan majalah Tempo 2025, jadi segera saya beli dan baca begitu ada waktu. Menceritakan kisah hidup Katri, seorang gadis usia 18 tahun ketika peristiwa 1965 terjadi. Novel-novel berlatar belakang peristiwa ini sudah banyak di dunia sastra kita, misalnya dari yang klasik "Ronggeng Dukuh Paruk" (Ahmad Tohari), favorit saya "Pulang" (Leila S Chudori), sampai yang relatif baru saya baca "Amba" (Laksmi Pamuntjak). Masing-masing penulis dengan keunikan gayanya masing-masing berhasil menyajikan karya yang enak dibaca dan menyentuh.
Membaca "Katri" seperti membaca isi diary milik si tokoh utama yang terentang selama hampir dua dekade. Gaya penceritaan dari sudut pandang orang ketiga, terasa cair dan ringan dibaca tanpa banyak mengerutkan kening, dengan time frame yang cenderung linier. Seperti layaknya membaca diary, beberapa peristiwa diceritakan secara cepat dan sambil lalu, kadang malah terasa seperti produk jurnalisme.
Saya tidak merasakan keterikatan emosi dengan si tokoh utama hampir sepanjang buku ini. Barulah di bab terakhir (epilog), ketika cerita fast forward ke 40 tahun ke depan, saya mulai merasakan sisi emosional dari cerita Katri. Dan membaca "catatan penulis" di bab terakhir, bagi saya, merupakan kejutan tersendiri dalam memahami mengapa novel ini ditulis dengan cara seperti itu. Bagi saya dua bab terakhir itu merupakan finale yang bagus dan menyentuh dari keseluruhan novel, dan membuat saya mengerti kenapa novel ini mendapat rekomendasi dari para juri.
“Buku ini mempertanyakan untuk siapa Katri bertahan? Akupun juga menanyakan hal yang sama.”
Membaca blurb dari buku Katri membuatku tertarik untuk menenggelamkan diri ke dalam perjalanan kisah hidup yang menyayat hati. Awalnya aku berpikir kalau keseluruhan cerita dalam buku ini adalah fiksi atau kisah yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis belaka. Namun setelah membaca catatan penulis di bagian paling belakang buku akhirnya aku mengerti bahwa ketakutan, rasa sakit, kesendirian, kehampaan dan semua penderitaan yang menguar dari buku ini adalah kisah nyata. Sebuah kisah yang benar-benar merenggut kehidupan seorang perempuan bernama Sukatri atau lebih akrab dikenal sebagai Katri. Setelah tahu mengenai fakta ini rasanya tubuhku lemas seolah membutuhkan waktu untuk mampu menuliskan ulasan buku ini. Betapa hebatnya Katri mampu bertahan dari ketidakadilan, beliau adalah korban tragedi politik tahun 1965 yang mengalami siksaan selama 11 tahun lamanya. Siapa yang peduli dengan posisinya sebagai seorang perempuan dan siapa juga yang peduli dengan kehamilannya, siapa yang peduli dengan kehormatannya? Tidak ada. Jadi bisa dibilang novel ini merupakan tipe biografi atau kisah memoar dari tokoh bernama Katri itu sendiri.
Kisah Katri memang menyayat hati, awalnya aku kesal dengan keputusannya untuk menjalin cinta bersama suami orang itu. Namun pada akhirnya hatiku mencelus tak sanggup menerima apa saja yang dilewati perempuan yang harus dipenjara dan dipisahkan dari anaknya bertahun-tahun lamanya itu. Dari awal penangkapan akupun bertanya-tanya sebenarnya salah Katri apa? Bukti apa yang membuatnya harus mengalami ketidakadilan itu? Bukankah sudah jelas suaminya pergi tanpa jejak? Lalu apakah selalu ada hubungannya dengan istri? Apakah tidak ada penyelidikan terlebih dahulu sebelum menjatuhkan hukuman maupun siksaan? Bahkan saat Katri menanyakan sesuatu yang memang jadi haknya orang-orang jahat itu justru menembak pipinya. Bisa dibilang Katri ini adalah perempuan kuat dan tangguh meskipun mengalami banyak siksaan dirinya tetap selamat. Bukan hanya siksaan fisik namun juga siksaan batin. Masing-masing penjara memberikan luka membekas tersendiri untuk Katri. Tidak cukup lebam dan rusaknya tubuh Katri, orang bejat yang seharusnya menjaga itu malah menambah luka batin Katri dengan menabur benih di rahimnya. Aku suka bagaimana penulis mendeskripsikan setiap luka dan emosional dari pengalaman Katri secara detail dan runtut. Sebagai pembaca rasanya seperti diajak masuk ke dalam situasi menyeramkan tersebut. Bagusnya, meskipun topik dan konflik yang dibawa cukup berat buku ini menggunakan alur linear yang pas dan teratur jadi sangat mudah untuk dipahami maksud spesifiknya. Membaca buku ini membawaku dalam pengalaman pemahaman masing-masing tahanan perempuan di sana seperti mimpi yang mereka miliki, ikatan perasaan, relasi hubungan cinta dan rasa kemanusiaan yang masih muncul di tengah kekejaman yang terjadi. Bisa dilihat saat Katri meninggalkan penjara untuk dipindahkan ke penjara lain, para tahanan perempuan itu mengumpulkan nasi aking untuk bekal Katri. Padahal mereka semua jelas sama-sama kekurangan bahan makan untuk dirinya sendiri. Dari kisah Katri aku mengambil banyak nasihat dan pengalaman sebagai motivasi menjadi perempuan di era sekarang yang tentunya lebih aman dari dulu (seharusnya begitu). Perempuan harus memiliki keteguhan jiwa, kemampun bertanan dalam segala situasi termasuk memiliki harapan yang tak mudah dipadamkan oleh siapapun. Kita harus punya prinsip dan berani berkata benar serta membela kebenaran meskipun banyak sisi yang menenggelamkan kesaksian kita. Sosok Katri memiliki sisi ketahanan tinggi meskipun dihantam dengan banyak siksaan dirinya tetap mampu merangkak demi masa depannya sendiri. Di tengah ketidakadilan yang diterimanya Katri masih mau belajar dan menyiapkan bekal untuknya setelah bebas nanti meskipun dirinya sendiri tak tahu kapan akan dibebaskan. Bagaimanapun juga meskipun hanya sepenggal setidaknya kisah akhir dari buku ini tetap manis dan memberikan kebebasan pada diri Katri menikmati sisa hidup di masa tuanya.
Katri lahir di desa Trunuh, Klaten. Dia bungsu dari enam bersaudara. Lima kakaknya semuanya laki-laki, sehingga wajarlah Katri menjadi kesayangan keluarga. Suwasno, kakaknya yang paling tua aktif dalam organisasi kepemudaaan Pemoeda Rakjat. Dia punya mimpi besar, petani di kampungnya harus sejahtera. Karena itu dia membuka kelas baca tulis untuk tetangganya. Katri ikut membantu kakaknya. Suatu waktu Katri ditawari oleh Wasno untuk ikut Paduan Suara Lembah Merapi. Paduan suara ini dipimpin oleh seorang pemuda kaya bernama Agus, yang kelak menjadi suami Katri.
Awalnya pernikahan antara Katri dan Agus ditentang keluarga Katri. Pasalnya Agus sudah memiliki istri. Namun karena Katri telah berbadan dua, akhirnya mereka dinikahkan secara Islam mengikuti agama Agus. Kedua orang tua Katri menganut kepercayaan Kejawen, sedangkan kakak-kakaknya Katolik. Setelah menikah, Katri tidak lagi melanjutkan sekolahnya yang kala itu masih SMA. Sayangnya, sekitar lima bulan setelah menikah, di bulan Oktober 1965 kondisi di Klaten memanas. kantor partai tempat suaminya bernaung dibakar. Satu per satu kakaknya menghilang, disusul suaminya yang ikut menyingkir dijemput keluarganya. Tinggallah Karti bersama kakak keduanya Hartono yang tidak tergabung organisasi apapun bersama kedua orang tuanya. Malangnya, rumah Katri juga didatangi tentara. Katri yang sedang hamil 7 bulan, ditembak kepalanya. Beruntung dia tidak mati, peluru membus pipinya dan meremukkan rahangnya. Namun lidahnya masih utuh sehingga dia masih bisa berbicara meski dalam kesakitan.
Maka dimulailah perjalanan panjang Katri. Keluar dari RS Panti Rapih selepas perawatan lukanya dan kelahiran anaknya, Katri dijemput oleh tentara. Dia mengalami penyiksaan interogasi yang panjang, berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya. Entah mengapa Katri dinilai sebagai orang penting. Sempat di tahun 1968 dia dibebaskan, namun kemudian terciduk kembali setelah diam-diam dia menemui kakaknya, Wasno. Selain penjara, Katri juga pernah menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa. Katri pun sempat hamil karena dijadikan pelampiasan nafsu penjaga penjara di Jakarta. Selepas penahanannya yang panjang, hidup Katri sebagai eks tapol pun tidak bisa dibilang mudah. Namun Katri menjalaninya dengan setia, tanpa dendam, dan hanya berharap akan masa depan.
Di tengah pemberitaan pencatatan ulang sejarah yang akan dilakukan oleh pemerintah, novel Katri ini mengajak pembaca untuk tidak melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Katri adalah saksi hidup seorang eks tapol yang mengalami hal di luar batas kemanusiaan. Novel semi-biografi ini bisa dikatakan menjadi memoar untuk mengenang para korban pembantaian "orang-orang kiri" tahun 1965 di Klaten. Ada banyak orang yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan karena dianggap terlibat dengan PKI. Katri adalah salah satu diantaranya. Meski pada dasarnya dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh suami dan kakak-kakaknya, tapi dia menanggung semuanya karena suami dan kakak-kakaknya melarikan diri. Sungguh membaca kisah Katri akan menitikkan air mata.
Novel ini butuh waktu 11 tahun untuk dituliskan, namun kisah Katri akan hidup selamanya.
Konflik batin Katri bukan hanya tentang penderitaan, tapi tentang bagaimana manusia tetap hidup ketika makna hidup itu sendiri runtuh.
Di awal cerita, Katri adalah perempuan yang hidupnya masih utuh—mungkin sederhana, tapi punya arah. Ia percaya pada hal-hal yang wajar: cinta, keluarga, masa depan. Lalu 1965 datang seperti palu godam yang tidak hanya menghancurkan hidupnya, tapi juga meremukkan cara ia melihat dunia. Dari situ, Katri tidak langsung menjadi kuat—ia justru jatuh dulu, dalam. Ia belajar bahwa hidup bisa berubah dari hangat jadi kejam tanpa aba-aba, dan sejak saat itu, rasa aman jadi sesuatu yang asing.
Masuk ke fase penderitaan, psikologis Katri mulai retak. Ia bukan lagi orang yang sama. Trauma membuatnya hidup setengah sadar—bertahan, tapi tidak benar-benar hidup. Ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri: tubuhnya disiksa, pikirannya dipenuhi ketakutan, dan identitasnya dilucuti perlahan. Di titik ini, Katri tidak sedang mencari makna hidup—ia hanya berusaha tidak mati hari ini. Itu saja sudah cukup berat.
Lalu hadir anaknya—dan di situlah konflik makin tajam. Anak itu bukan hanya alasan untuk bertahan, tapi juga cermin dari luka yang tidak pernah sembuh. Katri mencintai anaknya dengan cara yang nyaris menyakitkan, karena setiap napas yang ia ambil terasa seperti janji yang belum tentu bisa ia tepati. Ia ingin jadi pelindung, tapi bahkan untuk melindungi dirinya sendiri pun ia tidak mampu sepenuhnya. Cinta, yang seharusnya jadi tempat pulang, justru berubah jadi beban yang ia pikul sambil terseok.
Semakin lama, Katri tidak lagi bertanya “kenapa ini terjadi padaku”, karena ia tahu tidak akan ada jawaban. Pertanyaannya berubah jadi lebih sunyi dan lebih tajam: “aku ini masih siapa?” Di fase ini, ia mulai terbiasa dengan kehilangan—bukan karena sudah sembuh, tapi karena tidak ada pilihan lain selain menerima. Ia tidak berdamai, ia hanya belajar hidup berdampingan dengan luka. Dan itu jauh lebih sulit.
Di akhir perjalanan, Katri bukan sosok yang sembuh dalam arti utuh. Ia adalah seseorang yang tetap berdiri, tapi dengan tubuh dan jiwa yang penuh retakan. Ia tidak menemukan jawaban besar tentang hidup, tidak juga keadilan yang layak. Tapi ia tetap ada. Dan mungkin, di situlah perkembangan paling jujurnya: dari seseorang yang hidup dengan harapan, menjadi seseorang yang hidup meski tanpa jaminan apa pun.
Katri tidak menang. Ia juga tidak kalah. Ia hanya dengan segala kepahitan masih bertahan.
Tragedi yang tiada kemanusiaan di dalamnya. Semi biografi atau memoar yang diangkat dari salah satu penyintas dari targedi 1965
Tidak ada yang bisa memilih akan hidup seperti apa, selayaknya kita manusia menjalankan tanpa ada pikiran negatif. Toh, kehidupan sudah Tuhan yang atur. Sampai satu pristiwa menyesakkan mendatangi rumah Katri. Ketika dirinya tengah hamil besar bersama kedua orang tuanya.
Peluru menembus pipi hingga ke rahang bawah Katri. Teriak kesakitan dan ketakutan dengan nasib bayi dalam kandungan membuat Katri memilih berlari menyelamatkan dirinya. Dengan penanganan seadanya di sebuah rumah sakit hingga Katri melahirkan Yudi. Namun, Katri tidak bisa bernapas lega. Karena para tentara mendatangi rumahnya dan menangkap Bapak Katri beserta Katri. Katri membawa Yudi bersamanya. Menjalani kehidupan di tahanan.
keberadaan suami Katri tidak diketahui di mana rimbanya. Banyak desus mengatakan suaminya adalah salah satu pejuang dan pemberontak.. Yang begitu tega menyelamatkan dirinya sendiri tanpa membawa serta anak istrinya. __ Nangis, nyesek, nggak adil, pengen ngatain mereka semua nama binatang. Katri dan orang tuanya nggak ada hubungan dengan para pemberontak. Tapi penangkapan Katri yang dinilai sebagai orang yang dapat membahayakan pemerintah aku nilai janggal. Asal tangkap, dianggap aneh pun ditangkap, padahal boro-boro anak remaja 17 tahun bisa apa sih di tahun itu? Memang mereka bisa memperdaya orang lebih tua? Bisa mengubah sejarah? Yang ada juga negara yang membuat neraka bagi rakyatnya, menjadikan mereka tumbal politik.
Aku juga iba sama Katri. Di usia remaja udah suka sama suami orang. Udah dikasih tahu kalau statusnya menikah. Tapi namanya cinta tak bisa dibohongi. Andai dia bisa menahan dirinya untuk menahan perasaan mungkin penangkapan itu tak akan pernah terjadi, dan mungkin Yudi tak akan pernah dilahirkan.
3 tahun di penjara, lalu kembali ditangkap. Selama 8 tahun berpindah-pindah penjara. Sampai akhirnya dibebaskan. Semua yang dilalui Katri tidak pernah mudah. Imbas dari pilihan menikahi guru yang telah bersuami harus dibayar teramat mahal. Bahkan setelah kebebasannya pun sang suami tidak pernah muncul kembali.
Keadilan seakan tidak pernah singgah pada mereka yang tidak pernah berurusan dengan pemerintah.
Baca di Gramedia Digital
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tepat seminggu yang lalu, seorang teman dekatku di komunitas buku menyodorkan buku ini sembari berkata: "Kamu harus baca buku ini deh!" Kebetulan kami sama-sama sedang membaca buku bertemakan peristiwa 1965. Akhirnya buku ini aku pinjam tanpa tahu apa isinya. Katri. Jelas nama orang. Tidak tahu sama sekali soal ceritanya, bahkan aku tidak sempat membaca blurb di sampul belakang.
Aku baru mulai membuka buku ini sekitar tiga hari lalu. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan buku ini. Dari sinilah aku tahu bahwa buku ini mengisahkan tentang pengalaman seorang perempuan bernama Katri ketika menjadi tapol di tahun 1965. Sedari awal, aku berpikir apakah buku ini disusun dari kisah nyata? Ketika sampai di halaman-halaman terakhir, dugaanku benar. Perasaan iba, marah, dan sakit hati lagi-lagi bercampur aduk saat menyadari bahwa ini hanyalah sedikit cerita dari ribuan tapol perempuan lain yang tidak sempat diceritakan.
Buku ini membuatku terenyuh dan lagi-lagi, menyesalkan yang teramat sangat akan kekejian aparat pada siapa pun yang berbau komunis di tahun-tahun menjelang jatuhnya Orde Lama. Cerita Katri adalah bukti nyata dari betapa tanpa ampun-nya pembersihan siapa pun yang berafiliasi dengan komunis. Tidak peduli apa pun hubungannya, apa perannya, atau keterlibatannya —tangkap, lalu habisi sekalian atau jebloskan dan siksa di penjara. Katri yang bukan siapa-siapa pun harus mengalami itu. Keluarganya kocar-kacir, ia disiksa dari penjara ke penjara, sebelum akhirnya bebas dengan label mantan tapol. Apakah mantan tapol bisa diterima kembali di lingkungan masyarakat? Apakah mantan tapol bisa hidup normal seperti ketika sebelum dibawa aparat?
Membaca "Katri" rasanya jauh lebih sedih karena fakta bahwa ceritanya dibangun berdasarkan kisah nyata. Aku harap buku ini bisa lebih banyak dibaca oleh orang agar mereka tahu realita dari perempuan penyintas tragedi 1965.
Plot twistnya novel ini diangkat dari KISAH NYATA.. Kisah seorang perempuan asal Trunuh,Klaten yang menjalani hidup dari penjara ke penjara.. Ini mengingatkan aku dengan buku Tan Malaka yang berjudul “Dari Penjara ke Penjara”. Awalnya aku agak sebel sama tokoh Katri ini, yang nekat menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah beristri. Tapi disamping rasa sebel sama Katri dengan keputusannya menjatuhkan hati ke Pak Agus, Katri ini memiliki hidup yang bener-bener bikin pembaca ikut merasakan ngilu di setiap siksaan yang ia dapatkan di setiap penjara.. Cerita Katri ini mungkin satu dari sekian banyaknya perempuan yang jadi korban di tragedi 1965.. Mungkin agak aneh ya tapi ini nyata, aku nangis dan kosong banget rasanya ketika sampai di bagian Catatan Penulis (di akhir buku), yang ternyata kisah novel ini NYATA.. Gak bisa kubayangkan gimana Katri menjalani setiap detik kehidupannya tanpa dendam dan terus bertahan.. Terimakasih Katri telah bertahan dan menceritakan seluruh kisah hidup yang mungkin tidak ingin lagi rasanya diingat lagi, tapi dengan besar hatinya kamu menceritakannya ke Penulis hingga sampai ke kami para pembaca..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Indonesia, 1965. It was indeed one of the darkest history of this country. Nothing other than sorrows, fears and pains. It felt like there's no hope. No more strength to carry on.
But Katri is a proof that hope and strength are something from within. As long as we can find the way toward it, nothing can break us.
I still can't imagine though, how come a person, a human being keep being strong after what she endured. This book reminded me a lot about a book called "The Choice" by Edith Eger. About a woman who fight for her life by holding on to what she believes.
The ending of this book literally gives me chills.
Like, it all came at once into my mind. Katri's struggle, fight, all those nightmares, ended with something very sweet and basically a life she deserved..i was scared, sad, triggered, hurt but also smiled by the happiness and warmth. All came at once it gave me the chills.
Such a brilliant and inspiring story! Katri is the strongest and toughest woman I have ever known. If I were her, I would not survive. Telling a story of the most tragic story in 1965 is always such bravery. Turtore after turtore, abuse and more abuse - all the things we will not have a heart to imagine and expect. Ditetapkan sebgai penjahat tanpa peradilan, dipenjara belasan tahun atas pilihan politik yang notanebennya menjadi hak dasar manusia. Dicap sebagai PKI dan komunis hanya karena menjadi istri kedua seorang pemimpin oraganisasi PKI. Tidak punya kesempatan untuk mmbela diri dan menuntut keadilan atau pemulihan nama baik. Setelah bebas, tetap mendapat stigma negatif dari masyarakat. Berjuang sekuat tenaga untuk bisa kembali diterima dan bermanfaat bagi masyarakat. Hebatnya tak skalipun Katri menyalahkan Tuhan YME dan menaruh dendam pada tetangga dan masyarakat. Yang dia inginkan hanya hidup damai dan bahagia dengan keluarga kecilnya.
Katri by Adeste is a masterpiece of storytelling. It’s a dark journey, but one that is ultimately defined by hope. Adeste’s writing style is perfectly balanced between straightforward and engaging, yet deeply evocative. While I may be close to the subject matter, every time I revisit these pages, the raw emotion of the journey moves me to tears.
To me, this isn't just a book; it’s the story of the strength that allowed me to become who I am today and a testament to how the love of a previous generation can build the floor for the next. Seeing my mother’s life and my grandparents' love captured so beautifully brings me to tears every time. A must-read for anyone who believes in the power of the human spirit.
Thank you Adeste, we will be forever gratefull for your courage and passion to bring the story alive.
Di tempat yang buruk layaknya neraka, kita bisa menemukan surga kecil. Oasis yang bisa menabahkan hati, harapan bahwa semua pasti akan berlalu. Di tengah karut-marut kehidupan tapol milik Katri, dia berhasil menemukan surga kecil itu. Surga berupa iringan cinta tulus dari keluarganya, kasih sayang sesama rekan tapolnya, kelembutan hati penjanga lapas di Bulu, macam-macam saja. Walaupun neraka tetap saja neraka, tapi surga kecil ini bisa menjelma sebagai pelipur lara. Novel ini tak hanya berisi tangisan saja, tapi juga ada tawa, senyum hangat, dan ending bahagia.
Di balik tragedi 65, ada banyak sekali kisah-kisah yang tidak terceritakan. Ini buku pertama yang kubaca yang menceritakan mengenai sudut pandang pasca tragedi 65. Nyatanya, cerita ini berdasarkan oleh kisah nyata, yang berarti apa yang dialami oleh Katri benarlah terjadi. Segala hal yang tidak manusiawi telah dialami oleh Katri, meskipun detailnya selalu dikaburkan dalam buku sejarah. Cerita yang dihadirkan secara sederhana ini telah membuka sebuah sudut pandang baru bagiku. Karena, nyatanya, semua orang memang hanya ingin untuk tetap hidup.
Page 231 "Hari - hari kedepan mungkin tetap tidak akan mudah, tapi kalau dijalani bersama seharusnya lebih ringan."
Buku pertama yang ku baca di tahun 2026, sebelumnya sempat skeptis ceritanya akan mirip dengan "Entrok" ternyata aku salah. Meskipun sama - sama berlatar 1965 dan tokoh utamanya seorang wanita, tapi "Katri" dan "Entrok" punya kisah dan perjuangan yang berbeda, yang sama adalah bagaimana ketidakadilan dan bengisnya tentara di era 65.
sumpah bagus banget sedih banget ikutin perjalanan katri dari awal terus ditahan sama semua yang menimpa dia sampai akhirnya dia bisa bebas terus melakukan apapun yang dia mau dan menemui cinta sejatinya.
merinding banget pas ada kata kata manifestasi katri bahwa dia selamat, usianya lebih dari 70 tahun dan sehat, anakku sehat dan tidak sia sia.
Hisfic memang selalu ada ruang sendiri di genre yang seneng aku baca. mantabbb
Untuk aku yg memiliki hati lemah ini butuh waktu berhari2 utk menyelesaikan Katri. Di beberapa bab aku perlu berhenti lalu melanjutkannya beberapa hari kemudian. Bukan krn buku ini membosankan, tapi krn beberapa bagian terlalu sesak bahkan hanya utk dibaca saja, nggak kebayang gimana rasanya penulis waktu nulisnya. Setiap kejadian ditulis dengan rapih dan mudah dibayangkan. Very well written.
Katri adalah Buku Sastra Pilihan Tempo tahun 2025 yang berkisah tentang Katri, seorang perempuan yang hidupnya berpindah dari penjara ke penjara dengan tuduhan sebagai bagian dari PKI
Bertubi-tubi kekerasan ia alami selama mendekam di penjara, tanpa pernah melewati persidangan
Membaca kisah mengenai para korban kekerasan rezim Orde Baru bukan bermaksud untuk mengglorifikasi sudut pandang serta pengalaman korban. Namun, membacanya adalah upaya untuk merawat ingatan kolektif sebab kita menolak lupa
Menolak lupa bahwa negara ingkar janji melindungi warganya Menolak lupa bahwa kekerasan kerap kali dilakukan oleh negara
sedih banget,terutama bagian penyiksannya harus menghela napas berkali kali. sekuat itu Katri menahan pahit getirnya siksaan di penjara. salut juga sama orang tua katri yang sangat setia menjenguk dia dipenjara, mengurus anaknya. tetap berbesar hati menerima katri kembali ke rumah.
This book shows us the dark history of this nation. But the ending, ms. Katri helps us to calm us and forgive the oppressors. Making us not feel stressed and enraged
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebagai buku debut, Adeste berhasil meracik tema yg penting dg gaya berbahasa yg menarik, sehingga pembaca seperti saya tidak bisa melepaskan buku ini sebelum tuntas. Ceritanya berdasar kisah nyata, yg membuat saya semakin merasa "wajib" membacanya. Kisah tahanan '65 yg menurut saya sangat kuat, bikin merinding sekaligus salut setinggi-tingginya pada Katri.