Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seakan Bisa Dipisahkan

Rate this book
Karena aku telah membenci Ibu, aku berhenti belajar darinya. Aku berhenti mendengarkan nasihat Ibu, aku berhenti menuruti permintaannya, dan aku berhenti menghiraukannya. Aku seharusnya menyayangi Ibuku seperti Ibuku juga menyayangi ibunya. Seperti ayahku menyayangi ibunya. Seperti teman-temanku menyayangi ibunya masing-masing. Tetapi siapa yang bisa menghentikan pikiran seorang anak yang diam-diam ingin meninggalkan ibunya? Tidak peduli, sekalipun pikiran itu amatlah berdosa.

Sofia protes terhadap Ibunya yang selalu mengalah atas sikap Ayahnya yang perlahan- lahan mengoyak kenyamanan di rumah. Sofia terus saja merasa tidak nyaman, dan akhirnya kabur untuk hidup sendiri di kota lain. Selama hidup jauh dari rumah, Sofia diingatkan akan banyak hal. Perihal makna keluarga dan ikatan keluarga yang tampak tipis, tetapi sejatinya susah untuk dipisahkan.

128 pages, Paperback

Published June 18, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Ruhaeni Intan

6 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (11%)
4 stars
29 (47%)
3 stars
22 (36%)
2 stars
2 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 30 of 35 reviews
Profile Image for raafi.
972 reviews470 followers
July 31, 2025
Saya bisa bilang bahwa karya ini adalah healing fiction versi lokal in the best possible way. Menarik untuk menelusuri kelindan perasaan yang muncul dari si tokoh utama selama cerita. Ada kenaifan, kebingungan, hingga penerimaan.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books126 followers
July 3, 2026
Ada kutipan menarik dalam novel ini, ketika tokoh utamanya, Sofia, mengingat kekecewaan masa lalu yang membuat ia berjarak dengan ibunya. Dinamika hubungan keluarga ini juga yang menjadi salah satu konflik utama yang ingin disuguhkan oleh Ruhaeni Intan.

“Sewaktu aku menangis karena sudah tidak tahan lagi dengan jus wortel, ibu mendekatiku dan mengatakan kalau aku harus punya mata yang bagus supaya betah membaca buku berlama-lama. Wortel membuat mata selalu menyala ketika membaca. Ibuku bilang, dia gagal menamatkan pendidikan karena tidak sanggup membaca buku lama-lama. Dia terus-terusan menyalahkan kesehatan matanya yang buruk. Dia tidak mau mengakui kalau sebenarnya bukan matanya yang bermasalah, tetapi keputusannya menikahi Ayahku.”

Sebelum terlalu jauh membahas pengalaman traumatis yang dialami Sofia, mungkin kita perlu menilik kembali hubungan wortel dan kesehatan mata untuk melihat sejauh mana mitos tersebut bekerja, sehingga menjadi kepercayaan umum yang turun-temurun. Mitos yang sebenarnya berakar dari sejarah panjang kombinasi sains yang disalahpahami dan propaganda perang.

Wortel adalah jenis tanaman berumbi yang kaya akan beta karoten, sebuah pigmen organik yang diubah oleh tubuh menjadi Vitamin A. Sementara itu, vitamin A merupakan komponen esensial untuk membentuk rhodopsin, protein di retina mata yang membantu kita melihat dalam kondisi cahaya rendah; gelap atau redup. Faktanya, kekurangan vitamin A memang bisa menyebabkan xerophthalmia (mata kering) dan pandangan kabur di malam hari (rabun senja). Namun, mengonsumsi wortel secara berlebih tidak akan meningkatkan ketajaman visual atau membuat mata seseorang menjadi “superterang” atau bisa membaca berjam-jam tanpa lelah, sebab tubuh memiliki batas dalam menyerap beta karoten.

Selain mitos konsumsi wortel yang sering disalahpahami tadi, ada pula mitos lain yang sangat populer sejak masa Perang Dunia II. Dulunya, Inggris mengembangkan teknologi radar rahasia (Airborne Interception Radar) yang membuat pilot mereka bisa menembak jatuh pesawat Jerman dalam gelap. Untuk menyembunyikan teknologi radar ini dari musuh, pemerintah Inggris menyebarkan propaganda ke media bahwa pilot-pilot mereka memiliki penglihatan malam yang hebat karena banyak mengonsumsi wortel. Propaganda ini kemudian menjadi mitos besar dan dipercaya oleh seluruh dunia hingga hari ini.

Kiranya, begitu pun yang terjadi pada ibunya Sofia. Sang Ibu menyalahkan kondisi fisik (mata yang buruk) sebagai alasan kegagalan pendidikannya. Untungnya, Sofia menyadari bahwa itu adalah bentuk kambing hitam. Alasan sebenarnya adalah keputusan sang Ibu untuk menikah muda dengan sang Ayah—sebuah pilihan hidup yang tampaknya memotong impian dan masa depannya.

Dalam novel ini, Ruhaeni Intan menyajikan kontras yang kuat antara kepatuhan masa kecil dengan sinisme kedewasaan yang dialami karakter Sofia; yang akhirnya menyadari bahwa masalah ibunya bukanlah masalah yang serta-merta personal, melainkan masalah domestik. Terang saja, jus wortel sebanyak apa pun tak akan bisa memperbaiki masalah pelik akibat pilihan hidup atau pernikahan yang tidak bahagia.

“Aku selalu makan sup tanpa wortel. Kari ayam tanpa wortel, salad tanpa wortel, mi goreng tanpa wortel, capcay tanpa wortel. Aku tidak akan menyentuh bakwan goreng dengan irisan wortel. Tidak akan pernah ada wortel dalam piring makanku.”

Selain konflik dengan ibunya, Sofia juga dihadapkan dengan masalah-masalah lain. Dimulai dari perpindahan indekos, adiknya yang kabur dari rumah, persinggungan dengan lelaki baya, hingga perkenalannya dengan Agam. Sayangnya, beberapa sub-plot yang melibatkan tokoh-tokoh di atas tadi bisa dibilang hanya disajikan setengah matang. Beberapa konflik bahkan seakan-akan diakhiri begitu saja tanpa konklusi yang berarti. Singkatnya, novel ini terasa terlalu tipis untuk menyelesaikan semua permasalahan yang disuguhkan sejak awal.

Jika Sofia mengatakan bahwa sebagian orang berpikir hidup dan mati adalah dua hal yang seakan bisa dipisahkan (yang mana keliru), saya pun berpikir bahwa cerita dalam novel seharusnya begitu; awal dan akhir seyogianya tidak bisa dipisahkan.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
249 reviews44 followers
August 12, 2026
Surprisingly, aku suka! Membaca sinopsis novel ini kukira semacam novel pop slash menye-menye. Ternyata aku salah. Konfliknya memang tentang keluarga, cekcok antara Sofia, perempuan pertengahan 20-an, dengan orangtuanya. Namun, bukan rekonsiliasi antara Sofia dan orang tua, terutama, ibunya yang menjadi inti cerita, melainkan sesuatu yang lain yang ditemui Sofia dalam pengalaman-pengalaman kesehariannya.

Novel ini mengingatkanku pada serial dan film Sex and the City yang selalu memunculkan karakter pendukung, pemain pinggiran, untuk mengubah sudut pandang si karakter utama. Novel ini kurasa juga demikian. Aku suka bagaimana Ruhaeni Intan membawa pembaca memasuki pemikiran-pemikiran sang tokoh dengan mengalir.

Dulu aku sekip baca Arapaima, tapi kini aku meliriknya kembali setelah baca ini.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
324 reviews7 followers
June 28, 2025
Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan merupakan novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama Sofia yang tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis, ayahnya selingkuh, cuek dan sibuk dengan urusannya sendiri, ibunya yang memilih untuk tetap mempertahankan bahtera rumah tangga berubah menjadi ibu yang dingin dan gemar marah-marah. Sejak saat itu, Sofia memilih membenci ibunya, menjaga jarak dengan hal-hal yang berhubungan dengan ibunya. Namun takdir berkata lain, suatu hari adiknya kabur dari rumah. Membuat Sofia mau tidak mau harus berhubungan lagi dengan ibunya. Hubungan mereka tidak membaik, tetapi ikatan mereka tidak pernah dapat dipisahkan.

Buku ini tipis saja dan bisa dihabiskan sekali duduk, tapi percayalah pemaknaanya akan tertinggal lama dibenak kita. Cerita-cerita tentang keluarga memang selalu rumit. Banyak alasan untuk membenci sekaligus mencintai dalam waktu yang bersamaan. Ikatan itu bisa saja tipis dan samar, namun tidak akan pernah hilang.
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
72 reviews19 followers
April 11, 2026
Dalam buku Seakan Bisa Dipisahkan, Ruhaeni Intan mengisahkan relasi ibu-anak perempuan yang (ternyata) kompleks dengan tajam. Satu isu yang masih kurang banyak dibahas di Indonesia, dalam romantisasi peran ibu dan anak. Termasuk soal narasi "surga di bawah kaki ibu." Dengan berani, melalui cerita dalam buku ini, Ruhaeni Intan menggugat bahwa dalam relasi orang tua dan anak, kekuasaan orang tua kepada anaknya sangatlah besar. Salah satu jenis ketimpangan kuasa yang masih pelik untuk dibicarakan. Tidak hanya ibu, relasi anak dan ayah juga menjadi sosok yang diangkat Ruhaeni Intan dalam buku ini.

Khusus terkait relasi antara ibu dan anak perempuan dalam buku ini, ternyata sanggup memantik saya bertanya-tanya, dalam ke-kurang-relate-an saya terkait relasi kompleks ibu-anak perempuan itu, sebenarnya apa yang menyebabkan relasi ibu-anak perempuan kadangkala bisa menjadi sekompleks itu? Mengapa para ibu bisa bersikap seperti itu kepada anak perempuannya? Apakah itu karena sebagian ibu menjadikan anak perempuannya sebagai tempat pelampiasan emosi atas pernikahan yang tidak bahagia atau relasi yang buruk dengan suaminya?


Ibu mengungkit semua usahanya demi memberiku hidup yang mulia. Menderet semua pengorbanannya, semua yang dia lakukan demi mempertahankan bahtera rumah tangga. Ibu terisak di seberang telepon. Aku tahu jiwanya terguncang, tetapi bagaimana denganku? Bagaimana dengan amarah yang kini telah sampai di pangkal leherku? Aku terus berkata... tidak, ini bukan salah ibu. Tetapi siapa? Siapa yang bertanggung jawab atas keluarga kami yang tidak bahagia?

(Seakan Bisa Dipisahkan, Halaman 63)

Aku tahu ibu menyayangiku, tetapi kehadirannya dapat segera berubah menjadi monster bengis yang sanggup mencacah-cacah diriku hingga menjadi seratus keping. Terkadang aku berpikir bagaimana seandainya kami hanya menjalani hidup ini berdua saja?

(Seakan Bisa Dipisahkan, Halaman 102)




Buku ini bercerita tentang ritme hidup sehari-hari keluarga yang sudah rusak tapi masih terus dipertahankan dari sudut pandang seorang anak yang sudah dewasa dan melarikan diri, tanpa ada klimaks cerita antara tokoh ibu dan anak. Kisah-kisah mematahkan hati antara ibu dan anak itu hanya dituturkan sekilas melalui penuturan ulang ingatan tokoh utama.

Meski begitu, Ruhaeni Intan sanggup mengajak para pembacanya untuk bertemu dengan berbagai kebingungan hidup dampak relasi kacau keluarga dalam bentuk pertanyaan protes dan refleksi kritis. Seperti refleksi soal rumah.

Vibes buku ini terasa sedikit sendu. Pembaca diajak ikut dalam perjalanan tokoh utama berdamai atau melarikan diri dari problematika keluarganya. Apalagi dituturkan dalam sudut pandang orang pertama (aku). Membaca buku ini rasanya seperti mencoba diam mendengarkan keluh-kesah Sofia. Perjalanan itu tidak mudah. Tapi, kebebasan yang didamba dan didapatkan Sofia, tokoh utama cerita buku ini, jauh di luar "rumah asal" (yang tidak lagi bisa menjadi rumah tempatnya berpulang dengan aman dan nyaman) itu, terasa sangat melegakan.

Jika boleh jujur, perspektif buku ini soal kematian seorang diri yang tragis membuat saya tidak nyaman. Apalagi, dikorelasikan dengan kemiskinan. Namun, saya bisa memahami jika perspektif itu dilihat dari sudut pandang seorang perempuan yang tumbuh "sendirian" dalam keluarga dengan relasi yang tidak harmonis. Kematian sendirian, tanpa dampingan keluarga, mungkin tampak menakutkan dan menyedihkan (meskipun saya memiliki perspektif lain soal ini).


Mungkin benar kata orang, melayatlah ke pemakaman orang miskin dan kamu akan berduka dua kali: pertama atas kematiannya dan yang kedua atas kepapaannya.

(Seakan Bisa Dipisahkan, Halaman 74)


Kembali kepada judulnya, "Seakan Bisa Dipisahkan" tergambarkan mulai dari prolog buku ini yang sanggup membuat pembaca tertegun. Bahwa bagaimanapun, pengalaman sebagai anak dalam keluarga dengan relasi orang tua, sekompleks apapun, akan terus melekat bagi seorang anak sampai usia tua. Nyatanya tidak bisa dipisahkan.


Aku kira, sampai tua, sampai mati, sampai kapanpun, anak-anak akan selalu mengenang ayah dan ibunya. Mereka mengingat sepatu hak tinggi ibunya yang kebesaran di telapak kakinya, daster ibunya yang halus dan beraroma bawang, juga rambut ayahnya yang berminyak, mereka mengingat betapa halus dan bersih sapu tangan milik ayahnya yang selalu dikantongi. Anak-anak yang baik dan yang nakal, mereka mengabadikan setiap jengkal kenangan tentang ayah dan ibunya, mematrinya dalam ingatan, betapapun ingatan itu tumpah tindih dengan kesedihan yang membangunkan keinginan untuk pergi jauh meninggalkan rumah mereka.

(Seakan Bisa Dipisahkan, Halaman 2)


Selepas dari ritme ceritanya, saya tetap berkaca-kaca membaca cerita akhir penutup buku ini soal pastel tanpa wortel. Manis.
Profile Image for aynsrtn.
639 reviews27 followers
September 4, 2025
Mungkin sebaiknya aku menyerah. Mungkin pada satu titik, Tuhan tidak lagi menyelamatkan sebuah keluarga dengan cara menyatukannya, tetapi dengan membiarkan mereka tenggelam. Sebab, hanya dengan cara itu, mereka akan terapung lagi ke permukaan, kemudian diangkat menuju langit tanpa bintang. (p.95)

Buku tipis sarat makna. Bercerita tentang Sofia yang dikepung oleh disfungsional keluarga dan memilih untuk meninggalkan rumah. Sebab, baginya rumah itu bukanlah rumah untuk pulang. Ia merantau jauh demi kedamaian hati. Terbebas dari ibunya yang bekerja keras dan seakan mewariskan trauma kepadanya. Terbebas dari ayahnya yang selalu menghilang ketika dibutuhkan. Tetapi, meninggalkan adiknya yang bisa saja sama terjebaknya seperti ia dulu. Pergulatan batin Sofia dikemas dengan apik dalam 128 halaman.

Refleksi anak perempuan pertama. Tinggal jauh dari orang tua. Memiliki tetangga seorang Pak Tua yang hidup sendiri. Kemana anak dan istrinya? Yang berakhir mati sendiri. Bertemu dengan seseorang yang menyukainya, tapi ia bergerak mundur sebab terlalu takut akan cinta. Terakhir ia melihat cinta adalah ketika ibunya tetap bertahan meski ayahnya tukang selingkuh. Sofia mungkin hanyalah karakter rekaan, tapi anehnya sangat begitu dekat dan nyata.

Siapa yang nangis saat Sofia makan risol tanpa wortel dari ibunya? Ya, saya.
Profile Image for Jihan Aulia Zahra.
81 reviews2 followers
August 13, 2026
Aku sangat amat rapuh sama tulisan-tulisan mengenai hubungan ibu dan anak perempuan (terutama tertua). Jadi pas di awal (prolog) ada tulisan mengenai betapa rumitnya hubungan itu, aku langsung tari napas panjang.

Sofia, di kehidupan lain, kamu adalah anak perempuan merdeka yang gak perlu tersiksa dengan hubungan dengan ibumu. Aku menaruh banyak sekali kemiripan dengan Sofia sebagai anak perempuan pertama. Segala macam mitos yang diceritakan waktu kecil supaya gak nakal, sampai ketika dewasa cuman bisa melihat semua itu sebagai omong kosong.

Karakter-karakter di buku ini cukup hidup, dan manusiawi. Itu yang aku suka. Tapiii, aku merasa ceritanya buru-buru dan belum selesai. Pemindahan latar tempatnya juga bikin kaget kayak "kok cepet banget udah di sini aja". Masih ada beberapa plot hole yang sebetulnya bisa digali lagi.
Profile Image for Lesh✨.
349 reviews9 followers
May 2, 2026
Sebuah novella yang menceritakan tentang kehidupan Sofia yang tumbuh dalam keluarga disfungsional. Ayahnya cuek, tukang selingkuh, jarang di rumah, dan sibuk dengan dunianya sendiri. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang berusaha mempertahankan rumah tangga agar tetap terlihat utuh. Ibunya sering marah-marah dan mudah mengekang anak gadisnya.

Sofia yang saat itu tidak tinggal di rumah, tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa adiknya kabur. Berusalah ia mencari sang adik meskipun ia sangat membenci rumahnya. Novia, adiknya merasa ibunya terlalu banyak menuntut.

Selain membahas dinamika keluarga, ada juga sosok lain yakni Pak Kaslan yang punya kisah sedih saat tiada dan meninggalkan surat untuk diberikan ke anaknya.
Profile Image for Mira.
57 reviews1 follower
November 4, 2025
Walaupun super singkat, Seakan Bisa Dipisahkan (menurutku) bukan cuma cerita tentang hubungan ibu dan anak, tapi juga tentang luka yang diwariskan.. Generational trauma yang semakin menumpuk di antara diam, marah, dan gengsi.

Sofia tumbuh di rumah yang nggak pernah benar benar hangat. Ayahnya selingkuh, ibunya jadi dingin dan pemarah. Dari situ, Dia belajar satu hal kalo cinta itu bisa nyakitin 🥲. Dia tumbuh dengan jarak, terutama sama ibunya sendiri.. Orang yang harusnya jadi tempat pulang, tapi malah jadi sumber luka. Dan yang paling nyesek, kita bisa liat gimana siklus itu terus berputar, luka yang nggak disembuhkan bisa menular dan berlarut larut tumbuh bersama si tokoh.

Menurutku semua konflik di buku ini rasanya kayak fragmen kecil dari kehidupan banyak orang (mungkin bakal ngerasa banyak yang relate) terutama buat pembaca yang pernah ngerasa “nggak nyambung” sama orang tua, tapi juga tau di dalamnya tetap ada ikatan yang nggak bisa benar-benar hilang.

Part yang aku suka dari novel ini justru karena dia nggak ngasih penyelesaian konkret, bahkan sama sekali gak ada solusi.. Rasanya tujuannya cuma ngajak pembacanya untuk pelan pelan ngelihat hal kalo "kadang berdamai bukan berarti semua jadi baik-baik aja, tapi belajar menerima bahwa cinta dan luka bisa hidup berdampingan". Memperlihatkan sisi lain kalau ikatan darah bisa retak, tapi nggak bisa bener bener putus
Profile Image for Rahmansyah.
190 reviews16 followers
May 14, 2026
Ratingku kurasa cukup berbicara lantang.
Buku ini promising banget sebenarnya untuk jadi character study yang baik. Tapi ditulis terlalu singkat dengan pengembangan cerita dan karakter yang…. lempeng banget. I mean, dengan orang yang juga punya permasalahan yang sama dengan Sofia, buku ini cukup sederhana dan cukup BIASA saja. Tak cukup membuatku relate.
Mungkin aku saja yang berharap lebih.
345 reviews1 follower
June 7, 2026
Ini kisah tentang dampak keluarga toxic terhadap anak perempuan pertama.

Mungkin inilah alasan kenapa cover buku (Indonesia edition) It Didn't Start With You isinya gambar Nenek-Ibu-Anak perempuan duduk bareng, karena banyak generational trauma tuh dialami/disebabkan/diwariskan dari wanita ke wanita, ga sih?
Karena wanita tuh selalu ada di pihak korban opresi pria, jadi ketika—katakan generasi 1—Si Nenek hidup di keluarga patriarki, dia tunduk kepada suami dan anak laki-lakinya (atau bahkan menantu pria juga). Nah, tekanan untuk tunduk ini kemudian dilampiaskan ke anak perempuannya. Lalu siklusnya gitu terus, anak perempuan dapet ajaran/contoh di mana ibunya (si Nenek gen 1) mendewakan kaum pria, lalu pas giliran anak ini udah jadi ibu, ya, diperlakukanlah anak perempuannya sebagaimana dulu dia diperlakukan ibunya.

Sofia punya hubungan love-hate dengan ibunya yang toxic. Kalimat yang diucapkan Ibu ke Sofia beracun banget, ya ampun. Mungkin itu awalnya karena Ibu ini menahan pedih/sakit hati diselingkuhin suaminya (Ayah Sofia kerja jadi staf TU di sekolahnya Sofia), terus abis gitu si suami nganggur dan ongkang-ongkang kaki di saat istrinya banting setir jadi tulang punggung keluarga dengan jualan pastel. Sofia pernah minta ibunya cerai, tapi yang ada malah kena semprot.
Alhasil, Sofia sejak lulus sekolah langsung cari cara buat kabur dari rumah yang buat dia bagaikan telur busuk di mana kebusukannya meracuni orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sampai kemudian Sofia resign dan pindah kontrakan . Di sana ia bertemu dan bersahabat dengan Lelaki Lansia penghuni kontrakan yang sama-sama tinggal sendiri.
Hidup Sofia berubah ketika ibunya mengabarkan kalau Novia, adiknya, kabur. Sofia melacak jejak adiknya lewat sosmed dan berhasil menghubungi sahabat Novia yang ngasihtau Novia nyusulin Sofia ke Jakarta. Setelah kedua saudari ini kumpul, Novia cerita kalo dia ga betah tinggal di rumah dengan orang tua yang toxic itu. Sofia nyuruh adiknya untuk bersabar karena satu-satunya cara Novia bisa ninggalin rumah adalah kalo udah tamat SMA.
Sofia nganterin Novia pulang dan terpaksa ketemu sama Ibunya yang makin tua makin beracun aja mulutnya. Ga betah, Sofia langsung cabut dan sekembalinya di kontrakan dia nemuin jasad Lelaki Lansia yang sudah membusuk akibat tidak ada warga setempat yang sadar kalo Lelaki Lansia ini meninggal.
Sambil dibantu pacarnya yang juga rekan sekerja di tempat penampungan kucing, Sofia ngeberesin barang-barang si Lelaki Lansia dan nemuin surat wasiat si Lelaki Lansia yang ditujukan ke anaknya namun tidak ada nama + alamat. Dan bahkan uang yang ditabung si Lelaki lansia bekal warisan pun kena rayap karena disembunyiin si lelaki lansia di bawah sofa.
Duh nyesek banget pokoknya.
Profile Image for Ryryeo.
44 reviews
July 11, 2026
Hubungan antara orangtua dan anak, khususnya ibu dan anak perempuannya pasti memiliki kerumitan masing-masing bukan?

Semakin kita tumbuh kita pasti memiliki pikiran dan jalan yang ingin kita lalui sendiri bukan? Dan kadang itu berseberangan dengan keinginan Ibu.

Dalam novel ini membahas kerumitan hubungan antara Sofia dan ibunya. Begitu pelik dan menyakitkan hubungan keduanya, meskipun mereka tetap memiliki kenangan bagian manis saat Sofia dalam masa kanak-kanak.

💜💜💜

▪️ Hubungan Sofia dan ibunya.

Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya hubungan ibu dan anak ini sangat pelik. Di mana Sofia merasa tersakiti oleh sifat ibunya kepadanya, yang memaksanya memakan wortel hingga ia muntah, yang mengurungnya ke kamar mandi, yang selalu marah dan mengatainya dan banyak lagi.

Dan Ibu Sofia yang merasa terabaikan, ditinggalkan oleh Sofia, merasa anaknya tidak lagi peduli padanya. Tidak ada seorang peduli padanya sekalipun ia sudah berjuang.

Ibu Sofia sendiri adalah korban dari laki-laki, suaminya, yang tukang selingkuh yang kemudian menjadi benalu di rumahnya. Singkat cerita Ibu Sofia tidak bahagia dalam rumah tangganya, tetapi enggan bercerai. Kondisi rumah tangganya sangat berdampak sekali dengan sifat Ibu Sofia.

▪️ Sofia dan Novia, adiknya, menjadi korban ketidakharmonisan orangtuanya.

Sofia yang memergoki chat mesra ayahnya dengan selingkuhan sewaktu ia masih SMP. Ia menyaksikan orangtuanya kerap bersitegang. Ia melihat ayahnya hanya ongkang-ongkang kaki kalau di rumah, dan lebih sering pergi entah kemana.

Sofia mengambarkan suasana rumahnya seperti telur busuk yang baunya makin lama makin busuk.

Sofia pergi dari rumah setelah lulus SMA.

💜💜💜

▪️Karakter:

Karakter Sofia ini terasa hidup. Tetapi untuk karakter lainnya tidak begitu terasa, mungkin karena cuman 128 halaman jadi tidak terlalu diceritakan.

▪️ Feel ceritanya:

Sangat-sangat terasa! Kita bisa begitu merasakan frustasinya Sofia akan rumahnya juga kesendirian dirinya di kos.

Penggambaran suasana di rumahnya Sofia betul-betul wah. Khususnya perumpamaan yang digunakan. Telur busuk.

▪️ Alur:

Alurnya terasa begitu cepat. Ada pula bagian Sofia mengambarkan masa kecilnya, tetapi itu terasa singkat.

▪️ Bahasa:

Bahasanya sangat-sangat ringan dan mudah diikuti.

▪️ Ending ceritanya:

Akhir ceritanya begitu menggantung. Menurutku masih banyak yang perlu dibahas, tetapi keburu ceritanya berakhir.

💜💜💜

Buat yang butuh cerita fiksi ringan boleh sekali baca novel ini🫶
Profile Image for gq .
152 reviews
February 18, 2026
aku belajar banyak hal dari ibu. sayangnya, aku tetap membenci ibuku.

selesai dan suka banget. suka dengan topik yang diangkat, keluarga yang jauh dari kata sempurna, tapi saling memendam kasih sayang; ibu dan anak yang tercekik patriarki. yang paling aku suka lagi, buku ini gak punya solusi. gak ada perubahan karakter secara tiba tiba dan drastis hanya untuk akhir yang bahagia. tapi at the same time, endingnya sudah cukup membahagiakan.

aku bingung mau review gimana... tapi intinya suka banget sama penggambaran dinamika hubungan antara ibu-anak, kakak-adek disini. hubungan anak dan orang tua, terutama ibu, memang serumit itu. kadang kesel, benci, tapi lebih banyak sayangnya, lebih banyak harapannya. hubungan kakak dan adik; berusaha biar adik gak ngalamin hal2 seberat kakaknya, memberanikan diri speak up di depan orang tua demi adiknya... hiks aku sedih :"( gak menyangka buku setipis ini punya makna yang sangat mendalam. rasanya kayak cuman baca bentar tapi feel setelahnya lama membekas. jadi keulang hal2 apa saja yang selama ini udah aku lewatin, membantu aku refleksi diri ke hubunganku terutama dengan ibuku sendiri.

sebenernya minus dari buku ini tuh; kurang di eksplorasi antara hubungan tokoh utama dan tokoh pendukung lain, kayak sama Karin, Agam, Pak Tua. mungkin karena emg fokusnya pengen ke hubungan ibu dan keluarga, jadi hubungan lain gak diceritain lebih lanjut. cuman sayang aja, karena sebenernya tokoh pendamping disini juga kan membantu Sofia belajar untuk lebih menerima kehidupan.
Profile Image for Ardhias Nauvaly.
71 reviews4 followers
July 1, 2025
(Nggak bintang 3 juga, 3 sekian lah, kali. Nyaris 4, gitu, deh)

Tidak buruk, tidak pula berkesan yang gimana-gimana. Sekali duduk, terang mau ngomong apa (sepakat dengan Intan, penulisnya, kalo ini tuh "surat cinta anak kepada ibunya yang, sayangnya, tidak melulu manis isinya), dan flawless aja gitu tulisannya. Nggak banyak (bahkan mungkin nggak ada) solilokui-solilokui Aku-Narator yang "cringe".

Keluhanku sama sekali bukan keburukan: kurang panjang.

Ini tipe naskah yang, rasa-rasanya, bisa dipanjangin deh, untuk ngasih ruang eksplorasi hubungan antar karakter. Sofia dengan Novia adiknya, dengan Agam gebetannya, dengan Karin (eh Karin kan ya?) temannya, dengan Pak Kaslan si tua sebatangkara tetangga kosannya, dengan semuanya deh pokoknya. Kecuali, tentu, hubungannya dengan Ibu. Soal ini, kurasa Intan bukan penulis tukang tipu yang bikin cerita, mondar-mandir kesana kemari, malah lupa sama inti problem protagonisnya. Well-executed kok kompleksitas love-hate relationship ibu-anak (perempuan) ini. Endingnya? Hmm... manis dan nggak ngoyo ngasih hikmah. Cakeup.

Kalo ada satu hal yang outstanding, ya covernya itulho. Aduh, cantik banget.
Profile Image for Mizuoto.
161 reviews2 followers
August 13, 2025
⭐3.8/5

Aku belajar banyak hal dari ibu. Sayangnya, aku tetap membenci ibuku. (Hal. 1)

“Seakan Bisa Dipisahkan” (SBD), sebuah novel yang menyusuri rumitnya hubungan sebuah keluarga, tidak sekadar mengulik ikatan antarmanusia di dalamnya, melainkan juga bagaimana seseorang yang memiliki luka masa lalu memengaruhi pilihan-pilihannya di masa depan.

Saya tidak akan membahas cerita pahit keluarga Sofia, penyebab kemarahan dan luka, maupun ‘toxic parenting’ di dalamnya, melainkan mari kita ambil pembelajaran dalam novel ini.

Melalui buku ini, Ruhaeni ingin menggarisbawahi betapa sulitnya kita melepaskan diri dari keluarga. Ikatan yang terjalin atas nama sedarah ini tidak bisa hilang, tidak peduli seberapa besar rasanya ingin lari atau menjauh dari keluarga.

Selain itu, Ruhaeni juga menekankan pentingnya relasi orangtua dan anak yang tidak sebatas masing-masing menjalani peran sebagai orang tua maupun sebaliknya. Ada hal yang lebih penting, yakni membangun kedekatan dengan anak. Mendengarkan bukan mendengar atau didengar.

Lebih jauh, resensi lengkap bisa dibaca di sini.
Profile Image for kalvid.
27 reviews
September 17, 2025
Buku ini bercerita tentang hubungan ibu dan anak perempuan yang rumit. Buku ini hendak menunjukkan betapa besarnya “lubang hitam” (meminjam istilah di buku ini) pada anak yang pernikahan orangtuanya tidak bahagia. Namun, saya seperti sekadar diberitahu oleh Intan, “Sofia begini gara-gara ibunya, lho,” alih-alih ditunjukkan apa yang sebenarnya dulu terjadi di keluarga Sofia. Masalah antara Sofia dan ibunya tidak cukup dijelaskan, sehingga saya kurang memahami mengapa Sofia bereaksi sedemikan dramatisnya (berhalusinasi, berkunang-kunang, mual) saat seorang temannya menyeletuk,
“pandai membuat kue seperti ibunya! (h.99)”...
Reaksi dramatis Sofia menjadi tidak masuk akal bagi saya, karena saya hanya diberitahu bahwa ada “lubang hitam” tapi tidak tidak sempat benar-benar masuk ke dalam “lubang hitam” itu. Ilham yang didapatkan Sofia pada akhir cerita (yang seharusnya adalah resolusi) pun menjadi tidak mengena, karena dari awal tak jelas apa masalahnya. Saya perlu dua kali membaca buku ini (from cover-to-cover) untuk memastikan apakah saya yang tidak paham atau memang tidak begitu jelas itu diceritakan. Tidak buruk, tapi tidak juga mengesankan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,695 reviews115 followers
August 1, 2025
62 - 2025

Aku suka dengan cerita dalam buku ini. Realita seorang perantau yang lebih banyak dikulik dari sisi latar belakang keluarganya.

Sofia punya ibu yang keras, tumbuh besar dengan terbiasa mendengar kata-kata buruk dari ibunya, ayah yang tidak pernah hadir sebagai seorang kepala keluarga, yang seharusnya menjadi sosok terbaik dari kedua putrinya.

Sofia terlihat tangguh, tapi rapuh, merasa selalu sendirian, ketakutan dan takut dengan memulai hubungan.

Gambaran keluarga yang jauh dari sempurna, toksik, tapi tetaplah keluarga. Dari sudut pandang seorang ibu, yang dilakukan ibunya Sofia menggambarkan perempuan kebanyakan di daerah rural, ada patriarki dan stigma yang tersirat.

Novela yang menarik dan pengen ngasih semangat untuk para perempuan seperti Sofia di luar sana.
Profile Image for Dekisugi.
44 reviews1 follower
September 14, 2025
Menjadi Novel pertama dari Ruhaeni Intan yg saya baca, Seakan bisa dipisahkan merupakan Novel Ringan dengan pembahasan yang yg berat. Pertama interst ke novel ini karena pembahasanya tentang keluarga. Berat kan? Premis di novel ini sudah menarik dimana Sofia harus kembali kerumah karena adeknya yg hilang membuat dia harus terkoneksi kembali dengan ibunya. mempunyai ibu yg tetap bertahan dengan lelaki yg dia sebut sebagai ayah. perjalanan Sofia dalam memaknain semuanya sudah menarik di mataku, aku berharap jawaban pada akhir ini akan tetapi jawaban itu tidak ada. Aku mungkin sedikit kecewa tapi novel ini tetap menarik untuk dibaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
4 reviews
August 3, 2025
Buku ini sangat mudah dibaca. Isinya begitu relate demgan kehidupan saya sebagai seorang yang mulai tumbuh menjadi orang dewasa. Kalimat favoritku adalah, "Rutinitas membantu menavigasi hidup yang tak tentu." Bagi beberapa orang, termasuk aku, punya tujuan terkadang melelahkan. Melakukan apa yang aku bisa lakukan justru lebih mudah untuk dijalani daripada memiliki ambisi yang tak tahu untuk apa.

Yang kurang dari buku adalah bukunya terlalu tipis dan apa yang diceritakan terasa begitu singkat. Aku rasa penulis bisa menambahkannya lagi dan membuat semua rasa emosi lebih bisa dikeluarkan.
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
March 19, 2026
Ini kisah Sofia yang membenci ibu karena satu dua hal. Sofia menjalani hidup sehari-sehari jauh dari ibu dan keluarganya. Bagaimana ia memaknai hidupnya terekam dalam 120an halaman novel tipis ini.

Mungkin aku mengharapakan hal yang lebih dramatis terjadi di novel ini, namun aku tidak menemukannya. Meskipun begitu, deskripsi dan hal-hal sederhana yang Sofia lakukan membuatku bisa lebih bersimpati dan merasa lebih dekat dengan karakter tersebut.
Profile Image for C.
199 reviews1 follower
August 16, 2025
If you have dysfunctional family, I suggest you to not read this book. Although there is a heartwarming part of this book where the child reminisces her good old days with the mom, it’s a book where a child who goes through a wonder of “Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah”. This is like that upcoming movie on cinema in a book.
Profile Image for Nestya Nanda.
32 reviews
May 31, 2026
Aku suka tulisannya, mengalir dan lugas. Penulis menjelaskan semua tanpa berbelit-belit, memudahkan pembaca untuk bisa paham pokok masalah yang dihadapi pemeran utama. Kisah hubungan anak perempuan dan ibunya yang terlihat retak bak kaca pecah.
Profile Image for Maria Linda.
37 reviews10 followers
January 16, 2026
tiap baca karya intan, aku selalu senang melihat perkembangannya. ceritanya penting buat dibagikan. cukup ringan dan gak bertele-tele.
Profile Image for Sandy.
62 reviews
June 16, 2026
Bacaan ringan dengan ending yang menghangatkan.

Bagian ketika Sofia memakan pastel tanpa wortel yang dikirim ibunya adalah bagian yang membahagiakan.
Profile Image for Angelina Enny.
Author 12 books8 followers
June 25, 2026
Buku yang menyentuh, jamak terjadi kerenggangan hubungan orangtua dan anak, dan kisah ini membawa kehangatan.
Profile Image for ayam bakar.
13 reviews
July 6, 2026
jadi endingnya mereka baikan apa engga?
the storyline is ok, jujur membantu book slump aku
Displaying 1 - 30 of 35 reviews