Novel ini bercerita tentang Aleeta Jones, seorang gadis blasteran cantik, berpostur tinggi menjulang, bermata biru, berambut ikal nan hampir pirang, maklum papanya orang Amerika, sedangkan ibunya adalah orang Indonesia dengan campuran darah Tionghoa. Ia tinggal berdua dengan adiknya yang bernama Chle, di sebuah rumah mewah, sekali lagi harap maklum Mum dan Dad-nya tinggal di Amerika karena sibuk menjalankan bisnis. Aleeta adalah seorang mahasiswa. Pada suatu pagi yang menentukan, Aleeta membeli sebuah koran di kios depan kampus dan menemukan sebuah berita mengenai terbunuhnya putra keluarga pengusaha besar Nakano. Sontak, tokoh utama kita merapal doa, tampaknya ini telah menjadi kebiasaannya untuk mendoakan siapa saja yang menurutnya kurang beruntung. Kebiasaan yang seharusnya menenangkan jiwa justru membawa masalah bagi Aleeta, sebab tiba-tiba, arwah Yuto Nakano, pria super tampan berdarah Jepang, yang diberitakan tewas dalam Koran tersebut, muncul dan mulai membuntuti hidup Aleeta. Singkat cerita, Yuto ingin Aleeta membantunya untuk mengungkap siapa aktor di balik kisah pembunuhannya, juga ia ingin Aleeta mencari saudara kembarnya, Hiro, yang menghilang secara misterius di hari ketika Yuto dibunuh. Aleeta dengan bantuan Yuto akhirnya dapat menuntaskan kedua misi tersebut, dengan terlebih dahulu mengalami petualangan yang berlika-liku yang nyaris menelan nyawanya sendiri. Petualangan itu pulalah yang membuat Aleeta semakin mengenal Yuto, begitupun sebaliknya, dan akhirnya jatuh cintalah kedua tokoh tersebut. Namun, di sinilah kisah sedih yang sesungguhnya dimulai dalam bentuk sebuah dilema yang menggerus akal sehat Aleeta. Di satu sisi, ia senang dapat membantu pria yang dicintainya menuntaskan misi agar tidak menjadi arwah penasaran lagi, tetapi di sisi lain, ia juga sadar bahwa seiring tuntasnya misi tersebut maka lonceng perpisahan kisah cinta mereka telah berbunyi, sebab Yuto harus kembali ke habitatnya yang sesungguhnya. Sempat Aleeta merasa ingin mati saja, agar bisa terus bersama dengan Yuto. Namun, niat ini kandas. Dan pada akhirnya mereka harus berpisah karena takdir yang sangat ganjil.
Saat pertama kali saya membaca judul buku ini, pikiran saya melayang ke suatu momen di masa lalu ketika saya masih bocah ingusan di kampung saya, Ambon. Saat itu, tersiar sebuah gosip di dalam keluarga besar kami, bahwa salah satu kakak sepupu saya sedang merajut benang asmara dengan seorang hantu penunggu sumur tua. Hantu itu berwujud seorang putri Belanda yang kabarnya cantik menawan. Apabila tiba waktunya untuk wakuncar, sepupu saya akan menghilang semalaman, seperti diculik. Kemudian, akan muncul secarik kertas secara misterius di atas meja tamu tante saya, di atas kertas tersebut tertulis kalimat pendek “maaf, anak ibu saya pinjam sebentar”. Keesokan paginya, sepupu saya yang entah malang atau beruntung itu, akan muncul dengan tergopoh-gopoh dari arah pantai, seakan-akan ia datang dari laut. Tampak kelelahan luar biasa, seperti habis dipaksa menguras kering isi laut Banda. Terkadang, ia tidak hanya hilang semalaman, tetapi bisa sampai tiga malam.
Sebagai seorang bocah yang penakut namun kerap kali menyerah pada khayalan dan rasa ingin tahu, saya menanggapi gosip tersebut dengan perasaan yang mendua. Di satu sisi, saya menganggap cerita tersebut adalah cerita yang menjijikan. Di sisi lain, saya menganggap cerita tersebut sebagai cerita yang menggugah.
Mengapa menjijikan? Jelas, karena berpacaran dengan hantu adalah hal yang sangat tidak wajar, menakutkan dan tentu saja kurang kerjaan. Selain itu, bagi saya pribadi, hantu masuk dalam kategori objek-objek memuakkan selain paku payung berkarat dan payudara berlarva.
Mengapa menggugah? Ada dua alasan. Pertama, sudah jelas karena kisah percintaan adalah kisah yang tak pernah kering dan selalu hijau menawan di segala musim, tak peduli kisah percintaan itu melibatkan hantu atau kurcaci. Kedua, karena sudah jelas putri cantik tetaplah putri cantik, meskipun hantu sekalipun, dan siapa yang tak ingin memacari putri cantik seperti kakak sepupu saya? Bahkan dengan kecantikannya itu membuat kita lupa bahwa ia sesungguhnya adalah hantu.
Perasaan primordial yang mendua inilah, sadar atau tidak sadar, sering saya pakai sebagai parameter sukses tidaknya sebuah cerita percintaan yang melibatkan manusia dan hantu. Rumus saya sangat sederhana, yakni, ketika si pencerita mampu menjaga kesetimbangan yang sempurna antara rasa jijik dan rasa gugah, maka cerita tersebut dapat dinyatakan berhasil. Dan tentu saja, parameter itulah yang juga saya gunakan ketika membaca halaman demi halaman novel karangan Alexia Chen dari prolog hingga epilog. Dan saya nyatakan novel itu berhasil.
Lantas apa argumentasinya?
Dengan menggunakan parameter “mendua”, novel ini mampu memadukan rasa ‘jijik’ dan gugah dalam takaran yang pas. Pembaca akan dibuat tergugah lalu terhanyut sedih dalam kisah percintaan antara Aleeta dan Yuto, lupa bahwa Yuto adalah seorang hantu dan Al adalah manusia, yang mustahil untuk disatukan cintanya. Namun, pada kesempatan lain, sang penulis mampu membangkitkan kembali rasa ‘jijik’ dengan mengatakan bahwa wajah tampan Yuto adalah topeng, di balik itu ada wajah kematian yang mengerikan, kemudian disebutkan juga bahwa Yuto memperoleh tenaga dari menghisap ketakutan dan energi negatif dari Aleeta. Pembaca yang sebelumnya telah terhanyut seperti disadarkan kembali bahwa kisah percintaan Al dan Yuto adalah salah. Perpaduan antara rasa jijik dan gugah inilah yang melahirkan sensasi aneh ketika membaca novel tersebut, sama seperti saat saya mendengar kisah percintaan kakak sepupu saya. Sensasi aneh yang menyenangkan, sensasi yang “ngeri-ngeri sedap”.
Hal menarik lainnya dari novel ini adalah sosok Aleeta yang mengandung banyak anomali. Anomali yang justru membuat saya jatuh cinta dengan tokoh ini. Sebaiknya kita rinci apa saja bentuk anomali tersebut:
1.Aleeta adalah gadis kaya, tidak seperti stereotype gadis kaya umumnya yang suka belagu, miskin empati dan apatis, ia justru mempunyai kebiasaan unik mendoakan orang asing yang tidak beruntung
2.Di kala wanita di Indonesia yang pada umumnya menyukai postur badan yang tinggi, rambut pirang dan mata biru, Aleeta justru merasa tidak percaya diri telah memilikinya bahkan membencinya
3.Di saat mahasiswa kaya pada umumnya memakan burger di kantin kampus, Aleeta justru senang memakan bubur encer
Anomali-anomali tersebut, ditambah dengan sifat kekeraskepalaan, humor, kepolosan dan keluguan yang khas, dan tentu saja keahlian menyetir yang luar biasa, membuat saya jatuh cinta semakin dalam dengan tokoh Aleeta. Berdasarkan hal inilah saya harus menyebutkan salah satu kekurangan besar pada novel ini yakni membuat judul yang terbalik, sebab seharusnya judul novel ini adalah A Ghost Who Loves A Girl, sebab saya yakin Yuto-lah yang pertama kali jatuh cinta kepada Aleeta.