Di negeri yang saban hari dihiasi parade absurditas, dari berita korupsi yang berulang sampai birokrasi yang selalu macet di tempat yang sama, muncul seorang kartunis yang tak pernah kehilangan daya sentilnya: Mice. Lewat gambar dan humor, ia menyuarakan jeritan rakyat kecil, mengoyak kemunafikan elite, dan memelintir kenyataan menjadi satire yang begitu tajam—hingga kita tertawa sambil mengerutkan dahi.
Bertahan adalah bukti bahwa kritik tidak harus kasar, bahwa sindiran bisa lebih tajam dari caci maki. Kadang, untuk membuka mata bangsa, kita cukup mulai dari satu panel, satu gambar, dan satu senyum sinis dari seorang kartunis bernama Mice. Gambarnya mengajak kita tertawa karena dia sedang menggigit mereka yang bikin kita sengsara.
Bersama dengan Benny Rachmadi, alumni Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta ini membuat strip komik Benny & Mice yang berisi kritik-kritik sosial. Kartunis yang akrab disapa Mice dikenal juga sebagai dosen dengan mengajar di IKJ. Mulai bulan Juli 2010, Mice hanya menggambar sendirian di koran Kompas dengan kartunnya yang berjudul Mice Cartoon. Dua edisi terakhir dari Benny & Mice menampilkan tentang keluhan Mice terhadap kota Jakarta dan ingin pergi dari Jakarta. Di edisi pertama Mice Cartoon, Mice berada di daerah pegunungan dan akhirnya memutuskan balik ke Jakarta. Edisi- edisi selanjutnya dia menceritakan tentang kehidupan keluarganya.