Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ajengan Anjing

Rate this book
Di tengah sakaratulmautnya, Harak, seekor anjing kukutan seorang buruh tani menyaksikan seluruh kehidupannya diputar kembali. Meski singkat, walau hanya menjadi seekor anjing, ternyata kehidupan dunia memang semenggoda itu. Ingatan-ingatan tentang pesantren Bahrul Ulum, santri-santri, dan Mama Aleh yang sakti; kenangan-kenangan bekerja bersama Madsahdi di kebun-kebun Haji Adung atau kenangan tentang betapa sejuknya mengaso sore-sore di pematang sawah setelah lelah bekerja dan bercinta; serta kesaksiannya tentang sungguh manusia bisa jatuh teramat jauh dari pohon keluarga membuatnya menyadari satu hal: bahwa hidup yang berkah adalah hidup yang dipenuhi welas asih.

304 pages, Paperback

First published October 1, 2024

1 person is currently reading
49 people want to read

About the author

Ridwan Malik

4 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (41%)
4 stars
9 (52%)
3 stars
1 (5%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Alfa Tj.
16 reviews
January 11, 2026
novel ini ialah ceramah yang paling panjang dan menyentuh yang pernah kudengar.

sebuah ceramah,
dari seekor anjing.


pernah gak sih mbayangin bahwa segala ciptaan Allah itu berdzikir untukNya dan bahwa anjingpun yang kadang dianggap hina pula bersolawat untuk kanjeng nabi?

manusia kerap terjebak dalam anggapan dirinya adalah makhluk "yang paling"
novel ini menampar segala hal yang bersinggungan dengan itu dan menjadikan saya kembali merenungkan tentang apa itu iman & dosa.

seperti kata Guru Dayat, iman dan dosa hanya Allah yang tahu
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
January 10, 2026
Senang sekali membaca novel ini.
Novel ini bikin saya ingat kampung saya yang 100% NU, dan "mengagungkan" kyai sangat wajar. Namun, novel ini bikin saya sadar harta yang tidak diwariskan oleh aliran darah adalah keilmuan dan kebijaksanaan. Dan novel ini berpusar pada bagaimana generasi kedua "mengubah" wajah pesantren.
Juga bagaimana sebenarnya makna "keterbukaan" sebuah lingkungan konservatif? Apakah Aom membawa modernitas dengan memasukkan internet dan membentengi pesantren? Apakah demikian wujud agama modern? Atau sejatinya yang dilakukan ayahnya Ajengan Oyong yang terbuka pada banyak hal termasuk kehadiran anjing ini yang membuat agama langgeng dan berwibawa?

Lagi soal bagaimana ajaran agama menyikapi makna ekslusivitas dan modernitas.
Suka dengan beberapa diksi yang sangat santri NU: dawam misalnya...
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
297 reviews6 followers
July 3, 2025
Ajengan Anjing karya Ridwan Malik merupakan novel yang masuk dalam daftar panjang Kusala Sastra Katulistiwa 2025. Bercerita tentang kemelut dan dinamika kehidupan dilingkungan pesantren dan keluarga ajengan (merujuk pada KBBI, ajengan adalah istilah Bahasa Sunda yang berarti orang terkemuka, terutama guru agama islam;kiai) yang dikisahkan melalui sudut pandang seekor anjing bernama Harak. Cerita dibagi menjadi 3 bagian, dimana bagian pertama menceritakan tentang kisah Mama Aleh, seorang ajengan sakti yang hidup berdampingan dengan maraknya praktik ilmu hitam dan juga pendiri sebuah pesantren di Citamiang yang diminta untuk mengamalkan sholawat. Bagian kedua bercerita tentang Ajengan Oyong (anak dari Mama Aleh) yang begitu mencintai sholawat didikan orang tuanya dan tidak melarang anjing untuk hidup berdampingan bersamaan dengan warga, hingga ia mendapatkan julukan Ajengan Anjing. Bagian terakhir menceritakan tentang putra bungsu Ajengan Oyong yaitu Ceng Aom yang begitu mengidami teknologi dapat dijadikan tonggak utama peradaban dalam kehidupan beragama, ia meninggalkan ajaran leluhurnya untuk mencintai sholawat dan juga berdampingan dengan anjing. Alih-alih mendapatkan dukungan, ia justru sedang menanam benih kebencian yang akan ia tuai sendiri dikemudian hari.

Beberapa hal yang saya sukai dari novel ini:
1. Kentalnya dialek sunda yang banyak ditemukan di banyak narasi cerita. Tidak selalu menggunakan bahasa sunda, namun seringkali penulis menggunakan frasa kalimat yang begitu sunda. Hal ini menambah kenikmatan pembaca dalam meresapi cerita yang memang berlatar belakang tanah sunda.
2. Konsep cerita keagamaan yang progresif. Mungkin tidak digambarkan secara gamblang, namun sy menangkap gambaran jelas tentang perbedaan bagaimana agama dianut, dipelajari dan dijalani melalui gambaran 3 kepemimpinan ajengan yang berlainan zaman.
3. Penggunaan sholawat sebagai kuncian dan pegangan hidup. Saya rasa, bukan tanpa alasan penulis memasukan unsur tersebut. Pastinya sudah melewati riset yang panjang dan mendalam.
4. Memberikan sudut pandang lain terkait anjing dan segala najis. Lagi-lagi, penulis dengan cerdasnya menggunakan karakter hewan anjing dalam ceritanya yang begitu kental dengan agama Islam. Sebuah anomali yang menarik karena ternyata penulis juga pastinya melakukan riset karena dalam ceritanya terdapat contoh anjing yang hidup pada zaman nabi dan diganjar surga oleh Allah karena kesalihannya.

Untuk hal-hal lain, adanya beberapa typo masih bisa dimaklumi dan untuk kualitas cetak mungkin kedepannya bisa diperbaiki karena yang saya beli ada sedikit lem yang muncul dihalaman awal buku.
Profile Image for Rosul Jaya.
27 reviews1 follower
December 6, 2025
Tidak semua karya yang sebagian besar narasi memakai gaya bercerita "telling" dan gaya bercerita seperti kisah lisan yang dituturkan tanpa memperdulikan detail itu buruk. Demikianlah kesan awal saya ketika selesai menandaskan novel Ajengan Anjing karya Ridwan Malik ini.

Di sepotong hari di Ubud—kebetulan kala itu kami Emerging UWRF 2025—saya bertanya kenapa diberi judul Ajengan Anjing, atau kalau diterjemahkan menjadi: Kiai Anjing? Jawab Kang Ridwan kurang lebih: "Sebenarnya arti aslinya adalah Ajengan yang memelihara anjing (bukan sebuah umpatan pada Ajengan yang tingkahnya seperti anjing). Tapi dipotong biar lebih estetik. Seperti judul Lelaki Harimau yang punya arti aslinya Lelaki yang di dalam tubuhnya berisi harimau, Eka K." Lantas saya pun mengangguk-ngangguk.

Sebagaimana Kang Ridwan yang suka dengan karya-karya Remy Silado, maka jejak-jejak gaya Remy Silado terpatri di novel debutnya ini, yaitu luwes dalam bertutur dan memasukkan dengan lincah bahasa-bahasa daerah.

Secara naratologi: novel ini menarik karena dikisahkan dari sudut pandang seekor anjing bernama Harak. Dibagi menjadi tiga bab yang masing-masing bab mengisahkan tiap generasi pimpinan pesantren Bahrul Ulum di wilayah Citamiang—sebuah kawasan di mana manusia dan anjing sejak dulu hidup berdampingan. Anjing bernama Harak ini tahu kisah-kisah masa lalu pesantren Bahrul Ulum dari anjing-anjing leluhur yang bercerita padanya.

Menurut saya ini termasuk novel yang punya kritik tajam pada institusi agama. Pada pemimpin agama. Bagaimana perihal agama yang dibawa oleh para pendahulu: Ajengan Mama Aleh dan Ajengan Oyong, bisa memposisikan agama diterima/diakulturasi pada masyarakat sekitar—seperti metode dakwah walisongo—dengan terus mengajarkan ajaran: tak masalah hidup berdampingan dengan anjing. Berbeda dengan agama ketika dibawa oleh generasi setelahnya yakni Ceng Aom yang menghimbau masyarakat untuk tak berdampingan lagi dengan anjing karena anjing binatang najis. Ini lah premis yang dijadikan landasan dalam novel ini.

Ceng Aom yang terpapar ajaran "modernitas" dari pendidikannya di kampus, tentu memberikan perubahan yang positif bagi Citamiang dan pesantren Bahrul Ulum. Tapi, sayangnya, dia yang terpapar ajaran "konservatisme dalam agama" juga menimbulkan polemik—dan ini sangat fatal karena membelakangi leluhur-leluhurnya—atas ceramah-ceramahnya seperti mengusir para anjing atau menghilangkan amalan selawat. Dia tak menerapkan kaidah fiqih seperti yang diamalkan para pemimpin pesantren yaitu "Al Muhafadzah ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah."

Sudah itu saja, agar tak spoiler banyak-banyak. Intinya saya sangat mengapresiasi dan merekomendasikan pada teman-teman karya debut Kang Ridwan yang anjing bagusnya ini; yang anjing masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025; yang anjing menyabet penghargaan Badan Bahasa Kemendikdasmen; yang penulisnya juga .... (saya sensor supaya tak digampar oleh penulisnya kalau bersua) bisa punya kritik setajam ini.
Profile Image for Bukanrastaman.
31 reviews1 follower
September 7, 2025
Ajengan Anjing, sebuah judul yang kontras, menusuk, dan menggigit. Dalam bahasa Sunda, “ajengan” merujuk pada ulama, sosok yang diagungkan, pembawa cahaya ilmu dan iman. Namun, “anjing” — kata yang kerap dipandang sebagai simbol kenajisan, kotor, dan hina — menabrak makna itu dengan sengaja. Judul ini bagai tamparan, memaksa kita menatap paradoks kehidupan: antara kesucian yang dielu-elukan dan noda yang disembunyikan.
5 reviews
January 11, 2026
Buku ini sangat personal bagi saya. Saya orang Garut. Rasanya menyenangkan ketika membaca nama-nama tempat yang saya tahu dan bisa saya bayangkan dalam pikiran saya: nama-nama pesantrennya dan daerah Garut Selatan.

Pemilihan latar Garut Selatan menurut saya sangat tepat. Nilai-nilai keagamaan yang masih sangat kental dipegang oleh mayoritas warga juga di lingkungan tersebut anjing adalah hewan mayoritas yang bisa kita temui kapan dan dimana saja, menunjukkan realita akan kehidupan sosial yang terjadi Garut Selatan.

Tak lupa juga dengan judulnya yang cukup menantang, Ajengan dan Anjing berada dalam satu frasa, yang bisa bikin orang langsung marah kalau enggan baca bukunya lebih lanjut, padahal jauh dari sana, ini buku religi, yang mengingatkan kita untui selalu bersolawat kepada Nabi. Pada bab awal cerita, sudah berhasil ngehook dan sangat sayang kalau harus berhenti di tengah jalan. Nggak lupa juga soal unsur magis yang dikisahkan dengan apik oleh penulis.

Aku harap buku ini semakin dikenal oleh banyak pembaca dari belahan mana pun. Membawa nama Garut menjadi lebih harum. Membawa nama Garut untuk Dunia. Prung tarung, hiji ge maung!
Profile Image for Rafli Ramadhan.
14 reviews3 followers
December 25, 2025
Baru kali ini baca dengan tokoh utamanya Anjing. Alurnya maju mundur, gue sampe bikin silsilah keluarganya Ajengan Oyong biar paham wkwk. Seru juga baca dari sudut pandang anjing
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ardhias Nauvaly.
66 reviews3 followers
January 13, 2026
Ajengan Anjing adalah Mama Aleh adalah seorang kyai kampung yang karib dengan anjing-anjing hingga menganggap mereka tak ubahnya sebagai santri di pondokannya yang turut mendengarkan kalam ilahi dan bersolawat. Yang menarik, kisah dalam novel ini dituturkan lewat kesaksian Harak, anjing kampung yang mati diracun oleh, kuat diduga, pimpinan pondok yang baru, atau cucu Mama Aleh alias Ajengan Anjing itu sendiri.

Garis mulai bertuturnya mirip "Posthumous Memoirs of Bras Cubas", di mana narator orang pertama menceritakan memoarnya dari alam kubur. Harak, yang nyawanya sudah naik seleher, ketemu Malaikat Izrail dan bilang bahwa betapa kelirunya cucu Mama Aleh itu yang ngotot kalau malaikat ogah bertamu ke rumah yang ada kaumnya, kaum anjing. Toh, buktinya, ia dicabut nyawa oleh Malaikat Izrail, sama seperti kaum manusia.

Sebelum nyawanya dicabut itulah, Harak berkisah yang kemudian terbagi jadi 3 bab. Bab 1 tentang kampung dan pesantren dan silsilah ajengan setempat sampai bermuara ke ajengan paling bontot yang bikin gaduh kaum anjing. Bab 2 tentang silsilah anjing kampung yang bermuara pada Harak, dipercaya persilangan antara pribumi dan darah biru kaum anjing yang masih punya pertalian saudara jauh dengan anjingnya Ashabul Kahfi dari tanah Arab sana. Bab 3 tentang kampung dan pesantren yang keos karena kebijakan serta ajaran baru dari ajengan paling bontot bahwa anjing haram total dan solawat, tak terpisahkan dari masyarakat sebagaimana kaum anjing, tidak menjamin apa-apa.

Sayang, tuturan di Bab 1 nggak kerasa "anjing"-nya. Alias, narator seperti lepas dari cerita. Andaikata narator diganti sembarang aki-aki kampung atau hewan melata yang kebetulan melintas, niscaya narasinya tetap sama. Beda dengan Bab 2 dan 3 ketika narator, atau kubu sosial narator alias anjing Harak, berkelindan dalam cerita.

Yang asyik dari novel ini tuh suara si Harak yang kayak cerita-cerita Abu Nawas. Penuh petuah, sok ceramah. Justified menurut saya, krn ya Harak hidup di kampung-pesantren. Dia mimicking para dai, para ajengan. Bukan unintentionally tukang khotbah. Justru, di sini saya pikir, Ridwan lagi menjajal, "bisa nggak ya bikin novel pake suara tukang khotbah, tapi tetep layak dibaca?". Jadinya ya "Ajengan Anjing".

Terus, istilah sunda-specific yang muncul gak cuma obralan, tapi emang penting sebagai penanda sosio-historis kayak "geromolan" untuk menjelaskan gerombolan DI/TII. Itu juga menarik. Belum lagi deskripsi realis lansekap cerita mulai dari penempatan polsek, kolam ikan, kandang, ladang, dan lain-lain.

Andaikata Bab 1 dipangkas, lalu lebih banyak mengulik gimana warga dan anjing mangkel, muntab, dan melawan meski malu-malu dan takut kepada ajengan paling bontot, "Ajengan Anjing" bakal lebih nikmat, saya rasa.

Oh ya, saya baca versi yang republish ya. Ukuran lebih kecil. Sampul lebih nyentrik.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.