“Tiap bunga punya makna tersendiri. Tiap bunga beresonansi dengan emosi dan harapan yang ada di dalam hati. Ketika Ran membuka Hanakotoba—bahasa bunga—untuk mengobati patah hati, seiring berlalunya hari, tak diduganya orang lain merangkai kisah warna-warni dengan puspa yang dipajang di tokonya.
Beberapa jiwa yang bersentuhan dengan bunga, mendapati mereka telah diubah sepenuhnya. Demikianlah yang terjadi dalam berbagai cerita pendek dalam Hanakotoba.”
Call her Donna or Angela, she might respond with a smile. This Indonesian writer divides her time juggling to make ends meet, writing, balancing her attention between her partner (Isman H. Suryaman) and children, managing the household, and of course, occasionally sipping earl grey tea to keep her sane. She has written twenty books so far, popular fiction, in Gramedia Pustaka Utama (GPU). Her newest book, Candrasa, is published in August 2017.
Her passion for new experiences propels her to seek new chances to meet more people. Enthused for fresh inspirations, she longs to join multicultural events, collecting data and broadening her horizon.
She claims to be unique, independent and strong. She dreams and imagines a lot. "But what is love, and what is life, if you do not let yourself live?"
Kumpulan cerpen yang bagus. Rasanya ini karya Primadonna Angela pertama yang kubaca, karena temanya memang kebetulan aku suka. Dan gak kecewa juga :D beberapa kali kepincut sama ending cerpen2 di buku ini. Hahah.. good job, Primadonna Angela.
Minusnya? Typo euy, dan jenisnya itu semacam... "yang" jadi "sayang" atau "di" jadi "dia" (bukan contoh sebenarnya karena aku juga lupa, tapi tipe2nya begitu). Disayangkan banget ^^;
Yang paling aku suka dari rentetan cerita di sini... apa ya? Kalo ga salah yang hydrangea (mo nyebut yang lili putih gegara nama tokohnya sama ama namaku, kok rasanya narsis buanget wkwkwkwk).
Kumcer ini enaknya dibaca pas nyantai, jangan waktu terburu-buru. Nikmatin aja satu demi satu, ditemenin sama minuman favorit, di tempat yang nyaman. Beberapa cerita terakhir tuh kemarin kukebut baca sampe larut malam, dalam kondisi mata lelah dan otak capek abis kerja. Alhasil, kenikmatan membacanya jadi berkurang, banyak. Jadi, bener deh... bacanya pas senggang aja kkk...
Hanakotoba. Bisa dibilang buku ini bener-bener mengejutkanku. Aku sangat jarang membaca novel kumcer, bahkan mungkin ini adalah buku kumcer teenlit keduaku setelah buku 'Ratu Jeruk Nipis' yang sudah bertahun-tahun lalu dibaca. Dari sinopsis aku awalnya kurang menangkap tanda-tanda kalau buku ini berisi kumcer, kalaupun aku menyadari lebih awal mungkin aku akan mempertimbangkan lagi untuk membelinya. Tetapi aku sama sekali tidak menyesali membelinya, meski butuh waktu cukup lama menyelesaikan membacanya jika dibanding membaca novel-novel teenlit seperti biasa lainnya, aku cukup puas dengan cerita-cerita yang disajikan Hanakotoba. Dan beberapa bahasa bunga yang dipaparkan di dalamnya juga memberi pengetahuan baru yang menarik di tiap pengartian atau maknanya. Overall, lumayan suka dan enjoy deh bacanya. Kata-kata yang digunakan juga mengalir di pikiran, hehe. 3.5 stars <3
"Tiap bunga nemiliki makna tersendiri. Tiap bunga beresonansi dengan emosi dan harapan yang ada di dalam hati."
Hanakotoba merupakan buku yang saya dapatkan di bazaar buku Gramedia Atmo Kota Palembang. Saya tertarik membelinya karena cover bukunya yang lucu serta judul bukunya mirip dengan kosa kata bahasa Jepang.
Hanakotoba ini merupakan kumpulan cerpen yang menceritakan tentang berbagai bunga yang ada di dunia dibalut dengan kisah kisah yang menarik. Ceritanya sebagian besar tentang drama percintaan walau ada juga yang bercerita tentang orang tua dan sahabat. Hanakotoba sendiri dalam bahasa jepang memiliki arti menerjemahkan bunga dalam berbagai makna.
Inti ceritanya sama. Tentang seorang Gadis bernama Ran yang memiliki toko bunga bernama Hanakotoba. Dari toko bunga inilah, Ran bertemu banyak orang yang mencari bunga sesuai dengan keadaan emosi yang mereka rasakan. Kedepannya, kisah kisah dalam buku ini memiliki benang merah dengan toko bunga Hanakotoba milik Ran. Kisah tentang Ran sendiri pun akan diceritakan pada akhir bab buku ini.
Bintang 3 untuk buku ini :)
Awalnya terasa membosankan karena bahasanya agak kaku. Tapi, tiba di pertengahan, bahasanya mulai tidak terlalu kaku dan alur ceritanya dapat diikuti. Nice, menambah pengetahuan tentang bunga^^
Hanakotoba adalah salah satu buku kumpulan cerita pendek yang mengagumkan. Aku tidak tahu banyak tentang bunga dan aku bukan penikmat bunga, tapi membaca cerita-cerita di Hanakotoba membuat aku jatuh cinta. Tidak hanya cerita, ada ilustrasi-ilustrasi yang seperti 'menjembatani' tiap cerita. Seperti prolog dalam sebuah novel, ilustrasi-ilustrasi tersebut ikutan bercerita.
Kalau ditanya yang mana yang aku suka? Yang paling kusuka adalah 2 cerita awal dan kisah si bunga lili kuning.
Pada mulanya ada seorang gadis yang mencintai bunga. Ia memiliki kemampuan khusus dalam membaca emosi seseorang. Ia mencoba memberikan bunga sesuai suasana hati pelanggannya. Yang kita tidak banyak tahu, adalah bahwa setiap bunga mempunyai arti. Bahwa setiap titik emosi yang kita rasakan, bisa dikatakan melalui bunga. Bunga juga ternyata bisa berbahasa. Dalam bahasa Jepang, bahasa bunga disebut hanakotoba.
Ada 28 bab dalam buku ini. Semuanya diberi judul sesuai nama bunga. Tiga bab pertama hanyalah pengantar kepada 26 cerita di dalamnya. Setiap cerita dihubungkan oleh satu benang merah. Sebuah toko bunga bernama Hanakotoba.
# Krisan Putih – Shiragiku Ia penanda kebenaran.
Seorang janda, mempertanyakan kesetian suaminya yang telah lama meninggal. Pada akhirnya, yang lebih penting bukanlah kebenaran itu berkata apa, namun pilihan kita untuk mempercainya, dan apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui kebenaran.
# Forget-me-not – Wasurenagusa Ia tentang hal yang tidak ingin dilupakan.
Kakek tua memasuki toko dengan getir. Mengingat cinta yang tidak pernah dilupakan, tidak pernah didapatkan. Ia mencintai seorang gadis yang juga mencintainya, tapi sang gadis meninggalkannya karena mereka berbeda kasta. Lalu ia menikah dengan gadis pilihan orangtuanya, yang juga meninggalkannya karena si gadis lebih memilih menikahi lelaki yang dicintainya. “Cinta itu ilusi.” kata si kakek. “...Tapi cinta bisa jadi landasan yang kuat untuk tetap berjuang menjalani hidup.” Ending cerpen yang ini klise ah.
# Kacapiring – Kushinashi Ia menjaga rahasia. Anindhita tidak suka hubungannya digembor-gemborkan ke orang lain. Tapi selalu ada masa dimana kita ingin sekali orang lain tahu, bahwa seseorang adalah milik kita. Terkadang, kita ingin orang lain tau betapa kita sayang pada seseorang. Hanya ingin mereka tahu. Itu saja.
# Violet – Sumire Ia berkata jujur.
Aku berpacaran dengan seorang pria. Dia baik, dan cukup tampan. Dia selalu mengalah pada setiap keputusanku. Sepakat pada semua pendapatku. Kami tidak pernah bertengkar hebat. Dia tidak pernah berinisiatif. Inisiatif pertamanya dalam hubungan kami adalah dia mengajak putus. Tanpa pernah aku tahu kenapa. Dia tidak jujur mengenai alasannya. Satu-satunya pendapat jujurnya selama ini, mungkin hanyalah keinginannya putus dariku.
# Lili Putih – Shirayuri Ia tentang kepercayaan.
Jika pacarmu terlihat sangat akrab dan mesra dengan perempuan lain, wajarkah kamu cemburu? Wajarkah jika kamu masih cemburu bahkan jika ia menjelaskan perempuan itu hanya sahabatnya dari kecil? Bukankah itu malah akan menambah kecemburuanmu? Atau haruskah kamu percaya padanya begitu saja?
# Lili Oranye – Sayuri Ia ingin membalas dendam.
Ketika seseorang yang sempat kamu anggap dekat mengambil semua milikmu, dan mengakuinya menjadi miliknya, mendadak, hal yang paling kamu inginkan di dunia adalah melihatnya menderita. Dan tidak ada pembalasan dendam yang lebih baik daripada membuat diri kita menjadi lebih baik lagi dari dia, menjadi lebih bahagia lagi dari dia. Lagipula... “Apa perlunya memelihara dendam? Sengatannya hanya melukai dirimu.”
# Azalea – Tsutsuji Ia bersabar.
Banyak cara membuktikan cinta. Ada yang menghargainya dengan materi, ada yang menghargainya dengan kata, ada yang menghargainya dengan waktu. Seorang laki-laki mencintai gadis yang menganggapnya penganggu. Dia tidak pernah berhenti berusaha menunjukkan ke si gadis bahwa dia ada. Yang dia butuhkan hanya waktu, untuk menunggu. Saya teringat sebuah quote ketika membaca cerpen ini. “...because anything worth having, is definitely worth waiting.”
# Camellia Merah – Tsubaki Ia mewakili dia yang sedang jatuh cinta.
Jatuh cinta itu bikin bodoh! Bikin buta! Semua yang dilihat hanya hal baik dari dia. Lalu aku berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Ketika akhirnya aku benar-benar mengenalmu, masihkah cinta itu sama? Saya teringat obrolan dengan seorang kawan ketika membaca ini. Obrolan yang mungkin sedikit (atau tidak sama sekali) ada hubungannya dengan cerpen ini.
“Kamu percaya cinta sebelum pandangan pertama?” “Lagi musim, Pi.” “Jatuh cinta sama sosok yang kita anggap pinter, baik, sesuai sekali buat kita, tapi kita belum pernah menemuinya langsung.” “Kamu jatuh cinta pada salah satu teman media sosialmu?” “Aku cuma tanya.” “Kan ada fotonya.” “Apa hubungannya sama foto sih? Bukan itu yang aku bahas. Apakah kita benar-benar akan menilai seseorang hanya dari apa yang dia tulis dan apa yang dia bilang?” “Kamu takut aslinya nggak secakep fotonya?” “Kubilang bukan masalah itu! Ish!” “Lalu apa?” “Bagaimana jika dia tidak sebaik itu? Bagaimana jika dia aslinya menyebalkan?” “Masalahmu apa sih, Pi?” “Aku kenal seseorang yang jatuh cinta pada teman media sosialnya...” “Namanya Upi...” “Bukan! Dasar sok tahu! Dengar, menurutmu jatuh cinta semudah itu? Apa kamu yakin itu cinta, atau cuma perasaan kagum saja?” “Aku benar-benar nggak paham masalahmu apa..”
# Primrose – Sakuraso Ia untuk mereka yang putus asa.
Caramella melakukan taruhan. Dia harus membawa pacar yang keren di ulang tahun mantan pacarnya, kalau tidak dia harus mencuim mantan pacarnya di depan seluruh tamu undangan ulang tahun. Waktu Caramella hanya satu minggu, mencari pacar yang lebih keren daripada pacarnya yang adalah keturunan campuran dan bangsawan. Cerpen yang ini mungkin yang paling mirip drama korea. Hemhemhem..
# Peony – Botan Ia mengajarkan keberanian.
Aku mencintainya. Aku mencintai mereka. Segalanya bergantung pada prioritas. Mana yang ingin kubahagiakan lebih dulu? Segalanya tentang perhitungan. Siapa yang harus kupilih agar lebih banyak yang bahagia dan lebih sedikit yang menanggung luka. Atau mungkin, aku bisa memilih keduanya, jika aku cukup mempunyai keberanian? Terlalu mudah ditebak. Rasanya ada drama Taiwan yang ceritanya begini juga.
# Mawar Kuning – Kiiro Bara Ia merasakan cemburu.
Bagaimana jika ternyata kamu tidak mengenal dia yang sangat dekat denganmu sama sekali? Bagaimana jika dia yang kamu percayai selama ini, mungkin membencimu?
# Semanggi Berdaun empat – (Yotsu Ha No) Kurôbâ Ia membawa keberuntungan.
“You make your own luck. All you need? Faith and little fluck.”
Cerpen ini membuat saya mencari aksesoris apapun berbentuk semanggi berdaun empat.
# Hydrengea – Ajisai Ia membanggakan diri.
Jessika bangga mengiira dia sudah cukup berterima kasih. Jessika puas mengira dia sudah cukup berusaha. Jessika lega mengira dia sudah cukup melakukan banyak hal. Untuk membuat orangtuanya bangga. Namun, pernahkah cukup? Akankah cukup? Jika dibandingkan pengorbanan mereka selama ini.
# Iris – Ayame Ia bersama berita baik. Hari ini Raya bahagia. Ayahnya berkata ia akan bicara nanti malam. Ayahnya punya berita baik. Bolehkah Raya mengajak Tante Sira? Bukankah berita baik sudah selayaknya dibagikan?
# Tiger Lily – Oniyuri Ia bermakna harta.
Kamu memberiku tiger lily. Katamu aku adalah hartamu. Bersama tiger lily aku menunggumu kembali. Sungguh, aku mencintaimu. Aku menjaga tiger lily ini. Menunggu ketidakpastian hanya dengan jaminan satu pot tiger lily.
# Sweet Pea – Jakoendo Ia adalah final, sebuah selamat tinggal.
Keiko mengira ia punya penggemar rahasia. Sebuah paket buku idamannya muncul di teras rumah. Tanpa nama pengirim. Di dalamnya terdapat puisi-puisi berisi teka-teki. Seperti pencarian harta karun. Hanya saja, titik terakhirnya adalah sebuah ucapan perpisahan.
# Chery Blossom – Sakura Ia memaknai sebuah janji.
Dia ingin menikah di sini. Di bawah pohon sakura. Ketika sakura bermekaran. Ia mengiyakan, berjanji akan menikahinya di bawah pohon sakura. Keduanya bukan tak ingin menepati janji. Hanya saja, Tuhan punya rencana sendiri.
# Habenaria Radiata – Sagiso Ia akan menemuimu dalam mimpi. Aku tak percaya dia mengkhianatiku. Memutuskan berahasia dengan keputusannya untuk pergi. Pergi ke tempat dimana aku menuju. Sanggupkah aku memaafkan, jika alasan dia pergi adalah agar nanti kami akan selalu berbagi mimpi?
# Daffodil – Suisen Ia memberikan rasa hormat.
Aku mengaguminya. Karena dia begitu berbeda, dan sanggup berbagi bahagia. Aku mengaguminya, karena dia mengajariku melakukan apa yang ingin aku lakukan, bukan apa yang harus aku lakukan. Dia mendapatkan hormatku.
# Magnolia – Mokuren Ia mencintai alam.
Saya harap, alasan banyak orang (termasuk teman-teman saya) rajin sekali naik gunung belakangan ini tidaklah sama seperti alasan Senna. Menyukai pecinta alam lebih dulu, baru kemudian alamnya. Bukan alasan yang buruk sebenarnya, jika pada akhirnya mereka memang benar-benar mencintai alam dan menjaganya. Semoga lelaki pecinta alam (yang sebenarnya) segera di-restock oleh Yang Maha Kuasa. Agar para gadis lebih memilih mencintai alam daripada salon. Lalu salon akan kosong dan saya bisa potong rambut tanpa menunggu antrian.
# Dahlia – Tenjikobutan Ia berselera tinggi.
Lelaki pilihannya adalah yang terbaik. Dia mempunyai standar tinggi dan kemampuan mendeteksi kualitas seseorang. Jadi ketika dia memilih lelaki gendut dan dekil dan tidak berprestasi itu, pikiranku mengelana. Apa yang dia lihat dari Tito? Dan mengapa dia tampak begitu bahagia?
# Daisy – Hinagiku Ia perihal kepercayaan dan keyakinan.
Nea menunggu Fahri, yang berjanji akan kembali. Nea menunggu Fahri, walaupun tak ada setitik pun kabar darinya. Tahun berlalu, Nea masih menunggu, karena yakin Fahri masih mencintainya, dan percaya Fahri akan kembali. Namun akankah Nea terus menunggu setelah menyadari, jika Fahri peduli, Nea tak akan terabaikan. Jika Fahri benar mencintainya, Nea tak akan ditinggalkan menunggu ketidakpastian. Cerpennya biasa saja. Tapi potensi curhatnya kuat sekali.
# Poppy – Hinageshi Ia mencari kenyamanan.
This story is about friendzone. Ketika membaca cerpen ini, kepala saya langsung mengimajinasi lagu dan video clip You Belong with Me dari Taylor Swift. Dan ceritanya memang sesederhana itu. Semudah ditebak itu.
# Lily of the Valley – Suzuran Ia berjanji akan bahagia, bersama.
Sebaiknya Soni jangan membuat janji yang tidak bisa ia tepati lagi. Karena Lera sudah kelelahan dengan janji Soni. Soni terlalu mudah berjanji. Dan apa artinya janji jika tidak sanggup menepati?
# Anggrek – Ran Ia berharga, sangat berharga.
Jika di cerpen lain kisah adalah milik para pelanggan, cerpen terakhir adalah tentang pemilik toko bunga Hanakotoba. Ran, pemilik Hanakotoba, rupanya punya kisah sendiri. Penutupan yang manis, walaupun rasanya cerpennya biasa saja. Tidak menjadi klimaks (mau berharap klimaks gimana, ini kan kumcer?), atau tidak mendorong adanya harapan (saya kira itu maksud penulis awalnya, mungkin).
Secara keseluruhan saya suka sekali kumcer ini. Bahasanya sederhana tapi indah. Pemilihan kata-katanya bagus sekali. Beberapa cerpen buat saya terlalu klise, dan banyak juga yang ceritanya sangat bisa diduga. Saya sedikit sekali mendapatkan kejutan di kumcer ini. Buku ini masuk kategori teenlit, mungkin itu sebabnya tokohnya banyak menggunakan anak SMA, walaupun dalam bayangan saya beberapa cerpen di sini tokohnya kayaknya lebih pas umur 20an. Mereka dibuat jadi anak SMA terlihat sedikit maksa. Tapi metafora dengan menggunakan bunga membuat saya “memaafkan” segala masalah tadi. Penggunaan “bunga yang berbicara” membuat kumcer ini jadi sentimentil dan agak romantis. Dan saya memang sedang butuh hal-hal begitu. Mungkin karena ini Februari? Dan Februari adalah bulan dimana harinya paling sedikit dibanding bulan lain? Sungguh tak ada hubungannya.
P.S. Makasih buat Mamak Nia yang sudah bersedia bukunya saya pinjam. Tadinya buku ini mau saya simpan di rak pribadi, tapi pas buka halaman pertama, rupanya ada tulisan “untuk Nia”-nya. Gagal deh jadi buku nambut-gaduh. Hvft.
P.S.S. Ada 2 tokoh gadis sunda dalam kumcer ini, dan kenapa dua-duanya pecicilan? Memang gadis sunda begitu? Ah saya enggak. Saya sangat pendiam dan manis dan lugu seperti anak kucing.
Aku selalu mempercayai keberadaan bangsa peri. Mungkin karena kisah-kisah mereka menghiasi masa-masa kecilku teramat manis, atau karena ibuku sering mendongeng kaum peri yang sangat misterius, dapat tak kasat mata jika diperlukan, memiliki kemampuan magis nan memukau, dan hidup bebas di hutan lebat, berdampingan dengan alam sekitar dengan harmonis. Maka saaat Bunda—atau Okaasan, terkadang dia lebih senang dipanggil demikian karena mengingatkannya pada asal usul ibunya—berkata bahwa ayahku adalah seorang peri, tentu saja aku percaya, apa alasan Bunda untuk berbohong? Dan hal itu menjelaskan kemampuan misteriusku untuk menanam dan memelihara benih bunga apa pun, dan keahlianku untuk lebih memahami orang lain. || Ran-Hal 1
Aku memang bersalah, dulu ketika aku tahu “berkat” yang dia miliki berkaitan dengan bunga, aku menganggapnya monster. Dia bukan orang biasa, dia… membuatku takut. || Hikage-Hal 278 . . . Waktu baca novel ini, (karena lihat blurbnya sepintas lalu) aku baru sadar kalau ini sebenarnya kumpulan cerpen. Tiap cerpen memiliki tokoh yang berbeda, masalah yang berbeda, namun tetap satu jua(?) Berbeda-beda, namun memiliki satu kesamaan. Karena inti dari novel ini adalah, masing-masing tokoh akan membeli bunga di toko Hanakotoba dan simsalambim! Rasa gelisah-galau-merana hilang, karena Ran—pemilik toko, memberikan bunga yang sesuai.
Kalau dari segi bahasa, konflik, deskripsi dan kawan-kawannya, aku rasa gak ada yang perlu dikoreksi. Ceritanya mudah dipahami, deksripsinya sederhana tapi ngalir, dan tentunya setiap cerita memiliki rasa manisnya tersendiri (karena ini teenlit) mampu membuat yang baca senyum-senyum sendiri. Walau gak semua ceritanya manis.
Kalau ditanya paling suka cerpen yang mana dari ke-25 cerpen yang ada. Aku akan menjawab Sakurasou (artinya depresi) dan Peony (artinya keberanian)! Aku gak mau bicara panjang lebar nanti spoiler//yha. Jadi silahkan baca sendiri dan temukan bunga mana yang kamu suka.
Aku senang, lewat novel ini, aku jadi tahu bahasa bunga. Jadi, nanti kalau ada yang tanya bunga kesukaan aku, jawabanku bukan “bunga bank” lagi //jangan tiru. Tentunya aku jadi hapal sendirinya akan bahasa bunga, karena saat lihat bunga tersebut, pasti tergiang beberapa cerita yang ada dalam novel ini.
Tapi, menurutku ada yang menggangu. Yang paling menggangu waktu baca bagian bunga Sakura. Aku agak kaget, sampe bolak-balik halaman, saat tiba-tiba tulisannya bahasa Inggris. Kirain ada yang salah dengan ipusnas gitu, ternyata memang begitu. Tapi gak masalah kok, lagi pula hanya sekiat 2-3 lembar.
Hanakotoba memiliki 26 cerita pendek. 26 cerita pendek tersebut bisa berdiri sendiri sebagai sebuah entitas masing-masing. Tetapi, ada benang merah yang mengikat keseluruhan cerita. Apalagi kalau bukan sebuah toko bernama Hanakotoba; toko yang dibuka oleh seorang gadis bernama Ran, ketika dia sedang berusaha menyembuhkan patah hati pasca ditinggal pergi oleh kekasihnya. Ran ini mungkin saja manusia setengah peri, seperti yang selalu dipercayai olehnya, karena ia memiliki sebuah kemampuan khusus -- kemampuan istimewa -- yang bisa membuatnya terhibur sekaligus membantu para pelanggan.
Siapa saja pelanggan-pelanggan Ran? Banyak.
Setiap tokoh utama di dalam cerita-cerita pendek yang diuraikan oleh Donna di dalam buku Hanakotoba adalah para pelanggan Ran, tua maupun muda (sebagian besar adalah remaja), yang menemukan solusi atas permasalahan mereka setelah mendatangi Hanakotoba dan mendapatkan bunga-bunga sesuai cerminan permasalahan-permasalahan mereka. Konsep dasar inilah yang menurut saya paling menarik dan membuatnya berbeda dari teenlit lainnya, termasuk dari sekian banyak teenlit Donna sebelumnya.
Berhubung Hanakotoba merupakan kumpulan cerpen teenlit, maka saya lebih membandingkannya dengan kumpulan cerpen teenlit Donna yang pertama, yaitu Ratu Jeruk Nipis, dan bukan membandingkan Hanakotoba dengan novel-novel teenlit Donna yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada kumpulan cerpen teenlit hasil karyanya.
Setidaknya, saya menemukan beberapa perbedaan mendasar di antara Ratu Jeruk Nipis dan Hanakotoba, yaitu: 1. Ratu Jeruk Nipis, tidak memiliki konsep sematang Hanakotoba. 2. Semua cerita di Ratu Jeruk Nipis, seperti kebanyakan kumpulan cerpen, berdiri sendiri dan tidak ada benang merah yang menarik seperti di Hanakotoba. 3. Ratu Jeruk Nipis terlihat lebih kekanakan, walaupun tidak sebegitu kekanakan seperti novel-novel teenlit Donna. Sementara Hanakotoba terlihat lebih matang, lebih dewasa, dan lebih wise.
Cerpen-cerpennya ringan dan mudah diikuti. Meski kebanyakan bercerita tentang kisah remaja, gaya penulisannya terasa tenang dan dewasa. Aku jadi mengenang masa kecilku yang sering kuhabiskan dengan membaca berbagai cerpen di majalah remaja.
Ada ilustrasi-ilustrasi bunga berwarna yang menggambarkan bunga yang diceritakan dalam tiap cerpen.
Dari kumcer ini, jadi tahu soal beragam hanakotoba alias bahasa bunga.
Cerita-cerita dalam kumcer ini sendiri disatukan oleh benang merah dari sebuah toko bunga bernama Hanakotoba. Toko ini punya keunikan, para pengunjungnya akan tertarik pada wangi bunga dengan bahasa bunga yang sesuai dengan masalah yang sedang dialaminya saat itu. Sebenarnya akan lebih menarik kalau toko bunga ini diarahkan ke genre yang lebih fantasi dengan konsepnya yang seperti ini.
Berikut adalah ragam bahasa bunga yang didapat dari novel ini:
Shiragiku atau krisan putih, kebenaran.
Wasurenagusa atau forget me not, kesetiaan cinta.
Sumire atau violet. Lambang kejujuran.
Shirayuri atau lili putih. Kesetiaan, kemurnian.
Sayuri atau lili Oranye artinya pembalasan dendam.
Tsutsuji atau azalea, kesabaran.
Tsubaki atau camelia. Jatuh cinta.
Sakurasou atau primrose, desperate.
Botan atau peony, keberanian.
Kiiro bara, mawar kuning. Cemburu.
Ajisai, hydrangea. Rasa bangga.
*NOTE: Warna ajisai tergantung dengan tingkat keasaman tanah. Semakin asam warnanya semakin biru atau ungu. Kalau pH-nya di atas 6, warnanya cenderung pink.
Ayame atau iris. Berita gembira.
Oniyuri, tiger lily. Harta.
Jakoendo, sweet pea. Selamat tinggal.
Sagiso. Habenaria radiata. Pikiranku akan terus mengikutimu hingga ke dalam mimpi.
Suisen atau daffodil. Rasa hormat.
Mokuren atau magnolia, pecinta alam.
Tenjikubotan, dahlia, selera tinggi.
Hinagiku, daisy. Kepercayaan dan keyakinan.
Shirobara, mawar putih, devotion.
Hinageshi, poppy, kenyamanan.
Suzuran. Lily of the valley. Janji untuk kebahagiaan.
花言葉; Karena setiap bunga memiliki arti, masing-masing membawa pesannya sendiri.
🌸 Hanakotoba (花言葉) dalam bahasa Indonesia artinya adalah Bahasa Bunga.
🌸 Aku menemukan buku ini lagi-lagi di aplikasi meminjam buku digital (e-book) yaitu ipusnas. Awalnya sih Aku minjem karena tertarik sama covernya, terus sinopsisnya yang entah kenapa menarik perhatianku untuk membacanya.
🌸 Hanakotoba ini adalah kumpulan cerpen. Terdapat sebelas bab dalam daftar isi, terdiri dari: satu kata pengantar, lalu prolog, baru dilengkapi dengan kumpulan cerpen yang membahas arti serta pesan bunga di dalamnya.
🌸 Hampir keseluruh cerita pendek di dalam buku Hanakotoba ini membahas tentang cinta (tetapi ada juga yang membahas tentang keluarga, juga persahabatan). Pada dasarnya, cerita ini ditulis berdasarkan sudut pandang orang ketiga bernama Ran--Si pemilik toko bunga Hanakotoba yang selalu menerima Pelanggan yang membeli bunga berdasarkan perasaan dan emosi mereka saat itu.
🌸 Kisah-kisah tersebut memiliki benang merah dengan toko bunga Hanakotoba itu tersendiri, bahkan kisah Ran sendiri ditulis pada bab-bab akhir buku.
🌸 Kalau boleh jujur, awalnya Aku gak ada ekspetasi apapun saat baca ini, soalnya memang gak sengaja ketemu aja pas hunting buku 'kan. Dan ternyata memang bagus, bahasa penulisannya juga bagus (agak mendayu, dan semi baku. Memang favoritku sekali), terus karena memang ini membahasa tentang bunga, jadi Aku pribadi suka hehe. Ya walaupun ada beberapa typos, itu hal wajar menurutku.
Buku itu berisi kumpulan cerpen yang masih berpusat pada sebuah toko bernama Hanakotoba yang berarti bahasa bunga.
Setiap cerita punya keunikannya sendiri. Karakter dalam buku ini kebanyakan adalah remaja, tapi mereka benar-benar tau bagaimana cara menyikapi komplikasi (yang bukan hanya percintaan) dengan berpikir dewasa.
Setiap judul cerita diberi nama dan arti bunga itu sendiri. Dan title bunga itu bukan cuma sekedar 'title', tapi menyatukan makna bunga dalam sebuah cerita. (Untuk kamu yang belajar floriography, buku ini bisa dijadikan referensi)
Tiap-tiap twist dalam cerita juga sangat aku suka! Sama sekali gak ngebosenin. Untuk buku yang super lengkap ini kuberi 5 bintang 🌟
"Tiap bunga punya makna tersendiri. Tiap bunga beresonansi dengan emosi dan harapan yang ada di dalam hati. Ketika Ran membuka Hanakotoba - bahasa bunga - untuk mengobati patah hati, seiring berlalunya hari, tak diduganya orang lain merangkai kisah warna-warni dengan puspa yang dipajang di tokonya.
Hanakotoba adalah sebuah kumpulan cerita, terdapat 26 cerita pendek, termasuk prolog, yang berkisah seputar toko bunga yang dimiliki oleh gadis bernama Ran. Ia mendirikan toko bunga Hanakotoba setelah mengalami patah hati karena ditinggalkan oleh pacarnya. Melalui penggunaan bunga sebagai sarana yang tepat, Ran membantu orang-orang yang menghadapi kesulitan saat datang ke tokonya.
Sukaaaa banget dengan kumcer ini. Padahal, awalnya nggak berekspektasi apa-apa. Aku belum pernah baca karya Primadonna Angela -yang terkenal dengan karya-karya teenlitnya- kecuali buku nonfiksinya yang berjudul How to be a Writer.
Hanakotoba ini berisi cerpen-cerpen yang berhubungan dengan bunga. Dan setiap tokohnya pasti akan bersinggungan dengan toko Hanakotoba yang dimiliki oleh Ran. Nuansa kisah di kumcer ini bermacam-macam, ada yang menggembirakan, mengharukan, menyedihkan, bikin semangat, tragis, dan lain-lain. dan aku suka semuanya.
"Karena tiap bunga punya arti. Masing-masing membawa pesannya sendiri."
Hanakotoba berisi sekumpulan cerita tentang cinta—sepasang kekasih, dalam sebuah pertemanan, antara ayah dan anak, dll.—yang enggak cuma manis dan hangat, tetapi juga kadang pahit dan membuat hatimu sakit. Menariknya, enggak seperti tiga kumcer Donna yang pernah saya baca, dua puluh enam cerita dalam kumcer ini dikemas secara apik dan berbeda—memiliki benang merah toko bunga Hanakotoba milik Ran. Cerita yang paling saya suka: Kuchinashi, Sakuraso, Kiiro bara, Oniyuri, dan Ran. Baca kumcer ini jadi tahu arti beragam bahasa bunga ala Jepang ❤️
Kumpulan cerpen juga tapi bagussss banget. Thanks to toko dekat rumah yang lagi-lagi menjual hampir setengah harga.
Sesuai judulnya, Hanakotoba yang bisa dimaknai Bahasa Bunga. Novel ini berisi kumpulan cerpen dengan judul bunga di tiap chapternya.
Tiap chapter akan memiliki tema yang sama dengan makna bunga. Contoh, mawar kuning yang yang artinya pengkhianatan. Jadi dalam kisah itu tentang pengkhianatan dalam sebuah hubungan, diakhiri dengan pemberian bunga mawar kuning.
Mostly kisah romantis. Tapi ini tetap buku yang cantik bangetttttt karena ada ilustrasi bunganya juga.
Kumpulan cerpen dalam buku ini didasari atas setiap makna bunga dalam hanakotoba. Kisah-kisah yang dituturkan sangat kaya akan moral value, mengangkat hal-hal familiar dalam kehidupan seperti percintaan, persahabatan, penghianatan, penyesalan dsb. Selain juga suka dengan gaya penyampaian cerita yang begitu mengalir, karena buku ini, saya jadi mendapat pengetahuan baru tentang beberapa makna bunga.
Hanakotoba merupakan kumcer tentang bunga. Sesuai judulnya 'Hanakotoba' which means bahasa bunga, setiap cerita disajikan dengan berbagai macam bunga yang sesuai dengan perasaan karakternya masing-masing.
Cerpennya bagus-bagus, yang dibahas hal ringan yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ini tu semacam cerita jatuh cinta dan patah hati yang hangat. Dari buku ini saya banyak tahu jenis bunga, nice one to read, kalau kamu lagi malas baca sesuatu yang berat.
Buku pertama dari Primadona Angela yang aku baca. I fell in love with this book. Gaya narasinya, alurnya, diksi, dan semua-semua yang ada di buku ini benar-benar mengalir dari otak sampai ke hati. Mostly cerita dlm Hanakotoba ini romance, dan aku nggak begitu suka sama genre romance tapi semua kisah dalam hanakotoba berhasil mematahkannya. Aku jadi cinta dengan kisah cinta itu sendiri.
Cerita cerita di dalamnya berupa kumpulan cerita pendek dg berbagai macam masalah, mulai dari yang simpel sampai yg sulit. Di Hanakotoba, sebuah toko bunga, dengan Ran sebagai pemilik cerita cerita tersebut menemukan bunga yg cocok untuk mengungkapkan perasaan bukan hanya cinta namun juga keberanian, marah, cemburu, semangat dan kesucian. Favoritku dua cerita pertama.
Overall bagus, sih. Cuma ada beberapa cerita yang biasa aja. Dan cerita tentang pemilik Hanakotobanya kurang mendominasi untuk memberikan benang merah yang lebih apik dari kumpulan cerpen ini. Tapi, tetep suka banget sama cerpen pertama dan kedua.
Kumpulan cerpen yang manis dan hangat. Tiap kisah memiliki benang merah dengan bunga dan hanakotoba. Ceritanya mengalir, bisa dinikmati. Ilustrasinya juga menarik. Beberapa cerpen bertema nyaris serupa. Typo di beberapa bagian agak mengganggu. Selebihnya oke. Tiga bintang.
The language is very easy to digest. The stories are light but not corny. I remember crying to one of the stories. If you want a read during afternoon break, this might be your choice.
Ups, jadi ini kumcer?! Sumpah awal aku tertarik sama buku ini aku kira bukan kumcer. Penasaran aja sih gimana Mbak Donna bikin novel yang berbau bau Jepang gitu. Eh kok tau tau pas baca baru menyadari kalau ini kumcer huahaha.
Biasanya sih aku kalau baca kumcer kurang nyaman ya, nggak tau kenapa. Tapi Alhamdulillah waktu baca ini, aku enjoy enjoy aja tuh. Kebetulan aku baca novel ini pas lagi dalam keadaan emosi. Tau tau pas baca, emosi jadi hilang sendiri. Mungkin pengaruh bunga bunga di Hanakotoba dan Ran ya :D
My fav story ya 2 cerita pertama. Suka banget sama cerita dari sudut pandang Ran. Mungkin kalau cerita Ran diadaptasi jadi novel lagi, keren kali ya hehe. Goodjob, Mbak Donna!
Hanakotoba... Tiap bunga punya ceritanya masing-masing.
Kumpulan cerpen, bercerita tentang bunga yang berbeda-beda, memiliki makna masing-masing. Cinta, persahabatan, kasih sayang, hormat ke orang tua..
Selain karena ada nama gue dan anin yang dipakai oleh teh Don. Ceritanya jleb. Hihi. Kali ini butuh waktu agak lama membacanya, terlalu menghayati bacanya. Hehehe. :-p
Masuk ke genre teelit, tapi sebenarnya bisa dibaca siapa saja. Seperti biasa teh Don ambil cerita dari sehari-hari yang bisa kita liat maksudnya dan terasa seperti pernah mengalaminya.
Mari nabung buat beli buku lainnya dan baca buku lain yang ditulis teh Don! :D