Agak kurang sesuai dengan judulnya, karena hampir yang diperlihatkan sebenarnya hanyalah sebatas interaksi yang terjadi antara Islam dan Kristen serta bagaimana hubungan kedua umat beragama ini di Eropa & Timur Tengah terjalin.
Rentang waktu yang dituliskan dalam buku ini mencakup sejak zaman tumbuhnya Islam di abad ke-7 sampai ke masa keemasan Utsmani, sekitar abad ke 16. Dengan fokus geografis di daerah Eropa dan Timur Tengah. Buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana hubungan antara kedua agama terbentuk.
Damai yang dimaksud disini sebenarnya hanyalah keadaan tanpa konflik semata, atau hidup bersinggungan tanpa ada ketegangan. Bukan konsep damai seperti saling mengerti satu sama lain dan saling berdialog. Saling curiga, menyalahkan, sinis dan hingga tahap paling tinggi - konflik bersenjata - kerap kali terjadi antara kedua belah umat beragama ini.
Apa akar permasalahan dari hubungan yang dinamis ini? Penulis menitikberatkan kepada kedua landasan otoritas yang berbeda antara Islam dan Kristen. Umat Islam mengklaim bahwa mereka adalah yang paling terakhir menerima wahyu Tuhan, sehingga merekalah pewaris wahyu Tuhan yang paling sempurna bagi umat manusia. Beberapa orang dan pemimpin Muslim pada masa itu menganggap dengan otoritas yang sedemikian, maka status umat beragama lain, khususnya Kristen, menjadi lebih rendah dibandingkan dengan mereka.
Sementara, dari pandangan umat Kristiani saat itu, umat Islam adalah umat yang tersesat dari firman Tuhan yang asli, menyimpang dari ajaran yang murni. Beberapa lalu membentuk cerita-cerita tentang perilaku umat Islam dan kebudayaan bangsa Arab yang nomaden dipandang lebih rendah dibanding umat Kristiani yang menetap di perkotaan. Pandangan ini membuat mereka sinis terhadap Islam.
Walaupun begitu, tidak berarti bahwa tidak ada upaya untuk membangun dan meningkatkan hubungan yang lebih jauh lagi antara kedua umat beragama. Kerjasama antara ilmuwan Arab Muslim dengan ilmuwan yang beragama Kristen & Yahudi di instutisi-institusi pendidikan Kekhalifahan Abbasiyah & Umayyah di Spanyol membuktikan bahwa hubungan yang lebih tinggi bisa terjadi antara keduanya. Pun di dunia Kristen Eropa, terdapat beberapa orang yang lebih suka dengan pendekatan dialog dan saling mempelajari antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya.
Buku ini juga menggambarkan bagaimana umat Islam mengalami kemunduran, sementara umat Kristen Eropa justru mulai merangkak naik. Analisis yang diajukan adalah bahwa umat Islam tidak pernah secara serius tertarik dengan nilai-nilai dan kebudayaan Kristen Eropa. Disaat yang sama, kaum cerdas cendekia mencoba menggali ilmu dan nilai-nilai Islam di beberapa tempat di dunia Islam seperti Spanyol, Sisilia, Suriah & Mesir. Gairah menggali ilmu yang diperlihatkan Islam mencapai puncaknya pada saat masa Abbasiyah, yaitu ketika banyak ilmuwan-ilmuwan Muslim yang mencari dan mendapatkan sumber keilmuan dari naskah-naskah dan pemikiran kuno para cendekiawan Yunani Kuno. Setelahnya, pencarian ilmu yang lebih tinggi lagi perlahan-lahan redup dan hilang. Ini diperlihatkan dari semakin menurunnya teks terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin pada abad-abad setelah abad ke 14-15. Menggambarkan bagaimana Eropa mulai dapat menggali dan mengolah ilmunya sendiri. Ini kemudian membentuk jalan bagi hubungan Islam-Kristen yang baru, tetapi sangat disayangkan, tidak dijelaskan lebih lanjut.
Buku ini bermanfaat bagi kita yang ingin mengetahui sudah seberapa jauh kita sebagai umat beragama, khususnya Islam dan Kristen, melangkah. Mengetahui masa lalu dapat membuat kita belajar tentang bagaimana seharusnya kita melangkah kedepan. Tentu setelah mempelajari kesalahan-kesalahan yang dibuat para pendahulu kita, demi memastikan kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, demi hubungan yang semakin harmonis antara kedua penganut agama yang besar ini.