Mafazi, Gus di sebuah pesantren yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin pesantren, sama sekali tidak berambisi untuk memegang tampuk kepemimpinan. Ia sebisa mungkin berupaya untuk tak sering-sering berada di pesantren dan menggunakan waktu kuliahnya sebagai alasan untuk melarikan diri. Sama sekali tak pernah ia bayangkan, tiba-tiba Uminya sakit dan meninggal. Lalu Mafazi dihadapkan pada pilihan yang tak ia sukai; mau tidak mau ia harus bertanggung jawab atas posisinya sebagai anak laki-laki satu-satunya. Satu persatu, masalah datang menghampirinya; Abahnya menikah lagi serta datangnya seorang putra dari istri Abahnya yang bisa mengancam kedudukannya sebagai ‘pangeran’ di pesantren itu. Mafazi pun cemburu, apalagi ternyata Harun, putra tiri Abahnya itu tak hanya cakap tetapi juga memiliki pengetahuan agama yang mumpuni dan berpotensi menjadi pesaingnya sebagai putra mahkota dan pesaing dalam memperebutkan hati seorang gadis.
Pecinta purnama, penikmat hujan. Lulusan Arsitektur Undip. Pengelola PAUD, founder komunitas Hasfriend, pegiat banyak komunitas, Coach dan Public Speaker.
Profilnya dimuat di Harian Analisa Medan (2011) Buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia (KosaKataKita, 2012) Jawa Pos-Radar Semarang (2013) Alinea TV (2014) Koran Sindo (2014) Tribun Jateng (2015) Nakita (2016) TVKU (2018)
Pemenang Favorit LMCR ROHTO 2011 dan 2013. Penulis Terpilih WS Kepenulisan PBA dan KPK 2011, Penulis Terpilih WS Cerpen Kompas 2012, Fellowship IBT Tempo 2018.
Menang Lomba Menulis bersama A Fuadi, dan antologi tersebut terpilih sebagai nominasi kategori Buku dan Desain Sampul Non Fiksi Terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia 2012. Novel Gus masuk short list kategori Desain Sampul Fiksi Favorit Anugerah Pembaca Indonesia 2015.
Penulis Novel Mayasmara.Tulisan dimuat di beberapa media, 22 buku dan 82 antologi/omnibook diterbitkan oleh 17 penerbit Indonesia. Di antaranya: Jendela-Zikrul Hakim, Quanta-Elexmedia, Bentang, Gramedia Pustaka Utama, Leutika, Hasfa, Imania-Mizan, Familia, Qudsi, Bypass, Javalitera, Plotpoint, Grasindo, Diandra, Divapress, Erlangga, Prenada, Nuansa, Visi Media, Indiva, Genesis.
Nuansa islaminyabegitu terasa, banyak meninggalkan pesan-pesan yang bermakna mendalam. Namun sayang, menurutku menjelang akhir buku nuansa keagamaannya tidak begitu kental lagi seperti saat diawal-awal cerita.
Karakter para tokohnya juga begitu kuat, mereka mendapatkan porsi yang sepadan. bahkan sosok sang Ummi yang dikisahkan meninggal dunia di awal cerita masih terasa kehadirannya dikala penulis menceritakan masa lalu berdirinya pesantren, kita juga bisa membayangkan betapa gigihnya usaha beliau untuk membangun pesantren itu.
Secara keseluruhan saya suka buku ini. Memberitahukan saya banyak hal tentang kehidupan pesantren, memberikan beberapa pesan-pesan moral yang bijak, serta mampu membuat saya terbawa suasana terlebih ketika meninggalnya Ummi, tak henti-hentinya saya mengalirkan air mata, tak sanggup rasanya membayangkan bagaimana nanti jika ibu saya juga meninggal? Semua adalah rahasia Tuhan.
Karakter Mafazi sebagai tokoh utama kayaknya kurang mendapat porsi di sini. Di sini malah kesannya seperti "diary Ummi Laili", karena lebih ke cerita perjuangan Ummi dalam membesarkan pesantren Karomah.
Re-read 2017; karena sedang di Bandung dan buku-buku ada di Tangsel semua, jadi saya baca buku yang ada di rak buku rumah saya aja dulu.