Saya sempat khawatir jika saya tidak bisa menikmati Psychic Detective Yakumo: The Place Where The Soul Belongs, karena ini merupakan buku ke tujuh dari Shinrei Tantei Yakumo Series. Namun, kekhawatiran saya ternyata tidak terbukti. Saya masih bisa sangat menikmati ceritanya. Walaupun ada beberapa hal yang masih membuat bingung, tapi secara keseluruhan saya suka. Aura thriller dan horror yang ada pada sampul bukunya berhasil dikeluarkan dengan baik. Lewat gambar tokoh Yakumo yang sedang mengacak-acak rambutnya, ditambah latar berwarna hitam menyatu membentuk nuansa gelap dan suram. Sampul bukunya sendiri terbilang simpel dan sederhana, tapi tepat sasaran. Penempatan judul dan nama penulis yang ditempatkan di samping terlihat pas pada tempatnya.
Novel ini memiliki tema thriller dan horror yang sangat kuat. Ini terlihat saat ketika cerita dibuka dengan hilangnya seorang gadis cilik bernama Yumiko. Di mana Yakumo, Haruka, dan Gotou ikut menyelidiki dan mencari Yumiko yang dicurigai dirasuki oleh sesosok makhluk halus. Selain ada kasus supranatural, terdapat pula kasus kriminal yang dilakukan oleh Miyuki Nanase. Kedua kasus tersebut secara tidak langsung terhubung dengan benang merah yang sama. Menurut saya aura dan nuansa horror yang dibangun sangat terasa. Lewat tempat-tempat penyelidikan yang di datangi oleh Yakumo hingga para tokoh yang terlibat dalam hilangnya Yumiko. Semuanya menyatu dan bercampur menjadi satu buah cerita yang cukup membuat bulu kuduk merinding. Tak hanya itu, penulis juga memasukkan beberapa humor lewat interaksi Yakumo dengan Gotou. Terkadang interaksi mereka bisa membuat saya senyum-senyum hingga tertawa.
Terdapat lima tokoh sentral dalam novel ini, yaitu Yakumo Saitou, Haruka Ozawa, Kazutoshi Gotou, Yuutaro Ishii, dan Masato Omori. Yakumo memiliki karakter yang cuek, dingin, dan berantakan. Yakumo punya kebiasaan untuk mengacak-acak rambutnya. Dan jangan harap untuk menang saat berdebat dengan Yakumo. Sedangkan Haruka memiliki watak yang ceria, bersemangat, dan perhatian. Saking perhatiannya Haruko selalu merasakan rasa sedih dan bersalah yang dirasakan oleh Masato. Kemudian ada Gotou yang bersifat blak-blakan, berani, dan cuek. Namun, jika sudah menghadapi Yakumo, Gotou pun tak bisa banyak mengelak. Selanjutnya ada Ishii yang merupakan bawahan Gotou. Ishii memiliki sifat yang ceroboh dan penakut. Terakhir ada Masato seorang bocah yang memiliki masa lalu yang buruk. Masato memiliki karakter yang setia kawan dan polos. Semua karakter yang dibentuk oleh penulis terasa sangat hidup. Saya bisa merasakan betapa cueknya Yakumo, kepolosan Masato, hingga kepedulian Haruka. Walaupun latar belakang setiap tokoh tidak terlalu digali, tapi entah kenapa atmosfer setiap tokoh begitu terasa kehadirannya.
Penggunaan sudut pandang orang ketiga dalam ceritanya memberikan pandangan yang utuh akan kasus yang sedang diselidiki oleh Yakumo dan kawan-kawannya. Alur ceritanya sendiri berjalan dengan cepat dan mengalir. Tidak ada narasi yang panjang dan lebih menonjolkan dialog-dialog antar tokohnya, membuat saya nyaman dan lancar untuk segera menyelesaikannya. Gaya bahasanya ringan dan sederhana dengan beberapa istilah budaya Jepang di dalamnya. Hasil terjemahannya terbilang baik dan mudah dimengerti dengan disematkannya beberapa catatan kaki untuk beberapa istilah. Latar tempat yang dipakai tergambar dengan jelas. Seperti hutan, pegunungan, hingga rumah kosong. Semuanya semakin menambah atmosfer muram dan suram dalam jalan ceritanya.
Pencarian Yumiko yang dilakukan oleh Yakumo, Haruka, dan Gotou semakin kompleks saat konflik terjadi, yaitu ketika fakta keberadaan sebuah sosok yang merasuki Yumiko terkuak. Selain itu dengan buronnya Miyuki Nanase semakin menambah peliknya konflik yang berlangsung. Meskipun pada awalnya konfliknya berjalan secara terpisah, tapi di akhir konfliknya menyatu menjadi sebuah konflik yang menegangkan sekaligus menggetarkan. Benang merah yang sama pada akhirnya menyatukan kedua konflik tersebut. Saya sangat menikmati setiap konflik yang terjadi. Di mana pencarian dan penyelidikan yang dilakukan oleh Yakumo selalu membuat penasaran di setiap langkahnya. Satu hal yang paling membuat saya penasaran adalah kasus apa sebelumnya yang dihadapi Yakumo tentang Miyuki Nanase. Jujur saya jadi ingin membaca buku-buku sebelumnya.
Meskipun di awal cerita sempat bingung dan keteteran untuk memahami hubungan Yakumo, Haruka, dan Gotou yang sudah terjalim kuat, tapi semakin dibaca ceritanya bisa mengalir begitu saja. Saya juga penasaran dengan asal muasal Yakumo, pertemuannya dengan Haruka dan Gotou, hingga kejadian apa yang dialami oleh Masato di masa lalunya. Namun, saya cukup puas saat membaca Psychic Detective Yakumo: The Place Where The Soul Belongs. Di mana unsur thriller dan horror yang diberikan bisa seimbang dan saling melengkapi. Di satu sisi kita diajak untuk menyelidiki sebuah kasus, tapi di sisi lain kita juga dibuat merinding dengan kisah supranatural yang ada. Secara keseluruhan Psychic Detective Yakumo: The Place Where The Soul Belongs merupakan adaptasi novel dari komik yang tak hanya sekadar menghibur, tapi juga mencekam.