Shoko Hidaka (native name: 日高ショーコ) is a Japanese mangaka unit. The drawings are by Shoko Hidaka, and the stories are by Takie (タキエ) but the author name is always "Shoko Hidaka".
Wah, ternyata buku ini belum saya masukin ke rak Goodreads! Wajar aja belum, toh saya baru baca skimming, belum bener-bener dibaca tiap hurufnya ahahaha~ Maafkeun, tiap kali liat buku-bukunya Hidaka Shoko saya pasti nge-down duluan ngeliat dialognya banyaaaak dan kecil-kecil dan rapet-rapet :") Mengutip perkataan teman saya (yang seorang fujo tapi langsung mundur teratur begitu ngebuka Yuutsuu na Asa): "Capek liat teksnya".
Jadi, yak, blablabla-Hashi ni Yuku ini (judulnya kepanjangan, saya cuma inget Hashi ni Yuku doang, kadang ketuker sama Hokuhokusei ni Kumo to Ike gegara kanji terakhirnya sama-sama "pergi") bercerita tentang perjuangan suatu keluarga pemilik toko kelontong tradisional jepang--tipe-tipe toko tradisional yang nantinya akan terkena pengaruh Barat dan berubah menjadi "department store" di zaman modern--yang terombang-ambing di zaman Meiji begitu Jepang mulai membuka diri ke dunia luar. Toko kelontong (iya, terjemahan si Gie jelek banget, "kelontong" gitu, tapi gak nemu padanan kata yang pas di bahasa indonesia selain "kelontong") "Mitsuboshi" sudah berdiri sejak zaman Edo dan bahkan pernah menjadi toko khusus yang melayani kebutuhan Shogun pada masa-masa kejayaannya. Namun, zaman yang bergerak begitu cepat akibat Westernisasi membuat Mitsuboshi kehilangan pijakan: apakah akan tetap mempertahankan ketradisionalannya ataukah ikut berlari mengejar zaman?
Putra ketiga keluarga Hoshino yang juga pemilik Mitsuboshi, Triyono Torasaburo, baru saja pulang dari studinya di Inggris selama tiga tahun. Dia yang sejak dulu menghindari permasalahan bisnis keluarga, ternyata saat pulang pun tidak diterima dengan baik oleh para pegawai Mitsuboshi. Dia dianggap anak males dan cuma buang-buang duit toko buat gegayaan studi ke luar negeri, hampir semua pegawai tokonya memandang remeh dia. Hanya kakak sulungnya, Eko Aritora, yang tetap yakin kalau dia berbakat dalam berbisnis.
Di sisi lain, ada Mas Elang Takato Reiji (namanya aja ganteng) yang gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba dateng kucluk-kucluk ke Mitsuboshi buat menemui Torasaburo. Dan tau-tau pula langsung adu tinju! Lolol Ternyata Torasaburo dan Takato itu kenalan di Inggris, yang saking deketnya hubungan mereka, Torasaburo sampai nangis-nangis memohon pada Takato (perhatian: ini mengutip pengakuan Takato secara sepihak) buat ikut dia pulang ke Jepang (yang tentu aja dicuekin Takato, dia itu sadis!!). Masih belum ada kisah masa lalu yang dibongkar di jilid 1 ini mengenai hubungan Torasaburo dan Takato selama di Inggris: gimana mereka berkenalan, gimana bisa jadi seakrab itu, gimana hubunganmereka sebenarnya. Habisnya, Torasaburo semacam ketergantungan berat sama Takato! Waktu dia baru pulang ke Jepang dan lihat kondisi kakak dan tokonya pun, yang langsung terlintas di pikirannya itu: Takato, seandainya kamu ada di sini... (iya, atmosfer bromance begitu kental di komik ini, maklum pengarangnya kelahiran genre BL). Konon, Takato itu orang super kaya. Dia bahkan mengeluarkan uang pribadinya buat menyewa gedung ala barat untuk dijadikan lokasi baru Mitsuboshi.
Begitu Takato muncul, gak lama berselang tiba-tiba Aritora--kakak sulung keluarga Hoshino sekaligus kepala toko Mitsuboshi--menghilang tanpa jejak! Dia juga disinyalir membawa kabur semua simpanan di bank dan di brankas toko, bahkan meninggalkan banyak surat utang! Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan Kak Aritora selama tiga tahun kepergian Torasaburo ke Inggris? Mitsuboshi yang di ambang kebangkrutan, kini terpaksa mengangkat Torasaburo, si putra bungsu, sebagai pemilik Mitsuboshi yang baru (bersama Takato yang tidak jelas asal-usulnya sebagai asistennya).
Selain pertanyaan-pertanyaan yang gamblang di cerita, saya juga mempertanyakan beberapa hal lain: Anak kedua keluarga Hoshino di mana? Yang muncul selama jilid 1 cuma anak sulung dan bungsu; tampaknya Takato punya tujuan khusus sehingga dia rela membantu Torasaburo dan bisnis keluarganya, saya curiga dia dulunya punya bisnis keluarga juga di Jepang yang kemudian dibuat bangkrut oleh oknum-oknum yang menurut hipotesis saya (sok keren banget si Gie) adalah oknum-oknum yang sama yang telah menjerat Aritora ke dalam lingkaran utang.
Begutulah! Saya gagal mendapatkan first press untuk jilid keduanya! Sedihnyaaaaa... Ini gara-gara saya bokek + toko daring langganan tutup (beli dari toko lain lebih mahal) + baru ngabisin duit di diskonan Kino. Begitulah! Silakan, saya menerima sponsor-sponsor yang mau membelikan saya jilid 2 seri ini dengan imbalan review dan sedikit terjemahan /frustrasi banget si Gie/
Btw, btw, nama "Triyono", "Elang", dan "Eko" adalah nama-nama lokalisasi para tokoh di sini yang saya ciptakan sendiri saking isengnya lololol~ Habisnya, nama-nama para tokohnya "ndeso" versi Jepang gitu, jadinya saya gatel pingin bikin "ndeso" versi Indonesianya juga.
Btw, btw lagi, Hidaka Shoko emang piawai meramu kisah-kisah zaman Meiji-Taisho, ya! Saya senang karena kami punya minat yang sama untuk kisah-kisah historikal di zaman tersebut~ ufufufu!