Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bakat Menggonggong: Kumpulan Cerita Pendek

Rate this book
Bakat Menggonggong merupakan buku kumpulan cerita pendek pertama Dea Anugrah yang telah mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya dipilih sebagai salah satu Buku Indonesia Terbaik oleh majalah Rolling Stone Indonesia pada 2016 dan masuk daftar-pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017. Kemudian mendapatkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2020.

Dalam kumpulan cerita pendeknya, Dea Anugrah mempekerjakan seorang juru kisah yang cerewet, sok tahu, sinis, dan kadang tak patut dipercaya. Sang narator membingkai berbagai momen dalam hidup, mulai dari masalah rumah tangga hingga situasi hidup-mati dalam perang, dan mengizinkan pembaca ikut menyaksikannya.

Semua cerita-cerita pendek dalam terbitan terbarunya ini juga mendapatkan sentuhan ilustrasi karya Arwin Hidayat yang menambah daya pikat Bakat Menggonggong.

122 pages, Paperback

First published August 1, 2016

60 people are currently reading
494 people want to read

About the author

Dea Anugrah

13 books451 followers
Dea Anugrah is a writer based in Jakarta, Indonesia. His most recent poetry collection Misa Arwah (2015) was longlisted in 2016 Khatulistiwa Literary Award. His collection of short stories Bakat Menggonggong (2016) was recognized by Rolling Stone Indonesia magazine as one of the best Indonesian books of 2016; it was also shortlisted in 2017 Khatulistiwa Literary Award. He regularly writes essays and journalistic reports for Tirto.id.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
131 (20%)
4 stars
277 (44%)
3 stars
183 (29%)
2 stars
24 (3%)
1 star
11 (1%)
Displaying 1 - 30 of 138 reviews
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
September 15, 2016
Di BuzzFeed ada artikel berjudul "29 Short Stories You Need To Read In Your Twenties", cerpen-cerpen yang direkapnya memang pada enak, dari para penulis beken kayak Joyce, Hemingway, Cortazar, Bradbury, Salinger, Wallace, Vonnegut, Lahiri, sampai Junot Diaz, yang jadi pertanyaan, kenapa enggak digenapin aja jadi 30 sih? Tentu, bikin tulisan soal daftar rekomendisi banyak rentannya, utamanya dikomentarin para fanboy dari yang idolnya enggak disebutin, mana Borges? mana Kawabata? mana Gabo? mana Murakami? mana Bolano? mana Tony Tulathimutte? mana Dea Anugrah? Untuk dua terakhir, lebih-lebih yang paling akhir, penulis orde milenial ini memang belum pantas masuk sih, meski cerpen-cerpen mereka boleh dibaca buat kamu-kamu para bajingan yang masih di usia 20an. Baiklah, seperti cerpen-cerpen tadi yang bisa dengan mudahnya didapatkan lewat internet, ada banyak cerpen dalam "Bakat Menggonggong" yang sudah saya baca. Google saja dengan kata kunci 'cerpen Dea Anugrah'. Hey, dalam rangka memajukan dunia literasi Indonesia, ada baiknya membeli buku-buku rilisan penerbit indie. Saya beli di Kineruku cuma 35 ribu saja, sehabis sarapan siang dengan mie ayam seharga 12 ribu, setelah sebelumnya kursus Bahasa Korea di UPI, jadi masih ada kembalian, untuk kemudian, dengan menambahi goceng, saya belikan jus alpukat, yang saya minum sembari baca buku kumcer ini. Hmm, cerpen-cerpen nu di internet ieu mah, pikir saya, sambil terus baca. Beragam cerpen eksperimentel sok avant-garde, ada yang pinjam kamera After Dark-nya Murakami, narasi ala Ginsberg, juga beragam gaya dari para berak kesusasteraan dunia, dengan beraneka referensi pada budaya pop. Bacaan asyik, tiga setengah kali lebih seru ketimbang baca kolom komentar Youtube. Ah ya, suatu hari nanti, kalau udah jago, saya merasa perlu untuk menerjemahkan karya dari penulis muda yang sering disebut pemuda Korea ini, yang gantengnya udah mirip Song Joongki ini, kalau-kalau ada Pyongyang Writer Festival. Hehe. Di Twitter, saya pernah berkelakar buat bikin fanbase DeAddict, mungkin kamu mau ikutan?
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
March 24, 2017
Lucu, penuh gaya, sarkastis, dan penuh sindiran. Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan cerpen-cerpen Dea Anugrah di buku ini.

Kita ambil contoh dari cerpen pertama di buku ini, 'Kemurkaan Pemuda E'.

Kita tahu Pemuda E sedang gelisah. Sama gelisahnya dengan seekor coro yang tergelincir ketika melakukan pendaratan darurat dan mendapati dirinya dalam posisi terbalik. Ia sedang marah. Sama marahnya dengan seorang taipan Arab yang diberitahu bahwa seluruh penghuni haremnya sedang haid, kecuali seorang saja, yang sudah menopause dan bahkan tidak akan membangkitkan birahi seekor keledai. (hal. 2)


Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda bernama E yang sedang marah. Gaya berceritanya membuat pembaca seolah sedang mendengarkan seorang penjual yang menjajakan jualannya. Dalam amarahnya E, pembaca juga bisa merasakan geli, entah karena narator mengatakan sesuatu yang menggelitik atau karena E marah pada hal-hal kecil. Ceritanya sendiri diakhiri dengan gaya berputar.

Ada juga berbagai sentilan lainnya di buku ini. Ada yang ditujukan kepada seorang mantan menteri ('Acara Tengah Malam'), seorang penulis Indonesia ('Perbedaan Antara Baik dan Buruk'), atau kepada suami-istri yang lebih peduli pada pembagian harta daripada masalah hak asuh anak ('Kisah Sedih Kontemporer (IV)').

Yang merepotkan dari kumcer ini adalah beberapa ceritanya yang punya akhir yang terasa tidak selesai, serta cerita dengan akhir yang sulit dimengerti. Bisa dibilang kalau beberapa ceritanya adalah jenis yang bisa dibahas di dalam kelas bahasa, andaikan ada materi analisa cerpen di pelajaran bahasa di sekolah kita.

Secara keseluruhan, Bakat Menggonggong menyajikan cerita-cerita yang lucu dan nakal dengan akhir yang kadang membingungkan.

Let's meet on social media:
Instagram | Twitter | Youtube
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
November 9, 2016
Agak benar bila ada gosip yang mengatakan dan sepertinya ini bukan sekadar gosip, kalau Dea Anugrah adalah masa depan sastra Indonesia. Kenapa? Di buku ini aku suka sekali Dea bercerita dan membangun narasi. Yaaa kayak begitulah cerita. Ada humor satir, ada kekonyolan, dan ending yang tidak terburu-buru. Tetapi cerpen jagoanku ialah Kemurkaan Pemuda E. Adegan dia membuka kaleng acar kemudian dia menggerundel itu cocok banget menurutku. Dan sampai sekarang tidak bisa membayangkan orang makan roti bakar pakai acar. Sinis? kocak? juga ironi seorang anak muda cerdas.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
February 28, 2017
*dibaca bulan februari tapi masuk ke rekapan bulan maret

sudah tau buku ini bahkan sejak sampulnya dikerjakan (karena kebetulan dikerjakan oleh seorang kenalan), tapi entah mengapa selalu merasa, tar aja ah ''kenalan sama mas deanya''. akhirnya benar-benar penasaran saat membaca hasil poll buku pilihan Rolling Stone kemarin dan buku ini ada di dalamnya. untung ada teman yang mau meminjamkan yang sayangnya justru membuat saya kesal karena sepertinya harus punya cetaknya sendiri biar bisa dibaca kapan-kapan lagi :'(

***

salah satu hal yang menyenangkan dari membaca karya seseorang yang ''sedikit'' kita kenal adalah, kita tidak pernah tau cerita macam apa yang akan dia buat. termasuk buku ini. ''branding'' mas dea yang saya dapatkan sedikit berbeda dari orang kebanyakan ya karena saya pernah ketemu dia (kalau gak salah liat) saat sedang bersama adikadik idol. mas dea dalam ''mata'' saya adalah; beliau ayana shahab oshi, temannya mas benji, suka tidur dan bisa nyambung tiap ngobrol di grup wassap sama mas dony iswara.

jadi waktu saya akhirnya memiliki kesempatan untuk membaca ini, saya benar-benar tidak menduga kalau ada (sepertinya) beberapa cerita yang mengisahkan orang2 terdekat mas dea yang sedikit-banyak saya kenal. rasanya kaget, tidak percaya, tapi juga kagum gitu.

menurut saya, adalah suatu kehormatan banget ketika ''diri kita'' menjadi inspirasi atau bahkan dikenang oleh seseorang dalam bentuk tulisan (meskipun tulisan yang berisi hinaan sekalipun). waktu saya merampungkan buku ini, saya langsung bertepuk tangan kagum dan salut yang membuat saya dimarahi nenek saya ''apaan sih tengah malem jam 11 tepok tangan gak jelas sendiri?!!!''

***

saya sedikit banyak menyutujui beberapa review orang yang sudah membaca buku ini, ini bukan buku kumpulan cerita berjenis ringan penuh janji manis cinta dan berakhir bahagia. kamu harus benar-benar fokus kalau sebelumnya kamu tidak biasa membaca jenis tulisan seperti ini (atau setidaknya tulisan mas dea). tapi meski begitu, cerita-cerita disini juga tidak bisa dikatakan sedih semua. kalau diminta menggambarkan 2 kata untuk buku ini maka jawaban saya adalah hidup dan segar.

nah, kalau kamu sudah bisa fokus untuk mencerna buku ini, maka mungkin sedikit banyak kamu akan setuju bahwa kumpulan cerita disini ini lebih mirip diary mas Dea. beberapa cerita ada yang kisah dongeng gitu sih, tapi saya membayangkan ''itu'' mas dea. jadi ya tak nyambung2in aja gitu.

cerita kesukaan saya tentu saja Kisah Sedih Kontemporer XII karena sepertinya saya tahu betul siapa yang dimaksud dengan Loko. Loko yang menyukai dan membenci boksen karena perempuan, menyukai dan membenci kucing karena perempuan, film-film jepang karena perempuan, novel-novel Rusia karena perempuan, gaya hidup generasi beat, lukisan Jackson Pollock, musik space rok, kembang Anggrek, sepatu but, sulap, karena perempuan belaka.
Loko yang menyukai kebun binatang saat hujan karena bisa bersama fluffy fluffy wqwq (dah dah ampun bg :'()

waktu membaca cerita itu saya langsung ''semangat'' dan ''kaget'' karena wah, mas dea menuliskan kisah sahabat dekatnya. saya tahu mereka berdua sangat dekat dan akrab, tapi agak kaget juga mas dea menceritakan kisahnya begini. kagum. kagum banget.
gatau sih cerita yang ditulis itu 100% benar atau dengan banyak bumbu disana-sini, tapi saya merasa ada penghormatan yang begitu besar dari mas dea pada mas "Loko'' ini. dan menemukan ''kepingan rasa sayang(blah)'' itu di buku ini berhasil membuat saya jadi..apa ya,,.kayak cemburu dan seneng sendiri gitu

dan waw ternyata mas loko dah punya mantan 13 ya mantap bener hmmmmmmmmmmm

surem panjang bat curhatnya.

ya gitulah hadeeh.

Intinya adala~

kalau seandainya buku ini dibuat film, maka yang cocok memerankan sebagai mas Dea (atau setidaknya tokoh utama buku ini, siapalah itu, Rik misalnya) adalah aktor Jepang Shometani Shota. sklebat, pas adegan di sungai, saya membayangkannya beliau. pas adegan berduaan dengan Loko pun saya mbayanginnya Shometani Shota. kalau untuk yang meranin loko..hm, tadi pagi saya mention orangnya di twitter kira2 yang cocok meranin dia kalau dibuat film siapa belum dibalas sih. mungkin Eita kali ya, atau Rhoma Irama? ets jangan marah bang wqwq

Tapi selain Cerita Sedih Kontemporer XII, sejujurnya hampir semua cerita di buku ini saya suka. Ada 14 cerita, dan meski saya bilang tadi butuh rasa fokus untuk mencerna setiap kisahnya, tapi saya jamin begitu halaman ini selesai kamu ingin lagi. nambah. kurang.

beberapa kutipan kesukaan mungkin yang ini

''jadi menurutmu, bantuan apa yang kita bisa berikan pada orang dewasa yang tidak sanggup menyelesaikan masalahnya, sementara kita sendiri tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut?''

''sudah coba-coba buku how to?'' Linda berpikir ada banyak masalah di dunia ini. dan kalau mereka semua menuliskannya di buku berarti tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. tinggal cari saja di setiap buku itu

(pause)
(isi kutipannya kurang lebih begitu, saya agak lupa)

saya ngakak disini. ngakak kenceng banget sampai hampir menangis hhhh. ini mas dea kayak nyindir buku2 how to gitu tapi ''menyindir dengan cerdas''. sebagai orang yang sejak pertama kali bisa baca justru baca buku2 how to daripada baca komik, jelas saya merasa agak tersindir. tapi juga merasa lucu. bera bener dah pokoknya.

(kelanjutan ceritanya baca sendiri di bukunya yha)

suka!

tapi 4 bintang saja karena duh, pilihan font dan tata tulisannya terlalu rapat dan bikin mata saya agak pusing.
dan karena terlalu tipis! encore-nya mana oi!

jadi penasaran dengan buku puisinya. yang punya mungkin berminat meminjamkan hehe hehe hehe (dasar nggak modal)


___
update, barusan mas loko membalas mention katanya cocok diperankan oleh Max Rockatansky. Max dan Sometani Shota???? Jahhh jauh bang. jangan kekar-kekar nanti dedek ddt takuts


bonus, video delapan orang gadis yang ternyata sudah ditonton sebanyak 7207x oleh Loko dan temannya https://youtu.be/6M2y05Gf40I

Ena
dah dah
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
March 22, 2018
MENGENDUS AROMA DI LUAR GONGGONGAN DEA

Dea Anugrah pandai menggonggong.
Ya, Jika kau wartawan, cerpen-cerpen Dea Anugrah dalam Bakat Menggonggong seperti narasumbermu yang meracau. Ketika ditanya, “Bagaimanakah kau menghentikan kesedihan Wanda, Rik?”, sebagai balasannya, Rik, narasumbermu itu, akan terlebih dahulu berbicara mengenai mengenai sejarah keluarganya yang berasal dari kekaisaran Utsmani di Timur Tengah, lalu beralih tentang cuaca malam itu yang sangat gerah, tentang gaun yang Wanda kenakan, rimpel warna biru yang Rik nilai menambah kecantikannya. Tak sampai di sana, sebelum menjawab dengan tegas dan lurus pertanyaanmu, kisah Rik masih menumpang pada bentuk sayap kupu-kupu aneh yang ia jumpai pagi tadi, dan turut mengapung pada sepoi angin di sekitar kalian, sebelum akhirnya mendarat halus pada kesimpulan yang membuatmu gemas: Rik tak kunjung menjawab pertanyaanmu! Hahahahaha.

Intinya, jika kau penggemar cerita yang bermuatan pesan moral, segera tutup dan lemparkanlah kumpulan cerpen ini ke tempat sampah. Sebab untuk mengetahui maksudnya, apalagi muatan moralnya (itupun kalau ada), kau harus tetap fokus. Jangan terpancing oleh sayap-sayap cerita yang dihadirkan oleh bocah kelahiran Bangka, ini. Karena, kalau sedikit saja perhatiammu teralihkan, maka yang kau dapati adalah kehampaan. Busa-busa obrolan yang tak kau tahu kapan selesainya. Karena, seperti yang kusampaikan di awal tulisan, Dea begitu memukau. Selain karena ketampanannya, ia pandai menggonggong.

Seperti cecabang, itu yang Dea katakan. Untuk tahu di mana letak pokok pohonnya (inti ceritanya, pen.), kau harus memangkas cecabangnya yang berserabut itu. Tapi sayang kan, nanti pohonnya gundul. Ga bisa bikin teduh lagi. Sebab cerita sendiri, masih kata Dea, tak semua haruslah linear. Ada teknik bercerita yang dibuat melingkar, dibuat sporadis, menyebar dan melebar. Itulah Dea Anugrah.

Saranku, ketimbang kau menggundulinya, menikmati cerita-cerita Dea sebagaimana awal aku menikmatinya (dengan cara menebang cecabang itu dan mencari maknanya), kusarankan Anda menikmatinya dengan cara yang lain. Dengan cara yang kulakukan setelah aku bertemu Dea dan mendapat pencerahan. Seperti jika kau selama ini tak suka makan sayur, sesekali belajarlan makan sayur di samping menikmati kriuknya kulit ayam yang gurih dan kaya lemak.

Ya, jujur, kesan awal ketika aku membaca kumpulan cerpen ini (baca: Bakat Menggonggong) adalah: Mem-bing-ung-kan. Jenis naskah yang tak mudah dan tak langsung saya sukai. Seperti lagu dangdut. Saya membutuhkan bantuan orang lain untuk memahami ritme dan nadanya. Memahami makna lagunya. Hingga akhirnya, saya terpukau. Ikut-ikutan mengetukkan kaki, tangan, lalu mengeleng-gelengkan kepala dan terakhir, sebagai bentuk puncak ekstase, badan saya pun bergetar, bergoyang, mengikuti irama yang dihasilkan.

Kejangalan Pemuda E di hari itu saat membuka tutup toples acar, penjual bensin bermata biru yang memakan bangkai kakek buyutnya, nasib pengarang naif yang tak jua insaf ketika dimanfaatkan oleh teman-temannya, dan kisah percintaan waria yang tempatknya dikalahkan secara telak oleh perempuan buruk rupa, adalah ragam menu yang ditawarkan Dea dalam buku berisi 14 cerpen ini.

Ini pengalaman baru. Dan... tidak semua orang, tak semua pembaca bakal terampil menikmati pengalaman baru tersebut. Seperti catatan pembacaan yang sempat saya tinggal di Goodreads:

“Tak semua cerita yang ada di buku ini saya paham. Ini ladang yang baru. Semacam pertama kali kau berenang di tempat yang asing. Ada rasa was-was dan sensasi untuk memasukinya, mencelupkan dirimu ke airnya yang dingin. Cara Dea bercerita pun seperti misi GPIB: Meracau. Sari utara, timur, barat, selatan, tak ada maksudnya. Intinya sih, kau duduk makan bersama, untuk mendengarkan cerita-ceritanya yang dibuat Dea.”


Hahahaha. Tapi, kalau pertanyaannya akhirnya kau ubah menjadi: Apa yang kau harapkan dari membaca buku ini? Apa yang bisa kau pelajari dari peraih nominator KLA 2015 dan 2016 ini? Atau lebih jauh: Apa yang kau harapkan dengan mendatangkan Dea Anugrah ke acara Berkomunlis di Probolinggo? Tak seperti Borges (dimana Anda akan ditanya kembali dengan apakah gunanya burung berkicau), saya akan menjawabnya dengan: Membentuk pengalaman membaca yang baru. Ya, menikmati cita rasa karsa dan aroma aksara yang belum pernah kau cicip, yang berbeda dengan yang selama ini kau nikmati. Syukur-syukur bisa belajar darinya, belajar dari yang tak tertulis, yang tak dinampakkan pada karya-karyanya.

Ya, Sejak kedatangan Royyan (Royyan Julian, pen.) pada Berkomunlis #1, cara menulis resensi saya berubah. Kalau sebelumnya saya dingin, hanya menilai kualitas karya hanya dari karya itu sendiri (meniadakan bayang-bayang penulisnya) ala Roland Barthes, kali ini saya memandang karya secara utuh. Ia (baca: karya) begitu kompleks. Dia seperti pucuk gunung es yang menyembul di permukaan lautan. Ia hanya sekelumit (sari) pengetahuan, pengalaman dan empati penulisnya.

“Perlunya mempelajari teks berdsarkan konteks agar bisa mempelajari sejarah dengan sudut pandang yang lebih luas,” itu yang diungkapkan senior Maman S. Mahayana dalam bukunya Pengarang Tidak Mati. Maka, perlunya pula mempelajari Dea secara konteks agar tidak terjebak pada pikiran yang sempit, yang terburu membuang buku ini ke tempat sampah.

Saya ingat, dalam salah satu sesi tanya jawab di radio, sempat saya melemparkan beberapa pertanyaan sekaligus pada Dea Anugrah: “Dea, apa yang kamu tulis dalam bakat menggonggong dianggap sesuatu yang baru, pembaruan dalam dunia sastra. Apakah ini benar-benar genre yang baru? Kalau memang ia, kau sebut apa genre cerita yang seperti itu?”

Dengan sopan Dea menggeleng, lalu menjelaskannya. “Sebenarnya tidak. Hanya kitalah yang mungkin kurang mengenal, membaca dan mengetahui karya-karya jenis ini. Jujur, saya banyak terinspirasi dari cerita-cerita yang saya baca. Kisah-kisah angkatan baru dari Amerika Latin misalnya. Dan saya menulis cerita yang saya suka untuk membacanya.”

Di situ, bisakah kau tangkap keteguhannya? Kepercayadiriannya? Darinya saya belajar bahwa untuk menjadi seorang penulis, kau harus percaya pada cerita-ceritamu. Termasuk, kata Dea, percaya pada pembaca-pembacamu.

Poin ketiga, dan saya harapkan ini yang terakhir (sebab saya ingin Anda pun bisa menilainya sendiri), Kepercayadiriannya ini mengantarkan simpulan saya pada keteguhan Dea dalam mendobrak monopoli penerbitan dan angkatan sastra. Lihatlah kedua buku yang telah diterbitkannnya –Bakat Menggonggong dan Misa Arwah, mungkin saja diterbitkan oleh salah satu penerbit besar yang memonopoli pendistribusian dan penjualan buku di tanah air, namun Dea tetap memilih untuk menjadi penulis yang rendah hati. Ditangani dan diterbitkan sendiri oleh teman-temannya, sahabat-sahabatnya.
Profile Image for Ardhias Nauvaly.
66 reviews3 followers
May 28, 2025
Di ulasan saya atas novelnya Dea, "Hari-Hari Mencurigakan", saya membenarkan siapapun yang bilang kalau dia adalah pencerita terbaik dari generasinya. Betapapun kebenaran itu berulang di kumcer yang saya baca untuk ketiga kalinya ini, saya tidak perlu mengulang puja-puji itu. Di kumcer ini, lagi-lagi Dea mampu mengerek seni tulis-menulis keluar dari sangkarnya, bisa dinikmati sebagaimana kita menikmati seni gambar atau bunyi2an: Meski diulang-ulang, kita akan terus menemukan keindahan baru di dalamnya. Bagi saya, kehebatan kumcer ini, dan Dea Anugrah itu sendiri, adalah di suara.

Kita, setidaknya saya, merasa, "Dea, ceritalah tentang apa saja. Dan kalau 'apa saja' yang kau maksud adalah tentang mitos buaya putih yang kau tidak begitu paham di sebuah tempat yang kau tidak begitu akrabi, atau tentang pria yang kepergok pacar bancinya sedang menggenjot perempuan yang bukan pacarnya dan bukan banci di petak bedengnya di Asrama Mahasiswa Aceh, atau tentang penyair bosok yang ditinggal kawin pacarnya untuk di kemudian hari mengirim pesan minta tolong sumbang vote untuk kontes bayi sehat, ya saya bakal mendengarkannya."

Kepercayaan penuh itu ya jelas karena suara.

Dan karena suara pula lah, tulisan-tulisan Dea saya letakkan sebaskom dengan musik dangdut, gitar listrik, dan cengkok melayu: sebuah seni bebunyian, atau musik. Saya membaca kumcer ini untuk ketiga kalinya sementara saya bukan tipikal pembaca yang gemar mengunyah berkali-kali buku yang sudah-sudah. Fakta itu sendiri sudah mengatakan sesuatu, bahkan segalanya, bahwa kumcer Dea ini adalah buku yang punya seribu pintu masuk dan seribu satu pintu keluar alias nggak bosenin.

Praktis, selain sebaskom dengan seni musik, kumcer Dea ini berjajar pula dengan "all-time most favorite book" saya: Al-Qur'an, dalam perkara bisa dibaca kapanpun, berapa kali pun, kita bisa dapat nuansa yang berlainan.

Bedanya, Al-Qur'an mengajarkan pedoman bersuci, tata cara pembagian warisan, dan pantangan berkata sekadar "uh" kepada orangtua; dan "Bakat Menggonggong" tidak.

Sebab, jelas, Dea berbakat menggonggong atau bercerita, bukan memberi pedoman. Dan seringkali, yang bikin hidup ajur ini lebih tertanggungkan itu bukan perintah, tapi kisah yang bilang bahwa segalanya remuk tapi masih ada satu-dua yang bisa dirayakan syukur2 diharapkan.
Profile Image for Ikra Amesta.
149 reviews29 followers
September 16, 2019
Mengakhiri kalimat penutup di buku ini, dengan lembar-lembar halaman yang wanginya masih awet seperti waktu dibeli, saya langsung menangkap 1 kesan yang hinggap di benak: kontemporer. Beberapa hal lalu-lalang di kepala seperti gempa waktu, "titit bule biasa aja", atau seonggok besar kotoran manusia di atas perut ibu (yang ini, tentu saja, tidak cukup hanya dibaca tanpa dibayangkan), dan muaranya selalu menuju ke kata tersebut. Sayapun tergoda dengan asal-usulnya, sebagai gabungan dari kata con (bersama-sama) dan tempo (waktu), yang kemudian dimaknai sebagai segala hal yang mengada bersama waktu, atau segala hal yang kini, yang sekarang, yang sedang terjadi ─ oleh karenanya tak salah mengandaikan kontemporer sebagai jembatan bagi masa lalu menuju masa depan. Dan apa yang diperuntukkan oleh jembatan itu dalam hal ini adalah sastra Indonesia.

Membaca buku ini, Dea Anugrah seolah-olah meletakkan kita di tengah jembatan itu, selalu di tengah-tengah, dan kitapun merasakan bahwa sastranya ini sedang bergerak maju, siap menyongsong suatu tempat di depan sana. Saya sendiri merasa bahwa menikmati cerpen-cerpen di sini tidak akan utuh sebelum melewati dulu bacaan satir Kurt Vonnegut, atau gaya cerita Raymond Carver yang kotor ─ dua penulis yang kebetulan selalu disebut kontemporer sampai sekarang walau keduanya sudah lama meninggal ─ atau bahkan filsafat Arthur Schopenhauer, sehingga saya tidak terlalu kaget dengan cerita-cerita di sini yang rasanya terlalu cepat selesai padahal sepertinya cerita belum (layak) selesai. Itulah mungkin kenapa kata kontemporer terasa amat mewakili, karena segalanya yang masih belum rampung, tak ada bentuknya yang final, bangunannya masih disusun, semuanya ada pada apa yang sedang terjadi, sekarang.

Kata kontemporer bahkan digunakan sebagai judul dalam 4 cerita di buku ini, dan keempat-empatnya punya nama Kisah Sedih Kontemporer. Cerita itu menampilkan beberapa episode singkat dari kehidupan tokoh Rik, yang oleh narator disebut sebagai seorang penulis yang bagus tapi tolol ─ tapi kita, pembaca, tidak akan tega menangkap letak ketololannya sebab kesedihannya jauh lebih menusuk. Kesedihan seperti saat ia mendapati barang dan uang di kamar kosnya digondol maling sedangkan si narator yang kebetulan sedang menumpang hanya bisa pura-pura tidur waktu malingnya beraksi. Atau saat ia mengukir sendiri garis asmara di telapak tangannya untuk menegaskan cintanya kepada seorang gadis yang telah meramalkan melalui garis-garis tangan bahwa jodohnya telah habis. Atau saat narator dengan jahatnya memperlihatkan kita isi chat Rik dengan si gadis yang percakapannya mengalami jeda 2 tahun hanya untuk balasan minta dukungan vote di kontes bayi lucu yang diikuti anak si gadis. Kesedihan Rik mewakili konsep kontemporer tadi yang aktual, yang sementara, dan cukup dinikmati sampai di situ saja.

Sastra kontemporer memang selalu terasa unik, segar, dan otentik. Tak terkecuali yang satu ini. Kelebihan lainnya adalah adanya kesan kuat bahwa dalam bentuknya ini ada kebaruan yang merancang DNA sastra Indonesia di masa depan, semacam kisi-kisi tentang kegelisahan dan ekspresi artistik baru di ujung jembatan sana. Tapi agaknya kita bisa juga terbuai untuk tidak buru-buru sampai ke sana selama yang kontemporer, yang kekinian ini, jauh lebih mengasyikkan dalam menyingkap gagasan dan kemungkinan tentang apa yang hadir di masa depan.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
Read
October 7, 2016
Kalau boleh ikut-ikutan memakai kata yang populer itu, buku ini adalah 'duren' bagi saya, bagus tapi sayanya nggak mudeng. Udah gitu aja, mohon pencerahannya, Suhu. Yang penting udah dapat tanda tangan penulisnya yang Seleb kesukaan si Tiwik dan Bunda Mini itu #eh
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
July 14, 2017
http://catatanpringadi.com/anjing-men...

Apa sih tujuan seorang penulis menulis cerita? Kalau aku jawabannya sederhana, bercerita. Tidak ada tujuan lain seperti mencerdaskan kehidupan bangsa, memberi pesan-pesan yang baik, protes kepada pemerintah, atau berceramah.

Dengan jawaban sederhana itu, bukan berarti bercerita adalah hal yang sederhana pula. Setidaknya, ada 3 hal utama dalam bercerita: pencerita, cerita, dan orang yang mendengarkan/membaca cerita. Ketika bercerita kepada seorang teman misalnya, tidak selalu teman kita itu mau mendengarkan. Bisa jadi karena cerita kita yang basi, membosankan, atau tidak menarik. Bisa jadi juga karena kita tidak pandai bercerita. Atau malah, bisa karena cerita itu tidak tepat bagi yang mendengarkan.

Membaca “Bakat Menggonggong” karya Dea Anugrah, mendadak aku mengingat hal-hal di atas. Kumpulan cerpen ini adalah antitesis dari panduan cara menulis cerita pada umumnya. Dea begitu paham, ia adalah seorang pencerita. Hanya pencerita.

Salah satu “aturan” menulis yang ia langgar adalah bahwasanya seorang penulis harus mengambil jarak dengan karakternya. Dea tidak melakukan hal itu. Ia menyatu dengan karakternya. Ia adalah karakter itu sendiri. Ia tidak butuh, dan tidak merasa perlu bercerita ke semua orang (inilah hal yang sering ingin dilakukan banyak penulis, sehingga tanpa mereka sadari, mereka menempatkan diri lebih tinggi dari pembaca). Ia memosisikan diri sebagai pencerita yang bercerita kepada orang-orang yang berada di dekatnya.

Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
June 13, 2025
Sama halnya kesan setelah membaca kumpulan puisi Misa Arwah, ternyata membaca kumcer Bakat Menggonggong pun membuat saya beberapa kali harus mengernyitkan dahi dengan cara Dea Anugrah bernarasi.

Cerpen-cerpen dalam buku ini jelas dipenuhi isu-isu menarik, dengan bumbu humor, ironi, dan absurditas kehidupan yang bisa diimajinasikan. Namun, jujur saja gaya bertutur Dea yang sering kali cerewet-sekaligus-sinis dengan pelbagai perumpamaan yang berpolah-polah, kadang membuat saya sulit terkoneksi dengan plot cerita yang sedang ia bangun.

Tampaknya Dea memang senang bereksperimen dengan bermacam teknik menulis, seperti yang kembali ia lakukan pada novel perdananya, Hari-Hari yang Mencurigakan, yang sukses membuat saya menutup kembali novel itu setelah mencoba mengintip bab pertamanya. Meskipun begitu, saya tetap penggemar tulisan-tulisan nonfiksi Dea dalam dua buku esainya—Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya & Kenapa Kita Tidak Berdansa?

Dengan kerendahan hati, berikut sekelumit cerpen favorit saya dalam kumcer Bakat Menggonggong:
— Kemurkaan Pemuda E
— Masalah Rumah Tangga
— Perbedaan Baik dan Buruk
— Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada
Profile Image for Benji Foxe.
3 reviews4 followers
September 30, 2016
Satu-satunya kesempatan saya menyukai angka desimal dengan lebih dari satu angka di belakang koma adalah ketika berurusan dengan me-rating film, TV series, dsb. Namun karena Goodreads hanya mengizinkan kehadirannya manakala menghitung rerata, maka, makan empat bintang ini, De! Bukan karena alasan sok mulia macam: agar ke depannya Dea semakin terpacu, Dea bisa lebih baik, dan sejenisnya, tapi sebagai pemilik estetika yang lebih baik dari sebagian besar kalian (berdasarkan klaim pribadi), 0,37 bintang saya tarik lantaran layout. Dan 0,409 bintang terpotong karena saya mengenal penulisnya lebih baik dari sebagian besar kalian—bukan hal yang enteng selagi memberi penilaian. Tuh, empat bintang koma sekian, ya sudah, dibulatkan ke bawah: empat.

Pembukaan di atas hadir karena ini kali pertama saya mengulas di sini. Sayang kalau sekadar dimuat di blog saya, yang nyaris tidak pernah memasukkan rating berupa angka nyata, yang sebagian isinya tidak sejelas buku, urusan yang dipahami jauh lebih baik oleh sebagian besar kalian di sini.

Tak perlulah saya menggembar-gemborkan perihal nol koma tiga bintang (masalah estetika) yang hanya akan membuat saya tampak sedang menulis cover-letter-demi-pekerjaan-seni di sini. Saya akan mencoba membahas pecahan bintang yang lebih besar sesudahnya, nol koma empat sekian, yang terpangkas karena saya tak perlu repot-repot menganalisis isinya atau mendengarkan penjelasan penulisnya untuk memahami apa yang ia sampaikan. Cerita, memang, alih-alih gaya dan teknik yang seperti sebagian besar urusan lain di multiverse ini: isn't my forte, mate. Saya memahami—sebagian—yang ia bicarakan dengan begitu saja. Dan ini tidak masuk ke dalam preferensi saya yang hanya lebih tertarik membaca tentang apa dan siapa (dari Dea dan semua orang) yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Atau jika mengutipnya, hal tersebut menimbulkan 'rasa tidak nyaman di kedua pundakku'. Untuk yang ini, ringan tapi tetap berasa. Perkara remeh yang memang selalu bekerja ketika kamu mengapresiasi karya orang-orang dekatmu.

Tidak tersemat rasa bangga ketika saya melabeli si pemilik bakat menggonggong sebagai 'orang dekat', yang justru dimaksudkan demi mempermudah saya melontarkan alasan atas serpihan-serpihan kecil bintang yang meluruh dalam kolom my rating—dan mengisi lebih banyak ruang saja dalam ulasan ini. Meskipun jelas, saya akan lebih bangga apabila selagi baru diketahui oleh orang lain bahwa saya berasal dari kawasan pulau timah, ia akan duluan menyebut nama Dea, alih-alih Andrea Hirata. Plus, tidak menanyakan apakah saya masih sering bertemu buaya ketika berangkat sekolah.

Sekarang membahas angka terbesar dalam ulasan ini, empat koma berapa-gitu-tadi; Atau empat. Ringkas saja, cerpen-cerpen Dea, adalah yang terbanyak saya baca—selain Idrus—karena saya memang tidak begitu punya banyak keinginan untuk membaca cerita pendek. Empat bintang dari terbiasanya saya membaca cerita-cerita pendeknya, untuk Frederik Frederik dan I Gusti Ngurah Lokomotif, dari kefasihannya perihal sastra yang mana not my forte [2], untuk Gustaf dan Wanda yang layak diarahkan oleh Guy Ritchie (era awal), dari inspirasinya agar saya mesti lihai menyerapnya dan menghindari tok-tok batok menjiplaknya ketika menulis, untuk kisah-kisah selain milik nama-nama sebelumnya yang baru saya dengar dari penutur yang bukan main sok, dari apa lagi ya, saya pikir-pikir dulu.

Tentu akan lebih meyakinkan khalayak, atau terdengar mengiklankan belaka, andai saya menutup ulasan ini dengan pelbagai pujian untuk Dea. Tapi yang itu nanti saja, kalau ia mendului saya mati dan saya masih bisa menulis. Kudos untuk pilihannya pada Teguh Purnomo, ilustrator yang ilustrasinya terkadang tampak bagai buku pengantar Biologi, namun di saat yang lain tampak layak mengawal riff-riff gargantuan milik album-album stoner metal. Dan meskipun saya belumlah membeli buku ini, masukan untuk Buku Mojok (selain urusan layout): dari kedua buku milik dua orang berbeda yang saya pinjam dan baca, halaman 0 (yang berisi kutipan Bukowski) hingga halaman 3 sama-sama terlepas dari jilidannya.

Ya, itulah.
Profile Image for Zulfy Rahendra.
284 reviews76 followers
June 1, 2017
Saya sebenernya bukan fast-reader, tapi kayaknya emang tipe ngga sabaran aja. Buku yang harus 'dikunyah lambat' biasanya bikin saya ngantuk (misal buku nonfiksi), atau bikin saya capek (misal seri A Song of Ice and Fire), atau bikin saya embuh (misal buku ini).

Baca ini pake ((( kecepatan ))) biasa, tapi entah karena saya tida bisa mencerna dengan baik atau emang saya aja yang ngga ngeh, beberapa cerita/puisi di buku ini berakhir dengan "naon sih". Kata temen emang harus diresapi sih. Tapi saya ga sabaran. Jadinya labas aja. Jadinya ya gitu deh. Tapi buat cerpen-cerpen yang saya ngerti, ya suka sekali.

Jadi bintangnya berapa dong?
Profile Image for Aditya Agni.
47 reviews2 followers
May 30, 2020
Dea Anugrah adalah seorang pencerita. Dea Anugrah adalah seorang pencerita yang baik. Dea Anugrah adalah seorang pencerita yang baik yang mengumpulkan cerita-ceritanya. Dea Anugrah adalah seorang pencerita yang baik yang mengumpulkan cerita-ceritanya dan menjilidnya menjadi sebuah buku. Dea Anugrah adalah seorang pencerita yang baik yang mengumpulkan cerita-ceritanya dan menjilidnya menjadi sebuah buku yang telah saya baca. Dea Anugrah adalah seorang pencerita yang baik yang mengumpulkan cerita-ceritanya dan menjilidnya menjadi sebuah buku yang telah saya baca dan saya menyukainya.
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
July 9, 2018
Bakat Menggonggong adalah kumpulan cerpen yang enggan membiarkan saya menikmati ceritanya begitu saja, saya diajaknya untuk berpikir. Penulisan ceritanya tidak nampak seperti struktur cerita pada umumnya. Bolehlah, kataku sembari mengangguk-anggukkan kepala saya. Kepala saya dong, bukan kepala barbie.
Ada cerita yang membuat saya harus membacanya dua kali untuk dapat memahami maksud cerita, ada cerita yang memang tidak saya mengerti dan juga enggan saya baca kembali, biar menjadi misteri saja barangkali. Tetapi ada cerita yang memang membuat saya melahirkan suatu kategori, entah yang terbaik atau yang paling saya sukai.
Ada beberapa kesan yang kurang suka di dengar, tapi saya berusaha berpikir positif. Entah memang ada unsur yang sengaja dihadirkan suapaya terlihat wawasan penulis itu luas dan unsur cerita dibuat kompleks, atau itu hanya kesensitifan saya saja karena minim wawasan & ketidakmampuan menangkap maksud Dea. Hmmm saya beri beintang 4 karena cerita yang saya suka memang benar-benar membuat saya suka, sebuah ketaknyanaan. Namun saya rasa buku ini tidak direkomendasikan kepada semua orang. Setelah membaca buku ini, seperti secara otomatis akan tergolong, siapa saja yang dapat direkomendasikan membaca buku ini.
Profile Image for Reymigius.
117 reviews36 followers
June 16, 2017
Kumpulan cerita yang absurd nan eksperimental, tapi juga terdengar sederhana dengan caranya sendiri. Di dalamnya ada ekspektasi-ekspektasi yang pupus, pelintiran-pelintiran seenak jidat, dan jalinan-jalinan kalimat sastrawi yang terkadang bikin jidat berkerut. Berbeda? Iya. Bagus? Bisa dibilang begitu. Buku ini unik dan akan sangat cocok bagi kalian remaja-remaja indie yang doyan mencicip hal-hal baru.

Empat belas cerpen dalam buku ini pun begitu beragam isinya; dari yang menceritakan hal sepele seperti kemurkaan seorang pembicara seminar yang tidak dibayar hingga legenda lokal tentang siluman buaya. Akan tetapi, apabila boleh memilih tiga, judul-judul inilah yang menjadi favorit saya :

1. Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu.
2. Kisah Sedih Kontemporer (XXIV).
3. Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada.

Permintaanku adalah, kalau kau memutuskan untuk membaca buku ini, tolong simpan tiga judul di atas untuk dibaca paling akhir. Atau paling awal. Bergantung dari mazhab mana yang lebih kaupercayai; save the best for the last or vice versa?
Profile Image for ifan.
47 reviews15 followers
October 9, 2016
Astagaaa ini cerita apaaaaan :)) dan secara sadar saya memberi 4 bintang
Profile Image for Adham Fusama.
Author 9 books72 followers
November 8, 2016
Dea ini memang berbakat sekali dalam "menggonggong"
Mungkin ada yang menganggap gonggongannya mengganggu, buruk, tidak jelas, atau patut dilempari batu. Tapi ada juga yang menganggap gonggongannya sangatlah menarik, liar, dan segar.
Apa pun pendapat orang tentang gonggongannya, rasanya Dea tidak ambil pusing. Dan, itu memang tidak penting. Yang terpenting adalah, ia harus tetap "menggonggong" sebab saya akan menunggu gonggongan-gonggongan dia selanjutnya.

Ringkas cerita: Dea ini memang anjing sekali, lah.
Profile Image for Juwita Sari.
36 reviews3 followers
February 22, 2018
Lembar per lembar membaca buku ini bikin pusing, beberapa kali mengernyitkan dahi, baca paragraf kadang diulang-ulang saking bingungnya. Kurang fokus bacanya. Mungkin saya termasuk orang yang gak cocok sama tulisan cerpen-semi puitis yang permainan kata-katanya bagus. Ada beberapa cerpen yang 'normal', namun tetap tidak menarik perhatian saya. Setelah Einstein's Dream, ini buku tipis kedua yang menamatkannya butuh perjuangan :D.
Profile Image for Henzi.
217 reviews20 followers
May 25, 2025
Bakat Menggonggong adalah kumpulan cerpen yang terasa sunyi tapi menyimpan sesuatu yang dalam: amarah, kritik, sinisme. Ceritanya pendek-pendek, baca bentar aja habis. Syukur kalau paham ngangguk-ngangguk, bila nggak ya ngerutin dahi. Dea Anugrah menulis dengan gaya yang tak bisa kujelaskan, terkadang kalimatnya terasa memukul batok kepalaku sampai pusing dibuatnya.

Tema-tema yang diangkat cukup variatif: tuntutan duniawi yang tak ada habisnya, kesenjangan sosial, pilihan-pilihan yang berbeda tapi tetap baik, konsep idealisme yang buruk, sampai yang remeh-temeh seperti perdebatan hak asuh setelah bercerai. Tokoh-tokohnya nggak banyak yang nyentrik maupun aneh-aneh, normallah kayak kita manusia biasa. Mereka seperti mencerminkan kita—yang mencoba tetap waras di tengah situasi yang serba timpang.

Tidak semua cerita mudah dicerna, malah sebagian besar meninggalkan banyak pertanyaan. Sudah tidak aneh lagi sebab aku dibuat hah-heh-hoh sepanjang waktu. Buku ini cocok buat pembaca yang mencari cerita pendek dengan muatan sosial, sentuhan eksistensial, dan ending yang (sering) menggantung dan mengganggu pikiran. Hehehe.

Di antara semuanya, aku memilih judul berikut yang (cukup) aku sukai. Perlu diketahui bahwa penjelasan dari tiap judul berikut hanya berdasarkan persepsiku semata, balik lagi maksud yang ditangkap oleh pembaca bisa lain-lain:
- Kemurkaan Pemuda E: tentang seorang penulis muda yang maramara sebab dirinya diperlakukan berbeda dari seniornya; tidak mendapatkan honor sama sekali ketika diundang sebagai pembicara di kampusnya.
- Kisah Sedih Kontemporer (IV): perdebatan (mantan) suami-istri yang tak ada ujungnya terhadap hak atas rumah, restoran, dan anak mereka.
- Kisah dan Pedoman: para pedagang yang menentukan jadwal tangkap ikan berdasarkan kepercayaannya masing-masing, antara memuja Tuhan di hari istirahat setiap minggu atau memuliakan Tuhan di hari yang dipilih sesukanya.
- Perbedaan antara Baik dan Buruk: seorang pelayan tamu yang dilema akan pekerjaannya.
- Kisah Sedih Kontemporer (IX): mantan pacar yang masih texting satu sama lain dengan sindiran-sindiran halusnya tapi tak bisa bersatu. Tidak menyangka titit bule biasa saja.

Dan masih ada lagi sebetulnya. Hal menarik lainnya, yakni: gempa waktu. Dijelaskan bahwa maksudnya adalah kejadian yang tampaknya terjadi kembali dalam jangka waktu tertentu untuk yang kedua kalinya. Di cerpen yang sama, juga membahas tentang “dunia manusia” berikut idealisme yang mereka ciptakan sendiri seolah-olah berlaku untuk semua orang—padahal tidak.

“Ukuran dunia bagi seseorang ditentukan oleh seberapa luas keterlibatannya dengan orang lain.”
Bagi seorang anak yatim, dunianya akan terasa sempit sebab hanya ada ia dan ibunya; tanpa bapak seperti keluarga lain. Tidak ideal.

Singkatnya, ini bukan buku untuk hiburan ringan—tapi buat yang siap diajak merenung dan merasa tidak nyaman dengan realitas. Selamat mikir berat!
Profile Image for Lina Maharani.
274 reviews15 followers
October 8, 2021
KONDISIKAN MASA LALU MU

Beberapa mengawali membaca sejumlah buku dengan ekspektasi tinggi krn label 'buku terbaik' dan sejenisnya sdh disematkan. Sbg pembaca multi-genre ini bukan hal baru jika bertemu buku yang membuat mu bertanya-tanya sepanjang proses membaca, 'mana nih bagian wow nya?' hingga lembar terakhir. Termasuk ketika membaca buku DA yg pertama bagi saya ini, memulai dgn ekspektasi yg lumayan namun hingga akhir yg ditemukan justru bukan itu...

Di samping isinya yang sangat 'sastra' menurut saya ini kumcer yang padat. di beberapa cerpennya mengisahkan soal bertarung dengan kenangan, hal yang paling digemari penulis adl mengorek sisi sensiitf pembacanya lewat kisah yg menyenggol kenyataan. seperti mengkondisikan diri pada masa lalu yg kebanyakan menghantui, entah baik entah buruk. Nah itu yang paling mengena dari kumcer ini. DA mengajak saya mengenali dirinya lewat kisah yang tak terlalu wow namun jd pandangan yang 'oh oke ternyata selain aku ada jg org yg begini di belahan lain dunia ini' walo sekilas dan tak semua cerpen nya begitu.

bagus sih namun bagi saya ya segitu dulu.
Profile Image for Lembusora.
60 reviews3 followers
October 16, 2017
Sebuah kumcer yg kaya rasa: bikin senang sekaligus bingung. Ada cerita yg endingnya menyegarkan, menyenangkan penulis-sedang-belajar macam saya. Ada pula cerpen yg membuat ingat rasa saat selesai menonton sebagian film eropa: bingung tak ketemu jawaban.

Saya harus membandingkan kumcer ini dgn Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan. Satu, Eka dan Dea menulis kumcer mereka di usia awal 20an. Dua, mereka berdua satu alumni, jurusannya sama² filsafat pula.

Jika skala penilaian 1-10, maka Corat-Coret layak diberi 7, sedangkan Bakat pantas mendapat 8,5. Perihal menulis cerpen, di periode usia yg sama, Dea lbh unggul. Pantas buku ini masuk 10 besar Kusala Sastra 2017.

Dan lagi, Dea berani terang²an menyindir Tere Liye. Sedangkan Eka (dan juga Paman Yusi) sepertinya masih malu². Suatu kejujuran dan cara menyindir yg elegan dan layak ditampilkan lebih sering oleh penulis lain yg buat saya bukunya lbh layak laris.

Masih patut ditunggu apakah novel Dea akan bisa menyamai (atau bahkan mengungguli) Eka. Munculnya Dea (dan Ziggy) begitu melegakan dunia sastra Indonesia. Semoga Yusi, Eka, Ziggy, dan Dea makin sering menetaskan buku² bermutu yg pantas cetak. Semoga makin banyak penulis sekaliber mereka yg mentas (dan laris bukunya)
Profile Image for Fitriana Hadi.
30 reviews2 followers
January 10, 2019
Cerpen-cerpennya membuat saya sering mengulangi membaca sekalimat dua kalimat sebelumnya saking banyaknya analogi yang perlu saya cerna ulang apa maksudnya. Beberapa satirnya terasa sangat lucu, terutama dalam cerpen "Kisah Afonso". Tetapi, semakin ke belakang, rasanya cerpen-cerpennya memiliki atmosfer yang lebih berat dan serius, serta pada beberapa bagian, kesedihan-kesedihan dalam hidup para tokoh terasa nyata seakan terjadi di sekitar saya.

Saya suka buku ini. Meski begitu, penulisnya sendiri mengaku merasa tidak begitu puas dengan karyanya ini, terutama ketika menghadapi penulis-penulis Amerika Latin, seperti Zambra. Dan, itu membuat saya berpikir: "sempit sekali ternyata bacaan saya".
Profile Image for Egy Imaldi.
30 reviews
June 21, 2025
Selalu menyenangkan membaca tulisan Dea. Meskipun beberapa tulisan sudah saya baca bertahun sebelumnya di internet, tapi membacanya ulang di buku ini masih tetap menyenangkan.

“Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup.” - Pat (Cerpen Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu.)
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
November 28, 2017
eh, aku barusan baca apaaa??

Kumcer ini datang dan pergi, lalu aku masih bingung... hehehe...
Sudahlah, aku percaya dan yaaaqin buku ini berisi kumpulan cerpen yang sangat unik dan bagus, tapi benar2 bukan seleraku.
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
December 25, 2017
Huhuu~ suka banget sama pilihan katanya, gaya narasinya dan bentuk penyampaiannya. Nggak menyentil, nggak menohok tapi dalem. Kkk~
Profile Image for Rosul Jaya.
27 reviews1 follower
December 11, 2025
Saya terus berharap suatu saat Dea Anugerah menulis cerpen lagi dan menerbitkannya menjadi buku kumpulan cerpen berkualitas seperti ini.

Sebagian kisah-kisah di buku ini punya tokoh-tokoh seorang penulis—profesi Dea sendiri ketika menuliskan cerpen-cerpen ini. Sehingga saya berharap ke depannya Dea menulis cerpen tentang tokoh-tokoh seorang konten kreator dan rapper.
Displaying 1 - 30 of 138 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.