Kumpulan Kisah Inspirasi Parenting yang Wajib Diketahui Orangtua
Endorsement:
“Membangun kesadaran kita sebagai orang tua, bahwa keluarga adalah tempat utama bagi anak untuk belajar dan mengembangkan diri mereka.” —Intan Pradina Ardanto, Penulis 101 Pertanyaan Seru untuk Ekspresikan Dirimu & Entrepreneur
“Buku yang berguna bagi perkembangan anak di masa depan dan menjadi generasi yang kuat, bermoral, dan berkualitas.” —Rudy Hadisuwarno, Penata Rambut Profesional
Sinopsis Ketika Jodi Foster menerima Piala Oscar sebagai aktris terbaik, orang pertama yang ia beri ucapan terima kasih adalah ibunya. “Sejak saya kecil, ibu selalu mengatakan bahwa semua lukisan tangan saya setara dengan karya Picasso. Dan setiap saya dalam kesulitan, Ibu selalu bilang, ‘Jodi, kamu pasti bisa mengatasinya, jangan khawatir.’ Itulah yang selalu terngiang di benak saya hingga akhirnya saya yakin dan mampu untuk menjadi seorang seniman.”
Wow! Betapa dahsyatnya efek kalimat yang diucapkan orangtua pada anaknya. Bayangkan jika ibu Jodi mengucapkan sebaliknya. Kalimat negatif akan meninggalkan kesan dan luka yang lama pada diri seorang anak, bahkan bisa jadi tertanam dalam benaknya sepanjang hidup.
Itulah salah satu dari 60 cerita inspiratif dalam buku ini. Berbagai kisah lainnya akan membuka mata dan mencerahkan hati kita. Dituturkan secara lugas dan popular, Ayah Edy mengajak orangtua dan guru untuk lebih memahami kebutuhan dan keinginan sang buah hati. Mereka pun bisa berkembang secara optimal, menjadi anak yang bahagia, cerdas, dan kreatif serta mampu menentukan yang terbaik untuk masa depannya.
Membaca buku ini sebenarnya seperti membaca nasihat-nasihat keibubapaan dan pendidikan yang datang dari pelbagai sumber, lalu dibukukan. Kebanyakkan yang dikongsi oleh Ayah Edy, saya pernah baca/dengar sebelum ini. Mungkin dari Ayah Edy sendiri, atau daripada pihak lain.
Hal-hal pendidikan dan penumbuhan anak-anak. Isinya ada, dan membuat kita berfikir.
"Ya. Ini berlaku dan aku alaminya!"
Ayah Edy menimbulkan persoalan, tetapi tidak pula mencadangkan penyelesaian. Ini kerana, saya fikir, Ayah Edy mahu kita sendiri mencari penyelesaian sesuai dengan kemampuan sendiri.
Bijak.
Buku ini rupanya buku Indonesia yang diterjemahkan oleh Thukul Chetak. Musykil juga, kenapa TC "tiba-tiba" memilih buku ini. Tahu-tahu sudah dijual di PBAKL.
Tidak boleh tidak. Hampir bersetuju dengan semua artikel Ayah Edy. Membuka mata peri pentingnya pendidikan anak-anak di bawah usia 6 tahun ini. Bukan keutamaan terhadap akademik tetapi pembinaan sahsiah, akhlak dan common sense anak-anak.
Sekolah kini lebih banyak menghasilkan anak-anak yang berjaya melalui kaedah hafalan dalam pelajaran. Sedikit sekali pendidikan kini menyediakan anak-anak berfikir di luar kotak.
Peranan kita sebagai ibu bapa sangat oenting mendidik anak secara holistik. Allahuakbar. Moga Allah ilhamkan kita memberi pendidikan sebaliknya buat anak-anak.
Oke, sebelumnya saya udah baca Ayah Edy Menjawab. Dan ini buku kedua Ayah Edy yang saya baca. Seperti alasan sebelumnya, kita selalu dididik di sekolah untuk bisa mendapat nilai bagus yang nantinya bisa kita pake untuk nyari kerja. Tapi, ketika kita sudah berumah tangga, tidak ada sekolah menjadi suami yang baik atau ayah yang baik. Padahal untuk menjadi suami dan ayah yang baik, butuh juga panduan. Buku ini salah satu yang bisa dibaca.
Buku ini diawali dengan kata pengantar (penting nggak sih!? Hehe). Dalam kata pengantarnya, Ayah Edy menuturkan teori Thomas Lickona tentang sepuluh tanda kehancuran suatu bangsa. Ini menarik, karena baru aja kemarin pas Pemilu 2019, ada yang menyebarkan kampanye ketakutan. Katanya, Indonesia bisa hancur, bubar tahun 2030. Betulkah? Coba cocokkan aja teori Thomas Lickona dengan isi kampanye kemarin, hehe..
Next, buku ini seperti halnya judulnya, ada kisah2 di tiap cerita. Kisah tentang tulisan di batu nisan makam Westminster Abbey, gejala on-off pada anak (cerewet di rumah, pendiem di sekolah atau sebaliknya), kisah dr. Arun Gandhi tentang mendidik tanpa kekerasan, kisah Air yang bisa membentuk kristal baik dan buruk (Masaru Emoto), Kisah Thomas Alfa Edison yang drop-out dari sekolah tapi berhasil menjadi penemu karena ibu yang bisa memotivasinya (Nancy Elliot), kisah Soichiro Honda, kisah Einstein yang tidak tamat dari SMA, alternatif belajar anak Homeshooling, kisah sekolah khusus monyet “The Samporn Monkey Academy” dari Thailand.
Bagian akhir buku ini menyoroti tentang sekolah di Indonesia. Banyak teori dan berlevel tinggi, yang mungkin tidak setiap mata pelajarannya bisa diterapkan di dunia kerja. Belajar sinus, cosinus, algoritma, fisika tingkat dewa, yang sebenarnya lebih cocok diajarkan ketika anak memang punya kecenderungan menjadi ilmuwan atau peneliti. Faktanya, ketika anak lulus SMA, banyak pelajarannya yang hanya digunakan untuk tes masuk kuliah, namun tidak dipakai di dunia kerja. Soichiro Honda mengatakan “Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberiku apa-apa yang sunggguh saya ingin ketahui. Oleh karena itu, saya hanya akan pergi ke sekolah jika merasa ingin mengetahui sesuatu yang tidak saya temukan di luar sekolah”.
Sayang sekali, buku ayah edy kali ini kurang "greget" mungkin seharusnya saya membaca buku ini terlebih dahulu daripada buku ayah edy yg saya sebelumnya yaitu "memetakan potensi unggul anak".
Karena buku Ayah Edy punya cerita ini memberikan pengetahuan yg lebih basic daripada pada buku "memetakan potensi unggul anak". Buku ini terdiri dari bab-bab yang tidak benar-benar berhubungan antara satu dengan lainnya, sehingga bisa saja saya membaca langsung dari bab 5 atau bab 30.
Gaya penulisan ayah Edy yang mudah dipahami masih bisa dinikmati di buku ini. Ayah Edy juga memaparkan ide-idenya mengenai situasi belajar-mengajar yang ideal untuk anak. Cukup menarik, tapi ada beberapa bab yang terasa seakan pengulangan dari bab sebelumnya.
"Andai sahaja yang pertama sekali aku ubah adalah DIRIKU sendiri, dengan menjadikan diriku sebagai teladan, mungkin aku boleh mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, boleh jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku, kemudian siapa tahu aku bahkan boleh mengubah dunia." _Westminster Abbey
Setiap anak mempunyai keinginan dan keistimewaan masing². Setiap cerita yg ditonjolkan memberi idea dan renungan utk saya sebagai ibu untuk memberi bimbingan utk mereka mencapai kejayaan. Dan ilmu yg dipelajari bukanlah utk dunia, tetapi untuk diri menempuh dunia akan datang.
Buku yg bagus bgt utk jadi referensi kita sebagai orang tua, tiap anak berbeda dan spesial. Ayah edy mengedukasi para orang tua yg mau belajar utk bisa menghasilkan generasi muda bangsa ini yg lebih baik kualitasnya
Bukunya bagus. Tapi, gimana ya, begitu selesai baca, perasaanku lempeng aja. Nggak kayak baca buku "Dengan Pujian, Bukan Kemarahan" buku parenting lain yang pernah aku baca. *lupa nama penulisnya
Cerita-cerita dari Ayah Edy sebagai bekalan buat ibu bapa yang dalam proses mendidik anak. Kisah lama dan baru disatukan bagi melihat bahawa proses mendidik itu berasakan kepada konsep yang sama meskipun metodenya pelbagai
seenggaknya ini emang benar. tanpa beban, banyak opsi, dan belajar apa yg jadi kesukaan (kecederungan) adalah tipe anak2 (jamanku).... and this book represented it
banyak hikmah di buku ini. Kadang saya nemui kesalahan-kesalahan yang saya lakukan dalam mendidik anak. Semoga kita bisa menjadi orang tua teladan. Terima kasih inspirasinya