Jump to ratings and reviews
Rate this book

Surga yang Tak Dirindukan #1

Surga yang Tak Dirindukan

Rate this book
Apa artinya rumah jika tak lagi menjadi pelabuhan yang ramah bagi hati seorang suami? Apa jadinya surga jika ia tak lagi dirindukan? Benarkah dongeng seorang perempuan harus mati agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan?

Ah. Surga yang retak-retak.

Peristiwa tragis dan e-mail aneh dari gadis bernama Bulan.

Pertanyaan yang terus mendera: “Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

Sementara seseorang berjuang melawan Tuhan, waktu dengan sabar menyusun keping-keping puzzle kehidupan yang terserak, lewat skenario yang rumit namun menakjubkan.

320 pages, Paperback

First published January 1, 2007

547 people are currently reading
8091 people want to read

About the author

Asma Nadia

121 books1,628 followers
Asma Nadia
Education: Bogor Agricultural University (IPB, 1991)
Home FAX: +622177820859
email: asma.nadia@gmail.com

Working Experiences: I was working as a CEO of Fatahillah Bina Alfikri Publications, and Lingkar Pena Publishing House, before starting AsmaNadia Publishing House (2008)

Writing residencies: in South Korea, held by Korean literature translation institute (2006) & and in Switzerland held by Le Chateau de Lavigny (2009)

Writing Workshop:
- Conducting a creative writing (novel), Held by Republika News Paper, 2011
- Writing workshop instructor for (novel) participants from Brunei, Singapore, Indonesia, Malaysia, held by South East Asia Literary Council (MASTERA), July, 2011
- Conduct a writing workshop for Indonesia Migrant Workers in Hongkong (2004,2008, 2011), and for Indonesian students in Cairo, Egypt (2001, 2008), and University of Malaysia.
- Giving a creative writing workshop for Indonesian’s students in Tokyo, Fukuoka, Nagoya, Kyoto (November 2009).
- Giving writing workshop in Manchester; Indonesia Permanent Mission in Geneve; Indonesian Embassy in Rome, and for Indonesian students in Berlin (2009)
- Held a writing workshop with Caroline Phillips, a Germany writer, in World Book Day 2008

Performance:
- Performing two poems for educational dvd (Indonesian Language Center) 2011.
- Public reading: (poem) in welcoming Palestine’s writers in Seoul, 2006;
- Public reading short story in Geneve 2009, Performing monologue in Mizan Publishing Anniversary 2008, Ode Kampung Gathering in Rumah Dunia, etc.

Awards and honors:
1. Istana Kedua (The Second Palace), the best Islamic Indonesia novel, 2008
2. Derai Sunyi (Silent Tear, a novel), won a prize from MASTERA (South East Asia Literary Council), as the best participant in 10 years MASTERA, 2005.
3. PREH (A Waiting), play writing published by The Jakarta Art Council, honored as the best script in Indonesian’s Women Playwrights 2005
4. Mizan Award for the best fiction writer in 20 Years Mizan (one of Indonesian’s biggest publishers)
5. Asma Nadia profile was put as one of the 100 distinguished women publishers, writers and researchers in Indonesia, compiled by well-known literary critic Korrie Layun Rampan, 2001.
7. Rembulan di Mata Ibu (The Moon in the Mother’s Eye, short stories collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2001
9. Dialog Dua Layar (Two Screen’s Dialogue, a short story collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2002
10. 101 Dating, a novel, won the Adikarya IKAPI Award, 2005
11. The most influential writer 2010, awarded by Republika News Paper
14. BISA Award for helping Indonesia Migrants Workers who wants to be writers (held by Be Indonesia Smart and Active Hongkong)
15. Super Woman MAG Award 2010
16. One of ten most mompreneurship 2010, by Parents Guide Magazine

Summary of translations of work into other languages:
1. Abang Apa Salahku (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009)
2. Di dunia ada surga (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009)
3. Anggun (published by PTS Millennia SDN.BHD 2010)
4. Cinta di hujung sejadah (published by PTS Millennia SDN.BHD 2011)
5. Ammanige Haj Bayake (Emak Longs to Take The hajj), NAVAKARNATAKA PUBLICATIONS PVT. LTD, 2010 (in south indian language/Kannada)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
876 (38%)
4 stars
595 (26%)
3 stars
468 (20%)
2 stars
170 (7%)
1 star
166 (7%)
Displaying 1 - 30 of 202 reviews
Profile Image for Meta Morfillah.
679 reviews23 followers
April 6, 2015
Judul: Surga yang tak dirindukan
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: AsmaNadia Publishing House
Dimensi: xii + 308 hlm, 20.5 cm, cetakan keempat Juni 2014
ISBN: 978 602 9055 21 4

"Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?"

Apa artinya rumah yang selama ini kerap dianggap sebagai surga, jika tak lagi menjadi pelabuhan yang ramah dan tak lagi dirindukan oleh pemiliknya? Begitulah suasana yang ditampilkan dalam novel ini. Isu poligami yang diangkat dari sisi agama dan kultural di Indonesia. Memotret tiap rasa dari semua sisi: sisi suami, sisi "korban"--dalam hal ini istri pertama-dan sisi perempuan pemilik istana kedua.

Melalui tokoh Arini, seorang istri yang soleha, cerdas, berkarir sebagai penulis, membaktikan diri pada suami. Sosok yang mendekati sempurna, dikaruniai tiga anak yang sehat, dan pernikahan yang harmonis selama sepuluh tahun. Tak pernah menyangka bahwa suaminya, Pras, akan menikah lagi. Alasan apa yang membuat Pras rela membangun istana kedua bersama Mei Rose, wanita peranakan Cina, mualaf dan memiliki satu anak, sementara kehidupan mereka berdua begitu sempurna bagai di negeri dongeng. Seharusnya segalanya berjalan indah, happily ever after.

Membacanya, mengingatkan saya pada kalimat "It's too good to be true, it means not true." Juga kalimat bijak lainnya "Sesuatu yang terlalu... seperti terlalu baik, menandakan bahwa itu tidak baik." Yaa... hidup yang terlalu sempurna seharusnya hanya ada di surga.

Menarik sekali, ketika saya membaca pengantar dari penulis dan ragam komentar dari pembaca buku di fanpage asma nadia mengenai tanggapan "Apa yang akan kamu lakukan jika ayah/suami/abang/anak lelakimu menikah lagi?"

Pro dan kontra nampak jelas di sana. Saya sendiri, tak dapat membayangkan apa keputusan yang akan saya ambil dalam posisi tokoh Arini. Ending yang dibuat oleh mbak Asma pun begitu menggantung. Membebaskan pembacanya menginterpretasikan sendiri, apakah tokoh utama pro atau kontra terhadap poligami.

Ah... isu ini begitu rumit. Sebab, kita berbicara dengan perasaan. Meski memaksa logika turut mewarnainya, akan tetap ada hati yang limbung, terluka, teriris perih bahkan kehilangan identitas.

Baiklah, saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel dengan bahasa yang ringan dicerna ini.


Meta morfillah
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,034 reviews64 followers
October 13, 2011
Pinjam dari Mbak Novi
---

Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

Membaca Istana Kedua mengingatkan saya dengan cerpen Asma Nadia yang berjudul Sakinah Bersamamu. Secara alur dan plot cerita berbeda, tapi memiliki kesamaan pada tema yang diangkat [poligami] dan akhir cerita yang menyesakkan. Poligami, tema yang memang sering memancing kontroversi. Banyak yang kontra, tapi yang pro pun nggak kalah.

Arini, perempuan pecinta dongeng ini bertemu pangerannya lewat sepatu yang terselip di semak-semak. Andika Prasetya, si pangeran yang kemudian membuat Arini merasa dirinya menjadi putri. Keindahan dongeng ‘sang putri’ terbius untuk memandang kehidupan pernikahannya akan berakhir happily ever after. Namun, kenyataan berkata lain ketika keputusannya menelepon nomor di sebuah bon membongkar rahasia yang tersimpan cukup rapi.

Andika Prasetya, seorang dosen yang juga seorang suami yang mendekati sempurna. Tapi tidak ada manusia sempurna, pertemuannya dengan Mei membuktikannya. Kenangan masa kecil Pras sebenarnya cukup memberikan gambaran bagaimana penderitaan perempuan yang dimadu hingga membuatnya berjanji untuk memiliki satu perempuan di hatinya. Tapi nyatanya, pilihan ternyata bisa juga memelesetkan manusia hingga menggiringnya ke lingkaran setan. Hasilnya, sebuah tanggung-jawab yang tidak bisa lagi dipungkiri.

Mei Rose, perempuan peranakan China memiliki karakter yang berseberangan dengan Arini. Dia membenci dongeng karena hidupnya tak seindah kisah putri dan pangeran. Sejak kecil Mei tinggal dengan A-ie [bibi] yang kesehariannya memerintah Mei untuk terus-menerus bekerja. Dia sudah tidak memiliki siapapun selain sang A-ie, ditambah lagi penampilan dan sifatnya yang membuatnya dijauhi teman-temannya. Dengan karakter dan penampilannya yang out of date, membuatnya mendapatkan perlakuan yang tidak layak dari para lelaki. Hingga kemudian pertemuannya dengan Pras mengubah cara berpikirnya.

Mungkin dongeng seorang perempuan harus mati, agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan.

Penulis sekaliber Asma Nadia sudah bisa dipastikan mampu untuk membentuk karakter tokoh dengan apik. Dari tiga sudut pandang tokoh, cerita dituturkan dengan konflik yang padat. Saya sendiri jadi bisa merasakan keterpukulan Arini, Kebingungan Pras, dan keterpurukan Mei. Segala kemelut yang memenuhi kepala para tokohnya dirangkai dengan kalimat yang tidak berbelit tapi mendalam.

Banyak sekali pemikiran Asma Nadia yang diselipkan lewat monolog yang kerap terjadi pada diri masing-masing tokoh, yang kebanyakan lebih cenderung untuk kontra dengan poligami. Saya menyukai sebuah tanya yang cukup menohok dari halaman buku Istana Kedua ini, “Kenapa selalu tahun-tahun poligami Rasulullah yang dicontoh? Kenapa para lelaki itu tidak mencontoh tahun-tahun panjang Rasulullah, 28 tahun hanya membagi kasihnya untuk Khadijah.” Satu hal yang pasti bahwa di balik kata poligami tersimpan sebuah amanah yang besar dan tidak mudah bagi suami, maupun istri.

Well, akhirnya saya pun menjadi setuju dengan endorsement yang diberikan Dewie Sekar untuk Istana Kedua.
… Kisah yang sangat menyentuh dan membuat saya menjadi ingin “mewajibkan” semua laki-laki membaca novel ini
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
February 9, 2016
** Books 238 - 2015 **

2 dari 5 bintang!

Saya bukanlah seorang yang baru dalam penikmat karya-karya dari Asma Nadia. Saya sudah mengikuti karya beliau sejak mulai duduk dibangku SMP dimulai dari perjalanan mengikuti kisah Aisyah Putri 1: Operasi Milenia lalu berlanjut kepada Rembulan di Mata Ibu hingga sampai novel ini dibaca ternyata sudah 15 buah buku Karya Asma Nadia yang sudah saya pernah baca sebelumnya.

Ada yang berubah dari cara penulisan beliau dan ada yang hilang dari novel2 Asma Nadia yang biasanya saya nanti-nantikan selama ini. Entahlah mungkin karena saya juga tidak menyukai topik yang diangkat buku ini. Saya sendiri tidak bisa membayangkan kalau andai saya dimadu seperti Arini.. Buku ini juga memiliki cliffhanger ending hingga saya dibuat bertanya-tanya bagaimana endingnya yang mungkin akan ada sekuelnya

Profile Image for N Mursidi.
43 reviews13 followers
March 7, 2009
Potret Buram Perempuan dalam Poligami
(sumber: Surabaya Post, Minggu 27 Juli 08 dan Pemenang II Lomba Resensi Istana Kedua)

DI antara deretan perempuan penulis Indonesia, Asma Nadia memang pantas dicatat sebagai salah satu pengarang yang cukup produktif. Tak kurang dari 33 karya telah lahir dari buah pikiran kreatif pengarang satu ini. Dengan mengangkat beragam tema dan persoalan hidup kaum wanita, mulai dari cinta remaja, kekerasan terhadap perempuan, luka hati seorang istri (akibat pologami) sampai penderitaan umat Islam di Palestina, Asma Nadia mampu meneguhkan jadi penutur kehidupan.

Tapi Asma Nadia memilih jalur lembut. Ia tidak mengumbar tubuh dan seksualitas, melainkan lebih memilih jalan menyuarakan luka perempuan dengan balutan sastra Islami. Meski tak dimungkiri tidak sedikit percikan pemikiran yang diselipkan mengandung gugatan, tapi sebongkah pemberontakan itu semata-mata diusung sebagai bentuk solidaritas terhadap kaum perempuan. Apalagi dia tergolong pengarang yang memiliki kepiawaian bertutur.

Pantas, jika tiga penghargaan Adikarya Ikapi pernah ia raih. Selain itu, pernah terpilih sebagai peserta terbaik Majelis Sastra Asia Tenggara bahkan dalam Islamic Book Fair 2008 kemarin, novel Asma Nadia Istana Kedua mendapat penghargaan sebagai fiksi islami terbaik. Penghargaan itu memang cukup beralasan. Novel ini, digarap dengan kesabaran dan ketelitian selama 6 tahun. Tidak salah, jika Istana Kedua mampu menyuguhkan kedetailan kisah serta kerumitan alur. Kendati begitu, novel ini bukanlah kitab suci yang nyaris tanpa bopeng.
***

Novel ini menghadirkan kisah cinta segi tiga (dua perempuan dan satu lelaki) dalam rumah tangga yang terangkai dalam kepingan-kepingan kisah yang berpilin. Bertahun-tahun kehidupan rumah tangga Arini dan Andika Prasetya tak pernah ditimpa masalah dan bisa dikata bahagia. Apalagi dari perkawinan itu, lahir 3 anak (Nadia, Adam dan Putri) yang mampu membuat Pras dan Arini bahagia.

Pras yang berkerja sebagai dosen, dan tipe seorang suami dan ayah yang baik, adalah sosok lelaki yang tidak neko-neko. Lebih-lebih, ia sangat mencintai Arini. Jadi, dalam hati, Pras tidak terbesit niat untuk membangun rumah kedua dalam perkawinan. Tetapi suatu hari, Pras tidak sengaja mengalami kecelakaan --akibat kecerobohan Bulan (bernama asli Mei Rose), seorang wanita keturunan China yang tak lagi punya keinginan untuk hidup -lantaran ia memiliki masa lalu yang kelam.

Bulan yang tumbuh sebagai anak yatim piatu dan diasuh tantenya yang kejam, ternyata harus menderita lantaran ditampar kepedihan --akibat hamil di luar nikah. Ray (rekan kerja Bulan) telah merenggut keperawanannya dan tak mau bertanggung jawab. Lepas dari Ray, Bulan kemudian berkenalan dengan David. Karena David kerap menyiksanya, ia kecewa. Nyaris putus asa, Bulan "menyebar" email mengharap kehadiran seorang lelaki yang mau menjadikannya istri kedua. Email itu menggiurkan Luki Hidayat untuk berbuat busuk. Bulan terperangkap jebakan Luki hidayat --yang berniat menikahinya.

Tetapi, tepat di hari pernikahan itu, Luki Hidayat tak datang. Padahal, lelaki itu telah menguras tabungan Bulan. Praktis, Bulan sakit hati. Dengan kesal, ia pulang membawa mobil dengan kecepatan tinggi --berharap mati daripada hidup dirundung duka tiada akhir. Tetapi, dalam sebuah kecelaan, dia diselamatkan Pras. Lebih dari itu, Pras juga membayar biaya pengobatan, dan proses persalinan Bulan. Rupanya, kebaikan Pras itu, membuat Bulan terpikat. Tidak salah jika Bulan yang semula ingin bunuh diri seperti menemukan seorang malaikat. Maka, dia meminta Pras menikahinya -meski jadi istri kedua. Pras tidak keberatan, apalagi Bulan mau masuk Islam.

Jelas, kehadiran Bulan --yang bernama asli Mei Rose-- di hati Pras (sebagai istri kedua), itu membuat Arini harus berbagi tempat. Ketika suatu hari ia mencium gelagat Pras telah poligami, ia pun bagai disambar petir. Anehnya, meski mencium gelagat itu, Arini tidak memiliki keberanian untuk melabrak Pras. Arini yang berasal dari Solo diam meskipun hatinya pedih. Hingga suatu hari, ia melihat Pras dan Bulan jalan bermesraan.

Tak ada kata kompromi, Arini pulang dan mengemasi pakaian. Ia terbang ke Solo. Hati Arini hancur berkeping-keping. Tapi apa yang terjadi kemudian? Arini sadar bahwa dia bukanlah Cinderela yang dipinang sang pangeran baik hati setelah sang pangeran itu menemukan salah satu sepatunya di depan masjid kampus. Ia tahu, hidupnya tak seperti kisah dalam dongeng, apalagi Bulan yang semula hanya butuh jadi istri kedua yang sah ternyata menuntut Arini lebih dari itu; keikhlasan berbagi.
***

DITULIS dalam rentang waktu 6 tahun, tak mustahil kalau novel ini cukup mengagumkan. Asma Nadia cukup piawai merangkai cerita biasa jadi rumit, bahkan berbelit dan berliku.

Tetapi harus diakui novel ini tak lepas dari kebopengan. Pertama, Asma Nadia menghadirkan konflik di awal cerita. Maka, ritme cerita menjadi tegang, dan memuncak sedari awal yang kemudian memaksa pengarang mengulur-ulur jalan cerita agar tak cepat tergelincir pada ending cerita. Jadi, alur cerita terlihat dipanjang-panjangkan. Padahal, kalau sejak awal Arini "berani mengorek" hati Pras, novel ini praktis sudah tamat.

Kedua, karakter Pras nyaris dikesampingkan. Padahal, karakter Arini dan Bulan dielaborasi dengan detail, nyaris mendapat tempat penceritaan bergantian. Maka, Pras seakan layak disalahkan. Selain itu, Pras yang tak memiliki cacat, tipe suami dan ayah yang baik pun digambarkan lemah --seakan tidak memiliki pendirian. Padahal, jika pengarang menampilkan "tokoh" Pras sebagai "tokoh ketiga" yang mendapat tempat (dari sudut pencerita Pras), tak mustahil novel ini akan memikat.

Ketiga, alur kisah yang berjalan berliku ternyata dilukai faktor kebetulan Pras mengalami kecelaan lalu menolong Bulan. Unsur kebetulan itu, nyaris tidak beda jauh dengan logika sinetron. Padahal, jika Bulan dan Pras tidak dipertemukan dalam kecelakaan kebetulan, novel ini pasti lebih menukik.

Keempat, novel ini nyaris tak didukung riset (data sejarah) memadai, kecuali hanya riset ringan pengalaman hidup semata. Padahal, saat pengarang mengisahkan latar belakang Mei Rose yang memiliki orangtua hidup di zaman "kerusuhan 1965" dielaborasi lebih jauh, pasti akan menghadirkan kisah yang lebih berwarna.
***

TAPI kebopengan itu tidaklah cukup berarti karena pengarang yang lahir pada 26 Maret 1972 ini mampu menutupinya dengan kelebihan yang mengagumkan.

Pertama, laku bertutur berpilin-pilin, tidak lempeng, melompat-lompat dengan ending susah ditebak. Memang, pengarang seperti tidak setia memegang teguh kronologis. Tetapi, pengarang mampu mengembangkan keliaran bertutur dengan tetap meninggalkan jejak yang terlewat, kemudian melangkah maju dan mundur lagi. Jalan cerita pun jadi tak membosankan. Apalagi, secara bergantian pengarang berkisah tokoh Arini dan Bulan. Jadi, novel ini tak berpusat pada satu tokoh, melainkan dua tokoh utama. Dari dua tokoh yang tak ada titik temu di awal kisah, kemudian dijalin dalam satu bangunan di akhir cerita yang mampu mengiris hati pembaca.

Kedua, dengan laku bertutur di atas, pengarang tak mengungkap tabir dengan gamblang, tapi dibuka setahap demi setahap sehingga mengundang penasaran. Tak salah, jika pembaca seperti dibawa arus penasaran dan kunci dari penasaran itu dibuka pengarang di ending cerita.

Ketiga, capaian estetik pengarang buku Trilogi Catatan Hati dalam menggelindingkan novel ini dibangun dengan cita rasa bahasa yang kadang puitis, tak sederhana bahkan penuh metafor. Tak salah, jika novel Istana Kedua ini meraih penghargaan sebagai fiksi terbaik islami dalam Islamic Book Fair 2008.***

*) n. mursidi, cerpenis dan blogger terbaik dalam lomba blog buku PESTA BUKU JAKARTA 2008
Profile Image for Sawitri.
19 reviews2 followers
July 7, 2015
Novel ini mengangkat tema tentang poligami. Yang saya suka, dengan membaca buku ini, kita diberikan konflik yang berbeda yg mungkin saja dihadapi oleh pasangan suami istri. Bahwa ada banyak alasan yang membuat seorang laki-laki memilih untuk berpoligami, termasuk dengan niatan membantu. Meskipun, terdapat pernyataan di dalam novel ini kalau alasan laki-laki berpoligami ya karena ia jatuh cinta dengan perempuan itu. Titik.
Yah, bagi yang membaca silakan mempersepsikan makna poligami itu sendiri dan sikapi dengan bijak :)

Yang kurang sreg buat saya adalah karakter yang dibangun untuk tokoh Mei. Menurut saya sikap dan tingkah laku Mei yang ditunjukkan penulis agak bertentangan dengan deskripsi yang ditulis. Meskipun, saya akui jalan keluar yang dipilih oleh Mei membuat karakter ini terlihat unik dan memberikan twist cerita.

Overall saya suka dengan ceritanya. Cukup mnggetarkan untuk dibaca, apalagi oleh seorang perempuan. :)
Profile Image for M Mushthafa.
145 reviews17 followers
May 16, 2009
URL: http://rindupulang.blogspot.com/2008/...

Asma Nadia dan Dilema Poligami

Beberapa bulan terakhir ini, di beberapa koran nasional terjadi perdebatan yang cukup sengit dan panas tentang kecenderungan beberapa sastrawan dalam merepresentasikan perempuan dan seksualitas dalam karya-karya mereka. Ada kalangan yang berdiri di titik ekstrem: menghujat atau membela, dan ada pula yang berusaha menengahi. Karya sastra yang kental dengan tema seksualitas pada tingkat tertentu identik dengan perempuan penulis yang melahirkan karya tersebut.
Polemik tersebut, hingga tingkat tertentu, berpeluang untuk mengabaikan kreativitas dan pergulatan perempuan penulis lainnya yang juga melahirkan karya-karya sastra. Jika sastra bertema seksualitas perempuan oleh beberapa kalangan dipandang sebagai karya yang bernuansa pemberontakan atas pengekangan seksualitas perempuan dalam lingkungan budaya patriarki, maka sebenarnya para perempuan penulis memiliki caranya masing-masing untuk menunjukkan “perlawanannya” terhadap konstruksi budaya yang melingkupinya.
Contohnya bisa ditemukan dalam novel terbaru karya Asma Nadia ini. Dalam novel ini, Asma mengangkat tema poligami dengan memberi penekanan pada segi nasib dan pergulatan perempuan di ruang keluarga.
Kisah dalam novel ini berpusat pada kehidupan sepasang suami istri yang hidup berbahagia, Andika Prasetya dan Arini. Keduanya telah menikah selama sepuluh tahun dan dikaruniai tiga orang anak. Alur cerita dibuka dengan kegundahan Arini. Secara kebetulan ia menemukan informasi mencurigakan yang mengantarkannya pada sebuah nomor telepon. Ketika nomor itu dihubungi, di ujung telepon terdengar suara perempuan yang langsung memperkenalkan diri sebagai “Nyonya Prasetya”.
Kegundahan Arini, yang seorang penulis, dalam novel ini diperkuat oleh guratan nasib yang dialami Lia, teman kosnya ketika kuliah dulu. Dalam sebuah reuni kecil-kecilan, Arini terkejut begitu tahu bahwa Lia telah cerai dengan Benny, suaminya yang mantan aktivis kampus. Menurut Lia, ia menemukan suaminya tidur dengan sekretarisnya di rumah mereka.
Arini menjadi semakin sadar, bahwa laki-laki itu cukup mudah berpaling ke perempuan lain—sesuatu yang membuatnya tak habis mengerti. Saat mencoba berintrospeksi, Arini berkesimpulan bahwa dirinya sudah cukup berbakti kepada suaminya dan memberikan semua yang ia punya. Tapi mengapa diam-diam suaminya membangun istana kedua tanpa sepengetahuan dirinya?
Selain Arini, ada tokoh kunci lain dalam novel ini, yang kemudian diketahui sebagai “Nyonya Prasetya” itu. Ia adalah Mei Rose, seorang gadis berdarah keturunan yang menjalani hidup memilukan bersama tantenya. Di tengah upayanya untuk merajut kehidupannya secara mandiri, Mei beberapa kali ditipu mentah-mentah oleh beberapa orang lelaki, yang salah satunya sampai membuatnya hamil. Dalam rasa putus asanya, ia mencoba bunuh diri. Namun nasib berkata lain. Pada saat kritis itulah Mei bertemu dengan Pras, yang menolongnya dan kemudian mengantarkannya pada mahligai pernikahan.
Kisah dalam novel ini berakhir dengan pertemuan Arini dan Mei. Ada dialog tajam antara keduanya, yang cukup menghentak kesadaran Arini. Mei menggugat Arini, agar Arini bisa maklum dengan nasibnya. Mei mengingatkan bahwa Arini telah mendapatkan banyak hal yang patut disyukuri: orangtua, suami yang baik, anak-anak yang sehat, karier kepenulisan, segalanya. Lalu Mei bercerita tentang kemalangannya, bahwa hal baik yang pernah terjadi pada hidupnya hanyalah kehadiran Pras. Mei menuntut permakluman.
Di halaman-halaman akhir, digambarkan bagaimana perasaan Arini yang sepertinya bisa memberi permakluman untuk Pras dan Mei. Dalam bagian terakhir, digambarkan bagaimana masa depan anak-anaknya menjadi penguat tersendiri bagi Arini untuk menerima garis hidupnya itu.
Dalam novel ini, banyak bagian yang memuat gugatan kritis terhadap praktik poligami. Ada bagian yang mencoba menelanjangi dalih kaum laki-laki yang beralasan poligami dalam rangka mengikuti sunah Nabi, sementara dalam praktiknya mereka kurang menghargai istri pertama dan anak-anaknya. Lagi pula, mengapa teladan kehidupan Nabi yang dicontoh adalah episode poligami Nabi, padahal Nabi menjalin rumah tangga hanya bersama seorang istri, Khadijah, selama 28 tahun? Kaum lelaki kadang juga berdalih menikahi istri keduanya untuk alasan menolong, dan demi mendidik istri pertama mereka untuk belajar ikhlas dan mendapatkan tiket yang semakin mudah menuju surga!
Akan tetapi, berbagai gugatan atas poligami yang diangkat Asma dalam novel ini menjadi agak dilematis. Alur novel ini pada akhirnya memang seperti memberi permakluman untuk pilihan poligami Pras—dan Arini juga menerimanya. Mei yang mualaf; Mei yang tak punya siapa-siapa; Mei yang memilukan; semuanya seperti dibuat sebagai alasan untuk memaafkan kasus poligami Pras. Alur dalam novel ini seperti hendak mengatakan bahwa kasus poligami Pras adalah “aturan main yang ditetapkan Tuhan”, atau sebuah “takdir”. Mungkin dapat dikatakan bahwa sepertinya Asma ingin mengantarkan akhir kisah ini dalam sebuah happy ending, dengan plot yang diatur sedemikian rupa. Meski arahnya cenderung demikian, dalam novel ini kita dapat merasakan bahwa Asma juga merasa wajib memberi catatan-catatan kritis atas praktik poligami yang ada selama ini.
Dari sini pembaca dapat memahami dan membaca secara implisit “batas-batas wacana” yang hendak ditegaskan Asma dalam masalah poligami ini. Seperti juga di salah satu bagian novel ini yang menggambarkan pengandaian Arini yang merasa jijik bila berhubungan badan dengan suaminya—karena mengetahui suaminya yang berpoligami—tetapi akhirnya Arini tak bisa menggugat lebih jauh karena ada teks hadis yang menyatakan bahwa Allah dan malaikat mengutuk istri yang menolak suaminya dalam masalah itu.
Banyak hal lain yang bisa digali dan didiskusikan lebih lanjut dari novel yang ditulis oleh penulis berbakat yang saat ini menjadi CEO Lingkar Pena Publishing House ini. Terlepas dari pro dan kontra masalah poligami dan “pesan” yang berusaha disampaikan, novel ini telah memperkaya perspektif perempuan dalam membaca masalah poligami. Dan itu menegaskan bahwa perempuan penulis di Indonesia tak hanya bisa menggugat budaya patriarki dengan mengeksplorasi tema seksualitas, tetapi bisa juga berangkat dari tema yang lain yang sebenarnya juga masih cukup kaya dan bernilai penting untuk terus digali.

Profile Image for Hestin Rahmania.
11 reviews1 follower
July 30, 2015
Arini yang lembut, penuh keanggunan, dan nyaris sempurna, menjadi korban “poligami” si Pras (suaminya). Bisa digunakan sebagai pembelajaran bagi kaum perempuan, bahwa menikah itu bukanya tanpa resiko dan persiapan. Bukan saja kesiapan untuk ditinggalkan jika ajal pasangan tiba, tapi juga kesiapan jika pasangan jatuh cinta lagi dan meninggalkan istri pertama karena orang lain.

Pras,tipe lelaki yang diidamkan para perempuan. Lelaki yang “lurus”, namun tetap punya kelemahan. Rasa kemanusiaan dan niat “hanya menolong” ternyata membawanya kepada pengkhianatan terhadap keluarga yang dicintainya sekaligus prinsip yang sekian lama dipegang teguh.

Meirose, perempuan yang selalu dirundung penderitaan sepanjang hidupnya, sampai akhirnya tanpa sengaja dipertemukan dengan Pras. Mei Rose disini akan melakukan segala cara demi mendapatkan kebahagiaannya dan akan dengan sekuat tenaga pula dalam mempertahankannya. kalau aku pribadi, aku melihat si Meirose dinovel tersebut, ada rasa benci sekaligus kasihan :D wkwkwk

My favorite quote :


-“Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?”

Profile Image for Helvy.
Author 50 books948 followers
February 6, 2008
Brilliant!

Ini buku tentang poligami yg matang, bagus dan jauh dari klise. Di jalin secara indah dan cerdas. Karakter para tokohnya kuat. Alurnya mengalir--tidak linier, agak rumit tapi asyik--dan diimbangi dengan kelincahan yang lihai dalam menggunakan sudut pandang!

Profile Image for Laras.
204 reviews10 followers
July 19, 2016
Saya hanya suka membaca bagian Mei Rose. Hanya di bagian itu plot terasa bergerak maju, padahal sebagian besar narasi Mei Rose ada di masa lalu. Sedangkan bagian Arini terasa jalan di tempat, minim cerita, nyaris tanpa plot, hanya berputar-putar di sekitar kebingungan dan kemarahan Arini pada suaminya yang dengan bodohnya dipendamnya saja. Selain itu, di bagian-bagian awal terasa ada perpindahan seting waktu yang tidak mulus, latar waktu berubah mendadak tanpa penanda: tidak dengan tambahan spasi antarbaris, tidak dengan frase penghubung kalimat/paragraf yang relevan, tidak dengan frase penanda waktu seperti misalnya waktu itu, dulu, dll, walaupun belakangan lompatan tiba-tiba ini tidak lagi kentara.

Sebagai tokoh utama, Arini tidak terlalu menarik. Dia seperti tidak punya karakter yang bisa dikagumi pembaca secara realistis. Memang Arini baik dan sebagainya, sebagai manusia nyata pasti menyenangkan mengenalnya, tapi sebagai tokoh cerita karakter seperti ini tidaklah simpatik; Mary Sue, kata orang. Saya juga tidak suka dengan kediamannya selama berbulan-bulan menahan marah pada perbuatan suaminya, sementara diam-diam dia mendendam pada lelaki. Saya mau kalau Arini tetap bertahan dengan suaminya itu adalah karena keputusannya sendiri yang diketahui suaminya, bahwa suaminya tahu bahwa Arini adalah istri yang menentukan sendiri posisinya dalam rumah tangga mereka kini. Kenyataan bahwa suaminya tidak tahu bahwa Arini tahu rasanya tidak adil, tidak ada cukup hukuman untuknya, dan Arini jadi hanya menderita sendiri.

Buku ini juga tidak terlalu memberikan angin segar berkenaan dengan isu poligami. Bagi mereka yang sudah terbiasa membaca buku yang memberikan cahaya positif mengenai poligami yang ditulis dari sudut pandang lelaki, buku ini tentu memberikan pandangan baru dari sisi lain yang tidak melulu mudah dan indah, tapi bagi saya yang tidak pernah terjebak dalam pembenaran yang dibuat-buat tentang poligami, buku ini tidak menawarkan sudut pertimbangan baru. Malah ada kesan berprasangka yang disampaikan dari sudut pandang Arini. Arini terlalu berpegang pada masalah fisik sebagai alasan pria berpoligami, dan sepanjang buku rasanya hanya alasan itu yang dia ajukan sebagai penyebab para suami berpaling. Prasangka yang terlalu dangkal menurut saya. Memangnya hanya sampai situ nilai perempuan? Apa fungsi istri hanya sebagai penyedap mata dan penghangat fisik suami di luar kewajiban rumah tangga lainnya? Baiklah dari sisi Arini memang tidak mungkin ada penyebab lain berpalingnya suaminya selain karena tubuhnya yang mulai melebar dan kecantikannya yang memudar, karena dia adalah istri yang sempurna, tetapi saat dia memikirkan poligami yang dialami para kenalannya, Arini seperti tidak mempertimbangkan kemungkinan lain. Padahal ia tidak tahu segalanya tentang rumah tangga mereka. Tentu saja alasan utama memang karena si suami tertarik pada wanita lain dan cinta pada istri sudah berkurang kalau tidak hilang, terlepas dari omong kosong terpuji apapun yang mereka sampaikan sebagai pembenaran akan perbuatannya. Namun tentu ada hal lain di luar penampilan fisik yang jadi permasalahan. Banyak hal lain yang bisa menjadi pemicu pria menduakan istrinya, juga wanita yang meninggalkan suaminya.

Saya tidak membela poligami. Kalau harus memilih salah satu dari pro dan kontra tanpa tempat di antaranya, saya pasti memilih kontra. Namun saya tidak mau berburuk sangka hanya karena saya oposisi. Lagipula, menganggap masalah fisik sebagai satu-satunya penyebab suami berpaling dari istri hanya akan merendahkan perempuan karena perempuan tidak dinilai dari kecantikannya saja. Perempuan tentu tidak dinikahi hanya untuk menjadi penghias rumah dan aksesori pria.
Profile Image for Agus Dwi R.
137 reviews8 followers
June 11, 2015
Novel yg bertema poligami, atau lebih tepatnya, suami yg menikah lagi secara diam-diam tanpa memberitahu istri.
Diceritakan melalui 3 POV karakter utamanya. Arini, si istri. Mei Rose, istri kedua. Dan Pras, si suami.

Arini yg selama 10 tahun pernikahannya dengan Pras berlangsung bahagia dan sakinah, dengan 3 anak sebagai pelengkap hidup mereka, hingga akhirnya menemukan adanya seorang wanita lain yg mengaku Nyonya Pras. Walaupun hanya lewat telepon, dan belum menanyakan lebih lanjut, Arini keburu curiga dan berprasangka buruk bahwa suaminya menikah lagi. Tapi Arini ini geblek karena terus2an berprasangka doang, tanpa berani menanyakan kejelasan langsung ke suaminya, yg bersikap seperti biasa, mengurus dan memperhatikan keluarganya dengan baik. Di sini gw berpikir, ah ini kayaknya salah paham, ini stereotipe istri yg bodoh karena cemburu dan berprasangka doang. Keadaan yg berlangsung berbulan2, sehingga menyiksa diri, dan menimbulkan pertanyaan bagi anak-anaknya yg menyadari ibunya berubah.

Mei Rose wanita keturunan Cina yg hidupnya berat, tinggal bersama bibinya yg memperlakukan dia seperti pembantu. Tidak punya teman di lingkungan kerjanya, dan kemudian dilecehkan seorang pria di kantornya, sehingga menyebabkannya hamil. Usahanya untuk mencari jalan keluar malah kembali menghasilkan kemalangan, karena dia malah ditipu orang yg dikira hendak menolongnya. Sehingga dia pun berpikir untuk bunuh diri. Setelah ditolong oleh Pras, dia terkesan dengan kebaikan Pras dan ingin hidup bersamanya, walaupun tahu Pras sudah punya istri dan anak.

Pras, suami yg ideal, yg menjalankan perannya sebagai suami dan ayah dengan sangat baik. Hingga kemudian dia melihat kecelakaan mobil, dan menolong wanita yg menjadi korban. Terus menerus menunggu dan memperhatikan Mei dan bayinya yg sudah lahir, hingga pulih benar. Kedekatan yg dirahasiakannya dari istrinya, hingga akhirnya dia khilaf juga, dan menikah lagi.

Dari 3 karakter ini, kesalahan paling fatal ada pada Pras, karena menikah lagi tanpa memberitahu Arini lebih dulu. Sejak awal, sewaktu dia menolong Mei dan menungguinya di rumah sakit, harusnya dia ngasihtau istrinya, biar ga timbul salah paham. Kalo istrinya ngeliat Mei Rose, mungkin Mei Rose juga ga akan kurang ajar dan berani untuk menginginkan Pras. Tapi tindakan istrinya yang bukannya minta penjelasan ke suaminya, tapi malah langsung ngedatengin istri kedua itu juga patut dipertanyakan. Betapa permasalahan rumahtangga bisa membuat orang-orang yg sebenarnya baik menjadi rusak.

Cerita berhenti sebelum memberikan solusi, tapi menunjukkan kecenderungan kalau Arini akan menerima (mengalah) pernikahan suaminya, demi anak-anaknya.
Sebuah kemunduran, kalo menurut gw. Harusnya dia minta cerai, atau kalo emang bisa nerima, paling ga dia harus ngasih hukuman ke suaminya. Karena kalaupun ini poligami, caranya juga ga bener, nikah lagi ga bilang2.

Dan dari pembahasan poligami di pertengahan cerita, saya makin yakin, kalo alasan2 untuk berpoligami saat ini, semuanya bullshit belaka. Mau pake alasan sunah rasul atau syariah agama, tetep aja bullshit. Novel ini pun menyiratkan hal itu.

Sedikit kecewa dengan endingnya yg tidak memberikan solusi yg seharusnya.

-OoO-
Profile Image for beloved wit.
119 reviews11 followers
December 15, 2015
Novel Surga yang tak Dirindukan ini menceritakan tentang kehidupan rumah tangga seorang gadis yang selalu mengkhayalkan kehidupannya sama seperti dalam cerita dongeng, yang pada akhir ceritanya akan selalu hidup bahagia. Tetapi dalam kehidupan nyata justru berbanding terbalik dengan khayalannya tersebut.
Kisah ini berawal dari seorang gadis bernama Arini yang suka berkhayal bahwa kelak akan ada seorang pria tampan yang melamarnya dan hidup bahagia bersama selamanya. Akhirnya diapun menikah dengan seorang lelaki yang bernama Andika Prasetya yang merupakan teman masa kecil Arini dan Kakaknya.
Kehidupan Arini dan Andika Prasetya pun berubah. Tiga bulan setelah menikah Arini hamil. Pernikahan mereka telah di karuniai 3 orang anak yang lucu, cantik, dan tampan. Di awal pernikahan kehidupan rumah tangga mereka penuh dengan cerita bahagia. Arini yang berprofesi sebagai penulis dan Andika Prasetya berprofesi sebagai Dosen di salah satu perguruan tinggi membuat mereka jarang untuk berkumpul bersama atau hanya sekedar untuk makan berdua. Apalagi Arini yang belakangan ini banyak disibukkan oleh tugas-tugas seminar ke daerah, mengikuti pelatihan, dan lainnya membuat komunikasinya dengan sang suami berkurang.
Selanjutnya kehidupan rumah tangganya pun berubah ketika Andika Prasetya sedang terburu-buru berangkat kerja tiba-tiba di sudut jalan raya ada sebuah mobil yang mengalami kecelakaan cukup parah. Seketika itu pula Andika turun dari mobilnya dan berniat ingin menolong si korban. Degup jantungnya berdetak lebih keras ketika dia melihat sosok perempuan terbujur di trotoar dan darahnya berceceran dimana-mana. Dari situlah cerita baru dalam kehidupan seorang Andika berubah.
Setelah waktu yang cukup lama Andika menyembunyikan suatu rahasia pada Arini yang pada akhirnya Arini pun mengetahui bahwa suaminya telah berpoligami denagn wanita yang bernama Mei Rose.
Kelebihan dari novel ini adalah sampulnya menarik dan warnanya bagus. Kisah cerita dari novel Surga yang tak Dirindukan ini menarik untuk disimak dan mendewasakan pikiran serta hati pembaca. Alur cerita yang menarik serta konflik batin yang ditonjolkan dalam novel ini mampu membuat pembaca terhanyut dan ikut merasakannya. Novel ini dapat dibaca oleh semua jenis umur baik remaja, dewasa maupun orang tua, serta dapat dibaca oleh semua lapisan masyarakat. Isi novel ini mudah dipahami oleh pembaca karena bahasa yang digunakan sederhana serta dapat menginspirasi para pembaca.
Kekurangan dari novel ini adalah terdapat banyak subjudul. Dari subjudul-subjudul tersebut banyak kisah ceritanya yang terpotong dan dilanjutkan dengan cerita lain. Secara keseluruhan cerita novel ini hampir sama dengan cerita film dan novel yang berjudul Catatan Hati Seorang Istri.
Akhir dari kisah novel ini kurang mengesankan karena setelah Andika Prasetya mengaku berpoligami dan Arini bertemu dengan Mei Rose, kisah ceritanya pun selesai.
Novel ini memberikan banyak inspirasi pesan dan kesan yang ada dalam novel ini dapat mengalir ke lubuk hati dan pikiran. 
Profile Image for Nicegreen.
30 reviews16 followers
June 9, 2008
Mungkin dongeng seorang perempuan harus mati, agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan.

Pernikahan bukanlah sebuah dongeng yang selalu berakhir dengan kebahagiaan. Tak jarang banyak perempuan yang dipaksa untuk berbagi kebagiaan dengan perempuan lain. Seperti halnya Arini, yang selalu menganggap hidup ini dongeng yang akan berakhir bahagia. Arini, ibu dari 3 orang anak (Nadia, Adam dan Putri) yang telah dengan setia mendampingi Prasetya selama kehidupan pernikahannya. Tiba-tiba hatinya luluh lantak ketika suatu hari mendengar seorang wanita menyebut dirinya Nyonya Prasetya.

Prasetya yang selama pernikahannya dengan Arini tak pernah ada cacat sedikitpun. Ternyata telah membuat hati Arini berdarah. Ketika ia melihat sendiri suami yang penuh kasih, bersama seorang wanita dan anak laki-laki berusia 3 tahun.

Mei Rose, seorang perempuan yang memaksa Arini untuk berbagi suami dengannya. Ia seorang yang tak pernah merasakan kebahagiaan. Ia berusaha mengakhiri hidupnya karena berkali-kali dikecewakan oleh laki-laki. Dan ketika bertemu dengan Pras, hatinya luluh dan berharap Pras bisa mencintai dirinya juga bayi hasil perbuatan keji Ray.

Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

(Nicegreen, 090608)
http://nicegreen.multiply.com/reviews...
http://nicegreen.blogid.web.id/2008/0...
Profile Image for Devi Rosita Liong.
7 reviews3 followers
October 5, 2015
70% berbeda dengan filmnya. jika di film mas Pras suami idaman, berpoligami karena terpaksa untuk menolong Meyrose, meski berat namun Arini akhirnya ikhlas. dan,, Happy Ending. Maka di novel diceritakan lebih realistis. Mungkin filmnya lebih disesuaikan dengan selera pasar yang menyukai film yang bertema religi harus baik-baik, sarat pesan dan makna serta berakhir bahagia. seperti film Ayat-Ayat Cinta..

Novel ini menggunakan dua sudut pandang, satu sudut pandang Arini, dan satunya lagi sudut pandang Meyrose. dengan alur maju mundur, saya begitu menikmati konflik, alur cerita dan gaya penulisan mbak Asma Nadia. ah, kisah hidup Meyrose begitu gelap dan merenggut dongeng-dongeng yang dibangun Arini.

Novel ini menggambarkan sudut pandang Asma Nadia dan sebagian besar wanita mengenai poligami. pada novel endingnya dibikin menggantung, dan Asma Nadia menyelipkan pertanyaan yang dijawab dengan berbagai macam versi oleh para netizen.

“Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?"(Asma Nadia)
Profile Image for Nadia Syafiqoh.
23 reviews1 follower
July 27, 2015
Dulu Penasaran banget pengen baca waktu judulnya masih Istana Kedua, tapi gak juga pernah nemu novelnya... cuma baca cuplikan-cuplikan aja sebagian isinya. Baru tau kalau sudah berganti judul saat sudah mulai tayang filmnya. Tapi saya lebih tertarik untuk baca novelnya dulu daripada nonton filmnya, dan novel barunya dengan cover film pun sudah berhamburan di toko buku.
Dan ternyata, saya benar-benar bisa menyelesaikan baca novel ini dalam waktu singkat, yang berarti penulisannya memang menarik buat saya.
Banyak yang mengkritik mbak Asma Nadia karena kesan dan quote yang diambil dari novel ini seolah menentang poligami, tapi saya rasa isi novel ini lebih kompleks dari itu. Kita harus melihat dari berbagai sisi, dan ada banyak kisah di balik kejadian poligami yang mungkin lebih bermakna dari sekadar pernyataan sikap pro dan kontra.
Profile Image for Nur Qadariah.
14 reviews2 followers
August 2, 2015
Honestly, saya lebih dulu tau jalan ceritanya dari review-review filmnya. Jadi, begitu bukunya ada di genggaman, saya bacanya sambil ngebayangin adegan-adegannya. Setelah saya bandingkan antara buku dan filmnya, endingnya berbeda. Jika di film klimaksnya di solved sampai tuntas, sedangkan ending di buku dibiarkan menjadi ending terbuka, pembaca dibebaskan untuk memberi ending seperti apa. Sayangnya, banyak yang salah menafsirkan bahwa buku ini seolah 'menantang' hadist tentang poligami, padahal ini sebenarnya hanya sebuah cerita tentang "begini lho' perasaan perempuan jika dipoligami. Buku ini cocok untuk berbagai usia, baik yang sudah menikah, akan menikah, maupun yang masih remaja. Banyak manfaat yang bisa dipetik, juga menyadarkan bahwa pernikahan tidak melulu mengandalkan cinta.
11 reviews11 followers
September 11, 2015
Buku karya Asma Nadia dari dulu selalu penuh pelajaran berharga deh..
walaupun dikemas dalam bentuk novel, nilai-nilai yang disampaikan tetap tidak hilang.
Pelajaran dari Novel Surga yang tidak dirindukan ini salah satunya adalah bagaimana harus bersikap ketika mengetahui ternyata pasangan kita tidak hanya memiliki kita sebagai istrinya. Tidak harus diselesaikan dengan labrak melabrak ala ala drama sinetron (walopun sih nggak bakal semudah membalik kan telapak tangan). yaaah sabar memang nggak gampang karena surga hadiahnya.
Profile Image for Asmira Fhea.
Author 7 books31 followers
December 27, 2013
Ini novel yang sebenarnya diperuntukkan pada dewasa, tapi aku penasaran dan akhirnya memutuskan baca.
Ceritanya soal poligami yang diambil dari sudut pandang istri pertama-suami-istri kedua.
Tehnik kepenulisan Asma Nadia udah gak dihiraukan lagi deh. Gesit banget! Padahal di novel ini ia mengambil sudut pandang 3 org sekaligus, 2 POV yang berbeda dengan kadar bagian ceritanya yang sama.
Novel ini mengaduk-aduk emosi bgt! Saya sempat kena euphoria lebih dari sehari! (Paraaah
Profile Image for Ayu Zuraidah.
30 reviews15 followers
October 18, 2007
sedang dibaca, bahasanya Asma indah sekali, bnr2 karya sastra.
dari awal kita dibawa u/ mengikuti bbrp kisah hidup pribadi2 yg berbeda, dgn bumbu sejarah, ttg iman, ttg ideologi, ras, spt membaca puzzle yang masih tercerai berai...teka teki yang membuat penasaran karena masing2 tokohnya seolah tak berhubungan. endingnya.....

i'll let you know once finished..
Profile Image for Ririen N.
11 reviews29 followers
May 4, 2015
nice book satu lagi dari bunda Asma Nadia =)
meskipun agak gak sreg sama endingnya, tapi aku suka alur ceritanya, konfliknya.
satu hikmah yang bisa diambil dari cerita novel ini, selalu ada hal yang patut disuyukuri setiap saat meskipun masalah besar sedang datang menghampiri..
Profile Image for Hairi.
Author 3 books19 followers
July 25, 2015
naik satu bintang dari yang pertama dibaca dulu waktu masih berjudul Istana Kedua. Yang disayangkan seolah-olah semua laki-laki semuanya mendua. Pras, ayahnya Pras, ayahnya Arini, suami sahabat2 Arini, teman-teman Pras. hufff.... review lengkap mungkin akan tayang di blog. belum ditulis :p
Profile Image for Ika.
30 reviews4 followers
Read
November 23, 2008
Ending yag tidak terduga. Bercerita ttg cinta segitiga, dan ketegaran seorang istri.
Profile Image for Itsthe_Pra2read.
54 reviews6 followers
April 30, 2024
-Bagaimana Laki-laki bisa kehilangan syukur atas hadiah yang Allah berikan pada mereka?

Salah satu Novel Asma Nadia (penulis dengan Publisher sendiri yang mirip Tere Liye yang belakangan ini mempublish bukunya sendiri dengan penerbit SABAKGRIP-nya) yang pertama Aku punya & baca (jika kalian bisa nemuin salah satu Novel terbaiknya tolong rekomendasikan kepadaku, ingat dia publish sendiri bukunya) ini yang kudapat adalah salah satu buku terbaik menurut Islamic Book fair ke-7 di tahun 2008 yang edisinya adalah waktu Novel ini hendak difilmkan oleh MD entertaiment (salah satu perusahaan entertaiment yang sering membuat Film ataupun Sinetron) Novel yang bercerita tentangperempuan yang suaminya hendak berpoligami dan perasaan yang dialaminya ini merupakan sebuah kisah Cinta yang cukup menarik

Cerita berpusat pada seorang Perempuan dengan 3 Anak bernama Arini yang merupakan Penulis yang menyukai sebuah cerita Dongeng, bahkan merasa bahwa hidupnya merupakan sebuah kehidupan Dongeng dengan ending bahagia (itulah dibagian Buku Novel yang dia tulis) tapi kehidupan harmonisnya harus berakhir kandas saat suaminya bernama Pras diketahui hendak menikah lagi (semacam praktek poligami) dimana kehidupannya Arini berakhir Melancolis dimana Novel yang ia tulis berakhir hancur & ia bahkan hampir melupakan ketiga anaknya. sementara itu ada seorang wanita Tionghoa yang berbeda Agama yang bernama Mei Rose wanita yang menurut dia kisah Dongeng itu tidak logis, sampai saat dia bekerja dia bertemu Ray yang ia mengira dia adalah seorang Pangeran yang membuatnya berpikir 2 kali akan ketidaknyataan kisah dongeng tersebut, tapi diketahui malahan Ray Memperkosa Mei Ross, jadinya Mei tidak sudi ingin bertemu dengan dia lagi, dan bertemu David dan hendak berpacaran dengannya, tapi David menjauhinya karena diketahui Mei Rose Hamil kemungkinan besar oleh Ray Mei Rose merasa pasrah dan bahkan merasa dia hendak ingin Bundir, tetapi pikiran tersebut ia hilangkan dan dia harus mencari Suami baru untuk membuat dia bisa merawat anaknya yang masih dalam kandungan, pencarian itu dia pakai dengan E-mail ....

Novel ini cukup menarik dimana ceritanya memakai sudut pandang yang cukup unik dimana tiap chapter akan mengganti sudut pandang, yaitu sudut pandang ketiga pada Arini & sudut pandang pertama pada Mei Rose, walaupun pada awal cerita terasa tidak ada kaitannya. tapi, pada pertengahan menuju akhir, ceritanya terhubung dan bagaimana bisa Konflik ini terjadi dari kedua sudut, Cukup Esperimental Buku ini. gaya cerita ini sungguh ini membuat pemkbaca merasa ada vibe Fantasynya dengan mencampur unsur Fantasy & unsur Religius itupun juga dengan keunikan memakai apa yang terjadi pada zaman itu yaitu dengan memakai E-mail sebagai plot device dan juga judulnya yang mereperesentasikan Arini dimana Surga (rumahnya tangganya) hancur ketika Pras hendak menikah lagi.

tapi... aku merasa ada cukup banyak kekurangan pada buku ini, salah satunya ada bagian cerita Novel (ya, Novel dalam Novel) yang kurasa tidak mengarah kemana-mana kecuali Perasaan Arini waktu Konflik dibuku ini terjadi, Bahkan unsur dongeng yang dilebih-lebihkan (ini aku atau Arini memang berharap mau tinggal di dunia fantasi?) lalu ada plot Novel ini yang berasa Sinetron, ya Sinetron yang aku rasa cuma wanita yang bisa membaca buku ini (ya, Aku tahu Penulisnya tidak bermaksud untuk memaksukan unsur feminisme di buku ini) yang mana plot kisahnya seperti Laki-laki adalah semacam orang yang mempunyai nafsu yang tidak cukup, sementara Wanita adalah makhluk yang tidak berdaya dan harus menerima segalanya.

jadi pada akhirnya.... jadi Sunnah Rasul Menjelaskan bahwa praktek Poligami itu boleh? mirip seperti sunnah Rasul lainnya yaitu di Malam Jum'at pasangan harus melakukan begituan dimalam itu (giliran Malam Jum'at ingat, giliran Sholat Jum'at lupa!) jadi, begitu saja Review Buku saya hari ini, Buku berikutnya yang akan ku review adalah Buku Jadoel yang rilis di tahun 1960-an.

Edit : Link nya untuk buku tersebut sudah ada yakni dari seri James Bond ini link nya : https://www.goodreads.com/review/show/6330178634

sepertinya sampai disitu saja Review saya hari ini, ku ucapkan stay tunes & da daaaah! =)

Profile Image for Husna Musa.
67 reviews
July 28, 2017
Kisah poligami, dari sudut pandang seorang perempuan. Sudah difilemkan, tapi belum aku tonton. Memang lebih suka baca dahulu sebelum tonton (itupun kalau akan tonton).

Seperti yang penulis sendiri ceritakan, plot novel ini memang antara yang paling sukar pernah ditulis. Tak hairan ramai yang beranggapan jalan ceritanya seperti terlompat-lompat - ada flashback ke hari, bulan, bahkan tahun-tahun sebelumnya.

Aku sendiri, walau ada perkataan Bahasa Indonesia yang perlu aku tidak aku tahu dan perlu cari maknanya, merasakan novel ini ditulis dengan cukup baik. Cuma endingnya... sedikit tergantung. Mungkin awal-awal lagi penulis sudah merancang untuk menulis sequelnya (SYTD 2).

Apapun tahniah kepada penulis!
Profile Image for Kiky Lestari.
22 reviews
July 8, 2018
Jadi ini endingnya gimana sih???Arini nya pingsan atau apa? Berbeda dengan versi filmnya, ni akhir bukunya dibuat gantung alias terserah interpretasi orang" yang baca. Gitu bukan sih? Gw sampe mikir, apa buku yg gw dapet ini ga komplit halamannya y?hahaha Sebenernya mulai baca ini pas filmnya mau diputer di bioskop. Apa daya, buku ga selese dibaca, film nya pun ga ketonton pula hihi Versi film sengaja ga ditonton biar klo baca bukunya masih enak. Eee secara ga sengaja, ketonton filmnya pas dibagian akhir doank waktu udah tayang di tv. Kirain akan ada penyelesaian di buku ini, at least si tokoh mas Pras nya ngasih pnjelasan atau minta maap kek ke Arini...trnyata ga begitu hihi
This entire review has been hidden because of spoilers.
17 reviews
June 6, 2020
Saya baca novel tipis ini sekitar tahun 2007 atau 2008. Dan waktu itu tidak ada yang membahas novel ini yang saya tahu. Apalagi waktu itu era nya ayat-ayat cinta...

Jadi gak nyangka kalau sekarang jadi film.

Dulu di novelnya saya membayangkan perempuan yang ditolong dan dijadikan istri kedua itu tidak cantik seperti di film nya. Sehingga setelah lihat film nya, saya jadi merasa bersalah karena kenapa dulu saya memahami nya berbeda. Karena kalau memahaminya seperti di film ya kita bisa bilang oh oke... Wanita itu cantik. Jadi maklum kalau dia terpikat
Profile Image for Christine Ameliia.
13 reviews
September 2, 2025
Arini, perempuan pecinta dongeng ini bertemu pangerannya lewat sepatu yang terselip di semak-semak. Andika Prasetya, si pangeran yang kemudian membuat Arini merasa dirinya menjadi putri. Keindahan dongeng ‘sang putri’ terbius untuk memandang kehidupan pernikahannya akan berakhir happily ever after. Namun, kenyataan berkata lain ketika keputusannya menelepon nomor di sebuah bon membongkar rahasia yang tersimpan cukup rapi.
Displaying 1 - 30 of 202 reviews

Join the discussion

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.