Misal kata buku ini rumah penulisnya, barangkali rumah M Aan Mansyur paling sering dikunjungi di musim Halloween oleh sesiapapun untuk menuntut cokelat kata-katanya. Alangkah baik jika nombor genap dalam Surat Cinta Yang Ganjil juga merupakan sebuah surat juga (yang rahsia).
Buku sajak Aan yang pertama saya baca. Kenapa tiba-tiba baca sekarang, bukan sewaktu namanya meletup dek gelombang AADC 2? Mudah saja, saya bertemu dengan beliau di Festival Bahasa dan Persuratan Melayu Nusantara 2017 di Shah Alam, lantas keinginan itu hadir tiba-tiba.
Kumpulan sajak ini terbahagi kepada 4 kumpulan kecil; Engkau Dan Sajakku, Sajak Buat Istri Yang Buta Dari Suaminya Yang Tuli, Aku Hendak Pindah Rumah, Ada Tiga Sms Ibu Hari Ini.
Saya jatuh hati pada puisi-puisi "Ada tiga sms ibu hari ini". Naratif syahdu tentang ayah yang pergi dari rumah, meninggalkan ibu dan anak-anak bersama beban rindu.
okeylah, ada puisi-puisi yang buat saya rasa aan mansyur itu romantik, sementara ada pula yang saya rasa biasa - yang ini mungkin tidak kena dengan jiwa saya. aan mansyur seorang pemuisi yang sederhana, baik daripada kata-katanya, barisnya, isinya, dan pengertiannya, yang seperti sepinggan telur dadar di atas pinggan yang berminyak.
Pemilihan bahasanya yang mudah tidak sesekali mencacatkan rasa yang ingin ia kongsikan dengan pembaca. Seperti biasa saya selalu 'lena' dalam ungkapan dan baris puisinya. Terima kasih kerana sering mengingatkan saya tentang rasa yang sering hilang di antara detik kehidupan.
"setia adalah pekerjaan yang baik, nak! berangkatlah..."
Tidak sukar untuk menghabiskan buku kecil ini, yang isiannya perihal sajak penuh cinta yang sederhana. Biarpun ada beberapa sajak di dalam buku ini yang sudah saya baca di blog Aan (maafkan jika saya salah), namun saya masih tetap sukakannya. Barangkali seperti kek manis yang tidak berapa saya gemari, tetapi tetap saja saya suka memakannya berulang kali.
Sudah lama aku tak menjejak buku buku puisi untuk dihadam. Hati ini terdetik untuk membelek karya Aan Mansyur yang sudah lama dihinggap habuk dan tenggelam di celah celah timbunan buku asing.
Tulisan Aan Mansyur aku boleh ibaratkan seperti memandu kereta seorang diri di dalam hujan sambil cermin sisi ditangisi titis titis hujan yang jatuh perlahan melayan perasaan.
Aku merinding di saat rindu itu bertambah kuat jika dibayangkan puisi-puisi Aan Mansyur didendangkan di radio, fikiran semakin menerawang jauh, jiwa sudah tiada lagi di situ, dan mungkin hanya penuh dibisik mengingati masa lalu.
Tingkap pemandu dibuka sedikit, cukup hanya untuk mendengar suara latar hujan yang menjadi peneman di sepanjang perjalanan tanpa tujuan itu.
Puisi puisi Aan Mansyur bagiku, begitu.
Santai membicarakan kisah lalu, tetapi kuat menghentam dinding perasaan yang bercelaru.
4 bintang. Recommended untuk bacaan pemuisi kerana bahasanya yang sedikit mendalam.
Sajak Aan bukan saja sebuah kata yang ditagih oleh semua yang membutuhkannya. Malahan, predeksi-predeksi yang diluar imaginasi dalam kebanyakan penulis. Seperti "Berfikir bererti sebuah pengharapan" , "rindu adalah benih bukan buah". Aan selalu menagih kita untuk berfikir lebih keras untuk mendapatkan kefahaman yang menyenangkan di setiap sajaknya.
Aan tidak saja menelurkan puisi-puisi dengan bahasa yang bersahaja. Namun juga memiliki kekuatan kekinian yang membuat kepala tak harus bekerja keras untuk membolak-balik memori lama, mencari keterkaitan puisinya dengan diri kita. Ada saja kejadian hari-hari ini yang terwakili begitu saja oleh kata-katanya.
tidak diterbitkan di Indonesia hanya di Malaysia. Buku ini berisi beberapa sajak yang sudah sangat familiar, namun ada pula yang baru. yang paling membahana memang adalah puisi yang berjudul sama dengan judul buku ini: kepalaku.
Buku puisi yang nipis dan kecil saiznya. Puisi-puisi dengan ayat-ayat yang sederhana, itu memang diakui sendiri penulisnya, Aan Mansyur yang jiwanya romantis pada hemat saya.
Mungkin sesuai untuk peminat genre puisi yang santai tapi penuh makna. Pilihan peribadi saya: Menonton Film. Aneh!
Sementara aku, aku tahu cara mengisi kekosongan adalah menunggu. Dunia ini dipenuhi keseimbangan-keseimbangan. Tepat ketika seorang melihat matahari sore menutup mata, di tempat lain ada seorang menatap matahari pagi bangun.