Ketika genangan air mata jatuh berderai di pipi Bidadari Angin Timur, Jatilandak ulurkan tangan kiri untuk mengusap. Dengan tangan kanannya Bidadari Angin Timur pegang jari-jari tangan pemuda itu. Lalu ditempelkan ke pipinya sementara air mata menetes jatuh semakin deras.
"Kau mencintai Pendekar Dua Satu Dua?" tanya Jatilandak. Sepasang bola mata Bidadari Angin Timur membesar tapi mulut tak menjawab. Malah kedua matanya dipejamkan dan tangan Jatilandak semakin kencang dipegang di atas pipinya. Bibir terbuka bergetar tapi suaranya hanya menggema di dalam hati.
"Kau sahabat baik. Kau yang belum lama mengenalku bisa tahu perasaanku. Tapi dia yang kuharapkan itu mengapa seolah tak pernah peduli."
Pada saat itu tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Dua penunggang kuda berhenti di seberang mata air. Sepasang mata Bidadari Angin Timur terbuka lebar. Wajahnya berubah pucat. Cepat-cepat gadis ini tarik dua tangannya yang saling berpegangan dengan tangan Jatilandak. Suaranya bergetar ketika menyebut nama. "Wiro..."
Bastian Tito adalah seorang seniman dan penulis novel Indonesia. Salah satu karangan cerita silat hasil karyanya yang dikenal masyarakat luas adalah "Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212". Bastian juga menulis cerita silat lainnya, seperti Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok, sebuah cerita silat yang mengambil setting budaya Minangkabau, Boma si Pendekar Cilik dan banyak cerita silat lainnya.
Di samping menulis cerita silat dan fiksi bernuansa etnis, dia juga dikenal sebagai penulis spesialis novel bernuansa humor. Bastian sudah gemar menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Kelas 3, namun baru pada tahun 1964-lah dia mulai mengumpulkan hasil karyanya dalam bentuk buku. Menulis novel Wiro Sableng dilakukan sejak tahun 1967.